Perang Banjar

Februari 27, 2011 pukul 3:35 pm | Ditulis dalam Fiqih Ibadah | Tinggalkan komentar

Campur Tangan Belanda dalam Kekuasaan Kesultanan Banjar

Sultan Tahmidillah I (1778 – 1808) mempunyai anak tiga orang, yang berhak menggantikannya sebagai sultan, yaitu Pangeran Rahmat, Pangeran Abdullah dan Pangeran Amir. Dalam perebutan kekuasaan, Pangeran Nata salah seorang saudara Sultan Tahmidillah I, berhasil membunuh Pangeran Rahmat dan Abdullah. Keberhasilan ini disebabkan bantuan Belanda yang diberikan kepada Pangeran Nata. Oleh karena itu Pangeran Nata diangkat oleh Belanda menjadi sultan dengan gelar Sultan Tahmidillah II.

Tampilnya Sultan Tahmidillah II menjadi sultan Banjar mendapat tantangan dan perlawanan dari Pangeran Amir, salah seorang putera Sultan Tahmidillah I yang selamat dari pembunuhan Sultan Tahmidil¬lah II. Dalam pertarungan antara Sultan Tahmidillah II yang sepenuhnya dibantu oleh Belanda, dengan Pangeran Amir, maka akhirnya Pangeran Amir dapat ditangkap oleh Belanda dan di buang ke Ceylon.

Kemenangan Sultan Tahmidillah II atas Pangeran Amir harus dibayar kepada Belanda dengan menyerahkan daerah-daerah Pegatan, Pasir, Kutai, Bulungan dan Kotawaringin.

Pangeran Amir mempunyai seorang putera bernama Pangeran Antasari, yang lahir pada tahun 1809. Sejak kecil pangeran Antasari tidak senang hidup di istana yang penuh intrik dan dominasi kekuasaan Belanda. Ia hidup di tengah-tengah rakyat dan banyak belajar agama kepada para ulama, dan hidup dengan berdagang.dan bertani.

Pengetahuannya yang dalam tentang Islam, ketaatannya melaksanakan ajaran-ajaran Islam, ikhlas, jujur dan pemurah adalah merupakan akhlaq yang dimiliki Pangeran Antasari. Pandangan yang jauh dan ketabahannya dalam menghadapi setiap tantangan, menyebabkan ia dikenal dan disukai oleh rakyat. Dan ia menjadi pemimpin yang ideal bagi rakyat Kalimantan Selatan, khususnya Banjarmasin.

Wafatnya Sultan Tahmidillah II digantikan oleh Sultan Sulaiman (1824-1825) yang memerintah hanya dua tahun; kemudian digantikan oleh Sultan Adam (1825-1857). Pada masa ini kesultanan Banjar hanya tinggal Banjarmasin, Martapura dan Hulusungai. Selebihnya telah dikuasai oleh Belanda. Setelah Sultan Adam wafat, Belanda mengangkat Pangeran Tamjidillah menjadi Sultan Banjar, sedangkan rakyat menghendaki Pangeran Hidayat; karena ia adalah putra langsung dari Sultan Adam. Dalam menghadapi keruwetan ini Belanda tetap mempertahankan pangeran Tamjidillah menjadi sultan dan mengangkat Pangeran Hidayat menjadi Mangkubumi.

Perlakuan sewenang-wenang yang dilakukan oleh Belanda terhadap kesultanan Banjar dan penindasan ter¬hadap rakyat membangkitkan kemarahan rakyat untuk menentang Belanda. Dalam kondisi seperti ini adalah wajar jika Pangeran Antasari sebagai pemimpin rakyat tampil ke depan untuk memimpin perlawanan ini.

Dalam usaha menghadapi kekuasaan Belanda yang besar, Pangeran Antasari berusaha untuk menghimpun semua potensi rakyat, termasuk pangeran Hidayat yang menjabat sebagai Mangkumi. Pada pertengahan April, dua minggu sebelum pecah perang Banjar tanggal 28 April 1859, terjadi dialog yang tegang dan penting antara Pangeran Antasari dengan Pangeran Hidayat, dalam rangka mengajak Pangeran Hidayat untuk bersama-sama melakukan perlawanan terhadap Belanda.

Dialog yang terjadi di rumah kediaman Pangeran Hidayat, antara lain berbunyi sebagai berikut.

“Begini, Hidayat! Aku kemari atas nama rakyat dan semua pejuang-¬pejuang Banjar ….”

“…Sebentar !” Pangeran Hidayat memutus. “Siapa yang Paman maksudkan, dengan rakyat dan pejuang-pejuang Banjar itu ?”

Pangeran Antasari dengan sabar menjawab: “Rakyat yang selama ini ditindas dan diperlakukan sewenang-wenang, semua pejuang-pejuang Banjar yang berjuang untuk meng¬akhiri penindasan dan perlakuan yang sewenang-wenang itu !”.

“Dan Paman termasuk pula di antara pejuang-¬pejuang itu?” sela Pangeran Hidayat.

“Itu bukan suatu hal yang aib!” Jawab Pangeran Antasari dengan tajam. “Dan kau pun akan bangga menjadi salah seorang dari mereka, jika kau tahu untuk apa dan siapa kau baktikan hidup¬mu ini sebhik-baiknya”.

“Jadi apa yang Paman harapkan dari saya ?” tanya Pangeran Hidayat.

“Kesediaanmu untuk berjuang ber¬sama kami. Kesediaanmu untuk memimpin semua perjuangan ini nanti !” Jawab Pangeran Antasari dengan tegas.

Pangeran Hidayat bangkit. Ia berjalan-jalan mondar-mondir sambil berpikir. “Tapi ini berarti pem¬berontakan besar-besaran, Paman !”

Pangeran Antasari menjawab: “Pemberontakan adalah bahasa yang diper¬gunakan oleh Belanda. Dan ini kedengaran sumbang di telinga kita. Kita tidak pernah menganggap kompeni itu memerintah dengan sah di kerajaan ini. Karena itu, kita memakai bahasa kita sendiri. Perang ! Perang mengusir penjajah asing !”

“Apapun bahasa yang Paman pakai, semuanya berakibat pertumpahan darah. Dan saya telah melihat bahwa telah banyak darah mengalir di kerajaan ini. Ini sudah cukup dan harus segera kita akhiri. Bukan sebaliknya akan kita mulai”.

“Bagus, dan ironis. Kamu mempergunakan bahasa perikemanusiaan. Dan ini memang merdu menggugah perasaan seperti suara bilal pada azan subuh. Tapi dapatkah kau harapkan Kompeni akan mengucapkan apalagi mengamalkan bahasa yang serupa itu terhadap kita ? Tidak, tidak dapat ! Kompeni akan mempergunakan bahasa kegemaran mereka: me¬rabit-rabit kita sekaum dan pertumpahan darah! Coba kau tunjukkan kepadaku, bagaimana caranya kita me¬nunjukkan sikap kemanusiaan kita terhadap perlakuan yang tidak berperikemanusiaan ini ?”

Pangeran Hidayat nadanya melemah: “Saya hanya benci dan jemu melihat pertumpahan darah yang sia-sia, Paman. Rakyat telah banyak berkorban untuk kita.”

“Kau lupa, Hidayat. Peperangan ini baru hendak kita mulai. Adapun pertumpahan darah yang kau takutkan itu sebenarnya belum lagi sungguh-sungguh terjadi. Agama kita akan membenarkan peperangan ini sebagai perang sabil. Dan kematian yang dituntut dari perjuang¬an ini tidaklah sia-sia, melainkan syahid. Kita hidup untuk Allah dan mati untuk Allah!” ucap Pangeran Antasari bersemangat.

Namun Pangeran Hidayat merasa belum yakin. “Tidakkah ada jalan lain selain pertumpahan darah ini, Paman” tanyanya kemudian.

“Ada!” Pangeran Antasari menjawab dengan tegas. “Dan jalan satu sudah dan sedang kau tempuh untuk menghindari pertumpahan darah itulah kau mau menjadi apa saja, sekalipun kau korban harga dirimu pada kompeni dan Tamjid!”

Pangeran Hidayat tersinggung. “Jika kata pengkhianat yang Paman maksudkan dengan kata-kata: mau menjadi apa saja, maka saya berhak menolak tuduhan itu,” bantahnya. “Kecintaan saya kepada rakyat dan bumi di mana kita hidup dan bernapas ini, sama besarnya dengan apa yang Paman rasakan. Dan apa artinya harga diri saya. Jika karena itu saya harus menumpahkan sekian banyak darah mereka “.

“Aku tidak menyangkal bahwa kau pun mencintai rakyat dan kerajaan ini,” Pangeran Antasari balas menyanggah. “Karena itulah seluruh rakyat dan pejuang¬-pejuang Banjar masih menaruh kepercayaan penuh kepadamu; masih menggantungkan keyakinan yang sebesar-besarnya kepadamu, bahwa kelangsungan hidup kerajaan ini ada di tanganmu.”

“Hanya yang tidak bisa kupahami ialah caramu menyatakan dan menunjukkan kecintaanmu itu! Untuk mencegah pertumpahan darah kau bersedia ditunjuk oleh Kompeni sebagai Mangku¬bumi!”

“Belum lagi kering air mata di atas jenazah kakekmu Sultan Adam yang disusul dengan penobatan Tamjid, kau dengan kebencianmu kepada pertumpahan darah dan kepercayaanmu yang penuh kepada Kompeni merupakan satu-satunya yang dapat mencegah mala¬petaka yang tak berperikemanusiaan itu, telah sengaja atau tidak menyerahkan pamanmu sendiri, Perabu Anom, yang menyebab pembuangannya!”

“Kemudian baru-¬baru ini kudengar lagi kabar, bahwa kau telah me¬nyanggupi kepada Residen Belanda untuk mendamaikan perlawanan rakyat dengan janji kepada mereka yang melakukan perlawanan itu, pemeriksaan yang teliti dan keputusan hukuman yang seadil-adilnya! Tentu saja aku termasuk pula di dalamnya, bukan ?” Jawab Pengeran Antasari dengan getir.

“Ingatan paman sangat baik,” jawab Pangeran Hidayat. “Apa yang Paman katakan itu semua benar. Tentu Paman ingin menambahkan pula, bahwa karena tindakan-tindakan itu semua, saya telah merugikan perjuangan rakyat. Saya bukan lagi menolongnya malah menjerumuskannya!”

“Paman, saya tidak bermaksud membela diri. Semua itu saya lakukan karena pada dasar hati saya, saya mempunyai kepercayaan penuh kepada manusia. Saya percaya bahwa sebagian besar manusia menyukai hidup tenteram dan membenci pertumpahan darah. Saya percaya bahwa segala macam pertentangan dapat diselesaikan dengan perundingan tanpa kita harus saling membunuh.”

“Sungguh akan menjadi khotbah yang menarik. Hanya jangan kau harapkan bahwa Kompeni akan berbondong-bondong datang mendengarkan khotbah¬mu! Hidayat, apa kamu masih juga percaya, bahwa kemerdekaan kita yang telah diinjak-injak oleh Kompeni sekarang ini dapat ditebus dengan berunding hanya karena sebagian besar umat manusia di muka bumi ini menyukai hidup tenteram dan membenci pengaliran darah?”

Sejurus Pangeran Antasari berhenti sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Kita yang sudah banyak mengaji mengetocui benar,” lanjutnya, “bahwa Allah tidak akan mengubah nasib kita, jika kita sendiri tidak berusaha mengubahnya”.

“Saya tidak tahu lagi, Paman,” Pangeran Hidayat terdesak. “Saya tidak tahu lagi apa yang harus saya katakan.”

“Kamu boleh tidak tahu apa yang harus kau katakan, tapi kau harus tahu apa yang harus kau lakukan. Dan itu cuma satu. Pimpinlah perjuangan ini!” desak Pangeran Antasari.

“Mengapa Paman masih terus meng¬harapkan supaya saya memimpinnya?”

“Karena kau adalah ahli waris yang sah dari kerajaan ini.”

Pangeran Hidayat menyanggah : “Saya tidak terlalu gembira dengan sebutan ahli waris yang sah, karena saya tahu Paman pun berhak penuh atas kerajaan ini,” katanya jujur.

“Saya tidak terlalu berterima kasih kepada leluhur saya yang menyebabkan saya mendapat kehormatan dengan sebutan putera mahkota, karena saya tahu mereka telah merebutnya dari datu-datu Paman. Turun-temurun keluarga Paman telah berjuang mengusir Kompeni. Sedangkan saya…,” ia menggeleng-geleng. “Tidak, Paman. Mengapa tidak Paman sendiri menerus¬kan memimpinnya.”

“Jangan kita seperti anak kecil, Hidayat,” keluh orang tua itu kesal. “Membangkit-bangkit kesalahan orang yang telah dikubur. Apapun yang telah terjadi diantara mereka, tidak menghapuskan adanya per¬talian darah diantara kita. Aku sudah lanjut usia. Jika Allah membenarkannya, sebenarnya aku tidak meng¬harapkan lebih daripada kedudukanku yang sekarang ini. Tambahan pula rakyat masih percaya penuh kepada wasiat kakekmu almarhum.”

“Tetapi wasiat itu telah beliau batalkan sendiri dengan pengangkatan saya sebagai Mangkubumi sekarang ini…Namun demikian”, jawab Pangeran Antasari, “Bagi mereka kau tidsk saja ahli waris yang sah dari kerajaan ini, tetapi juga yang maha utama bagi mereka. Kau merupakan lambang dari perasaan mereka yang ingin bebas, lambang dari perjuangan mereka untuk satu. Karena itulah mereka mempertaruhkan segala-galanya untukmu.”

Pangeran Hidayat berjalan mondar-mandir, dan rupanya mulai termakan di hatinya. “Siapa diantara pemuka-pemuka rakyat yang ikut…?” tanyanya.

“Aku telah menghimpun semua mereka. Pasukan dari daerah Barito, Kapuas, dan Kahayan dipimpin oleh Tumenggung Surapati. Dari daerah Hulu Sungai dan Tanah Laut dipimpin oleh tangan kananmu sendiri; Demang Lehman, bersama-sama Tumenggung Antaluddin, Haji Buyasin, dan lain-lain. Benar-benar tenaga-tenaga muda yang jarang ada tandingannya. Adapun pasukan dari daerah Benua lima, juga dipimpin oleh orang keper¬cayaanmu sendiri, Jalil; dan Aling dari Muning telah memihak kepada kita.”

“Yang terakhir ini sudah saya dengar juga. Rupanya Paman tidak saja berhasil untuk menyatukan Gerakan Benua Lima dengan Gerakan Maning, tapi sempat juga menjadikannya besan.”

“Ini suratan jodoh semata-mata,” jawab Pangeran Antasari.

Setelah. itu keduanya terdiam merenung sejenak. “Jadi semuanya mereka telah satu mufakat ?” tanya Pangeran Hidayat.

“Kau jangan menyangsikan lagi”, sahut pengeran Antasari tegas.

“Apakah Paman yakin bahwa Paman akan memenangkun peperangan ini?”

“Kita harus yakin, bahwa kita akan memenangkan ke¬benaran dari peperangan ini,”

Dua minggu kemudian, tepatnya tanggal 28 April 1859, Perang Banjar yang dipimpin oleh Pangeran Antasari meletus, dengan jalan merebut benteng Pengaron milik Belanda yang dipertahankan mati-¬matian. Pertempuran di benteng pengaron ini disambut dengan pertempuran-pertempuran di berbagai medan yang tersebar di Kalimantan Selatan, yang dipimpin oleh Kiai Demang Lehman, Haji Buyasin, Tumenggung Antaluddin, Pangeran Amrullah dan lain-lain.

Pertempuran mempertahankan benteng Tabanio bulan Agustus 1859, pertempuran mempertahankan benteng Gunung Lawak pada tanggal 29 september 1859; mempertahankan kubu pertahanan Munggu Tayur pada bulan Desember 1859; pertempuran di Amawang pada tanggal 31 Maret 1860. Bahkan Tumenggung Surapati berhasil membakar dan menenggelamkan kapal Onrust milik Belanda di Sungai Barito.

Sementara itu Pangeran Hidayat makin jelas menjadi penentang Belanda dan memihak kepada perjuangan rakyat yang dipimpin oleh Pangeran Antasari. Penguasa Belanda menuntut supaya Pangeran Hidayat menyerah, tetapi ia menolak. Akhirnya penguasa kolonial Belanda secara resmi menghapuskan kerajaan/kesultanan Banjar pada tanggal 11 Juni 1860. Sejak itu kesultanan Banjar langsung diperintah oleh seorang Residen Hindia Belanda.

Perlawanan semakin meluas, kepala-kepala daerah dan para ulama ikut memberontak, memperkuat barisan pejuang Pangeran Antasari bersama-sama pangeran Hidayat, langsung memimpin pertempuran di berbagai medan melawan pasukan kolonial Belanda. Tetapi karena persenjataan pasukan Belanda lebih lengkap dan modern, pasukan Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayat terus terdesak serta semakin lemah posisinya. Setelah memimpin pertempuran selama hampir tiga tahun, karena kondisi kesehatan, akhirnya Pangeran Hidayat menyerah pada tahun 1861 dan dibuang ke Cianjur, Jawa Barat.

Setelah Pangeran Hidayat menyerah, maka perjuangan umat Islam Banjar dipimpin sepenuhnya oleh pangeran Antasari, baik sebagai pemimpin rakyat yang penuh dedikasi maupun sebagai pewaris kesultanan Banjar. Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi di Kalimantan Selatan, maka pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah, dimulai dengan seruan: “Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah,” seluruh rakyat, pejuang-pejuang, para alim ulama dan bangsawan-bangsawan Banjar; dengan suara bulat mengangkat Pangeran Antasari menjadi ‘Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin’.

Pangeran Antasari ‘Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin’
Setelah Pangeran Hidayat menyerah, maka perjuangan umat Islam Banjar dipimpin sepenuhnya oleh pangeran Antasari, baik sebagai pemimpin rakyat yang penuh dedikasi maupun sebagai pewaris kesultanan Banjar. Untuk mengokohkan kedudukannya sebagai pemimpin perjuangan umat Islam tertinggi di Kalimantan Selatan, maka pada tanggal 14 Maret 1862, bertepatan dengan 13 Ramadhan 1278 Hijriah, dimulai dengan seruan: “Hidup untuk Allah dan Mati untuk Allah,” seluruh rakyat, pejuang-pejuang, para alim ulama dan bangsawan-bangsawan Banjar; dengan suara bulat mengangkat Pangeran Antasari menjadi ‘Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin’.

Tidak ada alasan lagi bagi Pangeran Antasari untuk menolak, ia harus menerima kedudukan yang dipercayakan kepadanya dan bertekad melaksanakan tugasnya dengan rasa tanggung jawab sepenuhnya kepada Allah dan rakyat.

Dengan pengangkatan ini menyebabkan ia sekaligus secara resmi memangku jabatan sebagai Kepala Pemerintahan, Panglima Perang dan Pemimpin Tertinggi Agama Islam.

Pertempuran yang berkecamuk makin sengit antara pasukan Khalifatul Mukminin dengan pasukan Belanda, berlangsung terus di berbagai medan. Pasukan Belanda yang ditopang oleh bala bantuan dari Batavia dan persenjataan modern, akhirnya berhasil mendesak terus pasukan Khalifah. Dan akhirnya Khalifah memindahkan pusat benteng pertahanannya di hulu Sungai Teweh. Pada awal Oktober 1862, bertempat di markas besar pertahanan Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin (Pangeran Antasari) di hulu Sungai Teweh diselenggarakan rapat para panglima, yang dihadiri oleh Khalifah sendiri, Gusti Muhammad Seman, Gusti Muhammad Said (keduanya putera khalifah sendiri), Tumenggung Surapati dan Kiai Demang Lehman. Sedangkan para panglima yang lain-lain tidak bisa hadir, karena perhubungan yang sulit dan letaknya jauh-jauh.

“Adakah kabar penting Lehman ?” Khalifah membuka percakapan.

“Oo tidak … Tidak ada hal-hal yang terlalu luar biasa,” jawab Lehman. “Hanya saja kami semua mendengar bahwa Khalifah-sakit.”

“Seperti yang kamu lihat sendiri, Lehman …. penyakit orang-orang telah berumur. Tapi Insya Allah, aku akan sehat kembali. Hanya buat sementara pimpinan perjuangan di sini kuserahkan kepada mereka bertiga ini ….,” jawab Khalifah, Gusti Muhammad Seman, Gusti Muhammad Said dan Tumenggung Surapati mengangguk, yang dibalas pula oleh Kiai Demang Lehman.

Selanjutnya Kiai Demang Lehman menyampaikan pesan para panglima dari Hulu Sungai dan Tanah Laut, yaitu Haji Buyasin dan Kiai Langlang, yang tidak sempat hadir pada saat pelantikan Khalifah serta per¬mohonan maaf dan doa semoga khalifah cepat sembuh. “Kami para panglima yang berada di daerah Hulu Sungai dan Tanah Laut telah berikrar dan bertekad bulat dibawah pimpinan Khalifah untuk berjuang dan bertempur terus di mana pun kami berada, selama Allah subhanahu wata’ala memberikan daya dan kemampuan kepada kami.”

“Alhamdulillah…,” ucap Khalifah. “Aku mengucapkan syukur dan terima kasih, kamu semua masih tetap menaruh kepercayaan yang begitu besar demi kelangsungan perjuangan kepadaku. Karena itu aku sungguh-sungguh yakin dan percaya, sekalipun aku kelak sudah tidak ada lagi, kamu sekalian yang masih muda-muda ini, akan terus memimpin dan melanjutkan perjuangan membela rakyat dan menegakkan syari’at Islam. Kepadamu semua aku tidak dapat mewariskan apa-apa kecuali perjuangan ini. Kapan berakhirnya perjuangan ini aku sendiri tidak tahu. Hanya yang pasti, perjuangan manusia untuk menegakkan kebenaran dan keadilan akan terus ber¬langsung sepanjang usia umat manusia.

Pembicaraan dalam pertemuan ini beralih kepada Muhammad Said, putera Khalifah, dimana antara lain ia berucap: “Sulit menemukan kesempatan seperti dalam pertemuan ini. Medan yang terpencar-pencar memaksa kita tidak dapat selalu bertempur bersama, bertemu dan apalagi memperbincangkan sesuatu. Namun demikian kita diikat oleh satu persamaan cita-cita dan tujuan, yang dihidupkan dan digerakkan oleh semangat perang sabil.

“Inilah…,” tekannya. “Tiga setengah tahun sudah kita menjalani perang ini. Korban benda dan jiwa sudah tidak terkatakan. Korban harta dan orang-orang yang kita cintai. Dan saya sendiri sudah kehilangan se¬orang isteri, ipar dan mertua dalam perang ini. Allah Maha Tahu apa artinya mereka semua bagiku..”

Kembali ia terdiam merenung, lanjutnya: “Perang adalah sungguh-sungguh kesengsaraan. Siapapun harus mengakui ini. Tetapi menyesalkah kita telah melakukannya? Tidak! Karena kita tahu untuk apa kita ini berjihad!” katanya bersemangat.

“Biar seribu kali Nieuwenhuyzen mengeluarkan maklumat proklamasinya yang menyebut-nyebut bahwa tujuan pemerintah Belanda sekarang ialah menciptakan kemakmuran rakyat, memegang teguh keadilan, ketertiban dan keamanan serta menganggap kita binatang buruan yang mengembara dalam rimba-rimba belantara dan menuduh kita menyalahgunakan nama Agama dan tanah air untuk membenarkan tujuan perang kita, semuanya itu tidak ada artinya dan tidak melemahkan iman kita! Kompeni boleh membunuh kita, tetapi tidak semangat kita! Lalu menyerah … Menyerah setelah sekian banyak korban, sekian banyak kesengsaraan? Lalu apa artinya korban dan kesengsaraan selama tiga setengah tahun perang ini? Inilah yang menjadi tanda tanya tentang menyerahkan kak Hidayat kepada Belanda. Kiai Demang Lehman adalah orang yang paling dekat dengan kak Hidayat, tolong jelaskan.”

Kiai Demang Lehman mengangguk, menunduk sebentar kemudian mengangkat muka. “Mungkin sebagian kesalahan itu ada pada saya,” ia mulai dengan suatu pengakuan yang jujur. “Dan jika itu dinamakan kesalah¬an juga, maka kesetiaan itulah saya kira asal-mula sebabnya. Hanya, kesetiaan saya itu bukanlah karena saya dari seorang pemuda tanggung bernama Idis yang diangkatnya menjadi Lalawangan di Riam Kanan dengan gelar Kiai Demang Lehman dan kemudian mendapat hadiah kedua macam senjata ini,” katanya sambil memperlihatkan senjata-senjatanya.

“Kesetiaan saya adalah kesetiaan seorang rakyat biasa terhadap pemimpin yang dicintainya dan sebaliknya menyintai pula rakyatnya; kesetiaan kepada pemimpin yang diharapkan membimbing rakyatnya keluar dari penindas¬an dan kesengsaraan. Dan di atas segala-galanya kesetiaan kepada manusia.”

Pembicaraannya terhenti. Kemudian ia lanjutkan: “Saya iba melihat Pangeran Hidayat dan keluarganya terlunta-lunta dalam buruan Kompeni. Mengingat kekurangan senjata dan penghidupan rakyat semakin sulit karena pertumpahan darah yang berlarut-larut, maka saya mengusahakan penyerahannya dengan kepercayaan, tadinya, bahwa penyerahannya akan mengakhiri semua kekalutan dan kesengsaraan itu. Tetapi diluar dugaan saya, ia menerima begitu saja tekanan yang ditetapkan oleh Mayor Verspyck tentang pengasingannya ke Jawa dan pengumuman kepada rakyat untuk meletakkan senjata.”

“Ini menyalahi sama sekali janji Mayor Koch kepada saya yang menjamin bahwa Pengeran Hidayat tidak akan diasingkan ke Jawa! Akhirnya saya insaf bahwa saya telah menempuh suatu cara yang salah, terlalu cepat percaya kepada apa yang seharusnya haram untuk dipercayai!” Kiai Demang Lehman berhenti sebentar untuk menekankan rasa geramnya atas pengkhianatan Belanda.

“Tetapi ketika Kompeni membawa Pangeran Hidayat dari Martapura ke Banjarmasin, saya kerahkan rakyat Martapura, untuk membebaskannya kembali dari kapal api tersebut; dan berhasil. Hanya pada akhirnya, belum sebulan kemudian ia kembali menyerah untuk kedua kalinya,” katanya menyesal.

“Adapun saya sendiri, Insya Allah pantang untuk mengulang kembali kesalahan itu buat kedua kalinya. Dan saya bersumpah untuk menebus kesalahan pertama itu, kalau tadi dinamakan juga kesalahan, dengan seluruh jiwa raga saya!” ujarnya dengan hati berkobar tapi penuh taqwa. “Baru kemudian terasa, bahwa selain keimanan terhadap Agama, kesetia¬an terhadap perjuangan juga menuntut dan mengatasi kesetiaan-kesetiaan lainnya”

Khalifah yang semenjak tadi berdiam diri, mulai sngkat bicara: “Yah…, kesalahan semacam itu bukan tidak mungkin dapat juga kami perbuat. Hanya yang penting sekarang ialah bahwa kita telah belajar dari pengalaman pahit,” ujar khalifah lebih lanjut.

“Mayor Verspyck ini telah mengirim surat kepadaku dengan perantaraan orang kepercayaannya Kiai Rangga Niti Negara. Katanya, bahwa bilamana aku dan kawan-kawan seperjuangan ingin memperbaiki kesalahan dan berhajat minta ampun kepada Kompeni, maka Kiai itu berkuasa membawa kami ke Mentalat untuk mendapat¬kan pengampunan dari Kompeni! Begitu kira-kira bunyi suratnya, Surapati?” tanyanya kepada Tumenggung Surapati.

“Sungguh surat yang mentertawakan,” jawab Tumenggung Surapati. “Menyerah dan meminta ampun dengan perantaraan surat ? Bah…! Dengan meriam-meriamnya pun haram kami menyerah, apalagi hanya dengan selembar kertas yang dibawa oleh kaki tangan Kompeni semacam Niti Negara itu !”

Khalifah mengangguk, membenarkan pandangan itu. “Aku telah membalas surat itu, Lehman”, katanya. Kukatakan, bahwa aku berterima kasih atas segala perhatiannya! Aku menyadari bahwa sebagai manusia aku mempunyai banyak kesalahan. Tetapi kesalahan yang dimaksudnya adalah dari sudut pandangannya, pandangan seorang kompeni terhadap seorang pribumi yang hina-dina!”

“Semua orang-kulit putih di Banjarmasin telah digaji oleh kompeni untuk mengadakan segala macam perbuatan terkutuk, haram dan durhaka! Selanjutnya kukatakan, bahwa mungkin usulnya akan kupertimbangkan jika ada surat resmi dari Gubernur Jenderad dimana ditetapkan tegas-tegas, bahwa kesultanan Banjar dikembalikan sepenuhnya kepada kami! Adapun usulnya supaya kami minta ampun ku¬tolak dengan tegas. Kami akan berjuang terus menuntut hak kami, hak kita semua! Inilah antara lain yang penting, Lehman.”

“Kita tidak, akan mendapatkan apa-apa dari peperangan ini dengan berunding apalagi menyerah! Kalau kita melakukannya juga, anak cucu kita sebagai pelanjut perjuangan kita, akan menyalahkan kita, menghukum tindakan kita sebagai suatu kelemahan perangai atau iman. Janji-janji kompeni membuat saya semakin jijik. Terutama dengan pengalaman Hidayat yang dibuang sebagai rakyat jajahan ke Jawa. Jangankan Hidayat, orang kepercayaannya sendiri seperti Tamjid dibuangnya, apalagi kita semua orang yang terang-terangan menentangnya mati-matian.”

Pertemuan diakhiri setelah mendengar suara azan Maghrib yang terdengar dari kejauhan. Dan beberapa hari kemudian, pada tanggal 11 Oktober 1862, Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin (Pangeran Antasari) wafat; dan dimakamkan di Bayan Begok, Hulu Teweh.

Walaupun Khalifah telah wafat, namun perlawanan berjalan terus, dipimpin oleh putera-puteranya seperti Gusti Muhammad Seman, Gusti Muhammad Said dan para panglima yang gagah perkasa. Pada tahun 1864, pasukan Belanda berhasil menangkap banyak pemimpin perjuangan Banjar yang bermarkas di gua-gua.

Mereka itu ialah Kiai Demang Lehman dan Tumenggung Aria Pati. Kiai Demang Lehman kemudian dihukum gantung. Sedangkan yang gugur banyak pula dari para panglima, seperti antara lain Haji Buyasin pada tahun 1866 di Tanah Dusun, kemudian menyusul pula gugur penghulu Rasyid, Panglima Bukhari, Tumenggung Macan Negara, Tumenggung Naro.

Dalam pertempuran di dekat Kalimantan Timur, menantu Khalifah Pangeran Perbatasari tertangkap oleh Belanda dan pada tahun 1866 diasingkan ke Tondano, Sulawesi Utara. Kemudian Panglima Batur dari Bakumpai tertangkap oleh Belanda dan dihukum gantung pada tahun 1905 di Banjarmasin.Terakhir Gusti Muhamad Seman wafat dalam pertempuran di Baras Kuning, Barito pada bulan Januari 1905.

Gambaran singkat dari Perang Banjar yang berlangsung dari tahun 1859 dan berakhir tahun 1905, terlihat dengan jelas bahwa landasan ideologi yang diperjuangkan adalah Islam, dengan semboyan “Hidup untuk Allah dan mati untuk Allah”, dengan jalan perang Sabil dibawah pimpinan seorang Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, dan targetnya berdaulatnya kembali kesultanan Banjar. Dengan kata lain perang Banjar adalah perang untuk menegakkan negara Islam yang utuh.

sumber : PERANG SABIL versus PERANG SALIB
(Ummat Islam Melawan Penjajah Kristen Portugis dan Belanda) oleh ABDUL QADIR DJAELANI, Penerbit: YAYASAN PENGKAJIAN ISLAM MADINAH AL-MUNAWWARAH Jakarta 1420 H / 1999 M

Tinggalkan sebuah Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: