Prinsip kesatuan Islam

Maret 2, 2011 pukul 9:25 pm | Ditulis dalam Artikel | Tinggalkan komentar

Prinsip kesatuan Islam ini mengatur hubungan manusia dengan Rabb-nya, serta hubungan manusia dengan sesamanya. Prinsip kesatuan dalam Islam meliputi 4 (empat) hal:

  1. Ilah
  2. Dien
  3. Uswah
  4. Ummah

Ilah

Dengan syahadat, seorang muslim telah memproklamasikan dalam dirinya, bahwa dia telah bebas dari berbagai penghambaan kepada sesuatu. Dia hanya takut, hanya cinta, dan hanya akan mengikuti Allah Rabbil alamin. Dia membebaskan diri dari rasa takut, cinta, dan pengikutan pada sesuatu selain Allah. Hanya Allah saja ilah seorang muslim. Ketika berjual beli dia takut untuk mengurangi takaran, takut karena Allah melarang perbuatan itu dan Allah Maha Melihat perbuatannya. Ketika menghadapi seperangkat alat-alat eksperiment, dia bersemangat, karena menurut akan perintah Allah yang menyuruhnya untuk menafakuri alam. Hatinya telah pekat dengan celupan Allah (sibghah), sehingga seorang muslim yang beriman tunduk-patuh selayaknya seorang hamba, seorang budak, hanya kepada Allah. Hatinya lunak dalam menerima kebenaran yang datang dari Allah. Ilah-ilah lain yang banyak, entah itu materi, pangkat, syahwat, telah dinihilkan, dan dia menegakkan dalam hatinya hanya satu ilah, satu sesembahan, hanya satu yang mendominasi detak dan arah condong hatinya, yakni Allah, Rabb manusia. Hanya Allah saja sumber motivasi, tujuan, wa’la, dan kepada siapa penghambaan dia berikan. Dia bersandar dan meminta pertolongan hanya kepada Sang Maha Penolong, dan hanya Allah saja yang diharapkan muslim yang beriman, ridha-Nya. Baginya, Allah saja penentu, apa yang harus dia lakukan, apa yang harus dia tinggalkan dan jauhkan. Allah saja pemutus, kepada siapa dia mesti berteman dan berkasih-sayang, serta kepada siapa dia mesti bersikap keras, mengambil jarak, dan memusuhi. Bagi seorang muslim yang beriman kepada Allah saja dia bersandar dalam bersikap, kepada siapa dia mesti selalu berprasangka baik, dan kepada siapa mesti selalu hati-hati dan selalu curiga. Inilah prinsip kesatuan pertama dan utama, tauhidul aqidah, yang melandasi prinsip-prinsip kesatuan lainnya.

Dien

Islam adalah din, agama yang haq. Hanya Islam agama yang benar, karenanya bagi seorang muslim diyakini bahwa agama-agama lain pasti tidak benar, pasti salah. Inilah ego yang mesti menancap dalam diri seorang yang beriman. Seorang muslim, mereka yang berserah diri hanya kepada Allah, secara otomatis hanya akan mengikuti dinnullah, al-Islam. Dia hanya meyakini kebenaran yang datang dari Allah. Apapun perkataan orang kafir, apapun celaan orang yang suka mencela, apapun sikap permusuhan dari musuh-musuh Allah, seorang muslim yang beriman hanya akan ikut pada agama Allah, hanya akan tunduk pada aturan Allah dan cara hidup yang diberikan Allah. Islam adalah sebuah jalan dan satu-satunya jalan menuju mardhatillah, maka jalan lain tidak akan pernah sampai dan pasti tidak akan pernah mencapai madhatillah. Islam adalah jalan lurus, agama sejak Adam, Ibrahim, sampai ummat akhir zaman. Dengan demikian dalam dada seorang Muslim hanya terpancang satu din, yakni dinnullah, al-Islam. Agama-agama lain telah dia nihilkan. Seorang yang berakal (ulul al’bab) mendengarkan ajaran-ajaran lain namun hanya akan mengikuti ajaran Islam, karena dia pahami hanya ajaran Islam saja yang paling benar. Inilah kesatuan din, kesatuan cara mendekati Allah—cara yang diberikan oleh Allah juga.

Uswah

Rasulullah Muhammad, bagi seorang muslim, ditempatkan pada posisi yang amat tinggi, di antara manusia-manusia lain, pada kedudukan ke-dua setelah Allah. Dengan syahadat seorang muslim memproklamirkan dalam dirinya, bahwa Rasulullah adalah utusan yang ‘mendekatkan’ dirinya dengan Allah, yang menyampaikan berita-berita dari Tuhan manusia. Bagi seorang muslim, Rasulullah adalah manusia pilihan dan telah dipersiapkan Allah, manusia sempurna, manusia yang mendapat pendidikan (tarbiyah) langsung dari Allah, manusia yang dalam pengawasan Allah, yang manakala khilaf langsung mendapat teguran Allah. Dengan demikian, tak ada uswah (teladan) yang lebih baik dalam upaya penciptaan hubungan yang baik dengan Allah selain dari rasul-Nya. Maka bagi seorang muslim yang telah bersyahadat dengan benar hanya akan meniru, meneladani rasul-Nya. Mereka yang cinta kepada rasul-Nya dan dahaga akan ridha-Nya akan menihilkan tokoh-tokoh lain, menihilkan idola-idola lain sebagai uswah. Dia hanya mengikuti bagaimana prilaku Rasulullah tatkala bersikap dengan anak, terhadap istri, terhadap orang tua, maupun kerabat. Dia mencontoh bagaimana Nabi bergaul dengan para sahabat baik saat damai maupun ketika perang. Dia meneladani bagaimana Rasul bersikap terhadap musuh dan kaum yang kafir, baik terhadap intrik, fitnah, maupun argumentasi mereka. Rasulullah bagi orang yang beriman adalah wujud hidup al-Qu’ran, karena akhlak Rasul adalah al-Qur’an. Karena al-Qur’an adalah perkataan Allah, maka pribadi yang didamba dan dicintai Allah hanyalah Muslim dengan sosok Rasulullah. Inilah kesatuan uswah, tauhidul uswah.

Ummah

Setelah hijrah ke Madinah, membangun masjid dan menghidupkan persaudaraan di antara kaum Muslimin, maka Rasulullah pun merumuskan piagam Madinah, perjanjian yang mengikat kaum Muslimin dan Yahudi Madinah. Point pertama yang digariskan Rasulullah adalah mengenai konsep ummah, dimana kaum Muslimin yang datang dari Bani Quraish serta suku-suku lainnya, dan yang telah bersama-sama berjuang dalam rangka memerangi kaum yang kafir dinyatakan merupakan satu ummah. Dengan pengertian ini, maka dalam lingkup kaum Muslimin, suku, ras, atau bangsa bukan lagi merupakan hal penting yang bisa membedakan antara seorang Muslim yang satu dengan lainnya. Dalam darul Islam, yang ada hanya satu ummah, entah anggotanya datang dari suku Aus atau Khazraj. Dengan demikian, eksklusifisme, sekterianisme tidaklah mendapat tempat dalam Islam. Kaum muslimin hanya satu, baik di Indonesia maupun Bosnia. Syafii Maarif ketika menilai nasionalisme sebagai kekuatan yang menghancurkan pilar-pilar rumah tangga kemanusiaan sebagai satu-kesatuan ummat mengutip Sejarawan Barat, A.J Toynbee, ‘Sekarang dalam sebuah dunia di mana jarak telah dimusnahkan oleh kemajuan teknologi Barat, dan dimana cara hidup Barat sedang bertarung dengan cara hidup Rusia untuk (merebut) kesetiaan seluruh ummat manusia, tradisi Islam tentang persaudaraan manusia tampaknya merupakan ideal yang lebih baik lagi memenuhi keperluan sosial zaman ketimbang tradisi Barat tentang kemerdekaan yang berdaulat bagi beberapa lusin nasionalitas yang terpisah

Toynbee, sebagaimana Hans Kohn adalah penulis besar Barat yang menentang ide nasionalisme karena dinilai telah memecah-belah persatuan umat manusia. Dengan kutipan ini, bukan maksud kita untuk mencari dukungan pakar Barat mengenai konsep ummah. Di sini hanya ingin ditampilkan, bahwa nasionalisme sebagai ide yang muncul di Barat pun mendapat tantangan dari pemikir Barat itu sendiri. Sementara bagi kita prinsip kesatuan ummah telah jelas merupakan konstitusi yang telah digariskan Rasulullah.

Dengan demikian bagi orang yang beriman, keyakinan pada ilah yang tunggal mestilah diikuti dengan pendekatan/pandangan hidup (din) yang tunggal pula, uswah (teladan) yang tunggal, dan kemanusiaan yang tunggal. Keempat prinsip kesatuan ini sangat jelas merupakan ciri agama kita. Clear, sehingga semestinya tidak ada penyimpangan. Hanya ada satu Tuhan, untuk satu makhluk manusia. Hanya ada satu jalan (din) dan hanya ada satu teladan (uswah). Inilah anugerah dari Rabb manusia

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: