KOMUNIS

Maret 16, 2011 pukul 9:50 am | Ditulis dalam Artikel | Tinggalkan komentar

Komunisme adalah salah satu ideologi di dunia, selain kapitalisme dan ideologi lainnya. Komunisme lahir sebagai reaksi terhadap kapitalisme di abad ke-19, yang mana mereka itu mementingkan individu pemilik dan mengesampingkan buruh.

Istilah komunisme sering dicampuradukkan dengan Marxisme. Komunisme adalah ideologi yang digunakan partai komunis di seluruh dunia. Racikan ideologi ini berasal dari pemikiran Lenin sehingga dapat pula disebut “Marxisme-Leninisme”.

Dalam komunisme perubahan sosial harus dimulai dari peran Partai Komunis. Logika secara ringkasnya, perubahan sosial dimulai dari buruh, namun pengorganisasian Buruh hanya dapat berhasil jika bernaung di bawah dominasi partai. Partai membutuhkan peran Politbiro sebagai think-tank. Dapat diringkas perubahan sosial hanya bisa berhasil jika dicetuskan oleh Politbiro. Inilah yang menyebabkan komunisme menjadi “tumpul” dan tidak lagi diminati.

Komunisme sebagai anti kapitalisme menggunakan sistem sosialisme sebagai alat kekuasaan, dimana kepemilikan modal atas individu sangat dibatasi. Prinsip semua adalah milik rakyat dan dikuasai oleh negara untuk kemakmuran rakyat secara merata. Komunisme sangat membatasi demokrasi pada rakyatnya, dan karenanya komunisme juga disebut anti liberalisme.

Secara umum komunisme sangat membatasi agama pada rakyatnya, dengan prinsip agama adalah racun yang membatasi rakyatnya dari pemikiran yang rasional dan nyata.

Komunisme sebagai ideologi

Komunisme sebagai ideologi mulai diterapkan saat meletusnya Revolusi Bolshevik di Rusia tanggal 7 November 1917. Sejak saat itu komunisme diterapkan sebagai sebuah ideologi dan disebarluaskan ke negara lain. Pada tahun 2005 negara yang masih menganut paham komunis adalah Tiongkok, Vietnam, Korea Utara, Kuba dan Laos.

Maoisme

Ideologi komunisme di Tiongkok agak lain daripada dengan Marxisme-Leninisme yang diadopsi bekas Uni Soviet. Mao Zedong menyatukan berbagai filsafat kuno dari Tiongkok dengan Marxisme yang kemudian ia sebut sebagai Maoisme. Perbedaan mendasar dari komunisme Tiongkok dengan komunisme di negara lainnya adalah bahwa komunisme di Tiongkok lebih mementingkan peran petani daripada buruh. Ini disebabkan karena kondisi Tiongkok yang khusus di mana buruh dianggap sebagai bagian tak terpisahkan dari kapitalisme.

Indonesia dan komunisme

Ada kemungkinan Indonesia menjadi negara komunis andai saja PKI berhasil berkuasa di Indonesia. Namun hal tersebut tidak menjadi kenyataan setelah terjadinya pelanggaran HAM super berat dan pembantaian manusia secara sia-sia oleh tentara dan kelompok-kelompok agama terhadap orang-orang yang dicurigai dan dituduh mempunyai hubungan dengan PKI pada pertengahan tahun 1960-an. Hal ini juga membawa kesengsaraan luar biasa bagi para warga Indonesia dan anggota keluarga yang dituduh komunis meskipun belum tentu kebenarannya. Diperkirakan antara 500.000 sampai 2 juta jiwa manusia dibantai di Jawa dan Bali setelah peristiwa Gerakan 30 September. Hal ini merupakan halaman terhitam sejarah negara Indonesia.

Semenjak jatuhnya Presiden Soeharto, aktivitas kelompok-kelompok Komunis, Marxis, dan haluan kiri lainnya mulai kembali aktif di lapangan politik Indonesia, walaupun belum boleh mendirikan partai karena masih dilarang oleh pemerintah.

Presiden Abdurrahman Wahid ketika menjabat pernah memiliki rencana untuk merehabilitasi semua eks-eks tapol dan melegalisir komunisme kembali. Namun rencananya ditentang banyak pihak

Kematian komunisme

Banyak orang yang mengira komunisme ‘mati’ dengan bubarnya Uni Soviet di tahun 1991. Namun Komunisme yang murni belum pernah terwujud dan tak akan terwujud selama revolusi lahir dalam bentuk sosialisme (USSR dan negara-negara komunis lainnya). Dan walaupun komunis sosialis hampir punah, partai komunis tetap ada di seluruh dunia dan tetap aktif memperjuangkan hak-hak buruh, pelajar dan anti-imperialisme. Komunisme secara politis dan ekonomi telah dilakukan dalam berbagai komunitas, seperti Kepulauan Solentiname di Nicaragua.

Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai politik di Indonesia yang berideologi komunis. Dalam sejarahnya, PKI pernah berusaha melakukan pemberontakan melawan pemerintah kolonial Belanda pada 1926, mendalangi pemberontakan PKI Madiun pada tahun 1948 dan dicap oleh rezim Orde Baru ikut mendalangi pemberontakan G30S pada tahun 1965. Namun tuduhan dalang PKI dalam pemberontakan tahun 1965 tidak pernah terbukti secara tuntas, dan masih dipertanyakan seberapa jauh kebenaran tuduhan bahwa pemberontakan itu didalangi PKI. Sumber luar memberikan fakta lain bahwa PKI tahun 1965 tidak terlibat, melainkan didalangi oleh Soeharto (dan CIA). Hal ini masih diperdebatkan oleh golongan liberal, mantan anggota PKI dan beberapa orang yang lolos dari pembantaian anti PKI.

Latar belakang sejarah

Partai ini didirikan atas inisiatif tokoh sosialis Belanda, Henk Sneevliet pada 1914, dengan nama Indische Sociaal-Democratische Vereeniging (ISDV) (atau Persatuan Sosial Demokrat Hindia Belanda). Keanggotaan awal ISDV pada dasarnya terdiri atas 85 anggota dari dua partai sosialis Belanda, yaitu SDAP (Partai Buruh Sosial Demokratis) dan SDP (Partai Sosial Demokratis), yang aktif di Hindia Belanda.

Pada Oktober 1915 ISDV mulai aktif dalam penerbitan dalam bahasa Belanda, “Het Vrije Woord” (Kata yang Merdeka). Editornya adalah Adolf Baars.

Pada saat pembentukannya, ISDV tidak menuntut kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu, ISDV mempunyai sekitar 100 orang anggota, dan dari semuanya itu hanya tiga orang yang merupakan warga pribumi Indonesia. Namun demikian, partai ini dengan cepat berkembang menjadi radikal dan anti kapitalis. Di bawah pimpinan Sneevliet partai ini merasa tidak puas dengan kepemimpinan SDAP di Belanda, dan yang menjauhkan diri dari ISDV. Pada 1917, kelompok reformis dari ISDV memisahkan diri dan membentuk partainya sendiri, yaitu Partai Demokrat Sosial Hindia.

Pada 1917 ISDV mengeluarkan penerbitannya sendiri dalam bahasa Melayu, “Soeara Merdika”.

Di bawah kepemimpinan Sneevliet, ISDV yakin bahwa Revolusi Oktober seperti yang terjadi di Rusia harus diikuti di Indonesia. Kelompok ini berhasil mendapatkan pengikut di antara tentara-tentara dan pelaut Belanda yang ditempatkan di Hindia Belanda. Dibentuklah “Pengawal Merah” dan dalam waktu tiga bulan jumlah mereka telah mencapai 3.000 orang. Pada akhir 1917, para tentara dan pelaut itu memberontak di Surabaya, sebuah pangkalan angkatan laut utama di Indonesia saat itu, dan membentuk dewan soviet. Para penguasa kolonial menindas dewan-dewan soviet di Surabaya dan ISDV. Para pemimpin ISDV dikirim kembali ke Belanda, termasuk Sneevliet. Para pemimpin pemberontakan di kalangan militer Belanda dijatuhi hukuman penjara hingga 40 tahun.

ISDV terus melakukan kegiatannya, meskipun dengan cara bergerak di bawah tanah. Organisasi ini kemudian menerbitkan sebuah terbitan yang lain, Soeara Ra’jat. Setelah sejumlah kader Belanda dikeluarkan dengan paksa, ditambah dengan pekerjaan di kalangan Sarekat Islam, keanggotaan organisasi ini pun mulai berubah dari mayoritas warga Belanda menjadi mayoritas orang Indonesia. Pada 1919, ISDV hanya mempunyai 25 orang Belanda di antara anggotanya, dari jumlah keseluruhan kurang dari 400 orang anggota.

Pembentukan Partai Komunis

Pada Kongres ISDV di Semarang (Mei 1920), nama organisasi ini diubah menjadi Perserikatan Komunis di Hindia. Semaun diangkat sebagai ketua partai.

PKH adalah partai komunis pertama di Asia yang menjadi bagian dari Komunis Internasional. Henk Sneevliet mewakili partai ini pada kongresnya kedua Komunis Internasional pada 1920.

Pada 1924 nama partai ini sekali lagi diubah, kali ini menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pemberontakan 1926

Pada November 1926 PKI memimpin pemberontakan melawan pemerintahan kolonial di Jawa Barat dan Sumatra Barat. PKI mengumumkan terbentuknya sebuah republik. Pemberontakan ini dihancurkan dengan brutal oleh penguasa kolonial. Ribuan orang dibunuh dan sekitar 13.000 orang ditahan. Sejumlah 1.308 orang, umumnya kader-kader partai, dikirim ke boven Digul, sebuah kamp tahanan di Papua.[2] Beberapa orang meninggal di dalam tahanan. Banyak aktivis politik non-komunis yang juga menjadi sasaran pemerintahan kolonial, dengan alasan menindas pemberontakan kaum komunis. Pada 1927 PKI dinyatakan terlarang oleh pemerintahan Belanda. Karena itu, PKI kemudian bergerak di bawah tanah.

Pada masa awal pelarangan ini, PKI berusaha untuk tidak menonjolkan diri, terutama karena banyak dari pemimpinnya yang dipenjarakan. Pada 1935 pemimpin PKI Musso kembali dari pembuangan di Moskwa, Uni Soviet, untuk menata kembali PKI dalam gerakannya di bawh tanah. Namun Musso hanya tinggal sebentar di Indonesia. Kini PKI bergerak dalam berbagai front, seperti misalnya Gerindo dan serikat-serikat buruh. Di Belanda, PKI mulai bergerak di antara mahasiswa-mahasiswa Indonesia di kalangan organisasi nasionalis, Perhimpoenan Indonesia , yang tak lama kemudian berada di dalam kontrol PKI.[3]

Setelah kemerdekaan: bangkit kembali

Setelah pemerintahan Jepang menyerah kalah kepada Tentara Sekutu pada 1945, PKI muncul kembali di panggung politik Indonesia dan ikut serta secara aktif dalam perjuangan untuk merebut kemerdekaan nasional. Banyak satuan-satuan bersenjata yang berada di bawah kontrol ataupun pengaruh PKI. Meskipun milisi-milisi PKI memainkan peranan penting dalam perlawanan terhadap Belanda, Soekarno khawatir bahwa semakin kuatnya pengaruh PKI akhirnya akan mengancam posisinya. Lain daripada itu, perkembangan PKI dirasakan sangat mengancam kelompok-kelompok kanan dalam dunia politik Indonesia, maupun Amerika Serikat.

Peristiwa Madiun 1948

Pada Februari 1948 PKI dan unsur-unsur kiri dari Partai Sosialis Indonesia membentuk sebuah front bersama, yaitu Front Demokratis Rakjat. Front ini tidak bertahan lama, namun unsur-unsur kiri Psi kemudian bergabung dengan PKI. Pada saat ini milisi-milisi Pesindo berada di bawah kontrol PKI.

Pada 11 Agustus 1948 Musso kembali ke Jakarta setelah mengembara selama 12 tahun di Uni Soviet. Politbiro PKI dibentuk kembali, dengan pemimpinnya antara lain Dipa Nusantara Aidit, M.H. Lukman dan Njoto.

Setelah penandatanganan Perjanjian Renville (1948), banyak satuan-satuan bersenjata republiken yang kembali dari daerah-daerah konflik. Hal ini memberikan rasa percaya diri di kalangan kelompok sayap kanan Indonesia bahwa mereka akan mampu menandingi PKI secara militer. Satuan-satuan gerilya dan milisi yang berada di bawah pengaruh PKI diperintahkan untuk membubarkan diri. Di Madiun, sekelompok militer yang dipengaruhi PKI yang menolak perintah perlucutan senjata tersebut dibunuh pada bulan September tahun yang sama. Pembunuhan ini menimbulkan pemberontakan bersenjata. Hal ini menimbulkan alasan untuk menekan PKI. Sumber-sumber militer menyatakan bahwa PKI telah memproklamasikan pembentukan “Republik Soviet Indonesia” pada 18 September 1948 dengan Musso sebagai presidennya dan Amir Sjarifuddin sebagai perdana menterinya. Pada saat yang sama PKI menyatakan menolak pemberontakan itu dan menyerukan agar masyarakat tetap tenang. Pemberontakan ini ditindas oleh pasukan-pasukan republik, dan PKI kembali mengalami masa penindasan. Pada 30 September Madiun berhasil dikuasai oleh pasukan-pasukan Republik dari Divisi Siliwangi. Beribu-ribu kader partai dibunuh dan 36.000 orang dipenjarakan. Di antara mereka yang dibunuh termasuk Musso yang dibunuh pada 31 Oktober dengan alasan bahwa ia berusaha melarikan diri dari penjara. Amir Sjarifuddin, tokoh Partai Sosialis Indonesia, pun dibunuh pada peristiwa berdarah ini. Aidit dan Lukman mengungsi ke Republik Rakyat Tiongkok. Namun PKI tidak dilarang dan terus berfungsi. Pada 1949 partai ini mulai dibangun kembali.

Bangkit kembali

Pada 1950, PKI memulai kembali kegiatan penerbitannya, dengan organ-organ utamanya yaitu Harian Rakjat dan Bintang Merah. Pada 1950-an, PKI mengambil posisi sebagai partai nasionalis di bawah pimpinan D.N. Aidit, dan mendukung kebijakan-kebijakan anti kolonialis dan anti Barat yang diambil oleh Presiden Soekarno. Adit dan kelompok di sekitarnya, termasuk pemimpin-pemimpin muda seperti Sudisman, Lukman, Njoto dan Sakirman, menguasai pimpinan partai pada 1951. Pada saat itu, tak satupun di antara mereka yang berusia lebih dari 30 tahun. Di bawah Aidit, PKI berkembang dengan sangat cepat, dari sekitar 3.000-5.000 anggota pada 1950, menjadi 165 000 pada 1954 dan bahkan 1,5 juta pada 1959. [4]

Pada Agustus 1951, PKI memimpin serangkaian pemogokan militan, yang diikuti oleh tindakan-tindakan tegas terhadap PKI di Medan dan Jakarta. Akibatnya, para pemimpin PKI kembali bergerak di bawah tanah untuk sementara waktu.

Pemilu 1955

Pada pemilu 1955, PKI menempati tempat keempat dengan 16% dari keseluruhan suara. Partai ini memperoleh 39 kursi (dari 257 kursi yang diperebutkan) dan 80 dari 514 kursi di Dewan Konstituante.

Perlawanan terhadap kontrol Belanda atas Papua merupakan masalah yang seringkali diangkat oleh PKI selama tahun 1950-an.

Pada Juli 1957, kantor PKI di Jakarta diserang dengan granat. Pada bulan yang sama PKI memperoleh banyak kemajuan dalam pemilihan-pemilihan di kota-kota. Pada September tahun yang sama, Masjumi secara terbuka menuntut supaya PKI dilarang.[5]

Pada 3 Desember, serikat-serikat buruh, yang pada umumnya berada di bawah pengaruh PKI, mulai menguasai perusahaan-perusahaan milik Belanda. Penguasaan ini merintis nasionalisasi atas perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh asing. Perjuangan melawan para kapitalis asing memberikan PKI kesempatan untuk menampilkan diri sebagai sebuah partai nasional.

Pada Februari 1958 terjadi sebuah upaya kudeta yang dilakukan oleh kekuatan-kekuatan pro Amerika Serikat di kalangan militer dan politik sayap kanan. Para pemberontak, yang berbasis di Sumatra dan Sulawesi, mengumumkan pada 15 Februari terbentuknya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Pemerintahan yang disebut revolusioner ini segera menangkapi ribuan kader PKI di wilayah-wilayah yang berada di bawah kontrol mereka. PKI mendukung upaya-upaya Soekarno untuk memadamkan pemberontakan ini, termasuk pemberlakuan Undang-Undang Darurat. Pemberontakan ini pada akhirnya berhasil dipadamkan.

Pada 1959 militer berusaha menghalangi diselenggarakannya kongres PKI. Namun demikian, kongres ini berlangsung sesuai dengan jadwal, dan Presiden Soekarno sendiri menyampaikan sambutannya. Pada 1960, Soekarno melancarkan slogan Nasakom, yang merupakan singkatan dari Nasionalisme, Agama, dan Komunisme. Dengan demikian peranan PKI sebagai mitra dalam politik Soekarno dilembagakan. PKI membalasnya dengan menanggapi konsep Nasakom secara positif, dan melihatnya sebagai sebuah front bersatu yang multi-kelas.

Meskipun PKI mendukung Sukarno, ia tidak kehilangan otonomi politiknya. Pada Maret 1960, PKI mengecam penanganan anggaran yang tidak demokratis oleh Soekarno. Pada 8 Juli 1960, Harian Rakjat memuat sebuah artikel yang kritis terhadap pemerintah. Para pemimpin PKI ditangkap oleh militer, namun kemudian dibebaskan kembali atas perintah Soekarno.

Ketika gagasan tentang Malaysia berkembang, PKI maupun Partai Komunis Malaya menolaknya.

Dengan berkembangnya dukungan dan keanggotaan yang mencapai 3 juta orang pada 1965, PKI menjadi partai komunis terkuat di luar Uni Soviet dan RRT. Partai itu mempunyai basis yang kuat dalam sejumlah organisasi massa, seperti SOBSI (Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia), Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) dan Himpunan Sarjana Indonesia (HSI). Menurut perkiraan, seluruh anggota partai dan organisasi-organisasi yang berada di bawah payungnya mungkin mencapai seperlima dari seluruh rakyat Indonesia.

Pada Maret 1962, PKI bergabung dengan pemerintah. Para pemimpin PKI, Aidit dan Njoto, diangkat menjadi menteri penasihat. Pada bulan April, PKI menyelenggarakan kongres partainya. Pada 1963, pemerintah Malaysia, Indonesia dan Filipina terlibat dalam pembahasan tentang pertikaian wilayah dan kemungkinan tentang pembentukan sebuah Konfederasi Maphilindo, sebuah gagasan yang dikemukakan oleh presiden Filipina, Diosdado Macapagal. PKI menolak gagasan pembentukan Maphilindo dan federasi Malaysia. Para anggota PKI yang militan menyeberang masuk ke Malaysia dan terlibat dalam pertempuran-pertempuran dengan pasukan-pasukan Britania dan Australia. Sebagian kelompok berhasil mencapai Malaya, lalu bergabung dalam perjuangan di sana. Namun demikian, kebanyakan dari mereka ditangkap begitu tiba. Kebanyakan dari satuan-satuan tempur PKI aktif di wilayah perbatasan di Kalimantan.

Pada Januari 1954, PKI mulai menyita hak milik Britania kepunyaan perusahaan-perusahaan Britania di Indonesia.

Genosida

Dengan alasan ‘keterlibatan PKI dalam G30S’, partai ini dilarang oleh Pangkopkamtib Soeharto pada tanggal 12 Maret 1966, setelah mendapat Surat Perintah Sebelas Maret dari Presiden Soekarno.

Setelah itu bermula sebuah sejarah hitam bangsa Indonesia di mana ribuan orang tak bersalah — terutama di pulau Jawa dan Bali — dibantai secara sia-sia karena dituduh komunis.

Menurut beberapa sumber antara 500.000 jiwa sampai 2 juta jiwa tewas dibunuh. Ribuan lainnya mendekam di penjara atau dibuang ke pulau Buru.

Sebuah upaya rekonsiliasi dan rehabilitasi yang diprakarsai oleh (mantan) presiden Gus Dur, ketika ia masih menjabat sebagai presiden diprotes beberapa partai, terutama yang berlatar belakang agama di Indonesia. Usul rekonsiliasi oleh Gus Dur telah membuka kesempatan bagi orang-orang yang masih percaya pada ideologi berhaluan kiri untuk kembali aktif dalam politik Indonesia

Angkatan Kelima adalah unsur pertahanan keamanan Republik Indonesia yang merupakan gagasan Partai Komunis Indonesia PKI. Angkatan Kelima ini diambil dari kalangan buruh dan petani yang dipersenjatai.

Latar Belakang dan Perkembangannya

Unsur Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI sekarang TNI) secara resmi pada saat Demokrasi Terpimpin terdiri dari Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara serta Angkatan Kepolisian. Pada saat itu, masing-masing unsur merupakan Kementerian yang bertanggung jawab kepada Presiden/Panglima Besar Revolusi. Sekalipun ada Panglima Angkatan Bersenjata atau Kepala Staf Angkatan Bersenjata merangkap Menteri Koordinator bidang Hankam, sifatnya hanyalah berurusan dengan administrasi tidak memegang komando. Keberadaan Angkatan Kepolisian, yang dijadikan unsur Hankam, masih berlanjut hingga pada tahun 1999, ketika akhirnya Kepolisian dilepas dari unsur Hankam. Demikian pula ketika masa revolusi kemerdekaan, Kepolisian dibawah Departemen Dalam Negeri.

Pada masa Demokrasi terpimpin, Partai Komunis Indonesia merupakan partai besar Indonesia paska Pemilu 1955, merupakan unsur dalam konsep Nasakom (Nasional, Agama dan Komunis). Dengan situasi politik yang penuh gejolak dan seruan revolusioner dari Presiden Soekarno serta banyaknya Konflik seperti Irian Barat (Trikora) dan Ganyang Malaysia (Dwikora) yang membutuhkan banyak sukarelawan-sukarelawan, PKI kemudian mengajukan usul kepada pemerintah/Presiden untuk membentuk angkatan kelima yang terdiri atas kaum buruh dan tani yang dipersenjatai.

Hal ini menimbulkan kegusaran dikalangan pimpinan militer khususnya Angkatan Darat. Khawatir unsur ini digunakan oleh PKI untuk merebut kekuasaan, meniru pengalaman dari revolusi baik dari Rusia maupun RRC. Oleh karena itu itu, pimpinan Angkatan Darat menolak usulan itu.

Pada saat situasi pra G30S, terjadi konflik tertutup yang cukup panas antara Angkatan Darat dan PKI terutama untuk mengantisipasi kepemimpinan nasional paska Presiden Soekarno. Belakangan disebutkan oleh sebagian kalangan bahwa dalam konflik terutama Dwikora, Angkatan Darat dianggap tidak sungguh sungguh dalam melakukan operasi militer dibandingkan Angkatan Laut dan Angkatan Udara, sehingga memancing PKI untuk membentuk unsur ini sebagai bantuan sukarelawan.

PKI sendiri melatih berbagai unsur-unsur ormasnya dalam bentuk latihan militer meski ada sebagian menyebutkan bahwa latihan yang diikuti unsur-unsur PKI sebenarnya adalah latihan resmi untuk sukarelawan baik dari kalangan Nasionalis maupun Agama. Namun berbagai kesaksian dari para tahanan politik menyebutkan bahwa latihan itu justru lebih banyak diikuti oleh unsur Komunis seperti Pemuda Rakyat dan Gerwani dibandingkan unsur-unsur lain. Sehingga banyak kesaksian dari para tahanan politik terutama mantan petinggi militer yang menjadi tahanan politik yang mengatakan bahwa panyak perwira-perwira menengah yang kemudian tersangkut dalam G30S yang dituduh melatih unsur unsur komunis mengatakan bahwa latihan itu adalah latihan sukarelawan untuk dwikora yang sifatnya resmi.

Dalam latihan bagi sukarelawan tersebut, para saksi terutama dari Angkatan Udara juga mengatakan keheranannya bahwa latihan ini mirip latihan tentara merah Tiongkok Komunis, terutama ketika defile baris-berbaris meski dijawab untuk sebagai unsur kepantasan (kegagahan) saja.

Akhirnya muncul kasus penyelundupan senjata ilegal dari RRC atau Tiongkok komunis yang dituduhkan dikemudian hari, terutama paska peristiwa Gerakan 30 September yang gagal, yang dituduhkan sebagai usaha PKI untuk membentuk angkatan kelima dengan bantuan RRC. Namun kasus ini, yang disebut-sebut pada masa Orde Baru adalah benar-benar adanya, setelah reformasi 1998, menjadi bagian yang dipertanyakan atau merupakan unsur dari sekian unsur sejarah Indonesia yang masih gelap.

Akhir dari Angkatan Kelima

Setelah peristiwa Gerakan 30 September yang kemudian dipatahkan atau gagal. Praktis Angkatan Kelima ini lenyap. Angkatan Darat dengan Supersemar akhirnya membubarkan PKI dan ormas-ormasnya terutama diantaranya dari Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia dan SOBSI yang dituduhkan merupakan unsur Angkatan Kelima serta mengadakan penagkapan-penangkapan yang pada paska reformasi 1998 dikatakan sebagai “pembersihan“. Selain dari unsur PKI, pemerintahan saat itu, paska Supersemar yang dipegang oleh Mayor Jenderal Soeharto juga menahan para perwira militer yang dikatakan terlibat dalam Gerakan 30 September dan melatih “Angkatan Kelima” yang kemudian justru dialamatkan pada Angkatan Udara, yang memang dianggap aktif mendukung kebijakan Presiden Soekarno.

Sebagian Sukarelawan yang sudah dikirimkan ke Kalimantan dalam konflik Dwikora, akhirnya juga dilucuti. Dalam kasus ini muncullah istilah Paraku (Pasukan Rakyat Kalimantan Utara) yang disebut sebut ditumpas oleh Militer Republik Indonesia dan Militer Malaysia karena melakukan perlawanan.

V.I. LENIN

PROGRAM KITA

Pada saat ini Sosial Demokrasi Internasional sedang berada dalam kegoncangan ideologis. Malah doktrin Marx dan Engels yang sudah diakui menjadi landasan  kokoh bagi teori revolusioner, sekarang diganggu dengan suara yang dimunculkan dimana-mana untuk menggembar-gemborkan bahwa doktrin-doktrin ini tak lagi memadai dan usang. Maka dari itu, siapapun yang menyatakan dirinya seorang Sosial Demokrat dan memiliki kehendak untuk menerbitkan sebuah organ Sosial Demokrat, harus menjelaskan sikapnya dengan sebaik-baiknya terhadap persoalan yang saat ini memenuhi perhatian kaum Sosial Demokrat Jerman, bukan hanya mereka sendiri.

Sekarang kita berdiri membela sepenuhnya posisi teoritis kaum Marxist  : Marxismelah yang pertama mengubah sosialisme dari utopia menjadi pengetahuan ilmiah. Marxisme meletakkan landasan kokoh untuk pengetahuan ini, dan menunjukkan jalan yang harus diikuti, dalam usaha mengembangkan dan mengelaborasi lebih jauh semua bagian-bagiannya. Marxisme memblejeti watak asli ekonomi kapitalisme modern dengan menjelaskan soal penyewaan buruh, pembelian tenaga kerja, kemunafikan atas perbudakan terhadap berjuta-juta rakyat yang tak berpunya di tangan segelintir kaum kapitalis, pemilikan atas tanah-tanah, pabrik-pabrik, tambang-tambang dan sebagainya. Marxisme memperlihatkan bahwa semua perkembangan kapitalisme modern menunjukkan kecenderungan bahwa produksi dengan skala besar membatasi produksi kecil, dan menciptakan kondisi-kondisi yang membuat sebuah sistem sosialis menjadi mungkin dan diperlukan. Marxisme mengajarkan kepada kita bagaimana melihat secara tajam, di bawah selubung kebiasaan-kebiasaan sudah mengakar, intrik-intrik politik, hukum yang sulit dimengerti, dan doktrin-doktrin yang berbelit-belit —yaitu perjuangan klas,  perjuangan antara klas-klas yang bermilik dan semua jenisnya dengan massa rakyat yang tak bermilik, kaum proletariat, yang merupakan pimpinan dari semua yang tak bermilik. Dari itu, jelaslah tugas nyata dari sebuah partai sosialis revolusioner: bukan untuk melaksanakan rencana-rencana memperbaharui (refashioning=perubahan tambal sulam, pent) masyarakat, bukan untuk memuji-muji  kaum kapitalis dan para pengikutnya karena menambah jumlah pekerja, bukan untuk menyusun konspirasi-konspirasi, tetapi untuk mengorganisasikan perjuangan klas proletariat, dan memimpin perjuangan ini, yang bertujuan akhir mengambil-alih kekuasaan politik oleh proletariat serta pengorganisian sebuah masyarakat sosialis.

Dan sekarang kita bertanya: Apakah terdapat sesuatu yang baru yang telah disumbangkan ke dalam teori ini oleh suara kerasnya “para renovator” yang memunculkan begitu banyak keributan di keseharian kita dan telah mengelompokkan dirinya di sekitar pendukung Bernstein sosialis Jerman? Sama sekali tidak ada. Tidak satu langkah pun yang sudah mereka kembangkan terhadap pengetahuan Marx dan Engels yang membuat kita bisa berkembang; mereka tidak pernah mengajarkan kepada kaum proletariat tentang satu metode perjuangan yang baru; mereka hanya mundur, meminjam fragmen dari teori-teori terbelakang dan berkhotbah kepada kaum proletar tentang teori konsesi, dan bukan tentang teori perjuangan. Berkonsesi terhadap musuh-musuh bebuyutan kaum proletariat, pemerintah dan partai-partai borjuis yang tak kenal lelah mencari alat-alat yang baru untuk menyerang kaum sosialis. Plekhanov, salah satu pendiri dan pemimpin Sosial Demokrasi Rusia, sepenuhnya benar ketika mengkritik tanpa ampun terhadap “kritik” terakhir Bernstein; pandangan-pandangan Bernstein kini telah ditolak oleh wakil-wakil  pekerja Jerman (pada Konggres Hannover).

Kita mengantisipasi banjir tuduhan untuk kata-kata berikut ini; teriakan-teriakan akan muncul ketika kita ingin mengubah partai sosialis menjadi sebuah tatanan “pengikut sejati” yang menghina penyimpangan-penyimpangan “orang kafir” dari “dogma”, untuk setiap opini  yang independen dan sebagainya. Kita mengerti semua kalimat yang tajam dan bergaya ini. Hanya saja itu salah dan tak bermakna. Tidak akan pernah terdapat partai sosialis yang kuat tanpa sebuah teori yang revolusioner yang menyatukan semua kaum sosialis, yang menjadi sumber keyakinannya, dan yang mereka terapkan dalam metode-metode perjuangan dan sarana-sarana tindakannya. Untuk mempertahankan suatu teori, yang menurutmu paling tepat dan  kamu yakini benar, perlawanan terhadap serangan-serangan tak berdasar dan usaha-usaha untuk mengkorupnya tidak membuatmu  jadi musuh dari semua kritisisme. Kita tidak menghargai teori Marx sebagai sesuatu yang sempurna dan tak dapat diganggu-gugat; sebaliknya, kita yakin bahwa teori Marx hanya meletakkan batu pondasi bagi pengetahuan yang harus dikembangkan oleh kaum sosialis di segala bidang, jika mereka berharap mengikuti jaman. Kami pikir bahwa sebuah elaborasi yang independen terhadap teori Marx adalah sesuatu yang mendasar khususnya bagi kaum sosialis Rusia; Jadi teori ini hanya memberikan prinsip-prinsip bimbingan umum, yang dalam kekhususannya (in particular), diterapkan secara berbeda di Inggris dari di Prancis, di Prancis berbeda dari di Jerman, di Jerman berbeda dari di Rusia. Karena itu kami akan dengan senang hati memberikan ruang di dalam majalah kami untuk artikel-artikel tentang persoalan-persoalan teoritik dan kami mengundang semua kawan untuk berdiskusi secara terbuka pada point-point yang kontroversial.

Apa yang menjadi persoalan utama di Rusia dalam menerapkan program umum bagi semua kaum Sosial Demokrat? Kami sudah nyatakan bahwa esensi dari program ini adalah mengorganisasikan perjuangan klas proletariat, memimpin proletariat dan pembentukan sebuah masyarakat sosialis. Perjuangan klas proletariat mencakup perjuangan ekonomis (perjuangan melawan individu kapitalis atau kelompok individu kapitalis untuk peningkatan kondisi pekerja) dan perjuangan politik (perjuangan melawan pemerintah untuk memperluas hak-hak rakyat, misalnya untuk demokrasi, dan untuk memperluas kekuatan politik proletariat). Beberapa dari kaum Sosial Demokrat (di antara mereka adalah yang jelas-jelas mendalangi Rabochaya Mysl) menekankan perjuangan ekonomi jauh lebih penting dan lebih jauh membuang perjuangan politik pada masa depan yang tidak jelas. Cara pandang ini jelas salah. Semua kaum Sosial Demokrat sepakat bahwa perlu untuk mengorganisasikan perjuangan ekonomi klas pekerja, bahwa perlu  melakukan agitasi di antara para pekerja dengan basis (issu, pent) tersebut, misalnya untuk menolong para pekerja dalam perjuangan sehari-harinya melawan majikan; untuk menarik perhatian mereka terhadap segala bentuk dan segala kasus penindasan, dan dalam hal ini untuk memeri kejelasan kepada kaum buruh soal pentingnya kombinasi. Namun melupakan perjuangan politik untuk perjuangan ekonomi, akan bermakna penyimpangan prinsip dasar  Sosial Demokrasi internasional, akan berarti melupakan apa yang diajarkan  keseluruhan sejarah gerakan buruh kepada kita. Para pengikut sejati dari kaum borjuis dan pemerintah yagn mengabdi kepadanya,  telah berulang kali  melakukan usaha-usaha mengorganisasikan serikat sekerja yang benar-benar ekonomis  untuk memisahkan mereka dari ‘politik”, dari  sosialisme. Jadi sangat mungkin pemerintah Rusia bisa melaksanakan hal semacam itu, sebagaimana mereka selalu memberikan beberapa sogokan kecil/remeh, atau lebih dari itu, sogokan pura-pura, kepada rakyat, hanya untuk mengalihkan pikiran mereka jauh-jauh dari fakta bahwa mereka (rakyat) ditindas dan tanpa hak. Tidak ada perjuangan ekonomis yang akan dapat membawa pekerja pada peningkatan yang tak henti, atau bahkan bisa dipimpin dalam skala besar, kecuali jika mereka memiliki hak mengorganisasikan secara bebas pertemuan-pertemuan dan serikat-serikat, memiliki surat kabarnya sendiri, dan mengirimkan wakil-wakilnya ke Majelis Nasional, sebagaimana yang dilakukan para pekerja di Jerman dan di semua negeri Eropa lainnya (kecuali Rusia dan Turki). Tapi dalam rangka memenangkan hak-hak ini maka perlu melancarkan perjuangan politik. Di Rusia bukan hanya pekerja, tetapi semua warga negara dilucuti hak-hak politiknya. Rusia adalah sebuah monarki absolut dan tak terbatas. Tsar sendirilah yang mengumumkan hukum-hukum, menunjuk pejabat-pejabat dan yang mengontrol hukum-hukum tersebut. Untuk alasan ini, kelihatannya seperti yang terjadi di Rusia, maka Tsar dan pemerintah Tsar adalah independen dari semua klas dan memperlakukan semua orang secara sama. Tetapi dalam kenyataannya semua pejabat dipilih secara eksklusif  dari klas yang bermilik dan semua merupakan subyek yang berada di bawah pengaruh kaum kapitalis besar, yang membuat para menteri menari mengikuti nada mereka dan  mencapai apapun yang mereka inginkan. Klas pekerja Rusia dibebani oleh dua beban; dirampok dan dirampas oleh kaum kapitalis dan tuan tanah-tuan tanah, dan untuk mencegah klas pekerja bertarung dengan mereka maka polisi mengikat  tangan dan kaki mereka, menyumbatnya, dan setiap usaha untuk memperjuangkan hak-hak rakyat dilecehkan. Setiap pemogokan melawan kaum kapitalis merupakan akibat dari luputnya militer dan polisi atas kaum pekerja. Setiap perjuangan ekonomi perlu menjadi sebuah perjuangan politik, dan Sosial Demokrasi harus bergabung satu dengan yang lain menjadi perjuangan tunggal klas proletariat. Tujuan utama yang pertama dari gerakan semacam ini adalah merebut hak-hak politik, perebutan kebebasan politik. Jika para buruh di St.Petersburg secara sendirian, dengan sedikit bantuan dari kaum sosialis, telah dengan cepat berhasil menekan sebuah konsesi dari pemerintah —penetapan undang-undang pengurangan hari kerja— maka selanjutnya seluruh klas pekerja Rusia, dipimpin oleh PBSDR, akan mampu, dalam perjuangan yang gigih dan tak ada duanya memenangkan konsesi-konsesi yang lebih penting.

Klas pekerja Rusia memang mampu melancarkan perjuangan ekonomi dan politiknya sendiri, bahkan jika tidak ada klas lain yang datang membantu. Tapi dalam perjuangan politik klas pekerja tidak boleh berdiri sendiri. Kehausan rakyat akan hak-haknya, perlakuan hukum yang keji oleh para pejabat bashi-bazouk menyebabkan  kemarahan dari orang-orang jujur yang terpelajar yang tidak dapat menggabungkan dirinya dengan penghinaan terhadap kebebasan berpikir dan kebebasan berbicara; mereka meluapkan kemarahannya  atas penghinaan  terhadap rakyat Polandia, Finlandia, Yahudi, dan sekte-sekte keagamaan di Rusia; mereka meluapkan kemarahannya atas para pedagang kecil, pengusaha kecil, dan petani, yang tidak dapat menemukan perlindungan di manapun dari ancaman penyiksaan para pejabat dan polisi. Semua kelompok dari populasi tidak mampu, secara terpisah, melaksanakan sebuah perjuangan politik yang gigih. Tetapi ketika klas pekerja mengangkat panji-panji perjuangan ini, klas pekerja akan menerima dukungan dari segala lini. Sosial Demokrasi Rusia akan menempatkan dirinya di pucuk pimpinan dari semua pejuang bagi hak-hak rakyat, dari semua pejuang demokrasi, dan akan membuktikan diri sebagai yang tak terkalahkan!

Kesemua ini merupakan pandangan-pandangan fundamental kita, dan kita akan mengembangkannya secara sistematis dari setiap aspek  masalah kita. Kita yakin bahwa dengan cara ini kita akan menapak jalan yang telah ditunjukkan oleh PBSDR dalam Manifestonya yang sudah diterbitkan

Struktur Organisasi Partai Komunis, Metode dan Cara Kerjanya

Diterjemahkan dari

The Organisational Sructure of the Communist Parties,

the Methods and Content of Their Work

Dokumen Kongres III KOMINTERN di Moscow, Juli-Agustus 1921

 

 

I. PRINSIP-PRINSIP UMUM

 

1. Bentuk-bentuk organisasi partai harus selalu disesuaikan dengan kondisi‑kondisi dan tujuan dari aktivitasnya. Pada setiap tahap perjuangan kelas revolusioner dan dalam periode peralihan menuju sosialisme yang merupakan tahap pertama dalam perkembangan masyarakat komunis‑ partai Komunis harus menjadi pelopor (vanguard) dan bagian yang termaju dari kaum proletar.

 

2. Tidak ada satupun bentuk organisasi yang secara mutlak tepat untuk diterapkan bagi seluruh partai Komunis di sepanjang jaman. Karena kondisi‑kondisi perjuangan kelas proletar terus menerus berubah maka pelopor proletariat pun harus selalu mencari bentuk-bentuk organisasi yang efektif, sehingga ia selalu bisa menjawab setiap perubahan yang terjadi. Kondisi‑kondisi khas yang terdapat di setiap negeri mengharuskan adanya penyesuaian dari partai‑partai Komunis setempat.

Walaupun demikian, perbedaan‑perbedaan itu ada batasnya. Memang perjuangan kelas proletar itu beragam dari satu negeri ke negeri lainnya, sesuai dengan tahapan revolusinya, namun gerakan Komunis Internasional memandang tetap adanya kesamaan kondisi, sebagai sesuatu yang sangat penting untuk diperhitungkan. Justru kesamaan inilah yang menjadi basis bagi organisasi‑organisasi partai Komunis di semua negeri.

Berdasar hal ini, adalah sangat penting untuk mengembangkan dan memperbaiki organisasi‑organisasi partai Komunis yang selama ini ada. Namun ia sama sekali tidak dimaksudkan untuk menerapkan model yang baru atau untuk menerapkan bentuk‑bentuk organisasi yang ideal bagi partai‑partai tersebut.

 

3. Kaum borjuasi masih menguasai dunia, oleh karena itu partai‑partai Komunis dan Komunis Internasional sebagai satu kesatuan partai dari proletariat revolusioner seluruh dunia, memiliki satu kondisi yang sama, yaitu mereka harus sama‑sama memeranginya. Dalam periode‑periode mendatang, tugas terpokok dari seluruh partai Komunis adalah menaklukan borjuasi dan merebut kekuasaan darinya.

Oleh karena itu, seluruh kerja organisasional dari partai-partai Komunis di negeri‑negeri kapitalis harus diarahkan untuk membentuk organisasi‑organisasi sedemikian rupa, sehingga mereka mampu menjamin dan mengawal kemenangan revolusi proletar dalam melawan kelas‑kelas pemilik alat produksi.

 

4. Kepemimpinan adalah syarat yang diperlukan bagi setiap tindakan politik dan ia merupakan faktor vital di tengah perkembangan yang sedemikian pentingnyanya dalam sejarah dunia. Pengorganisasian sebuah partai komunis pada hakekatnya adalah  pengorganisasian kepemimpinan Komunis dalam kancah revolusi proletar.

Agar partai menjadi pimpinan yang baik maka ia pun harus memiliki kepemimpinan yang baik pula. Oleh karena itu, tugas organisasional kita yang paling prinsipil adalah pembentukan organisasi dan pendidikan terhadap Partai Komunis. Hal ini dijalankan oleh organ‑organ yang berpengalaman, agar partai menjadi pimpinan yang efektif bagi gerakan proletariat revolusioner.

 

5. Untuk bisa menjalankan kepemimpinan dalam perjuangan kelas revolusioner, Partai Komunis dan organ‑organ pimpinannya harus memiliki daya juang besar, yang digabungkan dengan kemampuannya untuk terus menerus menyesuaikan diri dengan perubahan kondisi perjuangan. Lebih jauh lagi, untuk bisa menjalankan kepemimpinannya, Partai Komunis harus menjalin hubungan yang sedekat mungkin dengan massa proletar. Jika hubungan yang demikian itu tidak terjalin maka para pimpinan tidak akan bisa memimpin massa, paling jauh mereka hanya akan membuntut di belakang massa.

Hubungan sedekat mungkin dengan massa hanya akan bisa dicapai jika Partai Komunis mempraktekan sentralisme demokrasi.

II. TENTANG SENTRALISME DEMOKRASI

 

6. Sentralisme demokrasi dalam Partai Komunis haruslah merupakan sintesis yang riil, yakni sebuah penggabungan antara sentralisme dengan demokrasi proletar. Penggabungan ini hanya akan bisa dicapai jika organisasi partai terus menerus bekerja dan berjuang bersama‑sama sebagai satu kesatuan yang utuh. Sentralisasi dalam Partai Komunis bukanlah sentralisasi yang formal dan mekanik, melainkan sentralisasi aktivitas kaum komunis, untuk membangun kepemimpinan yang kuat, siap tempur, efektif dan sekaliqus fleksibel.

Sentralisas1 formal dan mekanik hanya akan mengakibatkan sentralisasi “kekuasaan” di tangan birokrasi partai, yang memungkinkan mereka mendominasi seluruh anggota partai atau massa proletariat revolusioner yang berada di luar partai. Hanya musuh-musuh Komunisme lah yang menganggap Partai Komunis hendak menggunakan kepemimpinannya terhadap perjuangan kelas proletar dan sentralisasi kepemimpinan Komunisnya ini untuk mendominasi proletariat revolusioner. Anggapan demikian adalah keliru besar. Demikian juga, setiap persaingan maupun perebutan kekuasaan dalam partai tidaklah sesuai dengan prinsip-prinsip sentralisme demokrasi yang diterapkan oleh Komunis Internasional.

Dalam organisasi gerakan buruh yang lama dan yang tidak revolusioner, telah muncul juga dualisme sebagaimana yang selama ini melekat dalam, organisasi negara borjuis: yakni dualisme antara “birokrasi”: dengan “rakyat”. Di bawah pengaruh lingkungan borjuasi yang bersifat melemahkan, telah terjadi pemisahan fungsi‑fungsi; demokrasi formal telah menggantikan partisipasi aktif rakyat pekerja. Sebagai akibatnya, organisasi kemudian dibagi antara para fungsionaris yang aktif dan massa yang pasif. Bahkan gerakan buruh yang revolusioner pun belum sepenuhnya terbebaskan dari pengaruh lingkungan borjuasi, borok‑borok formalisme dan dualisme semacam ini.

Partai-Partai Komunis harus mampu mengatasi kontradiksi-kontradiksi ini secara tuntas. Hal ini dilakukan dengan menjalankan kerja politik dan organisasional secara terencana serta terus menerus melakukan perbaikan dan perubahan.

 

7. Dalam menjalankan perubahan dari Partai massa Sosialis menjadi Partai Komunis, partai jangan hanya melakukan pemindahan kekuasaan ke Komite Sentral namun lalai dalam melancarkan perubahan‑perubahan dalam seluruh tatanan organisasinya. Sentralisasi jangan hanya disepakati dalam teori; ia harus diwujudkan dalam praktek. Dan ini hanya akan mungkin dicapai jika seluruh anggota melihat sentralisasi ini secara positif dalam rangka memperkuat kerja dan meningkatkan kemampuan mereka untuk berjuang. Jika tidak demikian, maka massa akan melihat sentralisasi ini sebagai birokratisasi ­partai, dan akhirnya mereka akan menentang setiap upaya untuk memperkenalkan sentralisasi, kepemimpinan dan disiplin yang kuat.

Anarkisme dan birokratisme adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Demokrasi formal dalam organisasi tidak dapat mengatasi kecenderungan birokratik dan anarkistik dalam gerakan buruh, karena justru kedua kecenderungan ini terlahir dari demokrasi semacam ini.

Setiap upaya untuk mencapai sentralisasi organisasi dan kepemimpinan yang kuat tidak akan berhasil selama kita mempraktekkan demokrasi formal. Kita harus mengembangkan dan menjaga jaringan, hubungan serta kesatupaduan kerja, baik itu dalam partai sendiri, yaitu antara organ‑organ pimpinan dengan jajaran anggotanya, maupun antara partai dengan massa proletar yang ada di luar partai.

 

 

III . TENTANG KEWAJIBAN KERJA KAUM KOMUNIS

 

8. Partai Komunis harus menjadi sekolah kerja bagi Marxisme revolusioner. Hubungan yang organik antar organ partai dan antar anggota hanya akan terbina melalui kerjasama sehari-hari dalam organisasi‑organisasi partai.

Selama ini, partai‑partai Komunis legal belum sepenuhnya berhasil menggalang seluruh anggotanya dalam pekerjaan aktif sehari‑hari. Hal ini merupakan hambatan yang sangat besar untuk memajukan dan mengembangkan partai.

 

9. Tahap‑tahap awal perubahan dari partai buruh menjadi sebuah partai Komunis seringkali tidak lebih dari sekedar pencantuman program Komunis saja: yakni hanya menggantikan doktrin lamanya dengan Komunisme dan menggantikan pengurus-pengurus partai yang anti-komunis dengan orang-orang Komunis. Namun penerimaan terhadap program Komunis tak lebih dari sekedar menggambarkan keinginan partai tersebut untuk menjadi partai Komunis. Jika partai gagal menjalankan kerja Komunis dan jika massa anggotanya dibiarkan pasif, maka partai tidak akan bisa memenuhi kewajibannya yang paling minimum sekalipun, sebagaimana yang diamanatkan oleh program Komunis. Karena syarat yang  paling utama menjalankan program adalah partisifasi secara penuh seluruh anggota dalam pekerjaan sehari-hari partai.

Seni menjalankan organisasi Komunis terletak pada kemampuannya untuk melibatkan segala hal dan semua orang dalam perjuangan kelas proletar, melakukan pendistribusian partai kerja partai secara efektif dikalangan seluruh anggota dan melalui anggota-anggota ini, terus menerus menarik massa proletar seluas mungkin ke dalam gerakan revolusioner. Artinya, partai harus selalu berada dalam posisi memimpin seluruh gerakan. Posisi kepemimpinan ini tidak diperoleh partai melalui pemaksaan kekuatan, namun melalui energinya  yang besar, kemampuannnya yang beragam, pengetahuannya yang luas, pengalamanannya yang banyak dan fleksibilitasnya.

 

10. Sebuah partai Komunis haruslah terdiri dari orang-orang yang aktif saja, dan ia akan menuntut setiap jajaran anggota partai untuk mencurahkan segenap tenaga dan waktunya untuk pekerjaan partai. Disamping memiliki komitmen terhadap gagasan-gagasan komunisme, para anggota partai Komunis juga harus didaftarkan secara resmi, didahului dengan masa pencalonan, kemudian menjadi anggota resmi, membayar iuran anggota, berlangganan koran partai, dan sebagainya. Namun yang terpenting dari semua ini adalah keterlibatannya secara aktif dalam pekerjaan sehari-hari partai.

 

11. Agar bisa menjalankan pekerjaan sehari‑hari, tiap‑tiap anggota partai harus bergabung ke dalam group/kelompok kerja kecil seperti: sebuah komite, komisi, badan, group, fraksi maupun sel. Hanya dengan cara inilah kerja‑kerja partai dapat didistribusikan, diarahkan dan dijalankan secara tepat.

Tentu saja para anggota harus menghadiri pertemuan-pertemuan, rapat‑rapat umum yang diadakan organisasi-organisasi lokal mereka; dan sebuah partai Komunis yang legal jangan sampai tidak menyelenggarakan pertemuan‑pertemuan umum ini dan kemudian menggantinya dengan pertemuan‑pertemuan para perwakilan saja. Seluruh anggota partai berkewajiban untuk menghadiri pertemuan-pertemuan umum secara reguler. Namun hal ini tidaklah cukup. Persiapan-persiapan untuk menyelenggarakan pertemuan-pertemuan semacam ini haruslah terlebih dahulu dilakukan oleh group-group kecil atau oleh kawan-kawan yang diserahi tugas melakukan perencanaan secara rinci bagi penyiapan dan penyelenggaraan pertemuan. Group‑group kecil ini secara efektif akan menggunakan dan mempersiapkan pertemuan‑pertemuan umum kaum buruh, demonstrasi‑demonstrasi maupun aksi massa kelas buruh. Hanya group‑group kecil seperti inilah yanq mampu mengkaji dan menjalankan sejumlah tugas lain yang berhubungan dengan aktivitas‑aktivitas semacam ini. Jika seluruh anggota tidak dibagi‑bagi ke dalam sejumlah qroup kecil, kedalam kerja sehari-hari bagi partai, maka semilitan apapun upaya yang dilakukan kelas buruh dalam memajukan perjuangan kelas, tidak akan membuahkan apa-apa, dan ia akan gagal mengkonsolidasikan seluruh tenaga proletariat revolusioner menjadi satu Partai Komunis yang kuat.

12. Sel‑sel Komunis harus dibentuk untuk menjalankan kerja sehari‑hari dalam berbagai lapangan aktivitas partai, seperti: agitasi dari rumah ke rumah, penyelenggaraan sekolah‑sekolah partai, kelompok pembaca surat kabar/koran partai, pendistribusian bahan bacaan, jasa pelayanan informasi, kerja‑kerja kurir dan sebagainya.

Sel‑sel Komunis merupakan unit‑unit dasar untuk menjalankan kerja sehari-hari Partai Komunis di pabrik-pabrik, serikat-serikat buruh, detasemen-detasemen militer dan di semua tempat dimana terdapat anggota maupun calon anggota partai, walaupun dalam jumlah yang sedikit. Dimana di suatu tempat, seperti di pabrik, serikat buruh dan sebagainya, terdapat anggota partai dalam jumlah besar, maka harus segera dibentuk fraksi yang kerja‑kerjanya diarahkan oleh sel Komunis.

Tujuan dari pembentukan sel‑sel Komunis secara tersendiri adalah untuk merebut kepemimpinan di suatu tempat. Hal ini bisa dijalankan baik melalui pembentukan fraksi yang beroposisi secara meluas terhadap kepemimpinan yang ada atau melalui keterlibatan secara aktif dalam fraksi‑fraksi yang‑sudah ada.

Permasalahan apakah sel Komunis harus menyatakan afiliasi partainya secara terbuka atau tidak, semuanya tergantung pada situasinya. Harus ada pengkajian terlebih dahulu mengenai keuntungan maupun kerugian dari tindakan‑tindakan semacam ini.

 

13. Pengenalan secara umum tentang kewajiban kerja dalam partai dan tentang  group‑group kerja yang kecil ini merupakan tugas yang sangat sulit bagi partai‑partai Komunis yang berkarakter massa. Hasilnya tidak bisa kita peroleh dalam satu malam; untuk itu sangat diperlukan kesabaran, pertimbangan yang matang dan energi yang besar.

Sejak awal, pengenalan langgam kerja organisasi ini harus dilakukan sangat hati‑hati serta didahului dengan diskusi yang mendalam. Tentu merupakan hal yang mudah saja bagi partai untuk sekedar menempatkan para anggotanya ke dalam sel‑sel maupun group‑group kecil supaya mereka mudah terlibat dalam pekerjaan sehari‑hari partai, sebagaimana yanq selama ini tercantum dalam skema formal yang ada. Akan tetapi lebih baik tidak memulai pekerjaan dengan cara‑cara demikian, karena ini hanya akan memunculkan ketidakpuasan dan kebingungan di kalangan anggota partai terhadap langgam kerja baru ini.

Adalah sangat penting bagi organ‑organ pimpinan partai untuk mengadakan diskusi/konsultasi secara rinci dengan  anggota-anggota partai. Diskusi harus dilakukan sesama Komunis yang teguh hati, tulus serta sebagai organisator yang cakap, yang memiliki pengetahuan mendalam terhadap situasi umum gerakan buruh di berbagai pusat gerakan di seluruh negeri. Berdasarkan penemuan‑penemuan inilah organ pimpinan  partai kemudian menyusun prinsip‑prinsip dasar bagi metode kerja yang baru. Selanjutnya, para instruktur, organisator atau komisi pengorganisasian harus menyiapkan rencana kerja pada tingkat lokal, memilih pimpinan-pimpinan group serta melancarkan kampanye tentag langgam kerja yang baru ini. Setelah semua ini diselesaikan maka seluruh organisasi, group-group kerja, sel‑sel dan individu‑individu yang diberi tugas‑tuqas secara kongkrit, jelas,  disepakati, diperlukan, partai harus memberikan peragaan bagaimana melaksanakan tugas tersebut. Dalam hal ini, peragaan dan pengarahan harus difokuskan pada kemungkinan munculnya kekeliruan yang harus dihindari dalam pelaksanaan tugasnya.

 

14. Reorganisasi harus dilakukan setahap demi setahap. Organisasi‑organisasi lokal jangan sampai tergesa‑gesa membentuk terlalu banyak sel dan group‑group kerja baru sekaligus. Para anggota partai harus diberi kesempatan untuk belajar terlebih dahulu dari pengalaman keberhasilan dalam pengorganisasian sel-sel di pabrik‑pabrik besar dan di serikat‑serikat buruh. Dan para anggota harus juga belajar dari pengalaman pembentukan group-group kerja partai yang menangani informasi, komunikasi, agitasi dari rumah ke rumah, gerakan perempuan, distribusi koran, mengurus pengangguran atau semacamnya. Bentuk‑bentuk organisasi yang lama jangan lah semena‑mena dibubarkan jika kerangka organisasi yang baru belum terbangun.

Akan tetapi, kerja organisasional Komunis harus selalu dilakukan dengan penuh keteguhan hati dalam meraih tujuan. Tugas ini berlaku tidak saja bagi semua partai legal, namun juga bagi semua partai illegal. Partai harus selalu mengembangkan kerja organisasional ini, hingga jaringan sel‑sel Komunis, fraksi-fraksi dan group‑group kerja berhasil dibentuk di seluruh pusat perjuangan massa proletar, hingga partai menjadi kuat dan jelas arah tujuan perjuangannya, hingga seluruh anggotanya terlibat secara penuh dalam pekerjaan revolusioner sehari‑hari dan, untuk kemudian, menerima keterlibatannya ini sebagai suatu kewajaran.

 

15. Organ-organ pimpinan partai jangan sampai lengah dalam mengontrol kerja-kerja elementer organisasional ini dan ia harus selalu memberikan arahannya secara konsisten. Hal ini menuntut upaya yang sungguh‑sungguh keras dari kawan‑kawan pimpinan partai. Kepemimpinan dalam Partai Komunis tidak hanya bertanggung-jawab dalam memastikan selesai atau tidaknya suatu pekerjaan, namun ia juga harus membantu dan mengarahkan pekerjaan ini secara sistematis. Untuk itu, kawan‑kawan pimpinan harus membekali diri dengan dengan pemahaman praktis terhadap kondisi khas yang melingkupi dan menjadi orientasinya. Mereka juga harus mengawasi jika terjadi kekeliruan. Mereka harus memanfaatkan pengalaman  dan pengetahuan mereka untuk memperbaiki metode kerja, tanpa melupakan tujuan-tujuan perjuangannya.

 

16. Kerja partai ini selain meliputi perjuangan praktis dan teoritis secara langsung, juga meliputi kerja‑kerja persiapan untuk melaksanakan kedua perjuangan tadi. Selama ini pengorganisasian kerja partai dijalankan secara kurang memuaskan. Ada beberapa jenis pekerjaan yang sebenarnya sangat penting namun tidak dilaksanakan secara sungguh‑sungguh, misalnya adalah kerja-kerja partai legal dalam menangkal agen‑agen polisi rahasia negara. Masalah lainnya adalah tentang materi training terhadap kawan‑kawan, pelaksanaannya sering dilakukan secara sembarangan dan tidak serius sehingga sebagian besar anggota bahkan tidak memahami program‑program partai atau resolusi‑resolusi yang dikeluarkan oleh Komunis Internasional. Seluruh organisasi dan group‑group kerja partai harus mendidik para anggotanya secara sistematik dan reguler, dengan demikian mereka bisa didorong untuk menjalankan spesialisasi‑spesialisasi yang lebih tinggi lagi.

 

17. Salah satu kewajiban organisasi Komunis adalah membuat laporan. Hal ini berlaku bagi seluruh organisasi, organ dan para anggota. Laporan‑laporan reguler harus dibuat sesuai dengan jadwalnya, sementara laporan-laporan khusus juga dibuat bagi setiap tugas khusus yang telah dijalankan atas instruksi partai. Adalah penting untuk membuat dan menyusun laporan tersebut  secara sistematik sesuai dengan prosedur laporan dari tradisi gerakan Komunis.

 

18. Partai harus membuat laporan kegiatannya secara reguler kepada organ pimpinan Komunis Internasional. Setiap organisasi partai harus menyajikan laporannya kepada komite yang tepat berada di atasnya (sebagai contoh: organisasi lokal harus membuat laporan bulanannya ke komite lokal partai).

Tiap-tiap sel, fraksi dan group kerja harus membuat laporan kepada organ partai yang memimpinnya. Sementara itu, seluruh anggota juga harus membuat laporan tentang kemajuan kerja mereka seminggu sekali kepada sel atau group kerjanya, dan kepada organ partai yang telah memberinya tugas khusus.

Laporan harus selalu dibuat begitu ada kesempatan. Laporan-laporan itu bisa disampaikan secara lisan jika memang partai ataupun organ yang bersangkutan tidak khusus memintanya secara tertulis. Laporan harus ringkas dan dan langsung ke pokok masalah. Orang yang menerima laporan harus bertanggung jawab untuk mengamankan informasi tersebut dan jangan sampai mempublikasikannya. Begitu dia menerima laporan, dia harus segera menyampaikannya tanpa ditunda-tunda kepada organ partai yang bersangkutan.

 

19. Tentu saja, laporan‑laporan partai ini tidak hanya memuat aktivitas Si Pembuat laporan. Si Pelapor juga harus menyampaikan seluruh hasil pengamatannya selama dia menjalankan pekerjaan partai, terutama mengenai hal‑hal yang bersangkutan dengan perjuangan. Yang dimaksudkan disini adalah hal-hal yang  sekiranya akan bisa dipertimbanqkan untuk mendorong perubahan-perubahan maupun untuk perbaikan-perbaikan kerja selanjutnya. Para anggota harus menyampaikan usulan‑usulan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dalam dalam pelaksanaan kerja partai. Sel-sel Komunis, fraksi-fraksi dan group-group kerja harus mendiskusikan seluruh laporan yang mereka terima atau yang mereka sampaikan. Diskusi terhadap isi laporan harus menjadi kebiasaan dalam kerja.

Sel-sel maupun group-group kerja harus menugaskan setiap anggota maupun setiap group-groupnya untuk secara teratur mempelajari dan melaporkan aktivitas-aktivitas organisasi buruh yang didominasi elemen borjuis kecil dan terutama sekali, seluruh organisasi partai-partai “sosialis”.

IV. TENTANG PROPAGANDA DAN AGITASI

20. Tugas kita yang paling utama sebelum meletusnya pemberontakan revolusioner secara terbuka adalah melancarkan propaganda dan agitasi revolusioner. Namun, selama ini pekerjaan tersebut masih dilakukan dengan cara‑cara lama. Hal ini pun hanya terbatas pada pidato‑pidato dalam rapat‑rapat massa, tanpa memperhatikan isi revolusioner dari pidato‑pidato tersebut dan dalam bahan‑bahan tulisan politiknya.

Propaganda dan agitasi Komunis harus berakar di benak kaum proletar. Ia harus lahir dari kehidupan aktual kaum buruh, kepentingan‑kepentingan dan aspirasi mereka dan, di atas segala-galanya, dari perjuangan bersama yang dilancarkan oleh mereka.

Aspek yang terpenting dari propaganda Komunis adalah isi dan wataknya yang revolusioner. Oleh karena itu, slogan‑slogan dan seluruh sikap politik Komunis, dalam menanggapi satu atau berbagai persoalan dalam situasi kongkrit yang ada, harus mendapatkan perhatian dan pengkajian secara khusus. Partai‑partai Komunis tidak akan pernah bisa menyatakan sikapnya secara tepat jika para propaganda dan agitator profesionalnya serta para anggota partai tidak mendapatkan pendidikan politik secara menyeluruh dan terus menerus.

21. Bentuk‑bentuk pokok propaganda Komunis adalah sebagai berikut:

  • Propaganda orang ke orang secara lisan;

        Keterlibatan Komunis dalam serikat buruh dan gerakan politik kelas buruh lainnya; serta

    Propaganda melalui Roran Partai maupun pendistribusian bahan‑bahan bacaan lainnya

Seluruh anggota partai, baik legal maupun illegal, harus terlibat secara reguler dalam salah satu dan atau bentuk‑bentuk propaganda lainnya.

Propaganda dari orang ke orang terutama harus berbentuk agitasi dari rumah ke rumah secara sistematik. Untuk itu harus dibentuk group‑group khusus. Di wilayah-wilayah tertentu, dimana organisasi lokal‑partai memiliki cukup pengaruh, setiap rumah harus didatangi. Di kota-kota besar, agitasi jalanan yang diorganisasi secara khusus dengan menggunakan poster dan selebaran seringkali memberikan hasil yang baik. Sementara itu, di pabrik-pabrik dan di kantor-kantor, sel-sel maupun fraksi-fraksi harus menjalankan propaganda dari orang ke orang yang digabungkan dengan pendistribusian bahan bacaan.

Di samping itu, jika di suatu negeri terdapat bangsa‑bangsa minoritas maka partai harus mencurahkan perhatiannya secara khusus dalam hal pekerjaan agitasi propaganda di kalangan kelas buruhnya. Tentu saja agitasi propaganda ini harus dilakukan dengan menggunakan bahasa‑bahasa bangsa minoritas. Untuk menjalankan kerja tersebut harus didirikan organ‑organ partai khusus.

22. Di negeri‑negeri kapitalis dimana sebagian besar kaum proletariatnya belum memiliki kesadaran revolusioner, harus dicarikan metode kerja agitasi propaganda secara lebih efektif. Propaganda harus disesuaikan dengan tingkat kesadaran buruh yang belum revolusioner namun yang sudah mulai teradikalisir, dan juga harus dilakukan upaya-upaya untuk semakin mendekatkan mereka ke gerakan revolusioner. Dalam situasi apapun, propaganda dan slogan Komunis harus mampu meneguhkan aspirasi yang masih ragu dan masih belum mencerminkan kesadaran kelas, yakni aspirasi yang masih dipengaruhi oleh ideologi borjuis namun yang sudah mencerminkan watak revolusioner, yang berkembang di kalangan kelas buruh dalam rangka melawan tradisi borjuis.

Pada saat yang sama juga, Propaganda Komunis harus melebihi tuntutan‑tuntutan maupun harapan massa proletar yang masih terbatas dan samar‑samar. Berdasar tuntutan dan harapan inilah kita bisa membangun dan mengembangkan pengaruh kita serta mendorong kaum proletar untuk memahami dan bersimpati terhadap Komunisme.

23. Agitasi Komunis di kalangan massa proletar harus dijalankan sedemikian rupa sehingga kaum militan proletar akhirnya bisa mengetahui bahwa hanya organisasi Komunis lah yang berani dan berpandangan jauh ke depan. Dengan demikian mereka akan mengakuinya sebagai pimpinan gerakan buruh yang loyal dan enerjik.

Untuk meraih pengakuan ini maka kaum Komunis harus terlibat dalam seluruh perjuangan sehari‑hari dan dalam seluruh gerakan kelas buruh, serta membela kaum buruh dalam setiap perlawanannya terhadap kaum kapitalis, khususnya ketika mereka sedang memperjuangkan pengurangan jam kerja, kenaikan upah, perbaikan kondisi kerja dan sebagainya. Kaum Komunis harus melakukan pengkajian secara mendalam terhadap kondisi kehidupan sehari‑hari kaum buruh; mereka harus membantu buruh untuk memahami problem‑problem yang mereka hadapi; membantu mereka dalam merumuskan tuntutan-tuntutannya secara praktis dan jelas; menggalang kesetiakawanan kelas dan meningkatkan wawasan mereka terhadap kepentingan dan tujuan bersama mereka sebagai anggota kelas di suatu negeri, sebagai bagian dari laskar proletariat internasional.

Hanya melalui kerja sehari‑hari di basis massa serta dengan komitmen yang teguh dan penuh berpartisipasi dalam seluruh perjuangan proletariat, maka sebuah partai dapat menjadi partai Komunis dalam maknanya yang sejati. Hanya dengan cara‑cara inilah maka Partai Komunis bisa membedakan dirinya dengan partal‑partai Sosialis, yang kebanyakan aktivitasnya hanyalah melakukan propaganda abstrak, yang banyak‑banyak merekrut anggota kesana kemari hanya berbicara tentang reformasi dan segala “kemungkinan” untuk berjuang melalui parlemen. Keterlibatan seluruh anggota Partai Komunis secara sadar dan teguh dalam perjuangan serta perlawanan sehari‑hari kelas terhisap terhadap kelas penghisap merupakan prasyarat yang teramat penting bukan hanya bagi perebutan kekuasaan, namun yang lebih penting lagi, untuk mewujudkan kediktatoran proletariat. Hanya dengan memimpin massa pekerja dalam perjuangan sehari‑hari melawan serangan kapitalisme lah maka Partai Komunis mampu menjadi pelopor kelas pekerja. Dengan demikian partai belajar dari praktek untuk memimpin kaum proletar guna mempersiapkan penggulingan akhir terhadap kaum borjuasi.

24. Untuk bisa terlibat dalam gerakan buruh, kaum Komunis harus dikerahkan/dimobilisir dengan kekuatan penuh, utamanya pada saat terjadi pemogokan maupun perjuangan‑perjuangan massal lainnya yang dilakukan kaum buruh.

Adalah sebuah kesalahan besar jika kaum Komunis mengecam tingkat perjuangan buruh yang masih menuntut perbaikan kondisi kerja. Sama besarnya dengan kesalahan di atas jika partai kemudian bersikap pasif dengan dalih bahwa kita hanya setia kepada program Komunis untuk melancarkan pemberontakan revolusioner bersenjata sebagai tujuan akhirnya. Betapapun terbatas dan sederhananya tuntutan yang hendak diajukan kaum buruh, jangan sampai kaum Komunis mencari dalih untuk tidak melibatkan diri dalam perjuangan tersebut. Aktivitas agitasi kita jangan sampai menimbulkan kesan bahwa kita, kaum Komunis, hanya mau membantu pemogokan yang menguntungkannya atau hanya menyepakati aksi‑aksi yang besar saja. Sebaliknya, kaum Komunis harus selalu berupaya meraih nama baik sebagai pejuang yang berani dan efektif di kalangan massa yang tengah berjuang.

25. Sel‑sel (fraksi‑fraksi) Komunis yang bekerja dalam gerakan serikat buruh seringkali tidak mampu mengakomodasi tuntutan-tuntutan sederhana yang mendesak. Adalah mudah, namun sama sekali tidak menguntungkan, untuk selalu menceramahi kaum buruh dengan prinsip‑prinsip umum Komunisme, untuk kemudian menolak segala bentuk sindikalisme, justru ketika dihadapkan pada masalah-masalah yang kongkrit. Praktek‑praktek demikian hanya akan menguntungkan Amsterdam Internasional Kuning[1][1].

Sebaliknya, aksi‑aksi Komunis harus selalu dituntun oleh kajian‑kajian yang mendalam terhadap semua aspek persoalan tersebut. Sebagai contoh, dari pada melakukan serangan secara teoritik terhadap seluruh kesepakatan tentang pengupahan, justru yang harus kita lakukan adalah memerangi seluruh kesepakatan pengupahan yang disetujui oleh para pimpinan Amsterdam. Segala sesuatu yang bisa meredam militansi kaum proletar harus kita kecam dan lawan mati‑matian; dan sebagaimana sudah kita ketahui bersama, kaum kapitalis dan kacung‑kacung Amsterdamnya mencoba memanfaatkan kesepakatan pengupahan tersebut untuk membelenggu militansi kaum buruh yang militan. Akan tetapi, sebagaimana sudah menjadi keharusan kita, kaum Komunis dapat membelejeti kaum kapitalis secara efektif justru dengan mengajukan kesepakatan-kesepakatan upah yang tidak akan membelenggu militansi kaum buruh.

Sikap yang sama juga harus kita ambil dalam menghadapi persoalan tunjangan bagi pengangguran, kesehatan, dana‑dana pemogokan serta tunjangan‑tunjangan lainnya yang diberikan oleh serikat‑serikat buruh. Dana pemogokan maupun dana tunjangan ini sendiri akan banyak memberikan manfaat. Adalah tidak tepat untuk menentang pengumpulan‑pengumpulan dana semacam ini. Yang kita tentang bukanlah metode perjuangan yang menyertakan pengumpulan dana pemogokan dan tunjangan, melainkan kita menentang setiap cara dan pemanfaatan penggunaan dana‑dana tersebut oleh para pimpinan Amsterdam. Karena apa yang dilakukan mereka pada hakekatnya bertentangan dengan kepentingan revolusioner kaum buruh.

Sebagai contoh bisa ditunjukkan disini, yakni berkaitan dengan dana tunjangan kesehatan bagi kaum buruh yang sedang sakit. Kaum Komunis dapat menuntut penghapusan sistem sumbangan wajib untuk pengeluaran dana tersebut, untuk itu kita juga harus menentang semua persyaratan yang membatasi sistem sumbangan secara sukarela. Jika masih ada sejumlah buruh yang ingin tetap mempertahankan sistem sumbangan wajib bagi dana kesehatan maka kita tidak bisa begitu saja melarang mereka untuk melakukannya, karena hal yang demikian ini justru akan membingungkan kaum buruh. Yang pertama‑tama harus kita lakukan adalah membebaskan mereka dari konsepsi tunjangan ala borjuis kecil yang masih melekat pada diri mereka. Cara yang paling efektif adalah dengan melancarkan propaganda dari orang ke orang.

26. Dalam perjuangan kita menentang serikat‑serikat buruh maupun partai‑partai buruh yang didominasi kaum sosial‑demokrat dan borjuis kecil, kita tidak bisa menggunakan cara‑cara persuasi. Perjuangan menentang mereka justru harus kita lakukan dengan sepenuh tenaga. Hal tersebut akan berhasil kita lakukan jika kita bisa meyakinkan para pengikut mereka, yakni dengan cara membelejeti para pimpinan yang telah mengkhianati sosialisme dan yang telah menjatuhkan diri mereka ke dalam jebakan kapitalisme. Oleh karena itu begitu muncul kesempatan, kita harus menggiring para pimpinan itu untuk membuka kedok mereka; baru setelah itu kita bisa melancarkan serangan gencar ke arah mereka.

Bagi kita adalah tidak cukup untuk sekedar mencap para pimpinan Amsterdam tersebut dengan cap “kuning.” Justru kekuningan mereka ini harus dibuktikan dengan contoh‑contoh praktis secara terus menerus, seperti aktivitas mereka di serikat‑serikat buruh , di Biro Perburuhan Internasional Liga Bangsa‑Bangsa, di kementerian‑kementerian dan pemerintahan borjuasi, pidato‑pidato khianat yang mereka sampaikan dalam sidang‑sidang parlemen maupun dalam konferensi‑konferensi, sikap-sikap politik yang mereka tunjukkan dalam ratusan artikel tulisannya di koran‑koran. Akhirnya, yang terutama kita harus blejeti adalah kebimbangan dan keengganan yang mereka tunjukkan ketika mempersiapkan atau melancarkan kampanye‑kampanye kenaikan upah dan perbaikan kondisi kerja yang paling wajar sekalipun. Semua hal diatas menyediakan kesempatan bagi kaum Komunis untuk membelejeti mereka setiap hari, baik itu dalam pidato‑pidato maupun dalam resolusi‑resolusi kita, yang secara jelas, ringkas dan tegas membongkar aktivitas khianat dan sayap kanan dari para pimpinan Amsterdam. Pembuktian‑pembuktian inilah yang membuat mereka layak dijuluki sebagai pimpinan‑pimpinan “kuning.”

Sel‑sel dan fraksi‑fraksi kita harus melancarkan perjuangan praktisnya dengan cara yang sistematik. Kaum Komunis jangan sampai dikalahkan oleh birokrat rendahan serikat buruh yang seringkali dengan maksud‑maksud baik namun yang karena tidak cukup kekuatan untuk mempraktekannya, berlindung di balik anggaran dasar (statuta), resolusi‑resolusi kongres serikat buruh maupun arahan‑arahan kerja dari pengurus pusatnya. Para birokrat rendahan serikat buruh ini sering memanfaatkan hal‑hal di atas sebagai dalih untuk tidak mendorong perjuangan agar lebih maju lagi. Sebaliknya, kaum Komunis harus selalu menuntut mereka untuk memberikan pemecahan terhadap persoalan yang ada, dan yang lebih penting adalah kita harus menunjukkan apa yang sudah kaum Komunis kerjakan untuk menghilangkan hambatan‑hambatan tadi. Baru setelah itu kita menanyakan kepada para pejabat rendahan dan anggota serikat buruh tadi tentang kesediaan mereka untuk diajak serta memecahkan persoalan dan memerangi hambatan‑hambatan ini secara terbuka.

27. Sebelumnya, fraksi‑fraksi harus secara seksama mempersiapkan keterlibatan Komunis dalam konferensi‑konferensi dan pertemuan‑pertemuan yang diselenggarakan oleh organisasi-organisasi serikat buruh. Sebagai contoh, kaum Komunis harus merancang secara rinci usulan‑usulan yang akan diajukannya, memilih pembicara dan mencalonkan orang untuk pemilihan kepengurusan yang diambil dari kawan‑kawan yang cakap, berpengalaman dan enerjik. Melalui fraksi‑fraksinya, organisasi-organisasi Komunis harus melakukan persiapan seksama untuk menghadapi seluruh pertemuan kaum buruh, pertemuan‑pertemuan pemilihan, demonstrasi‑demonstrasi dan acara‑acara politik lain yang diselenggarakan oleh organisasi‑organisasi saingan. Jika kaum Komunis menyelenggarakan pertemuan‑pertemuan buruh mereka sendiri, mereka harus mengatur sejumlah besar group agitator yang akan disebarkan di tengah‑tengah massa, baik itu dalam tahap persiapan maupun selama pelaksanaan pertemuan, yang akhirnya memungkinkan group‑group tersebut terlibat dalam menyusun rencana aksi selanjutnya. Hanya dengan cara inilah hasil propaganda yang memuaskan dapat kita peroleh.

28. Kaum Komunis harus selalu mempelajari bagaimana cara menarik kaum buruh yang belum terorganisasi dan yang belum sadar politik ke dalam wilayah pengaruh partai. Sel‑sel dan fraksi-fraksi kita harus mendekati kaum buruh ini untuk bergabung dengan serikat‑serikat buruh maupun untuk membaca koran partai kita. Organisasi‑organisasi yang lain juga harus kita gunakan untuk menyebarkan pengaruh kita, seperti: koperasi‑koperasi konsumsi, organisasi‑organisasi veteran dan korban perang, badan‑badan pendidikan, kelompok‑kelompok studi, klub‑klub olah raga dan kelompok‑kelompok teater. Jika sebuah partai Komunis harus bekerja dengan cara‑cara illegal, para anggota partai dapat mengambil inisiatif untuk membangun organisasi‑organisasi buruh semacam tadi ‑termasuk organisasi‑organisasi simpatisan‑ yang ada di luar partai, namun kesemuanya ini harus atas kesepakatan dan arahan kerja dari organ‑organ pimpinan partai. Organisasi-organisasi pemuda dan perempuan Komunis juga dapat menyelenggarakan kursus‑kursus, sekolah‑sekolah malam, festival dan acara‑acara piknik di hari libur, dan bermacam kegiatan yang bisa menarik perhatian rakyat pekerja, yang sebelumnya tidak akrab dengan politik Partai Komunis. Untuk kemudian kita akan menghubungkan orang‑orang ini ke dalam organisasi‑organisasi serta melibatkan mereka dalam pekerjaan‑pekerjaan partai, seperti penyebaran selebaran, mengedarkan koran Partai dan semacamnya. Hanya dengan keterlibatan dalam gerakan secara menyeluruh ini maka kaum buruh akan lebih mudah mengatasi sikap-sikap borjuis kecil mereka.

29. Untuk bisa menarik barisan semi‑proletar dari kalangan rakyat pekerja agar berpihak kepada proletariat revolusioner, kaum Komunis harus menggunakan konflik yang terjadi antara mereka dengan tuan‑tuan tanah besar, kaum kapitalis dan negara kapitalis. Dengan demikian kita bisa menghilangkan kecurigaan kelas‑kelas perantara ini terhadap revolusi proletar. Tentu saja ini akan memakan waktu panjang. Barisan semi‑proletar akan semakin yakin dengan gerakan Komunis jika partai bisa memenangkan simpati mereka dalam memperjuangkan kebutuhan mereka sehari‑hari, memberikan bantuan cuma‑cuma dan memberikan saran ketika mereka menghadapi kesulitan‑kesulitan dan sebagainya. Dan pada saat bersamaan kaum Komunis mendorong mereka untuk bergabung dalam perkumpulan‑perkumpulan khusus sehingga mereka dapat memperoleh pendidikan lebih lanjut. Dengan tindakan‑tindakan tersebut mereka akan menaruh kepercayaan terhadap gerakan Komunis. Kaum Komunis jangan sampai mengendorkan upayanya untuk membersihkan pengaruh organisasi maupun orang‑orang yang anti Komunis di kalangan petani miskin, pekerja‑pekerja industri rumah tangga maupun elemen‑elemen semi‑proletariat lainnya. Kaum Komunis harus membuka kedok musuh‑musuh rakyat ini sebagai penghisap yang mewakili kejahatan sistem kapitalisme. Propaganda dan agitasi Komunis harus dilancarkan pada setiap konflik yang terjadi sehari‑hari, yaitu konflik antara angan‑angan demokrasi borjuis kecil mereka dengan kenyataan praktek birokrasi negara dengan menggunakan bahasan yang mudah dipahami oleh mereka.

Organisasi-organisasi lokal di wilayah pedesaan harus membagi pekerjaan di kalangan anggotanya untuk melancarkan agitasi dari rumah ke rumah. Hanya dengan cara ini, setiap perkampungan, perkebunan maupun masing-masing rumah di wilayah yang bersangkutan dapat kita sentuh.

30. Sementara itu metode-metode propaganda di kalangan prajurit angkatan darat dan angkatan laut negara kapitalis harus disesuaikan dengan kekhususan kondisi di masing‑masing negara. Agitasi anti‑militerisme yang berwatak pasifis adalah membahayakan. Secara prinsipil kaum proletar menentang semua organisasi militer negara borjuis dan kelas borjuasi, kaum proletar pun akan melawan pengaruh mereka secara konsisten. Namun institusi‑institusi ini (angkatan darat, klub‑klub menembak, organisasi‑organisasi pertahanan sipil dan semacamnya) dapat dimanfaatkan untuk melakukan latihan kemiliteran bagi kaum buruh dalam mempersiapkan perjuangan revolusioner. Artinya, agitasi yang intensif tidak dilancarkan untuk menentang prinsip‑prinsip latihan kemiliteran bagi pemuda maupun buruh, namun untuk melawan rejim militer dan kekuasaan para perwira yang sewenang‑wenang. Oleh karena itu setiap kesempatan untuk mendapatkan senjata bagi kaum buruh harus bisa dimanfaatkan sebaik‑baiknya demi keuntungan revolusi. Jajaran agitasi propaganda harus mengamati setiap pertentangan kelas yang ada antara para perwira, yang memperoleh fasilitas baik, dengan kalangan prajurit rendahan, yang menerima perlakuan buruk serta kondisi sosial yang celaka. Agitasi harus dilancarkan di kalangan prajurit sehingga mereka dapat secara jelas melihat bahwa masa depan mereka sangat tergantung pada perjuangan kelas yang terhisap. Di tengah‑tengah gejolak revolusioner, kita juga harus melancarkan agitasi untuk mendorong adanya pemilihan‑pemilihan perwira secara demokratik dan pembentukan Soviet‑Soviet (Dewan‑Dewan) Perwakilan Prajurit. Jika ini berhasil dilakukan maka ia akan bisa menghancurkan dasar-dasar kekuasaan kelas borjuasi. Agitasi‑agitasi secara seksama dan dengan sekuat tenaga harus dilakukan untuk menentang pasukan khusus dan gerombolan‑gerombolan sipilnya yang dikerahkan borjuasi dalam perang kelas. Kaum Komunis harus memilih saat yang tepat untuk meruntuhkan moral serta mendorong perpecahan di jajaran pasukan mereka. Jika di kalangan tentara, biasanya di kalangan korps perwira, terdapat banyak orang yang berbeda asal-usul kelas sosialnya dengan rakyat, maka harus dilakukan pembelejetan, dengan demikian akan membuat mereka semakin terkucil. Dan jika dalam pasukan mereka terdapat orang‑orang yang berasal‑usul‑kelas yang sama dengan rakyat, maka mereka juga harus dibelejeti, dengan demikian akan timbul kebencian yang meluas di kalangan rakyat terhadap tindakan khianat mereka. Tindakan pembelejetan ini diharapkan akan meruntuhkan disiplin militer orang‑orang tadi.

V. TENTANG ORGANISASI PERJUANGAN POLITIK

31. Bagi sebuah partai Komunis tidak ada situasi dimana aktivitas politik tidak dapat dilakukan. Pada setiap perkembangan situasi politik dan ekonomi, kaum Komunis harus selalu mengembangkan strategi dan taktik organisasional, dengan demikian kita dapat meraih kemajuan dengan cara‑cara yang terorganisasi.

Betapapun lemahnya partai, ia akan selalu bisa mengubah  peristiwa‑peristiwa politik maupun pemogokan‑pemogokan besar yang menggoncang kehidupan ekonomi negeri menjadi peluang dalam mengorganisasi dan menjalankan propaganda praktisnya secara sistematik. Jika partai sudah mengambil keputusan dalam sebuah aksi, maka dengan sekuat tenaga ia harus melibatkan seluruh anggota dan berbagai bagian partai dalam kampanye tersebut.

Di atas segala‑galanya, partai harus memanfaatkan setiap hubungan yang telah dijalinnya melalui pekerjaan sel‑sel dan group‑group kerjanya. Mulai dari sinilah partai akan mengorganisasi sejumlah pertemuan di tempat‑tempat dimana kegairahan politik atau frekuensi gerakan pemogokannya paling besar. Pada pertemuan‑pertemuan semacam ini para juru bicara Partai Komunis melakukan upaya sekeras‑kerasnya untuk meyakinkan massa bahwa hanya program‑program Komunisme lah yang akan mampu memecahkan permasalahan yang mereka hadapi. Partai harus juga membentuk group‑group kerja khusus untuk melakukan persiapan secara seksama dan rinci bagi penyelenggaraan pertemuan‑pertemuan ini. Jika memang partai belum mampu menyelenggarakan pertemuan‑pertemuannya sendiri, maka harus dipersiapkan sejumlah kawan yang akan berpidato dalam pertemuan di tengah‑tengah pemogokan atau dalam pertemuan‑pertemuan buruh militan lainnya.

Jika dalam suatu pertemuan, tuntutan kita memiliki peluang mendapatkan dukungan dari mayoritas atau dari bagian‑bagian tertentu yang strategis, maka kaum Komunis harus berupaya menguraikan argumentasi dan resolusi dengan sejelas‑jelasnya. Pada saat resolusi tersebut berhasil diloloskan, maka kaum Komunis harus mencoba untuk mendapatkan dan kemudian mengumumkan resolusi‑resolusi yang sama maupun serupa yang, dalam berbagai pertemuan serupa di tempat‑tempat lain maupun pertemuan sebelumnya di tempat yang sama, mendapatkan dukungan yang kuat dari minoritas. Dengan cara inilah kita bisa menyatukan seluruh barisan buruh yang ada dalam pengaruh kita, sehingga pada akhirnya secara keseluruhan mereka akan menerima kepemimpinan kita.

Group‑group kerja yang terlibat dalam persiapan dan penyelenggaraan pertemuan semacam ini harus mendiskusikan bahan‑bahan yang akan dilaporkan ke komite partai. Mereka harus juga menarik pelajaran dari kekeliruan yang telah diperbuatnya serta menyusun rencana bagi perbaikan kerja‑kerja selanjutnya.

Sesuai dengan perkembangan situasi, maka kita dapat menyampaikan program maupun slogan tuntutan kita kepada seluruh buruh. Alat yang kita gunakan di sini adalah poster maupun selebaran‑selebaran yang singkat. Hal‑ ini juga kita lakukan dengan membagi‑bagikan selebaran yang lebih rinci. Kegunaan selebaran jenis ini adalah untuk menjelaskan bahwa program-politik Komunisme relevan dengan apa yang menjadi aspirasi mereka dan dengan situasi yang ada. Pembentukan group‑group secara khusus pun diperlukan untuk melakukan penyebaran poster dengan memperhitungkan ketepatan waktu dan tempat.

Ketika selebaran‑selebaran yang singkat telah didistribusikan di dalam maupun di luar pabrik, dimana biasanya para pemogok  berkerumun ‑pusat‑pusat kota, persimpangan jalan, kantor‑kantor, stasiun dan sebagainya‑, maka jika memungkinkan sejumlah kawan akan disebarkan di tengah‑tengah kerumunan mereka. Tugas kawan‑kawan ini adalah memberikan penjelasan isi selebaran secara singkat namun gamblang sampai massa buruh yang terlibat aksi memahaminya. Sementara itu, pendistribusian selebaran‑selebaran yang lebih rinci hanya dilakukan di dalam pabrik, ruang‑ruang pertemuan, rumah‑rumah buruh dan di tempat‑tempat lain yang memungkinkan buruh untuk membacanya secara lebih cermat dan mendalam.             Kegiatan propaganda di atas harus juga diikuti dengan kaum Komunis dalam seluruh diskusi yang diselenggarakan serikat buruh maupun dalam seluruh pertemuan pabrik. Kawan‑kawan kita harus mengorganisasi pertemuan pertemuan tersebut atau, jika tidak, harus menyelenggarakannya melalui kerja sama dengan berbagai pihak dengan terlebih dahulu mempersiapkan pembicara‑pembicaranya yang handal. Sementara itu, koran partai pun harus menyediakan sejumlah besar kolom berita maupun artikel yang mengulas gerakan buruh secara mendalam. Ulasan‑ulasan tadi harus juga menyatakan keberpihakan partai terhadap gerakan buruh dengan mengemukakan argumentasi yang seksama. Seluruh jajaran organisasional partai harus menyediakan waktunya untuk melakukan segala karya yang akan mendorong maju tujuan gerakan tersebut tanpa ragu‑ragu.

 

32. Aksi‑aksi protes yang bermunculan menuntut kesiagaan partai untuk selalu memberikan kepemimpinan yang fleksibel dan pengorbanan diri yang besar. Hanya kepemimpinan semacam inilah yang akan mampu mengawal konsistensi perjuangan dan yang mampu menentukan target waktu untuk memperoleh hasil maksimum. Disamping itu partai pun akan mampu menentukan saat yang tepat untuk meningkatkan kampanyenya melalui pengorganisasian mogok kerja massal atau bahkan pemogokan umum sekalipun. Demonstrasi‑ demonstrasi anti‑perang yang terjadi selama perang yang terakhir pun telah mengajarkan bahwa meskipun demonstrasi tersebut gagal mencapai tujuannya, namun sebuah partai perjuangan proletar jangan sampai mengabaikan isu ini. Betapapun kecil dan pekanya isu yang diangkat, ia memiliki arti yang strategis serta semakin menunjukkan relevansinya dengan kepentingan massa.

Demonstrasi‑demonstrasi jalanan haruslah mengandalkan tenaga utamanya pada pabrik‑pabrik besar. Sel‑sel dan fraksi‑ fraksi kita harus melapangkan jalan ini dengan menjalankan propaganda lisan secara sistematik, mendistribusikan selebaran dan menciptakan atmosfir yang menguntungkan bagi penyebaran gagasan‑gagasan ini. Kemudian komite pimpinan harus memanggil wakil‑wakil partai di pabrik‑pabrik, sel‑sel maupun fraks‑fraksi untuk mendiskusikan dan menentukan saat dan tempat yang tepat untuk berdemonstrasi, melakukan rapat umum, memutuskan slogan, mengeluarkan penerbitan‑penerbitan serta memutuskan kapan suatu demonstrasi akan dmulai dan diakhiri. Tenaga inti dari demonstrasi semacam ini harus terdiri dari group‑group pekerja partai yang berpengalaman dan yang memperoleh briefing sebelumnya. Pekerja‑pekerja partai ini harus disebarkan di tengah‑tengah massa dengan menjaga jarak yang teratur, sehingga masing‑masing anggota partai ini akan bisa menjaga kontak satu sama lain yang akan memudahkan mereka untuk menerima instruksi‑instruksi politik penting selama berlangsungnya demonstrasi. Jika kepemimpinan ini sudah siap secara politik dan mampu bertindak fleksibel maka akan ada lebih banyak peluang untuk mengorganisasi demonstrasi berikutnya. Atau kita bisa menggunakan demonstrasi tersebut untuk mulai suatu kampanye massa secara besar‑besaran.

 

Jika Partai Komunis berinisiatif melancarkan sebuah kampanye, ia harus melakukan persiapan organisasional untuk memastikan tanggapan dari massa luas kaum pekerja. Seluruh anggota fraksi yang ada di pabrik maupun serikat‑serikat buruh harus berpartisipasi dalam pertemuan terbuka yang diselenggarakan di sebuah pabrik maupun serikat buruh. Dalam pertemuan‑pertemuan inilah fraksi partai harus memunculkan persoalan sekitar “Surat Terbuka,” dan kemudian menjelaskan bagaimana “surat‑surat” ini telah mengupas tuntutan‑tuntutan fundamental yang relevan sifatnya.

Agar bisa memperoleh dukungan politik dari massa, maka harus didistribusikan selebaran, surat edaran, poster dan semacamnya, di tempat‑tempat dimana sel‑sel dan fraksi sedang bekerja untuk tujuan tersebut. Selama kampanye dilancarkan, setiap hari koran partai kita harus memuat artikel‑artikel (baik secara singkat maupun dengan rinci) yang mengupas berbagai aspek gerakan dan problem-problemnya. Organisasi‑organisasi yang kita miliki harus memasok material‑material yang memadai bagi artikel koran serta memastikan agar para editor terus memuat kemajuan gerakan pada halaman‑halamannya. Demikian juga dengan fraksi‑fraksi partai di parlemen maupun di dewan kota, mereka harus bekerja secara sistematik untuk memajukan perjuangan. Para wakil di parlemen ini harus memandang diri mereka sebagai anggota yang sadar, bagian dari massa yang sedang berjuang, sebagai pembela-pembela massa yang bekerja di kubu musuh kelas, dan bertanggung jawab kepada partai. Mereka harus terus menerus memunculkan persoalan‑persoalan yang telah digariskan partai, serta mendorongnya untuk menjadi resolusi. Resolusi‑resolusi yang dikeluarkan diparlemen ini harus memusatkan aksi‑aksi dengan isu yang sama namun yang selama ini dilakukan secara terpisah oleh berbagai kelompok. Ketika gerakan sudah berkarakter sebagai gerakan buruh, di atas segala‑segalanya, partai harus berupaya keras meningkatkan pengaruhnya dalam serikat‑serikat buruh yang paling berpengaruh dalam arah gerakan.

Untuk mencapai tujuan ini, sel‑sel dan fraksi kita di serikat‑serikat buruh harus melancarkan serangan langsung yang diarahkan kepada pejabat‑pejabat lokal serikat buruh dari partai‑partai Sosialis. Dengan demikian kita dapat melemahkan pengaruh mereka, atau kita akan mendorong mereka melancarkan perjuangan yang terorganisasi berdasarkan program‑program tuntutan kita. Jika di sejumlah tempat kerja terdapat dewan‑dewan pabrik, komite‑komite industri maupun institusi‑institusi yang serupa, maka sel‑sel maupun fraksi‑faksi Komunis harus mempengaruhi, mereka selama sidang‑sidang pleno ‑yang dihadiri banyak orang. Target kita adalah agar sidang pleno mengambil keputusan yang menyokong perjuangan kita. Setelah kita berhasil mempengaruhi organisasi lokal yang ada untuk mendukung gerakan buruh dibawah kepemimpinan kita, maka Partai Komunis harus menyerukan diselenggarakannya konferensi umum, yang dihadiri oleh delegasi-delegasi khusus dari sejumlah pabrik yang telah menjalankan resolusi kita.

VI. TENTANG PENGAMBILAN KEPEMIMPINAN TERHADAP GERAKAN

Kepemimpinan baru yang dikonsolidasikan di bawah pengaruh Komunis dijalankan dengan cara mongkonsentrasikan seluruh kelompok buruh yang aktif dan terorganisasi. Kekuasaan inilah yang akan kita gunakan untak medorong kepemimpinan partai‑partai Sosialis agar bergerak lebih maju lagi atau, jika tidak, kita akan membongkar kedok mereka di hadapan massa. Di wilayah‑wilayah industri, dimana Partai Komunis memiliki organisasi yang kerjanya paling baik dan yang dukungan terhadapnya paling kuat, harus dilancarkan tekanan secara terorganisasi terhadap serikat‑serikat buruh lokal dan dewan-dewan industri setempat. Tekanan ini dilakukan untuk menarik seluruh perjuangan ekonomi dan seluruh gerakan kelompok lain yang sedang berkembang maju, tapi yang masih saling terpencar ini, ke dalam satu perjuangan yang terkoordinasi.

Dari tuntutan‑tuntutan khusus yang ada, gerakan harus merumuskan tuntutan

umumnya. Untuk mewujudkan tuntutan‑tuntutan kita harus menggunakan seluruh kekuatan kelompok di wilayah yang bersanqkutan. Di tengah‑tengah gerakan seperti inilah partai Komunis akan mampu membuktikan dirinya sebagai pimpinan oletariat yang selalu siaga dalam berjuang. Dengan demikian, jika birokrasi serikat buruh dan partai Sosialis menentang perjuangan bersama secara terorganisasi ini, maka akan terbongkar watak asli mereka, bukan hanya secara politik, namun juga dari segi praktek organisasionalnya.

 

34. Jika konflik ekonomi dan politik cenderung berkembang ke arah aksi dan perjuangan massa, dan jika Partai Komunis hendak merebut kepemimpinan terhadap gerakan, maka partai tidak perlu mengajukan tuntutan‑tuntutan baru. Justru, partai harus menyerukan anggota partai‑partai Sosialis dan serikat‑serikat buruh untuk tidak mengendorkan perjuangannya melawan kemiskinan dan penghisapan; meskipun para pimpinan mereka menolak aksi tersebut. Karena hanya dengan berjuanglah maka kekalahan akan bisa dihindari. Berbagai organ partai, khususnya koran hariannya, harus terus menerus menekankan dan menunjukkan bahwa hanya kaum Komunislah yang siap terlibat dalam setiap perjuangan proletar dalam melawan kemiskinan. Dan bahwa pada tahap perjuangan yang semakin genting ini, ia siap membantu perjuangan seluruh rakyat yang tertindas. Setiap hari harus ditekankan bahwa tanpa perjuangan kelas buruh yang demikian, tak mungkin akan diraih kehidupan yang lebih baik. Untuk itu perjuangan tidak boleh dihentikan meskipun organisasi‑organisasi lama mereka menentang dan menghambatnya.

Fraksi‑fraksi Komunis yang ada di serikat‑serikat buruh maupun pabrik-pabrik harus menjelaskan kepada kawan­-kawan buruhnya tentang kesiapsediaan kaum Komunis untuk berjuang dan berkorban. Oleh karenanya jangan sampai mereka mengendorkan daya juang. Sementara itu, tugas yang paling utama adalah  tetap menyatukan dan mengkonsolidasikan seluruh perjuangan serta gerakan yang muncul dimana-mana. Sel‑sel dan fraksi‑fraksi yang telah melibatkan diri dalam perjuangan tadi jangan hanya menjalin hubungan di antara mereka saja, mereka juga harus mengambil kepemimpinan seluruh gerakan yang muncul. Untuk kemudian, melalui jalur komite‑komite lokal dan komite sentral, dikeluarkan instruksi terhadap para kader dan anggota partai untuk segera  menggabungkan diri dengan perjuangan guna memperluas, memperkuat dan menyatukannya. Tugas paling utama Partai Komunis adalah menemukan kepentingan bersama dan menekankan kepada  berbagai elemen yang terlibat dalam perjuangan tentang kesamaan kepentingan ini. Dengan demikian, kaum Komunis akan bisa menyusun program aksi bersama. Begitu perjuangan semakin meningkat dan menyebar luas, maka perlu dibentuk organ bersama guna memimpin perjuangan. Jika stamina perjuangan para birokrat serikat buruh mulai mengendor, maka kaum Komunis harus segera mengambil‑alih tempat mereka, sehingga gerakan akan memperoleh kepemimpinan yang tegas dan menentukan. Jika koordinasi terhadap berbagai aksi tadi berhasil dicapai maka harus diciptakan kepemimpinan bersama. Untuk itu jika memungkinkan kaum Komunis akan menempati posisi‑posisi yang strategis. Jika persiapan sudah dilakukan dengan memadai, maka kepemimmpinan bersama tersebut akan tercipta melalui serikat buruh, fraksi‑fraksi komite pabrik, pertemuan‑pertemuan umum pabrik dan, khususnya, pertemuan‑pertemuan yang diadakan selama pemogokan massal.

Jika gerakan tersebut mulai berkembang menjadi gerakan politik, baik itu disebabkan adanya dinamika di dalam gerakan sendiri atau yang disebabkan oleh reaksi dari pengusaha dan pemerintah, maka semakin mendesak untuk melakukan pemilihan para wakil yang akan duduk dalam soviet‑soviet pekerja. Dalam kasus seperti ini, kaum Komunis harus mulai melancarkan propaganda dan persiapan‑persiapan organisasional. Seluruh organ partai harus menekankan bahwa hanya melalui soviet‑soviet ‑sebagai bentuk organisasi yang terlahir langsung dari proses perjuangan massa‑ serta dengan melancarkan perjuangan secara independen dari birokrasi serikat buruh maupun partai Sosialis, maka dapat dicapai pembebasan sejati kelas buruh.

 

Tanpa hubungan yang erat antara organisasi‑organisasi Partai dengan massa proletar yang terlibat dalam aksi-aksi massa besar, tidak akan terbangun sebuah gerakan revolusioner. Kekalahan yang tidak semestinya dari  pemberontakan revolusioner di Italia pada tahun lalu (l920), yang memuncak dalam bentuk penguasaan pabrik‑pabrik, disamping disebabkan oleh pengkhianatan birokrasi serikat buruh dan kebimbangan para pimpinan partai politik, juga karena kurangnya pendidikan politik bagi delegasi‑delegasi pabrik. Para delegasi inilah yang justru selama ini diandalkan guna menjaga hubungan organisasional antara partai dengan pabrik‑pabrik yang bersangkutan. Sebab yang sama juga mengakibatkan kegagalan pemogokan besar‑besaran buruh pertambangan Inggris pada tahun ini (1921), sehingga mereka gagal pula untuk mempengaruhi peristiwa‑peristiwa politik yang terjadi.


[2][2] Dua biro ini terdiri dari Politbiro (Biro Politik) yang bertanggungjawab menentukan garis politik dan kampanye politik partai, serta Biro Organisasi, yang bertanggung jawab menjalankan kerja administratif dan organisasi partai, Ed .

VII. TENTANG KORAN PARTAI

36. Upaya yang keras harus terus menerus dilakukan guna mengembangkan dan memperbaiki koran partai.

Sebuah koran tidak bisa disebut sebagai organ Komunis jika ia tidak dikontrol oleh partai. Prinsip ini harus diterapkan pada semua terbitan partai, seperti jurnal teoritis, surat kabar, pamflet dan semacamnya. Akan tetapi kontrol ini jangan sampai mempengaruhi watak ilmiah, propagandis atau watak lain dari terbitan Partai harus mencurahkan segenap tenaganya untuk meningkatkan kualitas ketimbang jumlah jenis terbitannya. Tugas utama bagi setiap Partai Komunis adalah menerbitkan koran sentral ,yang bermutu dan, jika memungkinkan, terbit setiap hari.

37. Manajemen sebuah koran Komunis jangan sekali‑kali dijalankan sebagaimana koran borjuis yang dibisniskan atau seperti apa  yang disebut sebagai koran‑koran “Sosialis.” Koran-koran kita harus independen dari lembaga‑lembaga perkreditan kapitalis. Pencantuman reklame untuk mendukung keuangan koran ‑khususnya dimungkinkan bagi partai Komunis legal‑ harus dilakukan dengan cermat, dan jangan sampai membuat koran ini bergantung pada perusahaan‑perusahaan besar yang mencantumkan iklannya. Sebaliknya, koran‑koran kita akan menerapkan sikap tidak kompromistis terhadap segala hal yang menyangkut seluruh pesoalan sosial kaum proletar. Koran‑koran kita jangan sampai melayani nafsu‑nafsu sensasi dan hiburan murahan bagi kepuasan “umum,” serta jangan sekali‑kali menyerah pada kritik para penulis dan pakar jurnalistik borjuis kecil untuk sekedar memperoleh “tempat terhormat” dalam lingkaran mereka.

38. Pertama‑ menjadi propagandis dan agitator terbaik bagi revolusi prolet

Koran kita harus terus menerus mengumpulkan semua penqalaman yang paling bernilai dari para anggota partai serta menyebarkan pengalaman ini sebagai tuntunan untuk memperbaharui dan memperbaiki metode kerja komunis. Semua pengalaman juga harus dibahas dalam pertemuan yang dihadiri oleh para editor dari seluruh negeri, pertukaran pendapat akan dilakukan dengan konsisten sesuai irama dan arahan kerja koran partai. Dengan cara inilah koran sentral dan terbitan‑terbitan partai lainnya akan menjadi organisator aktivitas revolusioner kita yang efektif.

Jika koran‑koran partai, terutama koran sentral partai, gagal dalam mensentralisasikan dan mengorganisasi pekerjaan, maka sangat kecil kemungkinan untuk mencapai sentralisme demokrasi atau untuk menjalankan pembagian kerja dalam Partai Komunis, dengan demikian partai akan gagal menjalankan tugas sejarahnya.

39. Koran Komunis harus selalu berjuang untuk benar‑benar berwatak Komunis, yakni menjadi sebuah organisasi perjuangan proletar, sebuah komunitas kerja kaum pekerja revolusioner, yang menghimpun mulai dari seluruh penulis yang secara reguler menyumbangkan tulisan, editor, penata letak, pencetak, administrator, distributor, penjual dan propagandisnya, hingga kawan-kawan yang mengumpulkan berita‑berita lokal, mendiskusikan, mengedit material dalam selnya masing‑masing dan sebagainya.

Sejumlah tindakan praktis harus dilakukan untuk benar-benar menjadikan koran tersebut sebagai sebuah organisasi perjuangan dan komunitas kerja Komunis yang sejati.

Setiap orang Komunis harus menjalin kontak sedekat-dekatnya dengan jaringan koran partai, dimana dia akan mengabdikan kerja-kerjanya. Inilah senjata harian kaum Komunis yang selalu harus ditempa dan dipertajam agar semakin efektif digunakan. Koran-koran Komunis hanya akan bertahan jika seluruh anggota partai bersiaga memberikan sumbangan kauangan dan pengorbanan material lainnya secara reguler. Para anggota harus memandang bahwa koran ini nantinya yang akan terus memasok dana bagi perbaikan organisasi mereka, hingga ia nantinya akan menjadi organisasi yang kuat. Dan walau sudah  menjadi partai legal, koran ini akan memungkinkan independensi partai dalam hal keuangan.

Kaum Komunis jangan hanya sekedar menjadi pelanggan dan agitator koran yang bersemangat; mereka juga harus menjadi penyumbang tulisan yang berguna. Setiap peristiwa yang terjadi dalam fraksi-fraksi Komunis di pabrik atau di sel, setiap peristiwa sosial atau ekonomi yang penting, mulai dari suatu kecelakaan kerja hingga sebuah pertemuan di pabrik, dari perlakuan buruk terhadap para pemagang hingga laporan keuangan pabrik, harus disampaikan  kepada koran partai secepat‑cepatnya. Fraksi‑fraksi dalam serikat‑serikat buruh harus mengumpulkan semua keputusan dan tindakan penting yang diambil dalam pertemuan umum maupun rapat sekretariat serikat buruh, begitu juga dengan informasi mengenai segala jenis aktivitas musuh, kesemuanya ini dilaporkan ke koran partai. Dari suasana umum yang berlangsung di jalanan hingga suasana sebuah pertemuan, seringkali menyediakan peluang bagi para anggota partai untuk melancarkan kritik sosialnya secara rinci yang nantinya dimuat dalam koran partai kita. Dengan demikian ia akan mendemonstrasikan kepada para pembaca, bahkan yang belum akrab dengan politik sekalipun, betapa kita terus bersentuhan dengan kepentingan keseharian mereka.

Komunikasi yang berasal dari kehidupan rakyat pekerja dan organisasi‑organisasi kaum buruh harus ditangani oleh dewan editorial dengan cermat dan penuh perhatian; ia kemudian akan dimuat sebagai artikel singkat untuk menunjukkan bahwa koran tersebut dekat dengan kehidupan rakyat pekerja. Koran juga digunakan untuk menggambarkan gagasan-gagasan Komunisme. Ini merupakan cara terbaik untuk mengakrabkan prinsip-prinsip Komunisme kepada massa luas kaum pekerja. Jika memungkinkan, dewan editorial menyediakan waktu yang cukup untuk mengadakan diskusi dengan kaum buruh yang mengunjungi kantor editorial. Para editor harus mendengarkan harapan dan keluh kesah mereka dalam menghadapi kerasnya kehidupan, mencatatnya secara seksama dan menjadikan kesemuanya ini sebagai masukan vital bagi koran partai.

Tentu saja, di bawah sistem kapitalisme, tak ada satu pun koran kita yang bisa menjadi komunitas kerja Komunis yang sempurna. Namun, bahkan dalam situasi‑situasi yang paling tidak menguntungkan sekalipun masih memungkinkan untuk mengorganisasi sebuah koran revolusioner yang baik. Hal ini telah terbuktikan oleh koran Pravda yang diterbitkan antara tahun 1912‑1913 oleh kawan‑kawan kita di Rusia. Ia telah membuktikan dirinya sebagai suatu organisasi kaum buruh revolusioner yang sangat aktif dari berbagai pusat strategis gerakan buruh se-Rusia. Kawan‑kawan buruh ini bergabung untuk menjalankan kerja editorial, menerbitkan dan mendistribusikan koran ini, bahkan sebagian besar dari mereka membiayainya dengan uang yang ada di kantong mereka. Koran tersebut memberikan apa yang mereka inginkan dan apa yang gerakan butuhkan pada masanya; ini merupakan pengalaman yang banyak memberikan manfaat kepada mereka dalam kerja dan perjuangannya pada tahap sekarang. Oleh karenanya, koran semacam inilah yang layak disebut oleh anggota partai dan kaum buruh revolusioner lainnya sebagai “koran kami.

40. Elemen penting bagi sebuah koran Komunis yang militan adalah keterlibatannya secara langsung dalam kampanye yang dilancarkan partai. Ketika aktivitas partai dikonsentrasikan pada kampanye tertentu, maka koran partai bukan saja memuat tema kampanye dalam artikel‑artikel politik utamanya, namun juga memuatnya dalam rubrik‑rubrik lain yang dibutuhkan bagi kampanye tersebut. Para editor harus mendapatkan material berita dari berbagai sumber yang akan digunakan bagi kampanye tersebut. Untuk kemudian mereka merancang isi dan format korannya sehingga material ini bisa disajikan secara efektif.

41. Aktivitas untuk berlangganan koran ini pun harus dilakukan secara sistematik. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memanfaatkan setiap peristiwa dalam gerakan buruh maupun segala situasi yang telah merangsang kesadaran politik dan sosial mereka. Misalnya, jika sebuah pemogokan besar, yang selama ini dibela mati‑matian oleh koran partai kita, sudah berakhir, maka kaum Komunis harus segera mendekati mereka yang terlibat dalam pemogokan untuk mendaftarkan dirinya sebagai pelanggan koran kita. Formulir berlangganan koran harus diedarkan. Yang menjadi sasaran bukan hanya pabrik‑pabrik dan serikat‑serikat buruh yang ada fraksi Komunisnya, namun, jika memungkinkan, formulir tersebut diedarkan ke seluruh rumah buruh yang terlibat dalam pemogokan tersebut.

Setelah berakhirnya kampanye pemilihan yang berhasil membangkitkan kegairahan politik massa pekerja, perlu dibentuk group‑group khusus yang akan mengunjungi setiap rumah di perkmpungan buruh.

Pada saat terjadinya krisis politik dan ekonomi yang mempengaruhi massa luas kaum pekerja, seperti naiknya harga‑harga, meningkatnya angka pengangguran dan sebagainya, maka kaum Komunis harus melancarkan propaganda yang mengangkat isu‑isu tadi. Segala upaya harus dilakukan untuk menggalang kaum buruh yang terorganisasi dari berbagai serikat buruh maupun industri. Untuk selanjutnya fraksi‑fraksi maupun sel Komunis akan membentuk group‑group khusus yang akan menjalankan propaganda koran dari rumah ke rumah. Pengalaman selama ini telah menunjukkan bahwa saat yang paling baik untuk mendapatkan pelanggan koran adalah pada minggu terakhir setiap bulannya. Setiap group lokal yang melewatkan saat‑saat seperti ini tanpa melakukan propaganda koran sama saja dengan melalaikan kewaiiban memperluas gerakan Komunis.

Group propaganda koran jangan sampai melewatkan setiap pertemuan umum atau demonstrasi tanpa menjajakan koran dan mengedarkan formulir berlangganan. Aktivitas ini dilakukan baik pada saat berlangsung maupun berakhirnya acara tersebut. Tugas yang sama juga harus dijalankan baik oleh semua fraksi serikat buruh pada setiap pertemuan serikat maupun oleh semua group dan fraksi yang bekerja pada setiap pertemuan di pabrik‑pabrik.

42. Setiap anggota partai harus terus menerus membela koran mereka dalam menghadapi musuh‑musuhnya dan juga menjalankan kampanye menentang pers kapitalis. Dia harus membelejeti dan mengkritik pers kapitalis yang menyelewengkan dan membungkam informasi.

Koran‑koran sosial‑demokrat dan koran independen juga harus dihadapi dengan keras tanpa harus terjebak dalam polemik debat kusir. Banyak contoh kejadian sehari‑hari yang bisa kita pergunakan untuk menunjukkan betapa koran‑koran tadi menutup‑nutupi konflik kelas yang nyata. Fraksi‑fraksi kita di serikat‑serikat buruh dan organisasi‑organisasi lainnya harus berusaha sekeras mungkin membebaskan para anggota serikat buruh dan organisasi pekerja lainnya dari pengaruh informasi koran sosial‑demokrat yang menyesatkan. Kampanye kita untuk memperoleh pelanggan koran, baik itu melalui agitasi dari rumah ke rumah maupun agitasi di pabrik, harus juga diarahkan untuk menyerang semua koran pengkhianat sosialisme.

VIII. TENTANG STRUKTUR UMUM ORGANISASI PARTAI

43. Perluasan dan konsolidasi organisasi jangan dilakukan berdasar kriteria pembagian geografis saja, namun ia harus lebih disesuaikan dengan pola ekonomi politik dan jaringan komunikasi/transportasi suatu wilayah. Tekanan utama pekerjaan partai harus diletakkan pada kota-kota utama dan pusat-pusat industri berskala besar.

Dalam membangun sebuah partai baru, sering muncul kecenderungan untuk segera melebarkan jaringan kerja partai ke seluruh wilayah negeri. Hal ini sering dilakukan tanpa memperhatikan kelangkaan dan keterbatasan kader partai, dimana mereka pun seringkali masih berpencaran di mana‑mana. Sebagai akibatnya, partai tidak mampu merecruit anggota‑anggota baru. Meskipun partai berhasil membangun sistem jaringan yang kuat dalam jangka beberapa tahun saja, namun ia gagal dalam membangun basis yang kuat di setiap kota industri terpenting.

 

44. Sentralisasi maksimum aktivitas partai tidak akan bisa dicapai hanya dengan membangun sistem kepemimpinan skematik, dengan mengumpulkan sejumlah besar group partai yang tersusun dari bawah ke atas. Yang harus dilakukan di kota‑kota besar, sebagai pusat kehidupan ekonomi, politik dan jaringan komunikasi/tansportasi, adalah meluaskan jaringan ke seluruh wilayah ekonomi politik yang mengelilingi dan atau berada di sebuah kota. Komite partai harus berkedudukan di kota industri terbesar pada suatu wilayah/lokal. Dari sinilah ia harus mengarahkan seluruh pekerjaan organisasi dan politik di sublokal‑sublokalnya. Disamping itu partai harus menjaga kontak yang erat dengan anggotanya dan massa kelas buruh yang bertempat tinggal di sub lokal yang bersangkutan.

Para organisator lokal, yang dipilih dalam konferensi lokal dan disepakati oleh Komite Sentral Partai, harus memainkan peranan yang permanen dalam kehidupan partai di lokalnya. Komite lokal partai, sebagai pimpinan politik tertinggi di lokal yang bersangkutan, harus terus menerus diperkuat dengan anggota-anggota kelas buruh, dengan demikian akan memungkinkan komite untuk menjaga kontaknya dengan massa. Begitu organisasi semakin berkembang maka komite pimpinan lokal partai harus benar‑benar menjadi pimpinan politik seluruh aktivitas politik di lokalnya. Sehingga komite pimpinan lokal partai, bersama‑sama dengan Komite Sentral, akan menjalankan kepemimpinan politik yang sebenarnya terhadap organisasi partai secara keseluruhan.

Garis yang membatasi ruang lingkup lokal partai tidak ditentukan menurut garis batas wilayah geografisnya. Faktor yang paling menentukan adalah bahwa komite lokal partai harus selalu dalam posisi mengarahkan seluruh aktivitas sub‑komite lokalnya dengan mekanisme kerja yang seragam. Dan, jika inipun tidak  mungkin dilaksanakan, maka komite lokal harus segera dipecah untuk membuat satu atau dua komite lokal yang baru.

Di kota‑kota besar, jika memang diperlukan, perlu dibentuk berbagai organ yang menghubungkan berbagai komite lokal ini dengan Komite Sentral. Dalam situasi‑situasi tertentu, jika diperlukan, organ‑organ penghubung ini diberi kepemimpinan (sebagai contoh adalah organisasi di kota besar yang memiliki banyak anggota). Akan tetapi hal ini jangan sampai mendorong teradinya desentralisasi.

 

45. Partai secara keseluruhan berada di bawah kepemimpinan Komunis Internasional. Arahan dan resolusi‑resolusi yang dikeluarkan oleh pimpinan sentral Komunis Internasional akan disampaikan kepada (l) Komite Sentral partai, atau (2) melalui Komite Sentral kemudian disampaikan kepada sejumlah komite khusus, atau (3) kepada seluruh organisasi partai.

Arahan maupun resolusi‑resolusi tadi akan mengikat partai dan juga, tentu saja, seluruh anggota partai.

 

46. Komite Sentral dipilih oleh Kongres partai dan bertanggungjawab kepadanya. Komite Sentral memilih sejumlah orang untuk menduduki dua badan yang lebih kecil, yang terdiri dari dua sub‑komite (biro) untuk menjalankan aktivitas politiknya[3][2]. Kedua biro ini mempertanggungjawabkan pekerjaan politiknya kepada Komite Sentral. Jika ada keputusan penting yang mendesak untuk diambil maka kedua biro ini mengatur pertemuan bersama secara reguler dengan Komite Sentral partai. Untuk mengkaji situasi politik secara umum dan memperoleh gambaran yang jelas tentang keadaan partai, maka perlu juga dihadirkan para wakil dari berbagai lokal di Komite Sentral untuk mengambil keputusan yang menyangkut kehidupan seluruh partai. Untuk alasan ini juga, perbedean‑perbedaan pendapat dalam melihat persoalan taktik yang serius jangan sampai ditekan oleh Komite Sentral. Justru sebaliknya, pendapat‑pendapat ini harus terwakili dalam Komite Sentral. Namun Politbiro hanya memutuskan garis politik yang jelas berdasarkan otoritas yang diberikan oleh mayoritas anggota Komite Sentral. Berdasarkan hal ini maka Komite Sentral partai, khususnya dalam kasus partai legal, mampu meletakkan dasar yang knat untuk menegakkan disiplin di kalangan anggota partai. Dengan demikian ia bisa mencegah kebimbangan maupun penyelewengan dalam gerak politiknya. Seluruh ketidaksepakatan dalam partai bisa ditanggulangi hingga suatu saat bisa dibicarakan dalam forum kongres partai.

 

47. Setiap komite pimpinan partai harus mengorganisasi pembagian kerja secara efektif. Dengan demikian akan memungkinkan partai untuk mengarahkan pekerjaan sebaik mungkin. Oleh karenanya, perlu untuk membentuk badan‑badan khusus yang menangani berbagai lapangan pekerjaan (propaganda, distribusi koran, kampanye serikat buruh, pekerjaan di kalangan kaum perempuan, informasi, kurir dan semacamnya). Setiap badan khusus ini tunduk kepada Komite Sentral maupun komite lokal partainya.

Komite lokal partai, dan juga Komite Sentral, mengontrol aktivitas dan komposisi seluruh komite yang berada di bawahnya. Untuk ini komite harus selalu melakukan pertukaran pekerjaan bagi anggota‑anggota partai yang menempati posisi‑posisi tertentu (para editor, organisator, propagandis dan sebagainya), melakukan pemindahan antar kota, sejauh hal ini bisa memperlancar pekerjaan partai. Para editor maupun propagandis juga harus terlibat dalam salah satu group kerja tertentu.

 

48. Komite Sentral partai dan Komunis Internasional harus selalu memperoleh laporan yang lengkap dari seluruh organisasi Komunis, group‑group yang ada maupun dari individu‑individu anggota partai. Para wakil dan delegasi Komite Sentral berhak menghadiri semua pertemuan dan sidang‑sidang yang diselenggarakan komite‑komite yang ada dibawahnya maupun diskusi group‑group. Dalam kesempatan‑kesempatan seperti ini, para delegasi memiliki

hak veto.

Komite Sentral harus selalu memiliki delegasi (komisaris) yang akan membawa instruksi maupun informasi dari Komite Sentral kepada berbagai komite lokal maupun sejumlah group yang berkaitan dengan persoalan politik dan organisasional. Hal ini disampaikan baik melalui hubungan surat-menyurat maupun komunikasi lisan.

Komite Sentral maupun komite‑komite lokal harus memiliki komisi‑komisi revisi yang terdiri dari kawan‑kawan yang terlatih dan berpengalaman. Tugas komisi semacam ini adalah mengontrol dana dan keuangan (auditing) partai.

Masing‑masing organisasi, cabang partai maupun individu-individu anggota mempunyai hak untuk sewaktu‑waktu menyampaikan saran-saran, komentar atau keluhan‑keluhannya langsung ke Komite Sentral atau ke Komite Eksekutif Komunis Internasional.

 

49. Semua arahan dan keputusan organ pimpinan partai bersifat mengikat organisasi‑organisasi maupun individu‑individu di bawahnya.

Kewajiban dan tanggung jawab organ pimpinan partai untuk menangani pelanggaran maupun pengabaian tugas oleh kawan-kawan pimpinan tidak bisa sepenuhnya dilakukan dengan cara‑cara formal. Sebagai contoh, dalam sebuah partai illegal, pertanggungjawaban mereka tidak bersifat formal. Yang harus dilakukan oleh organ pimpinan adalah mengumpulkan berbagai pendapat dari anggota‑anggota partai lainnya, menerima, mencatat, mendiskusikan informasi yang akurat. Baru setelah proses ini dilewati maka segera diambil tindakan.

 

50. Dalam seluruh penampilan dan aktivitas politiknya ke luar partai, para anggota Partai wajib selalu bertindak sebagai anggota yanq berdisiplin dari organisasi militant. Jika muncul ketidaksepakatan mengenai sejumlah metode aksi, maka, sejauh mungkin ia didiskusikan terlebih dahulu dalam forum organisasi partai sebelum diambil keputusan, setelah itu tindakan/aksi dilakukan hanya berdasarkan keputusan yang telah diambil. Untuk memastikan agar semua keputusan partai dijalankan sepenuhnya oleh organisasi dan anggota partai, maka sebanyak mungkin anggota partai harus dilibatkan dalam mendiskusikan dan mengambil keputusan. Seluruh level jajaran partai harus menentukan apakah ada persoalan tertentu yang harus didiskusikan secara terbuka oleh masing‑masing individu anggota (di koran maupun pamflet, misalnya), dalam bentuk apa dan sejauh mana hal ini dilakukan. Jika ada anggota partai yanq memandanq keputusan organisasi maupun organ pimpinan partai yang tidak tepat, maka kawan anggota yang bersangkutan  jangan sampai membuat pernyataan atau tindakan di depan umum yang dapat melemahkan atau menghancurkan kesatuan gerak partai di garis depan. Karenanya tindakan demikian merupakan bentuk pelanggaran disiplin yang paling besar dan kesalahan yang paling berat, yang dilakukan dalam perjuangan revolusioner.

Adalah kewajiban untuk membela Partai Komunis dan Komunis Internasional dalam menghadapi musuh‑musuh Komunisme. Siapa saja yang melalaikan kewajiban ini adalah seorang Komunis yang buruk, dan siapa‑saja yang dengan sengaja menyerang partai maupun Komunis Internasional di depan umum harus dianggap sebagai musuh partai.

 

51. Anggaran dasar partai harus disusun sedemikian rupa sehingga ia tidak menjadi penghalang perkembangan dan pertumbuhan partai.

Keputusan‑keputusan yang diambil oleh Komunis Internasional harus dijalankan oleh seluruh partai yang bergabung dengannya tanpa ditunda‑tunda, untuk itu semua perubahan yang diperlukan dalam anggaran dasar partai dapat dilakukan menyusul kemudian

IX. TENTANG PENGGABUNGAN ANTARA KERJA LEGAL DAN ILLEGAL

 

52. Pekerjaan sehari‑hari Partai Komunis berubah sesuai dengan perkembangan tahap proses revolusioner. Pada dasarnya, baik partai legal ataupun ilegal harus mengarahkan pada tipe yang sama dari struktur partai.

Partai harus diorganisasi sedemikian rupa sehingga ia selalu berada dalam posisi mampu menyesuaikan diri secara cepat dalam setiap perubahan kondisi perjuangannya.

Partai Komunis harus berkembang menjadi organisasi perjuangan, yang pada satu sisi, mampu menghindari perjuangan terbuka melawan musuh yang lebih unggul kekuatannya, dan disisi lain mampu mengambil keuntungan dari kelemahan musuh serta menyerangnya dari sudut yang paling tidak diduga olehnya. Adalah suatu kesalahan besar bagi partai untuk mempertaruhkan segala‑galanya pada pemberontakan, pertempuran‑pertempuran jalanan maupun aksi massa yang spontan dalam menanggapi penindasan ekstrim dari musuh. Kaum Komunis harus memersiapkan dirinya menyongsong revolusi dalam segala situasi dan harus selalu siaga tempur, karena memang sangat sulit untuk mengetahui sebelumnya kapan suatu gerakan akan tumbuh dan kapan ia akan melewati masa‑masa surut. Dan walaupun kita bisa melakukannya, namun kecepatan, desakan dan arah perubahannya tidak memungkinkan kita melakukan reorganisasi secepat‑cepatnya.

 

53. Partai-partai Komunis legal di negeri-negeri kapitalis biasanya tidak memahami pentingnya pekerjaan untuk menyiapkan partai dalam menghadapi penggulingan revolusioner, perjuangan bersenjata dan perjuangan illegal.

Partai-partai semacam ini tidak dipersiapkan untuk melakukan pekerjaan illegal, mereka menganggap bahwa mereka bisa bekerja secara legal dalam periode waktu yang panjang. Oleh karena itu, struktur yang mereka susun hanya untuk memenuhi kebutuhan perjuangan legal sehari-hari.

Di lain pihak, partai-partai illegal, sering tidak trampil untuk merebut peluang aktivitas politik legal. Padahal aktivitas legal inilah yang memungkinkan partai untuk menjalin kontak yang sesungguhnya dengan massa revolusioner. Organisasi-organisasi semacam ini akan cenderung menjadi sekelompok konspirator yang menghabiskan waktunya untuk pekerjaan sia-sia.

Kedua kecenderungan di atas adalah salah dan harus diluruskan. Setiap Partai Komunis legal harus diorganisasi sedemikian rupa sehingga, jika ia harus bekerja di bawah tanah, ia akan siap untuk melanjutkan perjuangannya. Dan, di atas segala-galanya, ia pun harus selalu bersiaga untuk menghadapi pecahnya revolusi. Sebaliknya setiap Partai Komunis illegal harus merebut peluang politik yang diciptakan oleh perkembangan gerakan buruh legal, sehingga, dengan bekerja keras, ia akan sanggup mengorganisasi dan memberikan kepemimpinan yang sesungguhnya terhadap massa revolusioner. Arahan politik bagi kerja legal maupun illegal tetap berada di tangan satu sentral partai.

 

54. Di kalangan partai legal maupun illegal sering muncul pandangan bahwa pekerjaan organisasional, Komunis bawah tanah (illegal) adalah bertujuan membentuk dan menjaga organisasi militer tersendiri, yang terpisah dari aspek-aspek pekerjaan dan organisasi partai lainnya. Ini adalah pandangan yang salah. Selama periode pra-revolusi, pembentukan organisasi militer kita harus dituntaskan melalui kerja Partai Komunis secara keseluruhan. Partai sendiri secara keseluruhan, harus menjadi organisasi ala militer yang berjuang demi revolusi.

Jika pembangunan organisasi-organisasi militer revolusioner ini dilakukan secara terpisah dan prematur, mereka akan cenderung mengalami demoralisasi dan kehancuran karena tidak ada arahan kerja langsung dari partai.

 

55. Tentu saja merupakan hal yang penting bagi partai illegal untuk melindungi para anggota dan organisasinya selama kampanye politik tertentu. Perlindungan yang dimaksud adalah untuk mencegah penyusupan agen-agen polisi rahasia, yakni dengan cara penyimpanan daftar anggota secara rahasia, penarikan iuran dan distribusi bahan bacaan secara, hati-hati dan sebagainya. Partai illegal tidak bisa begitu saja menggunakan bentuk-bentuk organisasi yang terbuka, seperti yang diterapkan dalam partai-parta1 legal, untuk menjalankan kerja konspirasinya. Akan tetapi, melalui praktek ia dapat mempelajari penggunaan metode kerja terbuka ini.

Setiap tindakan harus dilakukan untuk mencegah bergabungnya orang-orang yang tak terpercaya ke dalam partai. Penggunaan metode-metode ini tergantung dari tingkat legalitas maupun illegalitas partai. Salah satu metode yang banyak memberikan hasil secara memuaskan adalah sistem pencalonan. Hal ini telah terbukti di banyak tempat dan bisa diterapkan di bawah sejumlah kondisi tertentu. Sistem pencalonan ini dilakukan sesuai rekomendasi yang diberikan oleh satu atau dua kawan anggota partai. Sementara itu, keanggotaan penuh hanya akan diberikan jika calon yang bersangkutan telah berhasil menjalankan tugas partai yang diberikan kepadanya.

Kaum borjuasi secara tak terelakkan akan berusaha menyusupkan mata-mata maupun agen‑agen provokatornya ke dalam organisasi illegal. Elemen-elemen seperti ini harus dihadapi dengan penuh kesabaran dan kecermatan.

Metode untuk memerangi antek mata-mata borjuasi tadi adalah dengan menggabungkan pekerjaan illegal dan legal mereka secara maksimum. Ujian yang paling baik untuk memilih siapa-siapa saja yang bisa diandalkan, berani, sungguh-sungguh berkesadaran revolusioner, enerjik, berketrampilan dan dapat dipercaya dalam kerja-kerja illegal adalah dengan cara menempatkan orang-orang tersebut dalam pekerjaan revolusioner legal, dalam jangka yang relatif panjang.

Partai massa legal pun harus sepenuhnya disiapkan untuk menghadapi situasi yang tak terduga. Mereka harus mempersenjatai dan menyiapkan diri bagi pekerjaan-pekerjaan illegal (sebagai contoh, ia harus belajar menyimpan daftar anggotanya, menghancurkan dokumentasi surat menyurat, menyimpan dokumen di tempat‑tempat rahasia, belajar berkonspirasi dan sebagainya).

 

56. Oleh karena itu, seluruh pekerjaan partai harus dilakukan sedemikian rupa sehingga ia mampu bersiaga dalam situasi pra-revolusioner, yakni meletakkan dasar-dasar yang kuat dan mengkonsolidasikannya demi kepentingan revolusi. Adalah sangat penting bagi pimpinan Partai Komunis, sebagai pimpinan seluruh aktivitas organisasi, harus dibimbing dengan persyaratan-persyaratan revolusioner, sehingga ia akan jelas menentukan langkah apa yang harus diambilnya. Ini bukanlah tugas yang mudah, namun bukan alasan bagi kepemimpinan Komunis untuk mengabaikannya.

Bahkan sebuah partai yang terorganisasi dengan baik pun akan dihadapkan pada situasi yang sulit dan rumit, jika dituntut melakukan perubahan fungsi secara besar-besaran. Hal ini utamanya terjadi selama periode peningkatan situasi revolusioner. Partai kita akan dituntut memobilisir seluruh kskuatannya dalam jangka beberapa hari saja untuk menghadapi perjuangan revolusioner. Dan seringkali dalam waktu yang singkat partai tidak hanya dituntut untuk mengerahkan kekuatannya sendiri namun ia harus juga mengerahkan organisasi-organisasi lain yang bersimpati kepada partai maupun massa revolusioner lainnya yang belum terorganisasi. Ini belum termasuk soal pembentukan Tentara Merah. Akan tetapi, pada akhirnya kemenangan harus kita raih tanpa bantuan tentara yang  terorganisasi; kemenangan harus dimenangkan oleh massa sendiri di bawah kepemimpinan Partai Komunis. Karena sebab inilah, betapa pun heroiknya pekerjaan yang dilakukan, ia tidak akan berhasil meraih kemenangan jika partai tidak disiapkan dan diorganisasi dengan baik dalam menghadapi situasi seperti ini.

 

57. Organ kepemimpinan sentral revolusi seringkali terbukti tidak mampu menjalankan tugas-tugasnya dalam menghadapi situasi revolusioner. Sejauh menyangkut pekerjaan‑pekerjaan di basis massa, kaum proletar umumnya mampu melakukan pekerjaan revolusionernya dengan baik. Namun kekacauan justru sering bersumber di markas besar komite pemberontakan revolusioner. Kadang-kadang tidak ada pembagian kerja secara memadai. Jaringan komunikasi seringkali diorganisasi dengan buruk, dimana ia lebih banyak membawa beban ketimbang menjadi asset dan sumber informasi yang handal. Fasilitas transportasi, kantor pos rahasia, markas-markas rahasia dan mesin cetak selebaran seringkali tidak dalam keadaan baik. Di lain pihak, para agen provokator juga menggunakan kesempatan ini untuk melakukan aksi-aksi provokasinya.

Kelemahan-kelemahan seperti ini tidak bisa dihindari jika partai tidak mengorganisasi grup khusus untuk menjalankan pekerjaan ini. Intelejen militer membutuhkan training khusus dan pengetahuan praktis. Untuk itu, kegiatan kontra-intelejen pun membutuhkan hal yang sama dalam menghadapi agen‑agen polisi rahasia.

Sebuah sistem komunikasi rahasia hanya akan berfungsi secara efesien dan handal jika ia telah dioperasikan dalam jangka yang relatif panjang. Untuk menangani aktivitas revolusioner yang khusus ini, setiap Partai Komunis perlu melakukan persiapan, sekecil apa pun itu.

Dalam sejumlah kasus, sistem ini bisa dikerjakan dengan cara‑cara legal, yakni dengan memanfaatkan aparatus-aparatus tertentu, sebagai contoh: aparatus bawah tanah yang mengorganisas1 jasa pelayanan pos dan informasi, transportasi, akomodasi dan semacamnya, bisa kita bangun melalui kerja pendistribusian selebaran-selebaran legal atau melalui hubungan surat menyurat di surat kabar legal.

58. Organisator Komunis harus memperlakukan setiap anggota partai dan pekerja revolusionernya sebagai prajurit militan masa depan yang akan menghadapi pecahnya revolusi. Oleh karenanya, organisator harus menempatkan kaum buruh dalam seksi partai serta memberinya tugas yang akan melatih mereka dalam peranannya di perjuangan dan posisinya di masa depan. Tugas yang diberikan haruslah berdaya guna, yang benar-benar dibutuhkan organisasi, dan bukan sekedar menjadi ajang penempaan yang tidak dimengerti anggota. Yang harus dicamkan adalah bahwa, bagi setiap Partai Komunis, ini merupakan cara persiapannya yang terbaik untuk menghadapi tugas-tugas besar yang menghadang mereka dalam perjuangan finalnya.

ANGGARAN DASAR/ANGGARAN RUMAH TANGGA LIGA KOMUNIS

Kaum Buruh sedunia Bersatu lah!

BAGIAN I: TENTANG LIGA

Pasal 1:

Tujuan dari Liga adalah untuk menggulingkan borjuasi, menegakkan kekuasaan proletariat, menghapuskan masyarakat borjuis lama yang berdiri di atas antagonisme kelas-kelas; dan meletakan dasar/pondasi sebuah masyarakat baru tanpa kelas dan tanpa kepemilikan perseorangan

Pasal 2:

Syarat-syarat keanggotaan diatur sebagai berikut:

a.        Cara hidup dan aktifitas yang berkesesuaian dengan tujuan-tujuan organisasi.

b.       Sanggup mengusung semangat revolusioner dan memiliki keberanian berpropaganda.

c.        Pengakuan dan penerimaan atas Komunisme.

d.       Tidak berpartisipasi dalam segala organisasi dan pergerakan politik anti komunisme; dan wajib memberitahukan segala partisipasi keorganisasian lainnya kepada pimpinan liga.

e.        Tunduk kepada keputusan-keputusan Liga.

f.         Siap menjaga kerahasiaan dan keberadaan segala urusan Liga, lingkaran-lingkaran Poros, Pimpinan Sentral dan Konggres.

 

Pasal 3

Setiap anggota adalah setara dan bersaudara. Berkewajiban untuk saling membantu dalam situasi apapun.

Pasal 4

Setiap anggota menyandang nama organisasi dan menjaga kehormatan Liga.

Pasal 5

Liga diorganisasikan dalam Komunitas-komunitas, Lingkaran-lingkaran, Lingkaran-lingkaran Poros, Pimpinan Sentral dan Konggres.

BAGIAN II: TENTANG KOMUNITAS

Pasal 6

Suatu komunitas terdiri atas paling sedikit 3 (tiga) atau maksimal 20 (dua puluh anggota).

Pasal 7

Tiap komunitas memilih seorang Ketua dan Wakil Ketua. Seorang Ketua Komunitas menyelenggarakan pertemuan dan rapat-rapat; Wakil Ketua menangani persoalan pendanaan dan mewakili Ketua saat yang bersangkutan tidak hadir.

Pasal 8

Penerimaan atas anggota baru dikukuhkan oleh Ketua, dengan didasarkan pada pertimbangan anggota-anggota lainnya dan dengan rekomendasi dari komunitas.

Pasal 9

Antar Komunitas yang lain tidak saling mengetahui; dan juga tidak mengadakan korespondensi (secara perseorangan) di antara mereka.

Pasal 10

Komunitas-komunitas yang ada mengenakan nama/identitas yang berbeda-beda.

Pasal 11

Tiap anggota komunitas yang akan mengubah domisili/tempat kediamannya, harus memberitahukan lebih dulu kepada Ketua Komunitas.

BAGIAN III: TENTANG LINGKARAN

Pasal 12

Sebuah Lingkaran terdiri dari paling sedikit 2 (dua) atau maksimal 10 (sepuluh) buah komunitas.

Pasal 13

Ketua dan Wakil Ketua dari Komunitas-komunitas yang ada membentuk lingkaran-lingkaran. Lingkaran-lingkaran yang ada membentuk sebuah Lingkaran Poros. Lingkaran Poros memilih seorang Presiden. Presiden inilah yang akan menghubungkan komunitas-komunitas yang ada dengan Lingkaran Poros.

Pasal 14

Lingkaran Poros adalah organ eksekutif bagi semua komunitas, yang menaungi Lingkaran-lingkaran yang ada.

Pasal 15

Komunitas-komunitas yang letaknya sedemikian jauh, harus menggabungkan diri dengan Lingkaran yang telah ada; atau membentuk sendiri sebuah Lingkaran yang baru dengan Komunitas-komunitas yang juga berjauhan letaknya.

BAGIAN IV: TENTANG LINGKARAN POROS

 

Pasal 16

Lingkaran-lingkaran yang ada di sebuah negeri atau propinsi, tunduk kepada Lingkaran Poros.

Pasal 17

Pembagian Lingkaran-lingkaran Liga ke dalam Propinsi-propinsi; dan penunjukan Lingkaran Poros dikukuhkan oleh Kongres, melalui pengajuan usulan oleh Pimpinan Sentral.

Pasal 18

Lingkaran Poros adalah institusi tertinggi bagi lingkaran-lingkaran lainnya di dalam sebuah Propinsi. Lingkaran Poros inilah yang menghubunngkan lingkaran-lingkaran yang ada, dengan Pimpinan Sentral.

Pasal 19

Lingkaran-lingkaran yang baru dibentuk, bergabung dengan Lingkaran Poros terdekat.

Pasal 20

Sebuah Lingkaran Poros bertanggung jawab kepada Pimpinan Sentral dan kepada institusi yang tertinggi dalam organisasi, yakni Kongres.

BAGIAN V: TENTANG PIMPINAN SENTRAL

Pasal 21

Pimpinan Sentral adalah organ eksekutif Liga secara keseluruhan. Pimpinan Sentral bertanggungjawab kepada Kongres.

Pasal 22

Pimpinan Sentral setidak-tidaknya terdiri dari 5 (lima) anggota dan dipilih dari Lingkaran Poros, dan keberadaannya ditetapkan dalam Kongres.

Pasal 23

Pimpinan Sentral berhubungan dengan Lingkaran-lingkaran Poros setidaknya tiap 3 (tiga) bulan sekali. Lingkaran-lingkaran Poros memberikan laporan perihal perkembangan secara keseluruhan.

BAGIAN VI: TENTANG PENGATURAN-PENGATURAN UMUM

Pasal 24

Komunitas-Komunitas, Lingkaran-Lingkaran Poros, dan Pimpinan Sentral bertemu setidaknya sekali dalam dua minggu.

Pasal 25

Keanggotaan Lingkaran Poros dan Pimpinan Sentral dipilih setahun sekali, dan dapat dipilih kembali atau diberhentikan setiap saat oleh pemilih-pemilihnya.

Pasal 26

Pemilihan tersebut di atas dilakukan pada bulan September.

Pasal 27

Lingkaran Poros berkewajiban memandu diskusi-diskusi dalam Komunitas agar tetap sesuai dengan tujuan-tujuan Liga.

Pasal 28

Angota-anggota yangbergabung ke dalam liga secara perorangan harus berhubungan dengan Lingkaran Poros, setidaknya satu kali dalam 3 (tiga) bulan; dan mereka juga juga mempunyai kewajiban untuk berhubungan dengan anggota dari komunitasnya sendiri paling tidak sebulan sekali. Tiap Lingkaran berkewajiban membuat laporan tentang distriknya kepada Lingkaran Poros, setidaknya satu kali dalam dua bulan. Sedangkan bagi Lingkaran Poros wajib membuat laporan kepada Pimpinan Sentral minimal satu kali dalam tiap tiga bulan.

Pasal 29

Tiap Pimpinan Liga — dalam berbagai jenjang/tingkatan wajib menjalankan tugas dengan menerapkan patokan-patokan yang mengabdi pada standar keamanan dan efektifitas kerja Liga. Oleh karena itu tiap Pimpinan wajib memberitahukan/mengingatkan struktur Pimpinan di atasnya — perihal patokan-patokan/satndar-standar yang dimaksud di atas — bila dipandang perlu.

BAGIAN VII: TENTANG KONGRES

Pasal 30

Kongres adalah institusi tertingi dalam Liga. Semua usulan untuk pergantian/perubahan AD/ART dikirimkan kepada Pimpinan Sentral, melalui Lingkaran-lingkaran Poros; untuk diterima dalam kongres.

Pasal 31

Tiap Lingkaran mengirimkan satu orang delegasi.

Pasal 32

Bagi tiap Lingkaran yang terbentuk dari keanggotaan perorangan berlaku ketentuan sebagai berikut: Lingkaran yag terdiri dari 30 anggota mengirimkan satu orang delegasi. Bagi Lingkaran yang branggotakan kurang dari 60 orang, mengirim dua orang delegasi. Bagi yang kurang dari 90 mengirim tiga delegasi; demikian seterusnya. Lingkaran yang ada dapat direpresentasikan oleh anggota Liga yang tidak berasal dari lingkaran sendiri. Untuk hal ini, secara khusus, Lingkaran yang bersangkutan harus menyertakan mandat yang terinci bagi delegasinya.

Pasal 33

Kongres diselenggarakan pada bulan Agustus tiap tahunnya. Dalam keadaan mendesak Pimpinan Sentral dapat mengundang sebuah Kongres Luar Biasa.

Pasal 34

Kongres menetapkan keanggotaan Pimpinan Sentral yang akan berlaku sampai dengan tahun berikutnya. Kongres juga menetapkan tempat penyelenggaraan Kongres berikutnya.

Pasal 35

Pimpinan Sentral hadir dalam kongres, namun tidak memiliki hak pilih yang menentukan.

Pasal 36

Kongres akan mengeluarkan Manifesto atas nama Liga.

BAGIAN VIII: PELANGGARAN-PELANGGARAN ORGANISASI

Pasal 37

Siapapun yang melanggar syarat-syarat keanggotaan yang telah diatur dalam pasal 2 akan digeser atau, sesuai dengan berat ringannya pelanggaran. Pemberhentaian tersebut mempersulit seorang bekas anggota, bila ia hendak bergabung kembali kedalam Liga.

Pasal 38

Hanya Kongres yang mensahkan keputusan pemberhentian/ pemecatan.

Pasal 39

Keanggotaan perorangan dapat dibatalkan oleh sebuah Lingkaran atau Komunitas (yang letaknya jauh/terpencil). Proses ini dilanjutkan dengan pemberitahuan segera kepada jajaran yang lebih tinggi. Betapapun hanya Kongres yang berwenang untuk menetapkan pemberhentain/pemecatan.

Pasal 40

Proses penerimaan kembali anggota yang telah diberhentikan di tangani oleh Piminan Sentral, dengan rekomendasi dari Lingkaran.

Pasal 41

Lingkaran poros memberikan pertimbangan atas pelanggaran yang telah dilakukan terhadap Liga. Lingkaran poros juga bertugas mengawasi pelaksanaan sanksi.

Pasal 42

Angota-angota yang telah digeser atau diberhentikan oleh Liga — sebagaimana orang-orang yang dikenakan hukuman pada umumnya — harus diawasi demi kepentingan Liga; dan harus dicegah untuk melakukan tindakan-tindakan yang dapat merugikan Liga.

BAGIAN IX: TENTANG PENDANAAN LIGA

Pasal 43

Kongres menetapkan patokan (yang disesuaikan bagi tiap negeri) atas iuran yang perlu disumbangkan oleh tiap anggota.

Pasal 44

Setengah dari keseluruhan iuran tersebut akan dimaksudkan ke dalam kas Pimpinan Sentral, sedangkan selebihnya akan dialokasikan bagi dana Lingkaran atau komunitas yang besangkutan.

Pasal 45

Dana yang dikumpulkan Pimpinan Sentral dipergunakan untuk:

1. Menutup biaya-biaya korespondensi dan administrasi.

2. Mencetak dan mendistribusikan selebaran-selebaran propaganda.

3. Mengirimkan utusan-utusan Pimpinan Sentral dalam kerja-kerja khusus.

 

Pasal 46

Dana yang dikumpulkan oleh jajaran Pimpinan lokal dipergunakan untuk:

1. Menutup biaya-biaya korespondensi.

2. Mencetak dan mendistribusikan selebaran-selebaran propaganda.

3. Mengirman utusan-utusan bila dipandang perlu.

 

Pasal 47

Komunitas-Komunitas dan Lingkaran-Lingkaran yang tidak menjalankan kewajiban-kewajiban membayar iuran, selama enam bulan berturut-turut; akan menerima pemberitahuan dari Pimpinan Sentral perihal penyingkiran mereka dari Liga.

Pasal 48

Pimpinan Sentral harus menerbitkan laporan perhitungan pengeluaran dan pemasukan Pimpinan Sentral kepada seluruh komunitas; setidak-tidaknya tiga bulan sekali. Pimpinan Sentral harus menyerahkan laporan pertanggungjawaban dan perhitungan berkenaan pengalokasian dana-dana Liga, maupun keadaan keuangan terakhir dari Liga. Tiap penyelahgunaan dana-dana Liga akan dikenakan sanksi yang sangat berat.

Pasal 49

Penyelenggaraan Kongres Luar Biasa maupun pengadaan biaya-biaya diluar dugaan diambil dari sumber-sumber keuangan luar biaya-biaya juga

 

BAGIAN X: TENTANG PENERIMAAN KEANGGOTAAN

Pasal 50

Ketua Komunitas membacakan AD/ART kepada calon-calon anggota (pasal 1 s/d 49). Ketua Komunitas menjelaskannya kepada mereka. Memberikan pembahasan secara singkat dan memberikan penekanan secara khusus perihal kewajiban-kewajiban yang diharapkan dari seorang anggota baru. Kemudian Ketua Komunitas akan mengeluarkan pertanyaan: “Apakah sekarang engkau ingin menjadi anggota Liga?” Bila jawabannya “ya”, Ketua Komunitas akan mengangkat sumpah. Sumpah bahwa yang bersangkutan akan memenuhi kewajiban-kewajiban sebagai anggota Liga, kemudian Ketua akan mensyahkan keanggotaannya ke dalam Liga. Dan akan memperkenalkannya kepada Komunitas yang bersangkutan pada pertemuan berikutnya.

 

London, 8 Desember, 1847

Atas nama Kongres Kedua Liga Komunis yang diselenggarakan pada musim gugur tahun 1847.

 

Sekretaris                                                                     Presiden

Tertanda                                                                      Tertanda

Engels                                                                          Karl  Schapper

Manifesto Partai Komunis

Pendahuluan

 

Kata pengantar pada penerbitan tahun 1948

Manifesto Partai Komunis adalah hasil pekerjaan bersama antara Karl Marx dan Frederick Engels, dua guru besar dalam ilmu Sosialisme dan pemimpin pergerakan kaum buruh modern. Manuskrip Manifesto ini dikirimkan ke percetakan di London bulan Januari 1848, beberapa minggu sebelum meletus Revolusi Perancis tanggal 24 Februari 1848. Manuskripnya ditulis dalam bahasa Jerman yang kemudian segera terjemahannya diterbitkan dalam bahasa Perancis, Inggeris, Denmark, Polandia dan bahasa- bahasa lainnya.

Tahun 1948 ini tepat seratus tahun usia Manifesto Partai Komunis. Selama seratus tahun ini umat manusia telah mengalami perubahan-perubahan yang amat besar. Selama seratus tahun ini manusia telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Ratusan juta manusia sudah mulai menginjak alam penghidupan baru yang bersendi pada Sosialisme. Pergerakan buruh sedunia makin erat persatuannya dan bersama-sama maju menuju dunia baru.

Seratus tahun sudah umur Manifesto Partai Komunis, tetapi hingga saat ini isinya masih tetap hangat. Malahan, justru sekarang makin terbukti, betapa benar dan tepat isi Manifesto ini. Uraian Marx dan Engels bahwa kaum buruh akan mencapai tingkatan yang lebih tinggi sehingga dapat meruntuhkan sistem kapitalisme yang sudah lapuk itu sudah mulai diwujudkan. Pergerakan buruh modern sekarang sudah lebih meluas dan mendalam sehingga seluruh kekuasaan imperialis makin terancam olehnya. Isi Manifesto ini sudah mulai diwujudkan di Negara Soviet Uni, di mana sistem Sosialisme sudah menjadi kenyataan. Di beberapa negeri di Eropa, maupun di Asia, Rakyat pekerja sudah mulai berkuasa di bawah pimpinan-kaum buruh.

Memang sudah sepatutnya Manifesto Partai Komunis diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sudah pernah terbit terjemahannya dalam bahasa Indonesia, yaitu pada tahun 1924. Mula-mula diterjemahkan oleh Saudara Partondo dan kemudian oleh seorang yang memakai nama A. Zain. Penerbitan ini mendapat sambutan yang luar biasa dari Rakyat Indonesia pada umumnya.

Di zaman penjajahan fasis Jepang, Manifesto Partai Komunis telah diterjemahkan oleh beberapa pemuda yang bekerja di bawah tanah dan terjemahannya disiarkan secara gelap.

Walaupun demikian terjemahan-terjemahan itu belum dapat dipandang memadai. Kemudian dalam zaman Republik terbit lagi beberapa terjemahan dalam bahasa Indonesia. Pun terjemahan-terjemahan ini belum dapat kami pandang memenuhi syarat-syaratnya. Sekarang tepat ulang tahun Manifesto Partai Komunis yang keseratus kali, Departemen A. Prop. C.C. Partai Komunis Indonesia telah berusaha dan berhasil membuat terjemahan baru.

Usaha penerjemahan ini diserahkan pada sebuah Komisi Penerjemah yang dibentuk pada awal Januari 1948, terdiri dari saudara-saudara D. N. Aidit, M. H. Lukman, A. Havil [i], P. Pardede dan Nyoto.

Terjemahan ini adalah dari Manifesto of the Communist Party, dalam bahasa Inggeris, yang telah disahkan oleh Marx-Engels-Lenin Institute di Moskow keluaran International Bookshop Pty. Ltd., Melbourne, edisi kedua. Untuk menyempurnakan terjemahan ini, digunakan juga terjemahan-terjemahan dalam bahasa Belanda dan Indonesia. Terjemahan yang sekarang disajikan kepada pembaca telah diperiksa dengan seteliti-telitinya. Kami harapkan dapatlah terjemahan kali ini memenuhi syarat-syaratnya.

Untuk penerbitan selanjutnya tiap-tiap kritik sangat kami hargakan dari siapa pun juga.

Inilah sumbangan kami pada hari 1 Mei 1948, ialah hari besar Rakyat pekerja yang dirayakan pada ulang tahun yang keseratus kali daripada Manifesto Partai Komunis.

Yogyakarta, 1 Mei 1948.

 

[i] A. Havil kemudian ternyata tidak setia pada PKI, dan akhirnya dipecat.

 

Pendahuluan pada edisi Jerman tahun 1872

Liga Komunis, [2] suatu perhimpunan internasional kaum buruh yang sudah tentu hanya dapat merupakan suatu perhimpunan rahasia dalam keadaan yang berlaku pada waktu itu, dalam Kongres yang diadakan di London pada bulan November 1847, telah menugaskan yang bertanda tangan di bawah ini supaya menyusun suatu program Partai, yang secara teori dan praktek terperinci, untuk diterbitkan. Begitulah asalnya Manifesto yang berikut ini, yang manuskripnya dibawa ke London untuk dicetak beberapa minggu sebelum Revolusi Februari. [ii] Mula-mula Manifesto ini diterbitkan dalam bahasa Jerman, kemudian diterbitkan lagi dalam bahasa itu sekurang-kurangnya dalam dua belas macam edisi di Jerman, Inggeris dan Amerika. Dalam bahasa Inggeris untuk pertama kalinya Manifesto ini diterbitkan pada tahun 1850 dalam majalah Red Republican, London, diterjemahkan oleh Nona Helen Macfarlane, dan dalam tahun 1871 sekurang-kurangnya dalam tiga macam terjemahan diterbitkan di Amerika. Terjemahannya dalam bahasa Perancis terbit untuk pertama kalinya di Paris tidak lama sebelum pemberontakan bulan Juni 1848, dan baru-baru ini di dalam majalah Le Socialiste di New York. Terjemahan baru sedang dipersiapkan. Terjemahan dalam bahasa Polandia terbit di London tak lama sesudah penerbitan pertama dalam bahasa Jerman. Terjemahan dalam bahasa Rusia diterbitkan di Jenewa dalam tahu enam puluhan. Diterjemahkan juga ke dalam bahasa Denmark tak lama sesudah Manifesto ini diterbitkan untuk pertama kalinya.

Bagaimanapun juga banyak keadaan mungkin telah berubah selama dua puluh lima tahun belakangan ini, prinsip-prinsip umum yang ditetapkan dalam Manifesto ini, dalam keseluruhannya, sekarang masih tetap tepat sebagai sediakala. Di sana-sini mungkin beberapa detailnya dapat diperbaiki. Pengenaan prinsip-prinsip itu dalam praktek akan bergantung sebagai yang dinyatakan oleh Manifesto ini sendiri, di mana saja dan bilamana saja, kepada syarat-syarat sejarah yang berlaku untuk sementara waktu itu, dan oleh karena itu tidak diberikan tekanan istimewa pada tindakan-tindakan revolusioner yang diusulkan pada akhir Bab II. Bagian itu sekarang, dalam banyak hal, tentu akan dinyatakan dengan kata-kata yang sangat berlainan. Mengingat akan langkah raksasa Industri Modern selama dua puluh lima tahun belakangan ini dan perbaikan serta perluasan organisasi partai kelas buruh yang menyertainya, mengingat akan pengalaman praktek yang telah didapat, mula-mula dalam Revolusi Februari, dan kemudian lebih-lebih lagi dalam Komune Paris, kaum proletariat untuk pertama kalinya memegang kekuasaan politik selama dua bulan penuh, program ini dalam beberapa detailnya telah menjadi usang. Satu hal yang terutama telah dibuktikan oleh Komune, yaitu bahwa kelas buruh tidak dapat hanya merebut alat-alat negara yang telah ada dan mempergunakannya untuk maksud-maksudnya sendiri. (Lihat Perang Dalam Negeri di Perancis; Pidato Dewan Umum Perhimpunan Buruh Internasional, London, Truelove, 1871, hlm. 15, dimana hal ini lebih dikembangkan). [iii] Selanjutnya sudah dengan sendirinya, bahwa kritik mengenai literatur sosialis tidak mencukupi untuk sekarang, karena ia hanya sampai pada tahun 1847; juga bahwa pendapat-pendapat mengenai hubungan kaum Komunis dengan berbagai partai oposisi (Bab IV), biarpun pada prinsipnya masih tepat, tetapi dalam prakteknya sudah usang, sebab situasi politik telah berubah sama sekali dan kemajuan sejarah telah menyapu bersih dari bumi ini sebagian tebesar dari partai-partai politik yang disebutkan di dalamnya.

Namun, Manifesto ini telah menjadi dokumen yang bersejarah, yang untuk mengubahnya kami tidak mempunyai hak apa pun lagi. Edisi yang berikutnya mungkin terbit dengan pengantar yang akan menjembatani jurang dari tahun 1847 sampai sekarang; cetakan-ulangan ini tidak disangka-sangka sama sekali, sehingga tidak ada waktu bagi kami untuk mengerjakan itu.

Karl Marx, Friedrich Engels
London, 24 Juni 1872

 

[ii] Revolusi Februari di Perancis, thn. 1848

[iii] K. Marx dan F. Engels, Pilihan Karya, edisi Inggris dua jilid. Jilid 1, Moskow, hlm. 473 dst.

 

Pendahuluan pada edisi Rusia tahun 1882

Edisi Rusia yang pertama dari Manifesto Partai Komunis, terjemahan Bakunin, diterbitkan pada permulaan tahun-tahun enam puluhan [iv] oleh percetakan Kolokol. [3] Ketika itu dunia Barat hanya dapat memandangnya (edisi Rusia Manifesto) sebagai suatu keanehan dalam literatur. Pandangan yang semacam itu sekarang tidak akan mungkin.

Bagaimana masih terbatasnya lapangan gerakan proletar pada waktu itu (Desember 1847) dengan sejelas-jelasnya ditunjukkan oleh bab terakhir dalam Manifesto: pendirian kaum Komunis dalam hubungan dengan berbagai partai oposisi di berbagai negeri. Justru Rusia dan Amerika Serikatlah yang tidak disebutkan di sini. Waktu itu ialah ketika Rusia merupakan cadangan besar terakhir dari semua reaksi Eropa, ketika Amerika Serikat menyerap kelebihan tenaga proletar Eropa dengan jalan imigrasi. Kedua negeri itu menyediakan bahan-bahan mentah untuk Eropa dan juga menjadi pasar untuk penjualan hasil-hasil produksinya. Oleh karena itu, pada waktu itu, bagaimanapun juga, kedua-duanya adalah tiang penyangga sistem yang berlaku di Eropa.

Alangkah bedanya sekarang ini! Justru imigrasi orang-orang Eropa telah menjadikan Amerika Utara cocok untuk produksi pertanian raksasa yang persaingannya menggoncangkan dasar-dasar milik tanah di Eropa besar dan kecil. Di samping itu ia memungkinkan Amerika Serikat untuk mengeksploitasi sumber-sumber industrinya yang maha besar dengan kegiatan serta ukuran yang dalam tempo singkat mesti mematahkan monopoli industri Eropa Barat, dan terutama Inggeris, yang berlaku sampai sekarang. Kedua-dua keadaan ini bereaksi secara revolusioner terhadap Amerika sendiri. Selangkah demi selangkah hak milik tanah kecil dan sedang dari kaum tani yang menjadi dasar seluruh susunan politik Amerika, kalah karena persaingan pertanian-pertanian raksasa; bersamaan dengan itu massa proletariat dan konsentrasi kapital yang menakjubkan berkembang untuk pertama kalinya di daerah-daerah industri.

Dan sekarang Rusia! Selama revolusi tahun 1848-1849 bukan saja raja-raja di Eropa, tetapi juga borjuis Eropa menemukan pada intervensi Rusia jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri dari proletariat yang pada waktu itu baru saja mulai bangun. Tsar diumumkan sebagai pemimpin reaksi Eropa. Sekarang dia menjadi tawanan perang revolusi di Gatchina, dan Rusia merupakan pelopor aksi revolusioner di Eropa.

Tujuan Manifesto Komunis ialah memproklamsikan bahwa milik borjuis modern tidak boleh tidak bakal lenyap. Tetapi di Rusia, berhadap-hadapan dengan penipuan kapitalis yang berkembang cepat dan milik tanah borjuis yang baru mulai berkembang, kita dapati lebih dari separuh luas tanah dimiliki bersama oleh kaum tani. Sekarang soalnya ialah: dapatkah obshchina [v] Rusia, sekalipun sudah sangat digerogoti tetapi adalah bentuk hak milik bersama yang primitif atas tanah, langsung beralih ke bentuk yang lebih tinggi dari hak milik bersama secara Komunis? Atau sebaliknya, haruskah menjalani dahulu proses kehancuran yang sama seperti yang terwujud sebagai evolusi sejarah di Barat?

Satu-satunya jawaban yang mungkin sekarang ini ialah: Jika Revolusi Rusia menjadi isyarat untuk revolusi proletar di Barat, sehingga kedua-duanya saling melengkapi, maka hak milik bersama atas tanah di Rusia yang sekarang, dapat dijadikan titik tolak untuk perkembangan secara Komunis.

Karl Marx, F. Engels
London, 21 Januari 1882

 

[iv]. Edisi yang dimaksudkan itu terbit dalam tahun 1869. Dalam Pendahuluan Engels pada Edisi Inggeris tahun 1888, tanggal terbitnya terjemahan Manifesto dalam bahasa Rusia tsb. salah (lihat hlm. 27).

[v]. Obshchina: persekutuan-hidup desa.

 

Pendahuluan pada edisi Jerman tahun 1883

Pendahuluan pada edisi yang sekarang ini, sungguh sayang, harus saya tanda tangani sendiri. Marx, yang kepadanya seluruh kelas buruh Eropa dan Amerika berhutang budi lebih daripada kepada siapa pun juga — telah beristirahat untuk selama-lamanya di Pekuburan Highgate, dan di atas makamnya telah mulai tumbuh rumput yang pertama. [4] Sejak wafatnya, maka makin sedikit lagi pikiran yang bisa ada untuk memeriksa kembali atau menambah isi Manifesto ini. Terlebih-lebih saya anggap perlu menyatakan sekali lagi di sini yang berikut ini dengan tegas:

Pikiran pokok yang meresapi seluruh Manifesto–bahwa produksi ekonomi dan susunan masyarakat setiap zaman sejarah yang tidak boleh tidak mesti timbul darinya, merupakan dasar sejarah politik dan intelek zaman itu; bahwa oleh karena itu (sejak hancurnya hak milik bersama primitif atas tanah) seluruh sejarah adalah sejarah perjuangan kelas, sejarah perjuangan antara kelas yang dihisap dengan yang menghisap, antara kelas yang dikuasai dengan yang menguasai dalam berbagai tingkat perkembangan masyarakat; tetapi bahwa perjuangan ini sekarang telah mencapai suatu tingkat di mana kelas yang dihisap dan ditindas (proletariat) tak dapat lagi membebaskan dirinya dari kelas yang menghisap dan menindasnya (borjuasi), tanpa bersamaan dengan itu membebaskan untuk selama-lamanya seluruh masyarakat dari penghisapan, penindasan dan perjuangan antara kelas–pikiran pokok ini semata-mata hanyalah dari Marx sendiri. [vi]

Saya telah berulang-ulang menyatakan ini; tetapi justru sekaranglah perlu menaruhkannya juga di muka Manifesto ini sendiri.

F. Engels
London, 28 Juni 1883

 

[vi]. “Dalil ini,” saya tulis dalam kata pendahuluan pada terjemahan Inggris, “yang menurut pendapat saya tentu akan berbuat untuk sejarah, apa yang oleh teori Darwin telah diperbuat untuk biologi, kami berdua berangsur-angsur mendekatinya selama beberapa tahun sebelum tahun 1845. Sampai ke mana saya bersendiri telah maju ke arah itu, ini ditunjukkan, sebaik-baiknya oleh karangan saya ‘Keadaan Kelas Buruh di Inggris.’ Tetapi ketika saya bertemu lagi dengan Marx di Brussel dalam musim semi tahun 1845, ternyata ia telah selesai menyusunnya dan mengemukakannya kepada saya, dengan kata-kata yang hampir sama jelasnya dengan yang saya nyatakan di sini.” (Keterangan oleh Engels pada edisi Jerman tahun 1890).

 

Pendahuluan pada edisi Inggeris tahun 1888

Manifesto ini telah diterbitkan sebagai program “Liga Komunis,” suatu perhimpunan kaum buruh, yang mula-mula semata-mata suatu perhimpunan Jerman, kemudian menjadi perhimpunan internasional dan dalam keadaan politik di Eropa sebelum tahun 1848 tak dapat tidak merupakan perhimpunan rahasia. Dalam suatu Kongres Liga itu yang diadakan di London pada bulan November 1847, Marx dan Engels ditugaskan mempersiapkan suatu program partai yang secara teori dan praktek lengkap, untuk diterbitkan. Manuskripnya yang disusun dalam bahasa Jerman, pada bulan Januari 1848 dikirimkan ke percetakan di London beberapa minggu sebelum revolusi Perancis tanggal 24 Februari. Terjemahan dalam bahasa Perancis diterbitkan di Paris tak lama sebelum pemberontakan bulan Juni 1848. Terjemahan dalam bahasa Inggris yang pertama oleh Nona Helen Macfarlane dimuat dalam majalah Red Republican kepunyaan George Julian Harney di London pada tahun 1850. Edisi dalam bahasa Denmark dan Polandia pun telah diterbitkan.

Kekalahan pemberontakan Paris bulan Juni 1848–pertempuran besar yang perama-tama antara proletariat dengan borjuasi–mendesak lagi ke belakang untuk sementara waktu cita sosial dan politik dari kelas buruh Eropa. Sejak itu perjuangan merebut kekuasaan tertinggi, sebagaimana halnya sebelum Revolusi Februari, kembali lagi hanyalah di antara berbagai golongan dari kelas yang berpunya saja; kelas buruh terpaksa mundur ke perjuangan untuk mendapatkan kelonggaran politik dan ke kedudukan sayap ekstrem dari kaum Radikal kelas tengah. Dimana saja gerakan-gerakan proletar yang merdeka terus menunjukkan tanda hidupnya, gerakan-gerakan itu dengan kejam diburu-buru. Begitulah polisi Prusia mengejar-ngejar Dewan Pusat Liga Komunis yang ketika itu bertempat di Cologne. Anggota-anggotanya ditangkap, dan sesudah dipenjarakan 18 bulan, mereka diadili dalam bulan Oktober 1852. “Pemeriksaan-pengadilan Komunis Cologne” yang termasyhur ini berlangsung dari tanggal 4 Oktober hingga tanggal 12 November; tujuh orang dari mereka dihukum penjara di dalam sebuah benteng, masing-masing antara tiga sampai enam tahun. Segera sesudah dijatuhkan hukuman itu, maka Liga dengan resmi dibubarkan oleh anggota-anggotanya yang masih tinggal. Adapun Manifesto ini, sejak itu seakan-akan dilupakan orang sama sekali.

Ketika kelas buruh Eropa telah memperoleh kembali kekuatan yang cukup untuk melakukan serangan lagi terhadap kelas-kelas yang berkuasa, lahirlah Perhimpunan Buruh Internasional. [5] Tetapi perhimpunan ini yang dibentuk dengan maksud khusus untuk memadukan seluruh proletariat yang militan dari Eropa dan Amerika ke dalam satu badan, tak dapat dengan segera memproklamasikan prinsip-prinsip yang ditetapkan di dalam Manifesto. Internasionale itu harus mempunyai program yang cukup luas supaya dapat diterima oleh Serikat-serikat buruh Inggeris, oleh pengikut-pengikut Proudhon [6] di Perancis, Belgia dan Spanyol, dan oleh pengikut-pengikut Lassalle [vii] di Jerman. Marx yang telah menyusun program ini sehingga memuaskan semua pihak, percaya sepenuhnya kepada perkembangan intelek kelas buruh yang tentu timbul dari aksi bersama dan saling berdiskusi. Kejadian-kejadian perjuangan dan berganti-ganti kalah-menangnya perjuangan itu sendiri melawan Kapital, kemenangan dan lebih-lebih lagi kekalahan-kekalahan, tidak boleh tidak menginsyafkan manusia akan tidak cukupnya berbagai obat dukun yang mereka sukai dan mempersiapkan jalan untuk memperoleh pandangan yang lebih sempurna tentang syarat-syarat yang sesungguhnya dari pembebasan kelas buruh. Dan Marx benar. Internasionale, pada saat bubarnya dalam tahun 1874, meninggalkan kaum buruh. sangat berlainan dengan yang didapatinya dalam tahun 1864. Proudhonisme di Perancis, Lassalleanisme di Jerman, menuju kematiannya, dan bahkan Serikat-serikat buruh Konservatif Inggris, walaupun sebagian besar dari mereka telah sejak lama memutuskan hubungannya dengan Internasionale, berangsur-angsur maju ke arah titik di mana Ketua mereka pada tahun yang lalu di Swansea dapat mengatakan atas nama mereka “Sosialisme Daratan Eropa sudah tidak menakutkan lagi bagi kita.” Sesungguhnya prinsip-prinsip Manifesto ini telah mendapat kemajuan yang besar di kalangan kaum buruh di semua negeri.

Dengan demikian Manifesto ini sendiri tampil ke muka lagi. Sejak tahun 1850 teks dalam bahasa Jerman telah beberapa kali dicetak di Swiss, Inggeris dan Amerika. Pada tahun 1872 teks itu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris di New York, dan di sana terjemahan itu dimuat dalam Mingguan Woodhull and Claflin. Dari terjemahan bahasa Inggeris ini dibuat lagi salinannya dalam bahasa Perancis dalam majalah Le Socialiste di New York. Sejak itu sekurangnya dua terjemahan lagi dalam bahasa Inggeris, yang banyak sedikitnya bercacat, telah diterbitkan di Amerika dan satu di antaranya telah dicetak lagi di Inggeris. Terjemahan dalam bahasa Rusia yang pertama, dikerjakan oleh Bakunin [7] diterbitkan oleh kantor “Kolokol” kepunyaan Herzen [8] di Jenewa kira-kira pada tahun 1863; yang kedua oleh Vera Zasulich [viii] yang perwira itu, juga di Jenewa dalam tahun 1882. Suatu edisi Denmark yang baru terdapat pada Social-demokratisk Bibliothek, Kopenhagen, 1885; terjemahan yang baru dalam bahasa Perancis dimuat dalam Le Socialiste di Paris pada tahun 1885. Dari yang kemudian itu suatu terjemahan dalam bahasa Spanyol telah disiapkan dan diterbitkan di Madrid pada tahun 1886. Cetakan-ulangan dalam bahasa Jerman tak dapat dihitung banyaknya, sekurang-kurangnya semuanya telah ada dua belas. Terjemahan dalam bahasa Armenia yang semestinya akan diterbitkan di Istambul beberapa bulan yang lalu: tidak jadi diterbitkan, menurut yang disampaikan kepada saya, karena penerbitnya takut menerbitkan buku. yang memakai nama Marx, sedang penerjemahnya tidak mau menyebutnya sebagai hasil pekerjaannya sendiri. Tentang terjemahan-terjemahan selanjutnya ke dalam bahasa-bahasa lainnya ada saya mendengar, tetapi belum saya melihatnya. Jadi sejarah Manifesto mencerminkan sebagian besar dari sejarah gerakan kelas buruh modern; sekarang ini tak dapat disangkal lagi ia adalah suatu penemuan yang paling luas-tersebar, yang paling internasional di antara segala literatur Sosialis, program bersama yang diakui oleh berjuta-juta kaum buruh dari Siberia sampai ke Kalifornia.

Sekalipun demikian, ketika ia ditulis, kita tidak akan dapat menamakannya Manifesto Sosialis. Dengan kaum Sosialis, dalam tahun 1847, dimaksudkan, pada satu-pihak, pengikut-pengikut berbagai sistem Utopia: kaum Owenis [9] di Inggeris, kaum Fourieris [10] di Perancis, yang kedua-duanya telah merosot menjadi hanya sekte saja, dan berangsur-angsur menuju kematiannya; dan di pihak lain tukang-tukang jual koyok kemasyarakatan yang sangat banyak corak ragamnya itu, yang dengan segala cara kerja tambal sulam mengaku hendak menyembuhkan segala macam penderitaan sosial tanpa sedikitpun membahayakan kapital dan laba, dalam kedua hal itu mereka adalah orang-orang di luar gerakan kelas-buruh dan lebih suka mengharapkan bantuan dari kelas “terpelajar.” Golongan manapun dari kelas buruh yang telah menjadi yakin akan tidak cukupnya revolusi-revolusi politik saja, dan telah menyatakan perlunya perubahan sosial seluruhnya, golongan itu pada waktu itu menamakan dirinya Komunis. Ini adalah macam Komunisme yang mentah, kasar, dan semata-mata naluriah; namun, ia mengenai hal pokoknya dan cukup kuat di kalangan kelas buruh untuk menimbulkan Komunisme Utopia dari Cabet di Perancis dan dari Weitling di Jerman. [11] Jadi pada tahun 1847, Sosialisme adalah gerakan kelas tengah, Komunisme adalah gerakan kelas buruh. Di Daratan Eropa setidak-tidaknya, Sosialisme “terhormat,” Komunisme justru sebaliknya. Dan karena menurut paham kami sejak dari semula ialah bahwa “pembebasan kelas buruh haruslah tindakan kelas buruh sendiri,” maka tidak akan ada keraguan lagi nama mana di antara dua nama itu yang harus kita pilih. Tambahan pula sejak itu kita jauh daripada menolak nama itu.

Karena Manifesto ini adalah hasil pekerjaan kami bersama, saya merasa wajib untuk menerangkan bahwa dalil yang menjadi intinya berasal dari Marx. Dalil itu ialah: bahwa dalam setiap zaman sejarah, cara produksi ekonomi dan pertukaran yang sedang berlaku dan organisasi kemasyarakatan yang mesti timbul darinya merupakan dasar yang di atasnya terbangun, dan yang hanya dari situ dapat diterangkan, sejarah politik dan intelek zaman itu; bahwa oleh karena itu seluruh sejarah umat manusia (sejak lenyapnya masyarakat kesukuan primitif, yang memiliki tanah dengan hak milik bersama) adalah sejarah perjuangan kelas, pertandingan antara kelas yang menghisap dengan yang dihisap, antara kelas yang memerintah dengan kelas yang ditindas; bahwa sejarah perjuangan kelas ini merupakan serangkaian evolusi yang di dalamnya, pada masa ini, telah tercapai suatu tingkat di mana kelas yang dihisap dan ditindas–proletariat–tidak dapat mencapai kebebasannya dari kekuasaan kelas yang menghisap dan memerintah–borjuasi–tanpa bersamaan dengan itu dan untuk selama-lamanya membebaskan masyarakat seluruhnya dari segala penghisapan, penindasan, perbedaan kelas dan perjuangan kelas.

Dalil ini, yang menurut pendapat saya tentu akan berbuat untuk sejarah apa yang oleh teori Darwin telah diperbuat untuk biologi kami berdua berangsur-angsur mendekatinya selama beberapa tahun sebelum tahun 1845. Sampai ke mana saya bersendiri telah maju ke arah itu, ini ditunjukkan sebaik-baiknya oleh karangan saya Keadaan Kelas Buruh Di Inggeris. [ix] Tetapi ketika saya bertemu lagi dengan Marx di Brussel dalam musim semi tahun 1845, ternyata ia telah selesai menyusunnya dan mengemukakannya kepada saya, dengan kata-kata yang hampir sama jelasnya dengan yang saya nyatakan di sini.

Dari kata pendahuluan kami bersama pada edisi Jerman tahun 1872 saya kutipkan yang berikut:

“Bagaimanapun juga banyak keadaan mungkin telah berubah selama dua puluh lima tahun belakangan ini, prinsip-prinsip umum yang ditetapkan dalam Manifesto ini, dalam keseluruhannya, sekarang masih tetap tepat sebagai sediakala. Di sana-sini mungkin beberapa detailnya dapat diperbaiki. Pengenaan prinsip-prinsip itu dalam praktek akan bergantung, sebagai yang dinyatakan oleh Manifesto ini sendiri, di mana saja dan bilamana saja, kepada syarat-syarat sejarah yang berlaku untuk sementara waktu itu, dan oleh karena itu tidak diberikan tekanan istimewa pada tindakan-tindakan revolusioner yang diusulkan pada akhir Bab II. Bagian itu sekarang, dalam banyak hal, tentu akan dinyatakan dengan kata-kata yang sangat berlainan. Mengingat akan langkah raksasa Industri Modern sejak tahun 1848 dan perbaikan serta peluasan, organisasi kelas buruh yang menyertainya, [x] mengingat akan pengalaman praktek yang telah didapat, mula-mula dalam Revolusi Februari, dan kemudian lebih-lebih lagi dalam Komune Paris, di mana proletariat untuk pertama kalinya memegang kekuasaan politik selama dua bulan penuh, program ini dalam beberapa detailnya telah menjadi usang. Satu hal yang terutama telah dibuktikan oleh Komune, yaitu bahwa “kelas buruh tidak dapat hanya merebut alat-alat negara yang telah ada dan mempergunakannya untuk maksud-maksudnya sendiri,” (Lihat Perang Dalam Negeri di Perancis; Pidato Dewan Umum Perhimpunan Buruh Internasional, London, Truelove, 1871, hlm. 15, [xi] di mana hal ini lebih dikembangkan). Selanjutnya sudah dengan sendirinya, bahwa kritik mengenai literatur sosialis tidak mencukupi untuk sekarang, karena ia hanya sampai pada tahun 1847; juga bahwa pendapat-pendapat mengenai hubungan dengan kaum Komunis dengan berbagai partai oposisi (Bab IV), biarpun pada prinsipnya masih tepat, tetapi dalam prakteknya sudah usang, sebab situasi politik telah berubah sama sekali dan kemajuan sejarah telah menyapu bersih dari bumi ini sebagian terbesar dari partai-partai politik yang disebutkan di dalamnya.

“Namun, Manifesto ini telah menjadi dokumen yang bersejarah, yang untuk mengubahnya kami tidak mempunyai hak apa pun lagi.”

Terjemahan yang sekarang ini ialah oleh Tuan Samuel Moore, penerjemah sebagian terbesar dari Kapital Marx. Kami telah bersama-sama memeriksanya kembali dan saya telah menambah beberapa keterangan yang menjelaskan kiasan sejarah.

Friedrich Engels
London, 30 Januari 1888

 

[vii]. Lassalle pribadi, kepada kami, selalu mengaku dirinya sebagai murid Marx, dan oleh karena itu berdiri di atas dasar Manifesto. Tetapi dalam agitasinya–di muka umum, tahun 1862-1864, ia menuntut tidak lebih jauh daripada bengkel koperasi yang disokong oleh kredit Negara. (Keterangan oleh Engels).

[viii]. Vera Zasulich (1849-1919), menembak gubernur Petersburg yang kejam dalam tahun 1878. Belakangan menjadi anggota organisasi Marxis Rusia yang pertama, yaitu Grup untuk Pembebasan Buruh (1883). Sebenarnya penerjemahnya adalah Plekhanov. Dalam keterangan tambahan pada artikel Hubungan-Hubungan Sosial di Rusia, yang dimuat dalam Internationales aus dem Volkstaat (1871-1875), Berlin 1894, Engels sendiri mengatakan bahwa terjemahan ini adalah terjemahan Plekhanov. – Red.

[ix]. Keadaan Kelas Buruh Di Inggeris Dalam Tahun 1844. Oleh Friedrich Engels. Diterjemahkan oleh Florence K. Wishnewetzky, New York, Lovell. W. Reeven. 1888. (Keterangan oleh Engels).

[x]. Dalam aslinya yang berbahasa Jerman tahun 1872 kata-kata ini disusun sedikit berbeda. Bandingkan dengan hlm. 13 dalam edisi sekarang ini. – Red.

[xi]. K. Marx dan F. Engels, Pilihan Karya, edisi Inggris Dua-Jilid, Jilid I, Moskow 1958, hlm. 473. – Red.

 

Pendahuluan pada edisi Jerman tahun 1890

Sejak, yang tersebut di atas ditulis, [xii] suatu edisi Jerman yang baru dari Manifesto ini diperlukan lagi, dan banyak juga yang telah terjadi berkenaan dengan Manifesto yang harus dicantumkan di sini.

Terjemahan kedua dalam bahasa Rusia–oleh Vera Zasulich–terbit di Jenewa dalam tahun 1882: pendahuluan pada edisi itu ditulis oleh Marx dan saya sendiri. Celakanya, manuskrip aslinya yang berbahasa Jerman telah hilang; oleh karena itu, saya harus menerjemahkannya kembali dari bahasa Rusia, yang tentu tidak akan membawa perbaikan pada teks itu. [xiii] Bunyinya:

“Edisi Rusia yang pertama dari Manifesto Partai Komunis, terjemahan Bakunin, diterbitkan pada permulaan tahun-tahun enam puluhan oleh percetakan Kolokol. Ketika itu dunia Barat hanya dapat memandangnya (edisi Rusia Manifesto) sebagai suatu keanehan dalam literatur. Pandangan yang semacam itu sekarang tidak akan mungkin.”

“Bagaimana masih terbatasnya lapangan gerakan proletar pada waktu itu (Desember 1847) dengan sejelas-jelasnya ditunjukkan oleh bab terakhir dalam Manifesto: pendirian kaum Komunis dalam hubungan dengan berbagai partai oposisi di berbagai negeri. Justru Rusia dan Amerika Serikatlah yang tidak disebutkan di sini. Waktu itu ialah ketika Rusia merupakan cadangan besar terakhir dari semua reaksi Eropa, ketika Amerika Serikat menyerap kelebihan tenaga proletar Eropa dengan jalan imigrasi. Kedua negeri itu menyediakan bahan-bahan mentah untuk Eropa dan juga menjadi pasar untuk penjualan hasil-hasil produksinya. Oleh karena itu, pada waktu itu, bagaimanapun juga, kedua-duanya adalah tiang penyangga sistem yang berlaku di Eropa.”

“Alangkah bedanya sekarang ini! Justru imigrasi orang-orang Eropa telah menjadikan Amerika Utara cocok untuk produksi pertanian raksasa, yang persaingannya menggoncangkan dasar-dasar milik tanah di Eropa besar dan kecil. Di samping itu ia memungkinkan Amerika Serikat untuk rnengeksploitasi sumber-sumber industrinya yang maha besar dengan kegiatan serta ukuran yang dalam tempo singkat mesti mematahkan monopoli industri Eropa Barat, dan terutama Inggris, yang berlaku sampai sekarang. Kedua-dua keadaan ini bereaksi secara revolusioner terhadap Amerika sendiri. Selangkah demi selangkah hak milik tanah kecil dan sedang dari kaum tani yang menjadi dasar seluruh susunan politik Amerika, kalah karena persaingan pertanian-pertanian raksasa; bersamaan dengan itu massa proletariat dan konsentrasi kapital yang menakjubkan berkembang untuk pertama kalinya di daerah-daerah industri.”

“Dan sekarang Rusia! Selama Revolusi tahun 1848-1849 bukan saja raja-raja di Eropa, tetapi juga borjuis Eropa menemukan pada intervensi Rusia jalan satu-satunya untuk menyelamatkan diri dari proletariat, yang pada waktu itu baru saja mulai bangun. Tsar diumumkan sebagai pemimpin reaksi Eropa. Sekarang dia menjadi tawanan perang revolusi di Gatchina, dan Rusia merupakan pelopor aksi revolusioner di Eropa.”

“Tujuan Manifesto Komunis ialah memproklamasikan bahwa milik borjuis modern tidak boleh tidak bakal lenyap. Tetapi di Rusia, berhadap-hadapan dengan penipuan kapitalis yang berkembang cepat dan milik tanah borjuis yang baru mulai berkembang, kita dapati lebih dari separuh luas tanah dimiliki bersama oleh kaum tani. Sekarang soalnya ialah : dapatkah obshchina Rusia, sekalipun sudah sangat digerogoti tetapi adalah bentuk hak milik bersama yang primitif atas tanah, langsung beralih ke bentuk yang lebih tinggi dari hak milik bersama secara Komunis? Atau sebaliknya, haruskah menjalani dahulu proses kehancuran yang sama seperti yang terwujud sebagai evolusi sejarah di Barat?”

“Satu-satunya jawaban yang mungkin sekarang ini ialah : Jika Revolusi Rusia menjadi isyarat untuk revolusi proletar di Barat, sehingga kedua-duanya saling melengkapi, maka hak milik bersama atas tanah di Rusia yang sekarang dapat dijadikan titik tolak untuk perkembangan secara Komunis.”

Karl Marx & Friedrich Engels
“London, 21 Djanuari 1882”

Kira-kira pada saat itu juga, terjemahan baru dalam bahasa Polandia terbit di Jenewa: Manifes Komunistyczny.

Selanjutnya, terjemahan baru dalam bahasa Denmark dimuat dalam Socialdemokratisk Bibliothek,Kopenhagen, 1885. Sayang, terjemahan itu kurang lengkap; beberapa bagian yang penting, yang rupanya telah menimbulkan kesulitan kepada si penerjemah, telah dilewati, dan selain daripada itu di sana-sini tampak tanda-tanda kecerobohan yang lebih-lebih lagi tidak menyenangkan menyoloknya, karena terjemahan itu menunjukkan bahwa, sekiranya si penerjemah itu mau bersusah payah sedikit lagi, maka ia dapat melaksanakan suatu pekerjaan yang sangat baik.

Terjemahan baru dalam bahasa Perancis dimuat dalam majalah Le Socialiste di Paris pada tahun 1885; ini adalah penerbitan yang terbaik sampai sekarang.

Dari yang belakangan ini suatu terjemahan dalam bahasa Spanyol telah diterbitkan pada tahun itu juga, mula-mula dimuat dalam majalah El Socialista di Madrid, dan kemudian diterbitkan lagi dalam bentuk brosur: Manifesto del Partido Comunista por Carlos Marx y F. Engels, Madrid, Administracion de El Socialista, Hernan Cortes 8.

Sebagai kejadian yang aneh dapat saya sebutkan di sini bahwa pada tahun 1887 manuskrip suatu terjemahan dalam bahasa Armenia telah diberikan kepada seorang penerbit di lstambul. Tetapi orang yang baik itu tidak berani menerbitkan sesuatu yang memakai nama Marx dan menyarankan supaya si penerjemah menuliskan namanya sendiri sebagai pengarangnya, tetapi si penerjemah menolak.

Sesudah terjemahan Amerika yang satu, dan kemudian yang lain, yang kesemuanya sedikit banyaknya kurang tepat, berulang-ulang dicetak kembali di Inggeris, akhirnya terbitlah suatu terjemahan yang otentik pada tahun 1888. Terjemahan ini adalah oleh teman saya, Samuel Moore, dan kami berdua memeriksanya sekali lagi sebelum dikirimkan ke percetakan. Titelnya ialah: Manifesto of the Communist Party, by Karl Marx and Frederick Engels, Authorized English Translation, edited and annotated by Frederick Engels, 1888, London, William Reeves, 185 Fleet Street, E.C. Beberapa keterangan dari edisi itu telah saya tambahkan ke dalam edisi ini.

Manifesto ini, telah mempunyai sejarahnya sendiri. Setelah disambut dengan kegairahan pada waktu terbitnya oleh pelopor-pelopor Sosialisme ilmiah yang pada waktu itu sama sekali belum banyak jumlahnya (sebagai telah dibuktikan oleh terjemahan-terjemahan yang disebutkan dalam pendahuluan yang pertama), ia segera terdesak ke latar belakang oleh reaksi yang dimulai dengan kalahnya kaum buruh Paris dalam bulan Juni 1848, dan akhirnya dilarang menurut “undang-undang” dengan dihukumnya orang-orang Komunis Cologne pada bulan November 1852. Dengan menghilangnya gerakan kaum buruh dari gelanggang umum yang dimulai dengan Revolusi Februari, maka Manifesto inipun, mundur menghilang ke latar belakang.

Setelah kelas buruh mengumpulkan lagi cukup tenaga untuk serangan baru terhadap kekuasaan kelas-kelas yang berkuasa, maka lahirlah Perhimpunan Buruh Internasional. Tujuannya ialah memadukan seluruh kelas buruh yang militan dari Eropa dan Amerika menjadi satu tentara yang besar sekali. Oleh karena itu ia tidak dapat mulai dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan di dalam Manifesto ini. Ia harus mempunyai program yang tidak akan menutup pintu bagi serikat-serikat buruh Inggeris, pengikut-pengikut Proudhon di Perancis, Belgia, Italia dan Spanyol dan pengikut-pengikut Lassalle [xiv] di Jerman. Program ini mukadimah Peraturan Dasar Internasionale [xv] –disusun oleh Marx dengan keahlian yang tinggi yang juga diakui oleh Bakunin dan kaum Anarkis. Untuk kemenangan akhir dari pikiran-pikiran yang dikemukakan di dalam Manifesto Marx semata-mata mempercayakannya kepada perkembangan intelek kelas buruh, yang tidak boleh tidak tentu akan ditimbulkan oleh aksi bersama dan diskusi. Kejadian-kejadian dan berganti-gantinya kalah dan menang dalam perjuangan melawan kapital, kekalahan-kekalahan lebih-lebih lagi dari kemenangan-kemenangan, tidak boleh tidak tentu menunjukkan kepada pejuang-pejuang itu akan tidak tepatnya obat-obat ajaib yang mereka pakai selama itu dan menjadikan pikiran mereka lebih dapat menerima pengertian yang mendalam tentang syarat-syarat yang sesungguhnya dari pembebasan kaum buruh. Dan Marx benar. Kelas buruh dalam tahun 1874, pada saat Internasionale dibubarkan, adalah sama sekali berlainan keadaannya dengan tahun 1864, ketika Internasionale didirikan. Proudhonisme di negeri-negeri Latin dan Lassalleanisme yang spesifik di Jerman pada waktu itu sedang menuju kematiannya, dan bahkan serikat-serikat buruh yang sangat konservatif di Inggris berangsur-angsur mendekati titik di mana dalam tahun 1887 ketua mereka dalam Kongres Swansea dapat mengatakan atas nama mereka Sosialisme Daratan Eropa sudah tidak menakutkan lagi bagi kita. Sekalipun demikian pada tahun 1887 Sosialisme Daratan Eropa adalah hampir semata-mata hanya teori yang diumumkan di dalam Manifesto. Jadi, sampai derajat tertentu, sejarah Manifesto mencerminkan sejarah gerakan kelas buruh modern sejak tahun 1848. Sekarang ini tak dapat disangkal lagi bahwa ia adalah suatu penerbitan yang paling luas-tersebar, paling internasional dari segala literatur Sosialis, program bersama dari berjuta-juta kaum buruh semua negeri, dari Siberia sampai ke Kalifornia.

Sekalipun demikian, ketika ia terbit kita tidak dapat menamakannya Manifesto Sosialis. Pada tahun 1847 ada dua macam golongan yang dianggap sebagai orang-orang Sosialis. Pada satu pihak adalah pengikut-pengikut berbagai sistem utopia, teristimewa kaum Owenis di Inggris dan kaum Fourieris di Perancis, yang kedua-duanya pada saat itu telah merosot menjadi hanya sekte saja dan berangsur-angsur menuju kematiannya. Di pihak lain tukang-tukang jual koyok kemasyarakatan yang sangat banyak corak ragamnya itu yang dengan berbagai macam obat ajaib serta segala cara kerja tambal sulam hendak melenyapkan keburukan-keburukan sosial, tanpa sedikitpun merugikan kapital dan laba. Dalam kedua hal itu, orang-orang yang berdiri di luar gerakan buruh dan yang lebih suka minta bantuan pada kelas-kelas “terpelajar.” Tetapi bagian dari kelas buruh yang menuntut penyusunan-kembali masyarakat secara radikal, yakin bahwa revolusi-revolusi politik saja adalah tidak cukup, pada waktu itu menamakan dirinya Komunis. Ini adalah Komunisme yang masih mentah, hanya naluriah, dan sering kali agak kasar. Namun, ia cukup kuat untuk menimbulkan dua sistim Komunisme Utopia – di Perancis Komunisme Icaria dari Cabet, dan di Jerman dari Weitling. Dalam tahun 1847 Sosialisme berarti gerakan borjuis, Komunisme berarti gerakan kelas buruh. Sosialisme, di Daratan Eropa, setidak-tidaknya adalah cukup terhormat, sedang Komunisme justru sebaliknya. Dan karena kami telah mempunyai pendirian yang pasti sejak masa itu bahwa “pembebasan kelas buruh haruslah tindakan kelas buruh sendiri,” maka kami tidak sangsi lagi tentang nama mana di antara dua nama itu yang harus kita pilih. Sejak itupun.tak pernah juga ada pikiran pada kita untuk menolak nama itu.

“Kaum buruh sedunia, bersatulah!” Tetapi hanya sedikit saja suara yang menyambut ketika kita maklumkan kata-kata ini kepada dunia empat puluh dua tahun yang lampau, pada saat menjelang Revolusi Paris yang pertama di mana proletariat keluar dengan tuntutan-tuntutannya sendiri. Tetapi pada tanggal 28 September 1864 kaum proletar dari hampir semua negeri Eropa Barat mempersatukan diri dalam Perhimpunan Buruh Internasional, suatu kenang-kenangan yang indah sekali. Benar, Internasionale itu sendiri hanya hidup selama sembilan tahun. Tetapi bahwa persatuan yang kekal dari kaum proletar sedunia yang diciptakan oleh Internasionale itu masih hidup dan hidup lebih kuat dari sedia kala, tidak ada saksi yang lebih baik daripada hari ini. Sebab pada saat ini, selagi saya menulis baris-baris kalimat ini, proletariat Eropa dan Amerika sedang memeriksa barisan kekuatan-kekuatan perjuangannya, yang dimobilisasi untuk pertama kalinya, dimobilisasi sebagai satu tentara, di bawah satu bendera, untuk satu tujuan yang terdekat: hari kerja delapan jam sebagai patokan umum, supaya ditetapkan secara sah menurut undang-undang, seperti yang telah diumumkan oleh Kongres Internasionale, di Jenewa dalam tahun 1866, dan diulangi oleh Kongres Buruh Paris dalam tahun 1889. [xvi] Dan pemandangan hari ini akan membukakan mata kaum kapitalis dan tuan-tuan tanah di semua negeri akan kenyataan bahwa pada saat ini kaum buruh sedunia benar-benar telah bersatu.

Betapa sayangnya bahwa Marx tidak ada lagi di samping saya untuk melihat ini dengan mata sendiri!

F. Engels
London, 1 Mei 1890

 

[xii]. Yang dimaksud oleh Engels ialah kata pendahuluannya pada edisi Jerman tahun 1883. – Red.

[xiii]. Manuskrip asli yang berbahasa Jerman, kata pendahuluan Marx dan Engels pada edisi Rusia Manifesto yang hilang itu telah diketemukan dan sekarang disimpan dalam arsip Institut Marx-Engels-Lenin di Moskow. Terjemahan Inggeris dari kata pendahuluan yang sekarang ini dibuat dari aslinya yang berbahasa Jerman. – Red.

[xiv]. Lassalle pribadi, kepada kami, selalu mengaku dirinya, sebagai seorang “murid” Marx dan oleh karena itu tentu saja berdiri di atas dasar Manifesto. Sangat berbeda dengan mereka yang menjadi pengikut-pengikutnya yang tidak melampaui tuntutan Lassalle untuk koperasi produksi yang disokong oleh kredit negara dan yang membagi seluruh kelas buruh menjadi penyokong bantuan negara dan pendukung-pendukung usaha menolong diri sendiri. (Keterangan Engels).

[xv]. Lihat K. Marx, The General Rules of the International Working Men’s Association, K. Marx dan F. Engels; Pilihan Karya, edisi Inggeris Dua-jlilid; Jilid I, Moskow 1958, hlm. 286-387. – Red.

[xvi]. Piagam Kongres Internasionale Kedua. – Red.

 

Pendahuluan pada edisi Polandia tahun 1892

Kenyataan tentang diperlukannya lagi edisi baru Manifesto Komunis dalam bahasa Polandia menimbulkan berbagai pikiran.

Pertama-tama, adalah perlu dicatat bahwa belakangan ini Manifesto seolah-olah telah menjadi pedoman tentang perkembangan industri besar di daratan Eropa. Sebanding dengan meluasnya industri besar di sesuatu negeri, maka bertambahlah tuntutan di kalangan kaum buruh negeri termaksud untuk penjelasan tentang kedudukan mereka sebagai kelas buruh dalam hubungannya dengan kelas yang berpunya, gerakan sosialis meluas di kalangan mereka dan permintaan akan Manifesto bertambah banyak. Jadi, tidak hanya keadaan gerakan buruh tetapi juga derajat perkembangan industri besar dapat diukur dengan cukup ketelitian di tiap-tiap negeri dengan jumlah buku Manifesto yang diedarkan dalam bahasa negeri itu.

Maka itu, edisi baru dalam bahasa Polandia ini menunjukkan suatu kemajuan yang nyata dari industri Polandia. Dan sedikitpun tak dapat diragukan lagi bahwa kemajuan ini sungguh-sungguh telah terjadi semenjak diterbitkannya edisi yang terdahulu, sepuluh tahun yang lampau. Polandia Rusia, Polandia Kongres, telah menjadi daerah industri besar dari Kerajaan Rusia. Sedang industri besar Rusia terpencar-pencar di sana-sini — sebagian di sekeliling Teluk Finlandia, yang lain di tengah-tengah (Moskow dan Wladimir), lainnya lagi di sepanjang pantai Laut Hitam dan Laut Azov, dan masih ada lainnya lagi di berbagai tempat — industri Polandia telah terkumpul di dalam suatu daerah yang relatif kecil dan memperoleh keuntungan maupun kerugian akibat konsentrasi semacam itu. Pengusaha-pengusaha pabrik Rusia yang bersaing mengakui adanya keuntungan-keuntungan itu pada waktu mereka menuntut tarif-tarif yang melindungi terhadap Polandia, walaupun mereka sangat keras keinginannya untuk mengubah bangsa Polandia menjadi bangsa Rusia. Kerugiannya — bagi kaum pengusaha pabrik Polandia dan pemerintah Rusia — dinyatakan oleh cepat meluasnya cita-cita sosialis di kalangan kaum buruh Polandia dan oleh permintaan yang bertambah banyak akan Manifesto.

Tetapi perkembangan industri Polandia yang cepat itu, yang melampaui perkembangan industri Rusia, pada gilirannya merupakan bukti baru tentang daya hidup yang tiada habis-habisnya dari Rakyat Polandia dan suatu jaminan baru bagi pembaruan nasional yang akan datang. Dan pembaruan suatu Polandia yang merdeka dan kuat adalah suatu soal yang tidak hanya mengenai bangsa Polandia tetapi kita semua. Kerjasama internasional yang tulus dari nasion-nasion Eropa hanyalah mungkin apabila bangsa-bangsa itu masing-masingnya berotonomi sepenuhnya di negerinya sendiri. Revolusi tahun 1848, yang di bawah panji proletariat, pada akhirnya hanyalah menyuruh pejuang-pejuang  proletar melakukan pekerjaan borjuasi, menjamin pula kemerdekaan Italia, Jerman dan Hongaria melalui pelaksana-pelaksana testamennya, Louis Bonaparte dan Bismarck; tetapi Polandia, yang sejak tahun 1792 telah berbuat untuk Revolusi lebih banyak daripada ketiganya ini semua, ditinggalkan bertahan sendiri ketika ia ditundukkan pada tahun 1863 oleh kekuatan Rusia yang sepuluh kali lebih besar. Kaum bangsawan tidak dapat mempertahankan ataupun merebut kembali kemerdekaan Polandia; sekarang ini, bagi borjuasi, kemerdekaan ini adalah, diungkapkan dengan selunaknya, tidak penting. Sekalipun demikian, ia merupakan suatu keharusan untuk kerjasama yang harmonis di kalangan nasion-nasion Eropa. la hanya dapat dicapai oleh proletariat Polandia yang muda itu ,dan di dalam tangannya ia terjamin. Karena kaum buruh dari semua bagian Eropa lainnya memerlukan kemerdekaan Polandia seperti halnya dengan kaum buruh Polandia sendiri.

F. Engels
London, 10 Februari 1892

 

Terjemahan ke dalam bahasa Inggeris dari Pendahuluan pada Edisi Polandia ini dikerjakan dari aslinya yang berbahasa Jerman. – Red.

 

Pendahuluan pada edisi Italia tahun 1893 kepada pembaca Italia

Diterbitkannya Manifesto Partai Komunis, dapat dikatakan, bersamaan dengan tanggal 18 Maret 1848, hari revolusi-revolusi di Milan dan Berlin, yang berupa pemberontakan bersenjata dari nasion yang berada di tengah-tengah, yang satu, di tengah-tengah daratan Eropa, yang lainnya, di tengah-tengah Laut Tengah; dua nasion yang sampai pada ketika itu menjadi lemah karena dibagi-bagi dan karena pertengkaran intern, dan dengan demikian jatuh ke dalam kekuasaan asing. Apabila Italia ditundukkan oleh Kaisar Austria, Jerman menderita penindasan, tidak kurang beratnya biarpun tidak langsung, dari Tsar seluruh Rusia. Akibat-akibat dari 18 Maret 1848 melepaskan Italia dan Jerman dari penghinaan itu; jika dari tahun 1848 hingga tahun 1871 kedua bangsa besar ini tersusun kembali dan karena sesuatu hal telah dibiarkan mengurus dirinya sendiri, ini adalah, seperti yang biasa dikatakan oleh Marx, karena orang-orang yang menindas Revolusi tahun 1848 adalah, biar bagaimanapun juga, pelaksana-pelaksana testamen revolusi itu sekalipun tidak sekehendak mereka sendiri.

Di manapun juga revolusi itu adalah pekerjaan kelas buruh; kaum buruhlah yang mendirikan barikade-barikade dan. membayar dengan darah hidupnya. Hanyalah kaum buruh Paris, dalam menggulingkan pemerintah, mempunyai tujuan yang pasti, yaitu menggulingkan rezim borjuis. Tetapi walaupun mereka sadar akan adanya antagonisme yang fatal antara kelas mereka sendiri dengan borjuasi, tetapi kemajuan ekonomi negeri itu, begitu juga perkembangan intelek massa kaum buruh Perancis sampai pada ketika itu belum mencapai tingkat yang memungkinkan perombakan sosial. Maka dari itu, pada akhirnya buah revolusi telah dipungut oleh kelas kapitalis. Di negeri-negeri lainnya, di Italia, di Jerman, di Austria, kaum buruh sejak semula tidak berbuat lain kecuali menaikkan borjuasi ke singgasana kekuasaan. Tetapi di negeri manapun kekuasaan borjuasi adalah tidak mungkin tanpa kemerdekaan nasional. Oleh karena itu, Revolusi tahun 1848 harus membawa bersama dengannya persatuan dan otonomi nasion-nasion yang sampai pada ketika itu belum memilikinya: Italia, Jerman, Hongaria. Polandia akan menyusul pada gilirannya.

Jadi, jika Revolusi tahun 1848 bukanlah suatu revolusi sosialis, ia melapangkan jalan, menyiapkan dasar untuk revolusi sosialis. Melalui dorongan yang kuat terhadap industri besar di semua negeri, rezim borjuis di mana-mana selama empat puluh lima tahun belakangan ini telah menciptakan proletariat yang besar jumlahnya, terkonsentrasi dan perkasa. Dengan demikian, menurut bahasa Manifesto, ia telah melahirkan penggali liang kuburnya sendiri. Tanpa memulihkan otonomi dan persatuan pada tiap-tiap nasion, akan tidak mungkin untuk mencapai persatuan internasional proletariat, atau kerjasama secara damai dan bijaksana antara nasion-nasion ini menuju cita-cita bersama. Cobalah bayangkan aksi internasional bersama oleh kaum buruh Italia, Polandia, Hongaria, Jerman dan Rusia dalam keadaan politik pada masa menjelang tahun 1848!

Jadi pertempuran-pertempuran yang dilakukan dalam tahun 1848 tidaklah sia-sia. Tidak pula percuma berlalunya empat puluh lima tahun yang memisahkan kita dari masa revolusioner itu. Buahnya sedang menjadi masak, dan satu-satunya harapan saya adalah supaya penerbitan terjemahan bahasa Italia ini dapat juga meramalkan kemenangan proletariat Italia seperti halnya dengan penerbitan aslinya yang meramalkan kemenangan revolusi internasional.

Manifesto ini menghargai sepenuhnya peranan revolusioner yang telah dilakukan oleh kapitalisme di waktu yang lampau. Nasion kapitalis yang pertama adalah Italia. Berakhirnya Zaman Tengah Feodal, dan mulainya Kapitalis Modern ditandai oleh seorang tokoh raksasa: seorang Italia, Dante, penyair terakhir dari Zaman Tengah dan juga penyair pertama dari Zaman Modern. Sekarang ini, seperti dalam tahun 1300, suatu zaman sejarah yang baru sedang mendatang. Apakah Italia akan memberikan kepada kita seorang Dante baru, yang akan menandai detik kelahiran zaman baru proletar ini?

Friedrich Engels
London, 1 Februari 1893


PEDOMAN AKTIVIS REVOLUSIONER

CIRI-CIRI SEORANG REVOLUSIONER

 

1. Mengapa kita perlu merubah diri kita menjadi seorang revolusioner ?

 

Sebagai seorang revolusioner, kita perlu mengabdikan pikiran-pikiran, emosi dan perbuatan-perbuatan kita kepada kepentingan perjuangan demokrasi sejati di Indonesia. Tapi masing-masing kita dan setiap orang diantara kita masih membawa pikiran-pikiran, sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan lama dari masyarakat bobrok yang ada sekarang ini. Kita tumbuh dalam  masyarakat yang tindas dan dihisap oleh kapitalisme. Sampai hari ini, kita masih dipengaruhi oleh gagasan-gagasan bobrok atau parsangka-parangka borjuasi dari masyarakat kini. Karena itulah, mengapa perlu bagi setiap mereka yang revolusioner merubah dirinya sendiri.

 

Kita harus mengubah diri kita sendiri melalui perjuangan revoluioner secara aktif, dan dengan kesadaran didalam perjuangan, kita melawan ide-ide, sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan keliru. Apabila kita terus melaksanakan tugas-tugas kita, maka sesungguhnya kita sedang membentuk watak kita sendiri di tengah-tengah badai perjuang kita melawan musuh-musuh rakyat. Semakin dalam dan jauh, maka kita akan menjadi teguh dan cakap dalam perjuangan. Mengubah diri sendiri tidaklah hanya berhenti hanya dalam beberapa jam atau hari saja. Ia adalah perjuangan yang lama dan sulit.  Karena itulah mengapa kita perlu terus-menerus berusaha keras menghilangkan pengaruh masyarakat bobrok yang masih melekat. Hanya dengan cara demikianlah kita dapat melaksanakan tugas-tugas revolusioner kita lebih baik, dan ketetapan hati kita makin teguh dalam menggelorakan perjuangan  demokrasi sejati sampai kemenangan sosialisme. Kita mengubah diri kita untuk memperkuat watak-watak dasar seorang revolusioner, yakni:

§  Bersungguh-sungguh, hati-hati dan bergairah dalam perjuangan.

§  Siap dan tanpa rasa takut menghadapi pengorbanan dan kematian

§  Bersatu dan hangat bersahabat dengan kawan-kawan revolusioner lain.

§  Berani menerima kritik dan bersedia memperbaiki kesalahan dan kelemahan.

2. Bagaimana seorang revolusioner memandang tugas dan tanggung-jawabnya dalam revolusi?

Seorang revolusioner memandang dan menghargai tugas-tugas dan tanggung jawabnya secara penuh dalam perjuangan. Ia tahu bahwa tugas-tugas dan tanggung jawab-tanggung jawab revolusionernya merupakan bagian dari tugas besar membebaskan rakyat dari belenggu pengisapan dan penindasan. Melaksanakan pekerjaan-pekerjaan dan tanggung jawab-tanggung jawab dengan penuh menyadari betapa pentingnya, berarti menjunjung kepentingan rakyat Indonesia.

 

Apa tanda-tanda bahwa seorang revolusioner melaksanakan tugas-tugas dan tanggung jawabnya dengan penuh tahu arti pentingnya? Ia bersungguh-sungguh dan bersemangat ketika sedang melaksanakan tugasnya. Ia merasa gembira, antusias dan bergairah dalam perjuangan. Ia selalu siap dan bersedia menjalankan tugas yang perlu untuk memajukan perjuangan revolusi demokratik.

 

Seorang revolusioner selalu bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya. Baginya, prioritas pertama adalah menuntaskan pekerjaan dan tanggung jawabnya.  Ia menawarkan cara kerja yang bergairah dan teratur, tidak ceroboh, dan tergesa-gesa, asal-asalan dalam berjuang. Ia selalu belajar, menemukan cara mengatasi masalah, dan mengerjakan tugas-tugasnya sebaik  yang bisa dilakukan.

 

Seorang revolusioner adalah pelopor yang dalam semangatnya dan hasrat yang meluap dalam perjuangan. Pikiran-pikiran dan tindakan-tindakan seorang revolusioner maju kedepan, karena setiap tindakan dan langkah merupakan sumbangan bagi masa depan yang lebih cerah. Ia tidak merasa lemah dan gampang meyerah pada saat menghadapi masalah dan penderitaan dalam perjuangan. Semangat militannya selalu tinggi dan ia selalu siap untuk melawan. Ia selalu merebut dan menguasai kondisi-kondisi dan kesempatan-kesempatan  dalam perjuangan revolusioner. Itulah sebabnya, mempunyai inisiatif merupakan tanda seorang yang revolusioner. Ia memiliki insiatif tidak saja dalam menuntaskan tugas-tugas dan tanggung jawabnya, tetapi bahkan di dalam tugas-tugas yang lain ia berpikir perlunya perhatian segera.

 

Seorang revolusioner senantiasa siap memenuhi tugas-tugas dan tanggung jawab-tanggung jawab. Ia menerima setiap tugas yang diberikan padanya, dan tidak menghitung ongkos dan beban, atau kesulitan-kesulitan dan pengorbanan-pengorbanan yang harus dia lalui dalam mengerjakan tugas. Ia tidak memilih pekerjaanya karena pamrih kesenangan dan pujian bagi dirinya

 

3.  Apakah sikap yang tepat terhadap penderitaan, pengorbanan dan kematian?

 

 

Seorang revolusioner mengakui fakta bahwa penderitaan, pengorbanan, dan kematian tidak dapat dicegah dalam membebaskan rakyat. Hal ini adalah alamiah dalam pertarungan keras antara rakyat dan kelas penguasa. Hal ini adalah alamiah dalam suatu revolusi menggulingkan imperialisme Amerika, sisa-sisa feodalisme dan kapitalis birokrat. Dan tidak saja alamiah, sebab hal-hal seperti ini diperlukan untuk merebut dan melindungi kepentingan rakyat dan revolusi. Ia adalah tabungan yang perlu untuk menghapuskan penindasan dan penghisapan, dan mendirikan sebuah masyarakat yang berlandaskan demokrasi yang sejati.

 

Seorang revolusioner siap menderita dan berkorban, dan bahkan mati demi perjuangan. Penderitaan seorang revolusioner adalah pantas karena ini demi kemenangan revolusi. Ia mengetahui bahwa segera kita menyaksikan fajar kemenangan yang telah lama kita tunggu.  Ditengah-tengah bahaya dan penindasan, kesiapan untuk berkorban dan mati akan memberikan keteguhan dan keberanian kepada seorang revolusioner untuk memelihara dan berjuang untuk kepentingan rakyat dan revolusi.

 

Keberanian seorang revolusioner adalah sadar. Ia mencegah pengorbanan dan kematian yang tidak perlu. Ia tidak membahayakan dirinya sendiri hanya karena ia siap untuk mati. Ia melindungi hidupnya dan menjaga massa, kawan-kawan revolusionernya dan organisasi.

 

PENDIDIKAN REVOLUSIONER

 

1. Pendidikan adalah tugas penting bagi kaum revolusioner. Sangat penting karena apa yang diperlukan dalam revolusi adalah perjuangan yang massa yang sesadar sesadarnya. Aksi‑aksi yang didasarkan pada kesempatan dan katidakpastian adalah berbahaya bagi massa dan revolusi.  Aksi yang revolusioner bukanlah perjuangan yang tergesa-gesa (impulsif) yang didasarkan pada emosi. Sebaliknya tiap langkah didasarkan pada studi ilmiah mengenai syarat‑syarat dan kebutuhan-kebutuhan revolusi. Dari pendidikan yang memberi semangat kita dapat dapat menetapkan apa yang seharusnya dikerjakan, merumuskan rencana‑rencana kita dan cara‑cara mencapainya.

 

Pendidikan memberikan pandangan yang penting dalam perjuangan. Ia tidak saja memberi jalan perjuangan revolusioner yang benar, tetapi juga memberikan panduan awal dan khusus dalam perjuangan sehari‑hari kita. Dengan pendidikan secara tajam kita mangamati ide‑ide dusta yang disebar oleh kelas penguasa dan elemen‑elemen yang hendak merongrong kepemimpinan dan menyasarkan gerakan dari jalan yang benar.

 

Pendidikan yang revolusioner bagi seorang revolusioner dapat diwujudkan melalui:  turut serta dalam diskusi‑diskusi kolektif membaca buku‑buku dan publikasi lain dan melalui penelitian dan analisa.

 

2. Mengapa pendidikan Revoluioner dalam  revolusi demokratik sangat penting ?

 

Pendidikan  Revolusioner mengenai revolusi  sangat penting karena ia mengajarkan analisa yang benar mengenai kondisi masyarakat Indonesia akar‑akar dari masalah rakyat dan jalan pemecahannya. Dengan jalan mempelejari  Marxime kita menyalakan api emosi revolusioner melawan penindasan dan penghisapan; memperkuat kesatuan pikiran dan tindakan demi mereka yang ditindas dan diperas.

 

Kita memperoleh pengantar sistematis mengenani tahapan dalam revolusi dari kursus‑kursus massa kita. Di dalam kursus massa khusus kita telah mempelajari kemajuan beberapa gerakan massa yang merupakan bagian dari revolusi demokratik. Kursus massa umum di pihak lain, memperjelas mengklarifikasi analisa masyarakat dan revolusi Indonesia.

 

Pandidikan yang terus manerus mangenai revolusi demokratik merupakan keharusan bagi seorang revolusioner. Perjuangan adalah panjang dan tingkat perjuangan makin-meningkat maka ini akan memperdalam, maliatkan dan meningkatkan pemahaman kita mengenai prinsip‑prinsip revolusi damokratik. Kursus‑kursus massa juga merupakan jendela bagi pendidikan yang kontiyu dengan buku‑buku referensi koran‑koran dan bahan‑bahan bacaan lain.

 

Membaca  “Problem-Problem  Masyarakat Indonesia ” dan artikel-artikel tentang Perkembangan Perjuangan demokratik di Indonesia Pasca kejatuhan Soeharto. Didalam buku/Artikel ini, kita dapat menemukan penjelasan‑penjelasan dasar mengenai soal‑soal yang penting dalam masyarakat dan kelanjutan revolusi Indonesia. Memahami analisa dalam buku/arikel ini  akan selalu menjadi prinsip-prinsip dalam pikiran kita. Hal ini akan membimbing kita dalam menganalisa dan memecahkan masalah‑masalah yang bakal kita hadapi  dalam gelombang perjuangan.

 

Selalu membaca dan mempelajari isu‑isu dalam “Rakyat” dan publikasi revolusionar lain . Di dalamnya, kita bisa melihat analisa dan pandirian gerakan terhadap berbagai macam isu ekonomi dan politik masa kini, tanggungjawab‑tanggungjawab penting, dan langsung dalam memajukan perjuangan ravolusioner di berbagai sektor, tempat, dan bidang‑bidang kerja.

 

3. Mengapa analisa  merupakan hal yang penting ?

Analisa adalah bagian penting dalam pendidikan kita. Melalui analisa kita menetapkan ciri‑ciri sesuatu hal atau suatu peristiwa. Kita dapat menetapkan akar “penentu” sebab‑sebab dan cara bagaimana suatu hal atau suatu peristiwa berkembang. dengan kata lain, kita menjawab pertanyaan‑pertanyaan seperti: mangapa, bagaimana, dan apakah ciri‑ciri dan hubungannya. Dengan mengetahui mengapa dan bagaimana suatu benda berada dan sebuah peristiwa terjadi, maka kita memiliki pemahaman yang lengkap dan mendalam tentang suatu benda atau peristiwa.

 

Analisa sungguh penting dalam perjuangan revolusioner kita. Sebab program dan rencana kita didasarkan pada analisa terhadap kondisi yang berubah‑ubah dan perkembangan perjuangan. Analisa mengklarifikasi, menjernihkan cara yang tepat dan efektif dalam manghadapi dan mengatasi tiap permasalahan. Dengan analisa kita mengklarifikasi, mengurai satu persatu dan rinci bagaimana melaksanakan tugas dengan baik, dan menuntaskan pekerjaan dengan bagus.

 

Jadilah –analistis! Janganlah kita hanya tertarik menjawab pertanyaan apa? Tetapi, lebih dari itu, mengapa, dan bagaimana. Untuk mengetahui esensi atau inti sari dari hal atau peristiwa kita harus menghindari pandangan yang subyektif, kabur dan sepihak.

Dalam menganalisa kita tidak boleh diperdayakan atau ditipu oleh penampilan luar. Jika kita bisa menganalisa secara tepat dan benar, maka kita akan selalu dalam posisi aktif dalam berjuang dan memajukan tugas‑tugas kita.

4. Apakah Assessment itu ?

Assesment atau penilaian merupakan bentuk analisa. Ini adalah bagian dari pendidikan revolusioner. Ada dua jenis assessment yang biasa dilakukan, yakni  assessment kerja dan assessment situasi.  Assessment kerja merupakan analisa yang mengukur kondisi‑kondisi, syarat‑syarat, atau perkembangan implementasi program dan rencana. Assessment situasi di pihak lain merupakan analisa ciri‑ciri situasi dan tingkat kontradiksi di antara kelas‑kelas di dalam masyarakat.

 

Contoh assessment kerja adalah assessment bulanan yang biasanya kita adakan dengan presentasi laporan‑laporan yang sudah diparsiapkan. Kita juga menilai tiap aksi massa yang telah di lakukan. Assessment akan menunjukkan apa yang kurang sehingga dapat kita tambahkan kelemahan‑kelemahan yang harus kita atasi, kesalahan‑kesalahan yang harus kita perbaiki dan tugas-tugas harus kita lakukan di hari besok .

 

Contoh assessment situasi adalah assessment yang menganalisa perimbangan kekuatan‑kekuatan ‑‑. sejauh mana kekuatan revolusioner, disatu pihak, dan kemampuan kekuatan reasioner di pihak lain. Assessment situasi mengklasifikasi kapasitas kita dalam meningkatkan perjuangan dan kapasitas musuh untuk menggulung kita. Dengan assessment, kita memperjelas kebutuhan kebutuhan dan tanggung jawab‑tanggung jawab yang perlu untuk meningkatkan dan melipatgandakan kekuatan dan kesanggupan revolusiner untuk bertarung dalam satu hari.

 

Adalah perlu untuk membuat assessment yang tetap. Hal ini akan menunjukkan bahwa kita awas dengan situasi dan paristiwa-peristiwa dalam perjuangan; dan memungkinkan kita tepat waktu dalam merancang tugas‑tugas. Asessment memberi kita petunjuk yang tepat, segera dan rinci dalam pembuatan planning pelaksanaan tugas kita secara benar dan tepat.

 

5.  Apakah Summing‑up itu ?

Summing‑up adalah analisa terhadap pengalaman‑pengalaman negatif dan positif, baik dan buruk untuk menarik pelajaran dan pedoman dalam perjuangan. Kesimpulan‑kesimpulan yang kita hasilkan dari assessment kita adalah pelajaran umum yang membimbing perjuangan yang sudah berbulan‑bulan atau bahkan bertahun‑tahun.

 

Ada bermacam‑macam summing‑up, tergantung atas kebutuhan, scope dan karakter pengalaman yang kita summing‑up. Biasanya kita meringkas pengalaman‑pengalaman dalam memobilisir massa, memimpin massa dan menggerakkan organisasi.

Di sini kita menarik pelajaran tentang cara yang benar dan terlatih dalam menggerakan aksi massa, misalnya. Ada juga summing‑up pengalaman tentang mass work (kerja solid organizing di tengah‑tengah massa) di suatu desa atau kampus, dan kita mengambil pelajaran mengenai cara‑cara yang tepat dan cepat dalam melaksanakan mass work.

Setelah mengklarifikasi manjernihkan data dan hasil‑hasil perjuangan dan didasarkan pada jangka waktu dan pengalaman-pengalaman, maka kita meringkas dan menyimpulkan sebagai berikut:

v  Bahwa kamajuan perjuangan, sebab‑sebab dan syarat‑syaratnya adalah ini. Dan pelajaran kita tarik dari ini

v  Bahwa kekatan Pokok, skill, kelemahan dan kesalahan pokok dalam perjuangan, diakibathan oleh syarat‑syarat dan ide‑ide ini. dan kita manarik pelajaran ini.

v  Bahwa ternyata diprasyaratkan menggunakan metode yang mahir untuk melaksanakan tugas‑tugas atau tindakan‑tindakan yang berhasil.

 

Summing‑up merupakan bagian yang penting dari pendidikan kita. Melalui ini kita belajar menjadi terampil dan cakap dari pengalaman kita sendiri. Secara aktif kita manggunakan pengalaman baik atau buruk, positif atau negatif ,untuk memperkaya pengetahuan dan pemahaman kita akan tugas dan tanggung jawab kita. Dengan summing‑up kita bisa menguatkan pemahaman kita atas prinsip‑prinsip revolusi yang berasal dari pengalaman nyata.

 

CARA YANG BENAR DALAM MENGANALISA

1.  Apakah segala  sesuatu mengalami perubahan ?

Tanpa ada perkecualian segala sesuatu berubah dan akan terus berubah. Kita tidak dapat berpikir tentang sesuatu yang telah mutlak selesai dan lengkap dan tidak akan barubah lagi. Apabila memperhatikan sekeliling kita, alam dan masyarakat manusia, kita dapat menyaksikan segala sesuatu ‑­bahkan manusia ‑‑ terus berubah. Kita bisa melihat berbagai macam hal tumbuh berkembang dan berubah. Perubahan dapat tarjadi secara perlahan‑lahan atau tiba‑tiba dan mendadak. Segala sesuatu mempunyai permulaan dan akhir.

 

Bila segala sesuatu berubah, maka pemahaman manusia mengenai sesuatu hal dan pengetahuannya berubah dan  berkembang pula. Analisa yang akurat terhadap  sebab‑sebab dan cara‑cara bagaimana sesuatu benda dan peristiwa berubah merupakam lompatan jauh ke depan dan dapat memicu kemajuan pengetahuan manusia. Dan melalui kemajuan pengetahuan manusia sanggup secara aktif dan efektif mangubah sesuatu untuk keuntungannya sendiri. Oleh karena kita mengetahui dan menyadari segala sesuatu terus berubah, maka kita tidak akan mundur atau menyerah pada saat menghadapi setiap masalah dan situasi sulit.  Akan tetapi sabaliknya kita akan secara aktif mencoba mengatasi masalah untuk memajukan kepentingan demokrasi nasional rakyat .

 

2. Apakah sebab‑sebab segala sesuatu barubah ?

Sebab‑sebab terjadinya perubahan: sabab internal, sebab dari dalam. Faktar utama yang menentukan tarjadinya perubahan sesuatu hal ‑‑ benda atau paristiwa‑‑ dan gerakannya, adalah kontradiksi di dalamnya, kontradiksi adalah kasatuan dan perjuangan dari sisi-sisi atau aspek-aspek yang bertentangan  didalam satu hal.

 

Contoh mengapa masyarakat Indonesia berubah dan  berkembang? Apakah disebabkan oleh nasib atau kah oleh bantuan negara lain? Apa yang menyebabkan masyarakat bergerak adalah kontradiksi di dalamnya. Kontradiksi di antara kelas‑kelas yang ada. Perjuagan dan pertentangan di antara kelas‑kelas masyarakat. Di satu pihak ada‑kelas penguasa yang menindas dan menekan perkembangan tanah air negeri Indonesia. Di fihak lain, ada kelas pekerja yang diperas yang bekerja untuk pembangunan kebebasan dan demokrasi.

 

Kondisi eksternal, kondisi diluar dipihak lain mempengaruhi terjadinya perubahan. Tiada sesuatu yang terpisah dari lingkungannya. Dalam perkembangan dan pergerakannya, sesuatu hal beraksi bergerak dan menerima reaksi dari segala sesuatu di sekelilingnya. Ini adalah kondisi eksternal yang memparcepat atau memperlambat sebagai faktor cocok atau tidak‑cocok terjadinya perubahan suatu obyek.

 

Contoh, bahwa faktor yang menentukan perkembangan yang kontinyu dari kawan‑kawan dalam perjuangan adalah gagasan‑gagasan yang benar dan salah dalam pikirannya, sokongannya terhadap kepentingan demokrasi‑nasional-rakyat melawan siapa saja dan apa saja yang bertentangan dengan ini. Sekarang, semuanya tergantung pada kawan tersebut untuk memutuskan apakah ia akan terus berjuang untuk revolusi atau mundur dan menyerah. Tetapi kemudian faktor‑faktor eksternal di sekeliling dia juga memiliki pengaruh penting dalam keputusannya. Misalnya,  kolektifnya. kawan‑kawan yang menjadi “political officer” di unitnya, keluarganya, kekasihnya, massa dan orang‑orang terdekat  lain.

 

3. Apakah artinya membagi satu menjadi dua ?

Membagi satu menjadi dua tidak berbeda dari studi kontradiksi. Hal ini akan menjadi inti pembahasan dari usaha mempelajari ciri-ciri dan perjuangan dari hal‑hal yang saling bertentangan.

 

Analisa membagi satu menjadi dua adalah cara yang benar dalam menganalisa. Melalui cara ini, kita mengetahui mengapa dan bagaimana perubahan suatu obyek atau peristiwa terjadi. Kita menangkap esensi suatu obyek dan kita membenturkan pergetahuan kita dengan kondisi obyektif yang melekat pada suatu obyek.

diperintah ditindas dan diparas dipihak lain.

4. Bagaimana kita menggunakan perbandingan dan perbedaan dalam analisa kita ?

 

Perbandingan dan perbedaan atau kontras adalah dua metode yang kita gunakan dalam menganalisa. Bila kita menganalisa kontradiksi yang membuat suatu obyek bergerak, maka kita akan dapat mengetahuinya dengan lebih baik dengan cara membandingkan dan memperbedakan, membuat kontras dengan kontradisi yang lain. Misalnya, kontradiksi di satu desa kita bandingkan dan kontraska dengan desa yang lain.

Dengan perbandingan, kita menganalisa ciri‑ciri umum yang malekat di dalam kontradiksi yang dipelajari dan kita menemukan ciri‑ciri tersebut pada kontradiksi yang lain. Perbandingan membantu kita dalam mamusatkan analisa pada esensi obyek dan mambimbing kita dalam mempelajari kontradiksi.

 

Contoh, bila kita manganalisa masalah seorang kawan, kita mengetahui segera bahwa sebagai seorang kawan, ia mengangkat kepentingan demokrasi‑nasional rakyat ‑‑suatu ciri umum semua kawan‑kawan. Ini membimbing kita manganalisa dan mangatasi masalahnya. Contoh lain adalah kita mengetahui bahwa kontradiksi di desa kita adalah sama dengan kontradiksi yang ada di semua desa‑desa di Indonesia. Itulah sebabnya mengapa revolusi agraria bisa diterapkan dan harus dilaksanakan di desa kita. Bahkan summing‑up terhadap pengalaman‑pengalaman protes dan pemberontakan petani baik yang telah terjadi dalam sejarah maupun selama tiga puluh tahun terakhir di bawah rejim boneka fasis Soeharto, memberikan ide pada kita mengenai bagaimana perlunya dan cara melaksanakan revolusi agraria di desa yang kita gerakkan.

 

Akan tetapi, pasti tidak mungkin satu kontradiksi sama secara komplit dengan kontradiksi lain. Setiap kontradiksi memiliki ciri‑ciri tertentu yang secara khusus melekat pada tiap kontradiksi, suatu ciri inheren dari suatu kontradiksi. Itulah sebabnya, tidak pada tempatnya membandingkan bulat‑bulat sama satu masalah dengan masalah yang lain, dan menjiplak jalan keluarnya.

 

Bersamaan dengan perbandingan, perlu juga dilakukan pembedaan atau kontras, agar mengetahui ciri‑ciri khusus, partikular, dari kontradiksi yang dipelejari. Dengan membuat kontras, kita merumuskan pemahaman kita terhadap suatu obyek. Pambedaan perlu untuk merumuskan solusi atau metode perjuangan yang tepat dan cocok.

 

Contoh, adalah tidak mungkin menjiplak tiap tahap yang dijalankan oleh satu desa dalam pengurangan sewa tanah. Sebab, mungkin sekali bentuk korupsi tuan tanah berbeda‑beda. Mungkin juga watak dan kekuasaan tuan tanah, mandornya, tukang‑pukulnya, BABINSA dan HANSIP di desa tersebut sedikit barbeda. Dan mungkin juga kekuatan dan kesiapan massa, organisasi massa patani di desa dan kepemimpinannya, dan seterusnya, juga berbeda. Jadi, dalam merumuskan sebuah rencana aksi pengurangan sewa tanah, perlu dipelajari situasi‑situasi dan kebutuhan‑kabutuhan,  khusus dan istimewa yang khas desa tersebut.

5. Mengapa perlu mengaitkan analisa umum dan analisa khusus ?

 

Setiap obyek yang kita analisa merupakan bagian dari obyek yang lebih luas dan besar. Untuk menghindari analisa sepihak atau mata kuda, kita harus memperhitungkan relasi obyek yang kita analisa dengan keseluruhan bagiannya. Kita harus mencatat bagaimana relasi tersabut mempengaruhi dan mencerminkan perkembangan dari hal yang lebih besar terhadap satu obyek. Dengan kata lain, ketika kita menganalisa suatu obyek, kita mengetahui bahwa obyek tersebut merupakan bagian khusus dari keseluruhan hal yang umum. Dengan cara seperti itu, kita akan dapat memahami sebab‑sebab dan perkembangan obyek tersebut secara lebih baik lagi.

 

Contoh, desa yang sedang kita organisir dan kita gerakan, merupakan bagian dari satu kecamatan, kabupaten dan propinsi. Lingkungan di kota kecamatan dan kabupaten, misalnya tardapat  baberapa kompi tentara, KODIM, KORAMIL, KAPOLRES, BABINSA, HANSIP dan seterusnya, merupakan titik berat reaksi militer, yang sudah jelas kekuatannya di desa. Musuh bisa malancarkan operasi militer secara langsung, atau sekadar mangerahkan formasi BABINSA dan HANSIP harus menjadi perhitungan kita. Dengan manghubungkan analisa di desa dan relasinya dengan lingkungan di kota, kita dapat memahami bagaimana dan mengapa reaksi militer musuh terjadi. Kita tidak boleh menganggap bahwa hal ini hanya marupakan reaksi biasa atas satu insiden yang terjadi di desa, misalnya.

 

Contoh lain, komite desa kita tidak bergerak terpisah dari gerakan. Sebab, rencana‑rencana kita memang tidak mamberikan tugas tersebut pada tingkat seksi dan kabupaten. Di dalam assessment, kita juga memperhatikan dampak dan pengaruh dan pedoman dari atas dan gerakan secara umum dalam skope kota atau seksi.

 

Analisa kita terhadap suatu obyek harus memperhatikan telah bagian‑bagian yang membentuk kebulatan suatu obyek. Dengan cara demikian pemahaman kita mengenai suatu hal akan menjadi lebih lengkap, penuh dan mendalam. Kita mengulail kesimpulan-kesimpulan akhir dan menolak kesimpulan‑kesimpulan awal.

 

Di dalam assesment kita, misalnya, bukanlah untuk mengatakan bahwa secara umum jalannya perjuangan adalah baik. akan tetapi kita harus mencatat perjuangan dari berbagai macam kelompok dan pelaksanaan berbagai macam tugas‑tugas, di dalam paindidikan, organizing dan pengerahan massa. Hanya dengan cara analisa inilah implementasi program dan rancana kita akan menjadi jelas, penuh dan benar.

 

 

6. Bagaimana suatu obyek berubah ?

 

Akan tetapi situasi ini tidaklah stagnan, mandeg. Perjuangan dari dua aspek tidaklah berhenti. Bantuk dan kekuatan dari masing-masing aspek terus barubah. Kita menyebut hal ini sebagai perubahan kuantitatif. Satu tingkat nampak seakan‑akan obyek tidak berubah. Apa yang dapat kita perhatikan bila terjadi perubahan hanyalah bentuk luar atau penampilan luar obyek.

 

Di dalam masyarakat Indonesia,  pertentangan kelas kelihatan menyolok dalam bermacam‑macam perubahan dalam bentuk seperti: meningkatnya jumlah pengangguran, protes‑protes massal petani, peemberontakan bersenjata petani, perang di pedesaan Aceh dan Timor‑timur, buruh‑buruh mogok, dan berbagai macam perjuangan massa, termasuk gerakan mahasiswa yang patriotik dan nasionalis. Akan tetapi, belum terjadi perubahan terhadap relasi mendasar kelas-kelas  di negeri ini.  Inilah  sebabnya mengapa esensi setengah‑feodal dan setengah‑jajahan masyarakat  Indoneesia  masih tetap di dalam.

 

Dengan terus memperkuat aspek fundamental dan memperlemah aspek pokok, maka saatnya akan tiba ketika  aspek fundamental yang menjadi aspek yang memajukan, akan menjadi aspek pokok yang akan mandominasi kini. Perubahan ini kita sebut perubahan kualitatif. Perubahan posisi dominasi dari aspek‑aspek yang saling berlawanan akan disertai lompatan‑jauh ke depan yang akan merubah esensi sebuah obyek.

 

Perubahan kualitatif dalam masyarakat Indonesia dewasa ini akan datang pada saat revolusi-demokrasi nasional berhasil: Kelas penguasa yang semula menindas dan memeras, akan diperintah, dan kelas yang ditindas dan diperas akan men,jadi kelas yang memerintah. Akan terjadi perubahan esensi masyarakat Indonesia, perubahan aspek dasar kehidupan ekonomi, politik, dan kebudayaan di negeri ini.

 

Adalah penting untuk membedakan analisa antara perubahan kuantitatif dan kualitatif terhadap suatu hal. Dengan cara ini, kita tidak bakal diperdayakan oleh perubahan‑perubahan atas penampilan dan esensi. Terdapat perbedaan misalnya, antara reformasi dan revolusi. Tambahan pula, cara ini memberikan kejernihan pada kita, mengenai apa kebutuhan‑kebutuhan ­dan syarat-syarat supaya perubahan signifikan atas suatu benda dan peristiwa dapat terjadi.

 

7. Bagaimana suatu kontradiksi bisa diatasi dan suatu obyek dapat berakhir ?

 

Dengan menganalisa jenis‑jenis pertarungan dari sebuah kontradiksi akan memperjelas kita mengenai metode yang perlu dalam manangani pertentangan. Penanganan dengan kekerasan terhadap kontradiksi yang non‑antagonistik akan menghancurkan tujuan dan kepentingan rakyat. Akan tetapi sebaliknya, jika kita menganggap bahwa pertarungan antara kelas penindas dan penghisap dan kelas yang dihisap dan ditindas, maka kita melorot pada reformisme, yang akan menghalangi dan merugikan gerakan kita, dan hanya menguntungkan musuh.

 

MENEMPATKAN  GARIS MASSA DI ATAS YANG LAIN

 

Dalam berbagai pengalaman kita dengan aksi, maka pelajaran apakah yang bisa kita petik ?

Kawan‑kawan tentunya akan merasa heran dengan kemampuan kekuatan sendiri. Sikap‑sikap takut dan khawatir yang muncul pada sebelum dan ketika aksi akan dimulai, membuat was‑was dan ketidak-pastian didalam diri masing‑masing. Tapi apa yang tejadi ketika aksi itu sendiri berlangsung adalah sesuatu yang baru sama sekali, yang ternyata membuat kegeloraan jiwa dan perasaan. Rasa was‑was tapi juga disertai semangat yang meluap‑luap untuk terus menerus aksi. Kita menjadi seperti dilahirkan kembali pada ke tika itu,  dan jadi mampu melihat dunia yang baru, yang memenuhi kita akan kemajuan‑kemajuan baru.

 

Aksi‑aksi berlanjut karena sifatnya yang akumulatif, yang menelan sesuatu yang sudah usang dan mewujud kedalam pengalaman-pengalaman baru yang mendidik diri sendiri, tanpa disadari. Akan tetapi bila aksi‑aksi terus berlanjut tanpa sesuatu tujuan yang makin bertambah jelas, dan makin melayani pelaku‑pelakunya sendiri yaitu memenuhi hasrat‑hasrat pemberontakan dan kebebasan (anarki), maka mulailah ia kehilangan arah. Mulai hilang kekongkritan yang pernah dipunyainya, dan makin ia bersifat petualangan.

 

Apakah sesungguhnya dasar‑dasar dari aksi massa ? Inilah pertanyaan yang kini harus ditanyakan kembali kepada kita. Pengalaman mengorganisasi aksi massa, mengajarkan pada kita hukum berikul ini : “Bergerak dari persoalan—persoalan yang sederhana, kongkrit, jangka pendek dan personal sampai kepada persoalan‑persoalan yang lebih kompleks, abstrak, jangka panjang dan sistematik”.

Arti dari ini adalah bahwa jangan mencampur adukkan dalam satu waktu isu‑isu yang kongkrit dengan yang abstrak. Pada ketika masih dalam tahap melaksanakan aksi‑aksi yang kongkrit serta berjangka pendek, jangan mengacaukannya dengan aksi yang sudah lebih abstrak dan berjangka panjang. Mengapa harus didahulukan aksi‑aksi jangka pendek yang kongkrit ? Karena pengalaman aksi itulah yang mendidik massa. Selain itu bahwa aksi‑aksi jangka pendek berdiri diatas dasar kebenaran yang diterima baik oleh kita sendiri, maupun oleh lawan‑lawan kita. Kebenaran yang juga diterima oleh lawan seperti hukum, undang-undang, ide‑ide, pendapat umum, hak‑hak yang dijamin, dan lain sebagainya. Dengan cara inilah maka aksi massa mendapat suntikan‑suntikan pertama yang membuatnya imun dari serangan lawan. Rejim dimanapun juga, tidak bisa melanggar suatu kebenaran begitu saja; karena pelanggaran terhadap kebenaran umum akan membuatnya menjadi sorotan yang memalukan.

 

Aksi‑aksi awal yang dilakukan haruslah berangkat dari kebenaran yang diyakini secara umum disebagian besar khalayak.

 

Aksi‑aksi tersebut akan membuat sulit lawan karena berangkat dari landasan hukum dan ide-iede yang dibuatnya sendiri. Berangkat dari rasa percaya diri inilah, maka massa tidak akan terombang-ambing dalam provokasi dan fitnahan yang dilancarkan pihak lawan.  Demikian pula, maka ia akan mampu menarik sebagian lebih besar lagi rombongan yang lain untuk lkut bergabung kedalamnya.

 

Hal ini sudah dibuktikan sendiri oleh aks.i‑aksi sebelumnya. Dengan demikian rasa was‑was dan keraguan untuk berhasil akan bilang setelah kejadian aksi lewat. Akan tetapi gelombang aksi yang semak in lama semakin besar dan bekerja dimana‑mana akan menempatkan mahasiswa pada posisi yang cukup sulit: Haruskah ini diteruskan untuk maju terus, dan sampai kapan ?

 

Kenyataan yang berlangsung membuktikan dalil bahwa massa dididik oleh prakteknya sendiri. Dengan demikian selama aksi massa berdiri pada  kehendak massa yang sebenarnya, dan yang secara judur harus diakui, bukanlah bikinan beberapa orang saja,  maka tidak ada keraguan untuk melanjutkannya. Hanya saja dengan hasil pendidikannya itu sendiri, para pimpinan aksi makin percaya bahwa mereka harus lebin baik lagi dari yang sebelumnya. Artinya keadaan gerakan aksi ini harus makin jelas dalam hal isu,  posisi, arah, kepentingan, pembagian kerja, organisasi, dan sifatnya yang lebih kongrit dan tertib.

 

Hal lain lagi yang perlu diyakini oleh para pimpinan aksi, adalah bahwa ia menganut garis politik rakyat bertindas. Garis po1itik inilah, yang membedakan dengan tegas antara aksi massa yang dimobilisasi atas dasar kepentingan klik politik tertentu atau kepentingan kaum oportunis, dengan aksi massa yang sepenuhnya mengabdi pada rakyat tertindas.

 

Apakah yang membuatnya berbeda ? Para pimpinan aksi dan peserta aksi menyadari bahwa tanpa keikutsertaan rakyat dalam kegiatan‑kegiatan aksi ini, maka ia dengan mudah dapat terjebak kedalam arus permainan petualangan dan pengendalian yang licik dari kaum oportunis. Membiarkan aksi‑aksi berlanjut tanpa kendali dan pemikiran yang jelas, maka ia mudah masuk dalam petualangan mahasiswa‑mahasiswa kelas menengah yang goyah. Ia makin menjadi tidak efektif bagi perjuangan rakyat. Demikian pula tanpa garis politik yang jelas ini, maka dengan mudah ia jatuh pada klik‑klik dikalangan mahasiswa itu sendiri yang menyebabkannnya gampang dihasut atau dimakan oleh kaum oportunis diluar mereka.

 

Gerakan mahasiswa sudah belajar banyak mengenai ini. Kaum oportunisme telah dengan berhasil menyelewengkan aksi‑aksi mahasiswa untuk  kepentingan  mereka dan  menyuap sebagian dari pimpinan‑pimpinannya. Dalam saat‑saat seperti itulah, Oportunisme dari intel‑intel militer dan kaum PSI (Partai Sosialis Indonesia) pernah membuat aksi mahasiswa  berbelok arah dan keliru. Dan mereka masih terus melakukan politik oportunisnya itu sampai sekarang.

 

Sesungguhnya rakyatlah yang seharusaya berdampingan dengan mahasiswa dalam setiap kesempatan apapun dari gerakan aksi: tersebut. Bagian yang terpenting dahi aksi massa adalah ketik. rakyat ikut bergabung didalamnya sebagai pelaku‑pelaku penah. Disitulah, mahasiswa akan menjadi heran dan takjub akan organisasi dan kepemimpinan yang dilakukan oleh rakyat itu sendiri. Dalam aksi itu, mereka dengan cepat akan bisa berganti taktik dan belajar cepat. Itu karena mereka telah ditempa oleh penderitaan dan penindasan. Yang Jelas bagi rakyat: Ini adalah perjuangan hidup dan mati yang sebenarnya. Mahasiswa harus menyadari ini, sehingga ia tidak ragu‑raqu dan bisa percaya pada politik rakyat.

 

Saat ini rakyat sudah menaruh kepercayaan pada mahasiswa, suatu kepercayaan yang muncul karena usaha solirdaritas dari mahasiswa itu sendiri, dan juga karena keadaan rakyat tinggal menunggu matinya! untuk itu mahasiswa harus mampu mengangkat kembali harkat kemanusiaannya, memulihkan kembali api semangat penghabisan itu. Dan janganlah mahasiswa bersikap sombong dan berlagak ingin menopoli dan melakukan aksi sendirian saja, serta membiarkan rakyat menonton kehebatannya dan keberanian mereka. Kepentingan Mahasiswa kelas menengah semacam ini, harus dikikis habis.

 

Mahasiswa sudah semestinya dapat melakukan aksi massa yang henar, yaitu melakukan aksi bersama‑sama massa yanq terpercaya. Haruslah diadakan pembagian kerja diantara mereka, merumuskan taktik bersama dan melakukan koordinasi dibeberapa tempat secara bersama dan kompak. Dalam hal ini, haruslah dihindari lokalisai yang dikehendaki lawan. Lawan hanya merasa kuat karena ia memiliki dan menguasai situasinya. Tapi ia akan kebingungan bila aksi massa sekaligus melakukan kombinasi taktik yang berbeda yang diluar kehendak mereka.

 

Yang harus dimengerti oleh sebuah aksi massa adalah berfikir dan bertindak secara kreatif. Janganlah sampai terjebak oleh situasi yang dikehendaki lawan, dan jangan pula ia menuruti secara tidak sadar kemauan politik lawan. Ia harus menyadari bahwa lawan dapat dikalahkan oleh hal-hal yang tak diduganya, yang berada diluar pengalamannya.

 

Mewujudkan manifestasi demokrasi yang sejelas-jelasnya dapat dilakukan dengan berbagai cara, asalkan terjamin oleh undang-undang dan hukam. Hal ini akan menguntungkan aksi massa tersebut. Saat ini situasinya ada dalam keadaan yang menguntungkan, karena sudah terbentuk opini umum dan internasional yang kuat. Demikian pula, aksi massa yang tertib benar dan pantang mundur akan menarik simpati khalayak umum.

 

Bila aksi  massa ini bisa berangkat sungguh‑sungguh dari garis massa yang benar, barulah ia bisa meningkat maju secara kualitatif !

 

Apakah Garis Massa itu  ?

 

Garis massa adalah prinsip revalusioner yang mengajar kita tegak berdiri dan percaya pada massa untuk pembebasannya. Prinsip ini didasarkan pada kenyataan baNwa massa dan hanya massa yang dapat membuat sejarah.

 

Hal ini sudah dibuktikan oleh sejarah dunia ratus tabun yang lampau, bahwa faktor yang menentukan dalam perubahan masyarakat tidak lain daripada massa. Adalah kekuatannya dalam produksi yang membuat masyarakat bertahan hidup. Melalui pengetahuan dan kecerdasannyalah pengetahuan dan kehidupan masyarakat berkembang. Dengan kekuatannya, setiap kekuatan yang merintangi kemajuan masyarakat dapat disingkirkan. Itulah sebabnya kita mengata­kan bahwa massa adalah pahlawan sesungguhnya. Keberhasilan setiap tujuan tergantung atas dukungan dan partisipasi massa. Maka, demi keberhasilan perubahan perlu bagi kita bersandar dan percaya kepada massa.

 

Keberhasilan setiap tujuan dan solusi setiap masalah tergantung pada partisipasi dan mobilisasi aktif massa. Kita harus terjun ditengah-tengah massa dan menyatu dengan mereka. Dengan sabar membangkitkan, mengorganisir, dan menggerakkan massa. Kita bisa membuat mereka membentuk dan menunjukan kekuatan mereka dalam perubahan revolusioner. Inilah satu‑satunya cara. Tidak ada cara lain untuk merebut kebebasan dan demokrasi !

 

Adalah tanggungjawab kita untuk mempelajari dan mempraktekan Garis Massa. Perlu bagi setiap orang‑orang revolusioner untuk mengolah diri dalam usaha menggerakan massa dengan sabar dan tekun di tengah‑tengah massa, dengan rendah hati bergaul dengan massa. Dengan cara ini, kita bisa mencegah sikap dominasi dan menghindari terpisahnya diri kita dari massa.

 

Apakah artinya arti massa untuk massa ?

Metode yang tepat dalam memimpin massa adalah “dari massa untuk massa”. Ini berarti mengumpulkan ide yang terpencar‑pencar, merumuskannya, dan mengembalikannya kepada mereka dan menjelaskannya keseluruhan gagasan sampai mereka menerima dan menuruti ide tersebut.

 

Kepemimpinan “dari massa untuk massa” adalah sesuai dengan Garis Massa. Untuk memahami kondisi dan masalah‑masalah dari massa, kita harus bersandar pada pengetahuan dan kecerdasan massa dan kita yakin bahwa keputusan‑keputusan dan rencana‑rencana yang tepat dapat dibentuk hanya apabila massa berpartisipasi dan menyumbangkan pengalaman dan pengetahuan mereka. Itulah sebabnya, kita bertanggung jawab untuk bergaul dan membuat investigasi ditengah‑tengah massa, mengumpulkan gagasan‑gagasan yanq masih terpencar‑pencar dan belum sistematis. Dengan menganalisa dan memasukan gagasan‑gagasan ini,  dengan menghargai dan mempercayai massa, memungkinkan kita menyempurnakan gagasan‑gagasan yang sudah terkumpul dan sistematis, yang mencerminkan kondisi real massa, dan massa menjadi jela bagaimana persoalan‑persoalan tersebut bisa diatasi.

 

Untuk melaksanakan gagasan‑gagasan yang kita bentuk dan untuk mengatasi persoalan‑persoalan massa! kita bertumpu pada kemampuan cdan kokuatan massa. Sekalipun per~oalan tersebut bRea~, kita yakin, sepanjang keputusan dan persatuan massa bulat dan penah kita bisa mengatasinya. Itulah sebabnya! menjadi tanggung jawab kita untak secara sabar menjelaskan kepada massa ide‑ide yang kita susun dari mereka. Kita mengikuti ide‑ide ini ditengah-tengah massa sampai mereka memeluknya sebagai milik.i mereka senciiri dan melaksanakannya melalui, mobilisasi kolektit mereka.

 

Apakah artinya Mobilisasi yang didasarkan pada kepentingan dan kesiapan massa ?

 

Garis Massa mengajar kita bahwa kita harus mulai dan bergerak atas dasar kepentingan obyektif massa. Ini berarti bahwa kita harus bergerak atas dasar kebutuhan nyata mereka dan tidak ada yang kita pikirkan. Oleh karenanya, tidak peduli maksud kita amat baik jika kita menyimpang dari kepentingan obyektif massa, pastilah kita akan terpisah dari massa pada saat itu juga.

 

Akan tetapi, biasanya massa belumlah menyadari kebutuhan obyektif mereka. Mereka masih tidak dapat memahami kebutuhan untuk mengubah, dan mereka belum siap untuk perubahan. Jika kita bertahan dan ngotot dengan posisi kita, kita akan terasing dan terpisah dari massa ‑‑tidak peduli betapa benar kita. Kita harus aktif sampai mayoritas mereka mengakui ide yang kita bentuk dan sampai mereka siap dan berketetapan hati untuk melakukannya.

 

Bagaimana kita dapat mengerjakan ini ? Kita dapat membagi massa kedalam tiga bagian ; Mereka yang maju, mereka yang sedang-sedang dan mereka yang terbelakang. Bagian yang maju dari massa mudah  dapat memahami kebutuhan untuk perubahan dan mereka siap melakukan perubahan ini. Bagian yang terbelakang dipihak lain biasanya memiliki tanda pengaruh keterbelakangan, ragu‑ragu atau menolak. Bagian sedang-sedang  atau tengah biasanya mengerti dan memahami kebutuhan akan perubahan, tetapi bimbang dan mutlak mereka tidak siap.

 

Kita terutama tergantung pada bagian yang maju dari massa, bagian yang paling maju, aktif, bersemangat dan tertarik untuk mengubah. Melalui bagian yang paling maju ini, kita dapat mengerjakan bagian tengah dan berusaha memenangkan hati mereka yang terbelakang. Dengan cara ini kita secara tepat memimpin massa berdasarkan kepentingan obyektif mereka dan dengan memperhitungkan kesiapan mereka untuk melakukan perubahan.

 

Jika kita melakukan ini tanpa memperhitungkan kesiapan massa, kita sudah melampaui kesadaran dan kesiapan mereka satu hari. Bila itu terjadi, maka kita akan mengerakan mereka dengan mengkomando mereka dan bukan atas dasar inisiatif dari mereka memahami dan menerima maka, ini adalah komandoisme.

Jika kita memakai kepemimpinan pada kepercayaan dan mengerahkan massa besar tetapi terbelakang, kita akan menjadi ekor dari massa. Apa yang akan terjadi adalah bagian yang maju dan menengah dari massa sudah bersiap dan mengajak suatu perubahan, akan tetapi kita menjadi orang bimbang dan massa adalah orang yang akan meyakinkan kita. Maka, kita akan menjadi buntut mereka. Inilah buntutisme.

 

Mengapa Kita menerapkan praktek garis massa yang benar dalam revolusi Demokratik ?

Revolusi demokratik dibentuk dari studi yang seksama dan mendalam terhadap sejarah dan kondisi masyarakat Indonesia. Ia menjawab kepentingan rakyat untuk demokrasi sejati. Revolusi Demokratik berangkat dari kondisi obyektif dan kebutuhan massa, dan ia menunjukan jalan yang benar untuk perubahan revolusioner.

Itulah sebabnya, mengapa dalam menyesuaikan prinsip-prinsip revolusi demokratik, kita memastikan gerakan kita sesuai dengan kepentingan massa dan kita menunjukkan jalan yang benar dari jalan revolusi. Sepanjang kita mengikuti prinsip-prinsip yang tepat  dalam revolusi demokratik, kita memegang kunci praktek garis massa yang tepat. Adalah tanggung jawab kita sekarang untuk mempelajari kondisi-kondisi, persoalan dan kepercayaan khusus massa ditemapat mana kita sedang mengorganisir, agar secara tepat memimpin massa sehari-hari dan khas tempat tersebut.

SENTRALISME DEMOKRASI

Apakah organisasi itu ?

Organisasi adalah sistem menghimpun orang bersama-sama untuk berpihak dan bergerak sebagai satu kebulatan. Dengan kata lain, organisasi merupakan sistem yang mengikat setiap anggota dan bagian organisasi untuk bergerak sebagai satu kesatuan untuk mencapai satu tujuan bersama. Kelompok yang kita pimpin adalah organisasi dan ada berbagai organisasi lain di lingkungan kita.

Kita bisa membandingkan sebuah organisasi dengan sapu lidi, yang memiliki kekuatan karena ikatan bersama. Bila masing-masing lidi tidak disatukan menjadi satu, maka lidi-lidi tersebut akan lemah, tidak memiliki kekuatan, dan mudah dipatahkan. Tetapi bila lidi-lidi itu diikat bersama menjadi satu, ia adalah alat yang efektif untuk membersihkan kotoran. Seperti kita, mahasiswa dan pemuda, musuh selalu menghendaki kita terpecah, hingga kita tidak bisa secara efektif menyingkirkan penindasan, pemerasan, dan aruran mereka. Jika kita terorganisir, dan persatuan kita kuat, seperti sapu lidi, maka kita bisa bergerak dan menyapu kotoran-kotoran dan persoalan-persoalan masyarakat.

 

Selalu tanggung jawab kita untuk mempertahankan dan memperkuat organisasi kita. Kita berusaha mengencangkan ikatan kita, dan membenahi metode pengerahan kekuatan kita. Hanya dengan jalan ini kita bisa menunjukkan tenaga dan kekuatan persatuan kelas-kelas yang ditindas dan dihisap untuk menjungkir balikan musuh kelas meraka dan mencapai masyarakat Indonesia yang demokratis, bebas dan sejahtra.

 

Apakah Sentralisme Demokrasi itu ?

Sentralisme Demokrasi itu adalah prinsip pembimbing kita dalam membentuk dan menjalankan organisasi kiata. Prinsip ini menjamin bahwa kita akan bergerak sebagai kesatuan yang terorganisir.

 

Sentralisme demokrasi berarti sentralisme yang didasarkan pada demokrasi dan demokrasi dibawah kepemimpinan terpuasat. Sentralisme berdasarkan pada demokrasi berarti memperhitungkan segala sesuatu berdasarkan keseluruhan kepentingan dan kondisi organisasi. Gerakan yang baik dari organisasi berasal dari partisipasi aktif seluruh anggota dan mengambil bagian didalamnya. Keputusan-keputusan yang dijalankan dalam organisasi secara bersama diputuskan atas dan didasarkan kepada kepentingan umum.

 

Demokrasi dibawah kepemimpinan terpusat berarti kepentingan dan gerakan tiap anggota atau bagian organisasi sesuai dan memajukan kepentingan dan tujuan organisasi.

 

Kepatuhan terhadap prinsip sentralisme demokrasi meletakkan kondisi yang baik bagi gerakan tiap anggota dan organisasi secara baik dan hidup. Dengan cara demikian kita membuat keputusan‑keputusan, rencana‑rencana dan program yang benar dalam pergerakan kita, dan secara efektif menuntaskannya. Mempraktekan sentralisme demokrasi adalah satu cara untuk. menjamin keberhasilan kita.

 

Apakah empat aturan disiplin di dalam organisasi?

 

Empat aturan disiplin menjamin kesatuan organinasi kita. Prinsip-prinsip ini didasarkan pada sentralisme domokrasi.

1.      Perorangan berada di bawah organisasi.

Ini berarti bahwa setiap perorangan harus berada di bawah kepentingan seluruh organisasi. Ia harus mematuhi konstitusi organisasi dan keputusan-keputusan tanpa perkecualian.

2.      Minoritas dibawah mayoritas.

Berarti bahwa keputusan yang dipatahi oleh seluruh organisasl didasarkan kepada persetujuan mayoritas. Minoritas harus dibawah dan mematuhi keputusan bersama.

3.      Organ Lebih rendah berada dibawah organ yang lebih tinggi.

Ini berarti, organ atau unit yang lebih rendah harus tunduk pada keputusan‑keputusan dan kebijaksanan‑kebijasanaan organ atau unit yang lebih tinggi yang mewakili organisasi secara lebih luas.

4.      Keseluruhan organisasi berada dibawah kepemimpinian nasional dan Konggres Nasional organisasi.

Berarti keputusan-keputusan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang di bentuk oleh konggres nasional dan kepemimpinan nasional adalah efektif dan perlu dipatuhi oleh seluruh anggota dan bagian organisasi.

 

 

Apakah Tangung Jawab‑Tanggung Jawab Pemimpin atau Organ Yang Lebih tingqi ?

 

Berbeda dengan organisasi kaum borjuis dan feodal dari masyarakat yang busuk sekarang ini, pemimpin organisasi revolusioner bukanlah raja yang memerintah dan memberi komando pada para anggota. Pemimpin memutuskan dan bergerak atas dasar prinsip sentralisme demokrasi. Ia bekerja untuk kepentingan umum dan bukan demi kepentingan perorangan atau sekelompok kecil. Pemimpin dipilih melalui proses yang demokratis.

 

Kepemimpinan umum dalam organisasi merupakan tanggung jawab para pemimpin. Secara umum ia mengawasi jalannya perjuangan untuk mendorong kemajuan tujuan‑tujuan organisasi yang kontinyu dan bulat. Ia menuntunkan tugas‑tugas penting guna mendorong pelaksanaan yang baik atas keputusan‑keputusan, rencana‑rencana dan program‑program perjuangan. Ia mengelola bagian‑bagian organisasi guna mendorong pelaksanaan tugas secara sungguh‑sunggah.

 

Sangat penting bagi seorang pemimpin mengenal dengan baik seluruh gerak dan kegiatan organisasi,  baik secara umum maupun khusus. Selain dari laporan‑laporan yang telah diperiksa, para pemimpin harus terjun di tengah‑tengah anggota dan massa guna memperoleh keterangan‑keterangan yang perlu. Dengan cara demikian, para pemimpin mengetahui segera perubahan‑perubahan situasi, dan nemberikan petunjuk dan keputusan‑keputusan secara cepat.

 

Pemimpin membuat garis besar rencana-rencana dan program‑program dalam perjuangan. Biasanya program dibuat disertai tugas-tugas dalam periode waktu tertentu‑‑satu bulan atau lebih. Dengan rencana‑rencana, dipihak lain, disertai tugas‑tugas yang perlu untuk aksi, kampanye, atau tujuan‑tujuan kbusus. Melalui program-program dan rencana‑rencana perjuangan, kita mensistematisasikan dan menyatukan perjuangan keseluruhan organisasi. Studi yang cakap atas situasi dan perjalanan perjuangan keseluruhan jawaban-jawaban terhadap kebutuhan‑kebutuhan massa adalah sangat per1u. Pemimpin mengundang dan memimpin untuk memastikan bahwa persatuan yang dibentuk dalam adalah baik.

 

Apakah Tanggungjawab‑Tanggungjawab Para Anggota dan Organ Yang Lebih Rendah ?

 

Keanggotaan organisasi rervolusioner dibangun dari perorangan-perorangan yang aktif dan bertanggung-jawab yang memperjuangkan tujuan‑tujuan organisasi, Anggota‑anggota organisasi revolusioner tidak hanya berjuang untuk kepentingan mereka sendiri akan tetapi untuk tujuan organisasi. Setiap anggota berjuang untuk membangun ognisasi yang kokoh dan kuat melawan kelas penguasa.

Adalah tanggungjawab setiap anggota bagian‑bagian organisasi, mematuhi semua keputusan‑keputusan, melaksanakan tugas‑tugas, dan program‑program secara bagus; melindungi kepentingan dan keamanan organisasi, dan berjuang segaris dengan tujuan dan kepentingan umum organisasi. Perlu bagi tiap anggota dan bagian-bagian organisasi untuk mempelajari keputusan‑keputusan, rencana‑rencana, menganalisa bagaimana bisa dilaksanakan dan memberikan jalan mengerjakannya. Perlu diinformasikan dengan segera kepada pemimpin setiap pertanyaan atau problem, dan hasil‑hasil pelaksanaan tugas‑tugas tersebut.

 

Menjadi kewajiban bagi setiap anggota dan organ lebih rendah menyerahkan laporan secara reguler dan aktif termasuk saran‑saran, pengamatan‑pengamatan dan kritik‑kritik atas berbagai macam hal yang penting bagi kepentingan dan perjuangan organisasi. Adalah tanggungjawab setiap anggota bersikap jujur dan pasti terhadap keterangan‑keterangan yang diberikan. Dan perlu sekali membuat rencana‑rencana dan keputusan‑keputusan yang tepat.

SISTEM KOMITE

 

1. Apakah Kepemimpinan Kolektif itu ?

 

Kepemimpinan kolektif atau kepemimpinan bersama adalah mempraktekkan prinsip sentralisme demokrasi dalam perjuang revolusioner . Ia mengajar pergerakan komite-komite yang memimpin sebagai kolektif sebagai cara kerja bersama. Semua hal-hal yang penting didiskusikan dan dilaksanakan secara bersama-sama.

 

Melalui kepemimpinan bersama, basis yang luas dari partisipasi demokratis para anggota akan beres terwakili dalam kepemimpinan. Kondisi dan persoalan yang dihadapi oleh organisasi akan betul-betul dipahami oleh para pemimpin. Komite-komite yang memimpin akan berdiri sebagai pusat yang kuat dan bersatu dari kepemimpinan organisasi revolusioner.

 

Melalui kepemimpinan bersama, gerakan anggota-anggota dalam melaksanakan tanggung jawab memimpin secara bagus saling berkaitan. Ia mengembangkan inisiatif dan kekerasan hati tiap anggota untuk turut serta dalam pembuatan dan pelaksanaan keputusan-keputusan bersama. Dengan cara seperti itu  kita menghindari monopoli satu atau beberapa orang dalam pembuatan keputusan dan dalam menggerakkan organisasi.

 

2. Apakah Sistem Komite itu ?

 

Sistem komite adalah sistem atau cara bergerak bersama dari komite-komite yang memimpin. Kita dapat melihat komite sistem dari pembagian kerja, hubungan sekretariat dengan anggota, pertemuan-pertemuan, dan sebagainya.

 

Sistem komite merupakan hal yang penting untuk dipelajari dan dilaksanakan dengan mahir. Inilah cara untuk mempraktekkan prinsip kepemimpinan bersama. Khususnya dengan makin meningkatnya kerja pemimpin dalam memperluas organisasi. Perlu bagi Komite yang memimpin untuk memperkenalkan penerapan (implementasi) kerja yang sistematik dan terorganisir.

 

Melalui sistem komite, kita bisa mencegah persoalan-persoalan yang merintangi komite menjalankan pekerjaanya. Bila kita mengikuti cara ini dalam sistem pembagian kerja, kita bisa mencegah menimbun semua pekerjaan pada sekretariat sementara pengurus lain tidak mengerjakan apa‑apa. Bila kita menerapkan sistem ini dalam sistem pertemuan, kita bisa mencegah pertemuan yang terlalu sering dan panjang; dan kita dapat menyiapkan dengan seksama setiap pertemuan. Kita mencegah lupa akan pekerjaan lain atau menunda penyelesaian persoalan‑persoalan. Sitem komite penting agar komite dapat mengatasi tugas‑tugas dan masalah‑masalah penting dalam kepemimpinan.

 

3. Apakah tanggung jawab Sekretaris ?

 

Sekretaris memimpin komite. Dengan kata lain, ia pemimpin kolektif (komite). Sekretaris terutama sekali mengawasi pekerjaan komite. Sekretaris selalu mengingat pelaksanaan yang cakap terhadap tugas‑tugas dan tanggung jawab‑tanggung jawab. Ia mengawasi apakah persatuan dipertahankan dan dipererat, dan apakah program-program berjalan dengan baik. Ia mengawasi tindakan tiap anggota dan pelaksanaan berbagai macam tugas untuk mendorong pelaksanaan, keputusan‑keputusan secara terlatih. Ia langsung menyelidiki dan menanyakan kepada para anggota tentang setiap masalah atau perubahan‑perubahan kondisi yang memerlukan keputusan secepatnya.

 

Sekretaris memimpin setiap pelaksanaan keputusan‑keputusan dan mengatasi masalah yang timbul dalam proses pelaksanaan. Dengan cara seperti itu ia menempati posisi terbaik untuk memusatkan dan mengikat setiap tindakan komite. Ia secara terus-menerus (kontinyu) mendorong dan memajukan kekompakan kerja para anggota. Setiap pertentangan yang timbul harus segera mungkin dipecahkan, dirembukan dan diputuskan pemecahannya. Dengan cara demikian, kita dapat menciptakan kesatuan aksi dan keserasian yang akhirnya dapat dengan maksimal menjalankan keputusan yang telah disepakati organisasi.

4. Apakah hubungan yang benar antara sekretaris dan anggota-anggota komite?

 

Persatuan erat terbentuk antara sekretaris dan anggota-anggota komite ‑‑ persatuan dalam melaksanakan tanggung jawab-tanggung jawab mereka dalam memimpin diletakkan di pundak mereka oleh organisasi. Persatuan ini penting bagi kepemimpinan komite yang efektif, kuat dan mempunyai kemaksimalan dalam melakukan tindakan.

 

Sebagai ketua komite, sekretaris mengawasi pergerakan anggota‑anggota untuk menghasilkan implementasi yang bagus terhadap keputusan‑keputusan di dalam komite. Ia membimbing dan membantu tiap anggota mengerjakan tugas‑tugas mereka, ia menunjukkan cara bekerja yang benar lewat contoh. Akan tetapi kapemimpinan sekretaris tidaklah istimewa dan ia di atas komite dan anggota‑anggotanya. Suaranya dan haknya sama dengan anggota-anggota yang lain. Ia tidak memiliki hak‑hak istimewa khusus. Adalah tanggung jawabnya untuk mematuhi keputusan‑keputusan bersama.

 

Di pihak lain, tanggung jawab anggota‑anggota untuk membantu sekretaris. Ini dikerjakan dengan sepengetahuan dan hormat pada kepemimpinan sekretaris. Sokongan dan hormat ini merupakan kondisi yang baik buat sekretaris untuk_melaksanakan tanggung jawabnya. Setiap anggota membantu dalam mengawasi perjalanan perjuangan organisasi dan komite. Mereka sagera memberikan laporan kepada sekretaris mengenai hasil‑hasil tugas mereka, khususnya jika muncul masalah. atau perubahan yang membutuhkan tindakan secepatnya. Mereka membantu manyiapkan dan ..memberitahu anggota-anggota lain bila ada rapat. Di dalam rapat, mereka menolong meluruskan pembicaraan yang menyimpang dan memecahkan kesalahpahaman. Mereka mengajukan diri membareskan  tugas‑tugas lain tanpa menunggu sekretaris.

5. Apakah tanggung jawab wakil  sekretaris ?

Membentuk wakil sekretaris merupakan cara membantu dan membagi pekerjaan di dalam komite. Ini adalah cara menyokong sekretaris agar ia dapat menuntaskan pekerjaan-pekrjaan dan masalah‑masalah yang lebih penting.

 

Wakil sekretaris juga seorang pengganti sekretaris, pada saat sekretaris tidak sanggup mengerjakan tugas‑tugasnya dikarenakan sebab‑sebab lain. Dengan cara demikian, kita melihat bahwa aktivitas komite tidak terlantar atau hancur akibat ketidakadiran sekretaris.

 

Ketika organisasi dan komite yang memimpin masih baru dan kecil, satu orang wakil sekretaris telah cukup. Bersamaan dengan perkembangan organisasi, komite juga akan bertambah, dan beban serta berat tugas‑tugas akan meningkat. Biasanya, kita mengangkat wakil sekretaris untuk berbagai macam pembagian kerja, tergantung pada keperluan, kita mengangkat wakil sekretaris pada komite organisasi,  pendidikan, keuangan, dan lain‑lainya.

 

Sekretaris jenderal dan wakil sekretaris membentuk sekretariat. Melalui sekretariat, tanggung jawab‑tanggung jawab sekretaris dalam pengawasan sehari‑hari dan kelanjutan perjuangan dilaksanakan bersama‑sama. Sekretariat tidak terpisah dari ketua dan tidak di atas komite.

6. Bagaimana kita bisa secara kontinyu memperkuat pengerahan komite bersama‑sama.

Untuk terus menerus, memperkuat pengerahan komite bersama-sama, perlu menguatkan dan mengembangkan persatuan,­ pemahaman, dan tolong menolong di antara para anggota. Dengan cara itu, rasa segan satu sama lain atau bahkan prasangka bisa disingkirkan. Dan kepatuhan kepada kepemimpinan bersama akan berjalan mulus.

 

Kita harus memperhitungkan pembentukan pemahaman di antara anggota‑anggota. Kita bisa mambentuk pemahaman dan pengetahuan yang sama para anggota mengenai berbagai isu dan peristiwa dengan berdiskusi dan belajar bersama, dan melalui pertukaran informasi yang kontinyu. Melalui cara demikian, pemahaman dan persatuan anggota‑anggota akan menjadi mudah.

 

Adalah sangat perlu membudayakan keterbukaan anggota‑anggota satu sama lain. Disamping menjaga kerahasiannya, layak mangungkapkan masalah‑masalah atau hal lain yang perlu diketahui oleh kawan‑kawan. Tidak harus manunggu untuk memberitahu pendapat, masalah‑masalah, atau keadaan‑keadaan yang penting lainnya. Berdiam selama rapat atau didepan  forum yang bisa dipercaya hanya menghancurkan persatuan, lebih‑lebih bila anda mencaci-maki atau mengkritik di belakang kawan‑kawan atau setelah rapat.

 

Kolektif harus belajar bersatu untuk bergerak sakalipun kita belum merasa gembira dengan kawan‑kawan kita. Tindakan dan keinginan.yang salah untuk membentuk sekeompok kecil teman atau kelompok tandingan akan malemahkan dan meruntuhkan persatuan di dalam komite. Kita harus penuh parhatian dan suka menolong kepada kawan‑kawan kita. Kita harus.waspada terhadap segala sesuatu yang dapat menghancurkan persatuan.dan gerakan bersama komite.

 

7. Apakah yang harus kita perhatikan agar jalannya rapat manjadi baik ?

 

Rapat merupakan bagian penting dalam pergerakan komite. Rapat adalah tempat dimana kita menyatukan apa yang harus kita kerjakan untuk memperjuangkan tujuan‑tujuan organisasi. Dalam rapat, komite secara bersama‑sama menganalisa untuk menyusun kaputusan‑keputusan, rencana‑rencana dan program perjuangan. Melalui rapat, kita mampraktekkan kepemimpinan kolektif dan membentuk persatuan yang erat dalam komite. Adalah tanggung jawab komite untuk melaksanakan dan mempraktekkan sistem rapat efisien dan berbuah.

 

Buatlah kerangka jadwal rapat tetap komite. Hindari rapat yang kelewat sering. Organ atau unit yang lebih tinggi menetapkan, dan komite sendiri memperkirakan frekuensi assesment kerja, persiapan laporan, programming dan planning kerja‑kerja, dan hal‑hal lain yang penting didiskusikan di dalam rapat. Kita harus mencegah rapat yang tarlalu panjang. Ini akan tarjadi bila rapat jarang diadakan, bila rapat tidak dipersiapkan dengan baik, maka jalannya rapat akan mengalami hambatan-hambatan.

 

Pastikan bahwa semua anggota mengetahui adanya rapat tersebut. Ini perlu, agar anggota‑anggota dapat mempersiapkan hal‑hal yang akan didiskusikan dalam rapat dan menjamin kehadiran mereka. Buatlah agenda atau daftar hal‑hal yang akan dibahas, dan informasikan agenda tersebut kepada setiap anggota.

 

Pastikan kalau pertamuan dipersiapkan dengan baik, beritahu anggota‑anggota tentang laporan, investigasi yang akan dibahas atau bacakan apa saja yang harus mereka kerjakan untuk persiapan.  Adalah lebih baik dilakukan diskusi pendahuluan mengenai hal‑hal yang akan dibahas sebelum rapat yang sesungguhnya. Mengatur tempat, keamanan, makanan dan lain sebagainya, merupakan bagian persiapan pula.

 

Selama rapat berlangsung, pastikan untuk memusatkan rapat pada topik-topik utama secara langsung. Hindari penjelasan yang berlebihan mengenai soal-soal yang tidak ditangani. Dengan memusatkan rapat pada topik-topik utama dan pokok, kita bisa menghasilkan rapat yang cepat dan diskusi yang berbuah. Cobalah bikin bikin merata dan seimbang  partisipasi anggota-anggota, dan cegah monopoli diskusi oleh beberapa orang. Jangan lupa untuk membuat summing-up, atau ringkasan jalannya diskusi sehingga tiap anggota akan mengetahui apa yang telah kita capai.

 


[1][1] Amsterdam Internasional Kuning adalah nama populer dari Federasi Serikat Buruh Internasional (International Federation of Trade Union/IFTU) yang dipimpin oleh sosial‑demokrat. Federasi ini dihidupkan kembali keberadaannya pada Juli 1919 dan bermarkas diAmsterdam, Ed .

Tinggalkan sebuah Komentar »

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com. | The Pool Theme.
Entries dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: