KOMUNISME “SAYAP-KIRI”, SUATU PENYAKIT KANAK-KANAK W.I. LENIN

Maret 16, 2011 pukul 9:41 am | Ditulis dalam Artikel | Tinggalkan komentar

Dalam arti bagaimana kita bisa membicarakan

arti internasional revolusi rusia?

Dalam bulan-bulan pertama sesudah merebut kekuasaan politik oleh proletariat di Rusia  (25-X – 7.XI.1917), mungkin nampak bahwa perbedaan amat besar antara Rusia yang terbelakang dengan negeri-negeri yang sudah maju di Eropa Barat akan menyebabkan revolusi proletar di neger-negeri yang disebut belakangan ini mempunyai sedikit sekali persamaan dengan revolusi kami.  Sekarang kita sudah mempunyai banyak sekali pengalaman internasional yang dengan sangat tegas menunjukkan bahwa beberapa ciri revolusi kami yang pokok mempunyai arti yang bukan setempat, bukan khusus nasional, bukan semata-mata Rusia, tetapi yang internasional. Dan di sini saya bicara tentang arti internasional bukan dalam pengertian yang luas, yaitu bahwa bukan beberapa, tetapi semua ciri yang pokok dan banyak ciri yang sekunder dari revolusi kami mempunyai arti internasional dalam arti perngaruhnya terhadap semua negeri. Tidak, saya bicara dalam pengertian yang sesempit-sempitnya, yaitu bahwa jika menginsyafi arti internasional itu sebagai pengaruhnya secara internasional atau ketidakterelakkannya secara sejarah pengulangan dalam rangka internasional suatu apa yang telah terjadi di negeri kami, orang terpaksa mengakui, bahwa beberapa ciri revolusi kami yang pokok memang mempunyai arti yang sedemikian itu.

Sudah tentu, adalah kekeliruan amat besar untuk membesar-besarkan kebenaran ini dan mengenakannya tidak hanya pada beberapa ciri revolusi kami yang pokok. Demikian pula akan salah jika kita gagal untuk melihat bahwa sesudah kemenangan revolusi proletar sekurang-kurangnya hanya di salah satu negeri yang sudah maju mungkinsekali keadaan akan sangat berobah, yaitu, Rusia akan segera tidak lagi menjadi negeri teladan, tetapi sekali lagi menjadi sebuah negeri yang terbelakang (dalam arti “Sovyet” dan Sosialis).

Tetapi pada saat sejarah sekarang ini situasi adalah justru demikian rupa hingga contoh Rusia memperlihatkan sesuatu kepada semua negeri dan suatu yang sangat penting sekali, tentang hari depan mereka yang sudah dekat dan tak terhindarkan. Kaum buruh yang maju di semua negeri sudah sejak lama mengerti hal ini; dan lebih sering mereka menangkap, merasakannya dengan naluri klas revolusionernya, daripada memahaminya. Di sinilah letak “arti” internasional ( dalam arti kata yang sempit) dari kekuasaan Sovyet, dan juga dari azas-azas teori dan taktik Bolsyewik.Hal ini tidak dimengerti oleh pentolan-pentolan ““revolusioner” dari Internasionale II 2, seperti Kautsky di Jerman, dan Otto Bauer serta Friederich Adler di Austria, dan ternyata oleh akrenanya mereka menjadi kaum reaksioner dan pembela-pembela bentuk-bentuk oportunisme dan pengkhianatan sosial yang paling buruk. Antara lain brosur gelap “Revolusi Dunia” (“Weltrevolution”) yang terbit di Wina pada tahun 1919 (Sozialistische Bücherei. Heft 11; Ignaz Brand*)  dengan terutama jelas menunjukkan seluruh jalan pikiran mereka dan seluruh lingkaran ide-ide mereka, atau, lebih tepat, puncak kebodohan, kecongkakan kekejian dan pengkhianatan mereka terhadap kepentingan-kepentingan klas buruh – dan, lagipula, dengan kedok “mempertahankan” cita-cita “revolusi dunia”.

Akan tetapi kami akan membicarakan brosur ini akan secara lebih luas di kali lain. Di sini kami akan mencatat hanya satu soal lagi: dulu, sudah lama sekali, Kautsky ketika masih seorang Marxis dan bukan seorang renegat, waktu memecahkan soal itu sebagai seorang ahli sejarah, meramalkan kemungkinan timbulnya situasi di mana jiwa revolusioner proletariat Rusia akan menjadi contoh bagi Eropa Barat. Ini adalah dalam tahun 1902, ketika Kautsky menulis sebuah artikel yang berkepala “Bangsa Slav dan Revolusi” untuk Iskra 3 yang revolusioner. Di bawah ini adalah apa yang ditulis dalam artikel tersebut:

 

“Sedangkan pada saat sekarang ini” (berbeda dengan tahun 1848) “ dapat dianggap, bahwa bangsa Slav tidak hanya telah memasuki barisan-barisan Rakyat yang revolusioner, tetapi bahwa pusat pemikiran revolusioner dan aksi revolusioner juga semakin berpindah kepada bangsa Slav. Pusat revolusioner sedang berpindah dari Barat ke Timur. Pada pertengah pertama abad ke-XIX   ia ada di Perancis, kadang-kadang  di Inggris.   Dalam  tahun 1848  Jerman  juga  memasuki barisan nasion-nasion yang

 

  • Pustaka Sosialis, cetakan 11; Ignaz Brand, —Red.

Revolusioner………….Abad baru mulai dengan kejadian-kejadian yang menyarankan bukan pikiran, bahwa kita sedang mendekati perpindahan pusat revolusioner lebih lanjut, yaitu perpindahannya ke Rusia………. Rusia, yang telah meminjam begitu banyak inisiatif revolusioner dari Barat, sekarang mungkin sudah siap sendiri untuk menjadi sumber enersi revolusioner bagi Barat. Gerakan revolusioner yang sekarang menyala-nyala di Rusia mungkin akan ternyata mejadi alat yang paling ampuh untuk menyingkirkan jiwa filistinisme yang lembek itu dan politik-politikan  yang terlalu praktis, yang mulai menjalar di barisan kita, dan ia memaksa menyala berkobar-kobar hasrat berjuang dan kesetiaan besar kepada cita-cita kita yang mulia. Rusia sudah sejak lama tidak lagi semata-mata menjadi benteng reaksi dan absolutisme buat Eropa Barat. Duduknya perkara dewasa ini nampaknya justru sebaliknya. Eropa Barat sedang mulai menjadi benteng reaksi dan absolutisme bagi Rusia ……..  Kaum revolusioner Rusia mungkin sudah lama dapat menggulingkan  tsar jika mereka tidak terpaksa bersamaan dengan itu melawan sekutunya, yaitu kapital Eropa. Marilah kita berhara, bahwa kali ini mereka akan berhasil dalam mengalahkan kedua musuh itu, dan bahwa “Persektuan Keramat” yang baru akan runtuh lebih cepat dari pada persekutuan-persekutuan yang mendahuluinya. Akan tetapi bagaimanapun juga perjuangan sekarang di Rusia akan berakhir, darah dan kebahagiaan sang korban  yang akan ditimbulkannya, sungguh sayang, dalam jumlah yang sangat banyak sekali, tidak akan dikorbankan dengan sia-sia. Mereka akan memupuk tunas-tunas revolusi sosial di seluruh dunia yang beradab dan membuat mereka tumbuh lebih subur dan cepat. Dalam tahun 1848 bangsa Slav merupakan udara dingin yang mematikan bunga-bunga musim semi Rakyat. Mungkin sekarang mereka telah ditakdirkan menjadi angintaufan yang akan memecahkan es reaksi dan bersamaan dengan itu akan membawa dengan tidak tercegahkan musim semi yang baru dab bahagia bagi Rakyat”. (Karl Kautsky, Bangsa Slav dan Revolusi”, Iskra, suratkabat revolusioner Sosial-Demokrat Rusia, No.18 Maret, 1902).

 

Baik betul tulisan Karl Kautsky 18 tahun yang lalu!

 

 

II

Salah satu syarat pokok suksesnya kaum Bolsyewik

Sudah tentu, hampir tiap orang sekarang menginsyafi bahwa kaum Bolsyewik tidak akan dapat mempertahankan kekuasaannya selama dua setengah bulan, apalagi dua setengah tahun, tanpa disiplin yang sekeras-kerasnya, disiplin baja yang sungguh-sungguh dalam Partai kami, tanpa sokongan yang sepenuh-penuhnya dan tidak berpamrih yang diberikan kepada Partai oleh seluruh massa klas buruh, yaitu oleh semua elemennya yang berfikir, jujur, rela berkorban dan yang berpengaruh, yang dapat memimpin atau membawa bersama-sama m                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                033 bertambah kuat sepuluh kali lipat karena ia digulingkan (sekalipun hanya di dalam satu negeri), dan yang kekuatannya tidak hanya terletak dalam kekuatan kapital internsional, dalam kekuatan dan kekekalan hubungan-hubungan internasional dari burjuasi, tetapi juga dalam kekuatan kebiasaan, dalam kekuatan produksi secara kecil-kecilan. Karena produksi secara kecil-kecilan, sayang sekali, masih terdapat sangat, sangat banyak di dunia ini, dan produksi secara kecil-kecilan terus menerus, setiap hari, setiap jam, secara spontan, dan secara besa-besaran melahirkan kapitalisme dan burjuasi. Karena smeua ini maka diktatur proletariat adalah mutlak perlu, dan kemenangan atas burjuasi tak mungkin tercapi tanpa peperangan yang lama, tabah, gagahberani dan mati-matian, suatu peperangan yang menuntut ketekunan, disiplin, ketabahan hati, keteguhan dan kesatuan kemauan.

Saya ulangi, pengalaman diktatur proleriat yang jaya di Rusia dengan jelas telah menunjukkan kepada mereka yang tidak mampu berpikir, atau yang belum pernah memikirkan soal ini, bahwa sentralisasi yang mutlak dan disiplin yang sekeras-kerasnya dari proletariat merupakan salah satu syarat yang pokok buat kemenangan atas burjuasi.

Hal ini kerap kali disinggung. Akan tetapi jauh tidak cukup dipikirkan apa artinya dan dalam keadaan bagaimana ia mungkin. Apakah tidak lebih baik jika ucapanselamat-ucapanselamat untuk menghormati kekuasaan Sovyet dan kaum Bolsyewik lebih sering lagi diiringi dengan analisa yang seserius-seriusnya tentang sebab-sebab mengapa kaum Bolsyewik berhasil membangun disiplin yang diperlukan untuk proletariat revolusioner?

Sebagai suatu aliran pemikiran politik dan sebagai suatu partai politik, Bolsyewisme ada sejak tahun 1903 Hanya sejarah Bolsyewisme selama seluruh masa  hidupnya  yang dapat menerangkan dengan memuaskan mengapa ia berhasil membangun dan memelihara dalam keadaan-keadaan yang paling sulit disiplin baja yang dibutuhkan buat kemenangan proletariat.

Dan pertama-tama timbul pertanyaan: bagaimanakah dipelihara disiplin partai proletariat revolusioner? Dengan apa ia diuji? Dengan apa diperkuat? Pertama, dengan kesadaran klas dari pelopor proletariat dan kesetiannya kepada revolusi, dengan keuletannya, pengorbanan diri dan heroisme. Kedua, dengan kecakapannya menghubungkan diri, mendekati, dan sampai pada batas tertentu, jika suka, meleburkan diri dengan masa yang seluas-luasnya dari kaum pekerja – terutama sekali dengan yang proletar, tetapi juga dengan massa pekerja non-proletar. Ketiga, dengan tepatnya politik yang dijalankan oleh pelopor ini, dengan tepatnya strategi dan taktik politiknya, asalkan massa yang seluas-luasnya sudah menjadi yakin dari pengalaman mereka sendiri akan ketepatan itu. Tanpa syarat-syarat ini disiplin dalam partai  revolusioner yang sungguh-sungguh dapat menjadi partai dari klas yang maju yang kewajibannya yalah menggulingkan burjuasi dan mengubah kembali sluruh masyarakat, tidak dapat dicapai. Tanpa syarat-syarat ini, usaha-usaha untuk mengadakan disiplin pasti akan menjadi nol besar, omongkosong, dan pembadutan. Sebaliknya, syarat-syarat ini tidak dapat timbul dengan segera. Syarat-syarat ini diciptakan hanya oleh suatu yang lama dan pengalaman yang diperoleh dengan susah-payah; terciptanya syarat-syarat ini dipermudah dengan teori revolusioner yang tepat, yang pada gilirannya bukan suatu dogma, tetapi yang mencapai bentuknya yang terakhir hanya dalam hubungan yang rapat dengan praktek gerakan yang benar-benar revolusioner.

Bahwa Bolsyewisme dalam tahun-tahun 1917 – 1920 dalam keadaan-keadaan yang tak terbandingkan sulitnya, dapat membangun dan mewujudkan dengan berhasil sentralisasi yang sangat keras dan disiplin baja adalah semata-mata karena beberapa keistimewaan sejarah Rusia.

Pada satu pihak, Bolsyewisme lahir dalam tahun 1903 atas dasar yang paling teguh dari teori Marxisme. Dan kebenaran teori revolusioner ini – dan hanya inilah satu-satunya – telah dibuktikan tidak hanya oleh pengalaman sedunia selama seluruh abd ke-XIX, tetapi terutama sekali oleh pengalaman kesesatan-kesesatan dan kebimbangan-kebimbangan, kesalahan-kesalahan dan kekecewaan-kekecewaan dari pikiran revolusioner di Rusia.  Selama hampir setengah abad—kira-kira dari tahun 40-an sampai dengan 90-an abad yang lalu – pikiran yang maju di Rusia, yang ditindas oleh tsarisme yang tak ada bandingan kejam dan reaksionernya, dengan haus mencari teori revolusioner yang benarm sebarang dan setiap “kata terakhir” dalam lapangan ini di Eropa dan Amerika diikutinya dengan ketekunan dan ketelitian yang mengagumkan. Rusia memperoleh Marxisme, sebagai satu-satunya teori revolusioner yang benar, dengan melalui penderitaan yang sesungguhnya, dengan mengalami siksaan dan pengorbanan yang tak ada taranya, heroisme revolusioner yang tak ada bandingnya, enersi yang luar biasa, penyelidikan dengan sepenuh tenaga, studi, percobaan praktek, kekecewaan, ujian dan perbandingan dengan pengalaman di eropa selama setengah abad. Berkat imigrasi yang dipaksakan oleh tasrisme, maka Rusia yang revolusioner dalam pertengahan kedua dari abad ke-XIX mempunyai hubungan-hubungan internasional yang begitu banyak dan informasi yang begitu baik tentang bentuk-bentuk dan teori-teori gerakan revolusioner sedunia yang tidak dipunyai oleh negeri manapun di dunia ini.

Di pihak lain, sesudah lahir atas dasar teori yang keras seperti granit ini, Bolsyewisme melalui sejarah dalam praktek selama lima belas tahun (1903-1917) yang dalam soal kekayaan pengalaman tidak ada bandingnya di dunia ini. Karena tidak ada satu negeri lainpun yang selama limabelas tahun ini mempunyai sesuatu apapun yang menyerupai pengalaman revolusioner ini, pergantian yang cepat dan bermcam-macam dari berbagai bentuk gerakan – legal dan ilegal, dalam suasan damai dan bergejolak, di bawahtanah dan terang-terangan, secara grup-grup dan gerakan massal, parlementer dan teroris. Tidak ada negeri lain manapun juga, di mana selama waktu yang begitu pendek terpusat suatu kekayaan yang begitu besar dari bentuk, corak, dan cara-cara perjuangan dari semua klas dalam masyarakat modern, lagi pula, suatu perjuangan yang, berhubung dengan keterbelakangan negeri dan kejamnya tindasan tsarisme, menjadi matang dengan kecepatan yang luarbiasa dan secara sangat giat dan berhasil mencernakkan “kata terakhir” yang sesuai dari pengalaman politik Amerika dan Eropa.

 

 

III

Tahap-tahap pokok dalam sejarah

Bolsyewisme

Tahun-tahun persiapan revolusi (1903-1905). Mendekatnya angintaufan yang besar terasa di mana-mana. Semua klas ada dalam keadaan bergelora dan bersiap-siap. Di luarnegeri pers kaum imigran mengemukakan secara teoritis semua persoalan yang pokok dari revolusi. Wakil-wakil dari tiga klas yang pokok, tiga aliran politik yang penting, yaitu aliran-aliran liberal-burjuis, burjuis kecil-demokratis (bersembunyi di bawah merk aliran-aliran “Sosial-Demokratis” dan “Sosial-Revolusioner’ 4 ), dan proletar revolusioner, mendahului dan mempersiapkan perjuangan klas terbuka yang mendatang dengan pertempuran yang paling sengit dalam lapangan pandangan-pandangan tentang program dan taktik. Semua persoalan yang menyebabkan perjuangan massa bersenjata dalam tahun-tahun 1905-1907 dan 1917-1920 dapat (dan harus) dipelajari dalam bentuk embrionya dalam pers pada dewasa  itu. Dan di anatar ketiga aliran yang pokok ini, sudah tentu, ada banyak bentuk perantara, peralihan, setengah-setengah. Atau, lebih tepat lagi, dalam pejuangan pers, partai-partai, faksi-faksi dan grup-grup, terjadilah kristalisasi aliran politik dan ideologi yang benar-benar  merupakan aliran-aliran bersifat klas; klas-klas menempa senjata-senajata politik dan ideologi yang dibutuhkan untuk pertempuran yang mendatang.

Tahun-tahun revolusi (1905-1907). Semua klas muncul secara terang-terangan. Semua pandangan tentang program dan taktik diuji oleh aksi massa. Menurut luas dan sengitnya perjuangan pemogokan mencapai tingkat yang belum pernah dikenal di dunia. Pemogokan ekonomi beralih menjadi pemogokan politik, dan pemogokan politik menjadi pemberontakan. Hubungan antara proletariat yang memimpin dan kaum tani yang ragu-ragu, yang tidak teguh, yang dipimpin, diuji dalam praktek. Bentuk oraganisasi Sovyet lahir dalam perkembangan perjuangan yang spontan. Perdebatan-perdebatan pada waktu itu mengenai arti Sovyet-Sovyet mendahului perjuangan yang besar pada tahun 1917-1920. Beganti-gantinya bentuk-bentuk perjuangan parlementer dan non-parlementer, taktik memboikot parlemen dan taktik ambil bagian dalam parlemen, bentuk-bentuk perjuangan legal dan ilegal, dan begitu juga hubungan mereka satu sama lain dan pertalian-pertalian mereka – semua ini ditonjolkan dengan kekayaan isinya yang mengagumkan. Mengenai soal memberi pelajaran tentang dasar-dasar ilmu politik – baik kepada massa dan pemimpin-peminpin, maupun kepada klas-klas dan partai-partai – setiap bulan dari masa ini adalah sama dengan satu tahun dari masa perkembangan yang “damai”, yang “konstitusionil” . Tanpa “repetisi umum” tahun 1905, kemenangan Revolusi Oktober dalam tahun 1917, kiranya tidak akan mungkin dicapai.

Tahun-tahun reaksi (1907-1910). Tsarisme menang. Semua partai revolusioner dan oposisi telah dikalahkan. Depresi, demoralisasi, perpecahan-perpecahan, pertikaian, kerenegatan, percabulan menggantikan politik. Kecenderungan ke arah idealisme filsafat semakin besar; mistik menjadi tempat  persembunyian sentimen-sentimen yang kontra-revolusoner. Tetapi dalam pada itu, justru kekalahan besar inilah yang memberikan pada partai-partai revolusioner suatu pelajaran yang nyata dan paling berharga, suatu pelajaran dalam dialektika sejarah, suatu pelajaran dalam pengertian perjuangan politik dan dalam kecakapan dan keahlian melakukannya. Dalam bencanalah orang mengenal kawannya. Tentara yang kalah belajar dengan baik-baik.

Tsarisme yang menang terpaksa mempercepat penghancuran sisa-sisa cara hidup pra-burjuis, patriarkal di Rusia. Perkembangan burjuisnya melangkah maju dengan sangat cepatnya. Ilusi-ilusi di luar klas dan di atas klas mengenai kemungkinan menghindari kapitalisme, lenyap dihembus angin. Perjuangan klas memperlihatkan diri dalam bentuk yang baru semasekali dan secara lebih menyolok mata.

Partai-partai revolusioner harus menyempurnakan pendidikan mereka. Mereka telah belajar menyerang. Sekarang mereka harus meninsyafi bahwa pengetahuan ini harus diperlengkapi dengan pengetahuan bagaimana mundur dengan teratur. Orang harus menginsyafi – dan klas revolusioner menginsyafi dengan pengalaman pahitnya sendiri – bahwa kemenangan tidaklah mungkin jika ia belum belajar bagaimana menyerang dan bagaimana mundur dengan tepat. Dari semua partai oposisi dan parati revolusioner yang kalah, kaum Bolsyewiklah yang mundur dengan paling teratur, dengan menderita kerugian yang paling kecil pada “tentara” mereka, dengan intinya terpelihara paling baik, dengan perpecahan-perpecahan yang paling kecil (menurut dalamnya dan tidak bisa diperbaikinya) dengan demoralisasi yang paling sedikit, dan dengan kemampuan yang terbesar untuk memulai lagi pekerjaan secara besar-besaran dengan cara yang paling tepat dan giat. Kaum Bolsyewik mencapai ini hanya karena mereka dengan takkenalampun telah menelanjangi dan mengusir para tukang omongkosong revolusioner, yang tidak mau mengerti bahwa kami harus mundur, bahwa kami harus tahu bagaimana mundur, dan bahwa kami harus dengan tidak bersyarat belajar bagaimana bekerja secara legal dalam parlemen-parlemen yang paling reaksioner, dalam serikatburuh-serikatburuh, perkumpulan-perkumpulan koperasi, perkumpulan-perkumpulan asuransi dan organisasi-organisasi serupa itu yang paling reaksioner.

Tahun-tahun kebangkitan (1910-1914). Pada mulanya kebangkitan itu sangat lambatnya, kemudian sesudah peristiwa Lena pada tahun 1912  5 , ia menjadi agak lebig cepat. Dengan mengatasi kesulitan-kesulitan yang tak ada bandingnya, kaum Bolsyewik dapatmenyingkirkan kaum Mensyewik, yang rolnya sebagai agen burjuasi  dalam gerakan klas buruh dimengerti sungguh-sungguh oleh seluruh burjuasi sesudah tahun 1905, dan yang oleh karena itu disokong dengan seribu satu cara oleh kaum burjuasi dalam menentang kaum Bolsyewik. Akan tetapi kaum Bolsyewik tidak akan pernah berhasil dalam melakukan ini seandainya mereka tidak menjalankan taktik yang tepat dalam menghubungkan pekerjaan ilegal dengan kewajiban menggunakan “kesempatan-kesempatan legal”. Kaum Bolsyewik merebut semua kursi buruh dalam Duma 6 yang paling reaksioner.

Perang dunia imperialis pertama (1914-1917). Parlemeterisme legal, dengan “parlemen” yang sangat reaksioner sekali, adalah sangat berguna bagi partai proletariat yang revolusioner, bagi kaum Bolsyewik. Wakil-wakil Bolsyewik di Parlemen dibuang ke Siberia 7 . Dalam pers imigran di luarnegeri semua corak pandangan-pandangan sosial-imperialisme, sosial-sovinisme, sosial-patriotisme, internasionalisme yang tidak konsekwen dan yang konsekwen, pasifisme, dan penolakan yang revolusioner terhadap ilusi-ilusi pasifis mendapatkan penjelmaan yang sepenuhnya. Orang-orang terpelajar yang tolol dan perempuan-perempuan tua dari Internasionale II, yang dengan congkak dan perasaan jijik melihat banyaknya “faksi” dalam gerakan Sosialis di Rusia dan sengitnya perjuangan yang mereka lakukan di antara mereka sendiri – ketika peperangan merampas “legalitas” mereka yang mereka banggakan d semua negeri yang maju – tidak mampu mengorganisasi sesuatupun yang hanya menyerupai pertukaran pandangan dengan bebas (ilegal) dan penciptaan pandangan yang tepat secara bebas (ilegal) seperti yang dilakukan oleh kaum revolusioner Rusia di Swis dan di beberapa negeri lainnya. Justru karena inilah, maka baik kaum sosila-patriot yang terang-terangan, maupun kaum “Kautskyis” di semua negeri terbukti menjadi pengkhianat-pengkhianat proletariat yang paling jahat. Dan salah satu sebab yang pokok mengapa Bolsyewisme dapat mencapai kemenangan dalam tahun 1917-1920 yalah bahwa sudah sejak akhir tahun 1914 ia dengan takenalampun menelanjangi kekejian, kekotoran dan kehinaan dari sosial-sovinisme dan “Kautskyisme” (dengan mana cocok Languetisme 8 di Perancis, pandangan-pandangan gembong-gembong Partai Buruh Merdeka  9 dan kaum Fabian 10 di Inggris, Pandangan-pandangan Turati di Italia, dan sebagainya), dan selanjutnya                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                tu) suatu kekuatan yang sangat menghancurkan, yang ditujukan melawan tsarisme. Selama beberapa hari saja Rusia berubah menjadi republik burjuis-demokratis yang lebih merdeka – dalam keadaan-keadaan perang – daripada suatu negeri lainnya di dunia ini. Pemerintah mulai dibentuk oleh pemimpin-pemimpin partai-partai oposisi dan partai-partai revolusioner, sebagaimana dilakukan di republik-republik “yang paling parlementer”, dalam pada itu gelar pemimpin sutau partai oposisi dalam parlemen, sekalipun parlemen yang paling reaksioner, memudahkan rol pemimpin itu di kemudian hari dalam revolusi.

Dalam beberapa minggu kaum Mensyewik dan kaum “Sosial-Revousioner” dapat mengusai sepenuhnya semua cara dan tingkah-laku, argumen dan alasan-alasan palsu dari pahlawan-pahlawan Internasionale II di Eropa, dari para ministerialis 11 dan sampah oportunis lainnya. Semua yang kami baca sekarang tentang kaum Scheideman dan Noske, tentang Kautsky dan Hilferding, Renner dan Austerlistz, Otto Bauer dan Frietz Adler, Turati dan Longuet, tentang kaum Fabian dan gembong-gembong Partai Buruh Merdeka Inggris – semua nampak bagi kami (dan sebenarnya) adalah suatu ulangan yang menjemukan, suatu ulangan dari lagu lama dan sudah dikenal betul. Kami sudah melihat semua ini dalam contoh kaum Mensyewik. Sejarah melahirkan lelucon dengan membuat kaum oportunis di negeri yang terbelakang mendahului kaum oportunis di beberapa negeri yang sudah maju.

Jika semua pahlawan Internasionale II telah menderita kebangkrutan dan telah membikin malu diri mereka sendiri mengenai soal arti dan rol Sovyet-Sovyet dan kekuasaan Sovyet, jika pentolan-pentolan dari tiga partai yang sangat penting yang sekarang telah meninggalkan Internasionale II (yaitu, Partai Sosial-Demokratis Merdeka Jerman 12 , partai kaum Lenguetis Perancis dan Partai Buruh Merdeka Inggeris) telah membikin malu dan mengalutkan diri mereka sendiri mengenai soal inis secara “menyolok” sekali; jika mereka semua telah terbukti menjadi budak-budak purbasangka-purbasangka demokrasi burjuis kecil (presis seperti kaum burjuis kecil tahun 1848 yang menamakan dirinya kaum “Sosial-Demokrat”) – kami sudah melihat semua ini dalam contoh kaum Mensyewik. Sejarah membuat lelucon: di Rusia dalam tahun 1905, Sovyet-Sovyet lahir, dalam bulan-bulan Pebruari – Oktober 1917 Sovyet-Sovyet itu digunakan secara palsu oleh kaum Mensyewik, yang menjadi bangkrut karena tidak mampu memahami rol dan arti Sovyet-Sovyet, dan sekarang cita-cita tentang kekuasaan Sovyet telah timbul di seluruh dunia dan meluas di kalangan proletariat di semua negeri dengan kecepatan yang luar biasa, dan pahlawan-pahlawan lama dari Internasionale II juga sedang menjadi bangkrut di mana-mana, seperti kaum Mensyewik kami sebab mereka tidak mampu memahami rol dan arti Sovyet-Sovyet. Pengalaman telah membuktikan bahwa dalam beberapa soal yang sangat pokok dari revolusi proletar, semua negeri tidak boleh tidak pasti akan melakukan apa yang telah dilakukan oleh Rusia.

Bertentang dengan pandangan-pandangan yang pada dewasa ini tidak jarang dijumpainya di Eropa dan Amerika, kaum Bolsyewik memulai perjuangan mereka yang jaya menentang republik parlemener ( dalam kenyataannya) burjuis dan menentang kaum Mensyewik dengan hati-hati sekali dan persiapan-persiapan yang mereka adakan untuk itu sekali-kali tidaklah sederhana. Kami tidak menyerukan penggulingan pemerintah pada permulaan masa tersebut, tetapi menjelaskan bahwa tidak mungkinlah untuk menggulingkannya tanpa lebih dulu mengubah susunan dan sentimen-sentimen Sovyet-Sovyet. Kami tidak menyatakan memboikot parlemen burjuis, Konstituante, tetapi mengatakan – sejak dari Konferensi Partai kami pada bulan April (1917) mengatakan dengan resmi atas nama Partai – bahwa republik burjuis dengan Konstituante adalah lebih baik daripada  suatu republik burjuis tanpa Konstituante, tetapi bahwa suatu republik “buruh dan tani”, suatu republik Sovyet, adalah lebih baik daripada setiap republik burjuis-demokratis, parlementer. Tanpa persiapan-persiapan yang begitu hati-hati, lengkap, teliti dan lama kami tidak akan dapat mencapai kemenangan dalam bulan Oktober 1917, maupun mempertahankan kemenangan itu.

 

 

IV

Dalam perjuangan melawan musuh-musuh manakah di dalam

gerakan buruh Bolsyewisme tumbuh, menjadi kuat serta terbajakan?

Pertama-tama dan terutama sekali dalam perjuangan melawan oportunisme, yang dalam tahun 1914 secara pasti telah menjadi sosial-sovinisme, secara pasti telah memihak burjuasi menentang proletariat. Sudah tentu, ini adalah musuh Bolsyewisme yang pokok di dalam gerakan buruh. Ia adalah tetap musuh pokok juga secara internasional. Kaum Bolsyewik mencurahkan, dan terus mencurahkan sebanyak-banyaknya perhatian terhadap musuh ini. Segi aktivitas kaum Bolsyewik ini sekarang terkenal cukup baik di luarnegeri juga.

Sesuatu yang lain harus dikatakan tentang musuh Bolsyewisme lainnya di dalam gerakan buruh. Di luarnegeri sampai sekarang terlampau tidak cukup diketahui bahwa Bolsyewisme tumbuh, mendapat bentuk dan terbajakan dalam perjuangan yang bertahun-tahun lamanya melawan revolusionerisme burjuis kecil, yang berbau anarkisme atau meminjam sesuatu darinya, dan yang menyeleweng dalam segala sesuatu yang esensiil dari syarat-syarat dan kebutuhan-kebutuhan perjuangan klas proletar yang konsekwen. Bagi kaum Marxis sesungguhnya sudah jelas secara teori – dan pengalaman semua revolusi dan gerakan revolusioner di Eropa telah memperkuat kebenarannya yang penuh – bahwa pemilik kecil, majikan kecil (suatu tipe sosial yang terdapat secara luas, secara massal di banyak negeri Eropa), yang di bawah kapitalisme selalu mengalami penindasan dan, sering sekali, kemerosotan yang terlampau hebat dan cepat dalam kehidupannya, dan kebangkrutan, dengan mudah menjadi revolusioner ekstrim, tetapi tidak dapat memperlihatkan kesabaran organisasi, disiplin dan keteguhan. Seorang burjuis kecil yang “menjadi gila” karena kengerian-kengerian kapitalisme adalah suatu gejala sosial yang, seperti anarkisme, adalah khas bagi semua negeri kapitalis. Ketidak teguhan dari revolusionerisme serupa itu, kemandulan, wataknya untuk berubah dengan cepat menjadi sikap tunduk, apatisme, khayalan, dan malahan sampai menjadi kesukaan yang “gila” terhadap suatu aliran “mode” burjuis – semua ini diketahui umum. Tetapi pengakuan secara teori dan abstrak terhadap kebenaran-kebenaran ini sama sekali tidak membebaskan partai revolusioner dari kesalahan-kesalahan lama, yang selalu muncul karena alasan yang tak terduga-duga, dalam bentuk yang agak baru, dalam baju atau selubung yang belum dikenal, dalam situasi yang istimewa – situasi yang sedikit atau banyak istimewa.

Anarkisme tidak jarang merupakan semacam hukuman terhadap doa-dosa oprtunis dari gerakan buruh. Kedua cacat itu saling melengkapi. Dan jika di Rusia, sekalipun penduduknya lebih bersifat burjuis kecil dari pada penduduk di negeri-negeri Eropa, anarkisme mempunyai pengaruh yang relatif paling tidak berarti dalam persiapan-persiapan dan selama kedua revolusi ( tahun 1905 dan 1917), hal ini sudah tentu sebagian karena jasa Bolsyewisme, yang selalu melakukan perjuangan tidak kenal ampun dan kompromi melawan oportunisme. Saya katakan “sebagian”, sebab peranan yang lebih penting lagi dalam melemahkan anarkisme di Rusia dimainkan oleh kenyataan bahwa pada masa yang lampau (tahun-tahun 70-an dari abd ke XIX) ia telah mempunyai kesempatan untuk tumbuh dengan luarbiasa suburnya dan memperlihatkan sifat tak berguna dan ketidaktepatannya samasekali sebagai teori pembimbing bagi klas revolusioner.

Pada saat timbulnya dalam tahun 1903 Bolsyewisme mewarisi tradisi perjuangan yang takkenalampun menentang revolusionerisme burjuis-kecil, setengah anarkis (atau yang suka main mata dengan anarkisme), tradisi yang selamanya ada dalam Sosial-Demokrat revolusioner, dan terutama menjadi kuta pada kami dalam tahun 1900-1903, pada waktu dasr-dasar untuk partai massa dari proletariat revolusioner sedang diletakkan di Rusia. Bolsyewisme mewarisi dan melanjutkan perjuangan melawan partai yang lebih dari pada lain-lainnya menyatakan tendensi-tendensi revolusionerisme burjuis-kecil, yaitu Partai “Sosial-Revolusioner”, mengenai tiga soal yang pokok. Pertama, partai ini, yang menolak Marxisme, dengan keras kepala tidak mau (atau, lebih tepat lagi kalau dikatakan: tidak mampu) mengerti keharusan memperhitungkan secara benar-benar obyektif kekuatan-kekuatan klas dan hubungan-hubungan mereka satu sama lian sebelum mengadakan sesuatu aksi politik. Kedua, partai ini menganggap dirinya sangat “revolusioner”, atau “Kiri”, karena mengakui teror perseorangan hanya atas alasan berguna tidaknya, sedang orang-orang yang “secara prinsipiil” mau mencela teror dari Revolusi Besar Perancis, atau pada umumnya, teror yang dilakukan oleh partai revolusioner yang menang, yang dikepung oleh burjuasi seluruh dunia, orang-orang semacam itu sudah diejek dan ditertawakan oleh Plechanov dalam tahun 1900-1903, ketika dia masih seorang Marxis dan seorang revolusioner. Ketiga, kaum Sosialis Revolusioner” menganggap sangat “Kiri” untuk memperolok-olok dosa-dosa oportunis yang agak tidak berarti dari Partai Sosial-Demokratis Jerman, sedangkan mereka sendiri meniru kaum oportunis ekstrim dari partai itu, misalnya, mengenai soal agraria, atau mengenai soal diktatur proletriat.

Sambil lalu boleh dikatakan, bahwa sejarah sekarang telah memperkuat dalam ukuran sejarah yang luas, yang meliputi seluruh dunia, pendapat yang selalu kami pertahankan, yaitu, bahwa Sosial-Demokrat Jerman yang revolusioner (catatlah bahw Plechanov sudah dalam tahun 1900-1903 menuntut dipecatnya Bernstein dari partai, dan kaum Bolsyewik yang senantiasa meneruskan tradisi ini, dalam tahun 1913 menelanjangi seluruh kejadian, kenistaan dan pengkhianatan dari Legien 13 ), — bahwa Sosial-Demokrat Jerman yang revolusioner itu pernah paling mendekati suatu partai yang dibutuhkan oleh proletariat revolusioner supaya dapat mencapai kemenangan. Sekarang, dalam tahun 1920. Sesudah semua kegagalan dan krisis yang hina pada masa perang dan pada tahun-tahun permulaan sesudah perang, dilihat dengan jelas bahwa dari semua partai di Barat, Sosial-Demokrat revolusioner Jermanlah yang melahirkan pemimpin-pemimpin yang terbaik, serta pulih, sembuh, dan menjadi kokoh kembali lebih cepat daripada yang lain-lain. Ini dapat dilihat baik pada partai Spartakus 14 maupun pada sayap Kiri yang proletar dari “Partai Sosial-Demokratis Merdeka Jerman” yang sedang melakukan perjuangan yang tak henti-hentinya menentang oportunisme dan tak bertulangpunggungnya kaum Kautsky, Hilferding, Ledebour dan Crispien. Jika kita sekarang mengadakan tinjauan secara umum pada periode sejarah yang lengkap dan sudah selesai, yaitu periode dari Komune Paris 15 sampai pada Republik Sovyet Sosialis yang pertama, maka kita akan melihat bahwa sikap Marxisme terhadap anarkisme pada umumnya nampak paling tegas dan tak dapat menimbulkan salahfaham. Pada akhirnya, Marxisme terbukti benar, dan sekalipun kaum anarkis dengan cepat menunjukkan sifat oportunisnya pandangan-pandangan mengenai negara yang pernah meraja-lela di kalangan kebanyakan partai-partai Sosialis, haruslah diterangkan, pertama, bahwa sifat oportunis ini adalah bertalian dengan pemutarbalikan, dan malahan penyembunyian dengan sengaja, terhadap pandangan-pandangan marx mengenai negara (dalam buku saya, Negara dan Revolusi, saya mencatat bahwa selama 36 tahun, yaitu dari tahun 1875 sampai 1911, Bebel merahasiakan surat engels 16 yang dengan terutama jelas, tajam, terus terang dan tegas menelanjangi oportunisme dari pandangan-pandangan Sosial-Demokrattis yang dipakai luas mengenai negara); kedua, bahwa pembetulan atas pandangan-pandangan oportunis ini, pengakuan akan kekuasaan Sovyet dan keunggulannya atas demokrasi burjuis parlementer, semuanya ini dilancarkan dengan lebih cepat dan luas justru dari kandungan  aliran-aliran yang paling bersifat Marxis di kalangan partai-partai Sosialis Eropa dan Amerika.

Perjuangan yang dilakukan oleh Bolsyewisme menentang penyelewengan-penyelewengan “Kiri” di dalam Partainya sendiri memperoleh ukuran yang sangat besar sekali dalam dua kejadian: dalam tahun 1908, mengenai soal turut ambil bagian atau tidak dalam “parlemen” yang paling reaksioner dan dalam kumpulan-kumpulan buruh yang legal, yang dibatasi oleh undang-undang yang paling reaksioner; dan kemudian dalam tahun 1918 (Perjanjian Perdamaian Brest 17 ), mengenai soal apakah diperbolehkan suatu “kompromi”.

Dalam tahun 1908 kaum Bolsyewik “Kiri” dipecat dari partai kami karena mereka dengan keras kepala tidak mau mengerti keharusan ikut-serat dalam “parlemen” yang paling reaksioner  18 . Kaum “Kiri” – di antara mereka banyak terdapat kaum revolusioner yang baik sekali yang kemudian dengan kehormatan memakai (dan masih memakai) nama anggota Partai Komunis – mendasarkan pendirian mereka terutama sekali atas pengalaman pemboikotan yang berhasil dalam tahun 1905. Waktu dalam bulan Agustus 1905 tsar mengumumkan diselenggarakannya sidang “parlemen” 19 yang mempunyai kekuasaan sebagai nasehat, kaum Bolsyewik – bertentangan dengan semua partai oposisi dan bertentangan dengan kaum Mensyewik – menyerukan pemboikotan terhadapnya, dan benar-benar “parlemen” itu disapu oleh revolusi bulan Oktober 1905 20 . Pada waktu itu pemboikotan terbukti benar , bukan karena tidak turut ambil bagian dalam parlemen-parlemen yang reaksioner adalah tepat pada umumnya, melainkan karena kami  dengan tepat memperhitungkan situasi yang obyektif yang sedang menuju perubahan dengan cepat dari pemogokan-pemogokan  massa menjadi pemogokan politik, lalu menjadi pemogokan revolusioner, dan kemudian menjadi pemberontakan. Lagi pula perjuangan pada waktu itu berpusat di sekitar soal apakah penyelenggaraan sidang badan perwakilan yang pertama itu diserahkan kepada tsar, atau berusaha merebutnya dari tangan kekuasaan yang lama. Sejauh tidak ada, dan tidak mungkin ada kepastian adanya situasi obyektif yang sama, dan begitu juga arah dan kecepatan perkembangannya yang sama, maka pemboikotan tadi menjadi tidak tepat lagi.

Pemboikotan Bolsyewik terhadap “parlemen” dalam tahun 1905 memperkaya proletariat revolusioner dengan pengalaman politik yang luarbiasa berharga dengan menunjukkanbahwa dalam perpaduan bentuk-bentuk perjuangan legal dengan ilegal, di dalam parlemen dengan di luar parlemen, kadang-kadang berguna dan malahan wajib menolak bentuk-bentuk parlementer. Tetapi sudah tentu usaha mentrapkan pengalaman ini dengan membuta , dengan meniru saja dan tidak krits pada syarat-syarat lain dan dalam situasi-situasi lain merupakan kekeliruan yang mahabesar. Pemboikotan “Duma” oleh kaum Bolsyewik dalam tahun 1906 sudah merupakan kesalahan, sekalipun yang kecil dan mudah dibetulkan*. Pemboikotan terhadap Duma dalam tahun 1907, 1908 dan tahun-tahun berikutnya adalah sautau kesalahan yang serius dan yang sukar diperbaiki, sebab, di satu pihak, kebangkitan yang cepat sekali dari pasang revolusioner dan peralihannya menjadi suatu pemberontakan tidak dapat diharapkan, dan, di pihak lain, seluruh situasi sejarah yang bersifat pembaharuan monarki burjuis menuntut dipadukannya aktivitas legal dengan aktivitas ilegal. Sekarang ini, ketika kita tinjau kembali masa sejarah yang telah selesai sepenuhnya dan  yang rangkaiannya dengan masa-masa berikutnya sudah menjadi nyata sepenuhnya, maka menjadi terutama jelaslah bahwa kaum Bolsyewik dalam tahun 1908-1914 kiranya tidak dapat memelihara (apalagi memperkuat, mengembangkan dan menambah) inti yang teguh dari partai proletariat yang revolusioner seandainya mereka tidak mempertahankan dalam perjuangan yang paling sengit kewajiban untuk menghubungkan bentuk-bentuk perjuangan legal dengan ilegal, kewajiban pasti ikutserta dalam parlemen yang paling reaksioner dan dalam beberapa lembaga lainnya yang dibatasi oleh undang-undang yang reaksioner (kumpulan-kumpulan asuransi, dan sebagainya).

Dalam tahun 1918 persoalannya tidak sampai pada perpecahan. Pada waktu itu kaum Komunis “Kiri” 21 hanya membentuk suatu grup atau “faksi” yang khusus di dalam Partai kami, dan dalam pada itu tidak untuk waktu lama. Dalam tahun 1918 itu juga, wakil-wakil yang paling terkemuka dari “Komunisme Kiri”, misalnya , Kawan-kawan Radek dan Bucharin, secara umum mengakui kesalahan mereka. Mereka mengira bahwa Perjanjian Perdamaian Brest adalah suatu kompromi dengan kaum imeprialis yang tidak diperbolehkan menurut prinsip dan yang merugikan bagi partai proletariat revolisioner. Memang Perjanjian itu adalah suatu kompromi dengankaum imperialis, tetapi justru suatu kompromi dan justru pada waktu yang demikian yang membuatnya wajib dilakukan.

Kini, ketika saya mendengar serangan-serangan terhadap taktik kami pada waktu penandatanganan Perjanjian Perdamaian Brest, misalnya dari pihak kaum “Sosialis-Revolusioner”, atau ketika saya mendengar teguran yang diucapkan oleh Kawan Lansbury waktu percakapannya dengan saya – “ Pemimpin kami dari serikatburuh-serikatburuh Inggeris mengatakan bahwa jika bagi kaum Bolsyewik diperolehkan mengadakan kompromi-kompromi, maka mereka boleh juga mengadakan kompromi-kompromi”, maka biasanya saya jawab dengan pertama-tama memberikan contoh yang sederhana dan “populer”.

Bayangkan bahwa mobil saudara dijegat oleh bandit-bandit yang bersenjata. Saudara menyerahkan uang, pistol dan mobil saudara kepada mereka. Sebagai gantinya, bebas dari bertetangga baik dengan bandit-bandit itu. Itu tak dapat disangkal lagi adalah suatu kompromi. “Do ut des” (“saya memberikan” padamu uang, senjata, mobil, “supaya kau memberikan” pada saya kesempatan untuk pergi dengan selamat). Tetapi akan sukarlah untuk menemukan seorang yang berfikiran waras yang akan mengumumkan kompromi seperti itu sebagai yang “ tidak diperbolehkan menurut prinsip”, atau yang menyatakan bahwa orang yang mengadakan kompromi itu adalah sekutu bandit-bandit tersebut (sekalipun bandit-bandit itu dapat mempergunakan mobil dan senjata tadi untuk melakukan perampokanperampokan baru). Kompromi kami dengan bandit-bandit imperialis Jerman adalah kompromi semacam itu.

Akan tetapi ketika kaum Mensyewik dan kaum sosialis revolusioner di Rusia, Scheidermann-Scheidermann (dan sebagian besar Kautsky-Kautsky) di Jerman, Otto Bauer dan Friedrich Adler (tidak usah dikata lagi tentang Tuan-Tuan Renner & Co) di Austria, Renaudel-Renaudel dan Longuet-Longuet & Co di Perancis, kaum Fabian, kaum “Merdeka” dan kaum “Partai Buruh” (kaum “Labouris” 22 di Inggeris, dalam tahun 1914 – 1918 dan dalam tahun 1918 – 1920 mengadakan kompromi-kompromi dengan bandit-bandit dari burjuasi “Sekutu”,  menentang proletariat revolusioner negeri-negeri mereka sendiri, pada waktu itu, semua tuan-tuan ini adalah memang berbuat sebagai sekutu dalam banditisme.

Kesimpulannya jelas: menolak kompromi “menurut prinsip”, menolak diperkenankannya  kompromi apapun pada umumnya, tidak pandang bagaimana macamnya, adalh kekanak-kanakan, yang bahkan sukar untuk dipandang secara serius. Seorang politikus yang ingin supaya berguna bagi proletariat revolusioner harus pandai membedakan justru kejadian konkrit dari kompromi-kompromi yang tidak diperbolehkan, yang di dalamnya terkandung oportunisme dan pengkhianatan, dan mengarahkan semua kekuatan kritik, semua ujung tombak penelanjangan yang tak kenal belaskasihan dan perang yang tak kenaampun, terhadap kompromi-kompromi yang k o n k r i t  i t u  , dengan tidak memberi kesempatan pada ahli-ahli Sosialisme yang “terlalu praktis” dan Jesuit-Jesuit parlementer yang telah banyak “makan  garam”  untuk  menghindarkan  diri dan  menyelinap  dari  tanggungjawab  dengan  omongan-

 

  • Apa yang belaku pada orang-orang berlaku juga – dengan perbedaan-perbedaan yang sewajarnya – pada politik dan partai-partai:  Yang pinta bukanlah orang yang tidak membuat kesalahan-kesalahan. Tidak ada dan tidak mungkin ada orang yang serupa itu. Yang pintar adalah orang yang membuat kesalahan-kesalahan yang tidak sangat esensiil dan yang pandai membetulkan kesalahan-kesalahan itu dengan mudah dan cepat.

omongan tentang  “kompromi pada umumnya”. Justru dengan cara ini Tuan-Tuan “pemimpin” serikatburuh-serikatburuh Inggeris, begitu juga perkumpulan Fabian dan Partai Buruh “Merdeka” mengelakkan diri dari tanggungjawab  atas  pengkhianatan  yang  telah  mereka  lakukan,  karena  telah mengadakan justru kompromi yang benar-benar merupakan macam oportunisme dan pengkhianatan yang paling jahat.

Ada kompromi dan kompromi. Orang harus pandai menganalisa situasi dan syarat-syarat konkrit dari tiap kompromi, atau tiap variasi kompromi. Kita harus belajar membedakan orang yang memberikan uang dan senajta kepada gerombolan bandit supaya dapat memperkecil kerugian yang dapat mereka timbulkan dan mempermudah urusan menangkap dan menghukum mati mereka, dengan orang yang memberikan uang dan senjata ikut serta dalam pembagian barang-barang yang dirampok. Dalam politik hal ini sekali-kali tidak selalu semudah seperti dalam contoh kekanak-kanak yang sederhana ini. Tetapi seseorang yang bermaksud mereka-reka bagi kaum buruh suatu resep yang seolah-olah dapat memberikan persediaan pemecahan-pemecahan yang sudah siap bagi semua kejadian dalam kehidupan, atau yang menjanjikan bahwa bahwa politik proletariat revolusioner tidak akan menjumpai kesulitan-kesulitan apapun dan situasi-situasi apapun yang ruwet, semata-mata akan menjadi seorang dukun palsu.

Supaya tidak memberikan kemungkinan untuk salah tafsir, saya akan mencoba menggambarkan dalam garis besarnya, sekalipun hanya dengan singkat sekali, beberapa ketentuan yang pokok untuk menganalisa kompromi-kompromi yang konkrit.

Partai yang mengadakan kompromi dengan kaum imperialis Jerman dengan menandatangani Perjanjian Perdamaian Brest telah mulai mengolah internasionalismenya dalam perbuatan sejak penghabisan tahun 1914. Ia tidak takut untuk menyerukan dikalahkannya monarki tsar dan untuk mengutuk “pembelaan tanahair” dalam peperangan antara dua binatang buas imperialis. Wakil-wakil petani ini dalam parlemen lebih suka menempuh jalan menuju  Siberia daripada jalan yang menuju jabatan-jabatan menteri dalam pemerintah burjuis. Revolusi yang menggulingkan tsarisme dan mendirikan republik demokratis menghadapkan partai ini pada suatu ujian baru yang berat: partai tersebut tidak mengadakan persetujuan-persetujuan apapun dengan imperialisnya “sendiri”, melainkan telah mempersiapkan dan melaksanakan penggulingan mereka. Sesudah merebut kekuasaan politik, partai ini menghancur leburkan samasekali milik tuantanah maupun kapitalis. Sesudah mengumumkan dan membatalkan perjanjian-perjanjian rahasia dari kaum imperialis, partai ini mengusulkan perdamaian kepada semua Rakyat, dan tunduk pada kekerasan dari binatang-binatang buas Brest baru sesudah kaum imperialis Inggeris-Perancis menggagalkan usaha mengadakan perdamaian, dan sesudah kaum Bolsyewik melakukan segala apa yang mungkin menurut kesanggupan manusia guna mempercepat revolusi di Jerman dan di negeri-negeri lainnya. Bahwa kompromi yang semacam itu, yang diadakan oleh partai serupa itu dan dalam keadaan yang demikian rupa, adalah benar sekali, dari hari ke haari menjadi semakin terang dan jelas bagi setiap orang.

Kaum Mensyewik dan kaum Sosialis-Revolusioner di Rusia (seperti semua gembong internasionale II di seluruh dunia dalam tahun 1914-1920) mulai dengan pengkhianatan, dengan membenarkan secara langsung atau tidak langsung “pembelaan terhadap tanahair”, yaitu pembelaan terhadap burjuasi perampok mereka sendiri. Mereka adakan koalisi dengan burjuasi negeri mereka sendiri dan berjuang bersama-sama dengan burjuasi mereka sendiri melawan proletariat revolusioner negeri mereka sendiri. Blok mereka, mula-mula dengan Kerenski dan kaum Kadet-kadet 23 dan kemudian dengan Koltjak dan Denikin di Rusia, seperti blok dari kaum sepaham mereka  di luarnegeri dengan burjuasi negeri mereka masing-masing, adalah suatu penyeberangan kepihak burjuasi menentang proletariat. Dari awal dampai akhir, kompromi mereka dengan bandit-bandit imperialisme terletak dalam kenyataan bahwa mereka menjadikan diri mereka sendiri peserta-peserta dalam banditisme imperialis.

 

 

V

Komunisme “Sayap kiri” di Jerman.

Pemimpin-peminpin—partai—klas– massa.

Kaum Komunis Jerman yang harus kita bicarakan sekarang tidak menyebut dirinya  kaum “Kiri” tetapi, kalau saya tidak salah, “kaum oposisi prinsipiil” 24 . Tetapi bahwa mereka cukup mempunyai semua tanda “penyakit kanak-kanak ke kiri-kirian” akan terlihat dari apa yang akan dibentangkan selanjutnya.

Sebuah brosur yang ditulis dari sudut pendirian oposisi ini, yang berkepala “Perpecahan Dalam Partai Komunis Jerman (Liga Spartakus)”, dan diterbitkan oleh “grup setempat di Frankfurt di Main” membentangkan hakekat pandangan-pandangan oposisi ini dengan sangat jitu, tepat, terang dan singkat. Beberapa kutipan akan cukup untuk memperkenalkan pembaca dengan hakekat pendirian mereka:

“ Partai Komunis adalah partai perjuangan yang paling teguh ……….”

“…….. Secara politik, masa peralihan ini” (antara kapitalisme dan Sosialisme) “adalah masa diktatur proletariat……”

“………Timbul pertanyaan: Siapakah yang harus menjadi pembawa diktatur ini: P a r t a i  K  o m u n i s  a t a u  k l a s  p r o-

l e t a r? ………. Secara prinsipiil kita harus berikhtiar untuk mencapai diktatur Partai Komunis, ataukah diktatur klas proletar?………

 

(Semua huruf miring menurut aslinya)

Selanjutnya penulis brosur terbut menuduh “CC” Partai Komunis Jerman karena “ CC” ini mencari jalan-jalan untuk koalisis dengan Partai Sosialis-Demokratis Merdeka Jerman, karena “soal mengakui dalam prinsip segala cara perjuangan politik”, termasuk parlementarisme, dikemukakan oleh “CC” itu hanya untuk menyembunyikan ikhtiar-ikhtiarnya yang ebenarnya dan yang pokok untuk membentuk persekutuan dengan kaum Merdeka. Dan brosur itu seterusnya mengatakan:

 

“ Pihak oposisi telah memilih jalan lain. Ia berpendapat bahwa soal kekuasaan Partai Komunis dan diktatur Partai hanyalah soal taktik. Bagaimanapun juga, kekuasaan Partai Komunis adalah bentuk yang terakhir dari sebarang kekuasaan partai. Secara prinsipiil, kita harus berikhtiar untuk mencapai diktatur klas proletar. Dan semua tindakan partai, organisasinya, cara-cara perjuangannya, strategi dan taktiknya harus diarahkan untuk tujuan ini. Karena itu, orang harus menolak sekeras-kerasnya segala macam kompromi dengan partai-partai lain, segala macam pembalikan ke bentuk-bentuk perjuangan parlementer, yang telah menjadi usang menurut sejarah dan politik, setiap politik bermanuver dan kompromi”. “Cara-cara perjuangan revolusioner yang khusus proletar harus ditekankan dengan keras. Bentuk-bentuk organisasi baru harus diciptakan atas dasar yang seluas-luasnya dan meliputi lapangan yang seluas-luasnya supaya dapat menarik kalangan-kalangan dan lapisan-lapisan proletar yang sebesar-besarnya, yang harus tampil dalam perjuangan revolusioner di bawah pimpinan Partai Komunis. Pusat perhimpunan bagi semua elemen revolusioner haruslah Persatuan Buruh, yang didasarkan atas organisasi-organisasi pabrik. Di dalamnya harus bergabung semua kaum buruh yang mengikuti semboyan: Tinggalkan serikatburuh-serikatburuh! Di dalamnya akan diorganisasi  proletariat yabg berjuang dalam barisan-barisan tempur yang seluas-luasnya. Pengakuan terhadap perjuangan klas, sistim Sovyet dan diktatur sudah cukup sebagai syarat penerimaan anggotanya. Seluruh pendidikan politik selanjutnya bagi massa yang berjuang dan orientasi politik mereka dalam perjuangan merupakan tugas Partai Komunis, yang berdiri di luar Persatuan Buruh tersebut ..”

….. Jadi, sekarang dua Partai Komunis dijajarkan berhadaphadapan satu sama lain:

J a n g  s a t u  —- p a r t a i  p e m i m p i n-p e m i m p i n , yang berusaha untuk mengorganisasi perjuangan revolusioner dan memimpinnya dari atas, dengan menjalankan kompromi-kompromi dan parlementerisme supaya menciptakan situasi-situasi yang akan memungkinkan untuk masuk ke dalam pemerintah koalisi yang akan memegang diktatur di dalam tangannya.

J a n g l a i n n y a  — p a r t a i  m a s s a ,  yang menunggu pasangnya gelombang perjuangan revolusioner dari bawah, yang mengetahui dan menggunakan untuk perjuangan itu hanya satu cara yang terang menuju tujuan, dan yang menolak semua cara parlementer serta oportnuis; cara yang satu-satunya ini yalah menggulingkan burjuasi dengan tidak bersyarat supaya sesudah itu mendirikan diktatur klas proletar guna terlaksananya Sosialisme…..”

…. Di sana, diktatur pemipin-pemimpin; di sini, diktatur massa! Itulah semboyan kita”.

 

Demikianlah ketentuan-ketentuan terpenting yang mencirii pandangan-pandangan pihak oposisi dalam Partai Komunis Jerman.

Sebarang Bolsyewik yang dengan sadar ambil bagian dalam, atau telah mengikuti dari dekat, perkembangan Bolsyewisme sejak tahun 1903, dengan segera akan mengatakan sesudah membaca pertimbangan-pertimbangan ini: “Sungguh, suatu konsepsi rombengan yang kolot dan yang sudah dikenal lama! Sungguh, suatu kekanak-kanakan yang ‘Kiri’!”

Tetapi marilah kita periksa pertimbangan-pertimbangan ini dengan sedikit lebih saksama lagi.

Cara mengemukakan soalnya saja – “diktatur Partai  a t a u diktatur klas? Diktatur (Partai) pemimpin-pemimpin, a t a u diktatur (Partai) massa?” – sudah membuktikan kekusutan fikiran yang paling mustahil dan tak tertolong lagi. Orang-orang ini berusaha mati-matian untuk menemukan sesuatu yang sangat luarbiasa, dan, dalam usaha supaya kelihatan pintar, mereka malah menjadi buah tertawaan. Setiap orang tahu bahwa massa terbagi atas klas-klas; bahwa massa dapat dipertentangkan terhadap klas-klas hanya ketika orang mempertentangkan  mayoritas yang amat luas pada umumnya, tidak pandang pembagian menurut kedudukannya dalam sistim produksi sosial, terhadap golongan yang mempunyai kedudukan  khusus dalam sistim produksi sosial; bahwa biasanya, dan dalam kebanyakan hal, setidak-tidaknya di negeri-negeri beradab yang modern, klas-klas itu dipimpin oleh partai-partai politik; bahwa partai-partai politik, menurut kebiasaan umum, dikemudikan oleh grup-grup yang sedikit banyaknya stabil dari orang-orang yang paling berwibawa, paling berpengaruh dan berpengalaman, yang dipilih untuk kedudukan yang paling bertanggungjawab dan yang disebut pemimpin-pemimpin. Semua ini adalah ABC. Semua ini adalah sederhana dan jelas. Untuk apa sebagai gantinya dikeluarkan suatu karut-marut, sesuatu bahasa-dunia baru? Di satu pihak, orang-orang ini rupanya menjadi bingung karena ternyata dalam keadaan sulit, ketika peralihan kedudukan partai secara tiba-tiba dari legal ke ilegal mengacaukan hubungan-hubungan yang biasa, normal dan sederhana antara pemimpin-pemimpin, partai dan klas-klas. Di Jerman, seperti juga di negeri-negeri Eropa lainnya, orang-orang sudah menjadi terlalu biasa dengan keadaan legal, denganpemilihan “pemimpin-pemimpin” secara merdeka dan selayaknya pada kongres-kongres partai yang teratur, dengan cara yang enak untuk menguji susunan klas dari partai-partai melalui pemilihan-pemilihan parlementer, rapat-rapat massa, pers, sentimen-sentimen serikatburuh-serikatburuh dan organisasi-organisasi lainnya, dan sebagainya. Ketika, sebagai ganti yang sudah biasa ini, karena perkembangan yang menggelora dari revolusi dan perang sipil,  orang-orang terpaksa beralih dengan cepat-cepat dari kedudukan legal ke ilegal dan sebalinya, menghubungkan yang dua itu, dan menjalankan cara-cara yang “tidak enak” dan “ tidak demokratis” dalam memilih, atau membentuk, atau mempertahankan “grup-grup pemimpin” – orang-orang itu menjadi bingung dan mula-mula mereka-reka suatu kemustahilan yang ajaib. Mungkin beberapa anggota Partai Komunis Belanda yang mempunyai nasib tidak baik karena dilahirkan di sebuah negeri kecil, di mana tradisi-tradisi dan syarat-syarat kedudukan legal terutama terjamin dan terutama stabil, dan yang belum pernah menyaksikan peralihan dari kedudukan legal kepada yang ilegal, menjadi kalut, bingung, dan membantu menciptakan re-rekaan yang bukan-bukan ini.

Di pihak lain, kita melihat pemakaian kata-kata “massa” dan “pemimpin-pemimpin” yang sekarang menjadi “mode”, yang samasekali tidak difikir-fikirkan dan tidak ada sangkut-pautnya. Orang telah banyak mendengar dan tertanan di dalam fikirannya serangan-serangan terhadap “pemimpin-pemimpin”, di mana pemimpin-pemimpin dipertentangkan terhadap “massa”; tetapi orang itu tidak berhasil untuk memikirkan sangkut-pautnya dan mendapat pengertian yang jelas tentang persoalannya.

Perbedaan antara “pemimpin” dan “massa” menjadi sangat jelas dan tajam di semua negeri pada akhir dan sesudah perang imperialis. Sebab pokok gejala ini sudah berkali-kali diterangkan oleh Marx dan Engels dalam tahun-tahun 1852-1892 dengan contoh Inggeris.  Kedudukan monopoli dari Inggeris menyebabkan timbulnya dari “massa” “aristokrasi buruh” yang setengah filistin dan oportunis. Pemimpin-pemimpin aristokrasi buruh ini selalu menyeberang ke pihak burjuasi dan secara langsung atau tidak langsung diongkosinya. Marx mendapat kehormatan dibenci oleh bajingan-banjingan ini karena ia dengan terang-terangan mencap mereka sebagai pengkhianat-pengkhianat. Imperialisme modern (abad ke XX) menciptakan kedudukan monopoli yang istimewa bagi beberapa negeri yang jau, dan hal ini melahirkan di mana-mana dalam Internasionae II tipe pemimpin-pemimpin pengkhianat, oportunis, sosial-sovinis, yang membela kepentingan-kepentingan lapangan kerja mereka sendiri. Hal ini memisahkan partai-partai oportunis dari “massa”, yaitu, dari lapisan-lapisan terluas Rakyat pekerja, dari mayoritas mereka, dari kaum buruh yang terendah upahnya. Kemenangan proletariat revolusioner  tidaklah mungkin tanpa memberantas kejahatan ini, tanpa menelanjangi, memberi malu dan menendang keluar pemimpin-pemimpin oportunis dan pengkhianat sosial ini, itulah politik yang telah mulai dijalankan oleh Internasional III 25.

Berbicara mengenai ini hingga sampai mempertentangkan,  p a d a   u m u m n y a, diktatur massa terhadap diktatur pemimpin-pemimpin adalah suatu kemustahilan dan ketololan yang menggelikan. Yang terutama lucu yalah, bahwa kenyataannya, sebagai ganti pemimpin-pemimpin lama yang berpandangan manusia umum mengenai soal-soal biasa, dalam kenyataannya ditonjolkan (dengan berkedok semboyan: “Enyahlah pemimpin-pemimpin!”) pemimpin-pemimpin baru yang ngobrol tentang sesuatu yang penuh  kekalutan, yang bukan-bukan hingga ajaib. Demikianlah halnya dengan Lauffenber, Wolffheim, Horner, Karl Schröder, Friederich Wendel dan Karl Erler* di Jerman. Percobaan-percobaan Erler untuk membikin “lebih mendalam” soal tersebut, dan untuk menyatakan bahwa partai-partai politik pada umumnya tidak perlu dan bersifat “burjuis”, adalah puncak kemustahilan sedemikian hingga orang hanya menggeleng-gelengkan kepala. Nah, sungguh-sungguh, sesuatu kesalahan kecil selalu dapat dijadikan kesalahan besar hingga mengerikan jika ia dialasi secara mendalam, dan jika ia “diwujudkan sampai pada akhirnya”.

Menolak sifat kepartaian dan disiplin partai – demikianlah buah hasilnya pada pihak oposisi. Dan ini sama saja dengan melucuti samasekali proletariat untuk kepentingan burjuasi. Ini adalah sama saja dengan mencerai-beraikan, ketidak teguhan, ketidak sanggupan burjuis kecil untuk sabar, bersatu dan beraksi secara teratur rapi, hal mana, kalau terus dibiarkan, pasti meneraka-jahanamkan sebarang gerakan proletar  revolusioner. Dari sudut pandangan Komunisme, menolak sifat kepartaian berarti mencoba meloncat dari saat menjelang keruntuhan kapitalisme (di Jerman), bukan ketingkat yang terendah, atau ke tingkat tengah, tetapi ke tingkat Komunisme yang tertinggi. Kami di Rusia (dalam  ta-

 

  • Tulisan Karl Erler, “Pembubaran Partai”, dalam Kommunistische Arbeitzeitung  26 (Suratkabar buruh Komunis)

Hamburg, 7 Pebruari 1920, No. 32 memuat:”klas buruh tidak dapat mengahncurkan negara burjuis tanpa menghancurkan    demokrasi burjuis, dan ia tidak dapat menghapuskan demokrasi burjuis tanpa menghancurkan partai-partai”.

Orang yang paling berfikiran kalut di  antara kaum sindikalis dan kaum anarkis di negeri-negeri Latin bisa mendapat “ke-

Puasan “ dari kenyataan bahwa orang-orang Jerman yang serius, yang rupanya menganggap dirinya sebagai kaum Marxis    (K.Erler dan K. Horner menunjukkan secara sangat serius  dengan artikel-artikel mereka  dalam suratkabar tersebut bahwa  mereka menganggap dirinya kaum Marxis yang serius, dan ngobrol tentang sesuatu yang tak masuk akal dan terutama menggelikan, dengan memperlihatkan ketidakmengertian tentang ABC Marxisme), telah melantur begitu jauh hingga menyatakan hal-hal yang tidak sesuai samasekali. Hal mengakui Marxisme saja tidak menyelamatkan orang dari kesalahan-kesalahan. Orang-orang Rusia tahu betul-betul akan hal ini, karena di negeri kami Marxisme sering sekali telah menjadi “mode”.

 

hun ketiga semenjak tergulingnya burjuasi) menempuh langkah-langkah pertama  dalam peralihan dari kapitalisme ke Sosialisme, atau tingkat terendah dari Komunisme. Klas-klas masih ada, dan tetap ada di mana-mana untuk bertahun-tahun lamanya sesudah perebutan kekuasaan oleh proletariat. Barangkali di Inggeris, di mana tidak ada kaum tani (tetapipun ada majikan-majikan kecil!), masa ini mungkin lebih pendek. Menghapuskan klas-klas berarti tidak hanya mengusir tuantanah-tuantanah dan kaum kapitalis – hal ini kita laksanakan relatif dengan mudah – itu juga berarti menghapuskan kaum produsen kecil barangdagangan; tetapi mereka  t i d a k   b i s a  d i  s i n g k i r k a n, atau dihancurkan; kita harus hidup bersama dengan mereka; mereka dapat (dan harus) dibentuk kembali dan dididik  kembali hanya dengan perkerjaan organisasi yang sangat lama, pelan-pelan dan hati-hati. Mereka mengepung proletariat dari segenap penjuru dengan spontanitas burjuis kecil, yang menyerap, melacuri  proletariat dan selalu menyebabkan timbulnya kembali di kalangan proletariat ketidaktabahan, perpecahan, individualisme burjuis kecil, berubahnya kegairahannya menjadi kesedihan. Sentralisasi dan disiplin yang paling keras dibutuhkan di dalam partai politik proletariat untuk melawan ini, supaya rol mengorganisasi dari proletariat (dan itu adalah rolnya yang terutama) dapat dijalankan dengan tepat, dengan berhasil dan dengan jaya. Diktatur proletariat adalah perjuangan, yang berdarah dan tidak berdarah, dengan kekerasan dan secara damai, militer dan ekonomi, pendidikan dan administratif, melawan kekuatan-kekuatan dan tradisi-tradisi lama. Kekuatan kebiasaan jutaan dan puluhan juta massa merupakan suatu kekuatan yang paling ngeri. Tanpa suatu partai yang membesi dan terbaja dalam perjuangan, tanpa suatu partai yang mendapat kepercayaan dari semua yang jujur dalam satu klas, tanpa suatu partai yang mengindahkan dan mempengaruhi perasaan hati massa, tidaklah mungkin untuk melakukan perjuangan yang demikian itu dengan berhasil. Seribu kali lebih mudah menaklukkan burjuasi besar yang terpusat daripada “menaklukkan” berjuta-juta pemilik kecil; tetapi mereka, dengan aktivitas mereka yang biasa, sehari-hari, yang tidak terlihat, tidak tertangkap, dan mendemoralisasi, mencapai hasil-hasil yang justru dibutuhkan oleh burjuasi dan yang menuju kepada pemulihan burjuasi. Barangsiapa yang melemahkan, bagaimanapun juga kecilnya, disiplin baja partai proletariat (terutama sekali selama diktaturnya), pada hakekatnya membantu burjuasi menentang proletariat.

Di samping soal pemimpin-pemimpin – pastai – klas massa, kita harus membicarakan serikatburuh-serikatburuh yang “reaksioner”. Tetapi terlebih dahulu saya memberanikan diri untuk memberikan beberapa keterangan kesimpulan yang didasarkan atas pengelaman Partai kami. Dalam Partai kami selalu ada serangan-serangan  terhadap “diktatur pemimpin-pemimpin”: pertama kali saya mendengar serangan-serangan serupa itu, saya ingat, dalam tahun 1895, ketika, secara resmi, belum ada partai tetapi ketika suatu grup pusat mulai dibentuk di Petersburg dan ditujukan untuk melakukan peimpinan atas grup-grup distrik 27 . Pada Kongres ke-IX Partai kami (April 1920) muncul suatu oposisi kecil yang juga menentang “diktatur pemimpin-pemimpin” , menentang “oligarki”, dan sebagainya. Karena tidak ada hal yang mengherankan, yang baru,  yang menakutkan dalam “penyakit kanak-kanak” dari “Komunisme Sayap Kiri” di kalangan orang-orang Jerman. Penyakit itu tidak menimbulkan sesuatu bahaya, dan sesudah itu keadaan tubuh malah menjadi lebih kuat. Sebaliknya, pada kami, pertukaran yang cepat dari pekerjaan legal menjadi ilegal, yang menyebabkan sangat perlunya “menyembunyikan”, menyelubungi secara sangat rahasia  justru staf umum, justru pemimpin-pemimpin, kadang-kadang menimbulkan gejala-gejala  yang sangat berbahaya sekali. Yang paling celaka yalah bahwa dalam tahun 1912 agen provokator Malinovski dapat memasuki Comite Central kaum Bolsyewik. Dia mengkhianati berpuluh puluh kawan yang paling baik dan paling setia, menyebabkan mereka mendapat hukuman kerjapaksa dan mempercepat kematian banyak di antara mereka. Bahwa dia tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi adalah karena kami mempunyai hubungan yang tepat antara pekerjaan legal dan ilegal. Sebagai anggota Comite Central Partai dan wakil dalam Duma, Malinovski terpaksa, supaya mendapat kepercayaan dari kami, membantu kami dalam mengeluarkan harian-harian yang legal, yang sekalipun di bawah kekuasaan tsar juga mampu melakukan perjuangan menentang oportunisme dari kaum Mensyewik dan mempropagandakan azas-azas Bolsyewisme yang diperluas dalam bentuk yang sepatutnya. Sedang dengan satu tangan Malinovski mengirimkan berpuluh-puluh kaum Bolsyewik yang terbaik ke hukuman kerjapaksa dan liang-kubur, dia terpaksa dengan tangan lainnya membantu dalam mendidik berpuluh-puluh ribu kaum Bolsyewik yang baru dengan perantaraan pers yang legal. Bagi kawan-kawan di Jerman (begitu juga di Inggeris, Amerika, Perancis dan Italia) yang dihadapkan pada tugas mempelajari bagaimana melakukan pekerjaan  revolusioner  di  dalam  serikatburuh-serikatburuh  reaksioner,  akan  berguna   sekali  untuk

 

 

 

 

memikirkan kenytaan ini dengan sungguh-sungguh.*.

Di banyak negeri, termasuk negeri-negeri yang termaju,  sekarang ini   burjuasi  pasti mengirimkan

agen-agen provokator ke dalam partai-partai Komunis dan akan terus melakukan itu.Salah satu cara untuk memberantas bahaya ini yalah menghubungkan pekerjaan ilegal dengan pekerjaan legal secara mahir.

 

 

  • Malinovski adalah seorang tawanan perang di Jerman. Ketika dia kembali ke Rusia yang berada di bawah kekuasaan kaum Bolsyewik, dia dengan segera dibawa ke muka pengadilan dan ditembak mati oleh kaum buruh kami. Kaum Mensyewik menyerang kami dengan sengitnya karena kesalahan kami — karena kenyataan, bahwa seorang agen provokator telah menjadi anggota Comite Central Partai kami. Tetapi ketika kami, di bawah pemerintahan Kerenski, menuntut ditangkap dan diadilinya Rodzianko, Ketua Duma, karena sejak sebelum perang dia telah tahu bahwa Malinovski adalah seorang agen provokator, dan tidak memberitahukan hal ini kepada kaum Trudowik 28 dan kaum buruh di dalam Duma, baik kaum Mensyewik maupun kaum Sosialis-Revolusioner yang duduk bersama dengan Kerenski tidak menyokong tuntutan kami itu, dan Rodzianko tetap leluasa dan dengan tak mendapat rintangan pergi menggabungkan diri dengan Denikin.

 

 

VI

Haruskah kaum revolusioner bekerja di dalam

Serikatburuh-serikatburuh reaksioner?

Kaum “Kiri” Jerman berpendapat,bahwa bagi mereka jawaban atas pertanyaan ini adalah negatif samasekali. Menurut pendapat mereka, deklamasi-deklamasi dan perkataan-perkataan marah-marah (seperti yang diucapkan oleh K.Horner dengan cara yang sangat “serius” dan sangat bodohnya) terhadap serikatburuh-serikatburuh “reaksioner” dan “kontrarevolusioner” adalah cukup untuk “membuktikan”, bahwa tidaklah perlu dan bahkan tidak diperbolehkan bagi kaum revolusioner dan kaum Komunis untuk bekerja dalam serikatburuh-serikatburuh kuning, sosial-sovinis, kompromis, kontra-revolusioner semacam serikatburuh-serikatburuh Legien.

Akan tetapi biar bagaimanapun juga teguhnya keyakinan kaum “Kiri” Jerman akan revolusionerismenya taktik semacam itu, taktik ini sebenarnya adalah salah samasekali, dan tidak mengandung di dalamnya suatu apapun kecuali omong-kosong.

Untuk menjelaskan hal ini, asya akan memulai dengan pengalaman kami sendiri – selaras dengan rencana umum brosur ini, yang tujuannya yalah mengenakan pada Eropa Barat apa saja yang dapat dikenakan secara umum, yang mempunyai kebenaran umum, yang bersifat keharusan umum dalam sejarah dan taktik Bolsyewisme pada waktu sekarang ini.

Saling hubungan antara pemimpin-pemimpin – partai – klas – massa, begitu juga hubungan antara diktatur proletar dan partainya dengan serikatburuh-serikatburuh, sekarang memperlihatkan dirinya secara konkrit di Rusia dalam bentuk sebagai berikut. Diktatur dijalankan oleh proletariat, yang diorganisasi dalam Sovyet-Sovyet; proletariat dipimpin oleh Partai Komunis kaum Bolsyewik, yang menurut bahan-bahan dari Kongres Partai yang lalu (IV-1920), mempunyai anggota 611 ribu orang. Keanggotaannya sangat naik turun baik sebelum maupun sesudah Revolusi Oktober, dan dulunya,  malahan dalam tahun 1918 dan 1919 29 , leboh-lebih sedikit lagi. Kami takut akan pertumbuhan Partai secara luarbiasa, sebab orang-orang pencari kedudukan dan bajingan-bajingan, yang selayaknya ditembak saja, pasti berusaha membonceng pada partai yang berkuasa. Waktu yang terakhir kami membuka pintu Partai lebar-lebar – hanya untuk kaum buruh dan kaum tani – yalah selama hari-hari (pada musim dingan tahun 1919)  ketika Yudenitj sudah berada di tempat yang hanya beberapa wersta* jauhnya dari Petrograd, dan Denikin berada di Orel (kira-kira 350 wersta dari Koskwa), yaitu, ketika Republik Sovyet diancam bahaya maut, bahaya kematian, dan ketika petualang-petualang, orang-orang pencari kedudukan, bajingan-bajingan dan orang-orang yang tidak teguh pada umumnya bagaimanapun tidak akan mungkin mengharapkan kedudukan yang menguntungkan (dan mereka lebih cepat dapat mengharapkan tiang-gantungan dan siksaan) dengan menggabungkan diri pada kaum Komunis 30 . Partai, yang mengadakan Kongres saban tahun (Kongres yang lalu atas dasar seorang utusan untuk 1000 orang anggota), dipimpin oleh Comite Central yang terdiri dari 19 orang yang dipilih dalam Kongres, sedang pekerjaan sehari-hari di Moskwa harus dilakukan oleh badan-badan yang lebih kecil lagi, yaitu apa yang dinamakan “Org-biro” (Biro-Organisasi) dan “Politbiro” (Biro-Politik), yang dipilih dalam sidang Pleno CC, masing-masing biro terdiri dari lima oranggota CC. Hal ini, nampaknya adalah satu “oligarki” yang sungguh-sungguh. Tidak ada satupun soal politik atau organisasi yang penting yang diputuskan oleh suatu badan negara dalam republik kami tanpa instruksi-instruksi pedoman dari CC Partai

*Ukuran panjang Rusia, sama dengan 1,06 km, yang dipergunakan di Rusia sebelum sistim meteran, —Red.

 

 

Dalam pekerjaannya, Partai bersandar langsung pada serikatburuh-serikatburuh, yang pada dewasa ini, menurut bahan-bahan dari Kongres yang lalu (IV-1920), mempunyai anggota 4 juta orang lebih, dan yang formilnya adalah non partai. Sesungguhnya, semua badan pimpinan terbanyak mutlak serikatburuh-serikatburuh dan terutama sekali, sudah tentu, pusat atau biro umum serikatburuh se-Rusia (DPSBR—Dewan Pusat Serikat Buruh-Serikat Buruh Se-Rusia), terdiri dari kaum Komunis dan menjalankan semua petunjuk Partai. Dengan demikian, dalam keseluruhannya, kami mempunyai alat proletar yang formil non-Komunis, yang supel dan relatif luas dan sangat kuat, dengan perantaraan mana Partai dihubungkan rapat dengan klas dan dengan massa, dan dengan perantaraan mana, di bawah pimpinan Partai,maka dijalankanlah diktatur klas. Tanpa hubungan yang rapat sekali dengan serikatburuh-serikatburuh, tanpa bantuan mereka yang hangat dan pekerjaan mereka yang tak berpamrih, tidak hanya dalam soal-soal ekonomi tapi juga dalam soal-soal militer, sudah tentu, tidak akan mungkinlah bagi kami untuk memerintah dengeri dan menjalankan diktatur selama 2 ½ bulan, apalagi 2 ½ tahun. Sudah tentu, dalam praktek, hubungan yang paling rapat ini memerlukan pekerjaan yang banyak seluk-beluknya dan yang bermacam-macam dalam bentuk propaganda, agitasi, konperensi-konperensi yang tepat pada waktunya dan sering, tidak hanya dengan tokoh-tokoh pimpinan serikatburuh, tetapi juga dengan tokoh-tokoh serikatburuh yang berpengaruh pada umumnya; ia meminta perjuangan yang sungguh-sungguh melawan kaum Mensyewik yang masih mempunyai sejumlah pengikut, biar sedikit sekali, pengikut-pengikut yang diajarinya tentang segala tipu muslihat kontra-revolusioner yang mungkin, mulai dari membela demokrasi (burjuis) secara ideologi dan mengkhotbahkan “kebebasan” serikatburuh-serikatburuh (kebebasan dari kekuasaan negara proletar) sampai pada mendabot disiplin proletar, dan sebagainya, dan seterusnya.

Kami berpendapat, bahwa hubungan dengan “massa” melalui serikatburuh-serikatburuh tidaklah cukup. Selama revolusi aktivitas nyata telah menimbulkan di negeri kami konferensi-konferensi kaum buruh dan kaum tani non-partai, dan kami berusaha dengan segala jalan untuk membantu, mengembangkan dan meluaskan badan-badan ini supaya dapat mengikuti sentimen-sentimen massa, lebih mendekati mereka, memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, mempromosikan yang terbaik di kalangan mereka ke jabatan-jabatan negara, dan sebagainya. Menurut salah satu dekrit yang terakhir mengenai pengubahan Komisariat Rakyat Pengawasan Negara menjadi “Inspeksi Buruh dan Tani”, konferensi-konferensi non-partai macam ini diberi hak untuk memilih anggota-anggota Pengawasan Negara untuk berbagai macam penyelidikan, dan sebagainya.

Kemudian, sudah tentu, semua pekerjaan Partai dijalankan melalui Sovyet-Sovyet, yang meliputi massa pekerja tanpa pandang keahliannya. Kongres-kongres Sovyet-Sovyet tingkat Ujezd adalah badan-badan yang begitu demokratis yang belum pernah dikenal oleh republik-republik demokratis yang terbaik di dunia burjuis; dan melalui Kongres-kongres ini ( yang oleh Partai sedapat mungkin  diusahakan mengikuti pekerjaan-pekerjaannya dengan saksama), begitu juga dengan terus-menerus mengangkat buruh-buruh yang mempunyai kesadaran klas pada berbagai jabatan di pedesaan, maka dijalankanlah peranan proletariat sebagai pemimpin kaum tani, dilaksanakanlah diktatur proletariat kota, dilakukanlah perjuangan yang sistimatis melawan kaum tani kaya, yang burjuis, yang menghisap dan mencatut, dan sebagainya.

Demikianlah mekanisme umum kekuasaan negara proletar dilihat “dari atas”, dari sudut pelaksanaan praktis diktatur. Dapat diharapkan, bahwa pembaca akan mengerti mengapa seorang Bolsyewik Rusia yang tahu akan mekanisme ini, yang selama 25 tahun mengikuti pertumbuhannya dari grup-grup  kecil yang ilegal, di bawah tanah, tidak dapat lain daripada menganggap bahwa semua obrolan tentang “dari atas”  a  t  a  u   “dari bawah”,   tentang   diktatur pemimpin-pemimpin  a  t  a  u   diktatur massa, dan seterusnya, adalah omong kosong yang menggelikan dan kekanak-kanakan, sesuatu yang serupa dengan membicarakan apakah kaki kiri atau tangan kanan menuasia yang lebih berguna baginya.

Dan kami tidak dapat lain daripada juga menganggap omong kosong yang menggelikan dan kekanak-kanakan yang sama pembicaraan-pembicaraan yang bombastis, yang bukan main intelektualis dan revolusionernya hingga keterlaluan dari kaum Kiri Jerman, yaitu bahwa kaum Komunis tidak dapat dan tidak boleh bekerja di dalam serikatburuh-serikatburuh reaksioner, bahwa diperbolehkan menolak pekerjaan semacam itu, bahwa perlu meninggalkan serikatburuh-serikatburuh itu dan menciptakan suatu “Persatuan Buruh” yang baru samasekali, yang tidak ada celanya, yang direka-reka oleh orang-orang Komunis yang sangat baik (dan, mungkin, yang sebagian besar masih muda-belia), dan sebagainya, dan seterusnya.

Kapitalisme pasti meninggalkan sebagai warisan kepada sosialisme, di satu pihak, perbedaan-perbedaan keahlian dan vak yang lama dan tersusun sejak berabad-abad di kalangan kaum buruh, dan di pihak lain, serikatburuh-serikatburuh yang  akan dapat dan akan berkembang dengan lambat sekali, selama bertahun-tahun, menjadi serikatburuh-serikatburuh industri yang lebih luas dengan kurang sifat serikat-vaknya (yang meliputi seluruh cabang-cabang industri, dan tidak hanya meliputi vak-vak, pekerjaan-pekerjaan, dan keahlian-keahlian) dan kemudian, melalui srikatburuh-serikatburuh industri ini beralih ke penghapusan pembagian kerja di antara orang-orang, ke pendidikan, pengajaran dan persiapan orang-orang dengan kemajuan yang meliputi segala segi dan dengan latihan yang meliputi segala lapangan, sehingga mampu mengerjakan segala-galanya. Komunisme sedang maju dan mesti maju ke arah tujuan ini, dan ia akan mencapainya, tetapi hanya sesudah sangat banyak tahun. Mencoba dalam praktek, sekarang ini, untuk memiliki buah hasil ini dari Komunisme yang akan datang, yang sudah berkembang dengan sempurna, sudah kokoh dan tersusun dengan sempurna, sudah meluas dan matang sungguh-sungguh, akan berarti sama saja dengan mencoba mengajarkan ilmu pasti tinggi kepada anak-anak umur empat tahun.

Kita dapat (dan harus) mulai membangun Sosialisme, bukan dengan bahan-bahan manusia yang khayal, ataupun yang khusus kita sediakan, tetapi dengan bahan-bahan manusia yang diwariskan kepada kita oleh kapitalisme. Benar, hal itu adalah “sukar” sekali, tetapi cara pemecahan lain manapun untuk tugs ini adalah begitu tidak serius hingga tidak patut dibicarakan.

Pada masa permulaan perkembangan kapitalisme serikatburuh-serikatburuh adalah suatu kemajuan raksasa bagi klas buruh, sebagai peralihan dari keadaan terpencar-pencar dan tak berdaya-nya kaum buruh ke benih-benih pertama dari penyatuan klas. Ketika bentuk yang tertinggi dari penggabungan klas kaum proletar mulai lahir,  yaitu  partai proletariat revolusioner ( yang tidak akan layak mendapat sebutan itu sebelum ia belajar menjatuhkan pemimpin-pemimpin dengan klas dan massa menjadi satu keutuhan, sesuatu yang tak terpecahkan), maka serikatburuh-serikatburuh itu tidak boleh tidak mulai memperlihatkan beberapa sifat reaksioner, sesuatu kepicikan vak, suatu tendensi non-politik, kekolotan tertentu, dan lain-lain. Akan tetapi perkembangan proletariat tidak dan tidak bisa berjalan di mana saja di dunia ini kecuali melalui serikatburuh-serikatburuh, melalui aksi timbal balik antara serikatburuh-serikatburuh dan partai klas buruh. Perebutan kekuasaan oleh proletariat adalah langkah maju raksasa bagi proletariat sebagai klas, dan Partai harus lebih daripada yang sudah-sudah dan dengan cara baru, tidak hanya dengan cara lama, mendidik dan membimbing serikatburuh-serikatburuh, dalam pada itu juga tetap mengingat bahwa serikatburuh-serikatburuh adalah dan akan tetap dalam waktu yang lama merupakan suatu “Sekolah Komunisme” yang perlu dan suatu sekolah persiapan ynag melatih kaum proletar  untuk menjalankan dikatatur mereka, suatu organisasi kaum buruh yang perlu untuk secara berangsur-angsur memindahkan pengurusan seluruh kehidupan ekonomi negeri ke tangan klas buruh (dan bukan kepada golongan-golongan keahlian tertentu) dan kemudian ke tangan semua Rakyat pekerja.

Ada suatu “ke-reaksioner-an” di dalam serikatburuh-serikatburuh dalam arti tersebut di atas tidak dapat dihindarkan di bawah diktatur proletariat. Tidak bisa memahami ini berarti tidak dapat memahami samasekali syart-syarat pokok peralihan dari kapitalisme ke Sosialisme. Takut kepada “ke-reaksioner-an” ini, mencoba menghindarinya, mencoba melangkahinya, akan berarti kebodohan yang terbesar, karena ia akan berarti takut akan fungsi pelopor proletar yang berupa melatih, mendidik, membuka pikiran dan menarik ke dalam kehidupan baru lapisan-lapisan yang paling terbelakang dari massa klas buruh dan kaum tani. Di pihak lain,menunda tercapainya diktatur proletariat sampai datang masanya, di mana tidak ada lagi seorang buruhpun yang mempunyai pandangan yang sempit menurut keahliannya, seorang buruh yang mempunyai purbasangka-purbasangka vak dan Trade-Unionis, akan merupakan kesalahan yang lebih besar lagi. Kecakapan seorang politikus (serta pengertian yang benar dari setiap Komunis tentang kewajiban-kewajibannya) terletak justru dalam memperhitungkan dengan tepat syarat-syarat dansaat, di mana pelopor proletariat dapat merebut kekuasaan dengan berhasil, di mana ia dapat sewaktu dan sesudah perebutan kekuasaan, mendapat bantuan yang cukup dari lapisan yang cukup luas dari klas buruh dan massa pekerja non-proletar, dan di mana sesudah itu ia dapat mempertahankan, mengkonsolidasi dan meluaskan kekuasaannya dengan mendidik, melatih dan menarik semakin luas massa Rakyat pekerja.

Selanjutnya. Di negeri-negeri yang lebih maju dari pada Rusia, suatu ke-reaksioner-an dalam serikatburuh-serikatburuh telah dan tentunya pasti nampak jauh lebih tegas dari pada di negeri kami. Kaum Mensyewik kami telah mendapat sokongan dalam serikatburuh-serikatburuh (dan sampai pada batas tertentu masih mendapat sokongan dalam serikatburuh-serikatburuh yang sedikit sekali jumlahnya), justru karena kepicikan vak, egoisme profesionil dan oportunisme. Di Barat kaum Mensyewik setempat telah “bercokol” jauh lebih kuat di dalam serikatburuh-serikatburuh, di sana “aristokrasi buruh” yang bersemangat profesionil yang picik, tamak, tidak menaruh belas kasihan, yang loba, bersifat burjuis kecil, yang berpikiran imperialis dan disuap oleh imperialis, dilacurkan oleh imperialis, muncul sebagai suatu lapisan yang jauh lebih kuat dari pada di negeri kami. Ini tidak dapat disangkal. Perjuangan menentang kaum Gompers, menentang tuan-tuan Jouhoux, Henderson, Merrheim, Legien & Co. di Eropa Barat adalah jauh lebih sukar daripada perjuangan menentang kaum Mensyewik kami, yang mewakili tipe sosial dan politik yang samasekali homogen. Perjuangan ini harus dilakukan dengan tak kenal ampun, dan ia psti harus dijalankan – sebagaimana kami telah menjalankannya – sampai pada titik di mana semua gembong oportunisme dan sosial-sovinisme yang sudah tidak bisa diperbaiki lagi dibikin malu samsekali dan diusir dari serikatburuh-serikatburuh. Kekuasaan politik tidak dapat direbut (dan usaha untuk merebutnya tidak boleh dilakukan) sebelum perjuangan itu mencapai suatu tingkatan tertentu dan ““ingkatan tertentu””ini akan beralin-lainan di berbagai negeri dan dalam berbagai keadaan: ia dapat diperhitungkan dengan tepat oleh pemimpin-pemimpin politik dari proletariat yang berpikiran dalam, berpengalaman dan tahu banyak di masing-masing negeri. (Di Rusia, antara lain, yang menjadi ukuran dari sukses perjuangan ini yalah pemilihan untuk Dewan Konstituante dan bulan Nopember 1917, beberapa hari sesudah revolusi proletar pada tanggal 25 Oktober 1917; dalam pada itu dalam pemilihanini kaum Mensyewik kalah betul-betul; mereka memperoleh 0,7 juta suara – 1,4 juta jika ditambah dengan suara dari Trans-Kaukasia – dibandingkan dengan 9 juta suara yang didapat oleh kaum Bolsyewik: lihat artikel saya, Pemilihan untuk Dewan Konstituante 31 dan Diktatur Proletariat” dalam Kommunistitjeski International 32 No.7 – 8).

Akan tetapi kita melakukan perjuangan melawan “aristokrasi buruh” atas nama massa kaum buruh dan dengan tujuan menarik mereka ke pihak kita; kita melakukan perjuangan melawan gembong-gembong oportunis dan sosial-sovinis guna menarik klas buruh ke pihak kita. Melupakan kebenaran yang paling sederhana dan yang jelas dengan sendirinya ini adalah bodoh. Dan justru kebodohan inilah diperlihatkan oleh kaum Komunis “Kiri” Jerman ketika mereka, berhubung dengan watak reaksioner dan kontra-revolusioner dari kalangan atasan serikatburuh-serikatburuh, melompat pada kesimpulan bahwa ……… serikatburuh-serikatburuh harus ditinggalkan!!  bahwa pekerjaan di dalamnya harus ditolak!! bahwa harus dicipatakan bentuk-bentuk organisasi buruh yang baru dan yang  di  b u a t – b u a t !! Ini adalah suatu kebodohan yang tidak dapat dimaafkan, yang sama dengan jasa yang terbesar yang diberikan oleh kaum Komunis kepada burjuasi. Sebab kaum Mensyewik kita, seperti juga semua gembong serikatburuh-serikatburuh yang oportunis, sosial-sovinis, Kautskyis, adalah tidak lain daripada “agen-agen burjuasi di dalam gerakan kaum buruh” (sebagaimana kami selamanya menamakan kaum Mensyewik), atau, untuk memakai perkataan yang bagus sekali dan sepenuhnya benar dari pengikut-pengikut Daniel De Leon di Amerika, yalah “mandur buruh dari klas kapitalis” (labor leiutenants of the capitalist clas). Menolak bekerja di dalam serikatburuh-serikatburuh yang reaksioner berarti membiarkan massa kaum buruh yang belum cukup maju atau yang masih terbelakang tetap ada di bawah pengaruh gembong-gembong yang reaksioner, agen-agen burjuasi, aristokrasi buruh, atau “buruh-buruh yang telah menjadi bersifat burjuis” ( bandingkna, surat Engels kepada Marx dalam tahun 1858 tentang kaum buruh Inggeris).

Justru “teori” yang bukan-bukan, bahwa kaum Komunis tidak boleh bekerja di dalam serikatburuh reaksioner, yang memperlihatkan dengan terutama jelasnya bagaimana sembrononya sikap kaum Komunis “Kiri” ini terhadap soal mempengaruhi “massa”, dan bagaimana mereka menyalah-gunakan pekikan-pekikan mereka tentang “massa”. Supaya dapat menolong “massa” dan mendapatkan simpati serta sokongan dari “massa” , orang tidak boleh takut akan kesukaran, tidak boleh takut akan umpatan-umpatan, jegalan-jegalan, penghinaan-penghinaan dan pengejaran-pengejaran dari pihak “gembong-gembong” (yang, karena bersifat oportunis dan sosial-sovinis, dalam banyak hal secara langsung atau tidak langsung mempunyai hubungan dengan burjuasi dan polisi), dan pasti harus bekerja di mana saja ada massa. Orang harus sanggup memberikan segala pengorbanan, mengatasi rintangan yang sebesar-besarnya untuk melakukan agitasi dan propaganda dengan teratur, terus-menerus, ulet dan sabar, justru dalam badan-badan, perkumpulan-perkumpulan dan persrikatan-perserikatan – yang paling ultra-reaksioner sekalipun – di mana terdapat massa proletar atau setengah proletar. Dan serikatburuh-serikatburuh serta koperasi-koperasi buruh (yang tersebut belakangan, setidak-tidaknya, kadang-kadang) adalah justru organisasi-organisasi di mana terdapat massa. Menurut angka-angka yang dimuat dalam suratkabar Swedia Folkets Dagblad Politiken  33 (tanggal 10-III-1920), jumlah anggota serikat buruh di Inggeris naik dari 5,5 juta pada akhir tahun 1917 menjadi 6,6 juta pada akhir tahun 1918, yaitu naik dengan 19%. Menjelang akhir tahun 1919 jumlah anggota ditaksir 7,5 juta. Pada saya sekarang tidak ada angka-angka serupa itu dari Perancis dan Jerman, tetapi kenyataan-kenyataan yang samasekali tidak dapat disangkal dan yang umum diketahui membuktikan kenaikan yang cepat dalam jumlah keanggotaan serikatburuh juga di negeri-negeri ini.

Kenyataan ini membikin terang seterang-terangnya apa yang diperkuat juga oleh beribu-ribu tanda lainnya, yaitu, bahwa kesadaran-klas dan keinginan untuk berorganisasi sedang tumbuh justru di kalangan massa proletar, di kalangan “bawahan”, di kalangan elemen-elemen yang terbelakang.  Berjuta-juta kaum buruh di Inggeris, Perancis dan Jerman buat pertama kalinya melangkah dari keadaan tidak mempunyai organisasi sama sekali ke bentuk organisasi yang elementer, paling rendah, paling sederhana, dan (bagi mereka yang masih samasekali diliputi oleh purbasangka-purbasangka burjuis-demokratis) yang paling mudah diterima, yaitu, serikatburuh-serikatburuh; tetapi kaum Komunis Kiri yang revolusioner, tetapi tidak pintar, berdiri berpangku tangan sambil berteriak-teriak “massa”, “massa”!–dan menolak untuk bekerja di dalam  s e r i k a t b u r u h – s e r i k a t b u r u h !! menolak dengan dalih bahwa serikatburuh-serikatburuh itu “reaksioner”!! dan mereka-reka suatu “Persatuan Buruh” yang baru samasekali, yang tiada bercacat, tiada memiliki kesalahan purbasangka-purbasangka burjuis-demokratis dan yang bersih dari dosa-dosa vak atau profesionil yang picik, yang sebagaimana digembar-gemborkan, seolah-olah akan menjadi (akan menjadi!) suatu organisasi yang luas, dan satu-satunya (satu-satunya!) syrata bagi keanggotaannya yalah “mengakui sistim Sovyet dan diktatur”!! (Liahat bagian yang dikutip di atas).

Tidak dapat dibayangkan ketololan yang lebih besar dan kerugian yang lebih besar bagi revolusi daripada apa yang ditimbulkan oleh kaum revolusioner “Kiri” ini! Jika kami kini di Rusia, sesudah 2 ½ tahun  kemenangan-kemenangan yang tak ada taranya atas burjuasi Rusia dan Entente 34 , menjadikan “pengakuan terhadap diktatur” sebagai syarat bagi keanggotaan serikatburuh, maka kami tentu akan melakukan suatu kebodohan, merusak pengaruh kami atas massa, dan membantu kaum Mensyewik. Sebab seluruh tugas kaum Komunis yalah menjadi pandai meyakinkan elemen-elemen yang terbelakang, pandai bekerja di tengahtengah mereka, dan bukan untuk memisahkan diri dari mereka dengan semboyan-semboyan “Kiri” yang dibuat-buat dan kekanak-kanakan.

Tidak dapat diragukan bahwa tuan-tuan Gompers, Henderson, Jouhoux, dan Legien sangat berterimakasih kepada kaum revolusioner ““iri”” yang berarti kaum oposisi ““rinsipiil””di Jerman (semoga Tuhan melindungi kita dari ““ikap prisipiil” semacam itu!), atau beberapa kaum revolusioner dalam “Kaum Buruh Industri Sedunia” 35 dari Amerika, menganjurkan supaya meninggalkan serikatburuh-serikatburuh reaksioner dan menolak bekerja di dalam serikatburhh-serikatburuh itu. Tidak dapat diragukan bahwa tuan-tuan “gembong” oportunisme akan melakukan segala tipu-muslihat diplomasi burjuis, mencari bantuan dari pemerintah-pemerintah burjuis, pendeta-pendeta, polisi-polisi dan pengadilan-pengadilan, supaya mencegah kaum Komunis masuk dalam serikatburuh-serikatburuh, supaya mendesak mereka keluar dengan segala jalan, dan membuat pekerjaan mereka dalam serikatburuh-serikatburuh itu paling tidak enak, supaya menista, menghina dan mengejar-kejar mereka. Kita harus pandai menahan ini semua, sanggup memberika segala dan setiap pengorbanan, dan malahan – jika perlu – menggunakan berbagai siasat, akal, cara-cara ilegal, bungkam seribu bahasa dan menyembunykan kebenaran asal hanya dapat menyelinap ke dalam serikatburuh-serikatburuh, tinggal di dalamnya, dan bagaimanapun juga melakukan pekerjaan Komunis di dalam serikatburuh-serikatburuh itu.  Di bawah tsarisme hingga tanhun 1905 kami tidak mempunyai “Kemungkinan-kemungkinan legal” sedikitpun; tetapi waktu Zubatov, seorang penjahat polisi, mengorganisasi rapat-rapat buruh dan perkumpulan-perkumpulan kaum pekerja yang bersifat Seratus Hitam, dengan maksud menjerat kaum revolusioner dan melawan mereka, kami mengirimkan anggota-anggota Partai kami ke rapat-rapat dan ke dalam perkumpulan-perkumpulan itu (saya sendiri masih ingat seorang di antara mereka, yaitu Kawan Babusykin, seorang buruh terkemuka di Petersburg, yang ditembak oleh jendral-jendral tsar dalam tahun 1906). Mereka mengadakan hubungan dengan massa, mencari akal untuk melakukan agitasi mereka,  dan berhasil merebut kaum buruh dari pengaruh kaum Zubatov*. Sudah tentu, di Eropa Barat di mana purbasangka-purbasangka legalis, konstitusionil, burjuis-demokratis sangat melekat dan berakar dalam sekali, ini adalah suatu pekerjaan yang lebih sukar. Tetapi ia dapat dan harus dilakukan, dan dilakukan secara sistimatis.

Komite Eksekutif Internasionale III, menurut pendapat saya, harus mengutuk dengan tegas, dan mengusulkan kepada Kongres Internasionale Komunis yang akan datang supaya mengutuk poltik yang menolak untuk masuk ke dalam serikatburuh-serikatburuh reaksioner pada umumnya (dengan menganalisa secara terperinci apa sebabnya penolakan serupa itu adalah tak bijaksana, dan betapa besarnya kerugian yang ditimbulkan bagi kepentingan revolusi proletar) dan, pada

 

* Kaum Gompers, Henderson, Jouhoux dan Legien adalah tidak lain daripada kaum Zubatov; mereka berbeda dengan Zubatov kami hanya karena baju Eropa mereka, cara-cara demokratis yang licin, dipelitur, dipermodern, diperhalus dalam menjalankan politik mereka yang nista.

 

khusunya, garis sikap dari beberapa anggota Partai Komunis Belanda, yang – baik secara langsung atau tidak langsung, secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, seluruhnya atau sebagian – telah menyokong politik yang salah ini. Internasionale III harus melepaskan taktik Internasionale II; ia tidak boleh menghindari atau menutupi soal-soal yang pahit, akan tetapi harus mengemukakannya secara terang-terangan. Seluruh kebenaran telah dikemukakan secara terus terang kepada kaum “Merdeka” (Partai Sosialis Demokratis Merdeka Jerman); seluruh kebenaran harus juga dikemukakan secara terus-terang kepada kaum Komunis “Kiri”.

 

 

 

VII

Haruskah kita ambil bagian dalam

parlemen-parlemen burjuis?

Kaum Komunis “Kiri” Jerman, dengan sangat mendaifkan – dan dengan sangat sembrono – menjawab pertanyaan ini dengan negatif. Apakah alasan-alasan mereka? Dalam bagian yang telah dikutip di atas kita baca:

 

“……….. orang harus menolak sekeras-kerasnya segala macam pembalikan ke bentuk-bentuk perjuangan parlementer, yang telah menjadi usang menurut sejarah dan politik……….”

 

Ini dikatakan secara sombong hingga menggelikan, dan terang salah. “Kembali” ke parlementerisme! Barangkali di Jerman sudah ada republik-republik Sovyet? Rasanya belum! Jadi, bagaimana orang bisa berbicara tentang “kembali”? Bukankah ini kata-kata kosong belaka?

Parlementerisme telah menjadi “usang menurut sejarah”. Ini betul dari segi propaganda. Tetapi setiap orang tahu bahwa hal ini masih jauh sekali dari mengatasinya dalam praktek. Kapitalisme sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu dapat dinyatakan, dan dengan penuh kebenaran,  sebagai yang sudah “usang menurut sejarah”, tetapi itu samasekali tidak menghilangkan keperluan perjuangan yang sangat lama dan sangat ulet di atas bumi kapitalisme. Parlementerisme  sudah “usang menurut sejarah” dilihat dari sudut sejarah dunia, artinya zaman parlementerisme burjuis sudah berakhir dan zaman diktatur proletariat sudah mulai.  Ini tak dapat dibantah. Tetapi sejarah dunia dihitung dalam puluhan tahun. Sepuluh atau duapuluh tahun lebih dulu atau lebih lambat tidak ada bedanya jika diukur dengan sejarah dunia; dilihat dari sudut sejarah dunia ini adalah soal tetek bengek yang tidak dapat dihitung sekalipun dengan kira-kira saja. Tetapi justru karena itu adalah suatu kesalahan teori yang paling menyolok untuk mengenakan ukuran sejarah dunia pada politik praktis.

Apakah parlementerisme sudag “usang” secara politik? Itu adalah soal lain samasekali. Seandainya itu benar, maka kedudukan kaum “Kiri” akan kuat. Akan tetapi ini harus dibuktikan dengan analisa yang sedalam-dalamnya, sedangkan kaum “Kiri” malahan tidak tahu bagaimana mendekatinya. Dalam “Tesis-tesis tentang parlemeterisme”, yang dimuat dalam “Buletin Biro sementara Internasionale Komunist di Amsterdam”, No.1 (Buletin of the Provisional Bureau in Amsterdam of the Communist International“” Februari 1920) dan yang jelas menyatakan fikiran orang-orang Kiri-Belanda atau Belanda-Kiri, analisa itu, sebagaimana akan kita lihat, adalah juga sangat jelek.

Pertama. Bertentangan dengan pendapat pemimpin-pemimpin politik yang terkemuka seperti Rosa Luxenburg dan Karl Liebknecht, kaum “Kiri” Jerman, seperti diketahui, menganggap parlementerisme sudah “usang secara politik” malahan sejak bulan Januari 1919. Kita tahu bahwa kaum “Kiri” itu adalah salah. Kenyataan ini saja menghancurkan samasekali, dengan sekali pukul, dalil seolah-olah parlementerisme sudah “usang secara politik”. Kaum “Kiri” berkewajiban membuktikan mengapa pada waktu itu kesalahan mereka yang tak terbantah itu sekarang tidak lagi merupakan suatu kesalahan. Mereka tidak, dan tidak dapat, mengemukakan bukti sedikitpun. Sikap suatu partai politik terhadap kesalahannya sendiri adalah salah satu kriterium yang paling penting dan paling terpercaya dari kesungguhan partai itu dan penunaian dalam praktek kewajiban-kewajibannya terhadap klasnya dan massa pekerja. Mangakui kesalahan secara terbuka, mengupas sebab-sebabnya, menganalisa keadaan-keadaan yang telah menimbulkannya, dan mendiskuikan dalam-dalam cara-cara untuk memperbaikinya – itulah tanda partai yang sungguh-sunguh, itulah cara ia harus menunaikan kewajibannya, itulah caranya ia harus medidik dan melatih klas, dan kemudian massa. Dengan tidak memenuhi kewajibannya ini, dengan tidak menaruh minat yang luarbiasa, ketelitian dan sikap hati-hati sepenuh-penuhnya dalam mempelajari kesalahan  mereka yang nyata, maka kaum “Kiri” di Jerman (dan di Belanda), justru dengan ini membuktikan bahwa mereka bukanlah suatu partai klas, tetapi suatu grup, bukan suatu partai massa, tetapi suatu kumpulan kaum intelek dan sejumlah kecil buruh yang meniru sifat-sifat yang terburuk dari intelektualisme.

Kedua. Dalam brosur grup kaum “Kiri” di Frankfurt itu juga, darimana telah kita sitir kutipan-kutipan panjang lebar, kita baca:

 

“………….Berjuta-juta kaum bueuh yang masih mengikuti politik Sentrum” (Partai “Sentrum” Katholik) “ adalah kontra-revolusioner. Kaum proletar desa mengisi legiun-legiun pasukan-pasukan kontra-revolusioner”. (halaman 3 dalam brosur tersebut).

 

Segala-galanya menunjukkan bahwa keterangan ini diucapkan secara terlalu serampangan dan berlebih-lebihan. Akan tetapi kenyataan pokok yang dikemukakan di sini tidak dapat disangkal, dan diakuinya ini oleh kaum “Kiri” adalah bukti yang sangat nyata akan kesalahan mereka. Bagaimana orang dapat mengatakan bahwa “parlementerisme sudah usang secara politik” di waktu “berjuta-juta” dan “berlegiun-legiun” kaum proletar tidak hanya masih menyokong parlementerisme pada umumnya, tetapi juga benar-benar “kontra-revolusioner”!? Teranglah, parlementerisme di Jerman masih belum usang secara politik. Teranglah kaum “Kiri” di Jerman telah salah menganggap keinginan mereka, sikap politik dan ideologi mereka, sebagai kenyataan yang obyektif. Ini adalah kesalahan yang paling berbahaya bagi kaum revolusioner, Di Rusia – di mana beban tsarisme yang terutama ganas dan buas selama masa yang sangat lama sekali dan dalam bentuk-bentuk yang terutama beraneka warna melahirkan kaum revolusioner dari berbagai corak, kaum revolusioner yang menunjukkan pengabdian, antusiasme, heroisme dan kekerasan kemauan yang mengagumkan – di Rusia kami telah melihat kesalahan kaum revolusioner ini dari sangat dekat, kami telah mempelajarinya dengan sangat saksama dan mempunyai pengetahuan yang terutama baik tentang itu; dan karena itu kami melihatnya dengan terutama jelas pada orang-orang lain. Parlementerisme sudah tentu, telah “usang secara politik” bagi kaum Komunis di Jerman; tetapi – dan inilah persoalan yang sesungguhnya – kita tidak boleh menganggap apa  yang sudah usang bagi kita sebagai sudah usang bagi klas,  sudah usang bagi massa. Justru di sini kita jumpai lagi bahwa kaum “Kiri” tidak mampu berfikir, tidak mampu bertindak sebagai partai klas, sebagai partai massa. Kawan-kawan tidak boleh merosot ke tingkat massa, ke tingkat lapisan-lapisan klas yang masih terbelakang. Ini tidak dapat disangkal. Kawan-kawan wajib mengatakan kepada mereka kebenaran yang pahit. Kawan-kawan wajib menamakan purbasangka-purbasangka burjuis-demokratis dan parlementer mereka sebagai purbasangka-purbasangka. Tetapi bersamaan dengan itu kawan-kawan harus mengikuti dengan waras keadaan yang sesungguhnya dari kesadaran dan kesediaan justru seluruh klas (dan bukan hanya pelopor Komunis saja), justru seluruh massa pekerja (dan bukan hanya elemen-elemen mereka yang sudah maju).

Kalau tidak “berjuta-juta” dan “berlegiun-legiun” tetapi biarpun minoritas yang agak besar jumlahnya dari kaum buruh industri mengikuti pendeta-pendeta Katholik – dan minoritas yang sama besarnya dari kaum buruh-tani mengikuti tuantanah-tuantanah dan kaum kulak (Grossbauern) – maka ini pasti membuktikan bahwa parlemeterisme di Jerman masih belum usang secara politik, bahwa ikut serta dalam pemilihan untuk parlemen dan dalam perjuangan di atas mimbar parlemen adalah wajib bagi partai proletariat revolusioner justru untuk maksud mendidik lapisan-lapisan yang masih terbelakang dari klasnya sendiri, justru untuk maksud mengubah dan membuka-pikiran massa desa yang belum maju, yang tertindas, yang gelap pikirannya. Selama kawan-kawan belum mampu membubarkan parlemen burjuis dan segala bentuk badan reaksioner macam lain, kawan-kawan wajib bekerja di dalamnya justru karena di situlah masih terdapat kaum buruh yang diperbodoh oleh pendeta-pendeta dan oleh kesunyian hidup di desa; kalau tidak, kawan-kawan akan menanggung resiko menjadi tukang obrol belaka.

Ketiga, kaum Komunis “Kiri” mengucapkan banyak kata-kata yang baik mengenai kami, kaum Bolsyewik. Kadang-kadang kami merasa ingin mengatakan kepada mereka; lebih baik kurang memuji-muji kami, tetapi lebih banyak memahami taktik kaum Bolsyewik, lebih banyak berusaha berkenalan dengannya! Kami ambil bagian dalam pemilihan-pemilihan untuk parlemen burjuis Rusia, Dewan Konstituante, dalam bulan September-November 1917. Apakah taktik kami itu benar atau tidak? Jika tidak,  maka ini harus dinyatakan dengan terang dan dibuktikan, karena hal ini perlu untuk perumusan taktik yang benar oleh Komunisme Internasional. Jika ya, maka kita harus menarik dari ini kesimpulan tertentu. Sudah tentu, tidak mungkin bahkan berbicarapun tentang menyamakan keadaan-keadaan di Rusia dengan keadaan-keadaan di Eropa Barat. Tetapi mengenai soal khusus tentang makna pengertian “parlementerisme sudah menjadi usang secara politik”, adalah perlu sekali mempertimbangkan pengalaman kami dengan teliti, karena jika pengalaman yang konkrit tidak dipertimbangkan, maka pengertian-pengertian yang serupa itu mudah sekali berubah menjadi kata-kata kosong. Bukankah kami, kaum Bolsyewik Rusia, dalam bulan September-November 1917 lebih berhak daripada orang-orang Komunis macam apapun di Barat untuk menganggap bahw parlementerisme di Rusia sudah usang secara politik? Tentu saja kami lebih berhak, sebab yang menjadi soal bukannya apapak parlemen-parlemen burjuis sudah lama ada atau baru saja ada, tetapi sampai beberapa jauh massa yang luas dari Rakyat pekerja telah siap (dalam ideologi, politik dan praktek) untuk menerima sistim Sovyet dan membubarkan parlemen burjuis-demokratis (atau membolehkan ia dibubarkan). Bahwa, berhubung dengan beberapa syarat khusus, klas buruh kota dan prajurit-prajurit serta kaum tani di Rusia dalam bulan September-November 1917 secara luarbiasa telah siap sedia untuk menerima sistim Sovyet dan untuk membubarkan parlemen burjuis yang bersifat paling demokratis, adalah suatu kenyataan sejarah yang tak dapat disangkal samasekali dan yang sungguh-sungguh sudah pasti. Sekalipun demikian, Kaum Bolsyewik tidak memboikot Dewan Konstituante, tetapi ikut serta dalam pemilihan-pemilihan baik sebelum  m a u p u n  s e s u d a h perubahan kekuasaan politik oleh proletariat. Bahwa pemilihan-pemilihan ini memberika hasil-hasil politik yang luar biasa berharga (dan sangat berguna bagi proletariat), saya memberanikan diri untuk mengharap bahwa ini sudah saya buktikan dalam artikel di atas, yang menganalisa dengan terperinci angka-angka dalam pemilihan-pemilihan untuk Dewan Konstituante di Rusia.

Kesimpulan yang didapat dari sini tidak dapat disangkal samasekali: telah terbukti, bahwa ikut serta dalam parlemen burjuis-demokratis bahkan beberapa minggu sebelum kemenangan republik Sovyet, dan bahkan sesudah kemenangan itu, tidak hanya tidak merugikan proletariat revolusioner, tetapi ini meringankan kemungkinan baginya untuk membuktikan kepada massa yang terbelakang mengapa parlemen-parlemen semacam itu sepatutnya harus dibubarkan; ini mempermudah pembubaran yang sudah berhasil itu, membantu membuat parlementerisme burjuis itu menjadi “usang secara politik”. Tidak memperhatikan pengalaman ini, dan bersamaan waktunya menganggap diri anggota Internasinale Komunis, yang harus menyusun taktiknya secara internasional (bukan sebagai taktik nasional yang sempit dan berat sebelah, tetapi justru sebagai taktik internasional), berarti melakukan kesalahan yang terbesar dan benar-benar mundur dari internasionalem dalam praktek meskipun mengakui dalam kata-kata.

Sekarang marilah kita tinjau alasan-alasan orang-orang “Kiri Belanda” untuk tidak ikut serta dalam parlemen. Di bawah ini adalah terjemahan teks tesis “Belanda” yang paling penting dari yang tersebut di atas, yaitu tesis No.4:

 

“Pada waktu sistim produksi kapitalis dipatahkan, dan masyarakat ada dalam keadaan revolusi, aktivitas parlementer secara berangsur-angsur menjadi hilang artinya jika dibandingan dengan aksi-aksi massa itu sendiri. Pada waktu parlemen  dalam syarat-syarat demikian menjadi pusat dan alat kontra-revolusi, sedangkan di pihak lain klas buruh sedang mendirikan alat-alat kekuasaannya dalam bentuk-bentuk Sovyet-Sovyet, maka akan dapat ternyata perlunya bahkan untuk menolak ikut serta bagaimanapun juga dalam aktivitas parlementer apapun.”

 

Kalimat yang pertama terang salah, karena aksi-aksi massa – suatu pemogokan besar, misalnya – adalah senantiasa lebih penting dari pada  aktivitas parlementer, dan tidak hanya di waktu revolusi atau dalam situasi revolusioner.  Dalil ini yang terang tidak beralasan dan yang salah menurut sejarah dan politik hanya memperlihatkan dengan terutama jelasnya bahwa pengarang-pengarangnya samasekali mengabaikan  pengalaman di eropa pada umumnya (pengalaman di Perancis sebelum revolusi-revolusi tahun 1848 dan 1870; pengalaman di Jerman pada tahun 1878-1890, dan lain-lain), maupun pengalaman di Rusia (lihat di atas) mengenai pentingnya menghubungkan perjuangan legal dengan perjuangan ilegal. Soal ini adalah sangat penting pada umumnya, dan pada khusunya, karena di semua negeri yang sudah beradab dan maju dengan cepat mendatang masanya di mana penghubungan semacam itu kian lama kian menjadi – sebagian sudah menjadi – kewajiban bagi partai proletar revolusioner  berhubung dengan mematangnya dan mendekatnya perang sipil antara proletariat dan burjuasi, berhubung dengan pengejaran yang gila terhadap kaum Komunis oleh pemerintah-pemerintah republiken dan pemerintah-pemerintah burjuis pada umumnya, yang melakukan segala perkosaan terhadap legalitas (saksikan hanya contoh di Amerika!), dan sebagainya. Soal yang terpenting ini samasekali tidak dimengerti oleh orang-orang Belanda, dan kaum Kiri pada umumnya.

Adapun kalimat yang kedua, ia, pertama, salah menurut sejarah. Kami kaum Bolsyewik ikut serta dalam parlemen-parlemen yang palin kontra-revolusioner, dan pengalaman telah menunjukkan bahwa ikut sertanya ini tidak hanya berguna, tetapi juga perlu bagi partai proletariat revolusioner justru sesudah revolusi burjuis yang pertama di Rusia (1905) untuk mempersiapkan revolusi burjuis yang kedua (Pebruari 1917), dan kemudian revolusi Sosialis (Oktober 1917). Kedua, kalimat ini tidak logis hingga mentakjubkna. Jika parlemen menjadi alat dan “pusat” (sebenarnya ia belum pernah dan tidak akan pernah dapat menjadi “pusat”, tetapi ini hanya sepintas lalu saja) kontra-revolusi, sedangkan kaum buruh sedang mendirikan alat-alat kekuasaan mereka dalam bentuk Sovyet-Sovyet, maka ini berarti kaum buruh harus mempersiapkan diri – secara iseologi, politik dan teknik – untuk perjuangan Sovyet-Sovyet melawan parlemen, untuk dibubarkannya parlemen oleh Sovyet-Sovyet. Akan tetapi hal ini samasekali tidak berarti bahwa pembubaran ini dipersulit, atau tidak dipermudah, karena adanya oposisi Sovyet di dalam parlemen kontra-revolusioner. Selama perjuangan kami yang jaya melawan Denikin dan Kolcak, kami tidak pernah menjumpai bahwa adanya oposisi  Selama perjuangan kami yang jaya melawan Denikin dan Kolcak, kami tidak pernah menjumpai bahwa adanya oposisi Sovyet, oposisi proletar dalam kubu tidak mempunyai arti bagi kemenangan-kemenangan kami. Kami tahu betul-betul bahwa pembubaran Dewan Konstituante oleh kami pada tanggal 5 Januari 1918, jauh daripada dipersulit, malah benar-benar dipermudah oleh kenyataan bahwa di dalam Dewan Konstituante kontra-revolusioner yang sedang akan  dibubarkan itu telah ada oposisi Sovyet Bolsyewik yang konsekwen, begitu juga oposisi Sovyet Sosialis-Revolusioner Kiri yang tidak konsekwen. Pengarang-pengarang tesis ini fikirannya kacau samaseklai dan melupakan pengalaman dari banyak, kalau tidak semua, revolusi, yang membuktikan betapa istimewa bergunanya di waktu revolusi kombinasi dari aksi massa di luar parlemen reksioner dengan oposisi yang bersimpati kepada (atau, lebih baik lagi, yang langsung menyokong) revolusi di dalam parlemen itu.  Orang-orang Belanda dan kaum “Kiri” umumnya, berdalil di sini seperti kaum doktriner dari revolusi, yang tidak pernah ambil bagian dalam revolusi yang sesungguhnya, atau yang tidak pernah memikirkan secara dalam sejarah revolusi-revolusi, atau yang secara naif salah mengartikan “penolakan” yang subyektif terhadap badan reaksioner yang tertentu sebagai penghancurannya yang sungguh-sungguh dengan aksi gabungan seluruh rentetan faktor-faktor obyektif. Cara paling tepat untuk merendahkan arti dan merugikan ide politik yang baru (dan tidak hanya ide politik) yalah supaya demi pembelaan ide itu membawanya ke kemustahilan. Karena sebarang kebenaran, jika “dilebih-lebihkan” ( sebagaimana dinyatakan oleh Dietzgen tua), jika dibesar-besarkan, jika direntang sampai melampaui batas penggunaannya sungguh-sungguh dapat dijadikan  suatu kemustahilan, dan ia malahan pasti menjadi suatu kemustahilan dalam syart-syarat seperti ini. Justru begitulah jasa merugikan yang diperbuat oleh kaum Kiri Belanda dan Jerman terhadap kebenaran baru bahwa kekuasaan Sovyet adalah lebih unggul daripada parlemen-parlemen burjuis-demokratis. Sudah tentu akan salahlah barang siapa yang coba berbicara secara lama dan pada umumnya bahwa menolak ikut serta dalam parleme-parlemen burjuis adalah tidak diperbolehkan dalam segala keadaan. Saya tidak akan mencoba merumuskan di sini dalam keadaan-keadaan mana suatu pemboikotan adalah berguna, karena  tujuan brosur ini adalah jauh lebih sederhana, yaitu menyimpulkan pengalaman Rusia yang bersangkutan dengan beberapa  soal yang hangat tentang taktik Komunis internasional. Pengalaman Rusia telah memberikan kepada kita satu contoh yang berhasil dan benar (1905) dan satu contoh yang salah (1906) tentang dilakukannya pemboikotan oleh kaum Bolsyewik. Dalam menganalisa contoh yang pertama, kita lihat bahwa kami berhasil dalam mencegah diadakannya  parlemen reaksioner oleh pemerintah reaksioner dalam situasi mana aksi massa yang revolusioner di luar parlemen (khususnya aksi-aksi  pemogokan) sedang meningkat dengan luar biasa cepatnya, ketika tidak ada satu lapisanpun dari proletariat dan kaum tani dapat menyokokng pemerintah reaksioner dengan jalan apapun juga, ketika proletariat revolusioner sedang menjamin pengaruhnya atas massa terbelakang yang luas melalui perjuangan pemogokan dan gerakan tani. Terang sekali bahwa pengalaman ini tidak dapat ditrapkan pada syarat-syarat di Eropa pada dewasa ini. Juga terang sekali – atas dasar argumen-argumen yang diuraikan di atas – bahwa pembelaan, sekalipun jika dengan syarat-syarat, dari orang-orang Belanda dan kaum “kiri” terhadap penolakan untuk ikut serta dalam parlemen-parlemen adalah pada dasarnya salah dan merugikan urusan proletariat revolusioner.

Di Eropa Barat dan Amerika parlemen telah menjadi sangat dibenci oleh kaum revolusioner maju dari barisan klas buruh. Ini tak terbantah. Ini sangat dapat dimengerti, karena sukarlah untuk   membayangkan sesuatu yang lebih hina, keji dan khianat daripada perbuatan kebanyakan mutlak wakil-wakil Sosialis  dan Sosialis-Demokratis dalam parlemen di waktu dan sesudah perang. Akan tetapi tidak hanya tiada masuk akal tetapi malah sungguh-sungguh suatu kejahatn untuk menyerah kepada sentimen-sentimen semacam ini di waktu memecahkan persoalan bagaimana seharusnya memberants kejahatan yang diakui umum ini. Di banyak negeri Eropa Barat semangat revolusioner, boleh kita katakan, adalah pada waktu sekarang ini suatu “yang serba baru”, atau sesuatu “yang jarang”, yang sudah lama sekali dinantikan dengan sia-sia dan dengan tidak sabar; dan mungkin itulah sebabnya mengapa mereka itu mudah sekali menyerah pada sentimen-sentimen. Sudah tentu, tanpa semangat revolusioner di kalangan massa, dan tanpa syarat-syarat yang memudahkan tumbuhnya semangat ini, maka taktik revolusioner tidak dapat menjadi aksi; tetapi kami di Rusia telah menjadi yakin, dari pengalaman yang terlalu lama, getir dan berdarah, tentang kebenaran bahwa taktik revolusioner tidak dapat didasarkan atas semangat revolusioner melulu. Taktik harus didasarkan atas perhitungan yang waras dan obyektif-teliti tentang semua kekuatan klas dari negara yang bersangkutan (dan negara-negara yang ada di sekelilingnya, serta semua negara di dunia ini) disertai juga perhitungan tentang pengalaman gerakan-gerakan revolusioner. Menunjukkan betapa “revolusionernya” seseorang hanya semata-mata  dengan melemparkan cucimakian terhadap oportunisme parlementer, hanya semata-mata dengan menolak ambil bagian dalam parlemen, adalah sangat mudah; tetapi justru karena terlalu mudah, maka ia bukanlah suatu pemecahan bagi persoalan yang sukar, paling sukar di anatar yang sukar. Adalah jauh lebih sukar untuk membentuk suatu fraksi yang benar-benar revolusioner dalam parlemen-parlemen di Eropa daripada di Rusia. Sudah barang tentu. Tetapi itu hanyalah suatu pernyataan yang khusus dari kebenaran umum bahwa adalah mudah bagi Rusia, dalam situasi yang spesifik, yang sangat unik menurut sejarah pada tahun 1917, untuk memulai revolusi Sosialis, tetapi akan lebih sukar bagi Rusia dari pada bagi negeri-negeri Eropa untuk melanjutkan revolusi itu dan menyelesaikannya sampai akhirnya. Saya pernah menunjukkan ini sudah pada permulaan tahun 1918, dan pengalaman dua tahun yang sudah lalu seluruhnya memperkuat kebenaran pendirian ini. Syarat-syarat yang spesifik, seperti 1) kemungkinan menghubungkan revolusi Sovyet dengan diakhirinya berkat revolusi ini perang imperialis yang menyiksa kaum buruh dan kaum tani dengan tak ada taranya; 2) kemungkinan mempergunakan untuk sementara waktu pertarungan mati-matian antara dua gerombolan binatang buas imperialis yang paling kuat di dunia, yang tidak dapat bersatu dalam melawan musuh Sovyet mereka; 3) kemungkinan bertahan dalam perang sipil yang agak lama, sebagian karena sangat luasnya negeri dan buruknya alat perhubungan; 4) adanya gerakan burjuis-demokratis revolusioner yang begitu medalam di kalangan kaum tani sehingga partai proletar dapat mengambil tuntutan-tuntutan yang revolusioner dari partai tani (Partai Sosialis-Revlusioner yang sebagian besar anggotanya dengan tegas memusuhi Bolsyewisme) dan melaksanakannya dengan segera, berkat perebutan kekuasaan politik oleh proletariat – syart-syarat yang spesifik ini tidak ada di Eropa Barat pada dewasa ini; dan terulangnya kembali keadaan yang demikian atau yang menyerupainya tidak akan begitu mudah. Itulah sebabnya, antara lain, kecuali beberapa sebab lainnya, maka bagi Eropa Barat untuk memulai revolusi Sosialis adalah lebih sukar dari pada bagi kami. Mencoba “menghindari” kesukaran ini dengan “melompati” pekerjaan yang sulit dalam menggunakan parlemen-parlemen yang reaksioner untuk tujuan revolusioner  adalah sungguh kekana-kanakan. Kawan-kawan ingin menciptakan masyarakat baru? Tetapi kawan-kawan takut pada kesukaran-kesukaran berkenaan dengan pembentukan fraksi parlemener yang baik, yang terdiri dari orang-orang Komunis yang berkeyakinan, setia dan heroik dalam parlemen yang reaksioner! Apakah itu bukan kekanak-kanakan? Jika Karl Leibnecht dan Z.Höglund di Swedia dapat, sekalipun tanpa sokongan dari bawah, memberikan contoh-contoh dalam menggunakan parlemen-parlemen reaksioner secara benar-benar revolusioner, mengapa partai massa revolusioner  yang tumbuh dengan cepat di tengah-tengah keadaan massa yang sangat kecewa dan yang dendam-hati sesudah perang tidak dapat menempa suatu fraksi Komunis dalam parlemen-parlemen yang paling buruk?! Justru karena massa yang terbelakang dari kaum buruh dan – malahan dalam jumlah yang lebih besar lagi – dari kaum tani kecil di Eropa Barat jauh lebih penuh diserapi oleh purbasangka-purbasangka burjuis-demokratis  dan parlementer daripada  mereka yang ada di Rusia, justru karena itu hanya dari dalam badan-badan seperti parlemen-parlemen burjuis kaum Komunis dapat (dan harus) melakukan perjuangan yang lama dan ulet, tidak mundur karena sesuatu kesukaran, untuk menelanjangi, membuang dan mengatasi purbasangka-purbasangka ini.

Kaum “Kiri” Jerman mengeluh tentang adanya “gembong-gembong” yang jelek di dalam partai mereka, dan menjadi putus asa; mereka sampai pada “penolakan” yang menggelikan terhadap “pemimpin-pemimpin. Tetapi dalam syarat-syarat, ketika sering kali menjadi perlu untuk menyembunykan “pemimpin-pemimpin” di bawah tanah, pengolahan “pemimpin-pemimpin” yang baik, yang dapat dipercaya, teruji dan berwibawa, adalah suatu hal yang istimewa sulit, dan kesulitan-kesulitan ini tidak dapat diatasi dengan berhasil tanpa menghubungkan pekerjaan legal dengan pekerjaan ilegal, dan tanpa menguji “pemimpin-pemimpin”, antara lain, juga dalam gelanggang parlementer. Kritik – dan justru kritik yang paling tajam, paling tak kenal ampun dan tak kenal kompromi – harus ditujukan bukan terhadap parlementerisme atau aktivitas-aktivitas parlemen, melainkan terhadap gembong-gembong yang tidak mampu – dan lebih-lebih lagi terhadap mereka yang tidak mau – menggunakan pemilihan-pemilihan untuk parlemen dan mimbar parlemen secara revolusioner, secara Komunis. Hanya kritik semacam itu – yang disertai, sudah tentu, dengan pemecatan gembong-gembong yang tidak sesuai dan penggantian mereka dengan pemimpin-pemimpin yang sesuai – akan merupakan pekerjaan revolusioner yang berguna dan berhasil, yang akan mendidik baik “pemimpin-pemimpin” supaya mereka menjadi pantas bagi klas buruh dan massa pekerja, maupun massa supaya massa itu menjadi pandai memahami dengan tepat situasi politik dan mengerti tugas-tugas yang kerapkali sangat banyak selukbeluknya dan ruwet yang timbul dari situasi itu.*

 

  • Kesempatan saya terlalu sedikit untuk mengetahui Komunisme “Sayap Kiri” di Italia. Kawan Bordiga dan faksinya kaum “Komunis Boikotis” (Communista astensionista) sudah tentu salah dalam mempertahankan pendirian tidak ambil bagian dalam parlemen. Tetapi mengenai satu soal, saya rasa, kawan Bodiga adalah benar – sepanjang yang bisa dilihat dari dua nomor dari suratkabarnya Sovyet (Il Soviet 36) (No. 3 dan 4, 18 Januari dan 1 Pebruari 1920), dan dari empat nomor dari majalah kawan Serrati yang sangat baik sekali, Communismo 37 (No. 1-4, 1 Oktober – 30 Nopember 1919) dan dari nomor-nomor lepas dari suratkabar-suratkabar burjuis Italia yang telah saya sempat jumpai.Kawan Bodiga dan faksinya adalah benar dalam menyerang Turati beserta orang-orang sepahamnya, yang tetap berada dalam partai yang telah mengakui kekuasaan Sovyet dan diktatur proletariat, tetap berjabat sebagai anggota-anggota parlemen dan tetap meneruskan politik  mereka dulu yang paling merugikan dan oportunis. Sudah tentu dengan bersikap toleran terhadap hal ini, kawan Serrati dan seluruh Partai Sosialis Italia 38 melakukan sutau kesalahan yang mengancam akan menimbulkan kerugian dan bahaya sebesar yang telah ditimbulkan di Hongaria 39, di mana tuan-tuan Turati Hongaria mensabot baik Partai maupun kekuatan Sovyet dari dalam. Sikap yang salah yang tidak konsekwen, atau yang lemah terhadap anggota-anggota parlemen yang oportunis semacam itu, di satu pihak, menimbulkan Komunisme “Sayap Kiri”, dan di pihak lain, sampai batas tertentu membenarkan adanya itu. Kawan Serrati terang salah waktu menuduh deputat Turati  “tidak konsekwen” (Communismo, No.3), karena sebenarnya justru Partai sosialis Italia sendiri yang tidak konsekwen dengan membiarkan anggota-anggota parlemen yang oportunis semacam Turati & Co.

 

 

 

 

 

VIII

Tidak diperbolehkan kompromi

apapun?

 

Dalam kutipan dari brosur Frankfurt kita telah lihat betapa tegasnya kaum “Kiri” mengajukan semboyan ini. Sungguh sedih melihat orang-orang yang pasti menganggap dirinya Marxis dan yang ingin menjadi Marxis sudah melupakan kebenaran-kebenaran pokok Marxisme. Inilah yang ditulis oleh Engels – yang, seperti Marx, tergolong pada penulis-penulis yang jarang dan paling jarang diketemukan, yang tiap-tiap kalimatnya dalam setiap karyanya yang besar mengandung isi yang sangat dalam – pada tahun 1874 melawan manifes dari 33 orang Komunar-Blanquis:

 

“’Kita adalah kaum Komunis’ (tulis kaum Komunar Blanquis dalam manifes mereka), sebab kita hendak mencapai tujuan kita tanpa berhenti di stasiun-stasiun perantara, tanpa mengadakan suatu kompromi, yang hanya menunda datangnya hari kemenangan dan memperpanjang masa perbudakan”.

 

Kaum Komunis Jerman adalah kaum Komunis sebab dengan melalui semua stasiun perantara dan semua kompromi, yang diciptakan bukan oleh mereka melainkan oleh jalannya perkembangan sejarah, mereka melihat dengan jelas dan tetap mengejar tujuan yang terakhir, yaitu penghapusan klas-klas dan pembangunan seuatu masyarakat di mana tidak akan ada lagi temapt untuk hakmilik perseorangan atas tanah dan atas semua alat-alat produksi. 33 orang Blanquis itu adalah kaum Komunis sebab mereka mengira bahwa sekali mereka hendak melompat melangkahi stasiun-stasiun perantara dan kompromi-kompromi, maka segala sesuatunya menjadi beres, dan bahwa jika ‘peristiwa akan mulai’  dalam beberapa hari yang akan datang – yang mereka anggap sudah semestinya – dan kekuasaan jatuh ke tangannya, maka ‘Komunisme akan sudah  dijalankan ‘ pada hari lusanya. Jadi, jika hal itu tidak mungkin dengan segera, maka mereka bukanlah kaum Komunis.

Sungguh adalah suatu kenaifan kekanak-kanakan untuk mengemukakan ketidak-sabaran sendiri sebagai suatu argumen teori!” (Fr.Engels, “Program kaum Komunis-Blanquis” 40, dari suratkabar Sosial-Demokratis Jerman Volksstaat 41, 1874, No.73, dimuat dalam terjemahan bahasa Rusia dalam “Artikel-artikel 1871-1875”, Petrograd, 1919 halaman 52-53).

Dalam artikel itu juga Engels menyatakan penghormatannya yang besar kepada Vaillant, dan membicarakan “jasa yang tak terbantah” dari Vaillant (yang, seperti Guesde, adalah seorang pemimpin yang paling terkemuka dari Sosialisme internasional sampai pada bulan Agustus 1914, yaitu sampai pada ketika mereka kedua-duanya mengkhianati Sosialisme). Tetapi Engels tidak membiarkan suatu kesalahan yang menyolok berlalu tanpa analisa yang teliti. Sudah tentu, bagi orang-orang revolusioner yang masih muda sekali dan belum berpengalaman, begitu juga bagi kaum revolusioner burjuis kecil, sekalipun yang sudah sangat tua dan sangat berpengalaman, rupanya sangat “berbahaya”, tidak bisa dimengerti dan tidak benar untuk “membolehkan kompromi-kompromi”. Dan banyak kaum sofid (karena menjadi politisi yang luar biasa atau terlalu “berpengalaman”) berfikiran presis seperti gembong-gembong oportunisme Inggeris yang disebut oleh Kawan Lansbury:”Jika kaum Bolsyewik boleh mengadakan suatu kompromi, mengapa kita tidak boleh mengadakan kompromi yang mana saja?” Tetapi kaum proletar yang dilatih dalam banyak pemogokan (untuk hanya mengambil contoh manifestasi ini dari perjuangan klas) biasanya memahami betul-betul kebenaran(filsafat, sejarah, politik dan psychologi) yang paling dalam yang dibentangkan oleh Engels. Tiap orang proletar telah menjalani pemogokan-pemogokan dan telah mengalami “kompromi-kompromi” dengan kaum penindas dan penghisap yang dibenci, di waktu kaum buruh terpaksa kembali bekerja tanpa mencapai sesuatu apapun ataupun hanya menerima dipenuhinya sebagian dari tuntutan mereka. Tiap orang proletar – berhubung keadaan-keadaan perjuangan massa dan bertambah tajamnya pertentang klas di mana ia hidup –melihat perbedaan antara kompromi yang dipaksakan oleh keadaan-keadaan obyektif (seperti kekurangan dana-dana pemogokan, tidak adanya sokongan dari luar, kelaparan dan kehabisan tenaga yang di luar batas), suatu kompromi yang sekali-kali tidak mengurangi kesetiaan dan kesediaan revolusioner untuk berjuang lebih jauh dari kaum buruh yang telah menyetujui kompromi serupa itu, dan – di lain pihak – suatu kompromi dari kaum pengkhianat yang berusaha membenarkan kerakusan sendiri dengan syarat-syarat obyektif (kaum pemecah-pemogokan juga mengadakan “kompromi”!), kekecutan, keinginannya untuk menjilat kepada kaum kapitalis, dan kelemahan hatinya untuk menyerah kepada intimidasi, kadang-kadang kepada bujukan, kadang-kadang kepada suapan, dan ada kalanya kepada mulut manis dari kaum kapitalis. (Sejarah gerakan buruh Inggeris memberikan terutama banyak contoh tentang kompromi yang khianat semacam itu dari pihak pemimpin-pemimpin serikat buruh Inggeris, tetapi dalam satu bentuk atau lainnya, hampir semua kaum buruh di semua negeri telah menyaksikan hal semacam itu).

Sudah tentu, ada satu-dua kejadian yang sangat sulit dan ruwet ketika sifat yang sesungguhnya dari “Kompromi” ini atau itu dapat ditentukan secara tepat hanya dengan mengatasi kesulitan yang sebesar-besarnya; seperti ada kalanya perkara pembunuhan yang sekali-kali tidak mudah untuk ditentukan apakah pembunuhan itu sepenuhnya adil dan malahan perlu (seperti, misalnya, pembelaan diri yang sah), atau merupakan kelalaian yang tidak boleh dimaafkan, ataupun bahkan rencana yang mencederai yang dilakukan dengan licin. Sudah tentu, dalam pilitik di mana persoalannya adakalanya mengenai hubungan-hubungan —  nasional dan internasional – yang istimewa ruwet antara klas-klas dan partai-partai, akan timbul banyak sekali kejadian yang akan jauh lebih sulit daripada soal-soal “kompromi” yang sah dalam suatu pemogokan, atau “kompromi” yang khianat dari seorang pemecah pemogokan, pemimpin yang khianat, dan sebagainya. Merumuskan suatu resep atau suatu ketentuan umum (“kompromi apapun tidak diperbolehkan”!) yang berlaku untuk semua kejadian adalah suatu kemustahilan. Orang harus mempunyai akal budi sendiri supaya menjadi pandai menelaah setiap kejadian yang khusus. Itulah, sesungguhnya, antara lain, makna suatu organisasi partai dan pemimpin-pemimpin partai yang patut mendapat sebutan demikian, supaya, melalui usaha-usaha yang lama, tabah, beranekaragam dan menyeluruh dari semua wakil yang berpikir* dari klas tertentu, mengembangkan pengetahuan yang perlu, pengalaman yang perlu dan – di samping pengetahuan dan pengalaman – naluri politik yang perlu untuk pemecahan cepat dan tepat masalah-masalah politik yang kompleks.

Orang-orang yang naif dan tidak berpengalaman samasekali mengira bahwa cukuplah untuk mengakui diperbolehkannya kompromi pada umumnya – dan dengan demikian akan dihapuskan garis pemisah manapun antara oportunisme, terhadap mana kita melakukan dan harus melakukan perjuangan yang tak kenal damai, dan Marxisme revolusioner, atau Komunisme. Tetapi orang-orang macam itu, kalau mereka belum tahu bahwa semua garis pemisah dalam alam maupun dalam masyarakat adalah luwes dan sampai batas tertentu relatif, tidak dapat dibantu kecuali dengan pengajaran, pendidikan, penerangan pikirannya, pengalaman politik dan pengalaman sehari-hari yang lama. Adalah  penting  untuk pandai memilih dari soal-soal yangpraktis dalam politik mengenai saat sejarah yang tersendiri atau yang khusus, soal-soal yang di dalamnya menyatakan diri bentuk yang paling pokok dari kompromi-kompromi yang tidak diperbolehkan, yang khianat, yang menjelmakan oportunisme yang membencanakan klas revolusioner, dan mengerahkan segala usaha untuk menjelaskan hakekatnya dan memberantasnya.  Di masa perang imperialis tahun 1914-1918 antara dua gerombolan negeri-negeri yang sama-sama merampok dan merampas, bentuk yang terutama, yang pokok dari oportunisme adalah sosial-sovinisme, yaitu sikap menyokong “pembelaan tanahair”, yang, dalam perang semacam itu, sesungguhnya sama saja dengan membela kepentingan-kepentingan perampokan dari burjuasi “sendiri”. Sesudah perang pembelaan terhadap “Liga Bangsa-Bangsa” 42 yang bersifat perampokan; pembelaan terhadap persekutuan-persekutuan yang langsung atau tidak langsung dengan burjuasi negerinya sendiri menentang proletar revolusioner dan gerakan “Sovyet”; pembelaan terhadap demokrasi burjuis dan parlementerisme burjuis menentang “kekuasaan Sovyet” – itulah yang menjadi manifestasi-manifestasi yang terutama dari kompromi-kompromi yang tidak diperbolehkan dan yang khianat, yang keseluruhannya membentuk oportnuisme yang membencanakan proletarit revolusioner dan urusannya.

“……..Orang harus menolak dengan sekeras-kerasnya semua kompromi dengan partai-partai lain ….. semua politik bermanuver dan mengadakan persetujuan-persetujuan, —

demikian tulis kaum kiri Jerman dalam brosur Frankfurt.

Sungguh mengherankan bahwa kaum Kiri ini, yang mempunyai pendirian-pendirian serupa itu, tidak mencela Bolsyewisme dengan keras! Karena bukankah tidak mungkin bahwa kaum Kiri Jerman tidak tahu bahwa seluruh sejarah Bolsyewisme, baik sebelum maupun sesudah Revolusi Oktober, adalah penuh dengan kejadian-kejadian dilakukannya manuver, persetujuan dan kompromi dengan partai-partai lain, termasuk partai burjuis.

Melakukan peperangan untuk menggulingkan burjuasi internasional, suatu peperangan yang seratus kali lebih sukar, lebih lama dan lebih banyak seluk-beluknya daripada peperangan biasa yang paling sengit antara negara-negara, dan sebelumnya sudah menolak untuk melakukan manuver untuk menggunakan pertentangan kepentingan-kepentingan  (sekalipun  hanya  buat  sementara waktu) antara

——-

  • Di dalam setiap klas, sekalipun dalam keadaan-keadaan yang berlaku di neger-negeri yang paling beradab, sekalipun di dalam klas yang paling maju, dan sekalipun jika keadaan pada waktu itu telah membangkitkan semua kekuatan spirituilnya sampai pada tingkat yang luarbiasa, selalu ada – dan pasti tetap ada selama ada klas-klas, selama masyarakat yang tidak berklas belum berakar dan mengkonsolidasi diri sepenuhnya, dan belum berkembang di atas dasar-dasarnya sendiri – wakil-wakil klas yang tidak berpikir dan tidak mampu berpikir. Jika tidak demikian halnya, maka kapitalisme sudah tidak lagi kapitalisme yang menindas massa.

 

musuh-musuhnya, menolak persetujuan dan kompromi dengan sekutu-sekutu yang mungkin (sekalipun hanya buat sementara waktu, tidak stabil, ragu-ragu dan bersyarat) – apakah ini bukannya sesuatu yang tak terhingga menggelikannya? Bukankah ini menyerupai hal  di mana melakukan pendakian yang susah pada suatu gunung yang belum diselidiki dan yang selama ini  belum bisa ditempuh, kita sebelumnya kiranya sudah menolak untuk kadang-kadang berjalan berliku-liku, kadang-kadang menempuh kembali jejak-jejak kita, kadang-kadang meninggalkan arah yang tadinya sudah dipilih, dan mencoba arah-arah lainnya? Dan nah, orang-orang yang begitu kurang sadar dan tidak berpengalaman (jika alasannya karena masih muda, maka tidak akan begitu buruk; orang-orang muda ditakdirkan oleh Tuhan sendiri untuk bicara omongkosong serupa itu selama suatu masa) dapat disokong – sama saja secara langsung atau tidak langsung, secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, sepenuhnya atau hanya sebagian-sebagian – oleh beberapa anggota partai Komunis Belanda!!

Sesudah revolusi Sosialis pertama  dari proletariat, sesudah digulingkannya burjuasi di satu negeri, proletar di negeri itu dalam waktu yang lama tetap lebih lemah daripada burjuasi, semata-mata karena hubungan-hubungan internasional yang amat luas dari burjuasi itu dan juga karena dipulihkan dan dihidupkannya kembali kapitalisme dan burjuasi secara spontan dan terus-menerus oleh produsen-produsen kecil barangdagangan di negeri yang telah menggulingkan burjuasi itu. Musuh yang lebih kuat hanya dapat dikalahkan dengan mengerahkan secara luarbiasa segala tenaga, dan tidak boleh tidak, dengan sangat sungguh-sungguh, hati-hati, teliti dan dengan bijaksana menggunakan tiap “retak”, sekalipun yang paling kecil, di kalangan musuh-musuh, tiap pertentangan kepentingan-kepentingan antara burjuasi negeri-negeri yang berlainan dan anatara grup atau jenis burjuasi yang berlainan di dalam negeri-negeri tertentu, dan juga tiap kesempatan, sekalipun yang paling kecil untuk memperoleh sekutu massal, meskipun sekutu ini hanya buat sementara waktu, ragu-ragu, tidak stabil, tidak dapat dipercaya dan bersyarat.

Siapa yang  gagal memahami ini, ia gagal memahami suatu apapun dalam Marxisme, dan Sosialisme ilmiah yang modern pada umumnya. Siapa yang belum membuktikan dengan perbuatan-perbuatan dalam masa yang cukup lama, dan dalam situasi-situasi politik yang cukup beraneka ragam, kecakapannya melaksanakan kebenaran ini dalam praktek, ia belum belajar membantu klas revolusioner dalam perjuangannya untuk membebaskan seluruh umatpekerja dari kaum penghisap. Dan hal ini berlaku juga pada masa  s e b e l u m  dan  s e s u d a h  proletariat merebut kekuasaan politik.

Teori kita bukanlah dogma, tetapi pedoman untuk bertindak, kata Marx dan Engels 43; dan adalah kesalahan yang maha besar, kejahatan yang maha besar pada pihak kaum Marxis yang sudah “ mendapat patent” seperti Karl Kautsky, Otto Bauer, dan lain-lain, bahwa mereka belum mengerti hal ini, dan tidak dapat menggunaknnya pada saat-saat yang terpenting dari revolusi proletariat. “Aktivitas politik bukalah trottoir di Jalan Raya Nevski”(Trottoir  yang bersih, lebar, rata dari jalan raya yang sangat lurus di Petersburg) – demikian pernah diucapkan oleh N.G.Cernisyevski 44, seorang  Sosialis Rusia yang besar pada masa sebelum Marx. Sejak jamannya Cernisyevski kaum revolusioner telah membayar dengan korban yang tak terhingga karena  mengabaikan atau melupakan kebenaran ini. Orang harus berhasil supaya bagaimanapun juga  mencegah kaum Komunis Kiri dan kaum revolusioner di Eropa Barat dan Amerika yang setia  pada klas buruh  membayar semahal seperti yang dilakukan oleh orang-orang Rusia, yang masih terbelakang, dalam menguasai kebenaran ini.

Sebelum jatuhnya tsar kaum Sosial-Demokrat Rusia yang revolusioner berulang-ulang menggunakan jasa-jasa kaum liberal burjuis, yaitu mengadakan banyak sekali kompromi yang praktis dengan mereka; dan dalam tahun 1901-1902, masih belum lahirnya Bolsyewisme, Dewan redaksi Iskra yang lama (yang terdiri dari Plechanov, Akselrod, Zasulitj, Martov, Potresov dan saya sendiri) mengadakan persekutuan pilitik yang formil (betul, tidak lama) dengan Struwe, pemimpin politik dari liberalisme burjuis, dan dalam pada itu juga menjadi pandai melakukan dengan tak henti-hentinya perjuangan ideologi dan politik  yang paling tak kenalampun menentang liberalisme burjuis dan menentang manifestasi yang sekecil-kecilnya dari pengaruh di dalam gerakan buruh. Kaum Bolsyewik selalu memegang teguh politik ini. Sejak tahun 1905, mereka secara sistimatis telah mempertahankan persekutuan antara klas buruh dan kaum tani menentang burjuasi liberal dan tsarisme (misalnya, di waktu pemilihan babak kedua, atau di waktu pemungutan suara sekali lagi) dan tidak pernah menghentikan perjuangan ideologi dan politik yang paling takkenaldamai menentang partai tani burjuis-revolusioner, yaitu kaum “Sosialis-Revolusioner”, dengan menelanjangi mereka sebagai kaum demokrat burjuis-kecil yang dengan palsu menamakan dirinya kaum Sosialis. Di waktu pemilihan untuk Duma dalam tahun 1907, kaum Bolsyewik untuk masa yang pendek mengadakan blok politik yang formil dengan kaum “Sosialis-Revolusioner”. Di anatar tahun 1903 dan 19012 terdapat masa-masa yang terdiri beberapa tahun di mana kami secara formil bersatu dengan kaum mensyewik dalam satu partai Sosial-Demokratis; tetapi kami tidak pernah menghentikan perjuangan  ideologi dan politik kami terhadap mereka sebagai kaum oportunis dan saluran pengaruh burjuis di kalangan proletariat. Di masa perang kami mengadakan kompromi tertentu dengan kaum “Kautskyis”, Kaum Mensyewik Kiri (Martov), dan dengan segolongan dari kaum “Sosialis-Revolusioner” (Cernov dan Natanson); kami bersidang bersama-sama dengan mereka di Zimmerwald dan Kienthal 45 dan mengeluarkan manifes-manifes bersama; tetapi kami tidak pernah menghentikan dan mengendorkan perjuangan ideologi dan politik kami terhadap kaum “Kautskyis”, Martov dan Cernov (Natanson meninggal dalam tahun 1919, seorang Narodnik-“Komunis Revolusioner” 46, dia rapatb sekali dengan kami dan hampir sependirian dengan kami). Persis pada saat itu juga dari Revolusi Oktober, kami mengadakan blok politik yang tak formil tetapi yang penting sekali (dan sangat berhasil) dengan kaum tani burjuis-kecil dengan menerima program agraria kaum Sosialis-Revolusioner dalam keseluruhannya, tanpa satu perubahanpun – yaitu kami betul-betul mengadakan kompromi supaya membuktikan kepada kaum tani bahwa kami hendak bukan “menggilas” mereka, melainkan mencapai persetujuan dengan mereka. Dalam pada itu kami mengusulkan (dan tidak lama kemudian mengadakan) satu blok politik yang formil, termasuk ikut serta dalam pemerintah, kepada kaum “eser-Kiri” 47, yang membubarkan blok ini sesudah diadakannya Perjanjian Perdamaian Brest dan kemudian, dalam bulan Juli 1918, bertindak sampai mengadakan pemberontakan bersenjata, dan sesudah itu perjuangan bersenjata melawan kami.

Oleh karena itu adalah jelas bahwa  sepakterjang-sepakterjang kaum Kiri Jerman terhadap CC Partai Komunis Jerman karena mempunyai pikiran diperbolekannya mengadakan blok dengan kaum “Merdeka” (“Partai Sosial-Demokratis Merdeka Jerman”, kaum Kautskyis) kami anggap sebagai yang tidak serius samasekali dan yang membuktikan dengan nyata kekeliruan kaum “Kiri”. Kami di Rusia juga mempunyai kaum Mensyewik Kanan (yang ikut serta dalam pemerintah Kerenski), yang sama dengan kaum Scheidemann di Jerman, dan kaum Mensyewik Kiri (Martoc), yang sama dengan kaum Kautskyis di Jerman, yang beroposisi terhadap kaum Mensyewik Kanan.  Beralihnya massa kaum buruh secara berangsur-angsur dari kaum Mensyewik ke pihak kaum Bolsyewikkelihatan dengan jelas dalam tahun 1917: pada Kongres Sovyet-Sovyet Se-Rusia Pertama, dalam bulan Juni 1917, kami hanya mempunyai 13% dari jumlah suara. Mayoritasnya dimiliki kaum Sosialis-Revolusioner dan kaum Mensyewik. Pada Kongres Sovyet-Sovyet Kedua (25 Oktober 1917 menurut pengalaman lama) kami mempunyai 51% dari jumlah suara. Apa sebabnya maka di Jerman perpindahan kaum buruh dari Kanan  ke Kiri yang serupa dan betul-betul sama itu tidak memperkuat kaum Komunis secara langsung, tetapi lebih dulu memperkuat partai “Merdeka” sebagai partai tengah, meskipun partai ini tidak pernah mempunyai ide-ide politik apapun yang bebas, atau suatu politik bebas, dan hanya terobang-ambing antara kaum Scheidemann dan kaum Komunis?

Teranglah, yang menjadi salah satu sebabnya yalah taktik yang salah dari kaum Komunis Jerman, yang harus tanpa takut-takut dan dengan jujur mengakui kesalahan ini dan belajar memperbaikinya. Kesalahannya yalah penolakan oleh mereka untuk ikut serta dalam parlemen-parlemen burjuis yang reaksioner dan dalam serikatburuh-serikatburuh yang reaksioner; kesalahannya teletak dalam banyak  sekali tanda penyakit kanak-kanak “Kiri”  yang sekarang telah muncul  dan karena itu akan diobati dengan lebih sempurna, lebih cepat dan dengan lebih banyak berfaedah bagi organisme.

“Partai Sosial-Demokratis Merdeka Jerman” terang bukanlah suatu badan yang bulat: di samping gembong-gembong oportunis yang lama (Kautsky, Hilferding dan, kiranya, sampai ukuran yang berarti, juga Crispien, Ledebour dan lain-lainnya) – yang telah mendemonstrasikan ketidakmampuan mereka untuk memahami arti kekuasaan Sovyet dan diktatur proletariat, ketidakmampuan mereka untuk memimpin perjuangan revolusioner dari proletariat – dalam partai ini telah muncul sayap Kiri, sayap proletar yang tumbuh dengan sangat cepatnya. Ratusan ribu anggota partai ini (yang, rupanya, mempunyai kira-kira ¾ juta orang anggota) adalah kaum proletar yang sedang meninggalkan Scheidemann dan dengan cepat menuju Komunisme. Sayap proletar ini telah mengusulkan – pada Kongres kaum “Merdeka” di Leipzig (1919) – penggabungan diri dengan segera dan tak bersyarat pada Internasionale III. Takut “berkompromi” dengan sayap ini dari partai tersebut adalah sungguh menggelikan. Sebaliknya, adalah menjadi kewajiban bagi kaum Komunis untuk mencari dan mendapatkan bentuk kompromi yang cocok dengan mereka, suatu kompromi yang, di satu pihak, akan mempermudah dan mempercepat fusi sepenuhnya yang harus dengan sayap ini dan, di pihak lain, yang sekali-kali tidak membatasi kaum Komunis dalam perjuangan ideologi dan politik mereka  melawan sayap kanan yang oportunis dari kaum “Merdeka”. Mungkin tidak akan mudah mencari bentuk kompromi yang cocok – akan tetapi hanya tukang jual obat palsu sajalah yang dapat menjanjikan kepada kaum buruh Jerman dan kaum Komunis Jerman suatu jalan yang “ringan” menuju kemenangan.

Kapitalisme tidak menjadi kapitalisme lagi jika proletariat “murni” tidak dikelilingi oleh tipe-tipe peralihan yang sangat beranekaragam dan banyak sekali jumlahnya antara kaum proletar dan setengah-proletar (mereka yang mencari penghidupannya sebagian dengan menjual tenaga kerjanya), kaum setengah-proletar dan petani-kecil (dan tukang-kecil, pekerjatangan dan majikan-kecil pada umumnya), petani-kecil dan petani-sedang, dan sebagainya, dan jika di dalam proletariat itu sendiri tidak terdapat perbedaan menurut lapisan-lapisan yang lebih maju dan yang kurang maju, menurut asal daerah, pekerjaan, kadang-kadang menurut agama, dan sebagainya. Dan dari semua ini timbullah keharusan yang mutlak, bagi pelopor proletariat, bagi golongannya yang berkesadaran-klas, bagi Partai Komunis, untuk melakukan manuver-manuver, mencapai persetujuan-persetujuan dan mengadakan kompromi-kompromi dengan berbagai grup kaum proletar, dengan berbagai partai kaum buruh dan majikan-majikan kecil. Seluruh persoalannya yalah menjadi pandai menggunakan taktik ini dengan maksud meninggikan, dan bukan menurunkan, taraf umum kesadaran klas proletar, jiwa revolusioner dan kesanggupannya untuk berjuang dan mencapai kemenangan. Antara lain, perlu dicatat bahwa kemenangan kaum Bolsyewik atas kaum Mensyewik menghendaki dijalankannya taktik manuver-manuver, persetujuan-persetujuan dan kompromi-kompromi tidak hanya sebelum tetapi juga sesudah Revolusi Oktober tahun 1917, tetapi, sudah tentu, manuver-manuver dan kompromi-kompromi yang akan membantu, mempercepat, mengkonsolidasi dan memperkuat kaum Bolsyewik atas kerugian kaum Mensyewik. Kaum demokrat burjuis-kecil (termasuk kaum Mensyewik) pasti bimbang anatar burjuasi dan proletariat, antara demokrasi burjuis dan sistim Sovyet, antara reformisme dan revolusionerisme, antara cinta pada kaum buruh dan ketakutan pada diktatur proletar, dan sebagainya. Taktik yang tepat bagi kaum Komunis harus terletak dalam menggunakan kebimbangan-kebimbangan ini, jangan mengabaikannya; dan menggunakan kebimbangan-kebimbangan itu menghendaki pemberian konsesi-konsesi pada elemen-elemen yang condong kepada proletariat – kapan saja dan sampai sejauh mereka  condong kepada proletariat – di samping menentang mereka yang condong kepada burjuasi. Sebagai akibat penggunaan taktik yang tepat itu Mensyewisme kian hari kian berantakan, dan tetap berantakan di negeri kami, gembong-gembong oportunis yang kepala-batusemakin terisolasi, dan kaum buruh yang terbaik dan elemen-elemen yang terbaik di kalangan kaum demokrat burjuis-kecil semakin ditarik ke dalam kubu kami. Ini adalah suatu proses yang lama, dan “putusan” yang terburu-buru – “kompromi-kompromi apapun dan manuver apapun tidak diperbolehkan” – hanya bisa merugikan pekerjaan dalam memperkuat pengaruh proletariat revolusioner dan memperbesar kekuatannya.

Akhirnya, salah satu kesalahan yang pasti dari kaum “Kiri” di Jerman yalah desakannya yang berkepala-batu untuk tidak mengakui perdamaian Versailles 48. Semakin pandangan ini dirumuskan dengan “dalam-dalam” dan “hebat”. Dengan “tegas” dan keras oleh K.Horner, misalnya, semakin  bodoh kelihatannya usahanya itu. Dalam keadaan-keadaan revolusi proletar internasional seperti sekarang ini, tidaklah cukup hanya menolak ketololan-ketololan yang gila tentang “Bolsyewisme Nasional” (Laufenberg dan lain-lainnya), yang telah berbicara sampai-sampai menganjurkan mengadakan blok dengan burjuasi Jerman untuk berperang melawan Entente. Orang harus menginsyafi bahwa taktik tidak diperbolehkannya bagi Jerman Sovyet (jika republik Jerman Sovyet segera akan lahir) keharusan mengakui Perdamaian Versailles untuk waktu tertentu dan tunduk kepadanya adalah salah sampai keakar-akarnya. Itu tidak berkesimpulan bahwa kaum “Merdeka” – pada waktu ketika kaum Scheidemann duduk dalam pemerintah, ketika pemerintah Sovyet di Hongaria belum digulingkan, dan ketika belum tertutup kemungkinan bahwa suatu revolusi Sovyet di Wina akan menyokong Hongaria Sovyet – adalah benar, waktu mereka dalam keadaan-keadaan seperti itu, mengajukan tuntutan supaya Perdamaian Versailles ditanda tangani. Pada waktu itu kaum “Merdeka” berbelok-belok dan bermanuver dengan sangat kaku, karena mereka sedikit atau banyak menerima pertanggunganjawab atas pengkhianat-pengkhianat macam Scheidemann dan sedikit atau banyak merosot dari pendirian perang klas yang takenalampun (dan paling berkepala dingin) melawan kaum Scheidemann sampai pada pendirian “tak berklas” atau “di atas klas”.

Akan tetapi keadaan sekarang adalah terang demikian rupa sehingga kaum Komunis Jerman tidak boleh mengikatkan tangannya dan berjanji dengan pasti dan dengan tegas akan menolak Perdamaian Versailles jika Komunisme menang. Itu adalah bodoh. Mereka harus mengatakan: Kaum Scheidemann dan kaum Kautskyis telah melakukan serentetan tindakan pengkhianatan yang mempersukar (dan sebagian langsung merusak) urusan persekutuan dengan Rusia Sovyet dan Hongaria Sovyet. Kita kaum Komunis, dengan segala jalan akan berusaha mempermudah dan mempersiapkan persekutuan demikian itu; dan dalam pada itu kita seklai-kali tidak diharuskan untuk pasti menolak Perdamaian Versailles , dan, di samping itu, dengan segera. Kemungkinan menolaknya dengan berhasil tidak hanya tergantung pada Jerman saja, tetapi juga pada sukses-sukses gerakan Sovyet internasional. Kaum Scheidemann dan kaum Kautskyis merintangi gerakan ini; kita membantunya. Itulah hakekat persoalan, di situlah letak perbedaan yang radikal. Dan jika musuh-musuh klas kita, kaum penghisap dan budak-budak mereka, kaum Scheidemann dan kaum Kautskyis, telah menyia-nyiakan banyak kesempatan untuk memperkuat gerakan Sovyet Jerman maupun gerakan Sovyet internasional, untuk memperkuat revolusi Sovyet di Jerman akan memperkuat gerakan Sovyet internasional yang merupakan benteng yang terkuat (dan satu-satunya benteng yang terpercaya, tak terkalahkan dan yang perkasa secara sedunia). Dalam melawan Perdamaian Versailles, melawan imperialisme internasional pada umumnya. Mendahulukan dengan mutlak, dengan tegas dan dengan segera soal pembebasan dari Perdamaian Versailles, daripada soal pembebasan negeri-negeri lain yang ditindas oleh imperialisme dari kungkungan imperialisme, adalah merupakan nasionalisme filistin (layak bagi Kautsky, Hilferding, Otto Bauer & Co.) dan bukan internasionalisme revolsuioner. Penggulingan burjuasi di sesutau negeri besar di Eropa, termasuk Jerman, akan merupakan suatu keuntungan yang begitu besar bagi revolusi internasional sehingga demi kepentingannya orang dapat, dan wajib, jika itu perlu, membiarkan adanya Perdamaian Versailles lebih lama lagi. Jika Rusia sendirian, demi keuntungan revolusi, dapat menahankan adanya  Perdamaian Brest selama beberapa bulan, maka samasekali bukanlah tidak mungkin bahwa  Jerman Sovyet, yang bersekutu dengan Rusia Sovyet, demi keuntungan revolusi, akan menahankan adanya Perdamaian Versailles untuk masa yang lebih lama lahi.

Kum imperilais Pernacis, Inggeris, dan lain-lainnya, sedang memprovokasi kaum Komunis Jerman dan memasang perangkap bagi mereka: “Katakanlah bahwa kalian tidak mau menandatangani Perdamaian Versailles”. Dan kaum Komunis Kiri daripada dengan bijaksana melakukan manuver terhadap musuh yang cerdik dan yang, pada waktu sekarang ini, lebih kuat, daripada mengatakan kepadanya: “Sekarang kami akan menantangani Perdamaian Versailles”, mereka seperti anak-anak jatuh ke dalam perangkap yang dipasang bagi mereka itu. Sudah lebih dulu mengikat tangan kita, dengan terang-terangan mengatakan kepada musuh yang pada waktu  sekarang ini lebih baik persenjataannya dari pada kita, apakah kita akan melawan dia, dan kapan, adalah suatu kebodohan dan bukan revolusionerisme. Menyetujui pertempuran pada waktu kita terang ia menguntungkan musuh dan tidak menguntungkan kita adalah suatu kejahatan; dan poltikus-politkus klas revolusioner yang tidak mampu berhasil “berbelok-belok, melakukan manuver, dan berkompromi” supaya dapat menghindari sutau pertempuran yang terang tidak menguntungkan, adalah tidak berguna samasekali.

 

 

IX

Komunisme “Sayap Kiri”

Di Inggeris.

Di Inggeris belum ada Partai Komunis, tetapi di sana ada gerakan Komunis segar, luas, perkasa dan tumbuh dengan cepat di kalangan kaum buruh, yang memberi alasan bagi harapan-harapan yang sangat gemilan; ada beberapa partai dan organisasi poltik (“Partai Sosialis Inggeris” 49 “Partai Buruh Sosialis”, “Federasi Buruh Sosialis”50) yang ingin membentuk Partai Komunis dan sudah mengadakan perundingan di anatar mereka sendiri untuk tujuan ini. Workers’ Dreadnought 51, majalah mingguan dari Federasi Buruh Sosialis, dalam penerbitannya (21 Februari 1920, jilid VI No. 48) memuat suatu artikel dari redakturnya, Kawan Sylvia Pankhurst: “Menuju Partai Komunis”. Artikel ini menggambarkan jalannya perundingan-perundingan antara empat organisasi tersebut tentang pembentukan suatu Partai Komunis yang bersatu, atas dasar penggabungan pada Internasionale III, pengakuan terhadapsistim Sovyet sebagai ganti parlementerisme, dan pengakuan diktatur proletariat. Ternya yang menjadi salah satu rintangan yang pokok untuk pembentukan suatu Partai Komunis yang bersatu dengan segera yalah perselisihan pendapat mengenai soal ambil bagian dalam parlemen dan mengenai soal apakah Partai Komunis yang baru itu harus menggabungkan diri pada “Partai Buruh” yang lama, yang bersifat serikatburuh, yang oportunis dan sosial-sovinis, dan yang pada pokoknya terdiri dari serikatburuh-serikatburuh. “Federasi Buruh Sosialis”* menentang ambil bagian dalam pemilihan-pemilihan untuk parlemen dan dalam parlemen, menentang penggabungan pada “Partai Buruh”, dan mengenai ini mereka berselisih pendapat dengan semua, atau dengan jumlah yang terbanyak dari anggota Partai Sosialis Inggeris yang mereka anggap sebagai “Sayap Kanan dari Partai-Partai Komunis” di Inggeris (halaman 5, artikel Sylvia Pankhurst tersebut).

Mengenai soal ambil bagian dalam parlemen, Kawan Sylvia Pankhurst menunjukkan suatu artikel dalam nomor itu juga dari Kawan W.Galacher, yang menulis atas nama “Dewan Buruh Skotland” di Glasgow:

“Dewan ini”, ia tulis, “adalah tegas anti parlementer, dan di belakangnya berdiri sayap Kiri dari berbagai organisasi politik. Kita mewakili gerakan revolusioner di Skotland, yang berikhtiar mendirikan oraganisasi revolusioner di dalam industri (dalam berbagai cabang industri) dan suatu Partai Komunis, yang bersendikan komite-komite sosial di seluruh negeri (Inggeris). Dalam waktu yang lama sekali kita telah bersengketa dengan pembela-pembela parlemen yang resmi. Kita menganggap tidak perlu menyatakan perang yang terang-teranganterhadap mereka, dan mereka takut untuk memulai serangan terhadap kita.

Tetapi keadaan yang begini tidak dapat berlaku lama. Kita sedang menang di seluruh garis pertempuran.

Anggota-anggota biasa dari Partai Buruh Merdeka di Skotland makin lama makin merasa jijik terhadap pikiran tentrang parlemen, dan Sovyet-Sovyet (di sini dipakai pertakataan Rusia yang ditulis menurut ejaan Inggeris) atau dean-dewan buruh disokong oleh hampir tiap-tiap cabang setempat. Ini sudah tentu sangat menggelisahkan bagi tuan-tuan yang memandang politik sebagai mata pencaharian (vak), dan merasa menggunakan setiap dan segala jalan untuk meyakinkan anggota-anggota mereka  supaya kembali ke pangkuan parlementerisme. Kawan-kawan yang revolusioner   tidak boleh (semua huruf miring dari penulis)

 

  • Rupanya Partai ini menentang penggabungan pada “Partai Buruh” tetapi tidak semua anggotanya menentang untuk ambil bagian dalam parlemen.

 

 

menyokong gerombolan-gerombolan ini. Di sini perjuangan kita akan sangat sulit. Salah satu seginya yang paling jelek yalah pengkhianatan dari mereka bagi siapa kepentingan-kepentingan pribadinya adalah pendorong-pendorong yang lebih kuat daripada minat mereka akan revolusi. Setiap sokongan terhadap parlementerisme hanyalah berarti membantu menempatkan kekuasaan ke dalam tangan kaum Scheidemann  dan Noske Inggeris.  Henderson, Clynes & Co. adalah reaksioner secara taktertolong lagi. Partai Buruh Merdeka yang resmi semakin lama semakin di bawah kekuasaan kaum Liberal burjuis, yang telah mendapatkan tempat perlindungan rokhani mereka dalam kubu tuan-tuan MacDonald, Snowden & Co.  Partai Buruh merdeka yang resmi keras bermusuhan dengan Internasionale III, sedangkan massanya menyokong Internasionale III. Memberi bantuan apapun kepada  kaum parlemeter yang oportunis hanyalah berarti memberi keuntungan kepada tuan-tuan tersebut. Partai Sosialis Inggeris dalam hal ini tidak ada artinya samasekali ……. Di sini diperlukan organisasi produksi (industri) revolusioner yang sehat, dan suatu Partai Komunis yang bekerja  menurut dasar-dasar yang terang ditentukan tepat dan ilmiah. Jika kawan-kawan kita dapat membantu  kita dalam mendirikan kedua-duanya kita akan menerima bantuan mereka dengan senang hati; jika mereka tidak dapat, demi Allah, biarkanlah mereka tidak campurtangan samasekali, jika mereka tidak mau mengkhianati Revolusi dengan memberikan bantuan kepada kaum reaksioner, yang begitu bernafsu mencari  “kehormatan-kehormatan”(?) (tandatanya dari penulis) menjadi anggota parlemen dan  yang begitu ingin membuktikan bahwa mereka bisa memerintah sama efektifnya seperti “majikan” itu sendiri, ahli-ahli politik klas”

 

Surat kepada redaksi ini, hemat saya, sangat gemilang menyatakan  semangat dan pendirian kaum Komunis muda, atau buruh biasa yang baru saja mendekati Komunisme. Semangat ini adalah sangat menggembirakan dan berharga; orang harus pandai menghargai dan menyokongnya, karena tanpa itu akan  sia-sialah mengharapkan kemenangan revolusi proletar di Inggeris, dan juga di sebarang negeri lainnya. Orang-orang yang dapat menyatakan semangat massa ini, yang dapat membangkitkan semangat macam itu (yang sering sekali ngantuk, tidak disadarkan dan tidak dibangkitkan) di kalangan massa, harus dipelihara dan segala bantuan harus diberikan kepada mereka. Dan dalam pada itu kita harus dengan terang-terangan dan jujur mengatakan kepada mereka bahwa semangat saja tidaklah cukup untuk memimpin massa dalam perjuangan revolusioner yang besar, dan bahwa kesalahan-kesalahan semacam ini dan semacam itu yang akan dilakukan, atau sedang dilakukan oleh penganut-penganut yang paling setia pada cita-cita revolusi, dapat merugikan kepentingan revolusi. Surat kawan Gallacher tak disangsikan lagi memperlihatkan benih-benih dari semua kesalahan yang sedang dilakukan oleh kaum Komunis “Kiri” Jerman dan yang telah dilakukan oleh kaum Bolsjewik “Kiri” Rusia dalam tanhun 1908 dan 1918.

Penulis surat itu jiwanya penuh kebencian proletar yang mulia terhadap “ahli-ahli” politik klas burjuis (kebencian yang tidak hanya dimengerti dan dirasakan  oleh kaum proletar tetapi juga oleh semua Rakyat pekerja, semua “orang-orang kecil”, menurut istilah Jerman). Kebencian dari wakil massa yang tertindas dan terhisap ini adalah sesungguhnya “permulaan dari sebarang kebijaksanaan”, dasar dari sebarang gerakan Sosialis dan Komunis dan dari sukses-suksesnya. Tetapi penulis itu rupanya tidak mengindahkan bahwa politik adalah ilmu dan seni, yang tidak jatuh dari langit, tidak didapat dengan gratis, dan bahwa proletariat, jika ia hendak mengalahkan burjuasi, harus mengolah “ahli-ahli politik klas” proletarnya sendiri, dan dengan mutu yang tidak kalah dibanding dengan ahli-ahli politik burjuis.

Penulis surat tersebut mengerti dengan sangat baik bahwa hanya Sovyet-Sovyet buruh, dan bukan parlemen, yang dapat menjadi alat pencapaian tujuan proletariat,dan sudah tentu, mereka yang sampai sekarang gagal memahami ini adalah kaum reaksioner berurat berakar, sekalipun mereka itu orang-orang yang paling terpelajar tinggi, ahli-ahli politik yang paling berpengalaman, kaum Sosialis yang paling tulus ikhlas, kaum Marxis yang paling terpelajar, warganegara-warganegara dan kepala keluarga yang paling jujur. Akan tetapi penulis surat itu bahkan tidak mengemukakan persoalan, tidak memikir-mikirkan tentang keharusan mengajukan persoalan, apakah mungkin untuk mencapai kemenangan Sovyet atas parlemen tanpa memasukkan ahli-ahli politik “Sovyet” ke dalam parlemen? Tanpa menggerowoti parlemeterisme dari dalam? Tanpa bekerja di dalam parlemen untuk mempersiapkan kemenangan Sovyet dalam menunaikan tugasnya yang akan datang yaitu membubarkan parlemen? Sekalipun demikian penulis surat itu menyatakan pikiran yang samasekali bernar bahwa Partai Komunis di Inggeris harus bertindak menurut prinsip-prinsip yang berdasarkan ilmu. Ilmu menuntut, pertama, supaya pengalaman negeri-negeri lain dipertimbangkan, terutama sekali jika negeri-negeri lain ini, juga negeri-negeri kapitalis, sedang mengalami, atau baru saja mengalami pengalaman yang serupa betul; kedua, ia menuntut supaya diperhitungkan semua kekuatan golongan, partai, klas dan massa yang berlaku di dalam negeri tertentu, dan bukanlah supaya politik ditentukan hanya menurut keinginan-keinginan dan pendirian-pendirian, menurut tingkat kesadaran klas dan kesediaan berjuang dari hanya satu golongan atau partai.

Bahwa kaum Henderson, Clynes, MacDonald dan Snowden adalah reaksioner tak berpengharapan, itu benar. Benar juga bahwa mereka ingin mengambil kekuasaan dalam tangan mereka sendiri (sekalipun mereka lebih menyukai suatu koalisi dengan burjuis) , bahwa mereka ingin “memerintah” menurut garis-garis burjuis yang lama, dan bahwa jika mereka benar-benar memperoleh kekuasaan, mereka pasti akan bertindak seperti kaum Scheidemann dan Noske. Semua itu betul. Tetapi halini samasekali tidak berarti bahwa menyokong mereka adalah suatu pengkhianatan terhadap revolusi, melainkan bahwa untuk kepentingan-kepentingan revolusi kaum revolusioner dari klas buruh harus memberikan sesuatu sokongan parlementer kepada tuan-tuan ini. Untuk menerangkan pikiran ini saja  akan mengambil dua dokumen politik Inggeris dari masa sekarang ini: 1)pidato yang diucapkan oleh Perdana Menteri, Lloyd George, pada tanggal 18 Maret 1920 (menurut uraian Manchester Guardian 52 tanggal 19 Maret 1920) dan 2) argumen-argumen seorang Komunis “Kiri”, Kawan Sylvia Pankhurst, dalam artikel tersebut di atas.

Lloyd George dalam pidatonya telah berpolemik Asquith (yang spesial diundang ke rapat ini tetapi tidak mau hadir) dan dengan kaum Liberal yang menghendaki bukan koalisi dengan kaum konservatif, tetapi hubungan-hubungan yang lebih rapat dengan Partai Buruh (Kawan Gallacher dalam suratnya juga menunjukkan kenyataan bahwa kaum Liberal pindah ke pihak Partai Buruh Merdeka). Lloyd George membuktikan bahwa suatu koalisi, apalagi koalisi yang erat, di antara kaum Liberal dan kaum Konservatif adalah penting sekali, kalau tidak, ada kemungkinan menang bagi Partai Buruh, yang Lloyd George, “lebih suka menyebutnya” sebagai Sosialis dan yang berjuang untuk “hak milik bersama” atas alat-alat produksi.  “Di Perancis ini disebut Komunisme”, — demikian kata pemimpin burjuis Inggeris itu dengan menerangkannya secara populer kepada pendengar-pendengarnya, yaitu anggota-anggota partai Liberal dalam Parlemen, yang barangkali belum mengetahuinya sebelumnya – “di Jerman ini telah disebut Sosialisme, dan di Rusia disebut Bolsyewisme”. Bagi kaum Liberal hal ini secara prinsipiil tidak dapat diterima, demikian diterangkan Lloyd George, sebab pada prinsipnya mereka mempertahankan hak milik perseorangan. “Peradaban dalam bahaya”, kata pembicara itu dan oleh karena itu, kaum Liberal dan kaum Konservatif harus bersatu…….

 

“…….. Jika tuan-tuan pergi ke daerah-daerah penggarapan tanah”, kata Lloyd George, “saya setuju bahwa tuan-tuan akan menemui di sana pembagian  partai yang lama tetap sebagai semula. Mereka itu jauh dari bahaya. Di sana tidak ada bahaya. Tetapi jika daerah-daerah pedesaan itu bergerak, maka bahaya di sana akan menjadi sebesar seperti di beberapa daerah industri sekarang ini. Empatperlima dari negeri kita ini adalah daerah industri dan perdagangan; tidak sampai seperlimanya adalah dearah penggarapan tanah. Ini adalah salah satu hal  yang selalu saya ingat apabila saya memikirkan bahaya-bahaya yang didatangkan pada kita oleh masa kelak. Di Perancis penduduknya adalah tani, dan di sana orang mempunyai cara berpikir yang teguh yang tidak bergerak sangat cepat, dan yang tidak sangat mudah dibangkitkan oleh gerakan-gerakan revolusioner. Tidak demikian halnya di negeri kita. Negeri ini lebih berat di atas daripada negeri manapun juga di dunia ini, dan bila ia mulai goyah, maka keruntuhannya di sini, karena alasan yang ditujukkan di atas, akan lebih hebat daripada di negeri manapun juga”.

 

Dari sini pembaca dapat melihat bahwa tuan lloyd George bukanlah hanya seorang yang sangat pintar, tetapi bahwa dia juga telah banyak belajar dari kaum Marxis. Tidaklah berdosa bagi kita untuk belajar sesuatu dari Lloyd George.

Adalah menarik hati juga untuk mengikuti episode di bawah ini yang terjadi di dalam diskusi sesudah pidato Lloyd george:

 

“T  u  a n   W  a  l  l  a  c  e: Saya kira ingin bertanya bagaimana pendapat Perdana Menteri tentang hasil politiknya di daerah-daerah industri terhadap kaum buruh industri yang di antara mereka banyak sekali kaum Liberal pada dewasa ini dan dari siapa kita sebegitu banyak mendapat bantuan. Apakah akibatnya tidak mungkin menyebabkan akan sangat sekali bertambah besarnya kekuatan Partai Buruh dengan orang-orang buruh yang kini merupakan penyokong-penyokong kita yang tulus ikhlas?

“P e r d a n a   M e n t e r i : Saya mempunyai pandangan yang samasekali berlainan. Kenyataan bahwa kaum Liberal saling cakar-cakaran di antara mereka sendiri tak teragukan mendorong sejumlah kaum Liberal karena putus asa ke Partai Buruh, di mana terdapat sejumlah yang berarti dari kaum Liberal, orang-orang yang sangat cakap, yang pekerjaannya sekarang yalah menodai martabat Pemerintah. Akibatnya  tidak bisa diragukan lagi yalah bertambah besarnya sentimen umum yang baik kepada Partai Buruh. Sentimen umum itu tidak lari kepada kaum Liberal yang ada di luar Partai Buruh, tetapi ia lari kepada Partai Buruh, pemilihan-pemilihan tambahan menunjukkan hal itu”.

 

Bisa dikatakan sepintas lalu, bahwa argumen ini terutama sekali memperlihatkan betapa telah kusut pikiran orang-orang yang terpintar sekalipun dari burjuasi dan  betapa mereka tidak  dapat lain daripada membuat kebodohan-kebodohan yang tidak bisa diperbaiki. Hal ini sebenarnya akan menyebabkan keruntuhan burjuasi. Akan tetapi orang-orang kita dapat membuat kebodohan-kebodohan (aslakna, sudah tentu, kebodohan-kebodhan itu tidak begitu besar dan diperbaiki pada waktunya), sekalipun demikian pada akhirnya tampil sebagai pemenang.

Dokumen politik yang kedua adalah argumen-argumen di bawah ini yang dikemukakan oleh seorang Komunis “Kiri”, kawan Sylvia Pankhurst:

 

“……Kawan Inkpin (Sekretaris Jendral Partai Sosialis Inggeris) Menyebut Partai Buruh sebagai ‘organisasi yang pokok dari gerakan kals buruh’, Kawan lain dari Partai Sosialis Inggeris, pada Konferensi Internasionale III, menyatakan pendirian Partai Sosialis Inggeris:’Kita pandang Partai Buruh sebagai klas buruh yang terorganisasi”.

Kita tidak menyetujui anggapan demikian terhadap Partai Buruh. Partai Buruh adalah besar dalam jumlah keanggotaannya, sekalipun  anggota-anggotanya dalam bagian bearti adalah pasif dan apatis, adalah orang-orang laki-laki dan perempuan  yang telah menggabungkan diri dalam serikatburuh-serikatburuh karena kawan-kawan sepekerjaannya adalah angota-anggota serikatburuh, dan karena mau mendapatkan tunjangan.

Tetapi kita mengakui bahwa besarnya jumlah anggota Partai Buruh adalah juga berhubung dengan kenyataan bahwa ia  adalah ciptaan aliran pikiran yang batasnya belum mampu dilewati oleh jumlah terbanyak orang dari kals buruh Inggeris, sungguhpun perubahan-perubahan besar sedang terjadi dalam pikiran Rakyat yang tidak lama lagi akan mengubah keadaan ini ……….”

“…. Partai Buruh Inggeris, seperti organisasi-organisasi sosial patriotik di negeri-negeri lain,  menurut perkembangan masyarakat yang sewajarnya, pasti akan memperoleh kekuasaan. Terletak pada Komunislah untuk membangun kekuatan-kekuatan yang akan menggulingkan kaum patriot-sosial, dan di negeri ini kita tidak boleh menunda atau ragu-ragu dalam pekerjaan itu.

Kita tidak boleh membuang-buang enersi kita dengan menambah kekuatan Partai Buruh; akan berkuasanya Partai Buruh tidak dapat dielekkan. Kita harus memusatkan tenaga untuk membikin gerakan Komunis yang akan mengalahkan Partai Buruh. Partai Buruh tidak lama lagi akan membentuk suatu pemerintah; oposisi revolusioner harus siap-sedia menyerangnya…….”

 

Jadi burjuasi leberal sedang meninggalkan sistim “dua partai” (dari kaum penghisap) yang bersejarah, yang telah dibikin menjadi keramat  oleh pengalaman yang berabad-abad lamanya dan yang luarbiasa menguntungkan kaum penghisap, dan menganggap perlu untuk mempersatukan kekuatan mereka guna melawan Partai Buruh. Sejumlah kaum Liberal menyeberang ke Partai Buruh seperti tikus-tikus yang meninggalkan kapal yang sedang tenggelam.. Kaum Komunis Kiri mengira bahwa pindahkan kekuasaan ke tangan Partai Buruh adalah tak terhindarkan dan mengakui bahwa pada dewasa ini ia diikuti oleh jumlah terbanyak kaum buruh. Dari sini mereka menarik kesimpulan yang aneh yang dirumuskan oleh Kawan Sylvia Pankhurst, sebagai berikut:

 

“Partai Komunis tidak boleh mengadakan kompromi-kompromi ……Partai Komunis harus tetap menjaga kemurnia  doktrinnya, dan kebebasannya dari reformisme tetap tidak ternoda; misinya yalah melangkah maju, tanpa berhenti atau membelok, menurut jalan yang langsung menuju revolusi Komunisme”.

 

Sebalinya, kenyataan bahwa jumlah terbanyak kaum buruh di Inggeris masih mengikut kaum Kerenski atau kaum Scheidemann Inggeris dan belum mempunyai pengalaman tentang pemerintah yang terdiri dari orang-orang ini, pengalaman mana dibutuhkan di Rusia dan Jerman untuk menjamin perpindahan kaum buruh secara besar-besaran ke Komunisme, maka berartilah dengan tiada reagu-ragu lagi bahwa kaum Komunis Inggeris harus ambil bagian dalam parlementerisme, harus dari dalam parlemen membantu massa kaum buruh untuk melihat hasil-hasil pemerintah Henderson dan Snowden dalam praktek, harus membantu kaum Henderson dan Snowden mengalahkan gabungan kekuatan dari Lloyd George dan Churchill. Bertindak lain berarti mempersulit jalannya revolusi; karena revolusi tidaklah mungkin tanpa suatu perobahan dalam pandangan mayoritas orang dari klas buruh, dan perubahan ini ditimbulkan oleh pengalaman politik massa, dan tidak pernah oleh propaganda melulu. “Maju terus tanpa mengadakan kompromi-kompromi, tanpa membelok dari jalan” – kalau hal ini dikatakan oleh sejumlah kecil kaum buruh yang terang tidak berdaya, yang taau (atau biar bagaimanapun juga mesti tahu) bahwa jika Henderson dan Snowden memperoleh kemenangan atas Lloyg George dan Churchill, golongan terbanyak dalam tempo yang pendek  akan menjadi kecewa kepada pemimpin-pemimpin mereka dan akan mulai menyokong Komunisme (atau setidak-tidaknya akan mengambil sikap netral, dan sebagian besar kenetralan yang bermaksud baik terhadap kaum Komunis) maka semboyan ini terang salah. Hal ini persis seperti 10.000 serdadu menyerbukan diri dalam pertempuran melawan 50.000 serdadu musuh pada hal semestinya “berhenti”, “membelok”, bahkan mengadakan suatu “kompromi” asal saja memperoleh waktu sampai tibanya 100.000 tentara baru yang sedang tidak sanggup beraksi dengan segera. Itu adalah sifat kekanak-kanakan dari kaum intelek dan bukan tatktik yang sungguh-sungguh dari klas revolusioner.

Hukum pokok revolusi, yang telah diperkuat kebenarannya oleh semua revolusi, dan khusunya oleh ketiga-tiga revolusi Rusia dalam abad XX, adalah sebagai berikut: tidaklah cukup untuk revolusi bahwa massa yang terhisap dan tertindas sudah menyadari akan tidak munginnya hidup menurut cara lama dan menuntut perubahan-perubahan; untuk revolusi adalah perlu sekali supaya penghisap sudah tidak dapat hidup dan berkuasa menurut cara lama.  Hanya apabila “yang di bawahtidak menghendaki yang lama, dan apabila “yang di atastidak dapat bertindak menurut cara lama – barulah revolusi dapat menang. Dengan kata-kata lain kebenaran ini dinyatakan sebagai berikut: revolusi tidaklah mungkin tanpa krisis yang meliputi seluruh nasion (yang mengenai kaum terhisap dan kaum penghisap). Jadinya bagi revolusi adalah perlu sekali mencapai kenyataan, pertama, bahwa jumlah terbanyak kaum buruh (atau sekurang-kurangnya jumlah terbanyak dari kaum buruh yang sadar-klas, yang berpikir, yang aktif dalam politik) sudah sungguh-sungguh mengerti keharusan revolusi dan bersedia mengorbankan nyawanya untuk itu; kedua, bahwa klas-klas yang berkuasa mengalami suatu kris pemerintahan, yang menyeret massa yang paling terbelakangpun ke dalam politik (suatu tanda dari tiap revolusi yang sessungguhnya yalah kenaikan yang cepat, sepuluh kali dan malahan seratus kali dalam jumlah anggota-anggota massa pekerja dan tertindas – yang sebelumnya apatis – yang sanggup melakukan perjuangan politik), melemahkan pemerintah dan memungkinkan bagi kaum revolusioner untuk menggulingkannya dengan cepat.

 

Di Inggeris, sebagaimana dapat dilihat, antara lain justru dari pidato Lloyd George, kedua syarat dari revolusi proletar yang berhasil terang sedang menajdi matang. Dan kesalahan-kesalahan kaum Komunis  Kiri adalah lebih-lebih berbahaya pada waktu sekarang ini justru karena beberapa kaum revolusioner tidak memperlihatkan perhatian yang cukup bersungguh-sungguh, cukup teliti, cukup sadar dan cukup berpandangan jauh terhadap masing-masing syarat ini. Jika kita adalah partai dari klas yang revolusioner, dan bukan suatu grup revolusioner, jika kita ingin supaya massa mengikuti kita (dan tanpa itu kita menghadapi risiko  akan tetap menjadi tukang omong semata-mata), kita harus, pertama-tama membantu Henderson atau Snowden memukul Lloyd George dan Churchill (atau lebih tepat, memaksa yang pertama memukul yang kedua karena yang pertama takut kepada kemenangan sendiri!) kedua: membantu juamlah terbanyak dari klas buruh untuk menjadi yakin dari pengalaman mereka sendiri bahwa kita adalah benar, yaitu, bahwa Henderson dan Snowden adalah samasekali tidak berguna, bahwa watak mereka adalah burjuis kecil dan khianat, dan bahwa kebangkrutan mereka tak terhindarkan; ketiga, mendekatkan saat di mana, atas dasar kekecewaan jumlah terbanyak kaum buruh terhadap kaum Henderson, akan menjadi mungkin untuk dengan harapan sukses yang sungguh-sungguh menggulingkan pemerintah kaum Henderson dengan seketika; sebab kalau Lloyd George, seorang burjuis besar, bukan burjuis kecil, yang paling pintar dan sungguh kuat, memperlihatkan kegelisahan yang sungguh-sungguh dan makin lama makin kelemahan dirinya (dan burjuasi seluruhnya) dengan “pertengkaran”nya dengan Churchill pada sautu hari dan “pertengkaran”nya dengan Asquith pada haru berikutnya, maka betapa akan lebih besarnya kegelisahan pemerintah Hederson pada ketika itu!

Saya akan menerangkannya secara lebih konkrit. Menurut pendapat saya, kaum Komunis Inggeris harus mempersatukan empat partai dan grup mereka (semuanya sangat lemah, dan beberapa di antaranya sangat, sangat lemah) menjadi satu Partai Komunis atas dasar prinsip-prinsip Internasionale III dan prinsip wajib ambil bagian dalam parlemen. Partai Komunis harus mengusulkan suatu “Kompromi” kepada kaum Henderson dan Snowden, suatu persetujuan pemilihan: marilah kita bersama-sama melawan persekutuan Lloyd George dengan kaum Konservatif, marilah kita bagi kursi dalam parlemen menurut perbandingan jumlah suara yang diberikan oleh kaum buruh kepada Partai Buruh dan kepada kaum Komunis (bukan dalam pemilihan-pemilihan, tetapi dalam pemungutan suara yang khusus), dan marilah kita pertahankan kebebasan yang penuh untuk melakukan agitasi, propaganda dan aktivitas politik. Tanpa syarat yang tersebut belakangan ini, sudah tentu, orang tidak boleh menyetujui suatu blok, karena kalau tidak, ini akan berarti suatu pengkhianatan; kaum Komunis Inggeris harus secara mutlak mempertahankan dan berhasil menjamin kebebasan penuh untuk menelanjangi kaum Henderson dan Snowden persis seperti kaum Bolsyewik Rusia mempertahankan (selama 15 tahun, 1903-1917) dan berhasil menjaminnya terhadap kaum Henderson dan Snowden Rusia, yaitu kaum Mensyewik.

Jika kaum Henderson dan Snowden menyetujui blok dengan syarat-syarat ini, maka kita yang akan beruntung, sebab jumlah kursi dalam parlemen samasekali tidaklah penting bagi kita; kita tidak mengutamakn kursi, kita akan memberikan konsesi dalam soal ini (sebaliknya, kaum Henderson, dan terutama sekali sahabat-sahabatnya yang baru – atau majikan-majikannya yang baru – kaum Liberal yang telah masuk dalam Partai Buruh Merdeka, betul-betul mengutamakn kursi itu). Kita yang beruntung, sebab kita akan membawa agitasi kita ke tengah-tengah massa pada saat ketika Lloyd George sendiri telah “membakar” mereka, dan kita tidak hanya akan membantu Partai Buruh untuk membentuk pemerintahnya lebih cepat, tetapi juga akan membantu massa untuk lebih cepat memahami seluruh propaganda Komunis yang akan kita lakukan terhadap kaum Henderson, samasekali tanpa mengebiri atau mendiam-diamkan apapun.

Jika kaum Henderson dan Snowden menolak blok dengan kita dengan syarat-syarat ini, kita akan lebih beruntung lagi, karena kita akan menunjukkan dengan segera kepada massa (ingat bahwa di dalam Partai Buruh Merdeka, sekalipun yang sepenuhnya bersifat Mensyewik dan samasekali oportunis, misalnya adalah pro-Sovyet-Sovyet) bahwa kaum Henderson lebih menyukai hubungan-hubungan mereka yang rapat dengan kaum kapitalis, daripada persatuan dari semua kaum buruh. Kita akan menang dengan segera di mata massa yang, terutama sekali sesudah keterangan-keterangan yang brilian, tepat sekali dan sangat berguna (bagi Komunisme) yang diberikan oleh Lloyd George, akan bersimpati dengan pikiran mempersatukan semua kaum buruh dalam menentang persekutuan Lloyd George dengan kaum Konservatif. Kita akan menang dengan segera sebab kita akan menunjukkan kepada massa bahwa kaum Henderson dan Snowden takut untuk mengalahkan Lloyd Beorge, takut untuk mengambil kekuasaan sendirian, dan dengan diam-diam berusaha mendapat bantuan dari Lloyd George, yang dengan terang-terangan mengulurkan tangannya kepada kaum Konservatif untuk menentang Partai Buruh. Perlu dicatat bahwa di Rusia, sesudah revolusi pada tanggal 27 Februari (penanggalan lama) 1917, propaganda kaum Bolsyewik dan kaum Sosialis Revolusioner (yaitu kaum Henderson dan Snowden Rusia) berhasil baik justru berkat keadaan macam ini. Kami telah katakan kepada kaum mensyewik dan kaum Sosialis-Revolusioner: ambillah seluruh kekuasaan  tanpa burjuasi, sebab kamu mempunyai suara terbanyak dalam Sovyet-Sovyet (pada Kongres Pertama Sovyet-Sovyet Se-Rusia, bulan Juni 1917, kaum Bolsyewik mempunyai hanya 13% dari jumlah suara). Tetapi kaum Henderson dan Snowden Rusia takut untuk mengambil kekuasaan tanpa burjuasi, dan ketika burjuasi menunda pemilihan untuk Konstituante, karena tahu betul bahwa pemilihan itu akan memberikan mayoritas kepada kaum Sosialis-Revolusioner dan kaum Mensyewik* (kedua-duanya mempunyai blok politik yang paling erat dan dalam kenyataannya mewakili demokrasi burjuis-kecil yang itu-itu juga), maka kaum Sosialis-Revolusioner dan kaum Mensyewik ternyata tidak berdaya secara giat dan sampai akhir menentang penundaan-penundaan ini.

Jika kaum Henderson dan Snowden menolak blok dengan kaum Komunis, kaum Komunis akan menang dengan segera dalam hal merebut simpati massa  dan menghilangkan kepercayaan kepada kaum Henderson dan Snowden; dan jika sebagai akibatnya kita kehilangan beberapa kursi dalam parlemen, itu adalah soal yang samasekali tidak penting bagi kita. Kita akan mengajukan calon-calon kita di dearah-daerah pemilihan yang sangat sedikit jumlahnya tetapi yang mutlak terpercaya, yaitu di daerah-daerah pemilihan di mana dengan mengajukan calon kita tidak akan membantu diperolehnya kursi oleh calon Liberal melawan calon – anggota Partai Buruh. Kita akan ambil bagian dalam kampanye pemilihan, menyebarkan surat-surat selebaran demi keuntungan Komunisme, dan di semua daerah pemilihan di mana kita tidak mempunyai calon, kita akan menyerukan kepada pemilih-pemilih supaya memilih dari calon dari partai Buruh dan menentang calon burjuis. Kawan-kawan Sylvia Pankhurst dan Gallacher keliru dengan mengira bahwa hal ini adalah suatu pengkhianatan terhadap Komunisme, atau suatu penollakan perjuangan melawan kaum pengkhianat sosial. Sebaliknya, urusan revolusi Komunis tidak ragu-ragu lagi akan beruntung dengan itu.

Pada dewasa ini kaum Komunis Inggeris sering kali malahan sukar untuk mendekati massa , malahan sukar untuk membuat massa  mendengar mereka. Jika saya tampil ke muka sebagai seorang Komunis dan menyerukan kepada kaum buruh supaya memilih Henderson dan menentang Lloyd George, mereka sudah tentu akan mendengarkan saya. Dan saya akan dapat menerangkan dengan cara yang populer tidak hanya mengapa Sovyet-Sovyet adalah lebih baik daripada parlemen dan mengapa diktatur proletariat lebih baik daripada diktatur Churchill (yang ditutupi kedok “demokrasi” burjuis), tetapi juga bahwa saya mau memakai suara saya untuk mengangkat Hendeson seperti tali yang mengangkat orang yang digantung – bahwa mendekatnya kaum Henderson ke pemerintahnya sendiri juga akan membuktikan bahwa saya benar, juga akan menarik massa ke pihak saya, dan juga akan mempercepat kematian politik dari kaum Henderson dan Snowden sebagaimana halnya dengan sahabat sepikiran mereka di Rusia dan Jerman.

Dan jika dikemukakan keberatan bahwa taktik ini terlalu “cerdik”, atau terlalu ruwet, sehingga tidak akan dimengerti oleh massa, bahwa taktik ini akan memecah-mecah dan memencar-mencarkan kekuatan kita, akan merintangi kita dalam memusatkan mereka untuk revolusiSovyet, dan sebagainya, maka saya akan menjawab kepada kaum “Kiri” yang mengemukakan keberatan ini: janglah melemparkan doktrinerisme-mu sendiri kepada massa! Massa di Rusia mungkin bukan lebih melainkan kurang berpendidikan daripada massa di Inggeris. Namun massa mengerti kaum Bolsyewik; dan kenyataan bahwa menjelang revolusi Sovyet, dalam bulan September 1917, kaum Bolsyewik mengajukan calon-calon mereka untuk parlemen burjuis (Konstituante) dan keesokan harinya sesudah revolusi Sovyet, dalam bulan November 1917, ikut serta dalam pemilihan-pemilihan justru untuk Konstituante ini, yang mereka bubarkan pada 5 Januari 1918 – hal ini tidak merintangi kaum Bolsyewik, melainkan sebaliknya, bahkan membantu mereka.

Di sini saya tidak dapat membicarakan soal kedua tentang perbedaan pendapat di kalangan kaum Komunis Inggeris – soal menggabungkan diri pada partai Buruh atau tidak. Terlalu sedikit bahan-bahan yang ada  pada saya mengenai soal ini, yang merupakan soal yang paling banyak seluk-beluknya berhubung dengan sifat yang sangat khas dari Partai Buruh Inggeris, yang susunannyapun sangat berlianan dari partai-partai politik  yang biasa di Daratan Eropa. Akan tetapi yang tak diragukan lagi, tentunya yalah, pertama, dalam soal ini juga mereka yang mencoba menyimpulkan taktik proletariat revolusioner dari prinsip-prinsip seperti: “Partai Komunis harus tetap menjaga kemurnian doktrinnya, dan kebebasannya dari reformisme tetap tidak ternoda; misinya yalah melangkah maju, tanpa berhenti atau membelok, menurut jalan yang langsung menuju revolusi Komunisme” – pasti akan salah. Karena prinsip-prinsip yang serupa itu adalah semata-mata merupakan pengulangan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh kaum Komunar Blanquis Perancis, yang dalam tahun 1874 memproklamasikan “penolakan” terhadap segala  macam kompromi dan   semua  stasiun  perantara. Kedua,  tidaklah  dapat

 

* Hasil pemilihan untuk Konstituante di Rusia dalam bulan Nopember 1917, yang didasarkan atas laporan yang meliputi lebih dari 36.000.000 pemilih, adalah sebagai berikut: kaum Bolsyewik memperoleh 25% dari suara, berbagai partai tuantanah dan burjuasi memperoleh 13% dan partai-partai burjuis-kecil demokratis, yaitu kaum Sosialis-Revolusioner, kaum Mensyewik dan beberapa grup kecil sebangsanya memperoleh 62%.

 

disangsikan lagi bahwa dalam hal ini juga, sebagaimana biasa, tugasnya yalah untuk menjadi pandai mentrapkan prinsip-prinsip umum dan pokok dari Komunisme pada kekhususan hubungan antara klas-klas dan partai-partai, pada kekhususan perkembangan obyektif menuju Komunisme, yang kahs di tiap negeri dan yang orang harus pandai mempelajari, menemukan, dan menerkanya.

Akan tetapi ininharus dibicarakan tidak dalam hubungan dengan Komunisme di Inggeris saja, tetapi juga dalam hubungan dengan kesimpulan-kesimpulan yang umum mengenai perkembangan Komunisme di semua negeri kapitalis. Kita sekarang beralih ke persoalan ini.

 

X

Beberapa kesimpulan

Revolusi burjuis Rusia pada tahun 1905 memperlihatkan suatu pembalikan yang sangat khas dalam sejarah dunia: di salah satu negeri kapitalis yang paling terbelakang gerakan pemogokan mencapai luas dan kekuatan yang belum pernah dilihat di manapun juga di dunia ini. Dalam bulan yang pertama dari tahun 1905 salaj jumlah kaum pemogok naik lebih sepuluh kali dari jumlah rata-rata saban tahun selama 10 tahun yang lalu (1895-1904), dan dari Januari sampai Oktober 1905 pemogokan-pemogokan terus meluas dan mencapai kebesarannya yang hebat sekali. Di bawah pengaruh beberapa keadaan sejarah yang samasekali khusus, Rusia yang terbelakang adalah yang pertama yang menunjukkan kepada dunia tidak hanya pertumbuhan, secara melompat-lompat, dari aktivitas yang bebas dari massa yang tertindas di mana revolusi (hal ini telah terjadi dalam semua revolusi yang besar), tetapi juga makna proletariat yang secara tidak terbatas sudah melebihi perbandingan jumlah dengan seluruh penduduk, suatu kombinasi dari pemogokan ekonomi dengan pemogokan politik, berubahnya pemogokan politik menjadi pemberontakan bersenjata, lahirnya bentuk baru dalam perjuangan massal dan organisasi massal klas-klas yang ditindas oleh kapitalisme, yaitu Sovyet-Sovyet.

Revolusi-revolusi Pebruari dan Oktober 1917 mengakibatkan perkembangan Sovyet-Sovyet yang menyeluruh dalam rangka nasional, dan kemudian kemenangannya dalam revolusi proletar, revolusi Sosialis. Dan sesudah kurang dari dua tahun menjadi nampak sifat internsional dari Sovyet-Sovyet, meluasnya bentuk perjuangan dan organisasi ini sampai pada gerakan klas buruh dunia, dan misi bersejarah Sovyet-Sovyet sebagaipenggali liang kubur, ahli-waris dan pengganti parlementerisme burjuis, dan demokrasi burjuis pada umumnya.

Lebih dari itu. Sejarah gerakan buruh sekarang menunjukkan bahwa di semua negeri ia harus mengalami (dan sudah mulai mengalami) perjuangan antara Komunis, yang sedang tumbuh, menjadi semakin kuat dan maju menuju kemenangan, dengan, pertama dan terutama sekali, “ Mensyewisme”-nya sendiri ( di masing-masing negeri) yaitu oportunisme dan sosial-sovinisme , dan kedua – boleh dikatakan, dalam bentuk tambahan – dengan Komunisme “Sayap Kiri”. Perjuangan pertama telah berkembang di semua negeri, rupanya dengan tiada suatu perkecualianpun, sebagai perjuangan antara Internasionale II (sesungguhnya sekarang sudah dimatkan) dan Internasionale III. Perjuangan kedua dapat dilihat di Jerman, Inggeris, Italia, Amerika (setidak-tidaknya, golongan tertentu dari “Kaum Buruh Industri Sedunia” dan aliran-aliran anarko-sindikalis mempertahankan kesalahan-kesalahan Komunisme Sayap-Kiri di samping hampir secara umum dan sepenuhnya menyetujui sistim Sovyet) maupun di Perancis (sikpa golongan bekas kaum sindikalis terhadap partai politik dan palementerisme, juga di samping menyetujui sistim Sovyet), yaitu dengan tak disangsikan lagi tidak hanya dalam ukuran yang meliputi seluruh dunia.

Akan tetapi melalui di mana-mana suatu latihan persiapan, yang menurut hakekatnya sma macamnya, untuk kemenangan atas burjuasi, gerakan klas buruh di masing-masing negeri melaksanakannya dengan caranya sendiri. Dalam pada itu di negeri-negeri kapitalis yang besar dan maju sedang berjalan di atas jalan ini dengan jauh lebih cepat dari pada Bolsyewisme, yang oleh sejarah diberi waktu 15 tahun untuk mempersiapkan diri, sebagai aliran politik yang terorganisasi, untuk mencapai kemenangan. Dalam waktu pendek selama setahun, Internasionale III telah memperoleh kemenangan yang menentukan; ia telah mengalahkan Internasionale II yang kuning, yang sosial-sovinis, yang bru beberapa bulan yang lalu adalah jauh lebih kuat daripada Internasionale III, yang nampaknya kokog dan kuat serta mendapat bantuan yang menyeluruh – langsung atau tidak langsung, materiil (kedudukan dalam Kabinet, paspor-paspor, pers) dan ideologi – dari burjuasi dunia.

Seluruh persoalannya sekarang yalah supaya kaum Komunis di tipa-tiap negeri dengan sepenuhnya sadar memperhitungkan tugas yang pokok dan prinsipiil dari perjuangan melawan oportunisme dan doktrinerisme “Kiri”, maupun kekhususan-kekhususan konkrit yang diperoleh dan pasti harus diperoleh oleh perjuangan ini di masing-masing negeri tersendiri sesuai dengan sifat-sifat yang khusus dari ekonomi, politik, kebudayaan, susunan nasionalnya (Irlandia, dan lain-lainnya), jajahan-jajahannya, perbedaan-perbedaan agamanya, dan seterusnya, dan sebagainya. Di mana-mana dirasakan, meluas dan bertambah besarnya ketidak-puasan terhadap Internasionale II karena oportunismenya, maupun karena tidak cakapnya atau tidak mampunya untuk menciptakan suatu badan sentral yang benar-benar terpusat, yang benar-benar memimpin, yang akan mampu mengemudikan taktik internasional dari proletariat revolusioner dalam perjuangannya untuk republik Sovyet sedunia. Kita harus mengerti dengan jelas bahwa pusat pimpinan yang demikian itu sekali-kali tidak boleh dibentuk menurut ketentuan-ketentuan taktik perjuangan yang dijiplak saja, yang disamakan secara mekanis dan yang serupa saja.  Selama masih ada perbedaan-perbedaan nasional dan kenegaraan antara bangsa-bangsa dan negeri-negeri – dan perbadaan-perbedaan ini akan terus tetap ada untuk waktu yang sangat lama malahan sampai sesudah diktatur proletariat didirikan di seluruh dunia – kesatuantaktik internasional dari gerakan klas buruh Komunis di semua negeri menuntut bukannya ditiadakannya keanekaragaman, dihapuskannya perbedaan nasional (ini adalah impian tolol pada saat sekarang) melainkan pentrapan prinsip-prinsip Komunisme yang pokok (kekuasaan Sovyet dan diktatur proletariat) sedemikian rupa sehingga  akan sekedar mengubah dengan tepat prinsip-prinsip ini dalam hal-hal yang khusus, dengan tepat menyesuaikan dan mempraktekkannya sesuai dengan perbedaan-perbedaan nasional dan kenegraan nasional. Menyelidiki, mempelajari, mencari, meramalkan, memahami apa yang khsus nasional, yang istimewa nasional dalam pendekatan konkrit dengan mana masing-masing negeri harus memecahkan pelaksanaan tugas internasional yang tunggal, dengan mana ia mencapai kemenangan atas oportunisme dan doktrinerisme “Kiri” di dalam gerakan klas buruh, menggulingkan burjuasi, dan mendirikan republik Sovyet dan diktatur proletariat – itulah tugas pokok dari saat sejarah yang sekarang dialami oleh semua negeri yang maju (dan tidak hanya yang maju). Yang pokok – bukannya segala-galanya, jauh daripada itu sudah tentu, tetapi yang pokok – dalam penarikan pelopor klas buruh, dalam peralihannya ke pihak kekuasaan Sovyet melawan pzrlementerisme, ke pihak diktatur proletariat melawan demokrasi burjuis, sudah tercapai. Sekarang segenap usaha, segenap perhatian harus dipusatkan pada langkah berikutnya yang nampaknya, dan dilihat dari sudut pandangan tertentu memang benar-benar kurang fundamentil, tetapi yang, sebaliknya, sesungguhnya lebih dekat pada pelaksanaan tugas secara praktis, yaitu: mencari bentuk-bentuk peralihan atau pendekatan ke revolusi proletar.

Pelopor proletar sudah direbut secara ideologi. Itulah yang pokok. Tanpa ini, langkah yang pertamapun ke arah kemenangan tak dapat diambil. Tetapi hal ini masih agak jauh dari kemenangan. Kemenangan tidak dapat diperoleh tidak hanya dengan pelopor saja. Melemparkan pelopor saja ke dalam pertempuran yang menentukan, sebelum seluruh klas, sebelum massa luas mengambil sikap langsung membantu pelopor, atau sekurang-kurangnya bersikap netral yang menguntungkan baginya, dan sikap yang samasekali tidak memungkinkan mereka menyokong musuh pelopor itu, akan berarti tidak hanya suatu kebodohan tetapi juga suatu kejahatan. Dan agar sungguh-sungguh seluruh klas, supaya sungguh-sungguh massa luas dari Rakyat pekerja dan mereka yang ditindas oleh kapital sampai pada sikap yang demikian itu, propaganda dan agitasi saja tidaklah cukup. Untuk ini mssa harus mempunyai pengalaman politik mereka sendiri. Demikianlah hukum pokok semua revolusi besar, yang kini diperkuat kebenarannya dengan mentakjubkan kuatnya dan jelas tidak hanya di Rusia tapi juga di Jerman. Tidak hanya bagi massa di Rusia yang tidak berkebudayaan, yang kebanykan butahuruf, tetapi juga bagi massa di Jerman yang sduah tinggi kebudayaannya, yang seluruhnya tahutulis telah menjadi perlu untuk menguji dengan pengalaman pahit mereka sendiri seluruh ketidakmampuan dan seluruh ketidakteguhan hati, seluruh tidak-berdayanya dan watak menjilatnya kepada burjuasi, seluruh kejadian pemerintah-pemerintah pahlawan-pahlawan Internasionale II, seluruh kenyataan bahwa diktatur kaum reaksioner yang ekstrim (Kornilov di Rusia 53, Kapp & Co. di Jerman 54) adalah tak terhindarkan sebagai satu-satunya alternatif dari diktatur proletariat, supaya dapat membelok dengan tegas ke arah Komunisme.

Tugas berikutnya dari barisan pelopor berkesedaran-klas dari gerakan buruh internasional, yaitu partai-partai, grup-grup dan aliran-aliran Komunis yalah mampu membawa massa yang luas ( yang sekarang kebanyakannya masih tidur, apatis, lamban, kolot, belum dibangkitkan) kedudukan mereka yang baru ini, lebih tepat, mampu memimpin tidak hanya partai mereka sendiri, tetapi juga massa ini, dalam usaha mereka mendekati dan beralih ke kedudukan baru. Sedang tugas sejarah yang pertama (yaitu menarik pelopor ploteraita yang berkesedaran klas ke pihak kekuasaan Sovjet dan diktatur klas buruh) tidak dapat diselesaikan tanpa kemenangan ideologi dan politik yang penuh atasoportunisme dan sisial-sovisme, maka tugas yang kedua , yang sekarang menjadi tugas yang langsung, dan yang berupa kemampuan membawa massa ke kedudukan baru yang dapat menjamin kemenangan pelopor dalam revolusi – tugas yang langsung ini tidak dapat diselesaikan tanpa memberantas doktrinerisme Kiri, tanpa mengatasi sepenuhnya kesalahan-kesalahan, tanpa meniadakan pada diri sendiri kesalahan-kesalahan itu.

Selama persoalannya telah mengenai (dan sejauh ini masih mengenai) penarikan pelopor proletariat ke pihak Komunisme, maka selama itu dan sampai sebegitu jauh, propagandalah yang tampil menduduki tempat pertama; pun grup-grup propaganda, dengan semua kelemahan grup-grup-ismenya, adalah berguna di sini dan menghasilkan buah-buah yang baik. Tetapi jika yang menjadi soal adalah aksi praktek dari massa, soal penempatan, kalau orang boleh mengatakannya demikian balatentara  yang berjuta-juta orangnya, soal pembagian  s e m u a kekuatan klas dalam masyarakat tertentu untuk pertempuran yang terakhir dan yang menentukan, maka dengan propaganda saja, pengulangan semata-mata kebenaran-kebenaran Komunisme yang “murni”, orang tidak dapat berbuat apa-apa. Di sini orang harus menghitung bukan dengan ribuan, seperti yang dilakukan oleh propagandis yang termasuk dalam suatu grup kecil yang belum memimpin massa; di sini orang harus menghitung dengan jutaan dan puluhan juta. Di sini kita harus tidak hanya bertanya pada  diri sendiri apakah kita telah meyakinkan pelopor klas revolusioner, tetapi jug apakah kekuatan-kekuatan yang efektif menurut sejarah dari semua klas – pasti dari semua klas dalam masyarakat tertentu tanpa terkecualian – sudah ditempatkan sedemikian rupa sehingga pertempuran yang menentukan sudah menjadi matang sepenuhnya; demikian rupa sehingga 1) semua kekuatan klas yang memusuhi kita sudah menjadi cukup kacaubalau, sudah cakar-cakaran satu sama lain, sudah cukup melemahkan mereka sendiri dalam perjuangan yang di luar kekuatan mereka; sehingga 2) semua elemen tengah yang bimbang, ragu-ragu, tidak teguh, yaitu burjuasi kecil, berbeda dengan burjuasi, telah cukup menelanjangi diri mereka di mata Rakyat, telah ckup membikin malu diri mereka dengan kebangkrutan parktis mereka; dan sehingga 3) pada proletariat telah timbul dan mulai tumbuh dengan perkasa sentimen massa yang menyokong aksi yang paling tegas, luarbiasa berani, dan revolusioner melawan burjuasi. Maka barulah revolusi memang sudah matang; barulah kemenangan, jika kita telah memperhitungkan dengan tepat semua syarat yang ditunjukkan di atas, yang digambarkan di atas dengan ringkas itu, dan jika kita memilih saatnya dengan tepat, barulah kemenangan kita menjadi terjamin.

Perbedaan pendapat antara kaum Churchill dan kaum Lloyd George – dengan perbedaan nasional yang kecil sekali, anasir-anasir yang tipe politik ini ada di semua negeri – di satu pihak, dan antara kaum Henderson dengan kaum Lloyd George di pihak lain, adalah suatu yang remeh-temeh dan samasekali tak berarti dilihat dari sudut Komunisme yang murni, yaitu Komunisme yang abstrak, yaitu Komunisme yang belum matang untuk tingkatan aksi politik praktis dan massal. Tetapi dilihat dari sudut aksi praktis dari massa ini, perbedaan ini adalah sungguh sangat penting sekali. Memperhitungkan perbedaan-perbedaan ini, menentukan saat di mana bentrokan-bentrokan  yang tak terelakkan  di antara “sahabat-sahabat” ini, yang melemahkan dan melumpuhkan semua “sahabat” ini dalam keseluruhannya, sudah matang sepenuhnya – itulah pokok persoalannya, seluruh tugas dari seorang Komunis yang tidak hanya mau menjadi propagandis yang berkesedaran-kals dan berkeyakinan secara ideologi, tetapi juag menjadi pemimpin  yang praktis dari massa dalam revolsui. Kesetiaan yang paling sungguh terhadap cita-cita Komunisme harus dihubungkan dengan kecakapan untuk melakukan semua kompromi yang praktis yang diperlukan, melakukan manuver, mengadakan persetujuan-persetujuan, membelok-belok, mengambil langkah-langkah mundur, dan lain-lain, agar dapat mempercepat tercapainya , dan hilangnya, kekuasaan politik dari kaum Henderson (pahlawan-pahlawan Internasionale II, jika kita tidak menyebut orang-seorang, wakil-wakil demokrasi burjuis kecil yang menamakan dirinya kaum Sosialis); mempercepat kebangkrutan mereka yang pasti dalam praktek, yang akan membuka pikiran massa justru dalam semangat cita-cita kita, justru ke arah Komunisme; mempercepat pergeseran-pergeseran, pertengkaran-pertengkaran, pemberontakan-pemberontakan yang tak terelakkan dan perpecahan-perpecahan yang sungguh-sungguh antara kaum Henderson – kaum Lloyd George – kaum Churchill (kaum Mensyewik dan kaum Sosialis-Revolusioner – kaum Kadet – kaum monarkis; kaum Scheidemann – burjuasi – kaum Kappis dan sebagainya); dan denga tepat memilih saat di mana perpecahan antara semua “sandaran hak milik perseorangan yang suci” ini sedang memcapai puncaknya, supaya dengan serangan yang menentukan dari proletariat mematahkan mereka semua dan merebut kekuasaan politik.

Sejarah pada umumnya, dan sejarah revolusi-revolusi pada khususnya, selamanya lebih kaya isinya, lebih beraneka ragam, lebih banyak seginya, lebih hidup dan “cerdik” daripada yang dibayangkan oleh partai-partai yang paling baik dan pelopor-pelopor yang paling berkesedaran-klas dari klas-klas yang paling maju sekalipun. Dan ini mudah dimengerti karena pelopor-pelopor yang paling baikpun menyatakan kesadaran, kemauan, nafsu dan fantasi dari puluhan ribu; sedangkan revolusi-revolusi dibuat, pada saat kebangkitan istimewa dan pengerahan seluruh kapsitas manusia, oleh kesadaran, kemauan, nafsu dan fantasi dari puluhan juta, yang didorong terus oleh perjuangan klas-klas yang paling sengit. Dari sini timbullah dua kesimpulan praktis yang sangat penting: pertama, bahwa untuk dapat memenuhi tugasnya klas revolusioner harus menjadi pandai menguasai semua bentuk, atau segi, dari aktivitas sosial tanpa perkecualian sedikit-sedikitnyapun (menyelesaikan, sesudah merebut kekuasaan politik, kadang-kadang dengan menghadapi risiko besar dan bahaya yang sangat besar, apa yang tidak ia selesaikan sebelum perebutan kekuasaan itu); kedua, bahwa klas revolusioner harus siap sedia untuk beralih secara paling cepat dan paling tak terduga-duga dari satu bentuknya ke bentuk yang lain.

Setiap orang akan setuju bahwa suatu tentara yang tidak melatih dirinya untuk menguasai segala macam senjata, segala cara dan metode peperangan yang dimiliki atau mungkin dimiliki oleh musuh, bertindak tak bijaksana atau malahan jahat. Tetapi hal ini lebih-lebih lagi berlaku dalam politik daripada dalam bidang militer. Dalam politik malahan lebih sukar lagi untuk meramalkan metode-metode perjuangan apa yang akan dapat digunakan dan yang menguntungkan kita dalam keadaan-keadaan tertentu di masa depan. Jika kita tidak menguasai segala cara perjuangan, kita dapat menderita kekalahan besar, bahkan seringkali kekalahan yang menentukan, jika, di luar kemauan kita, perubahan-perubahan dalam kedudukan klas-klas lain mengedepankan dalam acara bentuk aktivitas di mana kita terutama lemah. Akan tetapi jika kita menguasai segala cara perjuangan, kemenangan akan pasti pada pihak kita, sebab kita mewakili kepentingan-kepentingan klas yang benar-benar termaju dan yang benar-benar revolusioner, sekalipun jika keadaan tidak mengijinkan kita menggunakan senjata-senjata yang paling berbahaya bagi musuh, senjata-senjata yang memberikan pukulan-pukulan yang menghancurkan dengan paling cepat. Kaum revolusioner yang belum berpengalaman kerapkali berpendapat bahwa cara-cara perjuangan legal adalah oportunis, sebab dalam lapangan ini burjuasi terutama sekali sering (terutama sekali di masa “damai”, di sama non revolusioner) menipu dan memperdayakan kaum buruh dan bahwa cara-cara perjuangan ilegal adalah revlusioner. Tetapi ini tidak benar. Yang benar yalah bahwa kaum oportunis dan pengkhianat klas buruh adalah partai-partai dan pemimpin-pemimpin yang tidak  mampu atau tidak mau (jangan mengatakan kamu tidak mampu, katakan kamu tidak mau) menggunakan cara-cara perjuangan ilegal dalam keadaan-keadaan seperti yang berlaku, misalnya, di masa perang imperialis tahun 1914-1918, ketika burjuasi di negeri-negeri demokratis yang paling merdeka menipu kaum buruh dengan cara yang kurang ajar dan ganas hingga tak ada taranya, dengan melarang orang menerangkan kebenaran tentang watak perampokan dari peperangan itu. Tapi kaum revolusioner yang tidak mampu menghubungan bentuk-bentuk perjuangan ilegal dengan segala bentuk perjuangan legal adalah sungguh kaum revolusioner yang jelek. Tidaklah sukar untuk menjadi seorang revolusioner di waktu revolusi sudah meletus dan sedang memuncak, di waktu segala dan setiap macam orang menceburkan diri dalam revolusi, karena ia menarik hati mereka dengan begitu saja, karena ia sedang menjadi mode, dan malahan kadang-kadang karena orang-orang itu didorong nafsu mencari kedudukan. “Pembebasan” diri dari kaum revolusioner gadungan itu memerlukan dari proletariat, nanti, sesudah kemenangannya, pekerjaan yang bukan main beratnya, bahkan boleh dikatakan penderitaan yang luarbiasa. Adalah jauh lebih sukar – dan jauh lebih berharga – untuk menjadi seorang revolusioner di waktu syarat perjuangan yang langsung, yang terbuka yang benar-benar massal dan benar-benar revolusioner, belum ada, untuk menjadi pandai membela kepentingan-kepentingan revolusi (dengan propaganda, agitasi dan organisasi) dalam badan-badan non-revolusioner dan sering sekali yang reaksioner terang-terangan, dalam situasi non-revolusioner, di kalangan massa yang tidak bisa dengan segera  menginsyafi perlunya cara-cara, aksi-aksi revolusioner. Menjadi pandai mencari, merasakan, menentukan dengan tepat jalan yang konkrit atau perubahan keadaan yang khusus yang akan membawa massa ke perjuangan revolusioner  yang sesungguhnya, yang terkahir, yang menentukan dan agung – demikianlah tugas pokok Komunisme di eropa Barat dan Amerika pada dewasa ini.

Contoh: Inggeris. Kita tidak dapat mengatakan, dan tidak ada seorangpun yang dapat menentukan sebelumnya, berapa lama lagi revolusi proletar yang sesungguhnya akan berkobar di sana, dan apa yang menjadi sebab langsung yang lebih daripada  yang lain-lain akan membangkitkan, mengobarkan dan mendorong massa yang sangat laus, yang pada waktu sekarang ini masih tidur, ke dalam perjuangan. Oleh karena itu, kita harus melakukan semua pekerjaan persiapan kita dengan begitu rupa sehingga “ke empat-empat kita lengkap bersepatu” (sebagaimana mendiang Plekhanov, ketika dia masih merupakan seorang Marxis dan revolusioner, suka mengatakannya). Mungkin bahwa “perpecahan” akan dipaksakan, “es akan pecah” oleh krisis parlementer, atau oleh suatu krisis yang timbul dari kontradiksi-kontradiksi kolonial dan imperialias, yang kusut-masai tak berpengharapan, yang tersusun semakin menyakitkan, yang semakin menjadi tajam, atau mungkin oleh sesuatu sebab ketiga, dan sebagainya. Kita tidak membicarakan macam perjuangan apa yang akan menentukan nasib revolusi proletar di Inggeris (tak ada seorang Komunispun yang menyangsikan hal ini; bagi kita semua soal ini sudah pasti, dan sudah pasti betul); yang kita bicarakan yalah sebab langsung yang akan mendorong untuk bergerak massa revolusioner yang pada waktu sekarang ini masih tidur, dan membawa mereka langsung ke revolusi. Janglah kita lupakan bahwa di republik burjuis Perancis, misalnya, dalam situasi yang dilihat baik dari sudut internasional maupun nasional adalah seratus kali kurang revlusioner daripada di waktu sekarang, suatu sebab langsung yang begitu “tidak terduga-duga” dan “kecil” seperti salah satu dari ribuan akal bulus yang licik dari golongan militeris yang reaksioner (peristiwa Dreyfus 55), adalah cukup untuk membawa Rakyat ke tepi jurang perang sipil!

Kaum Komunis di Inggeris harus terus menerus, dengan tidak henti-hentinya dan dengan teguh menggunakan baik pemilihan-pemilihan untuk parlemen, maupun segala kesukaran politik mengenai Irlandia, politik kolonial dan politik internasional imperialis dari pemerintah Inggeris, dan semua lapangan, lingkungan dan segi lainnya dari kehidupan masyarakat, dan bekerja dalam semuanya irtu menurut cara Komunis, menurut semangat Internasionale III dan bukan Internasionale II. Saya tidak mempunyai waktu ataupun ruangan untuk melukiskan di sini cara-cara “Rusia”, “Bolsyewik”, dalam mengambil bagian dalam pemilihan-pemilihan  untuk parlemen dan dalam perjuangan parlementer; tetapi saya dapat mengatakan dengan pasti kepada kaum Komunis di luarnegeri bahwa itu adalah samasekali beralianan dengan kampanye-kampanye parlemen yang baiasa di eropa Barat. Dari sini sering ditarik kesimpulan: “Ya, itu adalah di Rusia; parlemeterisme di negeri kita adalah lain”. Suatu kesimpulan yang salah. Tetapi itulah justru mengapa di dunia ini ada kaum Komunis, pengikut-pengikut Internasionale III di semua negeri – supaya mengubah, dalam keseluruhannya, dalam semua lapangan kehidupan, cara bekerja Sosialis, serikatburuh, sindikalis, parlementer yang lama menjadi cara bekerja yang baru, cara bekerja Komunis. Di Rusia juga selalu ada cukup banyak, betul-betul cukup banyak cara oportunis dan cara dagang burjuis, kapitalis penipuan semata-mata  dalam pemilihan-pemilihan. Kaum Komunis di Eropa Barat dan di Amerika harus belajar menciptakan suatu parlementerisme baru, yang tidak sepeti biasa, tidak oportunis dan tidak bersifat mencari kedudukan; partai-partai Komunis harus mengeluarkan semboyan-semboyan mereka; kaum proletar yang sejati, dengan bantuan kaum melarat yang samasekali terinjak-injak yang tidak terorganisasi, harus menyebarkan dan membagibagi selebaran, mengunjungi rumah-rumah kaum buruh dan pondok-pondok kaum proletar desa serta kaum tani di desa-desa yang terpencil (untunglah di Eropa jumlah desa yang terpencil jauh lebih sedikit daripada di Rusia, sedangkan jumlah desa demikian di Inggeris sedikit sekali); merka harus pergi ke warung-warung kopi Rakyat jelata, memasuki perkumpulan-perkumpulan perhimpunan-perhimpunan dan rapat-rapat yang diadakan secara kebetulan, di mana berkumpul orang-orang yang paling biasa, dan berbicara kepada Rakyat tidak dalam bahasa terpelajar (dan tidak terlalu parlementer); mereka samasekali tidak boleh berusaha untuk “mendapat kursi” di dalam parlemen, tetapi di mana-mana harus berusaha menggugah pikiran massa dan menari mereka ke dalam perjuangan, memegang burjuasi pada kata-katanya dan menggunakan aparatur yang telah didirikan burjuasi itu, pemilihan-pemilihan yang telah ia tetapkan, seruan-seruan yang telah ia bikin kepada seluruh Rakyat, dan menerangkan kepada Rakyat apa itu Bolsyewisme, dengan cara yang tidak mungkin (di bawah kekuasaan burjuasi) di luar masa pemilihan ( sudah tentu selain daripada di masa pemogokan besar ketika alat yang serupa itu dari agitasi yang meliputi seluruh Rakyat bekerja di Rusia kami lebih keras lagi). Melakukan ini di Eropa dan di Amerika adalah sangat sukar, sukar sekali; tetapi itu dapat dan harus dilakukan, karena tugas-tugas Komunisme tidak dapat dilaksanakan tanpa kesukaran; dan usaha-usaha kita harus ditujukan untuk melaksanakan tugas-tugas praktis, yang semakin bermacam-macam dan semakin rapat berhubungan dengan semua bidang kehidupan sosial, yang semakin lama, semakin merebut cabang demi cabang, dan lapangan demi lapangan dari burjuasi.

Di Inggeris itu juga pekerjaan propaganda, agitasi dan oraganisasi di kalangan  angkatan bersenjata dan di kalangan nasionalitas-nasionalitas yang tertindas dan yang tidak mempunyai hak penuh  di negerinya “sendiri” (Irlandia, koloni-koloni) juga harus dilaukanmenurut cara baru (bukan menurut cara Sosialis, melainkan menurut cara Komunis, bukan menurut cara reformis, melainkan menurut cara revolusioner). Sebab semua lapangan kehidupan sosial ini, pada zaman imperilaisme pada umumnya, dan terutama sekali sekarang, sesudah perang, yang merupakan suatu siksaan bagi Rakyat-Rakyat dan dengan cepat membuka mata mereka akan kebenaran (yaitu bahwa puluhan juta orang tewas dan menderita cacat hanya karena untuk maksud menentukan apakah binatang-binatang buas Inggeris dan Jerman yang akan merampok lebih banyak negeri), — semua lapangan kehidupan sosial ini menjadi terutama penuh dengan bahan peledak dan melahirkan terutama banyak sebab-sebab bentrokan-bentrokan, krisis-krisis dan bertambah tajamnya perjuangan klas. Kita tidak dan tidak dapat tahu percikan api mana – dari percikan api yang tak terhitung banyaknya dan yang berterbangan di semua negeri sebagai akibat krisis ekonomi dan politik dunia – yang akan dapat menyalakan kebakaran, dalam arti membangkitkan massa secara istimewa, dan karena itu kita harus, dengan bantuan prinsip-prinsip Komunis kita yang baru, mulai bekerja untuk “membangkitkan” setiap dan segala macam lapangan biarpun yang paling tua, paling lapuk dan yang nampaknya sudah tidak ada harapan lagi, karena kalau tidak , kita tidak akan dapat memenuhi tugas-tugas kita, tidak akan mempunyai persiapan segala segi, tidak akan menguasai segala macam senjata dan tidak akan mempersiapkan diri baik untuk mencapai kemenangan atas burjuasi (yang mengatur segenap lapangan kehidupan sosial – dan yang sekarang telah mengacaukannya – menurut cara burjuis), maupun untuk mencapai reorganisasi Komunis yang akan datang terhadap seluruh kehidupan sesudah tercapainya kemenangan itu.

Sesudah revolusi proletar di Rusia dan kemenangan-kemenangannya dalam rangka internasional, yang tak terduga-dyga bagi burjuasi dan kaum filistin, seluruh duania telah berubah, dan di mana-mana juga burjuasi telah berubah. Ia takut pada “Bolsyewisme”, menjadi begitu amarah karenanya sehingga hampir mengamuk, dan justru karena itulah ia, di satu pihak, mempercepat perkembangan peristiwa-peristiwa dan, di pihak lian, memusatkan perhatian untuk menindas Bolsyewisme dengan kekerasan, dan dengan demikian melemahkan kedudukannya sendiri di banyak lapangan lain. Kaum Komunis di semua negeri yang sudah maju harus memperhitungkan kedua hal ini dalam menentukan taktik mereka.

Ketika kaum Kadet Rusia dan Kerenski melancarkan kampanye pengejaran yang gila-gilaan terhadap kaum Bolsyewik – terutama sejak bulan April 1917, dan lebih-lebih lagi dalam bulan Juni dan Juli 1917 – mereka telah bertindak berlebih-lebihan. Jutaan eksemplar suratkabar-suratkabar burjuis, yang berteriak-teriak dengan segala nada mencaci-maki kaum Bolsyewik, membantu mempengaruhi massa untuk menilai Bolsyewisme; dan, kecuali suratkabar-suratkabar, seluruh kehidupan masyarakat dipenuhi dengan perdebatan-perdebatan tentang Bolsyewisme justru karena “ketekunan” burjuasi. Sekarang secara internasional kaum milyuner di semua negeri bertindak sedemikian rupa sehingga kita harus berterimakasih kepada mereka dari lubuk hati kita. Mereka mengejar-kejar Bolsyewisme dengan nafsu seperti yang dilakukan  oleh Kerenski & Co.; mereka demikian juga bertindak “berlebih-lebihan” dan demikian juga membantu kita seperti yang dilakukan oleh Kerenski. Pada waktu burjuasi Perancis menjadikan Bolsyewisme  soal yang pokok dalam agitasi pemilihan, dengan menuduh kaum Sosialis yang agak moderat atau yang bimbang-bimbang sebagai kaum Bolsyewik; ketika burjuasi Amerika, karena sudah samasekali kehilangan akal, menangkap beribu-ribu orang karena dicurigai menganut Bolsyewisme, dan menimbulkan suasana panik dengan menyiarkan di mana-mana dongengan-dongengan tentang komplotan-komplotan Bolsyewik; ketika burjuasi Inggeris – yang paling “serius” di dunia – kendatipun semua kepinteran dan pengalamannya, membuat ketololan-ketololan yang tak masuk akal, mendirikan “perkumpulan-perkumpulan anti Bolsyewik” yang banyak diberi beaya, mengeluarkan literatur yang khusus tentang Bolsyewisme, dan menyewa jumlah tambahan sarjana-sarjana, agitator-agitator dan pastor-pastor untuk memerangi Bolsyewisme – Kita harus membungkukkan diri dan berterimakasih kepada tuan-tuan kapitalis. Mereka bekerja untuk kita. Mereka membantu kita supaya massa menaruh perhatian kepada hakekat dan makna Bolsyewisme.Dan mereka tidak dapat berbuat lain; karena menindas Bolsyewisme, “membungkamkannya”, mereka sudah tak berhasil.

Akan tetapi dalam pada itu burjuasi hampir semata-mata hanya melihat satu segi saja dari Bolsyewisme, yaitu pemberontakan, kekerasan, teror; karena itu burjuasi berusaha mempersiapkan diri untuk mengadakan pertahanan dan perlawanan terutama sekali dalam lapangan ini. Mungkin bahwa dalam kejadian-kejadian  tertentu, di negeri-negeri tertentu, dan untuk berapa masa yang pendek, mereka akan berhasil dalam hal ini; kita harus memperhitungkan kemungkinan serupa itu, dan bagi kita samasekali tak ada hal yang menakutkan jika mereka betul akan berhasil. Komunisme “tumbuh” betul-betul dari segala penjuru lapangan kehidupan masyarakat; tunas-tunasnya sungguh-sungguh dapat dilihat di mana-mana, “penyakit menular” (menggunakan kiasan yang paling disukai oleh burjuasi dan polisi burjusi, kiasan yang paling “sedap” bagi mereka) telah merasuk dalam sekali ke organisme dan telah sepenuhnya menyerapi seluruh organisme. Jika denga ketelitian khusus mencoba “menyumbat” salah satu saluran, maka “penyakit menular” akan mencari saluran yang lain, kadang-kadang yang tak terduga-duga samasekali. Kehidupan akan pasti mendapat apa yang hak baginya. Biarkan burjuasi mengamuk, marah sampai membuat gila diri sendiri, bertindak secara berlebih-lebihan, membuat ketololan-ketololan, belum apa-apa sudah melakukan balas dendam kepada kaum Bolsyewik, dan berusaha membunuh ( di India, Hongaria, Jerman, dan lain-lain) ratusan, ribuan, dan ratusan ribu lagi kaum Bolsyewik lama dan Bolsyewik-Bolsyewik hari esok: dengan berbuat demikian, burjuasi sedang melakukan tindakan seperti yang telah dilakukan oleh semua klas yang sudah ditakdirkan oleh sejarah untuk mati. Kaum Komunis harus tahu bahwa bagaimanapun juga hari kelak adalah kepunyaan mereka; karena itu kita dapat (dan harus) menghubungkan nafsu yang sangat keras dalam perjuangan revolusioner yang agung dengan perhitungan yang paling tenang dan waras tentang tindakan-tindakan mata gelap tentang dari burjuasi. Dalam tahun 1905 revolusi Rusia dikalahkan secara kejam; dalam bulan Juli 1917 kaum Bolsyewik Rusia dikalahkan; lebih dari 15.000 kaum Komunis Jerman dibunuh sebagai akibat provokasi yang curang dan manuver-manuver yang licik dari Scheidemann dan Noske yang bekerja erat dengan burjuasi dan jendral-jendral monarkis; teror putih sedang mengganas di Finlandia dan Hongaria. Akan tetapi dalam segala hal dan di semua negeri Komunisme menjadi terbaja dan terus tumbuh; akar-akarnya begitu dalam sehingga pengejaran-pengejaran tidak melemahkan, tidak melumpuhkan, melainkan malah memperkuatnya. Hanya satu hal yang kurang untuk memungkinkan kita maju dengan lebih yakin dan etguh menuju kemenangan, yaitu, pengertian yang umum dan yang dipikirkan dalam-dalam dari kaum Komunis di semua negeri tentang keharusan memperlihatkan keluwesan yang setinggi-tingginya dalam taktik mereka. Gerakan Komunis, yang sedang berkembang dengan hebat, terutama sekali di negeri-negeri yang sudah maju, sekarang kekurangan pengertian ini dan kecakapan untuk menggunakannya dalam praktek.

Apa yang telah terjadi pada pemimpin-pemimpin Internasionale II, kaum Marxis yang sangat terpelajar dan yang mencurahkan diri kepada Sosialisme seperti Kautsky, Otto Bauer dan lain-lainnya lagi, dapat (dan seharusnya) menjadi pelajaran yang berguna. Mereka sepenuhnya menginsyafi akan keharusan taktik yang luwes; mereka sendiri belajar dan mengajar orang lain dialektika Marxis (dan banyak yang telah mereka lakukan dalam hal ini untuk selama-lamanya akan tetap merupakan sumbangan yang berharga bagi literatur Sosialis); tetapi dalam pentrapan dialektika ini mereka membuat kesalahan yang begitu rupa, atau ternyata dalam praktek menjadi begitu tidak dialektis, menjadi orang-orang yang begitu tidak mampu memperhitungkan perubahan yang cepat dari bentuk-bentuk dan diperolehnya dengan cepat isi baru oleh bentuk-bentuk lama, sehingga nasib mereka tidak banyak menimbulkan irihati daripada  nasib Hyndman, Guesde dan Plekhanov. Sebab yang pokok dari kebangkrutan mereka yalah bahwa mereka “terpesona” oleh satu bentuk tertentu dari pertumbuhan gerakan klas buruh dan Sosialisme, mereka lupa akan berat-sebelahnya bentuk ini, mereka takut melihat perubahan yang mutlak yang karena keadaan-keadaan obyektif menjadi tak terhindarkan, dan terus mengulang-ulangi kebenaran-kebenaran yang sederhana, menurut apalan dan yang sepintas-lalu, tidak bisa dibantah lagi, seperti “tiga adalah lebih dari dua’. Akan tetapi politik akan lebih menyerupai aljabar daripada ilmu hitung; dan lebih lagi menyerupai ilmu pasti tinggi daripada ilmu pasti permulaan. Dalam kenyataannya, semua bentuk lama dari gerakan Sosialis telah memperoleh isi baru, dan, oleh karena itu, suatu tanda baru, tanda “minus”, telah muncul di muka angka-angka, sedanagkan orang-orang congkak yang menyangka pandai sendiri ini dengan keras kepala pernah terus (dan masih terus) meyakinkan diri mereka sendiri dan orang-orang lain bahwa “minus tiga” adalah lebih dari “minus dua”!

Kita harus mengusahakan supaya kaum Komunis tidak membuat kesalahan yang sama, hanya dari segi yang lain; atau, lebih tepat, kita harus mengusahakan supaya kesalahan yang sama, yang diperbuat, hanya dari segi jalan lain, oleh kaum Komunis “Kiri”, diperbaiki selekas mungkin dan diatasi secepat mungkin dan dengan sedikit mungkin menimbulkan rasa sakit. Bukan hanya doktrinerisme Kanan saja yang merupakan suatu kesalahan; doktrinerisme Kiri juga adalah suuatu kesalahan. Tentu saja, kesalahan doktrinerisme Kiri dalam Komunisme pada waktu sekarang ini seribu kali kurang berbahaya dan kurang berarti daripada kesalahan doktrinerisme Kanan (yaitu sosial-sovinisme dan Kautkyisme); tetapi bukankah hal itu hanyalah karena kenyataan bahwa Komunisme Kiri adalah suatu aliran yang masih muda sekali, yang baru saja sedang lahir. Hanya karena sebab inilah bahwa, dengan syarat-syarat tertentu, penyakit itu dapat diobati dengan mudah; dan kita harus mulai bekerja untuk mengobatinya dengan segenap kekuatan.

Bentuk-bentuk yang lama telah pecah, karena ternyata bahwa isi baru mereka – dan isi yang anti proletar serta reaksioner – telah mencapai perkembangan yang berlebih-lebihan. Kini pekerjaan kita, (untuk kekuasaan Sovyet, untuk diktatur proletariat), dilihat dari sudut perkembangan Komunisme internasional, mempunyai isi yang begitu teguh, begitu kuat dan begitu perkasa sehingga ia dapat dan harus memperlihatkan diri dalam setiap bentuk, baik yang baru maupun yang lama, ia dapat dan harus melahirkan kembali, menaklukkan dan menguasai semua bentuk, tidak hanya yang baru, tetapi juga yang lama – bukan dengan maksud mendamaikan diri dengan yang lama, melainkan dengan maksud menjadi pandai membikin semua dan setiap bentuk – yang baru dan yang lama – menjadi suatu senjata guna mencapai kemenangan Komunis yang penuh, terakhir, menentukan dan pasti.

Kaum Komunis harus melakukan segala usaha untuk memimpin gerakan klas buruh dan perkembangan sosial pada umumnya menurut jalan yang paling lurus dan paling cepat ke arah kemenangan kekuasaan Sovyet dan diktatur proletariat di seluruh dunia. Ini adalah suatu kebenaran yang tak terbantah lagi. Tetapi hanya cukup dengan mengambil satu langkah lebih jauh sedikit – suatu langkah yang mungkin nampaknya ke arah yang sama – maka kebenaran itu akan menjadi suatu kesalahan. Kita cukup hanya mengatakan, sebagaimana dikatakan oleh kaum Komunis Kiri Jerman dan Inggeris, bahwa kita hanya mengakui satu jalan, hanya jalan yang langsung, bahwa kita tidak membolehkan manuver, persetujuan, kompromi – dan itu sudah menjadi suatu kesalahan yang dapat menimbulkan, dan sebagian sudah, serta sedang menimbulkan, kkerugian yang besar sekali bagi Komunisme. Doktrinerisme Kanan berkers kepala hanya mengakui bentuk-bentuk yang lama, dan menjadi bangkrut samasekali, karena ia tidak melihat isi yang baru. Doktrinerisme Kiri berkeras kepala menolakk dengan tak bersyarat bentuk-bentuk lama yang tertentu, dengan tak melihat bahwa isi yang baru sedang menerobos melalui semua dan segala macam bentuk, bahwa kewajiban kita sebagai kaum Komunis yalah menguasai semua bentuk, belajar, dengan kecepatan yang maksimum, bagaimana menambah satu bentuk dengan bentuk lain, menggamtikan satu bentuk dengan bentuk yang lainnya, dan menyesuaikan taktik kita dengan setiap perubahan yang ditimbulkan bukan oleh klas kita, ataupun oleh usaha-usaha kita.

Revolusi dunia telah didorong dan dipercepat begitu hebat oleh kengerian-kengerian, kekejian dan kebengisan-kebengisan perang dunia imperialis dan oleh keadaan yang tak memberikan harapan yang telah ia ciptakan, — revolusi ini sedang berkembangmeluas dan mendalam dengan kecepatan yang begitu hebat, dengan kekayaan bentuk-bentuk yang berganti-ganti yang begitu gemilang, dengan bantahan yang mengandung pelajaran dan praktis terhadap segala macam doktrinerisme, sehingga terdapat segala alasan untuk mengharapkan sembuhnya samasekali dengan cepat gerakan Komunis internasional dari penyakit kanak-kanak Komunisme “Sayap Kiri”.

 

27 April 1920.

 

 

T a m b a h a n

Sebelum penerbit-penerbit di negeri kami – yang telah dirampok oleh kaum imperialis seluruh dunian dalam membalas dendam kepada revolusi proletar, dan yang masih dirampok dan diblokade oleh mereka dengan tidak mengindahkan semua janji-janji yang telah mereka berikan kepada kaum buruh mereka – sebelum penerbit-penerbit kami berhasil mengeluarkan brosur saya, bahan-bahan tambahan telah sampai dari luarnegeri. Dengan samasekali tidak berpretensi bahwa saya dalam brosur saya menjadikan sesuatu yang lebih daripada catatan-catatan sepintas-lalu dari seorang publisis, saya akan menyinggung beberapa soal dengan singkat.

 

 

I

Perpecahan di kalangan kaum Komunis Jerman

Perpecahan di kalangan kaum Komunis di Jerman telah menjadi suatu kenyataan. Kaum “Kiri” atau “oposisi prinsipiil”, telah membentuk suatu “Partai Buruh Komunis” yang tersendiri, yang berbeda dengan “Partai Komunis”. Rupa-rupanya, suatu perpecahan juga akan segera terjadi di Italia – saya katakan rupa-rupanya, karena saya hanya mempunyai dua nomor baru (no. 7 dan 8) dari suratkabar Kiri, Il Soviet (Sovyet), di mana kemungkinan dan keharusan suatu perpecahan dibicarakan dengan terang-terangan, dan dalam pada itu juga dibicarakan tentang Kongres faksi “Abstentionist” (atau kaum boikotis, yaitu orang-orang yang menentang pengambilan bagian dalam parlemen), faksi mana masih merupakan bagian dari Partai Sosialis Italia.

Ada alasan untuk merasa kuwatir bahwa perpecahan dengan kaum “Kiri”, kaum anti-parlemen (sebagian juga kaum anti-politik, lawan-lawan partai politik dan yang menentang bekerja di dalam serikatburuh-serikatburuh) akan menjadi suatu gejala internasional, seperti perpecahan dengan kaum “Sentris” (atau kaum Kautskyis, kaum Languetis, kaum “Merdeka”, dan sebagainya). Biarlah jikapun demikian. Bagaimanapun juga, suatu perpecahan adalah lebih baik daripada canpur-aduk yang menghambat pertumbuhan partai, menjadi matangnya secara ideologi, teori dan revolusioner, serta pekerjaan prakteknya yang harmonis, yang benar-benar terorganisasi, yang benar-benar melapangkan jalan dari diktatur proletariat.

Biar kaum “Kiri” mengalami sendiri ujian praktek secara nasional dan internasional; biarkan mereka mencoba mempersiapkan (dan kemudian melaksanakan) diktatur proletariat tanpa suatu partai  yang disentralisasi keras dan memiliki disiplin baja, tanpa kecakapan untuk menguasai setiap lapangan, setiap cabang, setiap macam pekerjaan politik dan kebudayaan. Pengalaman praktek akan segera membikin mereka lebih pintar.

Yang hanya diperlukan yalah mengerahkan segala usaha mencegah perpecahan dengan kaum “Kiri” itu menghambat, atau berusaha ini menghambat sesedikit mungkin, tergabungnya menjadi satu partai yang diperlukan – yang tidak boleh tidak terjadi di masa dekat – dari semua peserta gerakan klas buruh, yang secara tulus dan jujur menyokong kekuasaan Sovyet dan diktatur proletariat. Adalah untung sekali bagi kaum Bolsyewik di Rusia bahwa mereka telah mempunyai waktu 15 tahun untuk perjuangan yang sistimatis dan yang dilaksanakan sampai selesai dalam menentang baik kaum Mensyewik (yaitu, kaum oportunis dan kaum “Sentris”) maupun kaum “Kiri”, lama sebelum mulai perjuangan massa yang langsung untuk diktatur proletariat. Orang-orang di Eropa dan Amerika sekarang terpaksa melakukan pekerjaan serupa itu dengan “tempo-tempo yang dipercepat”. Oknum-oknum tertentu, terutama sekali di antara orang-orang yang menuntut jadi pemimpin tapi tidak berhasil, dapat (jika mereka tidak mempunyai cukup disiplin proletar dan tidak cukup “jujur terhadap diri sendiri”) terus bertahan pada kesalahan-kesalahan mereka untuk waktu yang lama; tetapi apabila sudah datang waktunya, massa kaum buruh dengan sendiri akan dengan mudah dan cepat bersatu dan mempersatukan semua kaum Komunis yang jujur dalam satu partai yang mampu mewujudkan sitism Sovyet dan diktatur proletariat*.

 

 

  • Mengenai soal fusi kaum Komunis “Kiri”, kaum anti-parlemen, dengan kaum Komunis pada umumnya di kemudian hari, saya akan memberikan catatan tambahan sebagai berikut. Sepanjang yang dapat saya ketahui dari suratkabar-suratkabat kaum Komunis “Kiri” dan suratkabar-suratkabar kaum Komunis pada umumnya di Jerman, maka kaum Komunis “Kiri” mempunyai sesuatu keunggulan, yaitu mereka lebih pandai melakukan agitasi di kalangan massa daripada kaum Komunis pada umumnya. Saya berulang-ulang melihat sesuatu yang serupa ini dalam sejarah Partai Bolsyewik , sekalipun menurut ukuran yang lebih kecil dan dalam oraganisasi-organisasi setempat tertentu, dan bukan dalam rangka seluruh negeri. Misalanya dalam tahun 1907-1908 kaum Bolsyewik “Kiri” dalam beberap hal dan di beberapa tempat melakukan agitasi di kalangan massa dengan lebih berhasil daripada kami. Hal ini sebagian mungkin karena kenyataan bahwa pada saat revolusioner, atau pada waktu kenang-kenangan revolusioner masih segar, adalah lebih mudah mendekati massa dengan taktik negatif “belaka”. Akan tetapi hal ini belum suatu alasan yang membuktikan kebenaran taktik semacam itu. Biar bagaimana juga tidak ada kesangsian sedikitpun bahwa partai Komunis yang ingin menjadi pelopor sesungguhnya, barisan terdepan dari klas revolusioner, yaitu proletariat, dan yang, di samping itu, ingin belajar memimpin massa yang luas – tidak hanya massa pekerja dan tertindas yang proletar, tetapi juga yang non-proletar – harus tahu bagaimana melakukan propaganda, pengorganisasiandan agitasi dengan cara yang paling dapat diterima, paling mudah dimengerti, paling jelas dan hidup, di kalangan massa biasa di kota, maupun di kalangan massa di desa.

 

 

II

Kaum Komunis dan kaum Merdeka di Jerman

 

Dalam brosur ini saya telah menyatakan pendapat bahwa suatu kompromi antara kaum Komunis dan sayap Kiri dari kaum Merdeka adalah perlu dan berguna bagi Komunisme, tetapi bahwa hal ini tidak akan mudah dilaksanakan. Suratkabar-suratkabar yang saya terima  sesudah itu telah memperkuat pendapat ini mengenai kedua soal tersebut. Bendera Merah, majalah Comite Central Partai Komunis Jerman (Die Rote Fahne 56, Zentralorgan der Kommunistischen Partei Deutschlands – Spartakusbund – tertanggal 26 Maret 1920) nomor 32 memuat sebuat “pernyataan” dari Comite Central ini tentang “Putsch” (komplotan, avontur) militer Kapp-Lüttwitz dan tentang “pemerintah Sosialis”. Pernyataan ini benar sekali baik mengenai dalilnya yang pokok maupun kesimpulannya yang praktis. Dalilnya yang pokok yalah bahwa pada saat sekarang ini tidak ada “dasar  yang obyektif” bagi diktatur proletar sebab “jumlah yang terbanyak dari kaum buruh di kota” menyokong kaum Merdeka. Kesimpulannya yalah – suatu janji akan melakukan “oposisi yang loyal” (yaitu tidak mau mengadakan persiapan-persiapan untuk “menggulingkan dengan kekerasan”) terhadap suatu “pemerintah Sosialis asal saja partai-partai burjuis-kapitalis diasingkan darinya”.

Tak ragau-ragu lagi, taktik ini pada pokonya benar. Dan sekalipun tidak ada perlunya untuk membicarakan kesalahan-kesalahan kecil dalam perumusannya, kita tidak dapat berdiam diri untuk tidak mengatakan bahwa suatu pemerintah dari pengkhianat-pengkhianat sosial tidak dapat disebut (dalam sebuah pernyataan resmi dari Partai Komunis) sebagai pemerintah “Sosialis”; bahwa orang tidak dapat berbicara tentang pengasingan “partai-partai burjuis-kapitalis” pada hal partai-partai dari kaum Scheidemann dan dari tuan-tuan Kautsky dan Criepien adalah partai-partai burjuis-kecil-demokratis; bahwa orang tidak boleh menulis hal-hal yang seperti yangtercantum dalam fasal 4 dari pernyataan tersebut yang berbunyi:

 

“……….. Untuk dapat lebih lanjut menarik massa proletar ke Komunisme, maka suatu keadaan di mana kemerdekaan politik dapat dipergunakan secara tak terbatas, dan di mana demokrasi burjuis tidak dapat bertindak sebagai diktattur kapital adalah sangat penting dilihat dari sudut perkembangan diktatur proletar ……”

 

Keadaan yang demikian itu tidaklah mungkin. Gembong-gembong burjuis kecil, kaum Henderson jerman (kaum Scheidemann) dan kaum Snowden (kaum Criepien), tidak dan tidak dapat melangkah melampaui batas-batas demokrasi burjuis, yang, pada gilirannya, tidak dapat lain daripada diktatur kapital. Samasekali tidak ada perlunya menulis hal-hal semacam itu, yang dalam prinsip salah dan dalam politis merugikan, untuk mencapai hasil-hasil praktis yang telah diperjuangkan dengan tepat sekali oleh Comite Central Partai Komunis. Cukuplah dikatakan (jika orang hendak memperhatikan kesopanan-kesopanan parlemen) bahwa selama jumlah terbanyak dari kaum buruh kota mengikuti kaum Merdeka, kita, kaum Komunis, tidak boleh menghalang-halangi kaum buruh ini mengatasi ilusi-ilusi filistin-demokratis (yaitu, juga “burjuis-kapitalis”) mereka yang terakhir melalui pengalaman dengan pemerintah mereka “sendiri”. Hal ini adalah alasan yang cukup untuk mengadakan suatu kompromi yang benar-benar perlu, dan harus berupa penolakan untuk masa tertentu terhadap segala usaha menggulingkan dengan kekerasan pemerintah yang mendapat kepercayaan dari jumlah terbanyak dari kaum buruh kota. Sedang dalam agitasi massa sehari-hari, di mana orang tidak terikat pada kesopanan-kesopanan parlementer yang resmi, sudah tentu orang dapat menambahkan: Biarkan bajingan-bajingan seperti kaum Scheidemann’ dan kaum filistin seperti kaum Kautsky dan Crispien memperlihatkan dengan perbuatan-perbuatan mereka bagaimana mereka telah ditipu sendiri dan bagaimana mereka sedang menipu kaum buruh; pemerintah mereka yang “bersih” dengan “paling bersih” akan melakukan pekerjaan dalam “membersihkan” kandang-kandang Augeias 57 dari Sosialisme, Sosial-Demokratisme dan bentuk-bentuk pengkhianatan sosial lainnya.

Watak yang sesungguhnya dari gembong-gembong “Partai Sosial-Demokratis Merdeka Jerman” sekarang ini (gembong-gembong yang tentangnya dikatakan secara salah seolah-olah mereka sudah tidak mempunyai pengaruh samasekali, sedang, yang sebenarnya, malah lebih berbahaya lagi bagi proletariat daripada kaum Sosial-Demokrat Hongaria yang menamakan dirinya kaum Komunis  dan berjanji akan “menyokong” diktatur proletariat) diperlihatkan sekali lagi di waktu peristiwa Kornilov Jerman, yaitu putsch Kapp-Lüttwitz*. Suatu gambaran yang singkat tetapi nyata diberikan oleh artikel-artikel pendek dari Karl Kautsky: “Saat-saat yang Menentukan” (“Entscheidende Stunden”) dalam Freiheit 59 (Kemerdekaan, suratkabar kaum Merdeka) pada 30 Maret 1920, dan dari Arthur Crispien: “Tentang Situasi Politik” (dalam suratkabar itu juga tertanggal 14 April 1920). Tuan-tuan ini samasekali tidak mampu berfikir dan mengemukakan alasan seperti seperti orang-orang revolusioner.

 

  • Sambil lalu, hal ini telah disoroti dengan sangat jelas, ringkas, tepat dan secara Marxis dalam suratkabar yang baik sekali dari Partai Komunis Austria, Bendera Merah, tertanggal 28 dan 30 Maret 1920 (Die Rote Fahne 58, Wien, no.266 dan 267; L.L : “Ein neuer Abschnitt der deutschen Revolusion”) (L.L.:”Fase Baru Revolusi Jerman” Red.

Mereka adalah kaum demokrat filistin yang menangis terisak-isak, yang seribu kali lebih berbahaya bagi proletariat kalau mereka menyatakan diri sebagai pembela-pembela kekuasaan Sovyet dan diktatur proletariat, sebab, sesungguhnya, pada tiap saat yang sulit dan berbahaya mereka pasti berbuat khianat ….. meskipun dengan keyakinan yang paling “sungguh-sungguh” bahwa mereka membantu proletariat! Tidaklah kaum Sosial-Demokrat Hongaria, yang membaptiskan dirinya sebagai kaum Komunis, juga hendak “membantu” proletariat ketika mereka, karena sifat pengecut dan tak-bertulang-belakang mereka, menganggap keadaan kekuasaan Sovyet di Hongaria tidak mempunyai harapan lagi dan pergi dengan menangis terisak-isak kepada agen-agen kaum kapitalis Entente dan algojo-algojo Entente?

 

III

Turati & Co di Italia

Nomor-nomor suratkabar Itali Il Soviet tersebut di atas sepenuhnya memperkuat apa yang telah saya katakan dalam brosur ini tentang kesalahan yang dilakukan oleh partai Sosialis Italia dengan membiarkan adanya anggota-anggota dan malahan adanya suatu grup anggota-anggota parlemen semacam itu di dalam barisannya. Lebih jauh lagi ini diperkuat oleh seorang peninjau dari luar seperti wartawan suratkabar burjuis leberal Inggeris, The Manchester Guardian, di Roma, yang wawancaranya dengan Turati dimuat dalam surat kabar itu pada tanggal 12 Maret 1920. Wartawan ini menulis sebagai berikut:

 

“…….Pendapat tuan Turati yalah bahwa bahaya revolusi tidaklah sedemikian rupa sehingga menimbulkan kekuatiran yang tak beralasan di Italia. Kaum maksimalis meniup-niup api teori-teori Sovyet hanya supaya massa tetap bangun dan bergolak. Tetapi teori-teori ini adalah semata-mata pengertian-pengertian dalam dongengan, program-program yang belum matang, yang tidak dapat dipergunakan dalam praktek. Teori-teori ini hanya cocok untuk memelihara klas-klas pekerja dalam keadaan mengharap-harap. Orang-orang yang justru menggunakan teori ini sebagai umpan, untuk menyilaukan mata proletar, terpaksa melakukan perjuangan sehari-hari untuk memeras beberapa keuntungan ekonomi yang kerap kali tidak berarti agar dapat menunda-nunda datangnya saat di mana klas buruh akan kehilangan ilusi dan kepercayaan mereka kepada dongeng-dongeng kesayangan mereka. Dari sinilah timbulnya rentetan pemogokan yang panjang dari segala ukuran  dan dengan segala alasan sampai pada pemogokan-pemogokan yang paling akhir pada jawatan-jawatan pos dan kereta api – pemogokan-pemogokan yang membikin keadaan-keadaan negeri yang sudah susah menjadi lebih buruk lagi. Negeri dalam keadaan jengkel berhubung dengan kesulitan-kesulitan yang bersangkutan dengan persoalannya mengenai Adriatik, dibebani dengan hutang-hutangnya kepada luarnegeri dan dengan pengeluaran uang kertas secara tak terbatas, sekalipun demikian negeri masih jauh daripada menginsyafi perlunya menjalankan disiplin kerja, sebagai satu-satunya jalan yang dapat memulihkan ketertiban dan kemakmuran……”

 

Adalah terang bagaikan siang bahwa wartawan Inggeris ini dengan kebetulan membukakan kebenaran, yang rupanya diperelok dan ditutup-tutupi oleh Turati sendiri dan pembela-pembela, kakitangan-kakitangan serta inspirator-inspirator burjuisnya di Italia. Kebenaran ini yalah bahwa cita-cita dan aktivitas politik dari tuan-tuan Turati, Treves, Modigliani, Dugoni & Co. adalah sebenarnya dan persis seperti yang dilukiskan oleh wartawan Inggeris itu. Ini adalah bulat-bulat pengkhianatan sosial. Cobalah lihat hanya pembelaannya  ini terhadap ketertiban dan disiplin di kalangan kaum buruh, yang menjadi budk upahan yang membanting tulang untuk memperkaya kaum kapitalis! Dan alangkah sudah terkenalnya omongan Mensyewik ini bagi kami orang-orang Rusia! Alangkah berharganya pengakuan bahwa massa setuju dengan kekuasaan Sovyet! Alangkah dangkal dan burjuis-vulgernya ketidak-pengertian akan rol revolusioner dari pemogokan-pemogokan yang sedang meluas dengan spontan! Ya, memang, wartawan suratkabar burjuis-liberal Inggeris itu telah memberikan jasa yang merugikan kepada tuan-tuan Turati & Co. , dan dengan baik sekali telah memperkuat kebenaran tuntutan Kawan Bordiga dan teman-temannya dari Il Soviet, yang mendesak supaya Partai Sosialis Italia jika benar-benar ingin pro-Internasionale III, menendang dengan memberi malu tuan-tuan Turati & Co keluar dari barisannya dan menjadi Partai Komunis baik dalam nama maupun dalam perbuatan.

 

 

IV

Kesimpulan-kesimpulan yang salah dari dalil-dalil yang benar

Akan tetapi Kawan Bordiga dab teman-teman “Kiri”nya menarik kesimpulan yang salah dari kritik mereka yang benar terhadap tuan-tuan Turati & Co, yaitu bahwa mabil bagian di dalam parlemen adalah merugikan pada umumnya. Kaum “Kiri” Italia sedikitpun tidak dapat mengemukakan alasan yang sungguh-sungguh untuk membela pendapat ini. Mereka semata-mata tidak tahu (atau mencoba melupakan) contoh-contoh internasional tentang menggunakan parlemen-parlemen burjuis benar-benar secara revolusioner dan Komunis, yangtak dapat disangsikan lagi faedahnya dalam mempersiapkan revolusi proletar. Mereka semata-mata tidak mampu membayangkan  suatu cara “baru” dalam menggunakan parlemen, dan terus berulang-ulang serta tak henti-hentinya beteriak-teriak tentang cara “lama” yang non-Bolsyewik.

Di sinilah justru letak kesalahan mereka yang pokok. Tidak hanya dalam lapangan parlementer, tetapi juga dalam semua lapangan aktivitas, Komunisme harus mengemukakan (dan tanpa usaha yang lama, ulet dan keras ia tidak akan dapat mengemukakan) suatu yang baru secara prinsipiil, yang secara radikal meninggalkan tradisi-tradisi Internasionale II (di samping mempertahankan dan mengembangkan apa yang baik dalam Internasionale II).

Marilah kita sebagai contoh, misalnya, pekerjaan jurnalistik. Suratkabar-suratkabar, brosur-brosur dan suta-surat selebaran melakukan pekejaan yang perlu dalam propaganda, agitasi dan organisasi. Tidak satupun gerakan massa di negeri yang beradab maupun juga yang dapat bekerja tanpa alat jurnalistik itu. Tidak ada teriakan-teriakan terhadap “pemimpin-pemimpin”, tidak ada janji dengan sumpah untuk menjaga kemurnian massa dari pengaruh pemimpin-pemimpin akan dapat menghindarkan orang-orang dari keharusan  menggunakan untuk pekerjaan ini mereka yang berasal dari lingkungan intelektuil burjuis atau akan melepaskan orang dari suasan dan lingkungan “hakmilik perseorangan” burjuis-demokratis, di mana pekerjaan ini dilakukan di bawah kapitalisme. Bahkan dua setengah tahun sesudah digulingkannya burjuasi, sesudah direbutnya kekuasaan politik oleh proletariat, kami masih melihat suasana ini di sekeliling kami, lingkungan hubungan-hubungan hak milik perseorangan burjuis-demokratis ini  di kalangan massa (tani, pekerjatangan).

Parlementerisme adalah suatu bentuk aktivitas, jurnalistik adalah bentuk aktivitas  yang lain lagi. Isi dari keduanya dapat dapat bersifat Komunis, dia mesti bersifat Komunis jika mereka yang bekerja dalam kedua lapangan itu – pun juga dalam sebarang lapangan aktivitas lainnya di bawah kapitalisme dan di masa peralihan dari kapitalisme ke Sosialisme – orang tidak mungkin menghindari kesulitan-kesulitan yang khusus, persoaln-persoalan yang khusus yang harus diatasi dan dipecahkan oleh proletariat supaya dapat menggunakan untuk tujuan-tujuannya sendiri pekerjaan mereka yang berasal dari barisan burjuasi untuk memperoleh kemenangan atas prasangka-prasangka dan pengaruh-pengaruh intelektuik-burjuis, untuk dapat melemahkan perlawanan ( dan akhirnya merombak samasekali) keadaan burjuis-kecil.

Tidakkah kita sebelum perang tahun 1914 – 1918  menyaksikan di semua negeri banyak sekali contoh dari kaum anarkis “Kiri” yang ekstrim, kaum sindikalis dan lain-lainnya lagi yang mengutuk parlementerisme, mengejek kaum Sosialis parlementer yang sudah merosot menjadi burjuis, semacam nafsu mereka yang memburu kedudukan, dan seterusnya, akan tetapi yang sendiri mencapai kedudukan burjuis yang sama saja melalui jurnalistik dan melalui pekerjaan dalam sindikat-sindikat (serikatburuh-serikatburuh)? Bukankah contoh-contoh seperti tuan-tuan Jouhaux dan Marrheim, untuk membatasi di Perancis saja, adalah contoh-contoh yang tipikal?

Sifat kanak-kanak mereka yang “menolak” untuk ambil bagian dalam parlemen justru terletak dalam kenyataan bahwa mereka mengira dapat “memecahkan” masalah yang sulit untuk melawan pengaruh-pengaruh burjuasi-demoratis di dalam gerakan klas buruh dengan cara yang “sederhana” , “mudah”, yang seolah-olah revolusioner ini, sedangkan sebenarnya mereka hanya lari dari bayangan mereka sendiri, hanya menutup mata mereka terhadap kesulitan-kesulitan dan hanya mencoba menyingkirkan kesulitan-kesulitan itu ke samping dengan kata-kata belaka. Nafsu memburu kedudukan yang paling tidak tahu malu, menggunakan kursi-kursi dalam parlemen secara burjuis, memutarbalikkan secara reformis yang sangat menyolok mata aktivitas parlementer, kebiasaan filistin yang vulger, — semua ini adalah tak dapat diragukan merupakan sifat-sifat khusus yang biasa dan umum yang dilahirkan oleh kapitalisme di mana-mana, tidak hanya di luar tetapi juga di dalam gerakan klas buruh. Tetapi ia, kapitalisme, dan suasana burjuis yang diciptakannya (yang lenyap dengan sangat lambat sekalipun sudah digulingkannya burjuasi, sebab kaum tani selalu menghidupkan kembali burjuasi), menumbulkan dengan pasti dalam tiap lapangan aktivitas dan kehidupan apa yang pada dasarnya adalah juga karierisme burjuis, sovinisme nasional, kevulgeran filistin, dan lain-lain, hanya dengan variasi bentuk-bentuk yang sedikit saja.

Kawan-kawan mengira, kaum boikotis dan kaum anti-parlementer yang terhormat, bahwa kawan-kawan “bukan main revolusioner”, tetapi sebenarnya kawan-kawan takut pada kesulitan-kesulitan yang reltif kecil dalam perjuangan melawan pengaruh-pengaruh burjuis dari dalam gerakan klas buruh , sedangkan kemenangan kawan-kawan, yaitu, penggulingan burjuasi dan perebutan kekuasaan politik oleh proletariat, akan melahirkan kesulitan-kesulitan ini juga dalam ukuran yang lebih besar, yang tak terbatas lebih besar lagi. Seperti anak-anak, kawan-kawan takut pada kesukaran-kesukaran kecil yang kawan-kawan hadapi pada hari ini, dengan tidak mengerti bahwa besok dan lusa kawan-kawan akan terpaksa belajar juga, dan belajar dengan sungguh-sungguh, untuk mengatasi kesulitan-kesulitan itu juga, hanya dalam ukuran yang tak terhingga lebig besar lagi.

Di bawah kekuasaan Sovyet, ke dalam partai kawan-kawan dan ke dalam partai kami, partai-partai proletar, akan menyusup kaum intelek burjuis dalam jumlah ynag lebih besar lagi. Mereka akan menyelundup masuk ke Sovyet-Sovyet, pengadilan-pengadilan dan administrasi, sebab Komunisme tidak dapat dibangun jika tidak dengan bantuan bahan-bahan manusia yang diciptakan oleh kapitalisme, sebab kaum intelek burjuis tidak dapat disingkirkan dan dihancurkan, tetapi harus ditundukkan, dibentuk kembali, disesuaikan dan dididik kembali, sebagaimana kita harus – dalam perjuangan yang lama, yang dilakukan atas dasar diktatur proletariat – mendidik kembali juga kaum proletar sendiri, yang tidak dapat melepaskan prasangka-prasangka burjuis-kecil mereka dengan sekali gus, dengan suatu perbuatan ajaib, dengan perintah Ibu Maria, dengan perintah semboyan, resolusi atau dekrit, tetapi hany di dalam perjuangan massa yang lama dan sulit melawan pengaruh-pengaruh burjuis-kecil di kalangan massa. Di bawah kekuasaan Sovyet persoalan-persoalan ini juga, yang oleh kaum anti-parlementer dikesampingkan dengan begitu sombong, begitu congkak, begitu lancang dan begitu kekanak-kanakan dengan mengipaskan tangan – persoalan-persoalan ini juga sedang timbul lagi di dalam Sovyet-Sovyet, di dalam administrasi Sovyet, di kalangan “pengacara-pengacara” Sovyet (di Rusia kami telah menghapuskan, lembaga pengacara burjuis, tetapi ia sedang mulai hidup kembali dengan kedok   “pengacara-pengacara” ” Sovyet” 60). Di kalangan insinyur-insinyur Sovyet, guru-guru sekolah Sovyet dan pekerja-pekerja yang mendapat hak-hak istimewa, yaitu pekerja-pekerja yang paling ahli dan paling baik kedudukannya dalam pabrik-pabrik Sovyet, kami melihat terus kehidupan kembali betul-betul semua ciri negatif yang menjadi ciri-ciri khas bagi parlemeterisme burjuis, dan kami mengatasi hal-hal yang jahat ini – secara berangsur-angsur – hanya dengan perjuangan yang berulang-ulang, tak kenal lelah, terus menerus, lama dan ulet, dengan organisasi dan disiplin proletar.

Tentu saja di bawah kekuasaan burjuasi adalah “sukar” sekali untuk memberantas kebiasaan-kebiasaan burjuis dari partai kita sendiri, yaitu partai kaum buruh, adalah “sukar” untuk mengusir dari partai pemimpin-pemimpin anggota-anggota parlemen yang sudah biasa, yang sudah dengan tak berpengharapan lagi bobrok karena prasangka-prasangka burjuis; adalah “sukar” untuk mengenakan disiplin proletar pada sejumlah orang yang mutlak perlu (sekalipun sejumlah tertentu yang sangat terbatas) yang berasal dari barisan burjuasi; adalah “sukar” untuk membentuk dalam parlemen burjuis suatu fraksi Komunis yang sungguh-sungguh layak dihormati oleh klas buruh; adalah “sukar” untuk menjamin supaya orang-orang Komunis-anggota-anggota parlemen tidak membuang-buang waktu mereka secara parlementer burjuis, tetapi mencurahkan perhatiannya pada pekerjaan yang sangat mendesak dalam propaganda, agitasi dan organisasi di kalangan massa.  Kesemuanya ini adalah ““ukar”, sudah tentu; ini dulunya sukar di Rusia, dan akan lebih-lebih lagi sukarnya di Eropa Barat serta di Amerika, di mana burjuasinya jauh lebih kuat, dan sebagainya.

Tetapi semua “kesukaran” ini adalah kesukaran kanak-kanak belaka jika dibandingkan dengan persoalan-persoalan yang serupa betul, yang dalam keadaan bagaimanapun juga tidak boleh tidak akan mesti dipecahkan oleh proletariat ataupun sesudah direbutnya kekuasaan oleh proletariat. Dibandingkan dengan persoalan-persoalan mendidik kembali yang benar-benar mahabesar ini, persoalan mendidik kembali, di bawah diktatur proletariat, jutaan kaum tani dan majikan-majikan kecil, ratusan ribu buruh kantor, pegawai negeri dan kaum intelek burjuis, menundukkan mereka semuanya kepada negara proletar dan pimpinan proletar, mengalahkan kebiasaan dan tradisi-tradisi burjuis mereka – dibandingkan dengan masalah yang mahabesar ini, maka adalah mudah sekali seperti permainan anak-anak untuk membentuk, di bawah kekuasaan burjuasi, dalam parlemen burjuis, suatu fraksi Komunis yang sejati dari partai proletar yang sejati.

Jika kawan-kawan yang “Kiri” dan anti-parlemen sekarang tidak belajar mengatasi bahkan kesulitan yang sekecil itu, maka kita berani mengatakan dengan pasti bahwa mereka akan terbukti tidak mampu mencapai diktatur proletariat, tidak akan mampu menundukkan dan membentuk kembali kaum intelek burjuis dan badan-badan burjuis secara besar-besaran, atau mereka pasti akan terpaksa menyelesaikan pendidikan mereka sendiri dengan sangat terburu-buru, dan dengan tindakan yang terburu-buru ini akan menimbulkan kerugian amat besar pada perjuangan proletariat, mereka akan mebuat kesalahan-kesalahan lebih banyak daripada yang iasa, dengan memperlihatkan kelemahan dan ketidak cakapan lebih daripada yang umum, dan sebagainya, dan seterusnya.

Selama burjuasi belum digulingkan, dan sesudah selama ekonomi secara kecil-kecilan belum lenyap samasekali, maka suasan burjuis kebiasaan milik perseorangan dan tradisi filistin akan merusak pekerjaan proletar baik dari luar maupun dari dalam gerakan klas buruh, tidak hanya satu lapangan aktivitas, aktivitas parlementer, tetapi tidak boleh tidak tentu dalam setiap dan segala macam lapangan aktivitas sosial, dalam semua bidang kebudayaan dan politik dengan tiada kecualinya. Dan usaha untuk mengesampingkan, untuk menghindarkan diri dari salah satu masalah yang “tidak enak” atau kesulitan dalam satu lapangan aktivitas adalah kesalahan yang paling mendalam, yang di kemudian hari pasti harus ditebus. Kita harus belajar dan mengetahui bagaimana menguasai setiap lapangan pekerjaan dan aktivitas dengan tiada kecualinya, mengatasi segala kesukaran dan semua kebiasaan, adat dan tradisi burjuis di mana saja. Mengemukakan soal tersebut dengan sesuatu cara lain adalah tidak serius samasekali, kekanak-kanakan belaka.

 

12 Mei 1920.

 

 

 

V

Dalam edisi Rusia dari buku ini saya agak kurang tepat menguaraikan sikap Partai Komunis Belanda dalam keseluruhannya di lapangan politik revolusioner internasional. Karena itu saya mempergunakan kesempatan sekarang ini untuk memuat sepucuk surat dari kawan-kawan kami dari negeri Belanda tentang soal ini, dan memperbaiki istilah “kaum Tribunis Belanda”, yang saya pakai dalam teks bahasa Rusia, dan yang sekarang saya ganti dengan kata-kata “beberapa anggota dari Partai Komunis Belanda”

 

N.Lenin.

 

 

Surat dari Wijnkoop

Moskwa, 30 Juni 1920

 

Kawan Lenin yang tercinta,

Berkat kebaikan-hati kawan, kami, anggota-anggota delegasi Belanda ke Kongres II Internasionale Komunis telah mendapat kesempatan untuk membaca buku kawan Komunisme “Sayap Kiri”, suatu penyakit kanak-kanak” sebelum ia dicetak dalam bahasa-bahasa Eropa. Di beberapa tempat dalam buku ini kawan menekankan bahwa kawan tidak menyetujui rol yang dilakukan oleh beberapa anggota Partai Komunis Belanda dalam politik internasional.

Sekalipun demikian kami merasa kami harus mengajukan protes karena kawan meletakkan pertanggunganjawab pada Partai Komunis atas tindakan-tindakan mereka. Ini adalah sangat tidak tepat. Lebih dari itu, itu adalah tidak adil, karen anggota-anggota Partai Komunis Belanda yang dimaksud ini ambil bagian sedikit atau tidak ambil bagian  samaseklai dalam aktiviats Partai sehari-hari, dan juga berusaha dengan secara langsung ataupun tidak langsung, melaksanakan dalam partai Komunis Belanda semboyan-semboyan oposisi terhadap mana telah melakukan, dan hingga hari ini terus melakukan, perjuangan yang sekuat-kuatnya.

 

 

Salam Persaudaraan

(atas nama delegasi Belanda)

 

D.J. Wijnkoop

 

 

Ditulis dalam bulan

April – Mei 1920.

 

 

W.I. Lenin, Kumpulan Karya,

Edisi Rusia keempat

Jilid 31, hal. 1 – 97

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan

1.          Karya Komunisme “Sayap Kiri” , suatu penyakit kanak-kanak ditulis oleh W.I.Lenin untuk pembukaan Kongres II Internasionale Komunis dan diedarkan kepada semua peserta Kongres. Karya ini dimaksudkan untuk membantu Partai-partai Komunis yang masih muda untuk mencari jalan tepat dalam perjuangan revolusioner, membetulkan kesalahan-kesalahan langkah-langkah mereka, memperkenalkan kaum Komunis semua negeri dengan pengalaman kaum Bolsyewik yang terkaya, dengan strategi dan taktiknya supaya mempersenjati partai-partai sekawan dengan pengalaman ini. Dalil-dalil dan kesimpulan-kesimpulan terpenting dari karya Komunisme “Sayap Kiri” , suatu penyakit kanak-kanak menjadi dasar dari keputusan-keputusan Kongres ke-II Komintern.

Pekerjaan pokok mengenai buku ini dilakukan oleh Lenin pada bulan April 1920 (naskahnya telah selesai tanggal 27 April), bab-bab tambahan untuk buku ini ditulisnya tanggal 12 Mei, semasa ketika sudah berlangsung pekerjaan koreksian.

Pada tanggal 12 Juni 1920 buku sudah terbit dan hampir segera, pada bulan Juli, diterbitkan di Rusia Sovyet dalam bahasa Perancis dan Inggeris. Selama pertengahan kedua tahun 1920 buku ini terbit dalam bahasa Jerman di Berlin dan Hamburg, dalam bahasa Inggeris – di London dan New York, dalam bahasa perancis – di Paris, dalam bahasa Italia – di Milan.

2.          Internasionale II – perhimpunan partai-partai Sosialis Internasional –didirikan pada tahun 1889. Dengan mulainya zaman imperialis di dalamnya semakin berdominasi aliran-aliran oportunis. Ketika pada tahun 1914 mulai perang dunia, pemimpin-pemimpin Internasionale II secara terang-terangan berdiri membela politik imperialis pemerintah-pemerintah burjuis negerinya. Internasionale II bubar.

3.      Iskra — suratkabar Marxis ilegal se Rusia pertama. Diterbitkan oleh W.I. Lenin pada bulan Desember 1900 di luarnegeri, dari mana secara rahasia dikirim ke rusia. Iskra memainkan peranan yang sangat besar sekali dalam mempersatukan secara ideologi kaum Sosial-Demokrat Rusia, dalam mempersiapkan penyatuan organisasi-organisasi setempat yang berceceran di dalam partai Marxis revolusioner.

Setelah perpecahan partai pada Kongres ke II PBSDR (tahun 1903) menjadi kaum Bolsyewik dan kaum Mensyewik, Iskra pindah ke tangan kaum Mensyewik (sejak nomor 52) dan dinamakan Iskra-baru untuk membedakan dari Iskra -“lama” yang revolusioner.

Iskra-baru berhenti menjadi organ militan Marxisme revolusioner. Kaum mensyewik mengubahkan menjadi organ untuk berjuang melawan Marxisme, melawan Partai, menjadi mimbar pengkhotbah-pengkhotbah oportunisme.

4.          Pembicaraan berlangsung mengenai kaum Mensyewik, yang merupakan sayap Kanan, oportunis dari Sosial-Demokrat dalam PBSDR, dan mengenai Partai kaum “Sisialis-Revolusioner”.(Enser)

Kaum Sosialis-Revolusioner (kaum Enser) – partai burjuis kecil di Rusia, timbul pada akhir tahun 1901 – awal tahun 1902 sebagai hasil penggabungan berbagai macam perkumpulan dan grup Narodnik. Kaum Enser tidak melihat adanya perbedaan klas antara proletariat dan kaum pemilik kecil, mengaburkan perpecahan klas dan kontradiksi-kontradiksi di dalam kalangan kaum tani, menyangkal peranan pimpinan proletariat dalam revolusi.

Pada tahun-tahun perang dunia imperialis mayoritas kaum Enser bersikap sosial-sovinis.

Setelah kemenangan Revolusi Burjuis-Demokratis bulan Pebruari 1917 kaum Enser bersama-sama dengan kaum Mensyewik dan kaum Kadet menjadi sandaran pokok Pemerintah. Sementara burjuis-tuantanah kontra revolusioner, dan pemimpin-pemimpinpartai ( Kerenski, Avksentiev, Cernov) masuk ke dalam susunannya. Partai kaum Enser menolak menyokong tuntutan kaum tani untuk menghapuskan pemilikan tanah  oleh tuantanah, tampil melindungi hak milik tuantanah atas tanah; Menteri-menteri Enser dalam Pemerintah Sementara mengirim pasukan-pasukan tentara-polisionil melawan kaum tani, yang sedang merampas tanah tuantanah. Pada tahun-tahun intervensi militer asing dan perang sipil kaum Enser melakukan pekerjaan subversi kontra-revolusioner, secara aktif menyokong kaum intervensi dan jendral-jendral Garda Putih, turut serta dalam komplotan-komplotan kontra-revolusioner, mengorganisasi aksi-aksi teroris melawan tokoh-tokoh Negara Sovyet dan Partai Komunis. Setelah berakhirnya perang sipil kaum Enser meneruskan tindakan yang bermusuhan terhadap Negara Sovyet.

5.          Yang dimaksud yalah penembakan pada tanggal 4 (17) April 1912 terhadap kaum buruh yang tak bersenjata, yang melakukan pemogokan di tambang emas di Lena (Siberia) karena syarat-syarat hidup yang luarbiasa berat. Berita mengenai penembakan di Lena tersebar di seluruh negeri dan membangkitkan demonstrasi-demonstrasi, rapat-rapat protes dan pemogokan-pemogokan massal, dalam mana ikut ambil bagian sampai 300.000 kaum buruh.

6.      Duma Negara – lembaga perwakilan yang pemerintah tsar terpaksa bentuk sebagai akibat peristiwa-peristiwa revolusioner tahun 1905. Secara formil Duma Negara adalah badan legislatif, dalam kenyataannya ia tidak mempunyai kekuasaan riil.

Pemilihan untuk Duma Negara adalah tidak langsung, tidak sama dan tidak umum. Hak pilih klas-klas pekerja, dan juga bangsa-bangsa bukan Rusia yang tinggal di Rusia sangat dikebiri, bagian yang berarti dari kaum buruh dan kaum tani samasekali tidak mempunyai hak pilih. Menurut undang-undang pemilihan tanggal 11 (24) Desember 1905 satu suara tuantanah sama dengan 3 suara wakil burjuasi kota, 15 suara kaum tani dan 45 suara kaum buruh.

Duma Negara Pertama (April-Juli 1906) dan Duma Negara Kedua (Pebruari-Juni 1907) dibubarkan oleh pemerintah tsar.

Setelah melakukan kudeta pada tanggal 3 Juni 1907, pemerintah membuat undang-undanga pemilihan baru, yanglebih mengebiri lagi hak-hak kaum buruh, kaum tani dan burjuasi kecil kota dan yang menjamin kekuasaan penuh blok Seratus Hitam dari kaum tuantanah dan kapitalis besar dalam Duma Negara Ketiga (1907-1912) dan keempat (1912-1917).

7.         Yang dimaksud yalah para Bolsyewik-anggota-anggota Duma Negara IV, yaitu A.E.Badayev,          M.K.Muranov, G.I.Petrovski, F.N.Samoilov dan N.R Syagov. Pada sidang Duma tanggal 26 Juli (8 Agustus) 1914, di mana wakil-wakil semuafraksi burjuis tuantanah telah menyambut ikut sertanya Rusia tsar dalam perang inperialis, fraksi kaum Bolsyewik menyatakan protesnya yang tegas; ia menolak memberikan suara untuk kredit-kredit perang dan segera menjalankan propaganda revolusioner di tengah-tengah massa Rakyat. Pada bulan          Nopember 1914 para Bolsyewik anggota-anggota Duma ditangkap dan pada bulan Pebruari 1915 dibawa ke     muka pengadilan serta dibuang untuk seumur hidup ke daerah Turuhansk (Siberia Timur). Pidato-pidato yang     gagah berani dari anggota-anggota fraksi Bolsyewik waktu pengadilan, yang menelanjangi otokrasi tsar,       memainkan peranan besar dalam propaganda anti-militeris, dalam merevolusionerisasi kesadaran massa     kaum pekerja.

 

8           Languetisme —  aliran sentris dalam Partai Sosialis Perancis yang dikepalai oleh Languet. Selama perang imperilais dunia tahun 1914-1918 para Languetis menjalankan politik persetujuan dengan kaum sosial sovinis; mereka menyangkal perjuangan revolusioner dan berpegang pada posisi-posisi “membela tanahair”  dalam perang imperialis. Lenin menamakan kaum Longuetis sebagai nasioanlis-nasionalis burjuis kecil. Sesudah kemenangan Revolusi Sosialis Oktober kaum Longuetis dalam kata-kata menyatakan diri pemihak-pemihak diktatur proletariat, tetapi dalam kenyataannya tetap memusuhinya. Pada bulan Desember 1920 kaum Longuetis bersama dengan para reformis terang-terangan keluar dari Partai dan menggabung pada apa  yang dinamakan Internasionale 2½.

9.         Partai Buruh Merdeka Inggeris – PBM – suatu oragnisasi reformis yang didirikan oleh para pemimpin “serikatburuh-serikatburuh baru” pada tahun 1893 dalam syarat-syarat menggiatnya perjuangan pemogokan dan menghebatnya gerakan untuk membebaskan klas buruh Inggeris dari partai-partai burjuis. Dalam PBM masuk anggota-anggota “serikatnuruh-serikatburuh baru” dan rentetan serikatburuh lama, wakil-wakil kaum intelek dan burjuasi kecil yang berada di bawah pengaruh kaum Fabian. Partai dipimpin oleh Kein Hardie dan Ramsay McDonald. PBM sejak semulanya berpegang pada pendirian-pendirian reformis-burjui, mencurahkan perhatian utamanya pada bentuk perjuangan parlementer dan persekongkolan-persekongkolan parlementer dengan Partai Liberal. Sambil mengkarakterisasi Partai Buruh Merdeka Lenin menulis bahwa “dalam kenyataan Partai oportunis itu selalu tergantung dari burjuasi”.

10.     Kaum Fabian – anggota-anggota “Perhimpunan Fabian”, suatu organisasi Inggeris yang reformis, yang didirikan pada tahun 1884; ia mengambil namanya dari nama Panglima perang Roma abad ke-III sebelum Masehi, Fabius Maksim yang disebut “Cunctator” (“Pengulur”) karena taktiknya mengulur-ulur dan usaha-usaha menghindari pertempuran-pertempuran tegas dalam perang dengan Hannibal. Anggota-anggota Perhimpunan Fabian pada pokoknya yalah wakil-wakil kaum intelek burjuis, yaitu sarjana-sarjana, pengarang-pengarang, tokoh-tokoh politik ( S. dan B. Webb, R. Mac Donald, B. Shaw, dan lain-lainnya); mereka menyangkal keharusan perjuangan klas proletariat dan revolusi Sosialis, serta menyataknan bahwa peralihan dari kapitalisme ke Sosialismedapat hanya melalui jalan reforma-reforma kecil-kecilan, perobahan-perobahan lambat-laun terhadap masyarakat. Pada tahun 1900 Perhimpunan Fabian bergabung dengan Partai Labour.

11.     Ministerialisme (Menteriisme, atau “Sosialisme macam menteri”, atau sama juga “Millerandisme”) – taktik oportunis ikutsertanya kaum Sosialis dalam pemerintah-pemerintah burjuis yang reaksioner.

12.     Partai Sosial Demokratis Merdeka Jerman – partai sentris yang didirikan dalam bulan April 1917 pada Kongres pengesahan di Gotha. “Kaum Merdeka” mengkhotbahkan persatuan dengan kaum sosial-s0vinis, bercenderung untuk menyangkal perjuangan klas. Bagian terbesar dari Partai yalah organisasi Kautskyis “Persekutuan Kerja”. Dalam Oktober 1920 pada Kongres Sosial Dem0okratis Merdeka  di Halle terjadi perpecahan. Sebagaimana yang berarti pada bulan Desember 1920 menggabungkan diri dengan Partai Komunis Jerman. Elemen-elemen Kanan membentuk partai tersendiri dan mengambil nama yang lama, yaitu Partai Sosial Demokratis Merdeka Jerman; partai itu ada sampai pada tahun 1922.

13.         Rupanya, yang dimaksud yalah karangan W.I.Lenin “Apa yang tak boleh ditiru dalam gerakan buruh Jerman”, yang dimuat dalam bulan April 1914 dalam majalah Bolsyewik Proswescenie, di mana ditelanjangi perbuatan pengkhianatan seorang Sosial Demokrat Jerman, K.Legien yang pada tahun 1912, sewaktu perjalanannya ke Amerika, berpidato di Kongres AS untuk menyambut kalangan-kalangan resmi dan partai-partai burjuis AS.

14.     Kaum Spartakus – anggota-anggota Liga revolusioner kaum Sosial Demokrat Kiri Jerman yang didirikan R.Luxemburg, F. Mehring, C. Zetkin, J. Marchlewski, L. Iogiches (Tishka) dan W. Pick. Kaum Spartakus melaksanakan pekerjaan revolusioner di kalangan massa, mengorganisasi pemogokan-pemogokan, menelanjangi sifat imperialis dari perang dunia serta pengkhianatan gembong-gembong oportunis dari Sosial Demokrasi. Tetapi kaum Spartakus membuat kekliruan-kekeliruan yang serius mengenai beberapa  masalah teori dan politik yang terpenting. Lenin tidak hanya sekali mengkritik kesalahan-kesalahan kaum Sosial Demokrat Kiri Jerman, membantu mereka berpendirian tepat.

Pada bukan April 1917 kaum Spartakus menggabungkan diri pada Partai Sosial Demokratis Merdeka  Jerman yang sentris, dengan tetap memelihara kebebasan organisasi mereka sendiri “Liga Spartakus”, dan, setelah mengumunkan pada tanggal 14 Desember  Programnya, memutuskan hubungannya dengan “Kaum Merdeka”. Pada Desember 1818 – 1 Januari 1919 kaum Spartakus membentuk Partai Komunis Jerman.

15.     Komune Paris – pemerintah revolusioner klas buruh, yang dibentuk oleh revolusi proletar di Paris pada tahun 1871. Pemerintah diktatur proletariat pertama dalam sejarah. Ia bertahan selama 73 hari – tanggal 18 Maret sampai 28 Mei.

16.         Yang dimaksud yalah surat F.Engels kepada A. Babel tertanggal 18-28 Maret 1875

17.     Perdamaian Brest –Perjanjian Perdamaian antara Rusia Sovyet dan negara-negara Persekutuan empat (Jerman, Austria-Hongaria, Bulgaria dan Turki) yang ditanda tangani pada 3 Maret 1918 di Brest-Litovsk dan diratifikasi pada 15 Maret oleh Kongres ke IV luarbiasa Sovyet-Sovyet se Rusia. Syarat-syarat perdamaian adalah sangat berat bagi Rusia Sovyet. Menurut Perjanjian ini Polandia, harus jatuh di bawah kontrol Jerman dan Austria-Hongaria. Ukraina terpisah dari Rusia Sovyet dan dirobah menjadi negara yang tergantung dari Jerman, Kota-kota Kars, Batum dan Ardagan harus diserahkan kepada Turki. Pada bulan Agustus 1918 Jerman memaksakan pada Rusia Sovyet Perjanjian tambahan dan juga persetujuan keuangan di mana dinyatakan tuntutan-tuntutan perampokan baru.

Diadakannya Perdamaian Brest berhubungan dengan perjuangan tabah melawan Trotski dan grup anti-Partai “Kaum Komunis Kiri”, Perjanjian Perdamaian dengan Jerman ditandatangani hanya berkat usaha-usaha besar W.I.Lenin . Perdamaian Brest menjadi contoh gemilang kebijaksanaan dan keluwesan taktik Lenin, kepandaiannya untuk merumuskan, satu-satunya politik yang tepat dalam situasi yang istimewa pelik. Diadakannya Perdamaian Brest merupakan kompromi politik yang bijaksana.

Perjanjian Perdamaian memungkinkan Negara Sovyet memperoleh waktu tarik-nafas, mendemobilisasi tentara lama yang sedang menjadi lapuk dan membentuk tentara baru. Tentara Merah, mengembangkan pembangunan Sosialis  dan mengumpulkan kekuatan untuk perjuangan melawan kontra-revolusi dalamnegeri dan kaum intervensi asing. Diadakannya Perdamaian Brest membantu diperhebatnya lebih lanjut  perjuangan untuk perdamaian, meningkatkan semangat revolusioner dalam tentara-tentara dan massa Rakyat luas di semua negeri yang berperang. Sesudah Revolusi Nopember di Jerman pada tahun 1918, yang menggulingkan rezim monarkis, Komite Eksekutif Sentral se-Rusia pada 13 Nopember membatalkan Perjanjian Brest yang bersifat perampokan itu.

18.         Yang dimaksud yalah kaum Otzowis dan Ultimatis. Perjuangan melawan mereka berkembang pada tahun 1908 dan sebagai hasilnya pada tahun 1909 pemimpin kaum Otzowis, A.Bogdanov, dipecat dari barisan kaum Bolsyewik. Kaum Otzowis dengan bersembunyi di bawah frase-frase revolusioner menuntut  menari kembali (“otozwat” dalam bahasa Rusia. Dari sini namanya “Otzowis”) wakil-wakil Sosial Demokrat dari Duma Negara ke-III dan menghentikan pekerjaan dalam organisasi-organisasi legal, yaitu serikatburuh-serikatburuh, koperasi-koperasi, dan lain-lainnya. Ultimatisme merupakan Otzowisme macam lain. Dengan tidak mengerti keharusan menjalankan pekerjaan yang tegas dan tekun di tengah-tengah wakil-wakil Sosial-Demokrat, mendidik mereka menjadi anggota-anggota parlemen yang konsekwen revolusioner, kaum Ultimatis mengusulkan mengajukan  ultimatum kepada fraksi Sosial-Demokratis di Duma supaya mereka tunduk sepenuhnya pada keputusan-keputusan CC Partai, dan jika mereka tidak memenuhi ultimatum itu, maka menarik kembali wakil-wakil Sosial-Demokratis itu dari Duma. Musyawarah dewan redaksi sutakabar Bolsyewik Proletariat yang diperluas, pada bulan Juni 1909 dalam keputusannya menunjukkan, bahwa “Otzowisme dan Ultimatisme samasekali asing bagi Bolsyewisme sebagai aliran tertentu dalam PBSDR”, dan menyerukan kepada kaum Bolsyewik untuk melakukan perjuangan paling tegas melawan penyelewengan-penyelewengan ini dari jalan Marxisme revolusioner.

19.         Pada tanggal 6 (9) Agustus 1905 diumumkan manifes tsar, yaitu perundangan tentang diadakannya Duma Negara serta peraturan tentang pemilihan untuknya. Duma mendapat sebutan Duma Buligin menurut nama Menteri Dalamnegeri, A.G.Buligin, yang ditugaskan oleh tsar untuk menyusun rancangan Duma. Menurut rancangan itu Duma tidak berhak menerima undang-undang apapun tetapi dapat hanya membahas beberapa masalah sebagai organ permusyawaratan di bawah tsar. Kaum Bolsyewik menyerukan kepada kaum buruh dan tani untuk memboikot secara aktif Duma Boligin dan memusatkan seluruh kampanya agitasi di sekita semboyan-semboyan: pemberontakan bersenjata, tentara revolusioner, pemerintah sementara yang revolusioner. Kampanye pemboikotan Duma Buligin digunakan  oleh kaum Bolsyewik untuk mengerahkan semua kekuatan revolusioner, pemerintah sementara yang revolusioner, untuk mengadakan pemogokan-pemogokan politik yang massal dan mempersiapkan pemberontakan bersenjata. Pemilihan untuk Duma tidak dilaksanakan dan pemerintah tidak berhasil mengadakan Duma itu; pasang naik revolusi dan pemogokan politik se Rusia pada Oktober 1905 menggagalkan Duma ini.

20.         Yang dimaksud yalah pemogokan politik se Rusia bulan Oktober 1905 selama revolusi Rusia pertama. Jumlah orang yang ikut serta dalam pemogokan umum bulan Oktober adalah lebih dari dua juta. Pemogokan bulan Oktober dberlangsung di bawah semboyan-semboyan: menggulingkan otokrasi tsar, memboikot secara aktif Duma Buligin, mengadakan Konstituante dan menetapkan Republik Demokratis. Pemogokan politik se Rusia menunjukkan segala kekuatan dan kemegahan gerakan buruh, memberi dorong untuk diperluasnya perjuangan revolusioner di desa, Tentara dan Angkatan Laut.

21.     “Kaum Komunis Kiri” – grup anti-partai, timbul pada awal tahun 1918 sehubungan dengan penandatangan perjanjian perdamaian Jerman (Perdamaian Brest). Sambil menyelimuti diri dengan frase-frase tentang perang revolusioner, “kaum Komunis Kiri” mempertahankan politik avonturis yang menyeret Republik Sovyet yang belum mempunyai tentara ke peperangan melawan Jerman imperialis dan menempatkan Republik Sovyet di bawah ancaman kehancuran. W.I.Lenin dan kawan-kawan sepemikirannya terpaksa melakukan perjuangan teguh melawan Trotski dan “kaum Komunis Kiri”, agar supaya mencapai keputusan mengenai penandatangan perjanjian perdamaian dengan Jerman dan dengan itu dijelmakan Republik Sovyet yang muda dari kehancuran.

Sebagai hasil perjuangan Partai “kaum Komunis Kiri” pada bulan Mei-Juni 1918 kehilangan sebarang arti.

22.     Kaum labouris—anggota-anggota Partai Buruh Inggeris (labour Party) yang didirikan pada tahun 1900 sebagai perhimpunan serikatburuh-serikatburuh, organisasi-organisasi dan grup-grup Sosialis dengan maksud memasukkan wakil-wakil kaum buruh ke dalam parlemen (“Komite Perwakilan Buruh”). Pada tahun 1906 Komite itu diromah namanya menjadi Partai Buruh (Labou). Anggota-anggota serikatburuh-serikatburuh secara otomatis menjadi anggota-anggota Partai jika mereka membayar iyuran Partai.

Partai Buruh, yang mula-mulanya terbentuk sebagai partai kaum buruh menurut keanggotannya (kemudian di dalamnya masuk elemn-elemen burjuis-kecil yang banyak jumlahnya) kini menurut ideologi dan taktiknya merupakan organisasi oportunis. Sejak timbulnya Partai itu pemimpin-pemimpinnya menjalankan politik kerjasama klas dengan burjuasi. Di masa perang imperialis dunia (1914-1918) gembong-gembong Partai Buruh (A.Henderson, dan lain-lainnya) mengambil sikap sosial-s0vinis dan masuk ke dalam pemerintah royalis; dengan bantuannya yang aktif diterima rentetan undang-undang yang bertujuan melawan kaum buruh (tentang militerisasi negeri, dan lain-lainnya). Gembong-gembong Labouris telah tidak hanya sekali mengepalai pemerintah.

23.     Kaum Kadet –anggota-anggota partai konstitusionil-demokratis, partai utama burjuis leberal monarkis di Rusia. Partai kaum Kadet dibentuk pada bulan Oktober 1905;  ke dalam susunannya masuk wakil-wakil burjuasi, tuantanah dan kaum intelek burjuis. Untuk membohongi klas pekeja kaum kadet memberi pada dirinya nama palsu “partai kemerdekaan rakyat”, dalam kenyataannya mereka menuntut tidak lebih dari monarki konstitusionil. Pada tahun-tahun perang dunia pertama kaum Kadet dengan aktif menyokong politik luarnegeri perampokan dari pemerintah tsar. Pada masa Revolusi Burjuis-Demokratis bulan Pebruari 1917 mereka berusaha menyelamatkan monarki. Dengan menempati kedudukan pimpinan di dalam Pemerintah Sementara burjuis, kaum Kadet melakukan politik kontra-revolusioner, anti-Rakyat. Setelah kemenangan Revolusi Sosialis Oktober kaum Kadet tampil sebagai musuh yang tak kenal damai dari Kekuasaan Sovyet, ambil bagian aktif dalam semua aksi-aksi kontra-revolusioner bersenjata dan serangan-serangan kaum intervensi. Dengan berada di emigrasi setelah pengahncurkan kaum intervensi dan Garda Putih, anggota-anggota partai kaum Kadet tidak menghentikan kegiatan-kegiatan kontra-revolusioner anti-Sovyetnya.

24.     “Oposisi prinsipiil” ––  Grup kaum Komunis “Kiri” Jerman yang mengkhotbahkan pandangan-pandangan anarko-sindikalis. Kongres ke-II Partai Komunis Jerman pada bulan Oktober 1919 di Heidelberg memecat oposisi itu dari partai; oposisi pada bulan April 1920 membentuk apa yang dinamakan Partai Buruh Komunis Jerman (PBKJ). Pada bulan Nopember 1920, dengan maksud mempermudah penggabungan semua kekuatan Komunis Jerman dan memperhitungkan keinginan-keinginan elemen-elemen proletar yang terbaik dlama PBKJ, oposisi itu untuk sementara waktu diterima ke dalam Kokintern dengan hak anggota yang bersimpati. Tetapi Komintern menganggap hanya Partai Perstuan Komunis Jerman sebagai satu-satunya seksi Komite Eksekutif yang berkuasa penuh. Waktu penerimaan ke dalam Komintern terhadap wakil-wakil PBKJ dinyatakan tuntutan untuk berfusi dengan Partai Persatuan Komunis Jerman dan mendukung semua tindakannya. Tetapi pimpian PBKJ tidak mengikuti petunjuk-petunjuk Komite Eksekutif Komintern. Kongres ke III Komintern (Juni-Juli 1921), dengan maksud berjuang untuk mempengaruhi kaum buruh yang masih mengikuti PBKJ, memutuskan untuk memberikan PBKJ waktu selama dua bulan di mana ia harus mengadakan Kongres dan memecahkan masalah tentang fusi. Pemimpin-pemimpin PBKJ tidak memenuhi keputusan Kongres ke-III dan dengan demikian PBKJ  ternyata di luar Internasionale Komunis. Kemudian PBKJ merosot menjadi grup sektaris yang samasekali tidak berarti dan yang tak mempunyai landasan dalam klas buruh.

25.     Internasionale Ketiga, Internasionale komunis – organisasi proletariat revolusioner internasional, merupakan perhimpunan Partai-Partai Komunis berbagai negeri; berfungsi dari tahun 1919 sampai 1943.

Pembentukan Internasionale ke-III menjadi penting secara sejarah setelah perpecahan gerakan buruh, yang disebabkan pengkhianatan pemimpin-pemimpin oportunis Internasionale II terhadap urusan Sosialisme pada awal perang dunia pertama dan menjelang runtuhnya  Internasionale II. W.I.Lenin memainkan peranan istimewa  dalam pembentukan Internasionale Komunis.

Kongres ke I Internasionale Komunis berlangsung pada tanggal 2-6 Maret 1919 di Moskwa. Kongres menerima Manifes kepada kaum proletar sedunia, yang di dalamnya dinyatakan, bahwa Internasionale Komunis merupakan penerus ide-ide Marx dan Engels, yang dinyatakan dalam “Manifes partai Komunis”

Internasionale Komunis membangun kembali dan memperkokoh hubungan antara kaum pekerja semua negeri, memungkinkan penelanjangan oportunisme dalam gerakan buruh internasional, perkokohan Partai-Partai Komunis yang masih muda, pengolahan strategi dan taktik gerakan Komunis internasional.

Pada bulan Mei 1943 Komite Eksekutif Komintern mengambil keputusan tentang pembubaran Internasionale Komunis, bertolak dari hal, bahwa bentuk organisasi persatuan kaum buruh, yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan tahap sejarah yang telah dilalui, kini telah usang.

26.     “Suratkabar buruh Komunis” (Kommunistische Arbeiterxeitung”) – organ grup anarko sindikalis kaum Komunis “Kiri” Jerman. Sutakabar ini terbit di Hamburg dari tahun 1919 sampai tahun 1927.

Karl Erler yang disebut oleh W.I. Lenin – nama samaran G. Laufenberg.

27.         Yang dimaksud yalah “Persekutuan Perjuangan untuk Pembebasan Kals Buruh” yang diorganisasi oleh W.I.Lenin pada musim rontok tahun 1895. “Persekutuan Perjuangan” penggabungan kira-kira dua puluh lingkaran Marxis di Petersburg. “Persekutuan Perjuangan” dikepalai oleh Grup Sentral. Pimpinan langsung terhadap “Persekutuan” terpusat dalam tangan lima anggota grup yang dikepalai oleh Lenin. Organisasi terbagi atas grup-grup distrik. Para buruh yang terdepan dan sadar (I.W.Babusykin, W.A. Syelgunov, dan lain-lain) menghubungkan grup-grup itu dengan pabrik-pabrik.

Menurut ungkapan Lenin “Persekutuan Perjuangan untuk Pembebasan Kals Buruh” merupakan benih Partai Revolusioner yang berdasarkan pada gerakan buruh dan mimpin perjuangan klas proletariat.

28.     Kaum Trudowik – grup kaum Demokrat burjuis kecil di dalam Duma-Duma Negara, yang terdiri dari kaum tani dan kaum intelek aliran Narodnik. Fraksi kaum Trudowik terbentuk pada bulan April 1906 dari wakil-wakil kaum tani dalam Duma Negara I. Dalam Duma kaum Trudowik bimbang antara kaum Kadet dan kaum Sosial-Demokrat revolusioner.

29.         Keanggotaan Partai mengalami perobahan sebagai berikut dalam masa sesudah Revolusi Pebruari 1917 hingga akhir tahun 1919: ketika Konperensi ke VII se Rusia dari PBSDR (B) (April) pada tahun 1917 angka itu yalah 80.000; kira-kira 240.000 ketika Kongres ke VI PBSDR(B) (Juli-Agustus 1917), tidak kurang dari 300.000 ketika Kongres ke-VIII PKR(B) (Maret 1919).

30.         Yang dimaksud yalah “Pekan Partai”, yang dilaksanakan menurut putusan Kongres ke-VIII PKR(B) tentang pembanyakan jumlah keanggotaan Partai. Pekan itu berlangsung dalam masa, ketika Negara Sovyet melakukan perjuangan sengit melawan intervensi militer asing dan kontra-revolusi dalamnegeri. Pekan Partai pertama-tama dilaksanakan di organisasi Partai PKR(B) di Petrograd mulai tanggal 10 sampai tangga 17 Agustus 1919 (Pekan Partai kedua di Petrograd berlangsung dalam bulan Oktober-Nopember 1919); mulai tanggal 20 sampai tanggal 28 September Pekan Partai dilakukan diorganisasi Partai di Gubernia Moskwa. Menggeneralisasi pengalaman pertama pelaksanaan Pekan Partai, Pleno PKR(B) pada tanggal 26 September 1919 memutuskan untuk melaksanakan Pekan Partai di kota-kota, di desa-desa dan dalam Tentara. Pada akhir September Comite Central mengirim pada semua organisasi Partai  sepucuk surat edaran di mana ditunjukkan bahwa kini sesudah selesainya pendaftaran kembali dan pembersihan keanggotaan hampir di semua organisasi, Ccmenganggap sudah tiba waktunya untuk menerima anggota-anggota baru ke dalam Partai, CC menegaskan, bahwa dalam masa Pekan Partai ke dalam Partai harus diterima hanya para buruh pria dan wanita prajurit-prajurit Tentara Merah, kelas, petani pria dan wanita . Semua yang lain tidak boleh diterima ke dalam Partai. Akibat Pekan Partai, di 38 Gubernia bagian Eropa RSSFR saja ke dalam Partai telah masuk lebih dari 200 ribu orang di antaranya lebih dari setengah yalah kaum buruh, sedang di medanpmedan pertempuran ke dalam Partai telah diterima hampir 25 persen dari seluruh jumlah prajurit dan kelasi. Lenin menulis, bahwa kaum buruh dan tani yang masuk ke dalam Partai pada saat yang begitu berat ini “merupakan kader-kader yang terbaik dan paling terpercaya dari pemimpin-pemimpin prletariat revolusioner dan bagian kaum tani yang tidak menghisap”.

31.         Konstituante dipanggil untuk bersidang pada tanggal 5 Januari 1918. Pemilihan untuk Konstituante belansung menurut daftar, yang disusun masih sebelum Revolusi Sosialis Oktober , dan susunan Konstituante mencerminkan imbangan kekuatan, ketika burjuasi berada dalam kekuasaan. Terjadi perpecahan antara keinginan mayoritas yang besar dari Rakyat, yang berdiri untuk kekuasaan Sovyet, dan politik yang dilakukan oleh mayoritas kaum Eser-Mensyewik-Kadet dalam Konstituante, yang mencermikan kepentingan-kepentingan burjuasi dan kaum tuan tanah. Mengingat, bahwa Konstituante menolak untuk membicarakan  “Deklarasi hak-hak Rakyat yang bekerja dan tertindas” dan menolak mengesahkan Dekrit Kongers ke-II Sovyet-Sovyet mengenai perdamaian, tanah, perpindahan kekuasaan kepada Sovyet-Sovyet, ia dibubarkan atas keputusan Komite Eksekutif Sentral Se-Rusia pada tanggal 6 (19) Januari 1918.

32.     Kommunisticeski Internasional – majalah organ Komite Eksekutif Internasionale Komunis; diterbitkan dalam bahasa Rusia, Jerman, Perancis, Inggeris, Spanyol dan Tionghoa. Nomor prtama diterbitkan pada 1 Mei 1919. Di majalah ini dimuat karangan-karangan tentang teori, dan dokumen-dokumen Komintern, di dalamnya telah dimuat serentetan karangan Lenin. Majalah menyoroti masalah-masalah pokok teori Marxis-Leninis berhubung dengan problim-problim gerakan Komunis dan buruh internasional, pengalaman pembangunan Sosialisme di Uni Sovyet, serta berjuang melawan pelbagai aliran anti-Leninis. Penerbitannya dihentikan pada bulan Juni 1943 menurut keputusan Presidium Komite Eksekutif Komintern tertanggal 15 Mei 1943 tentang pembubaran Internasionale Komunis.

33.     Folkets Dagblad Politiken (Harian Rakyat Politik) – suratkabar kaum Sosial-Demokrat Kiri Swedia yang pada tahun 1917 membentuk Partai Sosial-Demokrat Kiri Swedia; terbit di Stockholm mulai dari April 1916 (sampai Nopember 1917 bernama Politiken). Pada tahun 1921  Partai Sosial-Demokrat Kiri swedia masuk ke dalam Komintern dan menamakan diri Partai Komunis; suratkabar tersebut menjadi organnya. Sesudah perpecahan dalam Partai Komunis Swedia pada bulan Oktober 1929, suratkabar ini jatuh ke dalam tangan sayap Kanannya. Penerbitannya dihentikan pada bulan Mei tahun 1945.

34.     Entente – blok negara imperilais (Inggeris, Perancis dan Rusia), yang dengan pasti terbentuk pada tahun 1907; ditujukan melawan kaum imperilais Perserikatan Tiga Negara (Jerman, Austria-Hongaria, Italia). Namanya diperoleh dari persetujuan  Inggeris Perancis yang diadakan pada tahun 1904 “Entente cordiale” (“Persetujuan tulus-ikhlas”). Pada waktu perang dunia imperialis (1914-19180 pada Entente bergabung AS, Jepang dan lain-lain negeri. Setelah Revolusi Sosialis Oktober peserta-peserta pokok blok itu – Inggeris, Perancis, AS dan Jepang – adalah pengilham-pengilham, organisator-organisator dan peserta-peserta intervensi melawan Negara Sovyet.

35.     Kaum Buruh Industri Sedunia (Industrial Workers of the World – I.W.W.) – organisasi serikatburuh kaum buruh AS, yang didirikan pada tahun 1905; ia menggabungkan pada pokoknya kaum buruh berbagai keahlian yang tak berkwalifikasi dan rendah upahnya.Dalam keadaan gerakan pemogokan massal yang berkembang di AS di bawah pengaruh revolusi tahun-tahun 1905-1907 di Rusia I.W.W. melaksankan dengan sukses serentetan pemogokan massal,  berjuang melawan politik kerjasama klas yang dijalankan oleh gembong-gembong reformis dari Federasi Kerja Amerika dan oleh kaum Sosialis kanan. Dalam tahun-tahun perang dunia imperialis dengan ikut sertanya Federasi telah dilakukan beberapa aksi massal yang aktif dari klas buruh Amerika melawan perang. Sementara tokoh I.W.W. (W.Hagwood, dan lain-lain) telah menyambut Revolsui Sosialis Oktober  dan masuk ke dalam partai Komunis AS. Bersamaan dengan itu dalam kegiatan organisasi ini telah memperlihatkan diri ciri-ciri anarko-sindikalis: ia tidak mengakui adanya perjuangan politik oleh proletariat, mengingkari peranan memimpin dari partai, mengingkari keharusan diktatur proletariat, menolak bekerja di tengah-tengah anggota-anggota serikatburuh-serikatburuh, yang tergabung dalam Federasi Kerja Amerika. Gembong-gembong yang berpandangan anarko-sindikalis dari organisasi ini, dengan menggunakan kenyataan bahwa banyak tokoh-tokoh revolusioner meringkuk dalam penjara, pada tahun 1920, bertentangan dengan kehendak massa anggota serikatburuh, menolak surat Komite Eksekutif Internasionale Komunis yang menyerukan kepadanya agar menggabungkan diri pada Komintern. Akibat politik yang oportunis dari pimpinannya, I.W.W. telah berubah menjadi organisasi sektaris yang tidak lama kemudian kehilangan pengaruhnya dalam gerakan buruh.

36.     Il Soviet (Sovyet) – suratkabar Partai Sosialis Italia; terbit di Napoli mulai tahun 1918 sampai tahun 1922.

37.     Communismo (Komunisme) – majalah tengah bulanan Partai Sosialis Italia; terbit di Milan mulai tahun 1919 sampai tahun 1922 di bawah redaksi D. Serrati.

38.     Partai Sosialis Italia (PSIt) didirikan pada tahun 1892. Sejak saat didirikannya di dalam Partai berlangsung perjuangan ideologis yang sengit antara dua aliran, yaitu aliran oportunis dan aliran revolusioner. Pada tahun 1912 pada Kongres di Regio-Emilia di bawah tekanan kaum Kiri para reformis yang paling terang-terangan, yakni pemihak perang dan kerjasama  dengan pemerintah dan burjuasi ( I.Bonomi, L.Bissolati, dan lain-lain) telah dipecat dari Partai. Dari masa permulaan perang dunia imperialis sampai ikut sertanya Italia dalam perang itu PSIt menentang perang dan mengajukan semboyan: “Melawan perang untuk netraliet!” Pada bulan Desember tahun 1914 dari partai telah dipecat segolongan renegat (B.Mussolini, dan lain-lain) yang membela politik imperialis dari burjuasi dan memihak perang. Berhubung dengan ikut sertanya Italia dalam perang di pihak Entente (Mei 1915) dalam Partai Sosialis Italia dengan tajam terlihat tiga jurusan: 1) Kanan, yang membantu burjuasi melakukan perang; 2) Sentris, yang menggabungkan kebanykan anggota Partai dan bertindak di bawah semboyan:”jangan ikut serta dalam perang dan jangan menyabotnya” dan 3) Kiri yang berpendirian lebih tegas menentang perang, tetapi yang tidak mampu mengorganisasi perjuangan konsekwen melawannya. Kum Kiri tidak mengerti keharusan mengubah perang imperialis menjadi perang sipil, keharusan berpecah secara tegas dengan kaum reformis.

Sesudah Revolusi Sisialis Oktober di barisan PSIt sayap Kiri menjadi lebih kuat. Kongres ke-XIV Partai yang berlangsung pada 5 – 8 Oktober 1919 di Bolonia mengambil putusan bergabung dengan  Internasionale III. Wakil-wakil PSIt ambil bagian dalam pekerjaan Kongres ke-II Komintern. Kepala delegasi D. Serrati yang berpendirian sentris sesudah kongres menentang perpecahan dengan kaum reformis. Pada bulan Januari tahun 1921, pada Kongres ke XVII Partai di Leghorn kaum sentris yang merupakan mayoritas di kongres menolak untuk memutuskan hubungannya dengan kaum reformis dan mengakui sepenuhnya Syarat-syarat Penerimaan ke dalam Komintern. Wakil-wakil Kiri pada tanggal 21 Januari 1921 keluar dari kongres dan mendirikan Partai Komunis Italia.

39.         Kekuasaan Sovyet di Hongaria ditegakkan pada tanggal 21 Maret 1919.  RevolusiSosialis di Hongaria bersifat damai. Burjuasi di Hongaria tidak sanggup mengadakan perlawanan terhadap massa Rakyat; dengan tidak mampu mengatasi kesukaran-kesukaran dalam dan luarnegeri, ia memutuskan menyerahkan kekuasaan untuk sementara kepada kaum Sosial-Demokrat Kanan dengan maksud menghalangi perkembangan revolusi. Tetapi kewibaan Partai Komunis di kalangan massa pada waktu itu begitu tinggi dan tuntutan-tuntutan anggota-anggota biasa Partai Sosial Demokrat untuk bersekutu dengan kaum Komunis begitu tegas, hingga pimpinan Partai Sosial Demokratis mengusulkan pada para pemimpin Partai Komunis yang  ditangkap untuk membentuk pemerintah bersama. Gembong-gembong Sosial Demokrat terpaksa setuju dengan syarat-syarat yang diajukan olek kaum Komunis waktu perundingan, yaitu pembentukan pemerintah Sovyet, melucuti burjuasi, pembentukan Tentara Merah dan milisi Rakyat, penyitaan tanah-tanah tuantanah, nasionalisasi industri, diadakannya persekutuan dengan Rusia Sovyet, dan lain-lain. Pada waktu itu juga ditandatangani persetujuan tentang penyatuan  Kedua Partai menjadi Partai Sosialis Hongaria. Dalam penyatuan kedua Partai ini telah terjadi kesalahan-kesalahan yang kemudian mendatangkan akibatnya; penyatuan dilakukan dengan jalan penggabungan secara mekanis tanpapembersihan elemen-elemen reformis.

Pada sidangnya yang pertama Dewan Pemerintah Revolusioner segera mengambil keputusan tentang pembentukan Tentara Merah. Pada tanggal 26 Maret Pemerintah Sovyet Hongaria mengeluarkan dekrit-dekrit tentang nasionalisasi  perusahaan-perusahaan industri, pengangkutan, bank-bank; pada tanggal 2 April dilaksanakan dekrit tentang monopoli perdagangan luarnegeri. Upah kaum buruh diperbesar kira-kira dengan 25% dan harikerja 8 jam dipraktekkan; pada tanggal 3 April disyahkan undang-undang tentang land-reform yang menurutnya semua milik tuantanah yang lebih dari 100 hold (57 hektar) disita. Tetapi tanah yang disita itu tidak dibagi-bagikan kepada petani-petani yang tidak mempunyai tanah atau mempunyai sedikit saja, melainkan tanah itu diserahkan kepada koperasi-koperasi produksi pertanian yang didirikan di temapt-tempat dan kepada perusahaan-perusahaan pertanian negara. Kaum tani yang paling miskin dan yang berharap memperoleh tanah sudah kecewa. Hal ini menghalangi diadakannya persekutuan kokoh proletariat dengan kuam tani dan memperlemah kekuasaan Sovyet di Hongaria.

Kaum kapitalis Entente memusuhi penetapan diktatur proletariat di Hongaria; Republik Sovyet dikenakan blokade ekonomi. Terhadap Republik Sovyet Hongaria telah diorganisasi intervensi militer. Serang tentara intervensi mengaktifkan kontra-revolusi Hongaria. Pengkhianatan kaum Sosial-Demokrat Kanan yang bersekutu dengan imperialisme internasional juga merupakan salah satu sebab kehancuran Republik Sovyet Hongaria.

Situasi internasional yang tidak menguntungkan, yang timbul pada musim panas tahun 1919, di mana Rusia Sovyet telah diserbu dari segala jurusan dan tidak sempat memberi bantuan kepada Republik Sovyet Hongaria, juga memainkan peranan negatifnya. Pada tanggal 1 Agustus tahun 1919 sebagai tindakan-tindakan bersama dari intervensi imperialis dari luar dan kontra-revolusi dalam negeri, kekuasaan Sovyet di Hongaria digulingkan.

40.     Kaum Balnquis – pengikut-pengikut aliran dalam gerakan Sosialis Perancis, yang dipimpin oleh seorang revolusioner terkemuka, wakil kenamaan Komunisme utopis Perancis – Louis Auguste Blanqui (1805-1881). Kaum Blanquis mengharapkan “pembebasan umat manusia dari perbudaakan upahan tidak dengan jalan perjuangan klas proletariat, melainkan dengan jalan komplotan minoritas kecil kaum intelek” (W.I.Lenin). Sambil mengganti aktivitas Partai revolusioner dengan aksi-aksi segundukan kaum komplotan, mereka mengabaikan hubungan dengan massa, tidak mengerti keharusan adanya gerakan revolusioner massal.

41.     Der Volksstaat (Negara Rajyat) – suratkabar, organ sentral Sosial-Demokrasi Jerman (Partai kaum Eisenah); terbit di bawah redkasi K. Liebknecht pada tahun-tahun 1869-1876. K.Marx dan F. Engels pernah menulis untuk suratkabar ini.

42.     Liga Bangsa-Bangsa – organisasi internasional yang ada antara perang dunia pertama dan kedua; didirikan pada tahun 1919 pada Konferensi perdamaian Paris dari negara-negara pemenang perang dunia pertama. Mulai berfungsi pada tahun 1920. Piagam Liga Bangsa-Bangsa merupakan bagian dari Perjanjian Perdamaian Versailles tahun 1919, dan ditanda tangani oleh 44 negara. Kegiatan Liga Bangsa-Bangsa dilakukan melalui Majelis Umum, Dewana Liga Bangsa-Bangsa  dan Sekretariat tetap yang dikepalai oleh Sekretaris Jendral. Selama masa tahun-tahun 1920-1934 kegiatan Liga Bangsa-Bangsa bersifat bermusuhan terhadap Uni Sovyet. Pada tahun-tahun 1920-1921 Liga bangsa-Bangsa merupakan salah satu pusat organisasi intervensi bersenjata terhadap Negara Sovyet.

43.         Yang dimaksudkan yalah bagian dari surat F. Engels kepada Sorge, tertanggal 29 Nopember 1886, di mana Engels, sambil mengkritik sifat sektaris dari kegiatan kaum Sosial-Demokrat Jerman yang hidup di emigrasi di Amerika, juga mengatakan, bahwa bagi mereka teori adalag “suatu dogma dan bukan suatu pedoman untuk bertindak”.

44.         Dalam resensi mengenai buku ahli ekonomi Amerika, G.Ch.Carey “Surat-surat ekonomi politik kepada President Amerika Serikat”, N.G.Cernisyevski menulis; “Jalan sejarah bukanlah Trottoir di Jalan Raya Nevski; ia sepenuhnya melalui ladang-ladang, kadang-kadang rimbaraya. Mereka yang takut debu dan kotor sepatunya, jangan mulai melakukan kegiatan sosial”.

45.         Yang dimaksud yalah konperensi-komperensi Sosialis internasional di Zimmerwald dan Kienthal.

Konperensi Zimmerwald atau Konperensi Sosialis Internasional Pertama berlangsung pada tanggal 5 – 8 September 1915.

Konperensi Kienthal, atau Konperensi Sosialis Internasional Kedua berlangsung di suatu kampung Kienthal (Swis) pada 24 – 30 April 1916.

Konperensi Zimmerwald dan Kienthal membantu untuk, atas dasar ideologi Marxisme-Leninisme, menyatupadukan elemen-elemen Kiri Sosial Demokrasi Eropa Barat perjuangan untuk mendirikan partai-partai Komunis di negeri-negerinya dan untuk pembentukan Internasionale III, Internasionale Komunis.

46.     “Kaum Komunis Revolusioner” – suatu grup yang keluar dari Partai Kaum Sosialis Revolusioner Kiridan yang memutuskan hubungannya dengan mereka sesudah pemberontakan kaum Sosialis-Revolusioner Kiri pada bulan Juli tahun 1918. Pada bulan September tahun 1918 grup ini tersusun menjadi apa yang disebut “Partai Komunis Revolusioner” , dan mengajukan kerja sama dengan PKR(B) serta menyatakan, bahwa ia akan mendukung kekuasaan Sovyet. Program “Kaum Komunis Revolusioner ditandai dengan keruwetan dan sifat elektik dari pandangan-pandangannya. Dengan mengakui bahwa kekuasaan Sovyet-Sovyet menimbulkan prasart-prasarat untuk penegakan sistim Sosialis, bersamaa waktu “Kaum Komunis Revolusioner” mengingkari keharusan diktatur proletariat dari masa peralihan dari kapitalisme ke Sosialisme. Sesudah putusan Kongres ke-II komintern bahwa setiap negeri dapat ada hanya satu Partai Komunis, “Partia Kaum Komunis Revolusioner” pada bulan September tahun 1920 memutuskan masuk ke dalam PKR(B).

47.     Kaum Eser Kiri – partai kaum Sosialis Revolusioner Kiri (kaum internasionalis), secara organisasi terbentuk pada Kongres se-Rusia ke-I mereka, yang berlangsung pada tanggal 19-28 Nopember (2 – 11 Desember) 1917. Sebelum itu kaum Eser Kiri ada sebagai sayap Kiri partai kaum Eser, yang mulai terbentuk pada tahun-tahun perang dunia imperialis. Pada Kongres ke-II Sovyet-Sovyet se-Rusia kaum Eser-Kiri dalam masalah-masalah yang paling penting mengenai cara, memberikan suara bersama-sama dengan kaum Bolsyewik, ke dalam pemerintah Sovyet. Setelah kebimbangan yang lama kaum Eser-Kiri, dengan berusaha memelihara pengaruhnya di dalam kalangan kaum tani, setuju untuk bersepakat dengan kaum Bolsyewik, dan wakil-wakil mereka dimasukkan dalam beberapa kolegium Komisariat-komisariat Rakyat. Meskipun menempuh jalan kerjasama dengan kaum Bolsyewik, kaum Eser Kiri berpisah dengan mereka dalam masalah pokok pembangunan Sosialisme, tampil melawan diktatur proletariat. Pada bulan Januari-Pebruari 1918 CC Partai kaum Eser-Kiri mulai berjuang melawan diadakannya Perjanjian Perdamaian Brest, dan setelah Perjanjian itu ditanda tangani dan kemudian diratifikasi oleh Kongres ke-IV Sovyet-Sovyet pada bulan Maret 1918, kaum Eser Kiri keluar dari Dewan Komisaris-Komisaris Rakyat, tetapi terus tinggal dalam Kolegium-kolegiumKomisariat-Komisariat Rakyat dan dalam badan-badan kekuasaan setempat. Dengan perkembangannya revolusi Sosialis di pedesaan di kalangan kaum Eser-Kirisemangat anti-Sovyet menjadi semakin kuat. Pada bulan Juli 1918 CC kaum Eser Kiri mengorganisasi pembunuhan terhadap Duta Jerman di Moskwa, memperhitungkan dengan demikian memprovokasi perang antara Rusia Sovyet dan Jerman, dan membangkitkan pemberontakan bersenjata melawan kekuasaan Sovyet. Berhubung dengan itu Kongres ke-V Sovyet-Sovyet se-Rusia setelah penindasan pemberontakan itu mengambil keputusan mengenai pengusiran dari susunan Sovyet-Sovyet orang-orang Enser-Kiri yang menyetujui pandangan-pandangan pimpinan atasannya.

48.     Perjanjian Perdamaian Versailles yang mengakhiri perang dunia imperialis tahun-tahun 1914-1918 ditanda tangani pada tanggal 29 Juni tahun 1919 oleh AS, Imperium Britania, Perancis, Italia, Jepang dan negara-negara yang bergabung dengan mereka, di satu pihak, dan oleh Jerman di pihak lain.

Menilai Perjanjian Perdamaian Versailles, Lenin mengatakan: “Ini adalah Perjanjian perampokan yang belum pernah terjadi, yang menempatkan puluhan juta orang termasuk yang paling beradab, dalam kedudukan budak”. Perjanjian Perdamaian Versailles bermaksud untuk memperkuat pembagian dunia kapitalis kembali demi keuntungan negara-negara pemenang dan juga untuk membentuk suatu sistim hubungan-hubungan antara negeri-negeri, yang bertujuan untuk mencekik Rusia Sovyet dan menghancurkan gerakan revolusioner di seluruh dunia.

49.     Partai Sosialis Inggeris (PSIng) – (British Sosialist Party –BSP) didirikan pada tahun 1911 di Manchester sebagai akibat penyatuan Partai Sosial Demokratis dengan grup-grup Sosialis lainnya. PSIng menjalankan agitasi yang berjiwa ide-ide Marxisme dan merupakan partai yang “tidak oportunis dan benar-benar bebas dari kaum Liberal” (W.I.Lenin). Tetapi Partai itu bersifat agak sektaris karena keanggotannya yang kecil dan hubungannya yang lemah dengan massa. Selama perang dunia imperialis di dalam Partai itu berlangsung perjuangan sengit antara aliran internasionalis (W.Gallacher, A.Inkpin, J.McLean, F.Rothstein, dan lain-lain) dan aliran sosial-sovinis yang dikepalai oleh Hyndman. Di dalam aliran internasionalis terdapat lelemen-elemen yang tidak konsekwen yang berpendirian sentris mengenai serentetan masalah.

Konferensi tahunan PSIng yang berlangsung pada bulan April tahun 1916 di Salford mengecam pendirian sosial-sovinis dari Hyndman serta penganut-penganutnya dan mereka menarik diri dari Partai.

Partai Sosialis Inggeris menyambut Revolusi Sosialis Oktober Besar. Anggota-anggota PSIng telah memainkan peranan besar dalam gerakan kaum pekerja Inggeris untuk membela Rusia Sovyet dari intervensi asing. Pada tahun 1919 kebanyakan mutlak dari organisasi-organisasi Partai (98 lawan 44) menyatakan masuk ke dalam Internasionale Komunis. Partai Sosialis Inggeris bersma dengan grup Persatuan Komunis memainkan peranan utama dalam pembentukan Partai Komunsi Inggeris. Pada Kongres fusi yang petama yang berlangsung pada tahun 1920, kebanyakan mutlak organisasi-organisasi setempat PSIng menyeburkan diri ke dalam Partai Komunis.

50.     Partai Buruh Sosialis (Sosialist Labour Party) – organisasi revolusioner Marxis, didirikan pada tahun 1903 di Scotland oleh grup kaum Sosial-Demokrat Kiri yang pada pokoknya terdiri dari orang-orang Scotland dan yang memisahkan diri dari Federasi Sosial Demokratis.

Perhimpunan Sosialis Wales Selatan (South Wales Sosialist Society) – sebuah grup kecil yang pada pokoknya terdiri dari para buruh tambang Wales yang revolusioner. Perhimpunan timbul dari gerakan untuk reforma dalam pertambangan yang menjadi kuat secara nyata sudah ketika menjelang perang dunia pertama.

Ferderasi Buruh Sosialis (Worker’s Sosialist Federation) – organisasi yang kecil jumlah anggotanya, yang timbul pada bulan Mei tahun 1918 dari Perhimpunan Pembelaan Hak-Hak pemilihan Wanita dan yang pada pokonya terdiri dari para wanita.

Waktu pembentukan Partai komunis Inggeris (Kongres Pengesahan berdirinya berlangsung pada tanggal 31 Juli – 1 agustus tahun 1920) yang memasukkan ke dalam programnya  pasal-pasal tentang ikut sertanya Partai dalam pemilihan Parlemen dan penggabungan dengan Partai Buruh, organbisasi-organisasi tersebut, yang telah membuat kesalahan-kesalahan sektaris, tidak masuk ke dalam Partai komunis. Pada bulan januari 1921 Perhimpunan Sosialis Wales Selatan dan Fedesari Buruh Sosialis, yang pada waktu itu sudah bernama “Partai Komunis (Seksi Inggeris Internasionale Komunis)” berfusi dengan Partai Komunis Inggeris. Pimpinan Partai Buruh Sosialis menolak untuk berfusi.

51.     Workers’ Dreadnought – terbit di London mulai bulan maret tahun 1914 sampai bulan Juni tahun 1924; sampai bulan Juli 1917 terbit dengan judul Woman’s Dreadnought. Sesudah dibentuknya Federasi Buruh Sosialis pada tahun 1918 ia menjadi organ organisasi itu.

52. Manchester Guardian (Penjaga Manchester) – suratkabar burjuasi liberal, salah satu yang paling tersebar dan berpengaruh di antara suratkabar-suratkabar burjuis di Inggeris. Didirikan pada tahun 1821 sebagai mingguan (sejak tahun 1857 mulai terbit sebagai harian).

53. Yang dimaksud yalah pemberontakan kontra-revolusioner kaum burjuis dan tuantanah pada bulan Agustus tahun 1917, yang dipimpin oleh Panglima Tertinggi Tentara, jendral tsar, Kornilov. Kaum komplotan ini bertujuan merebut petrograd, menghancurkan Partai Bolsyewik, membubarkan Sovyet-Sovyet, menegakkan di negeri diktatur militer dan mempersiapkan pemulihan monarki.

Pemberontakan mulai pada tanggal 25 Agustus (7 September). Kornilov mengerahkan Korps Pasukan          Berkuda ke-3 ke Petrograd. Organisasi-organisasi Kornilov yang kontra-revolusioner di Petrograd itu sendiri juga siap-siap beraksi.

Pemberontakan Kornilov ditindas oleh kaum buruh dan tani yang dipimpin oleh Partai Bolsyewik. Di

bawah desakan massa, Pemerintah Sementara terpaksa memerintahkan menangkap Kornilov dan pengikut-pengikutnya dan membawa mereka ke muka pengadilan.

54.     Yang dimaksud yalah kudeta monarkis-militer, apa yang disebut “Putsch Kapp” yang dilaksanakan oleh kaum militeris reaksioner Jerman. Organisator-organisator Putsch itu adalah para monarkis, yaitu tuantanah Kapp dan jendral-jendral Ludendorff, Seckt dan Lüttwitz. Para komplotan ini mempersiapkankudeta itu dengan persetujuan terang-terangan dari Pemerintah kaum Sosial Demokrat. Pada tanggal 13 Maret 1920 jendral-jendral pemberontak membawa tentaranya ke Berlin dan dengan tidak menemui perlawanan dari pihak Pemerintah membentuk diktatur militer. Kaum buruh Jerman menjawab kudeta itu dengan pemogokan umum di bawah desakan proletariat, Pemerintahan Kapp runtuh pada tanggal 17 Maret; kaum Sosial-Demokrat kembali memegang kekuasaan

55.     Peristiwa Dreyfus –pemeriksaan provokatif yang diorganisai pada tahun 1894 oleh kalangan-kalangan monarkis-reaksioner dari kaum militeris Perancis terhadap Dreyfus, seorang perwira bangsa Yahudi dalam Staf Umum Perancis yang didakwa secara palsu, seolah-olah ia melakukan spionase dan mengkhianati negara. Hukuman seumur hidup, yang dijatuhkan oleh kaum militeris reaksioner terhadap Dreyfus, digunakan oleh kalangan-kalangan reaksioner Perancis untuk mengobar-kobarkan anti-Semit-isme dan menyerang rezim republiken serta kebebasan-kebebasan demokratis. Pada tahun 1898, ketika kaum Sosialis dan wakil-wakil terkemuka dari kaumDemokrat burjuasi (di antaranya E.Zola, J.Jaures, A. France, dan lain-lainnya) memulai kampanye untuk memeriksa kembali peristiwa Dreyfus, ia menjadi suatu peristiwa politik yang tajam dan memecah negeri menjadi dua kubu: kaum republiken dan kaum Demokrat, di satu pihak, dan blok kaum monarkis, kaum clerical, anti- Semit dan nasionalis, di pihak lain. Pada tahun 1899 berkat tekanan pendapat umum, Dreyfus telah dibebaskan; pada tahun 1906 menurut keputusan Pengadilan kasasi ia diakui sebagai tidak bersalah dankembali berdinas di tentara.

56.     Die Rote Fahne (Panji Merah) – suratkabar yang didirikan oleh K. Liebknecht dan R Luxenburg sebagai organ sentral “Liga Spartakus”, kemudian organ sentral Partai Komunis Jerman. Suratkabar ini terbit di Belin sejak tanggal 9 Nopember 1918; banyak kali mengalami represi-represi dan pelarangan dari pihak kekuasaan Jerman.

57.     Kandang Kuda Augeias – menurut mitologi Junani kuno kandang-kuda yang sangat luas sekali dari raja Elis, Augeias, yang dalam banyak tahun berturut-turut tidak dibersihkan dan yang oleh pahlawan Hercules dibersihkan dalam satu hari.

Ungkapan “kandang-kuda Augeias” – searti dengan penumpukan segala macam sampah dan kotoran atau kelengahan dan kekacauan yang sangat dalam urusannya.

58.     Die Rote Fahne (Panji Merah) – suratkabar, organ sentral Partai Komunis Austria; terbit di Wena sejak bulan nopember 1918.

59.         Die Freiheit (Kemerdekaan) – Harian, organ Partai Soaial-Demokratis Merdeka Jerman; terbit di Berlin sejak tanggal 15 Nopember tahun 1918 sampai tanggal 30 September 1922.

60. “Pengacara-pengacara” “Sovyet”—kolegium-kolegium pengacara-pengacara yang dibentuk pada bulan Pebruari tahun 1918 di bawah Sovyet-Sovyet Perwakilan Buruh, Prajurit, Petani dan Kosak. Pada musim semi tahun 1920 timbul masalah ditiadakannya kolegium-kolegium pengacara-pengacara karena di banyak kolegium ternyata besar pengaruh adpokat-adpokat burjuis yang memutarbalikkan dasar-dasar pengadilan Sovyet dan menyalahgunakannya. Pada bulan Oktober tahun 1920 kolegium-kolegium pengacara-pengacara itu ditiadakan.

61.         Atad dasar petunjuk W.I.Lenin ini dalam teks karya Komunisme Sayap “Kiri”, suatu penyakit kanak-kanak ungkapan “kaum Tribunis Belanda” di mana-mana diganti dengan kata-kata “beberapa anggota dari Partai Komunis Belanda”.

 

 

 

 

—–ooooooOooooo——

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KOMUNISME “SAYAP-KIRI”,

SUATU PENYAKIT KANAK-KANAK

W.I. LENIN

 

Yayasan “PEMBARUAN”

Jakarta 1955

(Cetakan ke-III)

 

 

Dalam arti bagaimana kita bisa membicarakan

arti internasional revolusi rusia?

Dalam bulan-bulan pertama sesudah merebut kekuasaan politik oleh proletariat di Rusia  (25-X – 7.XI.1917), mungkin nampak bahwa perbedaan amat besar antara Rusia yang terbelakang dengan negeri-negeri yang sudah maju di Eropa Barat akan menyebabkan revolusi proletar di neger-negeri yang disebut belakangan ini mempunyai sedikit sekali persamaan dengan revolusi kami.  Sekarang kita sudah mempunyai banyak sekali pengalaman internasional yang dengan sangat tegas menunjukkan bahwa beberapa ciri revolusi kami yang pokok mempunyai arti yang bukan setempat, bukan khusus nasional, bukan semata-mata Rusia, tetapi yang internasional. Dan di sini saya bicara tentang arti internasional bukan dalam pengertian yang luas, yaitu bahwa bukan beberapa, tetapi semua ciri yang pokok dan banyak ciri yang sekunder dari revolusi kami mempunyai arti internasional dalam arti perngaruhnya terhadap semua negeri. Tidak, saya bicara dalam pengertian yang sesempit-sempitnya, yaitu bahwa jika menginsyafi arti internasional itu sebagai pengaruhnya secara internasional atau ketidakterelakkannya secara sejarah pengulangan dalam rangka internasional suatu apa yang telah terjadi di negeri kami, orang terpaksa mengakui, bahwa beberapa ciri revolusi kami yang pokok memang mempunyai arti yang sedemikian itu.

Sudah tentu, adalah kekeliruan amat besar untuk membesar-besarkan kebenaran ini dan mengenakannya tidak hanya pada beberapa ciri revolusi kami yang pokok. Demikian pula akan salah jika kita gagal untuk melihat bahwa sesudah kemenangan revolusi proletar sekurang-kurangnya hanya di salah satu negeri yang sudah maju mungkinsekali keadaan akan sangat berobah, yaitu, Rusia akan segera tidak lagi menjadi negeri teladan, tetapi sekali lagi menjadi sebuah negeri yang terbelakang (dalam arti “Sovyet” dan Sosialis).

Tetapi pada saat sejarah sekarang ini situasi adalah justru demikian rupa hingga contoh Rusia memperlihatkan sesuatu kepada semua negeri dan suatu yang sangat penting sekali, tentang hari depan mereka yang sudah dekat dan tak terhindarkan. Kaum buruh yang maju di semua negeri sudah sejak lama mengerti hal ini; dan lebih sering mereka menangkap, merasakannya dengan naluri klas revolusionernya, daripada memahaminya. Di sinilah letak “arti” internasional ( dalam arti kata yang sempit) dari kekuasaan Sovyet, dan juga dari azas-azas teori dan taktik Bolsyewik.Hal ini tidak dimengerti oleh pentolan-pentolan ““revolusioner” dari Internasionale II 2, seperti Kautsky di Jerman, dan Otto Bauer serta Friederich Adler di Austria, dan ternyata oleh akrenanya mereka menjadi kaum reaksioner dan pembela-pembela bentuk-bentuk oportunisme dan pengkhianatan sosial yang paling buruk. Antara lain brosur gelap “Revolusi Dunia” (“Weltrevolution”) yang terbit di Wina pada tahun 1919 (Sozialistische Bücherei. Heft 11; Ignaz Brand*)  dengan terutama jelas menunjukkan seluruh jalan pikiran mereka dan seluruh lingkaran ide-ide mereka, atau, lebih tepat, puncak kebodohan, kecongkakan kekejian dan pengkhianatan mereka terhadap kepentingan-kepentingan klas buruh – dan, lagipula, dengan kedok “mempertahankan” cita-cita “revolusi dunia”.

Akan tetapi kami akan membicarakan brosur ini akan secara lebih luas di kali lain. Di sini kami akan mencatat hanya satu soal lagi: dulu, sudah lama sekali, Kautsky ketika masih seorang Marxis dan bukan seorang renegat, waktu memecahkan soal itu sebagai seorang ahli sejarah, meramalkan kemungkinan timbulnya situasi di mana jiwa revolusioner proletariat Rusia akan menjadi contoh bagi Eropa Barat. Ini adalah dalam tahun 1902, ketika Kautsky menulis sebuah artikel yang berkepala “Bangsa Slav dan Revolusi” untuk Iskra 3 yang revolusioner. Di bawah ini adalah apa yang ditulis dalam artikel tersebut:

 

“Sedangkan pada saat sekarang ini” (berbeda dengan tahun 1848) “ dapat dianggap, bahwa bangsa Slav tidak hanya telah memasuki barisan-barisan Rakyat yang revolusioner, tetapi bahwa pusat pemikiran revolusioner dan aksi revolusioner juga semakin berpindah kepada bangsa Slav. Pusat revolusioner sedang berpindah dari Barat ke Timur. Pada pertengah pertama abad ke-XIX   ia ada di Perancis, kadang-kadang  di Inggris.   Dalam  tahun 1848  Jerman  juga  memasuki barisan nasion-nasion yang

 

  • Pustaka Sosialis, cetakan 11; Ignaz Brand, —Red.

Revolusioner………….Abad baru mulai dengan kejadian-kejadian yang menyarankan bukan pikiran, bahwa kita sedang mendekati perpindahan pusat revolusioner lebih lanjut, yaitu perpindahannya ke Rusia………. Rusia, yang telah meminjam begitu banyak inisiatif revolusioner dari Barat, sekarang mungkin sudah siap sendiri untuk menjadi sumber enersi revolusioner bagi Barat. Gerakan revolusioner yang sekarang menyala-nyala di Rusia mungkin akan ternyata mejadi alat yang paling ampuh untuk menyingkirkan jiwa filistinisme yang lembek itu dan politik-politikan  yang terlalu praktis, yang mulai menjalar di barisan kita, dan ia memaksa menyala berkobar-kobar hasrat berjuang dan kesetiaan besar kepada cita-cita kita yang mulia. Rusia sudah sejak lama tidak lagi semata-mata menjadi benteng reaksi dan absolutisme buat Eropa Barat. Duduknya perkara dewasa ini nampaknya justru sebaliknya. Eropa Barat sedang mulai menjadi benteng reaksi dan absolutisme bagi Rusia ……..  Kaum revolusioner Rusia mungkin sudah lama dapat menggulingkan  tsar jika mereka tidak terpaksa bersamaan dengan itu melawan sekutunya, yaitu kapital Eropa. Marilah kita berhara, bahwa kali ini mereka akan berhasil dalam mengalahkan kedua musuh itu, dan bahwa “Persektuan Keramat” yang baru akan runtuh lebih cepat dari pada persekutuan-persekutuan yang mendahuluinya. Akan tetapi bagaimanapun juga perjuangan sekarang di Rusia akan berakhir, darah dan kebahagiaan sang korban  yang akan ditimbulkannya, sungguh sayang, dalam jumlah yang sangat banyak sekali, tidak akan dikorbankan dengan sia-sia. Mereka akan memupuk tunas-tunas revolusi sosial di seluruh dunia yang beradab dan membuat mereka tumbuh lebih subur dan cepat. Dalam tahun 1848 bangsa Slav merupakan udara dingin yang mematikan bunga-bunga musim semi Rakyat. Mungkin sekarang mereka telah ditakdirkan menjadi angintaufan yang akan memecahkan es reaksi dan bersamaan dengan itu akan membawa dengan tidak tercegahkan musim semi yang baru dab bahagia bagi Rakyat”. (Karl Kautsky, Bangsa Slav dan Revolusi”, Iskra, suratkabat revolusioner Sosial-Demokrat Rusia, No.18 Maret, 1902).

 

Baik betul tulisan Karl Kautsky 18 tahun yang lalu!

 

 

II

Salah satu syarat pokok suksesnya kaum Bolsyewik

Sudah tentu, hampir tiap orang sekarang menginsyafi bahwa kaum Bolsyewik tidak akan dapat mempertahankan kekuasaannya selama dua setengah bulan, apalagi dua setengah tahun, tanpa disiplin yang sekeras-kerasnya, disiplin baja yang sungguh-sungguh dalam Partai kami, tanpa sokongan yang sepenuh-penuhnya dan tidak berpamrih yang diberikan kepada Partai oleh seluruh massa klas buruh, yaitu oleh semua elemennya yang berfikir, jujur, rela berkorban dan yang berpengaruh, yang dapat memimpin atau membawa bersama-sama m                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                033 bertambah kuat sepuluh kali lipat karena ia digulingkan (sekalipun hanya di dalam satu negeri), dan yang kekuatannya tidak hanya terletak dalam kekuatan kapital internsional, dalam kekuatan dan kekekalan hubungan-hubungan internasional dari burjuasi, tetapi juga dalam kekuatan kebiasaan, dalam kekuatan produksi secara kecil-kecilan. Karena produksi secara kecil-kecilan, sayang sekali, masih terdapat sangat, sangat banyak di dunia ini, dan produksi secara kecil-kecilan terus menerus, setiap hari, setiap jam, secara spontan, dan secara besa-besaran melahirkan kapitalisme dan burjuasi. Karena smeua ini maka diktatur proletariat adalah mutlak perlu, dan kemenangan atas burjuasi tak mungkin tercapi tanpa peperangan yang lama, tabah, gagahberani dan mati-matian, suatu peperangan yang menuntut ketekunan, disiplin, ketabahan hati, keteguhan dan kesatuan kemauan.

Saya ulangi, pengalaman diktatur proleriat yang jaya di Rusia dengan jelas telah menunjukkan kepada mereka yang tidak mampu berpikir, atau yang belum pernah memikirkan soal ini, bahwa sentralisasi yang mutlak dan disiplin yang sekeras-kerasnya dari proletariat merupakan salah satu syarat yang pokok buat kemenangan atas burjuasi.

Hal ini kerap kali disinggung. Akan tetapi jauh tidak cukup dipikirkan apa artinya dan dalam keadaan bagaimana ia mungkin. Apakah tidak lebih baik jika ucapanselamat-ucapanselamat untuk menghormati kekuasaan Sovyet dan kaum Bolsyewik lebih sering lagi diiringi dengan analisa yang seserius-seriusnya tentang sebab-sebab mengapa kaum Bolsyewik berhasil membangun disiplin yang diperlukan untuk proletariat revolusioner?

Sebagai suatu aliran pemikiran politik dan sebagai suatu partai politik, Bolsyewisme ada sejak tahun 1903 Hanya sejarah Bolsyewisme selama seluruh masa  hidupnya  yang dapat menerangkan dengan memuaskan mengapa ia berhasil membangun dan memelihara dalam keadaan-keadaan yang paling sulit disiplin baja yang dibutuhkan buat kemenangan proletariat.

Dan pertama-tama timbul pertanyaan: bagaimanakah dipelihara disiplin partai proletariat revolusioner? Dengan apa ia diuji? Dengan apa diperkuat? Pertama, dengan kesadaran klas dari pelopor proletariat dan kesetiannya kepada revolusi, dengan keuletannya, pengorbanan diri dan heroisme. Kedua, dengan kecakapannya menghubungkan diri, mendekati, dan sampai pada batas tertentu, jika suka, meleburkan diri dengan masa yang seluas-luasnya dari kaum pekerja – terutama sekali dengan yang proletar, tetapi juga dengan massa pekerja non-proletar. Ketiga, dengan tepatnya politik yang dijalankan oleh pelopor ini, dengan tepatnya strategi dan taktik politiknya, asalkan massa yang seluas-luasnya sudah menjadi yakin dari pengalaman mereka sendiri akan ketepatan itu. Tanpa syarat-syarat ini disiplin dalam partai  revolusioner yang sungguh-sungguh dapat menjadi partai dari klas yang maju yang kewajibannya yalah menggulingkan burjuasi dan mengubah kembali sluruh masyarakat, tidak dapat dicapai. Tanpa syarat-syarat ini, usaha-usaha untuk mengadakan disiplin pasti akan menjadi nol besar, omongkosong, dan pembadutan. Sebaliknya, syarat-syarat ini tidak dapat timbul dengan segera. Syarat-syarat ini diciptakan hanya oleh suatu yang lama dan pengalaman yang diperoleh dengan susah-payah; terciptanya syarat-syarat ini dipermudah dengan teori revolusioner yang tepat, yang pada gilirannya bukan suatu dogma, tetapi yang mencapai bentuknya yang terakhir hanya dalam hubungan yang rapat dengan praktek gerakan yang benar-benar revolusioner.

Bahwa Bolsyewisme dalam tahun-tahun 1917 – 1920 dalam keadaan-keadaan yang tak terbandingkan sulitnya, dapat membangun dan mewujudkan dengan berhasil sentralisasi yang sangat keras dan disiplin baja adalah semata-mata karena beberapa keistimewaan sejarah Rusia.

Pada satu pihak, Bolsyewisme lahir dalam tahun 1903 atas dasar yang paling teguh dari teori Marxisme. Dan kebenaran teori revolusioner ini – dan hanya inilah satu-satunya – telah dibuktikan tidak hanya oleh pengalaman sedunia selama seluruh abd ke-XIX, tetapi terutama sekali oleh pengalaman kesesatan-kesesatan dan kebimbangan-kebimbangan, kesalahan-kesalahan dan kekecewaan-kekecewaan dari pikiran revolusioner di Rusia.  Selama hampir setengah abad—kira-kira dari tahun 40-an sampai dengan 90-an abad yang lalu – pikiran yang maju di Rusia, yang ditindas oleh tsarisme yang tak ada bandingan kejam dan reaksionernya, dengan haus mencari teori revolusioner yang benarm sebarang dan setiap “kata terakhir” dalam lapangan ini di Eropa dan Amerika diikutinya dengan ketekunan dan ketelitian yang mengagumkan. Rusia memperoleh Marxisme, sebagai satu-satunya teori revolusioner yang benar, dengan melalui penderitaan yang sesungguhnya, dengan mengalami siksaan dan pengorbanan yang tak ada taranya, heroisme revolusioner yang tak ada bandingnya, enersi yang luar biasa, penyelidikan dengan sepenuh tenaga, studi, percobaan praktek, kekecewaan, ujian dan perbandingan dengan pengalaman di eropa selama setengah abad. Berkat imigrasi yang dipaksakan oleh tasrisme, maka Rusia yang revolusioner dalam pertengahan kedua dari abad ke-XIX mempunyai hubungan-hubungan internasional yang begitu banyak dan informasi yang begitu baik tentang bentuk-bentuk dan teori-teori gerakan revolusioner sedunia yang tidak dipunyai oleh negeri manapun di dunia ini.

Di pihak lain, sesudah lahir atas dasar teori yang keras seperti granit ini, Bolsyewisme melalui sejarah dalam praktek selama lima belas tahun (1903-1917) yang dalam soal kekayaan pengalaman tidak ada bandingnya di dunia ini. Karena tidak ada satu negeri lainpun yang selama limabelas tahun ini mempunyai sesuatu apapun yang menyerupai pengalaman revolusioner ini, pergantian yang cepat dan bermcam-macam dari berbagai bentuk gerakan – legal dan ilegal, dalam suasan damai dan bergejolak, di bawahtanah dan terang-terangan, secara grup-grup dan gerakan massal, parlementer dan teroris. Tidak ada negeri lain manapun juga, di mana selama waktu yang begitu pendek terpusat suatu kekayaan yang begitu besar dari bentuk, corak, dan cara-cara perjuangan dari semua klas dalam masyarakat modern, lagi pula, suatu perjuangan yang, berhubung dengan keterbelakangan negeri dan kejamnya tindasan tsarisme, menjadi matang dengan kecepatan yang luarbiasa dan secara sangat giat dan berhasil mencernakkan “kata terakhir” yang sesuai dari pengalaman politik Amerika dan Eropa.

 

 

III

Tahap-tahap pokok dalam sejarah

Bolsyewisme

Tahun-tahun persiapan revolusi (1903-1905). Mendekatnya angintaufan yang besar terasa di mana-mana. Semua klas ada dalam keadaan bergelora dan bersiap-siap. Di luarnegeri pers kaum imigran mengemukakan secara teoritis semua persoalan yang pokok dari revolusi. Wakil-wakil dari tiga klas yang pokok, tiga aliran politik yang penting, yaitu aliran-aliran liberal-burjuis, burjuis kecil-demokratis (bersembunyi di bawah merk aliran-aliran “Sosial-Demokratis” dan “Sosial-Revolusioner’ 4 ), dan proletar revolusioner, mendahului dan mempersiapkan perjuangan klas terbuka yang mendatang dengan pertempuran yang paling sengit dalam lapangan pandangan-pandangan tentang program dan taktik. Semua persoalan yang menyebabkan perjuangan massa bersenjata dalam tahun-tahun 1905-1907 dan 1917-1920 dapat (dan harus) dipelajari dalam bentuk embrionya dalam pers pada dewasa  itu. Dan di anatar ketiga aliran yang pokok ini, sudah tentu, ada banyak bentuk perantara, peralihan, setengah-setengah. Atau, lebih tepat lagi, dalam pejuangan pers, partai-partai, faksi-faksi dan grup-grup, terjadilah kristalisasi aliran politik dan ideologi yang benar-benar  merupakan aliran-aliran bersifat klas; klas-klas menempa senjata-senajata politik dan ideologi yang dibutuhkan untuk pertempuran yang mendatang.

Tahun-tahun revolusi (1905-1907). Semua klas muncul secara terang-terangan. Semua pandangan tentang program dan taktik diuji oleh aksi massa. Menurut luas dan sengitnya perjuangan pemogokan mencapai tingkat yang belum pernah dikenal di dunia. Pemogokan ekonomi beralih menjadi pemogokan politik, dan pemogokan politik menjadi pemberontakan. Hubungan antara proletariat yang memimpin dan kaum tani yang ragu-ragu, yang tidak teguh, yang dipimpin, diuji dalam praktek. Bentuk oraganisasi Sovyet lahir dalam perkembangan perjuangan yang spontan. Perdebatan-perdebatan pada waktu itu mengenai arti Sovyet-Sovyet mendahului perjuangan yang besar pada tahun 1917-1920. Beganti-gantinya bentuk-bentuk perjuangan parlementer dan non-parlementer, taktik memboikot parlemen dan taktik ambil bagian dalam parlemen, bentuk-bentuk perjuangan legal dan ilegal, dan begitu juga hubungan mereka satu sama lain dan pertalian-pertalian mereka – semua ini ditonjolkan dengan kekayaan isinya yang mengagumkan. Mengenai soal memberi pelajaran tentang dasar-dasar ilmu politik – baik kepada massa dan pemimpin-peminpin, maupun kepada klas-klas dan partai-partai – setiap bulan dari masa ini adalah sama dengan satu tahun dari masa perkembangan yang “damai”, yang “konstitusionil” . Tanpa “repetisi umum” tahun 1905, kemenangan Revolusi Oktober dalam tahun 1917, kiranya tidak akan mungkin dicapai.

Tahun-tahun reaksi (1907-1910). Tsarisme menang. Semua partai revolusioner dan oposisi telah dikalahkan. Depresi, demoralisasi, perpecahan-perpecahan, pertikaian, kerenegatan, percabulan menggantikan politik. Kecenderungan ke arah idealisme filsafat semakin besar; mistik menjadi tempat  persembunyian sentimen-sentimen yang kontra-revolusoner. Tetapi dalam pada itu, justru kekalahan besar inilah yang memberikan pada partai-partai revolusioner suatu pelajaran yang nyata dan paling berharga, suatu pelajaran dalam dialektika sejarah, suatu pelajaran dalam pengertian perjuangan politik dan dalam kecakapan dan keahlian melakukannya. Dalam bencanalah orang mengenal kawannya. Tentara yang kalah belajar dengan baik-baik.

Tsarisme yang menang terpaksa mempercepat penghancuran sisa-sisa cara hidup pra-burjuis, patriarkal di Rusia. Perkembangan burjuisnya melangkah maju dengan sangat cepatnya. Ilusi-ilusi di luar klas dan di atas klas mengenai kemungkinan menghindari kapitalisme, lenyap dihembus angin. Perjuangan klas memperlihatkan diri dalam bentuk yang baru semasekali dan secara lebih menyolok mata.

Partai-partai revolusioner harus menyempurnakan pendidikan mereka. Mereka telah belajar menyerang. Sekarang mereka harus meninsyafi bahwa pengetahuan ini harus diperlengkapi dengan pengetahuan bagaimana mundur dengan teratur. Orang harus menginsyafi – dan klas revolusioner menginsyafi dengan pengalaman pahitnya sendiri – bahwa kemenangan tidaklah mungkin jika ia belum belajar bagaimana menyerang dan bagaimana mundur dengan tepat. Dari semua partai oposisi dan parati revolusioner yang kalah, kaum Bolsyewiklah yang mundur dengan paling teratur, dengan menderita kerugian yang paling kecil pada “tentara” mereka, dengan intinya terpelihara paling baik, dengan perpecahan-perpecahan yang paling kecil (menurut dalamnya dan tidak bisa diperbaikinya) dengan demoralisasi yang paling sedikit, dan dengan kemampuan yang terbesar untuk memulai lagi pekerjaan secara besar-besaran dengan cara yang paling tepat dan giat. Kaum Bolsyewik mencapai ini hanya karena mereka dengan takkenalampun telah menelanjangi dan mengusir para tukang omongkosong revolusioner, yang tidak mau mengerti bahwa kami harus mundur, bahwa kami harus tahu bagaimana mundur, dan bahwa kami harus dengan tidak bersyarat belajar bagaimana bekerja secara legal dalam parlemen-parlemen yang paling reaksioner, dalam serikatburuh-serikatburuh, perkumpulan-perkumpulan koperasi, perkumpulan-perkumpulan asuransi dan organisasi-organisasi serupa itu yang paling reaksioner.

Tahun-tahun kebangkitan (1910-1914). Pada mulanya kebangkitan itu sangat lambatnya, kemudian sesudah peristiwa Lena pada tahun 1912  5 , ia menjadi agak lebig cepat. Dengan mengatasi kesulitan-kesulitan yang tak ada bandingnya, kaum Bolsyewik dapatmenyingkirkan kaum Mensyewik, yang rolnya sebagai agen burjuasi  dalam gerakan klas buruh dimengerti sungguh-sungguh oleh seluruh burjuasi sesudah tahun 1905, dan yang oleh karena itu disokong dengan seribu satu cara oleh kaum burjuasi dalam menentang kaum Bolsyewik. Akan tetapi kaum Bolsyewik tidak akan pernah berhasil dalam melakukan ini seandainya mereka tidak menjalankan taktik yang tepat dalam menghubungkan pekerjaan ilegal dengan kewajiban menggunakan “kesempatan-kesempatan legal”. Kaum Bolsyewik merebut semua kursi buruh dalam Duma 6 yang paling reaksioner.

Perang dunia imperialis pertama (1914-1917). Parlemeterisme legal, dengan “parlemen” yang sangat reaksioner sekali, adalah sangat berguna bagi partai proletariat yang revolusioner, bagi kaum Bolsyewik. Wakil-wakil Bolsyewik di Parlemen dibuang ke Siberia 7 . Dalam pers imigran di luarnegeri semua corak pandangan-pandangan sosial-imperialisme, sosial-sovinisme, sosial-patriotisme, internasionalisme yang tidak konsekwen dan yang konsekwen, pasifisme, dan penolakan yang revolusioner terhadap ilusi-ilusi pasifis mendapatkan penjelmaan yang sepenuhnya. Orang-orang terpelajar yang tolol dan perempuan-perempuan tua dari Internasionale II, yang dengan congkak dan perasaan jijik melihat banyaknya “faksi” dalam gerakan Sosialis di Rusia dan sengitnya perjuangan yang mereka lakukan di antara mereka sendiri – ketika peperangan merampas “legalitas” mereka yang mereka banggakan d semua negeri yang maju – tidak mampu mengorganisasi sesuatupun yang hanya menyerupai pertukaran pandangan dengan bebas (ilegal) dan penciptaan pandangan yang tepat secara bebas (ilegal) seperti yang dilakukan oleh kaum revolusioner Rusia di Swis dan di beberapa negeri lainnya. Justru karena inilah, maka baik kaum sosila-patriot yang terang-terangan, maupun kaum “Kautskyis” di semua negeri terbukti menjadi pengkhianat-pengkhianat proletariat yang paling jahat. Dan salah satu sebab yang pokok mengapa Bolsyewisme dapat mencapai kemenangan dalam tahun 1917-1920 yalah bahwa sudah sejak akhir tahun 1914 ia dengan takenalampun menelanjangi kekejian, kekotoran dan kehinaan dari sosial-sovinisme dan “Kautskyisme” (dengan mana cocok Languetisme 8 di Perancis, pandangan-pandangan gembong-gembong Partai Buruh Merdeka  9 dan kaum Fabian 10 di Inggris, Pandangan-pandangan Turati di Italia, dan sebagainya), dan selanjutnya                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                tu) suatu kekuatan yang sangat menghancurkan, yang ditujukan melawan tsarisme. Selama beberapa hari saja Rusia berubah menjadi republik burjuis-demokratis yang lebih merdeka – dalam keadaan-keadaan perang – daripada suatu negeri lainnya di dunia ini. Pemerintah mulai dibentuk oleh pemimpin-pemimpin partai-partai oposisi dan partai-partai revolusioner, sebagaimana dilakukan di republik-republik “yang paling parlementer”, dalam pada itu gelar pemimpin sutau partai oposisi dalam parlemen, sekalipun parlemen yang paling reaksioner, memudahkan rol pemimpin itu di kemudian hari dalam revolusi.

Dalam beberapa minggu kaum Mensyewik dan kaum “Sosial-Revousioner” dapat mengusai sepenuhnya semua cara dan tingkah-laku, argumen dan alasan-alasan palsu dari pahlawan-pahlawan Internasionale II di Eropa, dari para ministerialis 11 dan sampah oportunis lainnya. Semua yang kami baca sekarang tentang kaum Scheideman dan Noske, tentang Kautsky dan Hilferding, Renner dan Austerlistz, Otto Bauer dan Frietz Adler, Turati dan Longuet, tentang kaum Fabian dan gembong-gembong Partai Buruh Merdeka Inggris – semua nampak bagi kami (dan sebenarnya) adalah suatu ulangan yang menjemukan, suatu ulangan dari lagu lama dan sudah dikenal betul. Kami sudah melihat semua ini dalam contoh kaum Mensyewik. Sejarah melahirkan lelucon dengan membuat kaum oportunis di negeri yang terbelakang mendahului kaum oportunis di beberapa negeri yang sudah maju.

Jika semua pahlawan Internasionale II telah menderita kebangkrutan dan telah membikin malu diri mereka sendiri mengenai soal arti dan rol Sovyet-Sovyet dan kekuasaan Sovyet, jika pentolan-pentolan dari tiga partai yang sangat penting yang sekarang telah meninggalkan Internasionale II (yaitu, Partai Sosial-Demokratis Merdeka Jerman 12 , partai kaum Lenguetis Perancis dan Partai Buruh Merdeka Inggeris) telah membikin malu dan mengalutkan diri mereka sendiri mengenai soal inis secara “menyolok” sekali; jika mereka semua telah terbukti menjadi budak-budak purbasangka-purbasangka demokrasi burjuis kecil (presis seperti kaum burjuis kecil tahun 1848 yang menamakan dirinya kaum “Sosial-Demokrat”) – kami sudah melihat semua ini dalam contoh kaum Mensyewik. Sejarah membuat lelucon: di Rusia dalam tahun 1905, Sovyet-Sovyet lahir, dalam bulan-bulan Pebruari – Oktober 1917 Sovyet-Sovyet itu digunakan secara palsu oleh kaum Mensyewik, yang menjadi bangkrut karena tidak mampu memahami rol dan arti Sovyet-Sovyet, dan sekarang cita-cita tentang kekuasaan Sovyet telah timbul di seluruh dunia dan meluas di kalangan proletariat di semua negeri dengan kecepatan yang luar biasa, dan pahlawan-pahlawan lama dari Internasionale II juga sedang menjadi bangkrut di mana-mana, seperti kaum Mensyewik kami sebab mereka tidak mampu memahami rol dan arti Sovyet-Sovyet. Pengalaman telah membuktikan bahwa dalam beberapa soal yang sangat pokok dari revolusi proletar, semua negeri tidak boleh tidak pasti akan melakukan apa yang telah dilakukan oleh Rusia.

Bertentang dengan pandangan-pandangan yang pada dewasa ini tidak jarang dijumpainya di Eropa dan Amerika, kaum Bolsyewik memulai perjuangan mereka yang jaya menentang republik parlemener ( dalam kenyataannya) burjuis dan menentang kaum Mensyewik dengan hati-hati sekali dan persiapan-persiapan yang mereka adakan untuk itu sekali-kali tidaklah sederhana. Kami tidak menyerukan penggulingan pemerintah pada permulaan masa tersebut, tetapi menjelaskan bahwa tidak mungkinlah untuk menggulingkannya tanpa lebih dulu mengubah susunan dan sentimen-sentimen Sovyet-Sovyet. Kami tidak menyatakan memboikot parlemen burjuis, Konstituante, tetapi mengatakan – sejak dari Konferensi Partai kami pada bulan April (1917) mengatakan dengan resmi atas nama Partai – bahwa republik burjuis dengan Konstituante adalah lebih baik daripada  suatu republik burjuis tanpa Konstituante, tetapi bahwa suatu republik “buruh dan tani”, suatu republik Sovyet, adalah lebih baik daripada setiap republik burjuis-demokratis, parlementer. Tanpa persiapan-persiapan yang begitu hati-hati, lengkap, teliti dan lama kami tidak akan dapat mencapai kemenangan dalam bulan Oktober 1917, maupun mempertahankan kemenangan itu.

 

 

IV

Dalam perjuangan melawan musuh-musuh manakah di dalam

gerakan buruh Bolsyewisme tumbuh, menjadi kuat serta terbajakan?

Pertama-tama dan terutama sekali dalam perjuangan melawan oportunisme, yang dalam tahun 1914 secara pasti telah menjadi sosial-sovinisme, secara pasti telah memihak burjuasi menentang proletariat. Sudah tentu, ini adalah musuh Bolsyewisme yang pokok di dalam gerakan buruh. Ia adalah tetap musuh pokok juga secara internasional. Kaum Bolsyewik mencurahkan, dan terus mencurahkan sebanyak-banyaknya perhatian terhadap musuh ini. Segi aktivitas kaum Bolsyewik ini sekarang terkenal cukup baik di luarnegeri juga.

Sesuatu yang lain harus dikatakan tentang musuh Bolsyewisme lainnya di dalam gerakan buruh. Di luarnegeri sampai sekarang terlampau tidak cukup diketahui bahwa Bolsyewisme tumbuh, mendapat bentuk dan terbajakan dalam perjuangan yang bertahun-tahun lamanya melawan revolusionerisme burjuis kecil, yang berbau anarkisme atau meminjam sesuatu darinya, dan yang menyeleweng dalam segala sesuatu yang esensiil dari syarat-syarat dan kebutuhan-kebutuhan perjuangan klas proletar yang konsekwen. Bagi kaum Marxis sesungguhnya sudah jelas secara teori – dan pengalaman semua revolusi dan gerakan revolusioner di Eropa telah memperkuat kebenarannya yang penuh – bahwa pemilik kecil, majikan kecil (suatu tipe sosial yang terdapat secara luas, secara massal di banyak negeri Eropa), yang di bawah kapitalisme selalu mengalami penindasan dan, sering sekali, kemerosotan yang terlampau hebat dan cepat dalam kehidupannya, dan kebangkrutan, dengan mudah menjadi revolusioner ekstrim, tetapi tidak dapat memperlihatkan kesabaran organisasi, disiplin dan keteguhan. Seorang burjuis kecil yang “menjadi gila” karena kengerian-kengerian kapitalisme adalah suatu gejala sosial yang, seperti anarkisme, adalah khas bagi semua negeri kapitalis. Ketidak teguhan dari revolusionerisme serupa itu, kemandulan, wataknya untuk berubah dengan cepat menjadi sikap tunduk, apatisme, khayalan, dan malahan sampai menjadi kesukaan yang “gila” terhadap suatu aliran “mode” burjuis – semua ini diketahui umum. Tetapi pengakuan secara teori dan abstrak terhadap kebenaran-kebenaran ini sama sekali tidak membebaskan partai revolusioner dari kesalahan-kesalahan lama, yang selalu muncul karena alasan yang tak terduga-duga, dalam bentuk yang agak baru, dalam baju atau selubung yang belum dikenal, dalam situasi yang istimewa – situasi yang sedikit atau banyak istimewa.

Anarkisme tidak jarang merupakan semacam hukuman terhadap doa-dosa oprtunis dari gerakan buruh. Kedua cacat itu saling melengkapi. Dan jika di Rusia, sekalipun penduduknya lebih bersifat burjuis kecil dari pada penduduk di negeri-negeri Eropa, anarkisme mempunyai pengaruh yang relatif paling tidak berarti dalam persiapan-persiapan dan selama kedua revolusi ( tahun 1905 dan 1917), hal ini sudah tentu sebagian karena jasa Bolsyewisme, yang selalu melakukan perjuangan tidak kenal ampun dan kompromi melawan oportunisme. Saya katakan “sebagian”, sebab peranan yang lebih penting lagi dalam melemahkan anarkisme di Rusia dimainkan oleh kenyataan bahwa pada masa yang lampau (tahun-tahun 70-an dari abd ke XIX) ia telah mempunyai kesempatan untuk tumbuh dengan luarbiasa suburnya dan memperlihatkan sifat tak berguna dan ketidaktepatannya samasekali sebagai teori pembimbing bagi klas revolusioner.

Pada saat timbulnya dalam tahun 1903 Bolsyewisme mewarisi tradisi perjuangan yang takkenalampun menentang revolusionerisme burjuis-kecil, setengah anarkis (atau yang suka main mata dengan anarkisme), tradisi yang selamanya ada dalam Sosial-Demokrat revolusioner, dan terutama menjadi kuta pada kami dalam tahun 1900-1903, pada waktu dasr-dasar untuk partai massa dari proletariat revolusioner sedang diletakkan di Rusia. Bolsyewisme mewarisi dan melanjutkan perjuangan melawan partai yang lebih dari pada lain-lainnya menyatakan tendensi-tendensi revolusionerisme burjuis-kecil, yaitu Partai “Sosial-Revolusioner”, mengenai tiga soal yang pokok. Pertama, partai ini, yang menolak Marxisme, dengan keras kepala tidak mau (atau, lebih tepat lagi kalau dikatakan: tidak mampu) mengerti keharusan memperhitungkan secara benar-benar obyektif kekuatan-kekuatan klas dan hubungan-hubungan mereka satu sama lian sebelum mengadakan sesuatu aksi politik. Kedua, partai ini menganggap dirinya sangat “revolusioner”, atau “Kiri”, karena mengakui teror perseorangan hanya atas alasan berguna tidaknya, sedang orang-orang yang “secara prinsipiil” mau mencela teror dari Revolusi Besar Perancis, atau pada umumnya, teror yang dilakukan oleh partai revolusioner yang menang, yang dikepung oleh burjuasi seluruh dunia, orang-orang semacam itu sudah diejek dan ditertawakan oleh Plechanov dalam tahun 1900-1903, ketika dia masih seorang Marxis dan seorang revolusioner. Ketiga, kaum Sosialis Revolusioner” menganggap sangat “Kiri” untuk memperolok-olok dosa-dosa oportunis yang agak tidak berarti dari Partai Sosial-Demokratis Jerman, sedangkan mereka sendiri meniru kaum oportunis ekstrim dari partai itu, misalnya, mengenai soal agraria, atau mengenai soal diktatur proletriat.

Sambil lalu boleh dikatakan, bahwa sejarah sekarang telah memperkuat dalam ukuran sejarah yang luas, yang meliputi seluruh dunia, pendapat yang selalu kami pertahankan, yaitu, bahwa Sosial-Demokrat Jerman yang revolusioner (catatlah bahw Plechanov sudah dalam tahun 1900-1903 menuntut dipecatnya Bernstein dari partai, dan kaum Bolsyewik yang senantiasa meneruskan tradisi ini, dalam tahun 1913 menelanjangi seluruh kejadian, kenistaan dan pengkhianatan dari Legien 13 ), — bahwa Sosial-Demokrat Jerman yang revolusioner itu pernah paling mendekati suatu partai yang dibutuhkan oleh proletariat revolusioner supaya dapat mencapai kemenangan. Sekarang, dalam tahun 1920. Sesudah semua kegagalan dan krisis yang hina pada masa perang dan pada tahun-tahun permulaan sesudah perang, dilihat dengan jelas bahwa dari semua partai di Barat, Sosial-Demokrat revolusioner Jermanlah yang melahirkan pemimpin-pemimpin yang terbaik, serta pulih, sembuh, dan menjadi kokoh kembali lebih cepat daripada yang lain-lain. Ini dapat dilihat baik pada partai Spartakus 14 maupun pada sayap Kiri yang proletar dari “Partai Sosial-Demokratis Merdeka Jerman” yang sedang melakukan perjuangan yang tak henti-hentinya menentang oportunisme dan tak bertulangpunggungnya kaum Kautsky, Hilferding, Ledebour dan Crispien. Jika kita sekarang mengadakan tinjauan secara umum pada periode sejarah yang lengkap dan sudah selesai, yaitu periode dari Komune Paris 15 sampai pada Republik Sovyet Sosialis yang pertama, maka kita akan melihat bahwa sikap Marxisme terhadap anarkisme pada umumnya nampak paling tegas dan tak dapat menimbulkan salahfaham. Pada akhirnya, Marxisme terbukti benar, dan sekalipun kaum anarkis dengan cepat menunjukkan sifat oportunisnya pandangan-pandangan mengenai negara yang pernah meraja-lela di kalangan kebanyakan partai-partai Sosialis, haruslah diterangkan, pertama, bahwa sifat oportunis ini adalah bertalian dengan pemutarbalikan, dan malahan penyembunyian dengan sengaja, terhadap pandangan-pandangan marx mengenai negara (dalam buku saya, Negara dan Revolusi, saya mencatat bahwa selama 36 tahun, yaitu dari tahun 1875 sampai 1911, Bebel merahasiakan surat engels 16 yang dengan terutama jelas, tajam, terus terang dan tegas menelanjangi oportunisme dari pandangan-pandangan Sosial-Demokrattis yang dipakai luas mengenai negara); kedua, bahwa pembetulan atas pandangan-pandangan oportunis ini, pengakuan akan kekuasaan Sovyet dan keunggulannya atas demokrasi burjuis parlementer, semuanya ini dilancarkan dengan lebih cepat dan luas justru dari kandungan  aliran-aliran yang paling bersifat Marxis di kalangan partai-partai Sosialis Eropa dan Amerika.

Perjuangan yang dilakukan oleh Bolsyewisme menentang penyelewengan-penyelewengan “Kiri” di dalam Partainya sendiri memperoleh ukuran yang sangat besar sekali dalam dua kejadian: dalam tahun 1908, mengenai soal turut ambil bagian atau tidak dalam “parlemen” yang paling reaksioner dan dalam kumpulan-kumpulan buruh yang legal, yang dibatasi oleh undang-undang yang paling reaksioner; dan kemudian dalam tahun 1918 (Perjanjian Perdamaian Brest 17 ), mengenai soal apakah diperbolehkan suatu “kompromi”.

Dalam tahun 1908 kaum Bolsyewik “Kiri” dipecat dari partai kami karena mereka dengan keras kepala tidak mau mengerti keharusan ikut-serat dalam “parlemen” yang paling reaksioner  18 . Kaum “Kiri” – di antara mereka banyak terdapat kaum revolusioner yang baik sekali yang kemudian dengan kehormatan memakai (dan masih memakai) nama anggota Partai Komunis – mendasarkan pendirian mereka terutama sekali atas pengalaman pemboikotan yang berhasil dalam tahun 1905. Waktu dalam bulan Agustus 1905 tsar mengumumkan diselenggarakannya sidang “parlemen” 19 yang mempunyai kekuasaan sebagai nasehat, kaum Bolsyewik – bertentangan dengan semua partai oposisi dan bertentangan dengan kaum Mensyewik – menyerukan pemboikotan terhadapnya, dan benar-benar “parlemen” itu disapu oleh revolusi bulan Oktober 1905 20 . Pada waktu itu pemboikotan terbukti benar , bukan karena tidak turut ambil bagian dalam parlemen-parlemen yang reaksioner adalah tepat pada umumnya, melainkan karena kami  dengan tepat memperhitungkan situasi yang obyektif yang sedang menuju perubahan dengan cepat dari pemogokan-pemogokan  massa menjadi pemogokan politik, lalu menjadi pemogokan revolusioner, dan kemudian menjadi pemberontakan. Lagi pula perjuangan pada waktu itu berpusat di sekitar soal apakah penyelenggaraan sidang badan perwakilan yang pertama itu diserahkan kepada tsar, atau berusaha merebutnya dari tangan kekuasaan yang lama. Sejauh tidak ada, dan tidak mungkin ada kepastian adanya situasi obyektif yang sama, dan begitu juga arah dan kecepatan perkembangannya yang sama, maka pemboikotan tadi menjadi tidak tepat lagi.

Pemboikotan Bolsyewik terhadap “parlemen” dalam tahun 1905 memperkaya proletariat revolusioner dengan pengalaman politik yang luarbiasa berharga dengan menunjukkanbahwa dalam perpaduan bentuk-bentuk perjuangan legal dengan ilegal, di dalam parlemen dengan di luar parlemen, kadang-kadang berguna dan malahan wajib menolak bentuk-bentuk parlementer. Tetapi sudah tentu usaha mentrapkan pengalaman ini dengan membuta , dengan meniru saja dan tidak krits pada syarat-syarat lain dan dalam situasi-situasi lain merupakan kekeliruan yang mahabesar. Pemboikotan “Duma” oleh kaum Bolsyewik dalam tahun 1906 sudah merupakan kesalahan, sekalipun yang kecil dan mudah dibetulkan*. Pemboikotan terhadap Duma dalam tahun 1907, 1908 dan tahun-tahun berikutnya adalah sautau kesalahan yang serius dan yang sukar diperbaiki, sebab, di satu pihak, kebangkitan yang cepat sekali dari pasang revolusioner dan peralihannya menjadi suatu pemberontakan tidak dapat diharapkan, dan, di pihak lain, seluruh situasi sejarah yang bersifat pembaharuan monarki burjuis menuntut dipadukannya aktivitas legal dengan aktivitas ilegal. Sekarang ini, ketika kita tinjau kembali masa sejarah yang telah selesai sepenuhnya dan  yang rangkaiannya dengan masa-masa berikutnya sudah menjadi nyata sepenuhnya, maka menjadi terutama jelaslah bahwa kaum Bolsyewik dalam tahun 1908-1914 kiranya tidak dapat memelihara (apalagi memperkuat, mengembangkan dan menambah) inti yang teguh dari partai proletariat yang revolusioner seandainya mereka tidak mempertahankan dalam perjuangan yang paling sengit kewajiban untuk menghubungkan bentuk-bentuk perjuangan legal dengan ilegal, kewajiban pasti ikutserta dalam parlemen yang paling reaksioner dan dalam beberapa lembaga lainnya yang dibatasi oleh undang-undang yang reaksioner (kumpulan-kumpulan asuransi, dan sebagainya).

Dalam tahun 1918 persoalannya tidak sampai pada perpecahan. Pada waktu itu kaum Komunis “Kiri” 21 hanya membentuk suatu grup atau “faksi” yang khusus di dalam Partai kami, dan dalam pada itu tidak untuk waktu lama. Dalam tahun 1918 itu juga, wakil-wakil yang paling terkemuka dari “Komunisme Kiri”, misalnya , Kawan-kawan Radek dan Bucharin, secara umum mengakui kesalahan mereka. Mereka mengira bahwa Perjanjian Perdamaian Brest adalah suatu kompromi dengan kaum imeprialis yang tidak diperbolehkan menurut prinsip dan yang merugikan bagi partai proletariat revolisioner. Memang Perjanjian itu adalah suatu kompromi dengankaum imperialis, tetapi justru suatu kompromi dan justru pada waktu yang demikian yang membuatnya wajib dilakukan.

Kini, ketika saya mendengar serangan-serangan terhadap taktik kami pada waktu penandatanganan Perjanjian Perdamaian Brest, misalnya dari pihak kaum “Sosialis-Revolusioner”, atau ketika saya mendengar teguran yang diucapkan oleh Kawan Lansbury waktu percakapannya dengan saya – “ Pemimpin kami dari serikatburuh-serikatburuh Inggeris mengatakan bahwa jika bagi kaum Bolsyewik diperolehkan mengadakan kompromi-kompromi, maka mereka boleh juga mengadakan kompromi-kompromi”, maka biasanya saya jawab dengan pertama-tama memberikan contoh yang sederhana dan “populer”.

Bayangkan bahwa mobil saudara dijegat oleh bandit-bandit yang bersenjata. Saudara menyerahkan uang, pistol dan mobil saudara kepada mereka. Sebagai gantinya, bebas dari bertetangga baik dengan bandit-bandit itu. Itu tak dapat disangkal lagi adalah suatu kompromi. “Do ut des” (“saya memberikan” padamu uang, senjata, mobil, “supaya kau memberikan” pada saya kesempatan untuk pergi dengan selamat). Tetapi akan sukarlah untuk menemukan seorang yang berfikiran waras yang akan mengumumkan kompromi seperti itu sebagai yang “ tidak diperbolehkan menurut prinsip”, atau yang menyatakan bahwa orang yang mengadakan kompromi itu adalah sekutu bandit-bandit tersebut (sekalipun bandit-bandit itu dapat mempergunakan mobil dan senjata tadi untuk melakukan perampokanperampokan baru). Kompromi kami dengan bandit-bandit imperialis Jerman adalah kompromi semacam itu.

Akan tetapi ketika kaum Mensyewik dan kaum sosialis revolusioner di Rusia, Scheidermann-Scheidermann (dan sebagian besar Kautsky-Kautsky) di Jerman, Otto Bauer dan Friedrich Adler (tidak usah dikata lagi tentang Tuan-Tuan Renner & Co) di Austria, Renaudel-Renaudel dan Longuet-Longuet & Co di Perancis, kaum Fabian, kaum “Merdeka” dan kaum “Partai Buruh” (kaum “Labouris” 22 di Inggeris, dalam tahun 1914 – 1918 dan dalam tahun 1918 – 1920 mengadakan kompromi-kompromi dengan bandit-bandit dari burjuasi “Sekutu”,  menentang proletariat revolusioner negeri-negeri mereka sendiri, pada waktu itu, semua tuan-tuan ini adalah memang berbuat sebagai sekutu dalam banditisme.

Kesimpulannya jelas: menolak kompromi “menurut prinsip”, menolak diperkenankannya  kompromi apapun pada umumnya, tidak pandang bagaimana macamnya, adalh kekanak-kanakan, yang bahkan sukar untuk dipandang secara serius. Seorang politikus yang ingin supaya berguna bagi proletariat revolusioner harus pandai membedakan justru kejadian konkrit dari kompromi-kompromi yang tidak diperbolehkan, yang di dalamnya terkandung oportunisme dan pengkhianatan, dan mengarahkan semua kekuatan kritik, semua ujung tombak penelanjangan yang tak kenal belaskasihan dan perang yang tak kenaampun, terhadap kompromi-kompromi yang k o n k r i t  i t u  , dengan tidak memberi kesempatan pada ahli-ahli Sosialisme yang “terlalu praktis” dan Jesuit-Jesuit parlementer yang telah banyak “makan  garam”  untuk  menghindarkan  diri dan  menyelinap  dari  tanggungjawab  dengan  omongan-

 

  • Apa yang belaku pada orang-orang berlaku juga – dengan perbedaan-perbedaan yang sewajarnya – pada politik dan partai-partai:  Yang pinta bukanlah orang yang tidak membuat kesalahan-kesalahan. Tidak ada dan tidak mungkin ada orang yang serupa itu. Yang pintar adalah orang yang membuat kesalahan-kesalahan yang tidak sangat esensiil dan yang pandai membetulkan kesalahan-kesalahan itu dengan mudah dan cepat.

omongan tentang  “kompromi pada umumnya”. Justru dengan cara ini Tuan-Tuan “pemimpin” serikatburuh-serikatburuh Inggeris, begitu juga perkumpulan Fabian dan Partai Buruh “Merdeka” mengelakkan diri dari tanggungjawab  atas  pengkhianatan  yang  telah  mereka  lakukan,  karena  telah mengadakan justru kompromi yang benar-benar merupakan macam oportunisme dan pengkhianatan yang paling jahat.

Ada kompromi dan kompromi. Orang harus pandai menganalisa situasi dan syarat-syarat konkrit dari tiap kompromi, atau tiap variasi kompromi. Kita harus belajar membedakan orang yang memberikan uang dan senajta kepada gerombolan bandit supaya dapat memperkecil kerugian yang dapat mereka timbulkan dan mempermudah urusan menangkap dan menghukum mati mereka, dengan orang yang memberikan uang dan senjata ikut serta dalam pembagian barang-barang yang dirampok. Dalam politik hal ini sekali-kali tidak selalu semudah seperti dalam contoh kekanak-kanak yang sederhana ini. Tetapi seseorang yang bermaksud mereka-reka bagi kaum buruh suatu resep yang seolah-olah dapat memberikan persediaan pemecahan-pemecahan yang sudah siap bagi semua kejadian dalam kehidupan, atau yang menjanjikan bahwa bahwa politik proletariat revolusioner tidak akan menjumpai kesulitan-kesulitan apapun dan situasi-situasi apapun yang ruwet, semata-mata akan menjadi seorang dukun palsu.

Supaya tidak memberikan kemungkinan untuk salah tafsir, saya akan mencoba menggambarkan dalam garis besarnya, sekalipun hanya dengan singkat sekali, beberapa ketentuan yang pokok untuk menganalisa kompromi-kompromi yang konkrit.

Partai yang mengadakan kompromi dengan kaum imperialis Jerman dengan menandatangani Perjanjian Perdamaian Brest telah mulai mengolah internasionalismenya dalam perbuatan sejak penghabisan tahun 1914. Ia tidak takut untuk menyerukan dikalahkannya monarki tsar dan untuk mengutuk “pembelaan tanahair” dalam peperangan antara dua binatang buas imperialis. Wakil-wakil petani ini dalam parlemen lebih suka menempuh jalan menuju  Siberia daripada jalan yang menuju jabatan-jabatan menteri dalam pemerintah burjuis. Revolusi yang menggulingkan tsarisme dan mendirikan republik demokratis menghadapkan partai ini pada suatu ujian baru yang berat: partai tersebut tidak mengadakan persetujuan-persetujuan apapun dengan imperialisnya “sendiri”, melainkan telah mempersiapkan dan melaksanakan penggulingan mereka. Sesudah merebut kekuasaan politik, partai ini menghancur leburkan samasekali milik tuantanah maupun kapitalis. Sesudah mengumumkan dan membatalkan perjanjian-perjanjian rahasia dari kaum imperialis, partai ini mengusulkan perdamaian kepada semua Rakyat, dan tunduk pada kekerasan dari binatang-binatang buas Brest baru sesudah kaum imperialis Inggeris-Perancis menggagalkan usaha mengadakan perdamaian, dan sesudah kaum Bolsyewik melakukan segala apa yang mungkin menurut kesanggupan manusia guna mempercepat revolusi di Jerman dan di negeri-negeri lainnya. Bahwa kompromi yang semacam itu, yang diadakan oleh partai serupa itu dan dalam keadaan yang demikian rupa, adalah benar sekali, dari hari ke haari menjadi semakin terang dan jelas bagi setiap orang.

Kaum Mensyewik dan kaum Sosialis-Revolusioner di Rusia (seperti semua gembong internasionale II di seluruh dunia dalam tahun 1914-1920) mulai dengan pengkhianatan, dengan membenarkan secara langsung atau tidak langsung “pembelaan terhadap tanahair”, yaitu pembelaan terhadap burjuasi perampok mereka sendiri. Mereka adakan koalisi dengan burjuasi negeri mereka sendiri dan berjuang bersama-sama dengan burjuasi mereka sendiri melawan proletariat revolusioner negeri mereka sendiri. Blok mereka, mula-mula dengan Kerenski dan kaum Kadet-kadet 23 dan kemudian dengan Koltjak dan Denikin di Rusia, seperti blok dari kaum sepaham mereka  di luarnegeri dengan burjuasi negeri mereka masing-masing, adalah suatu penyeberangan kepihak burjuasi menentang proletariat. Dari awal dampai akhir, kompromi mereka dengan bandit-bandit imperialisme terletak dalam kenyataan bahwa mereka menjadikan diri mereka sendiri peserta-peserta dalam banditisme imperialis.

 

 

V

Komunisme “Sayap kiri” di Jerman.

Pemimpin-peminpin—partai—klas– massa.

Kaum Komunis Jerman yang harus kita bicarakan sekarang tidak menyebut dirinya  kaum “Kiri” tetapi, kalau saya tidak salah, “kaum oposisi prinsipiil” 24 . Tetapi bahwa mereka cukup mempunyai semua tanda “penyakit kanak-kanak ke kiri-kirian” akan terlihat dari apa yang akan dibentangkan selanjutnya.

Sebuah brosur yang ditulis dari sudut pendirian oposisi ini, yang berkepala “Perpecahan Dalam Partai Komunis Jerman (Liga Spartakus)”, dan diterbitkan oleh “grup setempat di Frankfurt di Main” membentangkan hakekat pandangan-pandangan oposisi ini dengan sangat jitu, tepat, terang dan singkat. Beberapa kutipan akan cukup untuk memperkenalkan pembaca dengan hakekat pendirian mereka:

“ Partai Komunis adalah partai perjuangan yang paling teguh ……….”

“…….. Secara politik, masa peralihan ini” (antara kapitalisme dan Sosialisme) “adalah masa diktatur proletariat……”

“………Timbul pertanyaan: Siapakah yang harus menjadi pembawa diktatur ini: P a r t a i  K  o m u n i s  a t a u  k l a s  p r o-

l e t a r? ………. Secara prinsipiil kita harus berikhtiar untuk mencapai diktatur Partai Komunis, ataukah diktatur klas proletar?………

 

(Semua huruf miring menurut aslinya)

Selanjutnya penulis brosur terbut menuduh “CC” Partai Komunis Jerman karena “ CC” ini mencari jalan-jalan untuk koalisis dengan Partai Sosialis-Demokratis Merdeka Jerman, karena “soal mengakui dalam prinsip segala cara perjuangan politik”, termasuk parlementarisme, dikemukakan oleh “CC” itu hanya untuk menyembunyikan ikhtiar-ikhtiarnya yang ebenarnya dan yang pokok untuk membentuk persekutuan dengan kaum Merdeka. Dan brosur itu seterusnya mengatakan:

 

“ Pihak oposisi telah memilih jalan lain. Ia berpendapat bahwa soal kekuasaan Partai Komunis dan diktatur Partai hanyalah soal taktik. Bagaimanapun juga, kekuasaan Partai Komunis adalah bentuk yang terakhir dari sebarang kekuasaan partai. Secara prinsipiil, kita harus berikhtiar untuk mencapai diktatur klas proletar. Dan semua tindakan partai, organisasinya, cara-cara perjuangannya, strategi dan taktiknya harus diarahkan untuk tujuan ini. Karena itu, orang harus menolak sekeras-kerasnya segala macam kompromi dengan partai-partai lain, segala macam pembalikan ke bentuk-bentuk perjuangan parlementer, yang telah menjadi usang menurut sejarah dan politik, setiap politik bermanuver dan kompromi”. “Cara-cara perjuangan revolusioner yang khusus proletar harus ditekankan dengan keras. Bentuk-bentuk organisasi baru harus diciptakan atas dasar yang seluas-luasnya dan meliputi lapangan yang seluas-luasnya supaya dapat menarik kalangan-kalangan dan lapisan-lapisan proletar yang sebesar-besarnya, yang harus tampil dalam perjuangan revolusioner di bawah pimpinan Partai Komunis. Pusat perhimpunan bagi semua elemen revolusioner haruslah Persatuan Buruh, yang didasarkan atas organisasi-organisasi pabrik. Di dalamnya harus bergabung semua kaum buruh yang mengikuti semboyan: Tinggalkan serikatburuh-serikatburuh! Di dalamnya akan diorganisasi  proletariat yabg berjuang dalam barisan-barisan tempur yang seluas-luasnya. Pengakuan terhadap perjuangan klas, sistim Sovyet dan diktatur sudah cukup sebagai syarat penerimaan anggotanya. Seluruh pendidikan politik selanjutnya bagi massa yang berjuang dan orientasi politik mereka dalam perjuangan merupakan tugas Partai Komunis, yang berdiri di luar Persatuan Buruh tersebut ..”

….. Jadi, sekarang dua Partai Komunis dijajarkan berhadaphadapan satu sama lain:

J a n g  s a t u  —- p a r t a i  p e m i m p i n-p e m i m p i n , yang berusaha untuk mengorganisasi perjuangan revolusioner dan memimpinnya dari atas, dengan menjalankan kompromi-kompromi dan parlementerisme supaya menciptakan situasi-situasi yang akan memungkinkan untuk masuk ke dalam pemerintah koalisi yang akan memegang diktatur di dalam tangannya.

J a n g l a i n n y a  — p a r t a i  m a s s a ,  yang menunggu pasangnya gelombang perjuangan revolusioner dari bawah, yang mengetahui dan menggunakan untuk perjuangan itu hanya satu cara yang terang menuju tujuan, dan yang menolak semua cara parlementer serta oportnuis; cara yang satu-satunya ini yalah menggulingkan burjuasi dengan tidak bersyarat supaya sesudah itu mendirikan diktatur klas proletar guna terlaksananya Sosialisme…..”

…. Di sana, diktatur pemipin-pemimpin; di sini, diktatur massa! Itulah semboyan kita”.

 

Demikianlah ketentuan-ketentuan terpenting yang mencirii pandangan-pandangan pihak oposisi dalam Partai Komunis Jerman.

Sebarang Bolsyewik yang dengan sadar ambil bagian dalam, atau telah mengikuti dari dekat, perkembangan Bolsyewisme sejak tahun 1903, dengan segera akan mengatakan sesudah membaca pertimbangan-pertimbangan ini: “Sungguh, suatu konsepsi rombengan yang kolot dan yang sudah dikenal lama! Sungguh, suatu kekanak-kanakan yang ‘Kiri’!”

Tetapi marilah kita periksa pertimbangan-pertimbangan ini dengan sedikit lebih saksama lagi.

Cara mengemukakan soalnya saja – “diktatur Partai  a t a u diktatur klas? Diktatur (Partai) pemimpin-pemimpin, a t a u diktatur (Partai) massa?” – sudah membuktikan kekusutan fikiran yang paling mustahil dan tak tertolong lagi. Orang-orang ini berusaha mati-matian untuk menemukan sesuatu yang sangat luarbiasa, dan, dalam usaha supaya kelihatan pintar, mereka malah menjadi buah tertawaan. Setiap orang tahu bahwa massa terbagi atas klas-klas; bahwa massa dapat dipertentangkan terhadap klas-klas hanya ketika orang mempertentangkan  mayoritas yang amat luas pada umumnya, tidak pandang pembagian menurut kedudukannya dalam sistim produksi sosial, terhadap golongan yang mempunyai kedudukan  khusus dalam sistim produksi sosial; bahwa biasanya, dan dalam kebanyakan hal, setidak-tidaknya di negeri-negeri beradab yang modern, klas-klas itu dipimpin oleh partai-partai politik; bahwa partai-partai politik, menurut kebiasaan umum, dikemudikan oleh grup-grup yang sedikit banyaknya stabil dari orang-orang yang paling berwibawa, paling berpengaruh dan berpengalaman, yang dipilih untuk kedudukan yang paling bertanggungjawab dan yang disebut pemimpin-pemimpin. Semua ini adalah ABC. Semua ini adalah sederhana dan jelas. Untuk apa sebagai gantinya dikeluarkan suatu karut-marut, sesuatu bahasa-dunia baru? Di satu pihak, orang-orang ini rupanya menjadi bingung karena ternyata dalam keadaan sulit, ketika peralihan kedudukan partai secara tiba-tiba dari legal ke ilegal mengacaukan hubungan-hubungan yang biasa, normal dan sederhana antara pemimpin-pemimpin, partai dan klas-klas. Di Jerman, seperti juga di negeri-negeri Eropa lainnya, orang-orang sudah menjadi terlalu biasa dengan keadaan legal, denganpemilihan “pemimpin-pemimpin” secara merdeka dan selayaknya pada kongres-kongres partai yang teratur, dengan cara yang enak untuk menguji susunan klas dari partai-partai melalui pemilihan-pemilihan parlementer, rapat-rapat massa, pers, sentimen-sentimen serikatburuh-serikatburuh dan organisasi-organisasi lainnya, dan sebagainya. Ketika, sebagai ganti yang sudah biasa ini, karena perkembangan yang menggelora dari revolusi dan perang sipil,  orang-orang terpaksa beralih dengan cepat-cepat dari kedudukan legal ke ilegal dan sebalinya, menghubungkan yang dua itu, dan menjalankan cara-cara yang “tidak enak” dan “ tidak demokratis” dalam memilih, atau membentuk, atau mempertahankan “grup-grup pemimpin” – orang-orang itu menjadi bingung dan mula-mula mereka-reka suatu kemustahilan yang ajaib. Mungkin beberapa anggota Partai Komunis Belanda yang mempunyai nasib tidak baik karena dilahirkan di sebuah negeri kecil, di mana tradisi-tradisi dan syarat-syarat kedudukan legal terutama terjamin dan terutama stabil, dan yang belum pernah menyaksikan peralihan dari kedudukan legal kepada yang ilegal, menjadi kalut, bingung, dan membantu menciptakan re-rekaan yang bukan-bukan ini.

Di pihak lain, kita melihat pemakaian kata-kata “massa” dan “pemimpin-pemimpin” yang sekarang menjadi “mode”, yang samasekali tidak difikir-fikirkan dan tidak ada sangkut-pautnya. Orang telah banyak mendengar dan tertanan di dalam fikirannya serangan-serangan terhadap “pemimpin-pemimpin”, di mana pemimpin-pemimpin dipertentangkan terhadap “massa”; tetapi orang itu tidak berhasil untuk memikirkan sangkut-pautnya dan mendapat pengertian yang jelas tentang persoalannya.

Perbedaan antara “pemimpin” dan “massa” menjadi sangat jelas dan tajam di semua negeri pada akhir dan sesudah perang imperialis. Sebab pokok gejala ini sudah berkali-kali diterangkan oleh Marx dan Engels dalam tahun-tahun 1852-1892 dengan contoh Inggeris.  Kedudukan monopoli dari Inggeris menyebabkan timbulnya dari “massa” “aristokrasi buruh” yang setengah filistin dan oportunis. Pemimpin-pemimpin aristokrasi buruh ini selalu menyeberang ke pihak burjuasi dan secara langsung atau tidak langsung diongkosinya. Marx mendapat kehormatan dibenci oleh bajingan-banjingan ini karena ia dengan terang-terangan mencap mereka sebagai pengkhianat-pengkhianat. Imperialisme modern (abad ke XX) menciptakan kedudukan monopoli yang istimewa bagi beberapa negeri yang jau, dan hal ini melahirkan di mana-mana dalam Internasionae II tipe pemimpin-pemimpin pengkhianat, oportunis, sosial-sovinis, yang membela kepentingan-kepentingan lapangan kerja mereka sendiri. Hal ini memisahkan partai-partai oportunis dari “massa”, yaitu, dari lapisan-lapisan terluas Rakyat pekerja, dari mayoritas mereka, dari kaum buruh yang terendah upahnya. Kemenangan proletariat revolusioner  tidaklah mungkin tanpa memberantas kejahatan ini, tanpa menelanjangi, memberi malu dan menendang keluar pemimpin-pemimpin oportunis dan pengkhianat sosial ini, itulah politik yang telah mulai dijalankan oleh Internasional III 25.

Berbicara mengenai ini hingga sampai mempertentangkan,  p a d a   u m u m n y a, diktatur massa terhadap diktatur pemimpin-pemimpin adalah suatu kemustahilan dan ketololan yang menggelikan. Yang terutama lucu yalah, bahwa kenyataannya, sebagai ganti pemimpin-pemimpin lama yang berpandangan manusia umum mengenai soal-soal biasa, dalam kenyataannya ditonjolkan (dengan berkedok semboyan: “Enyahlah pemimpin-pemimpin!”) pemimpin-pemimpin baru yang ngobrol tentang sesuatu yang penuh  kekalutan, yang bukan-bukan hingga ajaib. Demikianlah halnya dengan Lauffenber, Wolffheim, Horner, Karl Schröder, Friederich Wendel dan Karl Erler* di Jerman. Percobaan-percobaan Erler untuk membikin “lebih mendalam” soal tersebut, dan untuk menyatakan bahwa partai-partai politik pada umumnya tidak perlu dan bersifat “burjuis”, adalah puncak kemustahilan sedemikian hingga orang hanya menggeleng-gelengkan kepala. Nah, sungguh-sungguh, sesuatu kesalahan kecil selalu dapat dijadikan kesalahan besar hingga mengerikan jika ia dialasi secara mendalam, dan jika ia “diwujudkan sampai pada akhirnya”.

Menolak sifat kepartaian dan disiplin partai – demikianlah buah hasilnya pada pihak oposisi. Dan ini sama saja dengan melucuti samasekali proletariat untuk kepentingan burjuasi. Ini adalah sama saja dengan mencerai-beraikan, ketidak teguhan, ketidak sanggupan burjuis kecil untuk sabar, bersatu dan beraksi secara teratur rapi, hal mana, kalau terus dibiarkan, pasti meneraka-jahanamkan sebarang gerakan proletar  revolusioner. Dari sudut pandangan Komunisme, menolak sifat kepartaian berarti mencoba meloncat dari saat menjelang keruntuhan kapitalisme (di Jerman), bukan ketingkat yang terendah, atau ke tingkat tengah, tetapi ke tingkat Komunisme yang tertinggi. Kami di Rusia (dalam  ta-

 

  • Tulisan Karl Erler, “Pembubaran Partai”, dalam Kommunistische Arbeitzeitung  26 (Suratkabar buruh Komunis)

Hamburg, 7 Pebruari 1920, No. 32 memuat:”klas buruh tidak dapat mengahncurkan negara burjuis tanpa menghancurkan    demokrasi burjuis, dan ia tidak dapat menghapuskan demokrasi burjuis tanpa menghancurkan partai-partai”.

Orang yang paling berfikiran kalut di  antara kaum sindikalis dan kaum anarkis di negeri-negeri Latin bisa mendapat “ke-

Puasan “ dari kenyataan bahwa orang-orang Jerman yang serius, yang rupanya menganggap dirinya sebagai kaum Marxis    (K.Erler dan K. Horner menunjukkan secara sangat serius  dengan artikel-artikel mereka  dalam suratkabar tersebut bahwa  mereka menganggap dirinya kaum Marxis yang serius, dan ngobrol tentang sesuatu yang tak masuk akal dan terutama menggelikan, dengan memperlihatkan ketidakmengertian tentang ABC Marxisme), telah melantur begitu jauh hingga menyatakan hal-hal yang tidak sesuai samasekali. Hal mengakui Marxisme saja tidak menyelamatkan orang dari kesalahan-kesalahan. Orang-orang Rusia tahu betul-betul akan hal ini, karena di negeri kami Marxisme sering sekali telah menjadi “mode”.

 

hun ketiga semenjak tergulingnya burjuasi) menempuh langkah-langkah pertama  dalam peralihan dari kapitalisme ke Sosialisme, atau tingkat terendah dari Komunisme. Klas-klas masih ada, dan tetap ada di mana-mana untuk bertahun-tahun lamanya sesudah perebutan kekuasaan oleh proletariat. Barangkali di Inggeris, di mana tidak ada kaum tani (tetapipun ada majikan-majikan kecil!), masa ini mungkin lebih pendek. Menghapuskan klas-klas berarti tidak hanya mengusir tuantanah-tuantanah dan kaum kapitalis – hal ini kita laksanakan relatif dengan mudah – itu juga berarti menghapuskan kaum produsen kecil barangdagangan; tetapi mereka  t i d a k   b i s a  d i  s i n g k i r k a n, atau dihancurkan; kita harus hidup bersama dengan mereka; mereka dapat (dan harus) dibentuk kembali dan dididik  kembali hanya dengan perkerjaan organisasi yang sangat lama, pelan-pelan dan hati-hati. Mereka mengepung proletariat dari segenap penjuru dengan spontanitas burjuis kecil, yang menyerap, melacuri  proletariat dan selalu menyebabkan timbulnya kembali di kalangan proletariat ketidaktabahan, perpecahan, individualisme burjuis kecil, berubahnya kegairahannya menjadi kesedihan. Sentralisasi dan disiplin yang paling keras dibutuhkan di dalam partai politik proletariat untuk melawan ini, supaya rol mengorganisasi dari proletariat (dan itu adalah rolnya yang terutama) dapat dijalankan dengan tepat, dengan berhasil dan dengan jaya. Diktatur proletariat adalah perjuangan, yang berdarah dan tidak berdarah, dengan kekerasan dan secara damai, militer dan ekonomi, pendidikan dan administratif, melawan kekuatan-kekuatan dan tradisi-tradisi lama. Kekuatan kebiasaan jutaan dan puluhan juta massa merupakan suatu kekuatan yang paling ngeri. Tanpa suatu partai yang membesi dan terbaja dalam perjuangan, tanpa suatu partai yang mendapat kepercayaan dari semua yang jujur dalam satu klas, tanpa suatu partai yang mengindahkan dan mempengaruhi perasaan hati massa, tidaklah mungkin untuk melakukan perjuangan yang demikian itu dengan berhasil. Seribu kali lebih mudah menaklukkan burjuasi besar yang terpusat daripada “menaklukkan” berjuta-juta pemilik kecil; tetapi mereka, dengan aktivitas mereka yang biasa, sehari-hari, yang tidak terlihat, tidak tertangkap, dan mendemoralisasi, mencapai hasil-hasil yang justru dibutuhkan oleh burjuasi dan yang menuju kepada pemulihan burjuasi. Barangsiapa yang melemahkan, bagaimanapun juga kecilnya, disiplin baja partai proletariat (terutama sekali selama diktaturnya), pada hakekatnya membantu burjuasi menentang proletariat.

Di samping soal pemimpin-pemimpin – pastai – klas massa, kita harus membicarakan serikatburuh-serikatburuh yang “reaksioner”. Tetapi terlebih dahulu saya memberanikan diri untuk memberikan beberapa keterangan kesimpulan yang didasarkan atas pengelaman Partai kami. Dalam Partai kami selalu ada serangan-serangan  terhadap “diktatur pemimpin-pemimpin”: pertama kali saya mendengar serangan-serangan serupa itu, saya ingat, dalam tahun 1895, ketika, secara resmi, belum ada partai tetapi ketika suatu grup pusat mulai dibentuk di Petersburg dan ditujukan untuk melakukan peimpinan atas grup-grup distrik 27 . Pada Kongres ke-IX Partai kami (April 1920) muncul suatu oposisi kecil yang juga menentang “diktatur pemimpin-pemimpin” , menentang “oligarki”, dan sebagainya. Karena tidak ada hal yang mengherankan, yang baru,  yang menakutkan dalam “penyakit kanak-kanak” dari “Komunisme Sayap Kiri” di kalangan orang-orang Jerman. Penyakit itu tidak menimbulkan sesuatu bahaya, dan sesudah itu keadaan tubuh malah menjadi lebih kuat. Sebaliknya, pada kami, pertukaran yang cepat dari pekerjaan legal menjadi ilegal, yang menyebabkan sangat perlunya “menyembunyikan”, menyelubungi secara sangat rahasia  justru staf umum, justru pemimpin-pemimpin, kadang-kadang menimbulkan gejala-gejala  yang sangat berbahaya sekali. Yang paling celaka yalah bahwa dalam tahun 1912 agen provokator Malinovski dapat memasuki Comite Central kaum Bolsyewik. Dia mengkhianati berpuluh puluh kawan yang paling baik dan paling setia, menyebabkan mereka mendapat hukuman kerjapaksa dan mempercepat kematian banyak di antara mereka. Bahwa dia tidak menimbulkan kerugian yang lebih besar lagi adalah karena kami mempunyai hubungan yang tepat antara pekerjaan legal dan ilegal. Sebagai anggota Comite Central Partai dan wakil dalam Duma, Malinovski terpaksa, supaya mendapat kepercayaan dari kami, membantu kami dalam mengeluarkan harian-harian yang legal, yang sekalipun di bawah kekuasaan tsar juga mampu melakukan perjuangan menentang oportunisme dari kaum Mensyewik dan mempropagandakan azas-azas Bolsyewisme yang diperluas dalam bentuk yang sepatutnya. Sedang dengan satu tangan Malinovski mengirimkan berpuluh-puluh kaum Bolsyewik yang terbaik ke hukuman kerjapaksa dan liang-kubur, dia terpaksa dengan tangan lainnya membantu dalam mendidik berpuluh-puluh ribu kaum Bolsyewik yang baru dengan perantaraan pers yang legal. Bagi kawan-kawan di Jerman (begitu juga di Inggeris, Amerika, Perancis dan Italia) yang dihadapkan pada tugas mempelajari bagaimana melakukan pekerjaan  revolusioner  di  dalam  serikatburuh-serikatburuh  reaksioner,  akan  berguna   sekali  untuk

 

 

 

 

memikirkan kenytaan ini dengan sungguh-sungguh.*.

Di banyak negeri, termasuk negeri-negeri yang termaju,  sekarang ini   burjuasi  pasti mengirimkan

agen-agen provokator ke dalam partai-partai Komunis dan akan terus melakukan itu.Salah satu cara untuk memberantas bahaya ini yalah menghubungkan pekerjaan ilegal dengan pekerjaan legal secara mahir.

 

 

  • Malinovski adalah seorang tawanan perang di Jerman. Ketika dia kembali ke Rusia yang berada di bawah kekuasaan kaum Bolsyewik, dia dengan segera dibawa ke muka pengadilan dan ditembak mati oleh kaum buruh kami. Kaum Mensyewik menyerang kami dengan sengitnya karena kesalahan kami — karena kenyataan, bahwa seorang agen provokator telah menjadi anggota Comite Central Partai kami. Tetapi ketika kami, di bawah pemerintahan Kerenski, menuntut ditangkap dan diadilinya Rodzianko, Ketua Duma, karena sejak sebelum perang dia telah tahu bahwa Malinovski adalah seorang agen provokator, dan tidak memberitahukan hal ini kepada kaum Trudowik 28 dan kaum buruh di dalam Duma, baik kaum Mensyewik maupun kaum Sosialis-Revolusioner yang duduk bersama dengan Kerenski tidak menyokong tuntutan kami itu, dan Rodzianko tetap leluasa dan dengan tak mendapat rintangan pergi menggabungkan diri dengan Denikin.

 

 

VI

Haruskah kaum revolusioner bekerja di dalam

Serikatburuh-serikatburuh reaksioner?

Kaum “Kiri” Jerman berpendapat,bahwa bagi mereka jawaban atas pertanyaan ini adalah negatif samasekali. Menurut pendapat mereka, deklamasi-deklamasi dan perkataan-perkataan marah-marah (seperti yang diucapkan oleh K.Horner dengan cara yang sangat “serius” dan sangat bodohnya) terhadap serikatburuh-serikatburuh “reaksioner” dan “kontrarevolusioner” adalah cukup untuk “membuktikan”, bahwa tidaklah perlu dan bahkan tidak diperbolehkan bagi kaum revolusioner dan kaum Komunis untuk bekerja dalam serikatburuh-serikatburuh kuning, sosial-sovinis, kompromis, kontra-revolusioner semacam serikatburuh-serikatburuh Legien.

Akan tetapi biar bagaimanapun juga teguhnya keyakinan kaum “Kiri” Jerman akan revolusionerismenya taktik semacam itu, taktik ini sebenarnya adalah salah samasekali, dan tidak mengandung di dalamnya suatu apapun kecuali omong-kosong.

Untuk menjelaskan hal ini, asya akan memulai dengan pengalaman kami sendiri – selaras dengan rencana umum brosur ini, yang tujuannya yalah mengenakan pada Eropa Barat apa saja yang dapat dikenakan secara umum, yang mempunyai kebenaran umum, yang bersifat keharusan umum dalam sejarah dan taktik Bolsyewisme pada waktu sekarang ini.

Saling hubungan antara pemimpin-pemimpin – partai – klas – massa, begitu juga hubungan antara diktatur proletar dan partainya dengan serikatburuh-serikatburuh, sekarang memperlihatkan dirinya secara konkrit di Rusia dalam bentuk sebagai berikut. Diktatur dijalankan oleh proletariat, yang diorganisasi dalam Sovyet-Sovyet; proletariat dipimpin oleh Partai Komunis kaum Bolsyewik, yang menurut bahan-bahan dari Kongres Partai yang lalu (IV-1920), mempunyai anggota 611 ribu orang. Keanggotaannya sangat naik turun baik sebelum maupun sesudah Revolusi Oktober, dan dulunya,  malahan dalam tahun 1918 dan 1919 29 , leboh-lebih sedikit lagi. Kami takut akan pertumbuhan Partai secara luarbiasa, sebab orang-orang pencari kedudukan dan bajingan-bajingan, yang selayaknya ditembak saja, pasti berusaha membonceng pada partai yang berkuasa. Waktu yang terakhir kami membuka pintu Partai lebar-lebar – hanya untuk kaum buruh dan kaum tani – yalah selama hari-hari (pada musim dingan tahun 1919)  ketika Yudenitj sudah berada di tempat yang hanya beberapa wersta* jauhnya dari Petrograd, dan Denikin berada di Orel (kira-kira 350 wersta dari Koskwa), yaitu, ketika Republik Sovyet diancam bahaya maut, bahaya kematian, dan ketika petualang-petualang, orang-orang pencari kedudukan, bajingan-bajingan dan orang-orang yang tidak teguh pada umumnya bagaimanapun tidak akan mungkin mengharapkan kedudukan yang menguntungkan (dan mereka lebih cepat dapat mengharapkan tiang-gantungan dan siksaan) dengan menggabungkan diri pada kaum Komunis 30 . Partai, yang mengadakan Kongres saban tahun (Kongres yang lalu atas dasar seorang utusan untuk 1000 orang anggota), dipimpin oleh Comite Central yang terdiri dari 19 orang yang dipilih dalam Kongres, sedang pekerjaan sehari-hari di Moskwa harus dilakukan oleh badan-badan yang lebih kecil lagi, yaitu apa yang dinamakan “Org-biro” (Biro-Organisasi) dan “Politbiro” (Biro-Politik), yang dipilih dalam sidang Pleno CC, masing-masing biro terdiri dari lima oranggota CC. Hal ini, nampaknya adalah satu “oligarki” yang sungguh-sungguh. Tidak ada satupun soal politik atau organisasi yang penting yang diputuskan oleh suatu badan negara dalam republik kami tanpa instruksi-instruksi pedoman dari CC Partai

*Ukuran panjang Rusia, sama dengan 1,06 km, yang dipergunakan di Rusia sebelum sistim meteran, —Red.

 

 

Dalam pekerjaannya, Partai bersandar langsung pada serikatburuh-serikatburuh, yang pada dewasa ini, menurut bahan-bahan dari Kongres yang lalu (IV-1920), mempunyai anggota 4 juta orang lebih, dan yang formilnya adalah non partai. Sesungguhnya, semua badan pimpinan terbanyak mutlak serikatburuh-serikatburuh dan terutama sekali, sudah tentu, pusat atau biro umum serikatburuh se-Rusia (DPSBR—Dewan Pusat Serikat Buruh-Serikat Buruh Se-Rusia), terdiri dari kaum Komunis dan menjalankan semua petunjuk Partai. Dengan demikian, dalam keseluruhannya, kami mempunyai alat proletar yang formil non-Komunis, yang supel dan relatif luas dan sangat kuat, dengan perantaraan mana Partai dihubungkan rapat dengan klas dan dengan massa, dan dengan perantaraan mana, di bawah pimpinan Partai,maka dijalankanlah diktatur klas. Tanpa hubungan yang rapat sekali dengan serikatburuh-serikatburuh, tanpa bantuan mereka yang hangat dan pekerjaan mereka yang tak berpamrih, tidak hanya dalam soal-soal ekonomi tapi juga dalam soal-soal militer, sudah tentu, tidak akan mungkinlah bagi kami untuk memerintah dengeri dan menjalankan diktatur selama 2 ½ bulan, apalagi 2 ½ tahun. Sudah tentu, dalam praktek, hubungan yang paling rapat ini memerlukan pekerjaan yang banyak seluk-beluknya dan yang bermacam-macam dalam bentuk propaganda, agitasi, konperensi-konperensi yang tepat pada waktunya dan sering, tidak hanya dengan tokoh-tokoh pimpinan serikatburuh, tetapi juga dengan tokoh-tokoh serikatburuh yang berpengaruh pada umumnya; ia meminta perjuangan yang sungguh-sungguh melawan kaum Mensyewik yang masih mempunyai sejumlah pengikut, biar sedikit sekali, pengikut-pengikut yang diajarinya tentang segala tipu muslihat kontra-revolusioner yang mungkin, mulai dari membela demokrasi (burjuis) secara ideologi dan mengkhotbahkan “kebebasan” serikatburuh-serikatburuh (kebebasan dari kekuasaan negara proletar) sampai pada mendabot disiplin proletar, dan sebagainya, dan seterusnya.

Kami berpendapat, bahwa hubungan dengan “massa” melalui serikatburuh-serikatburuh tidaklah cukup. Selama revolusi aktivitas nyata telah menimbulkan di negeri kami konferensi-konferensi kaum buruh dan kaum tani non-partai, dan kami berusaha dengan segala jalan untuk membantu, mengembangkan dan meluaskan badan-badan ini supaya dapat mengikuti sentimen-sentimen massa, lebih mendekati mereka, memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, mempromosikan yang terbaik di kalangan mereka ke jabatan-jabatan negara, dan sebagainya. Menurut salah satu dekrit yang terakhir mengenai pengubahan Komisariat Rakyat Pengawasan Negara menjadi “Inspeksi Buruh dan Tani”, konferensi-konferensi non-partai macam ini diberi hak untuk memilih anggota-anggota Pengawasan Negara untuk berbagai macam penyelidikan, dan sebagainya.

Kemudian, sudah tentu, semua pekerjaan Partai dijalankan melalui Sovyet-Sovyet, yang meliputi massa pekerja tanpa pandang keahliannya. Kongres-kongres Sovyet-Sovyet tingkat Ujezd adalah badan-badan yang begitu demokratis yang belum pernah dikenal oleh republik-republik demokratis yang terbaik di dunia burjuis; dan melalui Kongres-kongres ini ( yang oleh Partai sedapat mungkin  diusahakan mengikuti pekerjaan-pekerjaannya dengan saksama), begitu juga dengan terus-menerus mengangkat buruh-buruh yang mempunyai kesadaran klas pada berbagai jabatan di pedesaan, maka dijalankanlah peranan proletariat sebagai pemimpin kaum tani, dilaksanakanlah diktatur proletariat kota, dilakukanlah perjuangan yang sistimatis melawan kaum tani kaya, yang burjuis, yang menghisap dan mencatut, dan sebagainya.

Demikianlah mekanisme umum kekuasaan negara proletar dilihat “dari atas”, dari sudut pelaksanaan praktis diktatur. Dapat diharapkan, bahwa pembaca akan mengerti mengapa seorang Bolsyewik Rusia yang tahu akan mekanisme ini, yang selama 25 tahun mengikuti pertumbuhannya dari grup-grup  kecil yang ilegal, di bawah tanah, tidak dapat lain daripada menganggap bahwa semua obrolan tentang “dari atas”  a  t  a  u   “dari bawah”,   tentang   diktatur pemimpin-pemimpin  a  t  a  u   diktatur massa, dan seterusnya, adalah omong kosong yang menggelikan dan kekanak-kanakan, sesuatu yang serupa dengan membicarakan apakah kaki kiri atau tangan kanan menuasia yang lebih berguna baginya.

Dan kami tidak dapat lain daripada juga menganggap omong kosong yang menggelikan dan kekanak-kanakan yang sama pembicaraan-pembicaraan yang bombastis, yang bukan main intelektualis dan revolusionernya hingga keterlaluan dari kaum Kiri Jerman, yaitu bahwa kaum Komunis tidak dapat dan tidak boleh bekerja di dalam serikatburuh-serikatburuh reaksioner, bahwa diperbolehkan menolak pekerjaan semacam itu, bahwa perlu meninggalkan serikatburuh-serikatburuh itu dan menciptakan suatu “Persatuan Buruh” yang baru samasekali, yang tidak ada celanya, yang direka-reka oleh orang-orang Komunis yang sangat baik (dan, mungkin, yang sebagian besar masih muda-belia), dan sebagainya, dan seterusnya.

Kapitalisme pasti meninggalkan sebagai warisan kepada sosialisme, di satu pihak, perbedaan-perbedaan keahlian dan vak yang lama dan tersusun sejak berabad-abad di kalangan kaum buruh, dan di pihak lain, serikatburuh-serikatburuh yang  akan dapat dan akan berkembang dengan lambat sekali, selama bertahun-tahun, menjadi serikatburuh-serikatburuh industri yang lebih luas dengan kurang sifat serikat-vaknya (yang meliputi seluruh cabang-cabang industri, dan tidak hanya meliputi vak-vak, pekerjaan-pekerjaan, dan keahlian-keahlian) dan kemudian, melalui srikatburuh-serikatburuh industri ini beralih ke penghapusan pembagian kerja di antara orang-orang, ke pendidikan, pengajaran dan persiapan orang-orang dengan kemajuan yang meliputi segala segi dan dengan latihan yang meliputi segala lapangan, sehingga mampu mengerjakan segala-galanya. Komunisme sedang maju dan mesti maju ke arah tujuan ini, dan ia akan mencapainya, tetapi hanya sesudah sangat banyak tahun. Mencoba dalam praktek, sekarang ini, untuk memiliki buah hasil ini dari Komunisme yang akan datang, yang sudah berkembang dengan sempurna, sudah kokoh dan tersusun dengan sempurna, sudah meluas dan matang sungguh-sungguh, akan berarti sama saja dengan mencoba mengajarkan ilmu pasti tinggi kepada anak-anak umur empat tahun.

Kita dapat (dan harus) mulai membangun Sosialisme, bukan dengan bahan-bahan manusia yang khayal, ataupun yang khusus kita sediakan, tetapi dengan bahan-bahan manusia yang diwariskan kepada kita oleh kapitalisme. Benar, hal itu adalah “sukar” sekali, tetapi cara pemecahan lain manapun untuk tugs ini adalah begitu tidak serius hingga tidak patut dibicarakan.

Pada masa permulaan perkembangan kapitalisme serikatburuh-serikatburuh adalah suatu kemajuan raksasa bagi klas buruh, sebagai peralihan dari keadaan terpencar-pencar dan tak berdaya-nya kaum buruh ke benih-benih pertama dari penyatuan klas. Ketika bentuk yang tertinggi dari penggabungan klas kaum proletar mulai lahir,  yaitu  partai proletariat revolusioner ( yang tidak akan layak mendapat sebutan itu sebelum ia belajar menjatuhkan pemimpin-pemimpin dengan klas dan massa menjadi satu keutuhan, sesuatu yang tak terpecahkan), maka serikatburuh-serikatburuh itu tidak boleh tidak mulai memperlihatkan beberapa sifat reaksioner, sesuatu kepicikan vak, suatu tendensi non-politik, kekolotan tertentu, dan lain-lain. Akan tetapi perkembangan proletariat tidak dan tidak bisa berjalan di mana saja di dunia ini kecuali melalui serikatburuh-serikatburuh, melalui aksi timbal balik antara serikatburuh-serikatburuh dan partai klas buruh. Perebutan kekuasaan oleh proletariat adalah langkah maju raksasa bagi proletariat sebagai klas, dan Partai harus lebih daripada yang sudah-sudah dan dengan cara baru, tidak hanya dengan cara lama, mendidik dan membimbing serikatburuh-serikatburuh, dalam pada itu juga tetap mengingat bahwa serikatburuh-serikatburuh adalah dan akan tetap dalam waktu yang lama merupakan suatu “Sekolah Komunisme” yang perlu dan suatu sekolah persiapan ynag melatih kaum proletar  untuk menjalankan dikatatur mereka, suatu organisasi kaum buruh yang perlu untuk secara berangsur-angsur memindahkan pengurusan seluruh kehidupan ekonomi negeri ke tangan klas buruh (dan bukan kepada golongan-golongan keahlian tertentu) dan kemudian ke tangan semua Rakyat pekerja.

Ada suatu “ke-reaksioner-an” di dalam serikatburuh-serikatburuh dalam arti tersebut di atas tidak dapat dihindarkan di bawah diktatur proletariat. Tidak bisa memahami ini berarti tidak dapat memahami samasekali syart-syarat pokok peralihan dari kapitalisme ke Sosialisme. Takut kepada “ke-reaksioner-an” ini, mencoba menghindarinya, mencoba melangkahinya, akan berarti kebodohan yang terbesar, karena ia akan berarti takut akan fungsi pelopor proletar yang berupa melatih, mendidik, membuka pikiran dan menarik ke dalam kehidupan baru lapisan-lapisan yang paling terbelakang dari massa klas buruh dan kaum tani. Di pihak lain,menunda tercapainya diktatur proletariat sampai datang masanya, di mana tidak ada lagi seorang buruhpun yang mempunyai pandangan yang sempit menurut keahliannya, seorang buruh yang mempunyai purbasangka-purbasangka vak dan Trade-Unionis, akan merupakan kesalahan yang lebih besar lagi. Kecakapan seorang politikus (serta pengertian yang benar dari setiap Komunis tentang kewajiban-kewajibannya) terletak justru dalam memperhitungkan dengan tepat syarat-syarat dansaat, di mana pelopor proletariat dapat merebut kekuasaan dengan berhasil, di mana ia dapat sewaktu dan sesudah perebutan kekuasaan, mendapat bantuan yang cukup dari lapisan yang cukup luas dari klas buruh dan massa pekerja non-proletar, dan di mana sesudah itu ia dapat mempertahankan, mengkonsolidasi dan meluaskan kekuasaannya dengan mendidik, melatih dan menarik semakin luas massa Rakyat pekerja.

Selanjutnya. Di negeri-negeri yang lebih maju dari pada Rusia, suatu ke-reaksioner-an dalam serikatburuh-serikatburuh telah dan tentunya pasti nampak jauh lebih tegas dari pada di negeri kami. Kaum Mensyewik kami telah mendapat sokongan dalam serikatburuh-serikatburuh (dan sampai pada batas tertentu masih mendapat sokongan dalam serikatburuh-serikatburuh yang sedikit sekali jumlahnya), justru karena kepicikan vak, egoisme profesionil dan oportunisme. Di Barat kaum Mensyewik setempat telah “bercokol” jauh lebih kuat di dalam serikatburuh-serikatburuh, di sana “aristokrasi buruh” yang bersemangat profesionil yang picik, tamak, tidak menaruh belas kasihan, yang loba, bersifat burjuis kecil, yang berpikiran imperialis dan disuap oleh imperialis, dilacurkan oleh imperialis, muncul sebagai suatu lapisan yang jauh lebih kuat dari pada di negeri kami. Ini tidak dapat disangkal. Perjuangan menentang kaum Gompers, menentang tuan-tuan Jouhoux, Henderson, Merrheim, Legien & Co. di Eropa Barat adalah jauh lebih sukar daripada perjuangan menentang kaum Mensyewik kami, yang mewakili tipe sosial dan politik yang samasekali homogen. Perjuangan ini harus dilakukan dengan tak kenal ampun, dan ia psti harus dijalankan – sebagaimana kami telah menjalankannya – sampai pada titik di mana semua gembong oportunisme dan sosial-sovinisme yang sudah tidak bisa diperbaiki lagi dibikin malu samsekali dan diusir dari serikatburuh-serikatburuh. Kekuasaan politik tidak dapat direbut (dan usaha untuk merebutnya tidak boleh dilakukan) sebelum perjuangan itu mencapai suatu tingkatan tertentu dan ““ingkatan tertentu””ini akan beralin-lainan di berbagai negeri dan dalam berbagai keadaan: ia dapat diperhitungkan dengan tepat oleh pemimpin-pemimpin politik dari proletariat yang berpikiran dalam, berpengalaman dan tahu banyak di masing-masing negeri. (Di Rusia, antara lain, yang menjadi ukuran dari sukses perjuangan ini yalah pemilihan untuk Dewan Konstituante dan bulan Nopember 1917, beberapa hari sesudah revolusi proletar pada tanggal 25 Oktober 1917; dalam pada itu dalam pemilihanini kaum Mensyewik kalah betul-betul; mereka memperoleh 0,7 juta suara – 1,4 juta jika ditambah dengan suara dari Trans-Kaukasia – dibandingkan dengan 9 juta suara yang didapat oleh kaum Bolsyewik: lihat artikel saya, Pemilihan untuk Dewan Konstituante 31 dan Diktatur Proletariat” dalam Kommunistitjeski International 32 No.7 – 8).

Akan tetapi kita melakukan perjuangan melawan “aristokrasi buruh” atas nama massa kaum buruh dan dengan tujuan menarik mereka ke pihak kita; kita melakukan perjuangan melawan gembong-gembong oportunis dan sosial-sovinis guna menarik klas buruh ke pihak kita. Melupakan kebenaran yang paling sederhana dan yang jelas dengan sendirinya ini adalah bodoh. Dan justru kebodohan inilah diperlihatkan oleh kaum Komunis “Kiri” Jerman ketika mereka, berhubung dengan watak reaksioner dan kontra-revolusioner dari kalangan atasan serikatburuh-serikatburuh, melompat pada kesimpulan bahwa ……… serikatburuh-serikatburuh harus ditinggalkan!!  bahwa pekerjaan di dalamnya harus ditolak!! bahwa harus dicipatakan bentuk-bentuk organisasi buruh yang baru dan yang  di  b u a t – b u a t !! Ini adalah suatu kebodohan yang tidak dapat dimaafkan, yang sama dengan jasa yang terbesar yang diberikan oleh kaum Komunis kepada burjuasi. Sebab kaum Mensyewik kita, seperti juga semua gembong serikatburuh-serikatburuh yang oportunis, sosial-sovinis, Kautskyis, adalah tidak lain daripada “agen-agen burjuasi di dalam gerakan kaum buruh” (sebagaimana kami selamanya menamakan kaum Mensyewik), atau, untuk memakai perkataan yang bagus sekali dan sepenuhnya benar dari pengikut-pengikut Daniel De Leon di Amerika, yalah “mandur buruh dari klas kapitalis” (labor leiutenants of the capitalist clas). Menolak bekerja di dalam serikatburuh-serikatburuh yang reaksioner berarti membiarkan massa kaum buruh yang belum cukup maju atau yang masih terbelakang tetap ada di bawah pengaruh gembong-gembong yang reaksioner, agen-agen burjuasi, aristokrasi buruh, atau “buruh-buruh yang telah menjadi bersifat burjuis” ( bandingkna, surat Engels kepada Marx dalam tahun 1858 tentang kaum buruh Inggeris).

Justru “teori” yang bukan-bukan, bahwa kaum Komunis tidak boleh bekerja di dalam serikatburuh reaksioner, yang memperlihatkan dengan terutama jelasnya bagaimana sembrononya sikap kaum Komunis “Kiri” ini terhadap soal mempengaruhi “massa”, dan bagaimana mereka menyalah-gunakan pekikan-pekikan mereka tentang “massa”. Supaya dapat menolong “massa” dan mendapatkan simpati serta sokongan dari “massa” , orang tidak boleh takut akan kesukaran, tidak boleh takut akan umpatan-umpatan, jegalan-jegalan, penghinaan-penghinaan dan pengejaran-pengejaran dari pihak “gembong-gembong” (yang, karena bersifat oportunis dan sosial-sovinis, dalam banyak hal secara langsung atau tidak langsung mempunyai hubungan dengan burjuasi dan polisi), dan pasti harus bekerja di mana saja ada massa. Orang harus sanggup memberikan segala pengorbanan, mengatasi rintangan yang sebesar-besarnya untuk melakukan agitasi dan propaganda dengan teratur, terus-menerus, ulet dan sabar, justru dalam badan-badan, perkumpulan-perkumpulan dan persrikatan-perserikatan – yang paling ultra-reaksioner sekalipun – di mana terdapat massa proletar atau setengah proletar. Dan serikatburuh-serikatburuh serta koperasi-koperasi buruh (yang tersebut belakangan, setidak-tidaknya, kadang-kadang) adalah justru organisasi-organisasi di mana terdapat massa. Menurut angka-angka yang dimuat dalam suratkabar Swedia Folkets Dagblad Politiken  33 (tanggal 10-III-1920), jumlah anggota serikat buruh di Inggeris naik dari 5,5 juta pada akhir tahun 1917 menjadi 6,6 juta pada akhir tahun 1918, yaitu naik dengan 19%. Menjelang akhir tahun 1919 jumlah anggota ditaksir 7,5 juta. Pada saya sekarang tidak ada angka-angka serupa itu dari Perancis dan Jerman, tetapi kenyataan-kenyataan yang samasekali tidak dapat disangkal dan yang umum diketahui membuktikan kenaikan yang cepat dalam jumlah keanggotaan serikatburuh juga di negeri-negeri ini.

Kenyataan ini membikin terang seterang-terangnya apa yang diperkuat juga oleh beribu-ribu tanda lainnya, yaitu, bahwa kesadaran-klas dan keinginan untuk berorganisasi sedang tumbuh justru di kalangan massa proletar, di kalangan “bawahan”, di kalangan elemen-elemen yang terbelakang.  Berjuta-juta kaum buruh di Inggeris, Perancis dan Jerman buat pertama kalinya melangkah dari keadaan tidak mempunyai organisasi sama sekali ke bentuk organisasi yang elementer, paling rendah, paling sederhana, dan (bagi mereka yang masih samasekali diliputi oleh purbasangka-purbasangka burjuis-demokratis) yang paling mudah diterima, yaitu, serikatburuh-serikatburuh; tetapi kaum Komunis Kiri yang revolusioner, tetapi tidak pintar, berdiri berpangku tangan sambil berteriak-teriak “massa”, “massa”!–dan menolak untuk bekerja di dalam  s e r i k a t b u r u h – s e r i k a t b u r u h !! menolak dengan dalih bahwa serikatburuh-serikatburuh itu “reaksioner”!! dan mereka-reka suatu “Persatuan Buruh” yang baru samasekali, yang tiada bercacat, tiada memiliki kesalahan purbasangka-purbasangka burjuis-demokratis dan yang bersih dari dosa-dosa vak atau profesionil yang picik, yang sebagaimana digembar-gemborkan, seolah-olah akan menjadi (akan menjadi!) suatu organisasi yang luas, dan satu-satunya (satu-satunya!) syrata bagi keanggotaannya yalah “mengakui sistim Sovyet dan diktatur”!! (Liahat bagian yang dikutip di atas).

Tidak dapat dibayangkan ketololan yang lebih besar dan kerugian yang lebih besar bagi revolusi daripada apa yang ditimbulkan oleh kaum revolusioner “Kiri” ini! Jika kami kini di Rusia, sesudah 2 ½ tahun  kemenangan-kemenangan yang tak ada taranya atas burjuasi Rusia dan Entente 34 , menjadikan “pengakuan terhadap diktatur” sebagai syarat bagi keanggotaan serikatburuh, maka kami tentu akan melakukan suatu kebodohan, merusak pengaruh kami atas massa, dan membantu kaum Mensyewik. Sebab seluruh tugas kaum Komunis yalah menjadi pandai meyakinkan elemen-elemen yang terbelakang, pandai bekerja di tengahtengah mereka, dan bukan untuk memisahkan diri dari mereka dengan semboyan-semboyan “Kiri” yang dibuat-buat dan kekanak-kanakan.

Tidak dapat diragukan bahwa tuan-tuan Gompers, Henderson, Jouhoux, dan Legien sangat berterimakasih kepada kaum revolusioner ““iri”” yang berarti kaum oposisi ““rinsipiil””di Jerman (semoga Tuhan melindungi kita dari ““ikap prisipiil” semacam itu!), atau beberapa kaum revolusioner dalam “Kaum Buruh Industri Sedunia” 35 dari Amerika, menganjurkan supaya meninggalkan serikatburuh-serikatburuh reaksioner dan menolak bekerja di dalam serikatburhh-serikatburuh itu. Tidak dapat diragukan bahwa tuan-tuan “gembong” oportunisme akan melakukan segala tipu-muslihat diplomasi burjuis, mencari bantuan dari pemerintah-pemerintah burjuis, pendeta-pendeta, polisi-polisi dan pengadilan-pengadilan, supaya mencegah kaum Komunis masuk dalam serikatburuh-serikatburuh, supaya mendesak mereka keluar dengan segala jalan, dan membuat pekerjaan mereka dalam serikatburuh-serikatburuh itu paling tidak enak, supaya menista, menghina dan mengejar-kejar mereka. Kita harus pandai menahan ini semua, sanggup memberika segala dan setiap pengorbanan, dan malahan – jika perlu – menggunakan berbagai siasat, akal, cara-cara ilegal, bungkam seribu bahasa dan menyembunykan kebenaran asal hanya dapat menyelinap ke dalam serikatburuh-serikatburuh, tinggal di dalamnya, dan bagaimanapun juga melakukan pekerjaan Komunis di dalam serikatburuh-serikatburuh itu.  Di bawah tsarisme hingga tanhun 1905 kami tidak mempunyai “Kemungkinan-kemungkinan legal” sedikitpun; tetapi waktu Zubatov, seorang penjahat polisi, mengorganisasi rapat-rapat buruh dan perkumpulan-perkumpulan kaum pekerja yang bersifat Seratus Hitam, dengan maksud menjerat kaum revolusioner dan melawan mereka, kami mengirimkan anggota-anggota Partai kami ke rapat-rapat dan ke dalam perkumpulan-perkumpulan itu (saya sendiri masih ingat seorang di antara mereka, yaitu Kawan Babusykin, seorang buruh terkemuka di Petersburg, yang ditembak oleh jendral-jendral tsar dalam tahun 1906). Mereka mengadakan hubungan dengan massa, mencari akal untuk melakukan agitasi mereka,  dan berhasil merebut kaum buruh dari pengaruh kaum Zubatov*. Sudah tentu, di Eropa Barat di mana purbasangka-purbasangka legalis, konstitusionil, burjuis-demokratis sangat melekat dan berakar dalam sekali, ini adalah suatu pekerjaan yang lebih sukar. Tetapi ia dapat dan harus dilakukan, dan dilakukan secara sistimatis.

Komite Eksekutif Internasionale III, menurut pendapat saya, harus mengutuk dengan tegas, dan mengusulkan kepada Kongres Internasionale Komunis yang akan datang supaya mengutuk poltik yang menolak untuk masuk ke dalam serikatburuh-serikatburuh reaksioner pada umumnya (dengan menganalisa secara terperinci apa sebabnya penolakan serupa itu adalah tak bijaksana, dan betapa besarnya kerugian yang ditimbulkan bagi kepentingan revolusi proletar) dan, pada

 

* Kaum Gompers, Henderson, Jouhoux dan Legien adalah tidak lain daripada kaum Zubatov; mereka berbeda dengan Zubatov kami hanya karena baju Eropa mereka, cara-cara demokratis yang licin, dipelitur, dipermodern, diperhalus dalam menjalankan politik mereka yang nista.

 

khusunya, garis sikap dari beberapa anggota Partai Komunis Belanda, yang – baik secara langsung atau tidak langsung, secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, seluruhnya atau sebagian – telah menyokong politik yang salah ini. Internasionale III harus melepaskan taktik Internasionale II; ia tidak boleh menghindari atau menutupi soal-soal yang pahit, akan tetapi harus mengemukakannya secara terang-terangan. Seluruh kebenaran telah dikemukakan secara terus terang kepada kaum “Merdeka” (Partai Sosialis Demokratis Merdeka Jerman); seluruh kebenaran harus juga dikemukakan secara terus-terang kepada kaum Komunis “Kiri”.

 

 

 

VII

Haruskah kita ambil bagian dalam

parlemen-parlemen burjuis?

Kaum Komunis “Kiri” Jerman, dengan sangat mendaifkan – dan dengan sangat sembrono – menjawab pertanyaan ini dengan negatif. Apakah alasan-alasan mereka? Dalam bagian yang telah dikutip di atas kita baca:

 

“……….. orang harus menolak sekeras-kerasnya segala macam pembalikan ke bentuk-bentuk perjuangan parlementer, yang telah menjadi usang menurut sejarah dan politik……….”

 

Ini dikatakan secara sombong hingga menggelikan, dan terang salah. “Kembali” ke parlementerisme! Barangkali di Jerman sudah ada republik-republik Sovyet? Rasanya belum! Jadi, bagaimana orang bisa berbicara tentang “kembali”? Bukankah ini kata-kata kosong belaka?

Parlementerisme telah menjadi “usang menurut sejarah”. Ini betul dari segi propaganda. Tetapi setiap orang tahu bahwa hal ini masih jauh sekali dari mengatasinya dalam praktek. Kapitalisme sudah berpuluh-puluh tahun yang lalu dapat dinyatakan, dan dengan penuh kebenaran,  sebagai yang sudah “usang menurut sejarah”, tetapi itu samasekali tidak menghilangkan keperluan perjuangan yang sangat lama dan sangat ulet di atas bumi kapitalisme. Parlementerisme  sudah “usang menurut sejarah” dilihat dari sudut sejarah dunia, artinya zaman parlementerisme burjuis sudah berakhir dan zaman diktatur proletariat sudah mulai.  Ini tak dapat dibantah. Tetapi sejarah dunia dihitung dalam puluhan tahun. Sepuluh atau duapuluh tahun lebih dulu atau lebih lambat tidak ada bedanya jika diukur dengan sejarah dunia; dilihat dari sudut sejarah dunia ini adalah soal tetek bengek yang tidak dapat dihitung sekalipun dengan kira-kira saja. Tetapi justru karena itu adalah suatu kesalahan teori yang paling menyolok untuk mengenakan ukuran sejarah dunia pada politik praktis.

Apakah parlementerisme sudag “usang” secara politik? Itu adalah soal lain samasekali. Seandainya itu benar, maka kedudukan kaum “Kiri” akan kuat. Akan tetapi ini harus dibuktikan dengan analisa yang sedalam-dalamnya, sedangkan kaum “Kiri” malahan tidak tahu bagaimana mendekatinya. Dalam “Tesis-tesis tentang parlemeterisme”, yang dimuat dalam “Buletin Biro sementara Internasionale Komunist di Amsterdam”, No.1 (Buletin of the Provisional Bureau in Amsterdam of the Communist International“” Februari 1920) dan yang jelas menyatakan fikiran orang-orang Kiri-Belanda atau Belanda-Kiri, analisa itu, sebagaimana akan kita lihat, adalah juga sangat jelek.

Pertama. Bertentangan dengan pendapat pemimpin-pemimpin politik yang terkemuka seperti Rosa Luxenburg dan Karl Liebknecht, kaum “Kiri” Jerman, seperti diketahui, menganggap parlementerisme sudah “usang secara politik” malahan sejak bulan Januari 1919. Kita tahu bahwa kaum “Kiri” itu adalah salah. Kenyataan ini saja menghancurkan samasekali, dengan sekali pukul, dalil seolah-olah parlementerisme sudah “usang secara politik”. Kaum “Kiri” berkewajiban membuktikan mengapa pada waktu itu kesalahan mereka yang tak terbantah itu sekarang tidak lagi merupakan suatu kesalahan. Mereka tidak, dan tidak dapat, mengemukakan bukti sedikitpun. Sikap suatu partai politik terhadap kesalahannya sendiri adalah salah satu kriterium yang paling penting dan paling terpercaya dari kesungguhan partai itu dan penunaian dalam praktek kewajiban-kewajibannya terhadap klasnya dan massa pekerja. Mangakui kesalahan secara terbuka, mengupas sebab-sebabnya, menganalisa keadaan-keadaan yang telah menimbulkannya, dan mendiskuikan dalam-dalam cara-cara untuk memperbaikinya – itulah tanda partai yang sungguh-sunguh, itulah cara ia harus menunaikan kewajibannya, itulah caranya ia harus medidik dan melatih klas, dan kemudian massa. Dengan tidak memenuhi kewajibannya ini, dengan tidak menaruh minat yang luarbiasa, ketelitian dan sikap hati-hati sepenuh-penuhnya dalam mempelajari kesalahan  mereka yang nyata, maka kaum “Kiri” di Jerman (dan di Belanda), justru dengan ini membuktikan bahwa mereka bukanlah suatu partai klas, tetapi suatu grup, bukan suatu partai massa, tetapi suatu kumpulan kaum intelek dan sejumlah kecil buruh yang meniru sifat-sifat yang terburuk dari intelektualisme.

Kedua. Dalam brosur grup kaum “Kiri” di Frankfurt itu juga, darimana telah kita sitir kutipan-kutipan panjang lebar, kita baca:

 

“………….Berjuta-juta kaum bueuh yang masih mengikuti politik Sentrum” (Partai “Sentrum” Katholik) “ adalah kontra-revolusioner. Kaum proletar desa mengisi legiun-legiun pasukan-pasukan kontra-revolusioner”. (halaman 3 dalam brosur tersebut).

 

Segala-galanya menunjukkan bahwa keterangan ini diucapkan secara terlalu serampangan dan berlebih-lebihan. Akan tetapi kenyataan pokok yang dikemukakan di sini tidak dapat disangkal, dan diakuinya ini oleh kaum “Kiri” adalah bukti yang sangat nyata akan kesalahan mereka. Bagaimana orang dapat mengatakan bahwa “parlementerisme sudah usang secara politik” di waktu “berjuta-juta” dan “berlegiun-legiun” kaum proletar tidak hanya masih menyokong parlementerisme pada umumnya, tetapi juga benar-benar “kontra-revolusioner”!? Teranglah, parlementerisme di Jerman masih belum usang secara politik. Teranglah kaum “Kiri” di Jerman telah salah menganggap keinginan mereka, sikap politik dan ideologi mereka, sebagai kenyataan yang obyektif. Ini adalah kesalahan yang paling berbahaya bagi kaum revolusioner, Di Rusia – di mana beban tsarisme yang terutama ganas dan buas selama masa yang sangat lama sekali dan dalam bentuk-bentuk yang terutama beraneka warna melahirkan kaum revolusioner dari berbagai corak, kaum revolusioner yang menunjukkan pengabdian, antusiasme, heroisme dan kekerasan kemauan yang mengagumkan – di Rusia kami telah melihat kesalahan kaum revolusioner ini dari sangat dekat, kami telah mempelajarinya dengan sangat saksama dan mempunyai pengetahuan yang terutama baik tentang itu; dan karena itu kami melihatnya dengan terutama jelas pada orang-orang lain. Parlementerisme sudah tentu, telah “usang secara politik” bagi kaum Komunis di Jerman; tetapi – dan inilah persoalan yang sesungguhnya – kita tidak boleh menganggap apa  yang sudah usang bagi kita sebagai sudah usang bagi klas,  sudah usang bagi massa. Justru di sini kita jumpai lagi bahwa kaum “Kiri” tidak mampu berfikir, tidak mampu bertindak sebagai partai klas, sebagai partai massa. Kawan-kawan tidak boleh merosot ke tingkat massa, ke tingkat lapisan-lapisan klas yang masih terbelakang. Ini tidak dapat disangkal. Kawan-kawan wajib mengatakan kepada mereka kebenaran yang pahit. Kawan-kawan wajib menamakan purbasangka-purbasangka burjuis-demokratis dan parlementer mereka sebagai purbasangka-purbasangka. Tetapi bersamaan dengan itu kawan-kawan harus mengikuti dengan waras keadaan yang sesungguhnya dari kesadaran dan kesediaan justru seluruh klas (dan bukan hanya pelopor Komunis saja), justru seluruh massa pekerja (dan bukan hanya elemen-elemen mereka yang sudah maju).

Kalau tidak “berjuta-juta” dan “berlegiun-legiun” tetapi biarpun minoritas yang agak besar jumlahnya dari kaum buruh industri mengikuti pendeta-pendeta Katholik – dan minoritas yang sama besarnya dari kaum buruh-tani mengikuti tuantanah-tuantanah dan kaum kulak (Grossbauern) – maka ini pasti membuktikan bahwa parlemeterisme di Jerman masih belum usang secara politik, bahwa ikut serta dalam pemilihan untuk parlemen dan dalam perjuangan di atas mimbar parlemen adalah wajib bagi partai proletariat revolusioner justru untuk maksud mendidik lapisan-lapisan yang masih terbelakang dari klasnya sendiri, justru untuk maksud mengubah dan membuka-pikiran massa desa yang belum maju, yang tertindas, yang gelap pikirannya. Selama kawan-kawan belum mampu membubarkan parlemen burjuis dan segala bentuk badan reaksioner macam lain, kawan-kawan wajib bekerja di dalamnya justru karena di situlah masih terdapat kaum buruh yang diperbodoh oleh pendeta-pendeta dan oleh kesunyian hidup di desa; kalau tidak, kawan-kawan akan menanggung resiko menjadi tukang obrol belaka.

Ketiga, kaum Komunis “Kiri” mengucapkan banyak kata-kata yang baik mengenai kami, kaum Bolsyewik. Kadang-kadang kami merasa ingin mengatakan kepada mereka; lebih baik kurang memuji-muji kami, tetapi lebih banyak memahami taktik kaum Bolsyewik, lebih banyak berusaha berkenalan dengannya! Kami ambil bagian dalam pemilihan-pemilihan untuk parlemen burjuis Rusia, Dewan Konstituante, dalam bulan September-November 1917. Apakah taktik kami itu benar atau tidak? Jika tidak,  maka ini harus dinyatakan dengan terang dan dibuktikan, karena hal ini perlu untuk perumusan taktik yang benar oleh Komunisme Internasional. Jika ya, maka kita harus menarik dari ini kesimpulan tertentu. Sudah tentu, tidak mungkin bahkan berbicarapun tentang menyamakan keadaan-keadaan di Rusia dengan keadaan-keadaan di Eropa Barat. Tetapi mengenai soal khusus tentang makna pengertian “parlementerisme sudah menjadi usang secara politik”, adalah perlu sekali mempertimbangkan pengalaman kami dengan teliti, karena jika pengalaman yang konkrit tidak dipertimbangkan, maka pengertian-pengertian yang serupa itu mudah sekali berubah menjadi kata-kata kosong. Bukankah kami, kaum Bolsyewik Rusia, dalam bulan September-November 1917 lebih berhak daripada orang-orang Komunis macam apapun di Barat untuk menganggap bahw parlementerisme di Rusia sudah usang secara politik? Tentu saja kami lebih berhak, sebab yang menjadi soal bukannya apapak parlemen-parlemen burjuis sudah lama ada atau baru saja ada, tetapi sampai beberapa jauh massa yang luas dari Rakyat pekerja telah siap (dalam ideologi, politik dan praktek) untuk menerima sistim Sovyet dan membubarkan parlemen burjuis-demokratis (atau membolehkan ia dibubarkan). Bahwa, berhubung dengan beberapa syarat khusus, klas buruh kota dan prajurit-prajurit serta kaum tani di Rusia dalam bulan September-November 1917 secara luarbiasa telah siap sedia untuk menerima sistim Sovyet dan untuk membubarkan parlemen burjuis yang bersifat paling demokratis, adalah suatu kenyataan sejarah yang tak dapat disangkal samasekali dan yang sungguh-sungguh sudah pasti. Sekalipun demikian, Kaum Bolsyewik tidak memboikot Dewan Konstituante, tetapi ikut serta dalam pemilihan-pemilihan baik sebelum  m a u p u n  s e s u d a h perubahan kekuasaan politik oleh proletariat. Bahwa pemilihan-pemilihan ini memberika hasil-hasil politik yang luar biasa berharga (dan sangat berguna bagi proletariat), saya memberanikan diri untuk mengharap bahwa ini sudah saya buktikan dalam artikel di atas, yang menganalisa dengan terperinci angka-angka dalam pemilihan-pemilihan untuk Dewan Konstituante di Rusia.

Kesimpulan yang didapat dari sini tidak dapat disangkal samasekali: telah terbukti, bahwa ikut serta dalam parlemen burjuis-demokratis bahkan beberapa minggu sebelum kemenangan republik Sovyet, dan bahkan sesudah kemenangan itu, tidak hanya tidak merugikan proletariat revolusioner, tetapi ini meringankan kemungkinan baginya untuk membuktikan kepada massa yang terbelakang mengapa parlemen-parlemen semacam itu sepatutnya harus dibubarkan; ini mempermudah pembubaran yang sudah berhasil itu, membantu membuat parlementerisme burjuis itu menjadi “usang secara politik”. Tidak memperhatikan pengalaman ini, dan bersamaan waktunya menganggap diri anggota Internasinale Komunis, yang harus menyusun taktiknya secara internasional (bukan sebagai taktik nasional yang sempit dan berat sebelah, tetapi justru sebagai taktik internasional), berarti melakukan kesalahan yang terbesar dan benar-benar mundur dari internasionalem dalam praktek meskipun mengakui dalam kata-kata.

Sekarang marilah kita tinjau alasan-alasan orang-orang “Kiri Belanda” untuk tidak ikut serta dalam parlemen. Di bawah ini adalah terjemahan teks tesis “Belanda” yang paling penting dari yang tersebut di atas, yaitu tesis No.4:

 

“Pada waktu sistim produksi kapitalis dipatahkan, dan masyarakat ada dalam keadaan revolusi, aktivitas parlementer secara berangsur-angsur menjadi hilang artinya jika dibandingan dengan aksi-aksi massa itu sendiri. Pada waktu parlemen  dalam syarat-syarat demikian menjadi pusat dan alat kontra-revolusi, sedangkan di pihak lain klas buruh sedang mendirikan alat-alat kekuasaannya dalam bentuk-bentuk Sovyet-Sovyet, maka akan dapat ternyata perlunya bahkan untuk menolak ikut serta bagaimanapun juga dalam aktivitas parlementer apapun.”

 

Kalimat yang pertama terang salah, karena aksi-aksi massa – suatu pemogokan besar, misalnya – adalah senantiasa lebih penting dari pada  aktivitas parlementer, dan tidak hanya di waktu revolusi atau dalam situasi revolusioner.  Dalil ini yang terang tidak beralasan dan yang salah menurut sejarah dan politik hanya memperlihatkan dengan terutama jelasnya bahwa pengarang-pengarangnya samasekali mengabaikan  pengalaman di eropa pada umumnya (pengalaman di Perancis sebelum revolusi-revolusi tahun 1848 dan 1870; pengalaman di Jerman pada tahun 1878-1890, dan lain-lain), maupun pengalaman di Rusia (lihat di atas) mengenai pentingnya menghubungkan perjuangan legal dengan perjuangan ilegal. Soal ini adalah sangat penting pada umumnya, dan pada khusunya, karena di semua negeri yang sudah beradab dan maju dengan cepat mendatang masanya di mana penghubungan semacam itu kian lama kian menjadi – sebagian sudah menjadi – kewajiban bagi partai proletar revolusioner  berhubung dengan mematangnya dan mendekatnya perang sipil antara proletariat dan burjuasi, berhubung dengan pengejaran yang gila terhadap kaum Komunis oleh pemerintah-pemerintah republiken dan pemerintah-pemerintah burjuis pada umumnya, yang melakukan segala perkosaan terhadap legalitas (saksikan hanya contoh di Amerika!), dan sebagainya. Soal yang terpenting ini samasekali tidak dimengerti oleh orang-orang Belanda, dan kaum Kiri pada umumnya.

Adapun kalimat yang kedua, ia, pertama, salah menurut sejarah. Kami kaum Bolsyewik ikut serta dalam parlemen-parlemen yang palin kontra-revolusioner, dan pengalaman telah menunjukkan bahwa ikut sertanya ini tidak hanya berguna, tetapi juga perlu bagi partai proletariat revolusioner justru sesudah revolusi burjuis yang pertama di Rusia (1905) untuk mempersiapkan revolusi burjuis yang kedua (Pebruari 1917), dan kemudian revolusi Sosialis (Oktober 1917). Kedua, kalimat ini tidak logis hingga mentakjubkna. Jika parlemen menjadi alat dan “pusat” (sebenarnya ia belum pernah dan tidak akan pernah dapat menjadi “pusat”, tetapi ini hanya sepintas lalu saja) kontra-revolusi, sedangkan kaum buruh sedang mendirikan alat-alat kekuasaan mereka dalam bentuk Sovyet-Sovyet, maka ini berarti kaum buruh harus mempersiapkan diri – secara iseologi, politik dan teknik – untuk perjuangan Sovyet-Sovyet melawan parlemen, untuk dibubarkannya parlemen oleh Sovyet-Sovyet. Akan tetapi hal ini samasekali tidak berarti bahwa pembubaran ini dipersulit, atau tidak dipermudah, karena adanya oposisi Sovyet di dalam parlemen kontra-revolusioner. Selama perjuangan kami yang jaya melawan Denikin dan Kolcak, kami tidak pernah menjumpai bahwa adanya oposisi  Selama perjuangan kami yang jaya melawan Denikin dan Kolcak, kami tidak pernah menjumpai bahwa adanya oposisi Sovyet, oposisi proletar dalam kubu tidak mempunyai arti bagi kemenangan-kemenangan kami. Kami tahu betul-betul bahwa pembubaran Dewan Konstituante oleh kami pada tanggal 5 Januari 1918, jauh daripada dipersulit, malah benar-benar dipermudah oleh kenyataan bahwa di dalam Dewan Konstituante kontra-revolusioner yang sedang akan  dibubarkan itu telah ada oposisi Sovyet Bolsyewik yang konsekwen, begitu juga oposisi Sovyet Sosialis-Revolusioner Kiri yang tidak konsekwen. Pengarang-pengarang tesis ini fikirannya kacau samaseklai dan melupakan pengalaman dari banyak, kalau tidak semua, revolusi, yang membuktikan betapa istimewa bergunanya di waktu revolusi kombinasi dari aksi massa di luar parlemen reksioner dengan oposisi yang bersimpati kepada (atau, lebih baik lagi, yang langsung menyokong) revolusi di dalam parlemen itu.  Orang-orang Belanda dan kaum “Kiri” umumnya, berdalil di sini seperti kaum doktriner dari revolusi, yang tidak pernah ambil bagian dalam revolusi yang sesungguhnya, atau yang tidak pernah memikirkan secara dalam sejarah revolusi-revolusi, atau yang secara naif salah mengartikan “penolakan” yang subyektif terhadap badan reaksioner yang tertentu sebagai penghancurannya yang sungguh-sungguh dengan aksi gabungan seluruh rentetan faktor-faktor obyektif. Cara paling tepat untuk merendahkan arti dan merugikan ide politik yang baru (dan tidak hanya ide politik) yalah supaya demi pembelaan ide itu membawanya ke kemustahilan. Karena sebarang kebenaran, jika “dilebih-lebihkan” ( sebagaimana dinyatakan oleh Dietzgen tua), jika dibesar-besarkan, jika direntang sampai melampaui batas penggunaannya sungguh-sungguh dapat dijadikan  suatu kemustahilan, dan ia malahan pasti menjadi suatu kemustahilan dalam syart-syarat seperti ini. Justru begitulah jasa merugikan yang diperbuat oleh kaum Kiri Belanda dan Jerman terhadap kebenaran baru bahwa kekuasaan Sovyet adalah lebih unggul daripada parlemen-parlemen burjuis-demokratis. Sudah tentu akan salahlah barang siapa yang coba berbicara secara lama dan pada umumnya bahwa menolak ikut serta dalam parleme-parlemen burjuis adalah tidak diperbolehkan dalam segala keadaan. Saya tidak akan mencoba merumuskan di sini dalam keadaan-keadaan mana suatu pemboikotan adalah berguna, karena  tujuan brosur ini adalah jauh lebih sederhana, yaitu menyimpulkan pengalaman Rusia yang bersangkutan dengan beberapa  soal yang hangat tentang taktik Komunis internasional. Pengalaman Rusia telah memberikan kepada kita satu contoh yang berhasil dan benar (1905) dan satu contoh yang salah (1906) tentang dilakukannya pemboikotan oleh kaum Bolsyewik. Dalam menganalisa contoh yang pertama, kita lihat bahwa kami berhasil dalam mencegah diadakannya  parlemen reaksioner oleh pemerintah reaksioner dalam situasi mana aksi massa yang revolusioner di luar parlemen (khususnya aksi-aksi  pemogokan) sedang meningkat dengan luar biasa cepatnya, ketika tidak ada satu lapisanpun dari proletariat dan kaum tani dapat menyokokng pemerintah reaksioner dengan jalan apapun juga, ketika proletariat revolusioner sedang menjamin pengaruhnya atas massa terbelakang yang luas melalui perjuangan pemogokan dan gerakan tani. Terang sekali bahwa pengalaman ini tidak dapat ditrapkan pada syarat-syarat di Eropa pada dewasa ini. Juga terang sekali – atas dasar argumen-argumen yang diuraikan di atas – bahwa pembelaan, sekalipun jika dengan syarat-syarat, dari orang-orang Belanda dan kaum “kiri” terhadap penolakan untuk ikut serta dalam parlemen-parlemen adalah pada dasarnya salah dan merugikan urusan proletariat revolusioner.

Di Eropa Barat dan Amerika parlemen telah menjadi sangat dibenci oleh kaum revolusioner maju dari barisan klas buruh. Ini tak terbantah. Ini sangat dapat dimengerti, karena sukarlah untuk   membayangkan sesuatu yang lebih hina, keji dan khianat daripada perbuatan kebanyakan mutlak wakil-wakil Sosialis  dan Sosialis-Demokratis dalam parlemen di waktu dan sesudah perang. Akan tetapi tidak hanya tiada masuk akal tetapi malah sungguh-sungguh suatu kejahatn untuk menyerah kepada sentimen-sentimen semacam ini di waktu memecahkan persoalan bagaimana seharusnya memberants kejahatan yang diakui umum ini. Di banyak negeri Eropa Barat semangat revolusioner, boleh kita katakan, adalah pada waktu sekarang ini suatu “yang serba baru”, atau sesuatu “yang jarang”, yang sudah lama sekali dinantikan dengan sia-sia dan dengan tidak sabar; dan mungkin itulah sebabnya mengapa mereka itu mudah sekali menyerah pada sentimen-sentimen. Sudah tentu, tanpa semangat revolusioner di kalangan massa, dan tanpa syarat-syarat yang memudahkan tumbuhnya semangat ini, maka taktik revolusioner tidak dapat menjadi aksi; tetapi kami di Rusia telah menjadi yakin, dari pengalaman yang terlalu lama, getir dan berdarah, tentang kebenaran bahwa taktik revolusioner tidak dapat didasarkan atas semangat revolusioner melulu. Taktik harus didasarkan atas perhitungan yang waras dan obyektif-teliti tentang semua kekuatan klas dari negara yang bersangkutan (dan negara-negara yang ada di sekelilingnya, serta semua negara di dunia ini) disertai juga perhitungan tentang pengalaman gerakan-gerakan revolusioner. Menunjukkan betapa “revolusionernya” seseorang hanya semata-mata  dengan melemparkan cucimakian terhadap oportunisme parlementer, hanya semata-mata dengan menolak ambil bagian dalam parlemen, adalah sangat mudah; tetapi justru karena terlalu mudah, maka ia bukanlah suatu pemecahan bagi persoalan yang sukar, paling sukar di anatar yang sukar. Adalah jauh lebih sukar untuk membentuk suatu fraksi yang benar-benar revolusioner dalam parlemen-parlemen di Eropa daripada di Rusia. Sudah barang tentu. Tetapi itu hanyalah suatu pernyataan yang khusus dari kebenaran umum bahwa adalah mudah bagi Rusia, dalam situasi yang spesifik, yang sangat unik menurut sejarah pada tahun 1917, untuk memulai revolusi Sosialis, tetapi akan lebih sukar bagi Rusia dari pada bagi negeri-negeri Eropa untuk melanjutkan revolusi itu dan menyelesaikannya sampai akhirnya. Saya pernah menunjukkan ini sudah pada permulaan tahun 1918, dan pengalaman dua tahun yang sudah lalu seluruhnya memperkuat kebenaran pendirian ini. Syarat-syarat yang spesifik, seperti 1) kemungkinan menghubungkan revolusi Sovyet dengan diakhirinya berkat revolusi ini perang imperialis yang menyiksa kaum buruh dan kaum tani dengan tak ada taranya; 2) kemungkinan mempergunakan untuk sementara waktu pertarungan mati-matian antara dua gerombolan binatang buas imperialis yang paling kuat di dunia, yang tidak dapat bersatu dalam melawan musuh Sovyet mereka; 3) kemungkinan bertahan dalam perang sipil yang agak lama, sebagian karena sangat luasnya negeri dan buruknya alat perhubungan; 4) adanya gerakan burjuis-demokratis revolusioner yang begitu medalam di kalangan kaum tani sehingga partai proletar dapat mengambil tuntutan-tuntutan yang revolusioner dari partai tani (Partai Sosialis-Revlusioner yang sebagian besar anggotanya dengan tegas memusuhi Bolsyewisme) dan melaksanakannya dengan segera, berkat perebutan kekuasaan politik oleh proletariat – syart-syarat yang spesifik ini tidak ada di Eropa Barat pada dewasa ini; dan terulangnya kembali keadaan yang demikian atau yang menyerupainya tidak akan begitu mudah. Itulah sebabnya, antara lain, kecuali beberapa sebab lainnya, maka bagi Eropa Barat untuk memulai revolusi Sosialis adalah lebih sukar dari pada bagi kami. Mencoba “menghindari” kesukaran ini dengan “melompati” pekerjaan yang sulit dalam menggunakan parlemen-parlemen yang reaksioner untuk tujuan revolusioner  adalah sungguh kekana-kanakan. Kawan-kawan ingin menciptakan masyarakat baru? Tetapi kawan-kawan takut pada kesukaran-kesukaran berkenaan dengan pembentukan fraksi parlemener yang baik, yang terdiri dari orang-orang Komunis yang berkeyakinan, setia dan heroik dalam parlemen yang reaksioner! Apakah itu bukan kekanak-kanakan? Jika Karl Leibnecht dan Z.Höglund di Swedia dapat, sekalipun tanpa sokongan dari bawah, memberikan contoh-contoh dalam menggunakan parlemen-parlemen reaksioner secara benar-benar revolusioner, mengapa partai massa revolusioner  yang tumbuh dengan cepat di tengah-tengah keadaan massa yang sangat kecewa dan yang dendam-hati sesudah perang tidak dapat menempa suatu fraksi Komunis dalam parlemen-parlemen yang paling buruk?! Justru karena massa yang terbelakang dari kaum buruh dan – malahan dalam jumlah yang lebih besar lagi – dari kaum tani kecil di Eropa Barat jauh lebih penuh diserapi oleh purbasangka-purbasangka burjuis-demokratis  dan parlementer daripada  mereka yang ada di Rusia, justru karena itu hanya dari dalam badan-badan seperti parlemen-parlemen burjuis kaum Komunis dapat (dan harus) melakukan perjuangan yang lama dan ulet, tidak mundur karena sesuatu kesukaran, untuk menelanjangi, membuang dan mengatasi purbasangka-purbasangka ini.

Kaum “Kiri” Jerman mengeluh tentang adanya “gembong-gembong” yang jelek di dalam partai mereka, dan menjadi putus asa; mereka sampai pada “penolakan” yang menggelikan terhadap “pemimpin-pemimpin. Tetapi dalam syarat-syarat, ketika sering kali menjadi perlu untuk menyembunykan “pemimpin-pemimpin” di bawah tanah, pengolahan “pemimpin-pemimpin” yang baik, yang dapat dipercaya, teruji dan berwibawa, adalah suatu hal yang istimewa sulit, dan kesulitan-kesulitan ini tidak dapat diatasi dengan berhasil tanpa menghubungkan pekerjaan legal dengan pekerjaan ilegal, dan tanpa menguji “pemimpin-pemimpin”, antara lain, juga dalam gelanggang parlementer. Kritik – dan justru kritik yang paling tajam, paling tak kenal ampun dan tak kenal kompromi – harus ditujukan bukan terhadap parlementerisme atau aktivitas-aktivitas parlemen, melainkan terhadap gembong-gembong yang tidak mampu – dan lebih-lebih lagi terhadap mereka yang tidak mau – menggunakan pemilihan-pemilihan untuk parlemen dan mimbar parlemen secara revolusioner, secara Komunis. Hanya kritik semacam itu – yang disertai, sudah tentu, dengan pemecatan gembong-gembong yang tidak sesuai dan penggantian mereka dengan pemimpin-pemimpin yang sesuai – akan merupakan pekerjaan revolusioner yang berguna dan berhasil, yang akan mendidik baik “pemimpin-pemimpin” supaya mereka menjadi pantas bagi klas buruh dan massa pekerja, maupun massa supaya massa itu menjadi pandai memahami dengan tepat situasi politik dan mengerti tugas-tugas yang kerapkali sangat banyak selukbeluknya dan ruwet yang timbul dari situasi itu.*

 

  • Kesempatan saya terlalu sedikit untuk mengetahui Komunisme “Sayap Kiri” di Italia. Kawan Bordiga dan faksinya kaum “Komunis Boikotis” (Communista astensionista) sudah tentu salah dalam mempertahankan pendirian tidak ambil bagian dalam parlemen. Tetapi mengenai satu soal, saya rasa, kawan Bodiga adalah benar – sepanjang yang bisa dilihat dari dua nomor dari suratkabarnya Sovyet (Il Soviet 36) (No. 3 dan 4, 18 Januari dan 1 Pebruari 1920), dan dari empat nomor dari majalah kawan Serrati yang sangat baik sekali, Communismo 37 (No. 1-4, 1 Oktober – 30 Nopember 1919) dan dari nomor-nomor lepas dari suratkabar-suratkabar burjuis Italia yang telah saya sempat jumpai.Kawan Bodiga dan faksinya adalah benar dalam menyerang Turati beserta orang-orang sepahamnya, yang tetap berada dalam partai yang telah mengakui kekuasaan Sovyet dan diktatur proletariat, tetap berjabat sebagai anggota-anggota parlemen dan tetap meneruskan politik  mereka dulu yang paling merugikan dan oportunis. Sudah tentu dengan bersikap toleran terhadap hal ini, kawan Serrati dan seluruh Partai Sosialis Italia 38 melakukan sutau kesalahan yang mengancam akan menimbulkan kerugian dan bahaya sebesar yang telah ditimbulkan di Hongaria 39, di mana tuan-tuan Turati Hongaria mensabot baik Partai maupun kekuatan Sovyet dari dalam. Sikap yang salah yang tidak konsekwen, atau yang lemah terhadap anggota-anggota parlemen yang oportunis semacam itu, di satu pihak, menimbulkan Komunisme “Sayap Kiri”, dan di pihak lain, sampai batas tertentu membenarkan adanya itu. Kawan Serrati terang salah waktu menuduh deputat Turati  “tidak konsekwen” (Communismo, No.3), karena sebenarnya justru Partai sosialis Italia sendiri yang tidak konsekwen dengan membiarkan anggota-anggota parlemen yang oportunis semacam Turati & Co.

 

 

 

 

 

VIII

Tidak diperbolehkan kompromi

apapun?

 

Dalam kutipan dari brosur Frankfurt kita telah lihat betapa tegasnya kaum “Kiri” mengajukan semboyan ini. Sungguh sedih melihat orang-orang yang pasti menganggap dirinya Marxis dan yang ingin menjadi Marxis sudah melupakan kebenaran-kebenaran pokok Marxisme. Inilah yang ditulis oleh Engels – yang, seperti Marx, tergolong pada penulis-penulis yang jarang dan paling jarang diketemukan, yang tiap-tiap kalimatnya dalam setiap karyanya yang besar mengandung isi yang sangat dalam – pada tahun 1874 melawan manifes dari 33 orang Komunar-Blanquis:

 

“’Kita adalah kaum Komunis’ (tulis kaum Komunar Blanquis dalam manifes mereka), sebab kita hendak mencapai tujuan kita tanpa berhenti di stasiun-stasiun perantara, tanpa mengadakan suatu kompromi, yang hanya menunda datangnya hari kemenangan dan memperpanjang masa perbudakan”.

 

Kaum Komunis Jerman adalah kaum Komunis sebab dengan melalui semua stasiun perantara dan semua kompromi, yang diciptakan bukan oleh mereka melainkan oleh jalannya perkembangan sejarah, mereka melihat dengan jelas dan tetap mengejar tujuan yang terakhir, yaitu penghapusan klas-klas dan pembangunan seuatu masyarakat di mana tidak akan ada lagi temapt untuk hakmilik perseorangan atas tanah dan atas semua alat-alat produksi. 33 orang Blanquis itu adalah kaum Komunis sebab mereka mengira bahwa sekali mereka hendak melompat melangkahi stasiun-stasiun perantara dan kompromi-kompromi, maka segala sesuatunya menjadi beres, dan bahwa jika ‘peristiwa akan mulai’  dalam beberapa hari yang akan datang – yang mereka anggap sudah semestinya – dan kekuasaan jatuh ke tangannya, maka ‘Komunisme akan sudah  dijalankan ‘ pada hari lusanya. Jadi, jika hal itu tidak mungkin dengan segera, maka mereka bukanlah kaum Komunis.

Sungguh adalah suatu kenaifan kekanak-kanakan untuk mengemukakan ketidak-sabaran sendiri sebagai suatu argumen teori!” (Fr.Engels, “Program kaum Komunis-Blanquis” 40, dari suratkabar Sosial-Demokratis Jerman Volksstaat 41, 1874, No.73, dimuat dalam terjemahan bahasa Rusia dalam “Artikel-artikel 1871-1875”, Petrograd, 1919 halaman 52-53).

Dalam artikel itu juga Engels menyatakan penghormatannya yang besar kepada Vaillant, dan membicarakan “jasa yang tak terbantah” dari Vaillant (yang, seperti Guesde, adalah seorang pemimpin yang paling terkemuka dari Sosialisme internasional sampai pada bulan Agustus 1914, yaitu sampai pada ketika mereka kedua-duanya mengkhianati Sosialisme). Tetapi Engels tidak membiarkan suatu kesalahan yang menyolok berlalu tanpa analisa yang teliti. Sudah tentu, bagi orang-orang revolusioner yang masih muda sekali dan belum berpengalaman, begitu juga bagi kaum revolusioner burjuis kecil, sekalipun yang sudah sangat tua dan sangat berpengalaman, rupanya sangat “berbahaya”, tidak bisa dimengerti dan tidak benar untuk “membolehkan kompromi-kompromi”. Dan banyak kaum sofid (karena menjadi politisi yang luar biasa atau terlalu “berpengalaman”) berfikiran presis seperti gembong-gembong oportunisme Inggeris yang disebut oleh Kawan Lansbury:”Jika kaum Bolsyewik boleh mengadakan suatu kompromi, mengapa kita tidak boleh mengadakan kompromi yang mana saja?” Tetapi kaum proletar yang dilatih dalam banyak pemogokan (untuk hanya mengambil contoh manifestasi ini dari perjuangan klas) biasanya memahami betul-betul kebenaran(filsafat, sejarah, politik dan psychologi) yang paling dalam yang dibentangkan oleh Engels. Tiap orang proletar telah menjalani pemogokan-pemogokan dan telah mengalami “kompromi-kompromi” dengan kaum penindas dan penghisap yang dibenci, di waktu kaum buruh terpaksa kembali bekerja tanpa mencapai sesuatu apapun ataupun hanya menerima dipenuhinya sebagian dari tuntutan mereka. Tiap orang proletar – berhubung keadaan-keadaan perjuangan massa dan bertambah tajamnya pertentang klas di mana ia hidup –melihat perbedaan antara kompromi yang dipaksakan oleh keadaan-keadaan obyektif (seperti kekurangan dana-dana pemogokan, tidak adanya sokongan dari luar, kelaparan dan kehabisan tenaga yang di luar batas), suatu kompromi yang sekali-kali tidak mengurangi kesetiaan dan kesediaan revolusioner untuk berjuang lebih jauh dari kaum buruh yang telah menyetujui kompromi serupa itu, dan – di lain pihak – suatu kompromi dari kaum pengkhianat yang berusaha membenarkan kerakusan sendiri dengan syarat-syarat obyektif (kaum pemecah-pemogokan juga mengadakan “kompromi”!), kekecutan, keinginannya untuk menjilat kepada kaum kapitalis, dan kelemahan hatinya untuk menyerah kepada intimidasi, kadang-kadang kepada bujukan, kadang-kadang kepada suapan, dan ada kalanya kepada mulut manis dari kaum kapitalis. (Sejarah gerakan buruh Inggeris memberikan terutama banyak contoh tentang kompromi yang khianat semacam itu dari pihak pemimpin-pemimpin serikat buruh Inggeris, tetapi dalam satu bentuk atau lainnya, hampir semua kaum buruh di semua negeri telah menyaksikan hal semacam itu).

Sudah tentu, ada satu-dua kejadian yang sangat sulit dan ruwet ketika sifat yang sesungguhnya dari “Kompromi” ini atau itu dapat ditentukan secara tepat hanya dengan mengatasi kesulitan yang sebesar-besarnya; seperti ada kalanya perkara pembunuhan yang sekali-kali tidak mudah untuk ditentukan apakah pembunuhan itu sepenuhnya adil dan malahan perlu (seperti, misalnya, pembelaan diri yang sah), atau merupakan kelalaian yang tidak boleh dimaafkan, ataupun bahkan rencana yang mencederai yang dilakukan dengan licin. Sudah tentu, dalam pilitik di mana persoalannya adakalanya mengenai hubungan-hubungan —  nasional dan internasional – yang istimewa ruwet antara klas-klas dan partai-partai, akan timbul banyak sekali kejadian yang akan jauh lebih sulit daripada soal-soal “kompromi” yang sah dalam suatu pemogokan, atau “kompromi” yang khianat dari seorang pemecah pemogokan, pemimpin yang khianat, dan sebagainya. Merumuskan suatu resep atau suatu ketentuan umum (“kompromi apapun tidak diperbolehkan”!) yang berlaku untuk semua kejadian adalah suatu kemustahilan. Orang harus mempunyai akal budi sendiri supaya menjadi pandai menelaah setiap kejadian yang khusus. Itulah, sesungguhnya, antara lain, makna suatu organisasi partai dan pemimpin-pemimpin partai yang patut mendapat sebutan demikian, supaya, melalui usaha-usaha yang lama, tabah, beranekaragam dan menyeluruh dari semua wakil yang berpikir* dari klas tertentu, mengembangkan pengetahuan yang perlu, pengalaman yang perlu dan – di samping pengetahuan dan pengalaman – naluri politik yang perlu untuk pemecahan cepat dan tepat masalah-masalah politik yang kompleks.

Orang-orang yang naif dan tidak berpengalaman samasekali mengira bahwa cukuplah untuk mengakui diperbolehkannya kompromi pada umumnya – dan dengan demikian akan dihapuskan garis pemisah manapun antara oportunisme, terhadap mana kita melakukan dan harus melakukan perjuangan yang tak kenal damai, dan Marxisme revolusioner, atau Komunisme. Tetapi orang-orang macam itu, kalau mereka belum tahu bahwa semua garis pemisah dalam alam maupun dalam masyarakat adalah luwes dan sampai batas tertentu relatif, tidak dapat dibantu kecuali dengan pengajaran, pendidikan, penerangan pikirannya, pengalaman politik dan pengalaman sehari-hari yang lama. Adalah  penting  untuk pandai memilih dari soal-soal yangpraktis dalam politik mengenai saat sejarah yang tersendiri atau yang khusus, soal-soal yang di dalamnya menyatakan diri bentuk yang paling pokok dari kompromi-kompromi yang tidak diperbolehkan, yang khianat, yang menjelmakan oportunisme yang membencanakan klas revolusioner, dan mengerahkan segala usaha untuk menjelaskan hakekatnya dan memberantasnya.  Di masa perang imperialis tahun 1914-1918 antara dua gerombolan negeri-negeri yang sama-sama merampok dan merampas, bentuk yang terutama, yang pokok dari oportunisme adalah sosial-sovinisme, yaitu sikap menyokong “pembelaan tanahair”, yang, dalam perang semacam itu, sesungguhnya sama saja dengan membela kepentingan-kepentingan perampokan dari burjuasi “sendiri”. Sesudah perang pembelaan terhadap “Liga Bangsa-Bangsa” 42 yang bersifat perampokan; pembelaan terhadap persekutuan-persekutuan yang langsung atau tidak langsung dengan burjuasi negerinya sendiri menentang proletar revolusioner dan gerakan “Sovyet”; pembelaan terhadap demokrasi burjuis dan parlementerisme burjuis menentang “kekuasaan Sovyet” – itulah yang menjadi manifestasi-manifestasi yang terutama dari kompromi-kompromi yang tidak diperbolehkan dan yang khianat, yang keseluruhannya membentuk oportnuisme yang membencanakan proletarit revolusioner dan urusannya.

“……..Orang harus menolak dengan sekeras-kerasnya semua kompromi dengan partai-partai lain ….. semua politik bermanuver dan mengadakan persetujuan-persetujuan, —

demikian tulis kaum kiri Jerman dalam brosur Frankfurt.

Sungguh mengherankan bahwa kaum Kiri ini, yang mempunyai pendirian-pendirian serupa itu, tidak mencela Bolsyewisme dengan keras! Karena bukankah tidak mungkin bahwa kaum Kiri Jerman tidak tahu bahwa seluruh sejarah Bolsyewisme, baik sebelum maupun sesudah Revolusi Oktober, adalah penuh dengan kejadian-kejadian dilakukannya manuver, persetujuan dan kompromi dengan partai-partai lain, termasuk partai burjuis.

Melakukan peperangan untuk menggulingkan burjuasi internasional, suatu peperangan yang seratus kali lebih sukar, lebih lama dan lebih banyak seluk-beluknya daripada peperangan biasa yang paling sengit antara negara-negara, dan sebelumnya sudah menolak untuk melakukan manuver untuk menggunakan pertentangan kepentingan-kepentingan  (sekalipun  hanya  buat  sementara waktu) antara

——-

  • Di dalam setiap klas, sekalipun dalam keadaan-keadaan yang berlaku di neger-negeri yang paling beradab, sekalipun di dalam klas yang paling maju, dan sekalipun jika keadaan pada waktu itu telah membangkitkan semua kekuatan spirituilnya sampai pada tingkat yang luarbiasa, selalu ada – dan pasti tetap ada selama ada klas-klas, selama masyarakat yang tidak berklas belum berakar dan mengkonsolidasi diri sepenuhnya, dan belum berkembang di atas dasar-dasarnya sendiri – wakil-wakil klas yang tidak berpikir dan tidak mampu berpikir. Jika tidak demikian halnya, maka kapitalisme sudah tidak lagi kapitalisme yang menindas massa.

 

musuh-musuhnya, menolak persetujuan dan kompromi dengan sekutu-sekutu yang mungkin (sekalipun hanya buat sementara waktu, tidak stabil, ragu-ragu dan bersyarat) – apakah ini bukannya sesuatu yang tak terhingga menggelikannya? Bukankah ini menyerupai hal  di mana melakukan pendakian yang susah pada suatu gunung yang belum diselidiki dan yang selama ini  belum bisa ditempuh, kita sebelumnya kiranya sudah menolak untuk kadang-kadang berjalan berliku-liku, kadang-kadang menempuh kembali jejak-jejak kita, kadang-kadang meninggalkan arah yang tadinya sudah dipilih, dan mencoba arah-arah lainnya? Dan nah, orang-orang yang begitu kurang sadar dan tidak berpengalaman (jika alasannya karena masih muda, maka tidak akan begitu buruk; orang-orang muda ditakdirkan oleh Tuhan sendiri untuk bicara omongkosong serupa itu selama suatu masa) dapat disokong – sama saja secara langsung atau tidak langsung, secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, sepenuhnya atau hanya sebagian-sebagian – oleh beberapa anggota partai Komunis Belanda!!

Sesudah revolusi Sosialis pertama  dari proletariat, sesudah digulingkannya burjuasi di satu negeri, proletar di negeri itu dalam waktu yang lama tetap lebih lemah daripada burjuasi, semata-mata karena hubungan-hubungan internasional yang amat luas dari burjuasi itu dan juga karena dipulihkan dan dihidupkannya kembali kapitalisme dan burjuasi secara spontan dan terus-menerus oleh produsen-produsen kecil barangdagangan di negeri yang telah menggulingkan burjuasi itu. Musuh yang lebih kuat hanya dapat dikalahkan dengan mengerahkan secara luarbiasa segala tenaga, dan tidak boleh tidak, dengan sangat sungguh-sungguh, hati-hati, teliti dan dengan bijaksana menggunakan tiap “retak”, sekalipun yang paling kecil, di kalangan musuh-musuh, tiap pertentangan kepentingan-kepentingan antara burjuasi negeri-negeri yang berlainan dan anatara grup atau jenis burjuasi yang berlainan di dalam negeri-negeri tertentu, dan juga tiap kesempatan, sekalipun yang paling kecil untuk memperoleh sekutu massal, meskipun sekutu ini hanya buat sementara waktu, ragu-ragu, tidak stabil, tidak dapat dipercaya dan bersyarat.

Siapa yang  gagal memahami ini, ia gagal memahami suatu apapun dalam Marxisme, dan Sosialisme ilmiah yang modern pada umumnya. Siapa yang belum membuktikan dengan perbuatan-perbuatan dalam masa yang cukup lama, dan dalam situasi-situasi politik yang cukup beraneka ragam, kecakapannya melaksanakan kebenaran ini dalam praktek, ia belum belajar membantu klas revolusioner dalam perjuangannya untuk membebaskan seluruh umatpekerja dari kaum penghisap. Dan hal ini berlaku juga pada masa  s e b e l u m  dan  s e s u d a h  proletariat merebut kekuasaan politik.

Teori kita bukanlah dogma, tetapi pedoman untuk bertindak, kata Marx dan Engels 43; dan adalah kesalahan yang maha besar, kejahatan yang maha besar pada pihak kaum Marxis yang sudah “ mendapat patent” seperti Karl Kautsky, Otto Bauer, dan lain-lain, bahwa mereka belum mengerti hal ini, dan tidak dapat menggunaknnya pada saat-saat yang terpenting dari revolusi proletariat. “Aktivitas politik bukalah trottoir di Jalan Raya Nevski”(Trottoir  yang bersih, lebar, rata dari jalan raya yang sangat lurus di Petersburg) – demikian pernah diucapkan oleh N.G.Cernisyevski 44, seorang  Sosialis Rusia yang besar pada masa sebelum Marx. Sejak jamannya Cernisyevski kaum revolusioner telah membayar dengan korban yang tak terhingga karena  mengabaikan atau melupakan kebenaran ini. Orang harus berhasil supaya bagaimanapun juga  mencegah kaum Komunis Kiri dan kaum revolusioner di Eropa Barat dan Amerika yang setia  pada klas buruh  membayar semahal seperti yang dilakukan oleh orang-orang Rusia, yang masih terbelakang, dalam menguasai kebenaran ini.

Sebelum jatuhnya tsar kaum Sosial-Demokrat Rusia yang revolusioner berulang-ulang menggunakan jasa-jasa kaum liberal burjuis, yaitu mengadakan banyak sekali kompromi yang praktis dengan mereka; dan dalam tahun 1901-1902, masih belum lahirnya Bolsyewisme, Dewan redaksi Iskra yang lama (yang terdiri dari Plechanov, Akselrod, Zasulitj, Martov, Potresov dan saya sendiri) mengadakan persekutuan pilitik yang formil (betul, tidak lama) dengan Struwe, pemimpin politik dari liberalisme burjuis, dan dalam pada itu juga menjadi pandai melakukan dengan tak henti-hentinya perjuangan ideologi dan politik  yang paling tak kenalampun menentang liberalisme burjuis dan menentang manifestasi yang sekecil-kecilnya dari pengaruh di dalam gerakan buruh. Kaum Bolsyewik selalu memegang teguh politik ini. Sejak tahun 1905, mereka secara sistimatis telah mempertahankan persekutuan antara klas buruh dan kaum tani menentang burjuasi liberal dan tsarisme (misalnya, di waktu pemilihan babak kedua, atau di waktu pemungutan suara sekali lagi) dan tidak pernah menghentikan perjuangan ideologi dan politik yang paling takkenaldamai menentang partai tani burjuis-revolusioner, yaitu kaum “Sosialis-Revolusioner”, dengan menelanjangi mereka sebagai kaum demokrat burjuis-kecil yang dengan palsu menamakan dirinya kaum Sosialis. Di waktu pemilihan untuk Duma dalam tahun 1907, kaum Bolsyewik untuk masa yang pendek mengadakan blok politik yang formil dengan kaum “Sosialis-Revolusioner”. Di anatar tahun 1903 dan 19012 terdapat masa-masa yang terdiri beberapa tahun di mana kami secara formil bersatu dengan kaum mensyewik dalam satu partai Sosial-Demokratis; tetapi kami tidak pernah menghentikan perjuangan  ideologi dan politik kami terhadap mereka sebagai kaum oportunis dan saluran pengaruh burjuis di kalangan proletariat. Di masa perang kami mengadakan kompromi tertentu dengan kaum “Kautskyis”, Kaum Mensyewik Kiri (Martov), dan dengan segolongan dari kaum “Sosialis-Revolusioner” (Cernov dan Natanson); kami bersidang bersama-sama dengan mereka di Zimmerwald dan Kienthal 45 dan mengeluarkan manifes-manifes bersama; tetapi kami tidak pernah menghentikan dan mengendorkan perjuangan ideologi dan politik kami terhadap kaum “Kautskyis”, Martov dan Cernov (Natanson meninggal dalam tahun 1919, seorang Narodnik-“Komunis Revolusioner” 46, dia rapatb sekali dengan kami dan hampir sependirian dengan kami). Persis pada saat itu juga dari Revolusi Oktober, kami mengadakan blok politik yang tak formil tetapi yang penting sekali (dan sangat berhasil) dengan kaum tani burjuis-kecil dengan menerima program agraria kaum Sosialis-Revolusioner dalam keseluruhannya, tanpa satu perubahanpun – yaitu kami betul-betul mengadakan kompromi supaya membuktikan kepada kaum tani bahwa kami hendak bukan “menggilas” mereka, melainkan mencapai persetujuan dengan mereka. Dalam pada itu kami mengusulkan (dan tidak lama kemudian mengadakan) satu blok politik yang formil, termasuk ikut serta dalam pemerintah, kepada kaum “eser-Kiri” 47, yang membubarkan blok ini sesudah diadakannya Perjanjian Perdamaian Brest dan kemudian, dalam bulan Juli 1918, bertindak sampai mengadakan pemberontakan bersenjata, dan sesudah itu perjuangan bersenjata melawan kami.

Oleh karena itu adalah jelas bahwa  sepakterjang-sepakterjang kaum Kiri Jerman terhadap CC Partai Komunis Jerman karena mempunyai pikiran diperbolekannya mengadakan blok dengan kaum “Merdeka” (“Partai Sosial-Demokratis Merdeka Jerman”, kaum Kautskyis) kami anggap sebagai yang tidak serius samasekali dan yang membuktikan dengan nyata kekeliruan kaum “Kiri”. Kami di Rusia juga mempunyai kaum Mensyewik Kanan (yang ikut serta dalam pemerintah Kerenski), yang sama dengan kaum Scheidemann di Jerman, dan kaum Mensyewik Kiri (Martoc), yang sama dengan kaum Kautskyis di Jerman, yang beroposisi terhadap kaum Mensyewik Kanan.  Beralihnya massa kaum buruh secara berangsur-angsur dari kaum Mensyewik ke pihak kaum Bolsyewikkelihatan dengan jelas dalam tahun 1917: pada Kongres Sovyet-Sovyet Se-Rusia Pertama, dalam bulan Juni 1917, kami hanya mempunyai 13% dari jumlah suara. Mayoritasnya dimiliki kaum Sosialis-Revolusioner dan kaum Mensyewik. Pada Kongres Sovyet-Sovyet Kedua (25 Oktober 1917 menurut pengalaman lama) kami mempunyai 51% dari jumlah suara. Apa sebabnya maka di Jerman perpindahan kaum buruh dari Kanan  ke Kiri yang serupa dan betul-betul sama itu tidak memperkuat kaum Komunis secara langsung, tetapi lebih dulu memperkuat partai “Merdeka” sebagai partai tengah, meskipun partai ini tidak pernah mempunyai ide-ide politik apapun yang bebas, atau suatu politik bebas, dan hanya terobang-ambing antara kaum Scheidemann dan kaum Komunis?

Teranglah, yang menjadi salah satu sebabnya yalah taktik yang salah dari kaum Komunis Jerman, yang harus tanpa takut-takut dan dengan jujur mengakui kesalahan ini dan belajar memperbaikinya. Kesalahannya yalah penolakan oleh mereka untuk ikut serta dalam parlemen-parlemen burjuis yang reaksioner dan dalam serikatburuh-serikatburuh yang reaksioner; kesalahannya teletak dalam banyak  sekali tanda penyakit kanak-kanak “Kiri”  yang sekarang telah muncul  dan karena itu akan diobati dengan lebih sempurna, lebih cepat dan dengan lebih banyak berfaedah bagi organisme.

“Partai Sosial-Demokratis Merdeka Jerman” terang bukanlah suatu badan yang bulat: di samping gembong-gembong oportunis yang lama (Kautsky, Hilferding dan, kiranya, sampai ukuran yang berarti, juga Crispien, Ledebour dan lain-lainnya) – yang telah mendemonstrasikan ketidakmampuan mereka untuk memahami arti kekuasaan Sovyet dan diktatur proletariat, ketidakmampuan mereka untuk memimpin perjuangan revolusioner dari proletariat – dalam partai ini telah muncul sayap Kiri, sayap proletar yang tumbuh dengan sangat cepatnya. Ratusan ribu anggota partai ini (yang, rupanya, mempunyai kira-kira ¾ juta orang anggota) adalah kaum proletar yang sedang meninggalkan Scheidemann dan dengan cepat menuju Komunisme. Sayap proletar ini telah mengusulkan – pada Kongres kaum “Merdeka” di Leipzig (1919) – penggabungan diri dengan segera dan tak bersyarat pada Internasionale III. Takut “berkompromi” dengan sayap ini dari partai tersebut adalah sungguh menggelikan. Sebaliknya, adalah menjadi kewajiban bagi kaum Komunis untuk mencari dan mendapatkan bentuk kompromi yang cocok dengan mereka, suatu kompromi yang, di satu pihak, akan mempermudah dan mempercepat fusi sepenuhnya yang harus dengan sayap ini dan, di pihak lain, yang sekali-kali tidak membatasi kaum Komunis dalam perjuangan ideologi dan politik mereka  melawan sayap kanan yang oportunis dari kaum “Merdeka”. Mungkin tidak akan mudah mencari bentuk kompromi yang cocok – akan tetapi hanya tukang jual obat palsu sajalah yang dapat menjanjikan kepada kaum buruh Jerman dan kaum Komunis Jerman suatu jalan yang “ringan” menuju kemenangan.

Kapitalisme tidak menjadi kapitalisme lagi jika proletariat “murni” tidak dikelilingi oleh tipe-tipe peralihan yang sangat beranekaragam dan banyak sekali jumlahnya antara kaum proletar dan setengah-proletar (mereka yang mencari penghidupannya sebagian dengan menjual tenaga kerjanya), kaum setengah-proletar dan petani-kecil (dan tukang-kecil, pekerjatangan dan majikan-kecil pada umumnya), petani-kecil dan petani-sedang, dan sebagainya, dan jika di dalam proletariat itu sendiri tidak terdapat perbedaan menurut lapisan-lapisan yang lebih maju dan yang kurang maju, menurut asal daerah, pekerjaan, kadang-kadang menurut agama, dan sebagainya. Dan dari semua ini timbullah keharusan yang mutlak, bagi pelopor proletariat, bagi golongannya yang berkesadaran-klas, bagi Partai Komunis, untuk melakukan manuver-manuver, mencapai persetujuan-persetujuan dan mengadakan kompromi-kompromi dengan berbagai grup kaum proletar, dengan berbagai partai kaum buruh dan majikan-majikan kecil. Seluruh persoalannya yalah menjadi pandai menggunakan taktik ini dengan maksud meninggikan, dan bukan menurunkan, taraf umum kesadaran klas proletar, jiwa revolusioner dan kesanggupannya untuk berjuang dan mencapai kemenangan. Antara lain, perlu dicatat bahwa kemenangan kaum Bolsyewik atas kaum Mensyewik menghendaki dijalankannya taktik manuver-manuver, persetujuan-persetujuan dan kompromi-kompromi tidak hanya sebelum tetapi juga sesudah Revolusi Oktober tahun 1917, tetapi, sudah tentu, manuver-manuver dan kompromi-kompromi yang akan membantu, mempercepat, mengkonsolidasi dan memperkuat kaum Bolsyewik atas kerugian kaum Mensyewik. Kaum demokrat burjuis-kecil (termasuk kaum Mensyewik) pasti bimbang anatar burjuasi dan proletariat, antara demokrasi burjuis dan sistim Sovyet, antara reformisme dan revolusionerisme, antara cinta pada kaum buruh dan ketakutan pada diktatur proletar, dan sebagainya. Taktik yang tepat bagi kaum Komunis harus terletak dalam menggunakan kebimbangan-kebimbangan ini, jangan mengabaikannya; dan menggunakan kebimbangan-kebimbangan itu menghendaki pemberian konsesi-konsesi pada elemen-elemen yang condong kepada proletariat – kapan saja dan sampai sejauh mereka  condong kepada proletariat – di samping menentang mereka yang condong kepada burjuasi. Sebagai akibat penggunaan taktik yang tepat itu Mensyewisme kian hari kian berantakan, dan tetap berantakan di negeri kami, gembong-gembong oportunis yang kepala-batusemakin terisolasi, dan kaum buruh yang terbaik dan elemen-elemen yang terbaik di kalangan kaum demokrat burjuis-kecil semakin ditarik ke dalam kubu kami. Ini adalah suatu proses yang lama, dan “putusan” yang terburu-buru – “kompromi-kompromi apapun dan manuver apapun tidak diperbolehkan” – hanya bisa merugikan pekerjaan dalam memperkuat pengaruh proletariat revolusioner dan memperbesar kekuatannya.

Akhirnya, salah satu kesalahan yang pasti dari kaum “Kiri” di Jerman yalah desakannya yang berkepala-batu untuk tidak mengakui perdamaian Versailles 48. Semakin pandangan ini dirumuskan dengan “dalam-dalam” dan “hebat”. Dengan “tegas” dan keras oleh K.Horner, misalnya, semakin  bodoh kelihatannya usahanya itu. Dalam keadaan-keadaan revolusi proletar internasional seperti sekarang ini, tidaklah cukup hanya menolak ketololan-ketololan yang gila tentang “Bolsyewisme Nasional” (Laufenberg dan lain-lainnya), yang telah berbicara sampai-sampai menganjurkan mengadakan blok dengan burjuasi Jerman untuk berperang melawan Entente. Orang harus menginsyafi bahwa taktik tidak diperbolehkannya bagi Jerman Sovyet (jika republik Jerman Sovyet segera akan lahir) keharusan mengakui Perdamaian Versailles untuk waktu tertentu dan tunduk kepadanya adalah salah sampai keakar-akarnya. Itu tidak berkesimpulan bahwa kaum “Merdeka” – pada waktu ketika kaum Scheidemann duduk dalam pemerintah, ketika pemerintah Sovyet di Hongaria belum digulingkan, dan ketika belum tertutup kemungkinan bahwa suatu revolusi Sovyet di Wina akan menyokong Hongaria Sovyet – adalah benar, waktu mereka dalam keadaan-keadaan seperti itu, mengajukan tuntutan supaya Perdamaian Versailles ditanda tangani. Pada waktu itu kaum “Merdeka” berbelok-belok dan bermanuver dengan sangat kaku, karena mereka sedikit atau banyak menerima pertanggunganjawab atas pengkhianat-pengkhianat macam Scheidemann dan sedikit atau banyak merosot dari pendirian perang klas yang takenalampun (dan paling berkepala dingin) melawan kaum Scheidemann sampai pada pendirian “tak berklas” atau “di atas klas”.

Akan tetapi keadaan sekarang adalah terang demikian rupa sehingga kaum Komunis Jerman tidak boleh mengikatkan tangannya dan berjanji dengan pasti dan dengan tegas akan menolak Perdamaian Versailles jika Komunisme menang. Itu adalah bodoh. Mereka harus mengatakan: Kaum Scheidemann dan kaum Kautskyis telah melakukan serentetan tindakan pengkhianatan yang mempersukar (dan sebagian langsung merusak) urusan persekutuan dengan Rusia Sovyet dan Hongaria Sovyet. Kita kaum Komunis, dengan segala jalan akan berusaha mempermudah dan mempersiapkan persekutuan demikian itu; dan dalam pada itu kita seklai-kali tidak diharuskan untuk pasti menolak Perdamaian Versailles , dan, di samping itu, dengan segera. Kemungkinan menolaknya dengan berhasil tidak hanya tergantung pada Jerman saja, tetapi juga pada sukses-sukses gerakan Sovyet internasional. Kaum Scheidemann dan kaum Kautskyis merintangi gerakan ini; kita membantunya. Itulah hakekat persoalan, di situlah letak perbedaan yang radikal. Dan jika musuh-musuh klas kita, kaum penghisap dan budak-budak mereka, kaum Scheidemann dan kaum Kautskyis, telah menyia-nyiakan banyak kesempatan untuk memperkuat gerakan Sovyet Jerman maupun gerakan Sovyet internasional, untuk memperkuat revolusi Sovyet di Jerman akan memperkuat gerakan Sovyet internasional yang merupakan benteng yang terkuat (dan satu-satunya benteng yang terpercaya, tak terkalahkan dan yang perkasa secara sedunia). Dalam melawan Perdamaian Versailles, melawan imperialisme internasional pada umumnya. Mendahulukan dengan mutlak, dengan tegas dan dengan segera soal pembebasan dari Perdamaian Versailles, daripada soal pembebasan negeri-negeri lain yang ditindas oleh imperialisme dari kungkungan imperialisme, adalah merupakan nasionalisme filistin (layak bagi Kautsky, Hilferding, Otto Bauer & Co.) dan bukan internasionalisme revolsuioner. Penggulingan burjuasi di sesutau negeri besar di Eropa, termasuk Jerman, akan merupakan suatu keuntungan yang begitu besar bagi revolusi internasional sehingga demi kepentingannya orang dapat, dan wajib, jika itu perlu, membiarkan adanya Perdamaian Versailles lebih lama lagi. Jika Rusia sendirian, demi keuntungan revolusi, dapat menahankan adanya  Perdamaian Brest selama beberapa bulan, maka samasekali bukanlah tidak mungkin bahwa  Jerman Sovyet, yang bersekutu dengan Rusia Sovyet, demi keuntungan revolusi, akan menahankan adanya Perdamaian Versailles untuk masa yang lebih lama lahi.

Kum imperilais Pernacis, Inggeris, dan lain-lainnya, sedang memprovokasi kaum Komunis Jerman dan memasang perangkap bagi mereka: “Katakanlah bahwa kalian tidak mau menandatangani Perdamaian Versailles”. Dan kaum Komunis Kiri daripada dengan bijaksana melakukan manuver terhadap musuh yang cerdik dan yang, pada waktu sekarang ini, lebih kuat, daripada mengatakan kepadanya: “Sekarang kami akan menantangani Perdamaian Versailles”, mereka seperti anak-anak jatuh ke dalam perangkap yang dipasang bagi mereka itu. Sudah lebih dulu mengikat tangan kita, dengan terang-terangan mengatakan kepada musuh yang pada waktu  sekarang ini lebih baik persenjataannya dari pada kita, apakah kita akan melawan dia, dan kapan, adalah suatu kebodohan dan bukan revolusionerisme. Menyetujui pertempuran pada waktu kita terang ia menguntungkan musuh dan tidak menguntungkan kita adalah suatu kejahatan; dan poltikus-politkus klas revolusioner yang tidak mampu berhasil “berbelok-belok, melakukan manuver, dan berkompromi” supaya dapat menghindari sutau pertempuran yang terang tidak menguntungkan, adalah tidak berguna samasekali.

 

 

IX

Komunisme “Sayap Kiri”

Di Inggeris.

Di Inggeris belum ada Partai Komunis, tetapi di sana ada gerakan Komunis segar, luas, perkasa dan tumbuh dengan cepat di kalangan kaum buruh, yang memberi alasan bagi harapan-harapan yang sangat gemilan; ada beberapa partai dan organisasi poltik (“Partai Sosialis Inggeris” 49 “Partai Buruh Sosialis”, “Federasi Buruh Sosialis”50) yang ingin membentuk Partai Komunis dan sudah mengadakan perundingan di anatar mereka sendiri untuk tujuan ini. Workers’ Dreadnought 51, majalah mingguan dari Federasi Buruh Sosialis, dalam penerbitannya (21 Februari 1920, jilid VI No. 48) memuat suatu artikel dari redakturnya, Kawan Sylvia Pankhurst: “Menuju Partai Komunis”. Artikel ini menggambarkan jalannya perundingan-perundingan antara empat organisasi tersebut tentang pembentukan suatu Partai Komunis yang bersatu, atas dasar penggabungan pada Internasionale III, pengakuan terhadapsistim Sovyet sebagai ganti parlementerisme, dan pengakuan diktatur proletariat. Ternya yang menjadi salah satu rintangan yang pokok untuk pembentukan suatu Partai Komunis yang bersatu dengan segera yalah perselisihan pendapat mengenai soal ambil bagian dalam parlemen dan mengenai soal apakah Partai Komunis yang baru itu harus menggabungkan diri pada “Partai Buruh” yang lama, yang bersifat serikatburuh, yang oportunis dan sosial-sovinis, dan yang pada pokoknya terdiri dari serikatburuh-serikatburuh. “Federasi Buruh Sosialis”* menentang ambil bagian dalam pemilihan-pemilihan untuk parlemen dan dalam parlemen, menentang penggabungan pada “Partai Buruh”, dan mengenai ini mereka berselisih pendapat dengan semua, atau dengan jumlah yang terbanyak dari anggota Partai Sosialis Inggeris yang mereka anggap sebagai “Sayap Kanan dari Partai-Partai Komunis” di Inggeris (halaman 5, artikel Sylvia Pankhurst tersebut).

Mengenai soal ambil bagian dalam parlemen, Kawan Sylvia Pankhurst menunjukkan suatu artikel dalam nomor itu juga dari Kawan W.Galacher, yang menulis atas nama “Dewan Buruh Skotland” di Glasgow:

“Dewan ini”, ia tulis, “adalah tegas anti parlementer, dan di belakangnya berdiri sayap Kiri dari berbagai organisasi politik. Kita mewakili gerakan revolusioner di Skotland, yang berikhtiar mendirikan oraganisasi revolusioner di dalam industri (dalam berbagai cabang industri) dan suatu Partai Komunis, yang bersendikan komite-komite sosial di seluruh negeri (Inggeris). Dalam waktu yang lama sekali kita telah bersengketa dengan pembela-pembela parlemen yang resmi. Kita menganggap tidak perlu menyatakan perang yang terang-teranganterhadap mereka, dan mereka takut untuk memulai serangan terhadap kita.

Tetapi keadaan yang begini tidak dapat berlaku lama. Kita sedang menang di seluruh garis pertempuran.

Anggota-anggota biasa dari Partai Buruh Merdeka di Skotland makin lama makin merasa jijik terhadap pikiran tentrang parlemen, dan Sovyet-Sovyet (di sini dipakai pertakataan Rusia yang ditulis menurut ejaan Inggeris) atau dean-dewan buruh disokong oleh hampir tiap-tiap cabang setempat. Ini sudah tentu sangat menggelisahkan bagi tuan-tuan yang memandang politik sebagai mata pencaharian (vak), dan merasa menggunakan setiap dan segala jalan untuk meyakinkan anggota-anggota mereka  supaya kembali ke pangkuan parlementerisme. Kawan-kawan yang revolusioner   tidak boleh (semua huruf miring dari penulis)

 

  • Rupanya Partai ini menentang penggabungan pada “Partai Buruh” tetapi tidak semua anggotanya menentang untuk ambil bagian dalam parlemen.

 

 

menyokong gerombolan-gerombolan ini. Di sini perjuangan kita akan sangat sulit. Salah satu seginya yang paling jelek yalah pengkhianatan dari mereka bagi siapa kepentingan-kepentingan pribadinya adalah pendorong-pendorong yang lebih kuat daripada minat mereka akan revolusi. Setiap sokongan terhadap parlementerisme hanyalah berarti membantu menempatkan kekuasaan ke dalam tangan kaum Scheidemann  dan Noske Inggeris.  Henderson, Clynes & Co. adalah reaksioner secara taktertolong lagi. Partai Buruh Merdeka yang resmi semakin lama semakin di bawah kekuasaan kaum Liberal burjuis, yang telah mendapatkan tempat perlindungan rokhani mereka dalam kubu tuan-tuan MacDonald, Snowden & Co.  Partai Buruh merdeka yang resmi keras bermusuhan dengan Internasionale III, sedangkan massanya menyokong Internasionale III. Memberi bantuan apapun kepada  kaum parlemeter yang oportunis hanyalah berarti memberi keuntungan kepada tuan-tuan tersebut. Partai Sosialis Inggeris dalam hal ini tidak ada artinya samasekali ……. Di sini diperlukan organisasi produksi (industri) revolusioner yang sehat, dan suatu Partai Komunis yang bekerja  menurut dasar-dasar yang terang ditentukan tepat dan ilmiah. Jika kawan-kawan kita dapat membantu  kita dalam mendirikan kedua-duanya kita akan menerima bantuan mereka dengan senang hati; jika mereka tidak dapat, demi Allah, biarkanlah mereka tidak campurtangan samasekali, jika mereka tidak mau mengkhianati Revolusi dengan memberikan bantuan kepada kaum reaksioner, yang begitu bernafsu mencari  “kehormatan-kehormatan”(?) (tandatanya dari penulis) menjadi anggota parlemen dan  yang begitu ingin membuktikan bahwa mereka bisa memerintah sama efektifnya seperti “majikan” itu sendiri, ahli-ahli politik klas”

 

Surat kepada redaksi ini, hemat saya, sangat gemilang menyatakan  semangat dan pendirian kaum Komunis muda, atau buruh biasa yang baru saja mendekati Komunisme. Semangat ini adalah sangat menggembirakan dan berharga; orang harus pandai menghargai dan menyokongnya, karena tanpa itu akan  sia-sialah mengharapkan kemenangan revolusi proletar di Inggeris, dan juga di sebarang negeri lainnya. Orang-orang yang dapat menyatakan semangat massa ini, yang dapat membangkitkan semangat macam itu (yang sering sekali ngantuk, tidak disadarkan dan tidak dibangkitkan) di kalangan massa, harus dipelihara dan segala bantuan harus diberikan kepada mereka. Dan dalam pada itu kita harus dengan terang-terangan dan jujur mengatakan kepada mereka bahwa semangat saja tidaklah cukup untuk memimpin massa dalam perjuangan revolusioner yang besar, dan bahwa kesalahan-kesalahan semacam ini dan semacam itu yang akan dilakukan, atau sedang dilakukan oleh penganut-penganut yang paling setia pada cita-cita revolusi, dapat merugikan kepentingan revolusi. Surat kawan Gallacher tak disangsikan lagi memperlihatkan benih-benih dari semua kesalahan yang sedang dilakukan oleh kaum Komunis “Kiri” Jerman dan yang telah dilakukan oleh kaum Bolsjewik “Kiri” Rusia dalam tanhun 1908 dan 1918.

Penulis surat itu jiwanya penuh kebencian proletar yang mulia terhadap “ahli-ahli” politik klas burjuis (kebencian yang tidak hanya dimengerti dan dirasakan  oleh kaum proletar tetapi juga oleh semua Rakyat pekerja, semua “orang-orang kecil”, menurut istilah Jerman). Kebencian dari wakil massa yang tertindas dan terhisap ini adalah sesungguhnya “permulaan dari sebarang kebijaksanaan”, dasar dari sebarang gerakan Sosialis dan Komunis dan dari sukses-suksesnya. Tetapi penulis itu rupanya tidak mengindahkan bahwa politik adalah ilmu dan seni, yang tidak jatuh dari langit, tidak didapat dengan gratis, dan bahwa proletariat, jika ia hendak mengalahkan burjuasi, harus mengolah “ahli-ahli politik klas” proletarnya sendiri, dan dengan mutu yang tidak kalah dibanding dengan ahli-ahli politik burjuis.

Penulis surat tersebut mengerti dengan sangat baik bahwa hanya Sovyet-Sovyet buruh, dan bukan parlemen, yang dapat menjadi alat pencapaian tujuan proletariat,dan sudah tentu, mereka yang sampai sekarang gagal memahami ini adalah kaum reaksioner berurat berakar, sekalipun mereka itu orang-orang yang paling terpelajar tinggi, ahli-ahli politik yang paling berpengalaman, kaum Sosialis yang paling tulus ikhlas, kaum Marxis yang paling terpelajar, warganegara-warganegara dan kepala keluarga yang paling jujur. Akan tetapi penulis surat itu bahkan tidak mengemukakan persoalan, tidak memikir-mikirkan tentang keharusan mengajukan persoalan, apakah mungkin untuk mencapai kemenangan Sovyet atas parlemen tanpa memasukkan ahli-ahli politik “Sovyet” ke dalam parlemen? Tanpa menggerowoti parlemeterisme dari dalam? Tanpa bekerja di dalam parlemen untuk mempersiapkan kemenangan Sovyet dalam menunaikan tugasnya yang akan datang yaitu membubarkan parlemen? Sekalipun demikian penulis surat itu menyatakan pikiran yang samasekali bernar bahwa Partai Komunis di Inggeris harus bertindak menurut prinsip-prinsip yang berdasarkan ilmu. Ilmu menuntut, pertama, supaya pengalaman negeri-negeri lain dipertimbangkan, terutama sekali jika negeri-negeri lain ini, juga negeri-negeri kapitalis, sedang mengalami, atau baru saja mengalami pengalaman yang serupa betul; kedua, ia menuntut supaya diperhitungkan semua kekuatan golongan, partai, klas dan massa yang berlaku di dalam negeri tertentu, dan bukanlah supaya politik ditentukan hanya menurut keinginan-keinginan dan pendirian-pendirian, menurut tingkat kesadaran klas dan kesediaan berjuang dari hanya satu golongan atau partai.

Bahwa kaum Henderson, Clynes, MacDonald dan Snowden adalah reaksioner tak berpengharapan, itu benar. Benar juga bahwa mereka ingin mengambil kekuasaan dalam tangan mereka sendiri (sekalipun mereka lebih menyukai suatu koalisi dengan burjuis) , bahwa mereka ingin “memerintah” menurut garis-garis burjuis yang lama, dan bahwa jika mereka benar-benar memperoleh kekuasaan, mereka pasti akan bertindak seperti kaum Scheidemann dan Noske. Semua itu betul. Tetapi halini samasekali tidak berarti bahwa menyokong mereka adalah suatu pengkhianatan terhadap revolusi, melainkan bahwa untuk kepentingan-kepentingan revolusi kaum revolusioner dari klas buruh harus memberikan sesuatu sokongan parlementer kepada tuan-tuan ini. Untuk menerangkan pikiran ini saja  akan mengambil dua dokumen politik Inggeris dari masa sekarang ini: 1)pidato yang diucapkan oleh Perdana Menteri, Lloyd George, pada tanggal 18 Maret 1920 (menurut uraian Manchester Guardian 52 tanggal 19 Maret 1920) dan 2) argumen-argumen seorang Komunis “Kiri”, Kawan Sylvia Pankhurst, dalam artikel tersebut di atas.

Lloyd George dalam pidatonya telah berpolemik Asquith (yang spesial diundang ke rapat ini tetapi tidak mau hadir) dan dengan kaum Liberal yang menghendaki bukan koalisi dengan kaum konservatif, tetapi hubungan-hubungan yang lebih rapat dengan Partai Buruh (Kawan Gallacher dalam suratnya juga menunjukkan kenyataan bahwa kaum Liberal pindah ke pihak Partai Buruh Merdeka). Lloyd George membuktikan bahwa suatu koalisi, apalagi koalisi yang erat, di antara kaum Liberal dan kaum Konservatif adalah penting sekali, kalau tidak, ada kemungkinan menang bagi Partai Buruh, yang Lloyd George, “lebih suka menyebutnya” sebagai Sosialis dan yang berjuang untuk “hak milik bersama” atas alat-alat produksi.  “Di Perancis ini disebut Komunisme”, — demikian kata pemimpin burjuis Inggeris itu dengan menerangkannya secara populer kepada pendengar-pendengarnya, yaitu anggota-anggota partai Liberal dalam Parlemen, yang barangkali belum mengetahuinya sebelumnya – “di Jerman ini telah disebut Sosialisme, dan di Rusia disebut Bolsyewisme”. Bagi kaum Liberal hal ini secara prinsipiil tidak dapat diterima, demikian diterangkan Lloyd George, sebab pada prinsipnya mereka mempertahankan hak milik perseorangan. “Peradaban dalam bahaya”, kata pembicara itu dan oleh karena itu, kaum Liberal dan kaum Konservatif harus bersatu…….

 

“…….. Jika tuan-tuan pergi ke daerah-daerah penggarapan tanah”, kata Lloyd George, “saya setuju bahwa tuan-tuan akan menemui di sana pembagian  partai yang lama tetap sebagai semula. Mereka itu jauh dari bahaya. Di sana tidak ada bahaya. Tetapi jika daerah-daerah pedesaan itu bergerak, maka bahaya di sana akan menjadi sebesar seperti di beberapa daerah industri sekarang ini. Empatperlima dari negeri kita ini adalah daerah industri dan perdagangan; tidak sampai seperlimanya adalah dearah penggarapan tanah. Ini adalah salah satu hal  yang selalu saya ingat apabila saya memikirkan bahaya-bahaya yang didatangkan pada kita oleh masa kelak. Di Perancis penduduknya adalah tani, dan di sana orang mempunyai cara berpikir yang teguh yang tidak bergerak sangat cepat, dan yang tidak sangat mudah dibangkitkan oleh gerakan-gerakan revolusioner. Tidak demikian halnya di negeri kita. Negeri ini lebih berat di atas daripada negeri manapun juga di dunia ini, dan bila ia mulai goyah, maka keruntuhannya di sini, karena alasan yang ditujukkan di atas, akan lebih hebat daripada di negeri manapun juga”.

 

Dari sini pembaca dapat melihat bahwa tuan lloyd George bukanlah hanya seorang yang sangat pintar, tetapi bahwa dia juga telah banyak belajar dari kaum Marxis. Tidaklah berdosa bagi kita untuk belajar sesuatu dari Lloyd George.

Adalah menarik hati juga untuk mengikuti episode di bawah ini yang terjadi di dalam diskusi sesudah pidato Lloyd george:

 

“T  u  a n   W  a  l  l  a  c  e: Saya kira ingin bertanya bagaimana pendapat Perdana Menteri tentang hasil politiknya di daerah-daerah industri terhadap kaum buruh industri yang di antara mereka banyak sekali kaum Liberal pada dewasa ini dan dari siapa kita sebegitu banyak mendapat bantuan. Apakah akibatnya tidak mungkin menyebabkan akan sangat sekali bertambah besarnya kekuatan Partai Buruh dengan orang-orang buruh yang kini merupakan penyokong-penyokong kita yang tulus ikhlas?

“P e r d a n a   M e n t e r i : Saya mempunyai pandangan yang samasekali berlainan. Kenyataan bahwa kaum Liberal saling cakar-cakaran di antara mereka sendiri tak teragukan mendorong sejumlah kaum Liberal karena putus asa ke Partai Buruh, di mana terdapat sejumlah yang berarti dari kaum Liberal, orang-orang yang sangat cakap, yang pekerjaannya sekarang yalah menodai martabat Pemerintah. Akibatnya  tidak bisa diragukan lagi yalah bertambah besarnya sentimen umum yang baik kepada Partai Buruh. Sentimen umum itu tidak lari kepada kaum Liberal yang ada di luar Partai Buruh, tetapi ia lari kepada Partai Buruh, pemilihan-pemilihan tambahan menunjukkan hal itu”.

 

Bisa dikatakan sepintas lalu, bahwa argumen ini terutama sekali memperlihatkan betapa telah kusut pikiran orang-orang yang terpintar sekalipun dari burjuasi dan  betapa mereka tidak  dapat lain daripada membuat kebodohan-kebodohan yang tidak bisa diperbaiki. Hal ini sebenarnya akan menyebabkan keruntuhan burjuasi. Akan tetapi orang-orang kita dapat membuat kebodohan-kebodohan (aslakna, sudah tentu, kebodohan-kebodhan itu tidak begitu besar dan diperbaiki pada waktunya), sekalipun demikian pada akhirnya tampil sebagai pemenang.

Dokumen politik yang kedua adalah argumen-argumen di bawah ini yang dikemukakan oleh seorang Komunis “Kiri”, kawan Sylvia Pankhurst:

 

“……Kawan Inkpin (Sekretaris Jendral Partai Sosialis Inggeris) Menyebut Partai Buruh sebagai ‘organisasi yang pokok dari gerakan kals buruh’, Kawan lain dari Partai Sosialis Inggeris, pada Konferensi Internasionale III, menyatakan pendirian Partai Sosialis Inggeris:’Kita pandang Partai Buruh sebagai klas buruh yang terorganisasi”.

Kita tidak menyetujui anggapan demikian terhadap Partai Buruh. Partai Buruh adalah besar dalam jumlah keanggotaannya, sekalipun  anggota-anggotanya dalam bagian bearti adalah pasif dan apatis, adalah orang-orang laki-laki dan perempuan  yang telah menggabungkan diri dalam serikatburuh-serikatburuh karena kawan-kawan sepekerjaannya adalah angota-anggota serikatburuh, dan karena mau mendapatkan tunjangan.

Tetapi kita mengakui bahwa besarnya jumlah anggota Partai Buruh adalah juga berhubung dengan kenyataan bahwa ia  adalah ciptaan aliran pikiran yang batasnya belum mampu dilewati oleh jumlah terbanyak orang dari kals buruh Inggeris, sungguhpun perubahan-perubahan besar sedang terjadi dalam pikiran Rakyat yang tidak lama lagi akan mengubah keadaan ini ……….”

“…. Partai Buruh Inggeris, seperti organisasi-organisasi sosial patriotik di negeri-negeri lain,  menurut perkembangan masyarakat yang sewajarnya, pasti akan memperoleh kekuasaan. Terletak pada Komunislah untuk membangun kekuatan-kekuatan yang akan menggulingkan kaum patriot-sosial, dan di negeri ini kita tidak boleh menunda atau ragu-ragu dalam pekerjaan itu.

Kita tidak boleh membuang-buang enersi kita dengan menambah kekuatan Partai Buruh; akan berkuasanya Partai Buruh tidak dapat dielekkan. Kita harus memusatkan tenaga untuk membikin gerakan Komunis yang akan mengalahkan Partai Buruh. Partai Buruh tidak lama lagi akan membentuk suatu pemerintah; oposisi revolusioner harus siap-sedia menyerangnya…….”

 

Jadi burjuasi leberal sedang meninggalkan sistim “dua partai” (dari kaum penghisap) yang bersejarah, yang telah dibikin menjadi keramat  oleh pengalaman yang berabad-abad lamanya dan yang luarbiasa menguntungkan kaum penghisap, dan menganggap perlu untuk mempersatukan kekuatan mereka guna melawan Partai Buruh. Sejumlah kaum Liberal menyeberang ke Partai Buruh seperti tikus-tikus yang meninggalkan kapal yang sedang tenggelam.. Kaum Komunis Kiri mengira bahwa pindahkan kekuasaan ke tangan Partai Buruh adalah tak terhindarkan dan mengakui bahwa pada dewasa ini ia diikuti oleh jumlah terbanyak kaum buruh. Dari sini mereka menarik kesimpulan yang aneh yang dirumuskan oleh Kawan Sylvia Pankhurst, sebagai berikut:

 

“Partai Komunis tidak boleh mengadakan kompromi-kompromi ……Partai Komunis harus tetap menjaga kemurnia  doktrinnya, dan kebebasannya dari reformisme tetap tidak ternoda; misinya yalah melangkah maju, tanpa berhenti atau membelok, menurut jalan yang langsung menuju revolusi Komunisme”.

 

Sebalinya, kenyataan bahwa jumlah terbanyak kaum buruh di Inggeris masih mengikut kaum Kerenski atau kaum Scheidemann Inggeris dan belum mempunyai pengalaman tentang pemerintah yang terdiri dari orang-orang ini, pengalaman mana dibutuhkan di Rusia dan Jerman untuk menjamin perpindahan kaum buruh secara besar-besaran ke Komunisme, maka berartilah dengan tiada reagu-ragu lagi bahwa kaum Komunis Inggeris harus ambil bagian dalam parlementerisme, harus dari dalam parlemen membantu massa kaum buruh untuk melihat hasil-hasil pemerintah Henderson dan Snowden dalam praktek, harus membantu kaum Henderson dan Snowden mengalahkan gabungan kekuatan dari Lloyd George dan Churchill. Bertindak lain berarti mempersulit jalannya revolusi; karena revolusi tidaklah mungkin tanpa suatu perobahan dalam pandangan mayoritas orang dari klas buruh, dan perubahan ini ditimbulkan oleh pengalaman politik massa, dan tidak pernah oleh propaganda melulu. “Maju terus tanpa mengadakan kompromi-kompromi, tanpa membelok dari jalan” – kalau hal ini dikatakan oleh sejumlah kecil kaum buruh yang terang tidak berdaya, yang taau (atau biar bagaimanapun juga mesti tahu) bahwa jika Henderson dan Snowden memperoleh kemenangan atas Lloyg George dan Churchill, golongan terbanyak dalam tempo yang pendek  akan menjadi kecewa kepada pemimpin-pemimpin mereka dan akan mulai menyokong Komunisme (atau setidak-tidaknya akan mengambil sikap netral, dan sebagian besar kenetralan yang bermaksud baik terhadap kaum Komunis) maka semboyan ini terang salah. Hal ini persis seperti 10.000 serdadu menyerbukan diri dalam pertempuran melawan 50.000 serdadu musuh pada hal semestinya “berhenti”, “membelok”, bahkan mengadakan suatu “kompromi” asal saja memperoleh waktu sampai tibanya 100.000 tentara baru yang sedang tidak sanggup beraksi dengan segera. Itu adalah sifat kekanak-kanakan dari kaum intelek dan bukan tatktik yang sungguh-sungguh dari klas revolusioner.

Hukum pokok revolusi, yang telah diperkuat kebenarannya oleh semua revolusi, dan khusunya oleh ketiga-tiga revolusi Rusia dalam abad XX, adalah sebagai berikut: tidaklah cukup untuk revolusi bahwa massa yang terhisap dan tertindas sudah menyadari akan tidak munginnya hidup menurut cara lama dan menuntut perubahan-perubahan; untuk revolusi adalah perlu sekali supaya penghisap sudah tidak dapat hidup dan berkuasa menurut cara lama.  Hanya apabila “yang di bawahtidak menghendaki yang lama, dan apabila “yang di atastidak dapat bertindak menurut cara lama – barulah revolusi dapat menang. Dengan kata-kata lain kebenaran ini dinyatakan sebagai berikut: revolusi tidaklah mungkin tanpa krisis yang meliputi seluruh nasion (yang mengenai kaum terhisap dan kaum penghisap). Jadinya bagi revolusi adalah perlu sekali mencapai kenyataan, pertama, bahwa jumlah terbanyak kaum buruh (atau sekurang-kurangnya jumlah terbanyak dari kaum buruh yang sadar-klas, yang berpikir, yang aktif dalam politik) sudah sungguh-sungguh mengerti keharusan revolusi dan bersedia mengorbankan nyawanya untuk itu; kedua, bahwa klas-klas yang berkuasa mengalami suatu kris pemerintahan, yang menyeret massa yang paling terbelakangpun ke dalam politik (suatu tanda dari tiap revolusi yang sessungguhnya yalah kenaikan yang cepat, sepuluh kali dan malahan seratus kali dalam jumlah anggota-anggota massa pekerja dan tertindas – yang sebelumnya apatis – yang sanggup melakukan perjuangan politik), melemahkan pemerintah dan memungkinkan bagi kaum revolusioner untuk menggulingkannya dengan cepat.

 

Di Inggeris, sebagaimana dapat dilihat, antara lain justru dari pidato Lloyd George, kedua syarat dari revolusi proletar yang berhasil terang sedang menajdi matang. Dan kesalahan-kesalahan kaum Komunis  Kiri adalah lebih-lebih berbahaya pada waktu sekarang ini justru karena beberapa kaum revolusioner tidak memperlihatkan perhatian yang cukup bersungguh-sungguh, cukup teliti, cukup sadar dan cukup berpandangan jauh terhadap masing-masing syarat ini. Jika kita adalah partai dari klas yang revolusioner, dan bukan suatu grup revolusioner, jika kita ingin supaya massa mengikuti kita (dan tanpa itu kita menghadapi risiko  akan tetap menjadi tukang omong semata-mata), kita harus, pertama-tama membantu Henderson atau Snowden memukul Lloyd George dan Churchill (atau lebih tepat, memaksa yang pertama memukul yang kedua karena yang pertama takut kepada kemenangan sendiri!) kedua: membantu juamlah terbanyak dari klas buruh untuk menjadi yakin dari pengalaman mereka sendiri bahwa kita adalah benar, yaitu, bahwa Henderson dan Snowden adalah samasekali tidak berguna, bahwa watak mereka adalah burjuis kecil dan khianat, dan bahwa kebangkrutan mereka tak terhindarkan; ketiga, mendekatkan saat di mana, atas dasar kekecewaan jumlah terbanyak kaum buruh terhadap kaum Henderson, akan menjadi mungkin untuk dengan harapan sukses yang sungguh-sungguh menggulingkan pemerintah kaum Henderson dengan seketika; sebab kalau Lloyd George, seorang burjuis besar, bukan burjuis kecil, yang paling pintar dan sungguh kuat, memperlihatkan kegelisahan yang sungguh-sungguh dan makin lama makin kelemahan dirinya (dan burjuasi seluruhnya) dengan “pertengkaran”nya dengan Churchill pada sautu hari dan “pertengkaran”nya dengan Asquith pada haru berikutnya, maka betapa akan lebih besarnya kegelisahan pemerintah Hederson pada ketika itu!

Saya akan menerangkannya secara lebih konkrit. Menurut pendapat saya, kaum Komunis Inggeris harus mempersatukan empat partai dan grup mereka (semuanya sangat lemah, dan beberapa di antaranya sangat, sangat lemah) menjadi satu Partai Komunis atas dasar prinsip-prinsip Internasionale III dan prinsip wajib ambil bagian dalam parlemen. Partai Komunis harus mengusulkan suatu “Kompromi” kepada kaum Henderson dan Snowden, suatu persetujuan pemilihan: marilah kita bersama-sama melawan persekutuan Lloyd George dengan kaum Konservatif, marilah kita bagi kursi dalam parlemen menurut perbandingan jumlah suara yang diberikan oleh kaum buruh kepada Partai Buruh dan kepada kaum Komunis (bukan dalam pemilihan-pemilihan, tetapi dalam pemungutan suara yang khusus), dan marilah kita pertahankan kebebasan yang penuh untuk melakukan agitasi, propaganda dan aktivitas politik. Tanpa syarat yang tersebut belakangan ini, sudah tentu, orang tidak boleh menyetujui suatu blok, karena kalau tidak, ini akan berarti suatu pengkhianatan; kaum Komunis Inggeris harus secara mutlak mempertahankan dan berhasil menjamin kebebasan penuh untuk menelanjangi kaum Henderson dan Snowden persis seperti kaum Bolsyewik Rusia mempertahankan (selama 15 tahun, 1903-1917) dan berhasil menjaminnya terhadap kaum Henderson dan Snowden Rusia, yaitu kaum Mensyewik.

Jika kaum Henderson dan Snowden menyetujui blok dengan syarat-syarat ini, maka kita yang akan beruntung, sebab jumlah kursi dalam parlemen samasekali tidaklah penting bagi kita; kita tidak mengutamakn kursi, kita akan memberikan konsesi dalam soal ini (sebaliknya, kaum Henderson, dan terutama sekali sahabat-sahabatnya yang baru – atau majikan-majikannya yang baru – kaum Liberal yang telah masuk dalam Partai Buruh Merdeka, betul-betul mengutamakn kursi itu). Kita yang beruntung, sebab kita akan membawa agitasi kita ke tengah-tengah massa pada saat ketika Lloyd George sendiri telah “membakar” mereka, dan kita tidak hanya akan membantu Partai Buruh untuk membentuk pemerintahnya lebih cepat, tetapi juga akan membantu massa untuk lebih cepat memahami seluruh propaganda Komunis yang akan kita lakukan terhadap kaum Henderson, samasekali tanpa mengebiri atau mendiam-diamkan apapun.

Jika kaum Henderson dan Snowden menolak blok dengan kita dengan syarat-syarat ini, kita akan lebih beruntung lagi, karena kita akan menunjukkan dengan segera kepada massa (ingat bahwa di dalam Partai Buruh Merdeka, sekalipun yang sepenuhnya bersifat Mensyewik dan samasekali oportunis, misalnya adalah pro-Sovyet-Sovyet) bahwa kaum Henderson lebih menyukai hubungan-hubungan mereka yang rapat dengan kaum kapitalis, daripada persatuan dari semua kaum buruh. Kita akan menang dengan segera di mata massa yang, terutama sekali sesudah keterangan-keterangan yang brilian, tepat sekali dan sangat berguna (bagi Komunisme) yang diberikan oleh Lloyd George, akan bersimpati dengan pikiran mempersatukan semua kaum buruh dalam menentang persekutuan Lloyd George dengan kaum Konservatif. Kita akan menang dengan segera sebab kita akan menunjukkan kepada massa bahwa kaum Henderson dan Snowden takut untuk mengalahkan Lloyd Beorge, takut untuk mengambil kekuasaan sendirian, dan dengan diam-diam berusaha mendapat bantuan dari Lloyd George, yang dengan terang-terangan mengulurkan tangannya kepada kaum Konservatif untuk menentang Partai Buruh. Perlu dicatat bahwa di Rusia, sesudah revolusi pada tanggal 27 Februari (penanggalan lama) 1917, propaganda kaum Bolsyewik dan kaum Sosialis Revolusioner (yaitu kaum Henderson dan Snowden Rusia) berhasil baik justru berkat keadaan macam ini. Kami telah katakan kepada kaum mensyewik dan kaum Sosialis-Revolusioner: ambillah seluruh kekuasaan  tanpa burjuasi, sebab kamu mempunyai suara terbanyak dalam Sovyet-Sovyet (pada Kongres Pertama Sovyet-Sovyet Se-Rusia, bulan Juni 1917, kaum Bolsyewik mempunyai hanya 13% dari jumlah suara). Tetapi kaum Henderson dan Snowden Rusia takut untuk mengambil kekuasaan tanpa burjuasi, dan ketika burjuasi menunda pemilihan untuk Konstituante, karena tahu betul bahwa pemilihan itu akan memberikan mayoritas kepada kaum Sosialis-Revolusioner dan kaum Mensyewik* (kedua-duanya mempunyai blok politik yang paling erat dan dalam kenyataannya mewakili demokrasi burjuis-kecil yang itu-itu juga), maka kaum Sosialis-Revolusioner dan kaum Mensyewik ternyata tidak berdaya secara giat dan sampai akhir menentang penundaan-penundaan ini.

Jika kaum Henderson dan Snowden menolak blok dengan kaum Komunis, kaum Komunis akan menang dengan segera dalam hal merebut simpati massa  dan menghilangkan kepercayaan kepada kaum Henderson dan Snowden; dan jika sebagai akibatnya kita kehilangan beberapa kursi dalam parlemen, itu adalah soal yang samasekali tidak penting bagi kita. Kita akan mengajukan calon-calon kita di dearah-daerah pemilihan yang sangat sedikit jumlahnya tetapi yang mutlak terpercaya, yaitu di daerah-daerah pemilihan di mana dengan mengajukan calon kita tidak akan membantu diperolehnya kursi oleh calon Liberal melawan calon – anggota Partai Buruh. Kita akan ambil bagian dalam kampanye pemilihan, menyebarkan surat-surat selebaran demi keuntungan Komunisme, dan di semua daerah pemilihan di mana kita tidak mempunyai calon, kita akan menyerukan kepada pemilih-pemilih supaya memilih dari calon dari partai Buruh dan menentang calon burjuis. Kawan-kawan Sylvia Pankhurst dan Gallacher keliru dengan mengira bahwa hal ini adalah suatu pengkhianatan terhadap Komunisme, atau suatu penollakan perjuangan melawan kaum pengkhianat sosial. Sebaliknya, urusan revolusi Komunis tidak ragu-ragu lagi akan beruntung dengan itu.

Pada dewasa ini kaum Komunis Inggeris sering kali malahan sukar untuk mendekati massa , malahan sukar untuk membuat massa  mendengar mereka. Jika saya tampil ke muka sebagai seorang Komunis dan menyerukan kepada kaum buruh supaya memilih Henderson dan menentang Lloyd George, mereka sudah tentu akan mendengarkan saya. Dan saya akan dapat menerangkan dengan cara yang populer tidak hanya mengapa Sovyet-Sovyet adalah lebih baik daripada parlemen dan mengapa diktatur proletariat lebih baik daripada diktatur Churchill (yang ditutupi kedok “demokrasi” burjuis), tetapi juga bahwa saya mau memakai suara saya untuk mengangkat Hendeson seperti tali yang mengangkat orang yang digantung – bahwa mendekatnya kaum Henderson ke pemerintahnya sendiri juga akan membuktikan bahwa saya benar, juga akan menarik massa ke pihak saya, dan juga akan mempercepat kematian politik dari kaum Henderson dan Snowden sebagaimana halnya dengan sahabat sepikiran mereka di Rusia dan Jerman.

Dan jika dikemukakan keberatan bahwa taktik ini terlalu “cerdik”, atau terlalu ruwet, sehingga tidak akan dimengerti oleh massa, bahwa taktik ini akan memecah-mecah dan memencar-mencarkan kekuatan kita, akan merintangi kita dalam memusatkan mereka untuk revolusiSovyet, dan sebagainya, maka saya akan menjawab kepada kaum “Kiri” yang mengemukakan keberatan ini: janglah melemparkan doktrinerisme-mu sendiri kepada massa! Massa di Rusia mungkin bukan lebih melainkan kurang berpendidikan daripada massa di Inggeris. Namun massa mengerti kaum Bolsyewik; dan kenyataan bahwa menjelang revolusi Sovyet, dalam bulan September 1917, kaum Bolsyewik mengajukan calon-calon mereka untuk parlemen burjuis (Konstituante) dan keesokan harinya sesudah revolusi Sovyet, dalam bulan November 1917, ikut serta dalam pemilihan-pemilihan justru untuk Konstituante ini, yang mereka bubarkan pada 5 Januari 1918 – hal ini tidak merintangi kaum Bolsyewik, melainkan sebaliknya, bahkan membantu mereka.

Di sini saya tidak dapat membicarakan soal kedua tentang perbedaan pendapat di kalangan kaum Komunis Inggeris – soal menggabungkan diri pada partai Buruh atau tidak. Terlalu sedikit bahan-bahan yang ada  pada saya mengenai soal ini, yang merupakan soal yang paling banyak seluk-beluknya berhubung dengan sifat yang sangat khas dari Partai Buruh Inggeris, yang susunannyapun sangat berlianan dari partai-partai politik  yang biasa di Daratan Eropa. Akan tetapi yang tak diragukan lagi, tentunya yalah, pertama, dalam soal ini juga mereka yang mencoba menyimpulkan taktik proletariat revolusioner dari prinsip-prinsip seperti: “Partai Komunis harus tetap menjaga kemurnian doktrinnya, dan kebebasannya dari reformisme tetap tidak ternoda; misinya yalah melangkah maju, tanpa berhenti atau membelok, menurut jalan yang langsung menuju revolusi Komunisme” – pasti akan salah. Karena prinsip-prinsip yang serupa itu adalah semata-mata merupakan pengulangan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh kaum Komunar Blanquis Perancis, yang dalam tahun 1874 memproklamasikan “penolakan” terhadap segala  macam kompromi dan   semua  stasiun  perantara. Kedua,  tidaklah  dapat

 

* Hasil pemilihan untuk Konstituante di Rusia dalam bulan Nopember 1917, yang didasarkan atas laporan yang meliputi lebih dari 36.000.000 pemilih, adalah sebagai berikut: kaum Bolsyewik memperoleh 25% dari suara, berbagai partai tuantanah dan burjuasi memperoleh 13% dan partai-partai burjuis-kecil demokratis, yaitu kaum Sosialis-Revolusioner, kaum Mensyewik dan beberapa grup kecil sebangsanya memperoleh 62%.

 

disangsikan lagi bahwa dalam hal ini juga, sebagaimana biasa, tugasnya yalah untuk menjadi pandai mentrapkan prinsip-prinsip umum dan pokok dari Komunisme pada kekhususan hubungan antara klas-klas dan partai-partai, pada kekhususan perkembangan obyektif menuju Komunisme, yang kahs di tiap negeri dan yang orang harus pandai mempelajari, menemukan, dan menerkanya.

Akan tetapi ininharus dibicarakan tidak dalam hubungan dengan Komunisme di Inggeris saja, tetapi juga dalam hubungan dengan kesimpulan-kesimpulan yang umum mengenai perkembangan Komunisme di semua negeri kapitalis. Kita sekarang beralih ke persoalan ini.

 

X

Beberapa kesimpulan

Revolusi burjuis Rusia pada tahun 1905 memperlihatkan suatu pembalikan yang sangat khas dalam sejarah dunia: di salah satu negeri kapitalis yang paling terbelakang gerakan pemogokan mencapai luas dan kekuatan yang belum pernah dilihat di manapun juga di dunia ini. Dalam bulan yang pertama dari tahun 1905 salaj jumlah kaum pemogok naik lebih sepuluh kali dari jumlah rata-rata saban tahun selama 10 tahun yang lalu (1895-1904), dan dari Januari sampai Oktober 1905 pemogokan-pemogokan terus meluas dan mencapai kebesarannya yang hebat sekali. Di bawah pengaruh beberapa keadaan sejarah yang samasekali khusus, Rusia yang terbelakang adalah yang pertama yang menunjukkan kepada dunia tidak hanya pertumbuhan, secara melompat-lompat, dari aktivitas yang bebas dari massa yang tertindas di mana revolusi (hal ini telah terjadi dalam semua revolusi yang besar), tetapi juga makna proletariat yang secara tidak terbatas sudah melebihi perbandingan jumlah dengan seluruh penduduk, suatu kombinasi dari pemogokan ekonomi dengan pemogokan politik, berubahnya pemogokan politik menjadi pemberontakan bersenjata, lahirnya bentuk baru dalam perjuangan massal dan organisasi massal klas-klas yang ditindas oleh kapitalisme, yaitu Sovyet-Sovyet.

Revolusi-revolusi Pebruari dan Oktober 1917 mengakibatkan perkembangan Sovyet-Sovyet yang menyeluruh dalam rangka nasional, dan kemudian kemenangannya dalam revolusi proletar, revolusi Sosialis. Dan sesudah kurang dari dua tahun menjadi nampak sifat internsional dari Sovyet-Sovyet, meluasnya bentuk perjuangan dan organisasi ini sampai pada gerakan klas buruh dunia, dan misi bersejarah Sovyet-Sovyet sebagaipenggali liang kubur, ahli-waris dan pengganti parlementerisme burjuis, dan demokrasi burjuis pada umumnya.

Lebih dari itu. Sejarah gerakan buruh sekarang menunjukkan bahwa di semua negeri ia harus mengalami (dan sudah mulai mengalami) perjuangan antara Komunis, yang sedang tumbuh, menjadi semakin kuat dan maju menuju kemenangan, dengan, pertama dan terutama sekali, “ Mensyewisme”-nya sendiri ( di masing-masing negeri) yaitu oportunisme dan sosial-sovinisme , dan kedua – boleh dikatakan, dalam bentuk tambahan – dengan Komunisme “Sayap Kiri”. Perjuangan pertama telah berkembang di semua negeri, rupanya dengan tiada suatu perkecualianpun, sebagai perjuangan antara Internasionale II (sesungguhnya sekarang sudah dimatkan) dan Internasionale III. Perjuangan kedua dapat dilihat di Jerman, Inggeris, Italia, Amerika (setidak-tidaknya, golongan tertentu dari “Kaum Buruh Industri Sedunia” dan aliran-aliran anarko-sindikalis mempertahankan kesalahan-kesalahan Komunisme Sayap-Kiri di samping hampir secara umum dan sepenuhnya menyetujui sistim Sovyet) maupun di Perancis (sikpa golongan bekas kaum sindikalis terhadap partai politik dan palementerisme, juga di samping menyetujui sistim Sovyet), yaitu dengan tak disangsikan lagi tidak hanya dalam ukuran yang meliputi seluruh dunia.

Akan tetapi melalui di mana-mana suatu latihan persiapan, yang menurut hakekatnya sma macamnya, untuk kemenangan atas burjuasi, gerakan klas buruh di masing-masing negeri melaksanakannya dengan caranya sendiri. Dalam pada itu di negeri-negeri kapitalis yang besar dan maju sedang berjalan di atas jalan ini dengan jauh lebih cepat dari pada Bolsyewisme, yang oleh sejarah diberi waktu 15 tahun untuk mempersiapkan diri, sebagai aliran politik yang terorganisasi, untuk mencapai kemenangan. Dalam waktu pendek selama setahun, Internasionale III telah memperoleh kemenangan yang menentukan; ia telah mengalahkan Internasionale II yang kuning, yang sosial-sovinis, yang bru beberapa bulan yang lalu adalah jauh lebih kuat daripada Internasionale III, yang nampaknya kokog dan kuat serta mendapat bantuan yang menyeluruh – langsung atau tidak langsung, materiil (kedudukan dalam Kabinet, paspor-paspor, pers) dan ideologi – dari burjuasi dunia.

Seluruh persoalannya sekarang yalah supaya kaum Komunis di tipa-tiap negeri dengan sepenuhnya sadar memperhitungkan tugas yang pokok dan prinsipiil dari perjuangan melawan oportunisme dan doktrinerisme “Kiri”, maupun kekhususan-kekhususan konkrit yang diperoleh dan pasti harus diperoleh oleh perjuangan ini di masing-masing negeri tersendiri sesuai dengan sifat-sifat yang khusus dari ekonomi, politik, kebudayaan, susunan nasionalnya (Irlandia, dan lain-lainnya), jajahan-jajahannya, perbedaan-perbedaan agamanya, dan seterusnya, dan sebagainya. Di mana-mana dirasakan, meluas dan bertambah besarnya ketidak-puasan terhadap Internasionale II karena oportunismenya, maupun karena tidak cakapnya atau tidak mampunya untuk menciptakan suatu badan sentral yang benar-benar terpusat, yang benar-benar memimpin, yang akan mampu mengemudikan taktik internasional dari proletariat revolusioner dalam perjuangannya untuk republik Sovyet sedunia. Kita harus mengerti dengan jelas bahwa pusat pimpinan yang demikian itu sekali-kali tidak boleh dibentuk menurut ketentuan-ketentuan taktik perjuangan yang dijiplak saja, yang disamakan secara mekanis dan yang serupa saja.  Selama masih ada perbedaan-perbedaan nasional dan kenegaraan antara bangsa-bangsa dan negeri-negeri – dan perbadaan-perbedaan ini akan terus tetap ada untuk waktu yang sangat lama malahan sampai sesudah diktatur proletariat didirikan di seluruh dunia – kesatuantaktik internasional dari gerakan klas buruh Komunis di semua negeri menuntut bukannya ditiadakannya keanekaragaman, dihapuskannya perbedaan nasional (ini adalah impian tolol pada saat sekarang) melainkan pentrapan prinsip-prinsip Komunisme yang pokok (kekuasaan Sovyet dan diktatur proletariat) sedemikian rupa sehingga  akan sekedar mengubah dengan tepat prinsip-prinsip ini dalam hal-hal yang khusus, dengan tepat menyesuaikan dan mempraktekkannya sesuai dengan perbedaan-perbedaan nasional dan kenegraan nasional. Menyelidiki, mempelajari, mencari, meramalkan, memahami apa yang khsus nasional, yang istimewa nasional dalam pendekatan konkrit dengan mana masing-masing negeri harus memecahkan pelaksanaan tugas internasional yang tunggal, dengan mana ia mencapai kemenangan atas oportunisme dan doktrinerisme “Kiri” di dalam gerakan klas buruh, menggulingkan burjuasi, dan mendirikan republik Sovyet dan diktatur proletariat – itulah tugas pokok dari saat sejarah yang sekarang dialami oleh semua negeri yang maju (dan tidak hanya yang maju). Yang pokok – bukannya segala-galanya, jauh daripada itu sudah tentu, tetapi yang pokok – dalam penarikan pelopor klas buruh, dalam peralihannya ke pihak kekuasaan Sovyet melawan pzrlementerisme, ke pihak diktatur proletariat melawan demokrasi burjuis, sudah tercapai. Sekarang segenap usaha, segenap perhatian harus dipusatkan pada langkah berikutnya yang nampaknya, dan dilihat dari sudut pandangan tertentu memang benar-benar kurang fundamentil, tetapi yang, sebaliknya, sesungguhnya lebih dekat pada pelaksanaan tugas secara praktis, yaitu: mencari bentuk-bentuk peralihan atau pendekatan ke revolusi proletar.

Pelopor proletar sudah direbut secara ideologi. Itulah yang pokok. Tanpa ini, langkah yang pertamapun ke arah kemenangan tak dapat diambil. Tetapi hal ini masih agak jauh dari kemenangan. Kemenangan tidak dapat diperoleh tidak hanya dengan pelopor saja. Melemparkan pelopor saja ke dalam pertempuran yang menentukan, sebelum seluruh klas, sebelum massa luas mengambil sikap langsung membantu pelopor, atau sekurang-kurangnya bersikap netral yang menguntungkan baginya, dan sikap yang samasekali tidak memungkinkan mereka menyokong musuh pelopor itu, akan berarti tidak hanya suatu kebodohan tetapi juga suatu kejahatan. Dan agar sungguh-sungguh seluruh klas, supaya sungguh-sungguh massa luas dari Rakyat pekerja dan mereka yang ditindas oleh kapital sampai pada sikap yang demikian itu, propaganda dan agitasi saja tidaklah cukup. Untuk ini mssa harus mempunyai pengalaman politik mereka sendiri. Demikianlah hukum pokok semua revolusi besar, yang kini diperkuat kebenarannya dengan mentakjubkan kuatnya dan jelas tidak hanya di Rusia tapi juga di Jerman. Tidak hanya bagi massa di Rusia yang tidak berkebudayaan, yang kebanykan butahuruf, tetapi juga bagi massa di Jerman yang sduah tinggi kebudayaannya, yang seluruhnya tahutulis telah menjadi perlu untuk menguji dengan pengalaman pahit mereka sendiri seluruh ketidakmampuan dan seluruh ketidakteguhan hati, seluruh tidak-berdayanya dan watak menjilatnya kepada burjuasi, seluruh kejadian pemerintah-pemerintah pahlawan-pahlawan Internasionale II, seluruh kenyataan bahwa diktatur kaum reaksioner yang ekstrim (Kornilov di Rusia 53, Kapp & Co. di Jerman 54) adalah tak terhindarkan sebagai satu-satunya alternatif dari diktatur proletariat, supaya dapat membelok dengan tegas ke arah Komunisme.

Tugas berikutnya dari barisan pelopor berkesedaran-klas dari gerakan buruh internasional, yaitu partai-partai, grup-grup dan aliran-aliran Komunis yalah mampu membawa massa yang luas ( yang sekarang kebanyakannya masih tidur, apatis, lamban, kolot, belum dibangkitkan) kedudukan mereka yang baru ini, lebih tepat, mampu memimpin tidak hanya partai mereka sendiri, tetapi juga massa ini, dalam usaha mereka mendekati dan beralih ke kedudukan baru. Sedang tugas sejarah yang pertama (yaitu menarik pelopor ploteraita yang berkesedaran klas ke pihak kekuasaan Sovjet dan diktatur klas buruh) tidak dapat diselesaikan tanpa kemenangan ideologi dan politik yang penuh atasoportunisme dan sisial-sovisme, maka tugas yang kedua , yang sekarang menjadi tugas yang langsung, dan yang berupa kemampuan membawa massa ke kedudukan baru yang dapat menjamin kemenangan pelopor dalam revolusi – tugas yang langsung ini tidak dapat diselesaikan tanpa memberantas doktrinerisme Kiri, tanpa mengatasi sepenuhnya kesalahan-kesalahan, tanpa meniadakan pada diri sendiri kesalahan-kesalahan itu.

Selama persoalannya telah mengenai (dan sejauh ini masih mengenai) penarikan pelopor proletariat ke pihak Komunisme, maka selama itu dan sampai sebegitu jauh, propagandalah yang tampil menduduki tempat pertama; pun grup-grup propaganda, dengan semua kelemahan grup-grup-ismenya, adalah berguna di sini dan menghasilkan buah-buah yang baik. Tetapi jika yang menjadi soal adalah aksi praktek dari massa, soal penempatan, kalau orang boleh mengatakannya demikian balatentara  yang berjuta-juta orangnya, soal pembagian  s e m u a kekuatan klas dalam masyarakat tertentu untuk pertempuran yang terakhir dan yang menentukan, maka dengan propaganda saja, pengulangan semata-mata kebenaran-kebenaran Komunisme yang “murni”, orang tidak dapat berbuat apa-apa. Di sini orang harus menghitung bukan dengan ribuan, seperti yang dilakukan oleh propagandis yang termasuk dalam suatu grup kecil yang belum memimpin massa; di sini orang harus menghitung dengan jutaan dan puluhan juta. Di sini kita harus tidak hanya bertanya pada  diri sendiri apakah kita telah meyakinkan pelopor klas revolusioner, tetapi jug apakah kekuatan-kekuatan yang efektif menurut sejarah dari semua klas – pasti dari semua klas dalam masyarakat tertentu tanpa terkecualian – sudah ditempatkan sedemikian rupa sehingga pertempuran yang menentukan sudah menjadi matang sepenuhnya; demikian rupa sehingga 1) semua kekuatan klas yang memusuhi kita sudah menjadi cukup kacaubalau, sudah cakar-cakaran satu sama lain, sudah cukup melemahkan mereka sendiri dalam perjuangan yang di luar kekuatan mereka; sehingga 2) semua elemen tengah yang bimbang, ragu-ragu, tidak teguh, yaitu burjuasi kecil, berbeda dengan burjuasi, telah cukup menelanjangi diri mereka di mata Rakyat, telah ckup membikin malu diri mereka dengan kebangkrutan parktis mereka; dan sehingga 3) pada proletariat telah timbul dan mulai tumbuh dengan perkasa sentimen massa yang menyokong aksi yang paling tegas, luarbiasa berani, dan revolusioner melawan burjuasi. Maka barulah revolusi memang sudah matang; barulah kemenangan, jika kita telah memperhitungkan dengan tepat semua syarat yang ditunjukkan di atas, yang digambarkan di atas dengan ringkas itu, dan jika kita memilih saatnya dengan tepat, barulah kemenangan kita menjadi terjamin.

Perbedaan pendapat antara kaum Churchill dan kaum Lloyd George – dengan perbedaan nasional yang kecil sekali, anasir-anasir yang tipe politik ini ada di semua negeri – di satu pihak, dan antara kaum Henderson dengan kaum Lloyd George di pihak lain, adalah suatu yang remeh-temeh dan samasekali tak berarti dilihat dari sudut Komunisme yang murni, yaitu Komunisme yang abstrak, yaitu Komunisme yang belum matang untuk tingkatan aksi politik praktis dan massal. Tetapi dilihat dari sudut aksi praktis dari massa ini, perbedaan ini adalah sungguh sangat penting sekali. Memperhitungkan perbedaan-perbedaan ini, menentukan saat di mana bentrokan-bentrokan  yang tak terelakkan  di antara “sahabat-sahabat” ini, yang melemahkan dan melumpuhkan semua “sahabat” ini dalam keseluruhannya, sudah matang sepenuhnya – itulah pokok persoalannya, seluruh tugas dari seorang Komunis yang tidak hanya mau menjadi propagandis yang berkesedaran-kals dan berkeyakinan secara ideologi, tetapi juag menjadi pemimpin  yang praktis dari massa dalam revolsui. Kesetiaan yang paling sungguh terhadap cita-cita Komunisme harus dihubungkan dengan kecakapan untuk melakukan semua kompromi yang praktis yang diperlukan, melakukan manuver, mengadakan persetujuan-persetujuan, membelok-belok, mengambil langkah-langkah mundur, dan lain-lain, agar dapat mempercepat tercapainya , dan hilangnya, kekuasaan politik dari kaum Henderson (pahlawan-pahlawan Internasionale II, jika kita tidak menyebut orang-seorang, wakil-wakil demokrasi burjuis kecil yang menamakan dirinya kaum Sosialis); mempercepat kebangkrutan mereka yang pasti dalam praktek, yang akan membuka pikiran massa justru dalam semangat cita-cita kita, justru ke arah Komunisme; mempercepat pergeseran-pergeseran, pertengkaran-pertengkaran, pemberontakan-pemberontakan yang tak terelakkan dan perpecahan-perpecahan yang sungguh-sungguh antara kaum Henderson – kaum Lloyd George – kaum Churchill (kaum Mensyewik dan kaum Sosialis-Revolusioner – kaum Kadet – kaum monarkis; kaum Scheidemann – burjuasi – kaum Kappis dan sebagainya); dan denga tepat memilih saat di mana perpecahan antara semua “sandaran hak milik perseorangan yang suci” ini sedang memcapai puncaknya, supaya dengan serangan yang menentukan dari proletariat mematahkan mereka semua dan merebut kekuasaan politik.

Sejarah pada umumnya, dan sejarah revolusi-revolusi pada khususnya, selamanya lebih kaya isinya, lebih beraneka ragam, lebih banyak seginya, lebih hidup dan “cerdik” daripada yang dibayangkan oleh partai-partai yang paling baik dan pelopor-pelopor yang paling berkesedaran-klas dari klas-klas yang paling maju sekalipun. Dan ini mudah dimengerti karena pelopor-pelopor yang paling baikpun menyatakan kesadaran, kemauan, nafsu dan fantasi dari puluhan ribu; sedangkan revolusi-revolusi dibuat, pada saat kebangkitan istimewa dan pengerahan seluruh kapsitas manusia, oleh kesadaran, kemauan, nafsu dan fantasi dari puluhan juta, yang didorong terus oleh perjuangan klas-klas yang paling sengit. Dari sini timbullah dua kesimpulan praktis yang sangat penting: pertama, bahwa untuk dapat memenuhi tugasnya klas revolusioner harus menjadi pandai menguasai semua bentuk, atau segi, dari aktivitas sosial tanpa perkecualian sedikit-sedikitnyapun (menyelesaikan, sesudah merebut kekuasaan politik, kadang-kadang dengan menghadapi risiko besar dan bahaya yang sangat besar, apa yang tidak ia selesaikan sebelum perebutan kekuasaan itu); kedua, bahwa klas revolusioner harus siap sedia untuk beralih secara paling cepat dan paling tak terduga-duga dari satu bentuknya ke bentuk yang lain.

Setiap orang akan setuju bahwa suatu tentara yang tidak melatih dirinya untuk menguasai segala macam senjata, segala cara dan metode peperangan yang dimiliki atau mungkin dimiliki oleh musuh, bertindak tak bijaksana atau malahan jahat. Tetapi hal ini lebih-lebih lagi berlaku dalam politik daripada dalam bidang militer. Dalam politik malahan lebih sukar lagi untuk meramalkan metode-metode perjuangan apa yang akan dapat digunakan dan yang menguntungkan kita dalam keadaan-keadaan tertentu di masa depan. Jika kita tidak menguasai segala cara perjuangan, kita dapat menderita kekalahan besar, bahkan seringkali kekalahan yang menentukan, jika, di luar kemauan kita, perubahan-perubahan dalam kedudukan klas-klas lain mengedepankan dalam acara bentuk aktivitas di mana kita terutama lemah. Akan tetapi jika kita menguasai segala cara perjuangan, kemenangan akan pasti pada pihak kita, sebab kita mewakili kepentingan-kepentingan klas yang benar-benar termaju dan yang benar-benar revolusioner, sekalipun jika keadaan tidak mengijinkan kita menggunakan senjata-senjata yang paling berbahaya bagi musuh, senjata-senjata yang memberikan pukulan-pukulan yang menghancurkan dengan paling cepat. Kaum revolusioner yang belum berpengalaman kerapkali berpendapat bahwa cara-cara perjuangan legal adalah oportunis, sebab dalam lapangan ini burjuasi terutama sekali sering (terutama sekali di masa “damai”, di sama non revolusioner) menipu dan memperdayakan kaum buruh dan bahwa cara-cara perjuangan ilegal adalah revlusioner. Tetapi ini tidak benar. Yang benar yalah bahwa kaum oportunis dan pengkhianat klas buruh adalah partai-partai dan pemimpin-pemimpin yang tidak  mampu atau tidak mau (jangan mengatakan kamu tidak mampu, katakan kamu tidak mau) menggunakan cara-cara perjuangan ilegal dalam keadaan-keadaan seperti yang berlaku, misalnya, di masa perang imperialis tahun 1914-1918, ketika burjuasi di negeri-negeri demokratis yang paling merdeka menipu kaum buruh dengan cara yang kurang ajar dan ganas hingga tak ada taranya, dengan melarang orang menerangkan kebenaran tentang watak perampokan dari peperangan itu. Tapi kaum revolusioner yang tidak mampu menghubungan bentuk-bentuk perjuangan ilegal dengan segala bentuk perjuangan legal adalah sungguh kaum revolusioner yang jelek. Tidaklah sukar untuk menjadi seorang revolusioner di waktu revolusi sudah meletus dan sedang memuncak, di waktu segala dan setiap macam orang menceburkan diri dalam revolusi, karena ia menarik hati mereka dengan begitu saja, karena ia sedang menjadi mode, dan malahan kadang-kadang karena orang-orang itu didorong nafsu mencari kedudukan. “Pembebasan” diri dari kaum revolusioner gadungan itu memerlukan dari proletariat, nanti, sesudah kemenangannya, pekerjaan yang bukan main beratnya, bahkan boleh dikatakan penderitaan yang luarbiasa. Adalah jauh lebih sukar – dan jauh lebih berharga – untuk menjadi seorang revolusioner di waktu syarat perjuangan yang langsung, yang terbuka yang benar-benar massal dan benar-benar revolusioner, belum ada, untuk menjadi pandai membela kepentingan-kepentingan revolusi (dengan propaganda, agitasi dan organisasi) dalam badan-badan non-revolusioner dan sering sekali yang reaksioner terang-terangan, dalam situasi non-revolusioner, di kalangan massa yang tidak bisa dengan segera  menginsyafi perlunya cara-cara, aksi-aksi revolusioner. Menjadi pandai mencari, merasakan, menentukan dengan tepat jalan yang konkrit atau perubahan keadaan yang khusus yang akan membawa massa ke perjuangan revolusioner  yang sesungguhnya, yang terkahir, yang menentukan dan agung – demikianlah tugas pokok Komunisme di eropa Barat dan Amerika pada dewasa ini.

Contoh: Inggeris. Kita tidak dapat mengatakan, dan tidak ada seorangpun yang dapat menentukan sebelumnya, berapa lama lagi revolusi proletar yang sesungguhnya akan berkobar di sana, dan apa yang menjadi sebab langsung yang lebih daripada  yang lain-lain akan membangkitkan, mengobarkan dan mendorong massa yang sangat laus, yang pada waktu sekarang ini masih tidur, ke dalam perjuangan. Oleh karena itu, kita harus melakukan semua pekerjaan persiapan kita dengan begitu rupa sehingga “ke empat-empat kita lengkap bersepatu” (sebagaimana mendiang Plekhanov, ketika dia masih merupakan seorang Marxis dan revolusioner, suka mengatakannya). Mungkin bahwa “perpecahan” akan dipaksakan, “es akan pecah” oleh krisis parlementer, atau oleh suatu krisis yang timbul dari kontradiksi-kontradiksi kolonial dan imperialias, yang kusut-masai tak berpengharapan, yang tersusun semakin menyakitkan, yang semakin menjadi tajam, atau mungkin oleh sesuatu sebab ketiga, dan sebagainya. Kita tidak membicarakan macam perjuangan apa yang akan menentukan nasib revolusi proletar di Inggeris (tak ada seorang Komunispun yang menyangsikan hal ini; bagi kita semua soal ini sudah pasti, dan sudah pasti betul); yang kita bicarakan yalah sebab langsung yang akan mendorong untuk bergerak massa revolusioner yang pada waktu sekarang ini masih tidur, dan membawa mereka langsung ke revolusi. Janglah kita lupakan bahwa di republik burjuis Perancis, misalnya, dalam situasi yang dilihat baik dari sudut internasional maupun nasional adalah seratus kali kurang revlusioner daripada di waktu sekarang, suatu sebab langsung yang begitu “tidak terduga-duga” dan “kecil” seperti salah satu dari ribuan akal bulus yang licik dari golongan militeris yang reaksioner (peristiwa Dreyfus 55), adalah cukup untuk membawa Rakyat ke tepi jurang perang sipil!

Kaum Komunis di Inggeris harus terus menerus, dengan tidak henti-hentinya dan dengan teguh menggunakan baik pemilihan-pemilihan untuk parlemen, maupun segala kesukaran politik mengenai Irlandia, politik kolonial dan politik internasional imperialis dari pemerintah Inggeris, dan semua lapangan, lingkungan dan segi lainnya dari kehidupan masyarakat, dan bekerja dalam semuanya irtu menurut cara Komunis, menurut semangat Internasionale III dan bukan Internasionale II. Saya tidak mempunyai waktu ataupun ruangan untuk melukiskan di sini cara-cara “Rusia”, “Bolsyewik”, dalam mengambil bagian dalam pemilihan-pemilihan  untuk parlemen dan dalam perjuangan parlementer; tetapi saya dapat mengatakan dengan pasti kepada kaum Komunis di luarnegeri bahwa itu adalah samasekali beralianan dengan kampanye-kampanye parlemen yang baiasa di eropa Barat. Dari sini sering ditarik kesimpulan: “Ya, itu adalah di Rusia; parlemeterisme di negeri kita adalah lain”. Suatu kesimpulan yang salah. Tetapi itulah justru mengapa di dunia ini ada kaum Komunis, pengikut-pengikut Internasionale III di semua negeri – supaya mengubah, dalam keseluruhannya, dalam semua lapangan kehidupan, cara bekerja Sosialis, serikatburuh, sindikalis, parlementer yang lama menjadi cara bekerja yang baru, cara bekerja Komunis. Di Rusia juga selalu ada cukup banyak, betul-betul cukup banyak cara oportunis dan cara dagang burjuis, kapitalis penipuan semata-mata  dalam pemilihan-pemilihan. Kaum Komunis di Eropa Barat dan di Amerika harus belajar menciptakan suatu parlementerisme baru, yang tidak sepeti biasa, tidak oportunis dan tidak bersifat mencari kedudukan; partai-partai Komunis harus mengeluarkan semboyan-semboyan mereka; kaum proletar yang sejati, dengan bantuan kaum melarat yang samasekali terinjak-injak yang tidak terorganisasi, harus menyebarkan dan membagibagi selebaran, mengunjungi rumah-rumah kaum buruh dan pondok-pondok kaum proletar desa serta kaum tani di desa-desa yang terpencil (untunglah di Eropa jumlah desa yang terpencil jauh lebih sedikit daripada di Rusia, sedangkan jumlah desa demikian di Inggeris sedikit sekali); merka harus pergi ke warung-warung kopi Rakyat jelata, memasuki perkumpulan-perkumpulan perhimpunan-perhimpunan dan rapat-rapat yang diadakan secara kebetulan, di mana berkumpul orang-orang yang paling biasa, dan berbicara kepada Rakyat tidak dalam bahasa terpelajar (dan tidak terlalu parlementer); mereka samasekali tidak boleh berusaha untuk “mendapat kursi” di dalam parlemen, tetapi di mana-mana harus berusaha menggugah pikiran massa dan menari mereka ke dalam perjuangan, memegang burjuasi pada kata-katanya dan menggunakan aparatur yang telah didirikan burjuasi itu, pemilihan-pemilihan yang telah ia tetapkan, seruan-seruan yang telah ia bikin kepada seluruh Rakyat, dan menerangkan kepada Rakyat apa itu Bolsyewisme, dengan cara yang tidak mungkin (di bawah kekuasaan burjuasi) di luar masa pemilihan ( sudah tentu selain daripada di masa pemogokan besar ketika alat yang serupa itu dari agitasi yang meliputi seluruh Rakyat bekerja di Rusia kami lebih keras lagi). Melakukan ini di Eropa dan di Amerika adalah sangat sukar, sukar sekali; tetapi itu dapat dan harus dilakukan, karena tugas-tugas Komunisme tidak dapat dilaksanakan tanpa kesukaran; dan usaha-usaha kita harus ditujukan untuk melaksanakan tugas-tugas praktis, yang semakin bermacam-macam dan semakin rapat berhubungan dengan semua bidang kehidupan sosial, yang semakin lama, semakin merebut cabang demi cabang, dan lapangan demi lapangan dari burjuasi.

Di Inggeris itu juga pekerjaan propaganda, agitasi dan oraganisasi di kalangan  angkatan bersenjata dan di kalangan nasionalitas-nasionalitas yang tertindas dan yang tidak mempunyai hak penuh  di negerinya “sendiri” (Irlandia, koloni-koloni) juga harus dilaukanmenurut cara baru (bukan menurut cara Sosialis, melainkan menurut cara Komunis, bukan menurut cara reformis, melainkan menurut cara revolusioner). Sebab semua lapangan kehidupan sosial ini, pada zaman imperilaisme pada umumnya, dan terutama sekali sekarang, sesudah perang, yang merupakan suatu siksaan bagi Rakyat-Rakyat dan dengan cepat membuka mata mereka akan kebenaran (yaitu bahwa puluhan juta orang tewas dan menderita cacat hanya karena untuk maksud menentukan apakah binatang-binatang buas Inggeris dan Jerman yang akan merampok lebih banyak negeri), — semua lapangan kehidupan sosial ini menjadi terutama penuh dengan bahan peledak dan melahirkan terutama banyak sebab-sebab bentrokan-bentrokan, krisis-krisis dan bertambah tajamnya perjuangan klas. Kita tidak dan tidak dapat tahu percikan api mana – dari percikan api yang tak terhitung banyaknya dan yang berterbangan di semua negeri sebagai akibat krisis ekonomi dan politik dunia – yang akan dapat menyalakan kebakaran, dalam arti membangkitkan massa secara istimewa, dan karena itu kita harus, dengan bantuan prinsip-prinsip Komunis kita yang baru, mulai bekerja untuk “membangkitkan” setiap dan segala macam lapangan biarpun yang paling tua, paling lapuk dan yang nampaknya sudah tidak ada harapan lagi, karena kalau tidak , kita tidak akan dapat memenuhi tugas-tugas kita, tidak akan mempunyai persiapan segala segi, tidak akan menguasai segala macam senjata dan tidak akan mempersiapkan diri baik untuk mencapai kemenangan atas burjuasi (yang mengatur segenap lapangan kehidupan sosial – dan yang sekarang telah mengacaukannya – menurut cara burjuis), maupun untuk mencapai reorganisasi Komunis yang akan datang terhadap seluruh kehidupan sesudah tercapainya kemenangan itu.

Sesudah revolusi proletar di Rusia dan kemenangan-kemenangannya dalam rangka internasional, yang tak terduga-dyga bagi burjuasi dan kaum filistin, seluruh duania telah berubah, dan di mana-mana juga burjuasi telah berubah. Ia takut pada “Bolsyewisme”, menjadi begitu amarah karenanya sehingga hampir mengamuk, dan justru karena itulah ia, di satu pihak, mempercepat perkembangan peristiwa-peristiwa dan, di pihak lian, memusatkan perhatian untuk menindas Bolsyewisme dengan kekerasan, dan dengan demikian melemahkan kedudukannya sendiri di banyak lapangan lain. Kaum Komunis di semua negeri yang sudah maju harus memperhitungkan kedua hal ini dalam menentukan taktik mereka.

Ketika kaum Kadet Rusia dan Kerenski melancarkan kampanye pengejaran yang gila-gilaan terhadap kaum Bolsyewik – terutama sejak bulan April 1917, dan lebih-lebih lagi dalam bulan Juni dan Juli 1917 – mereka telah bertindak berlebih-lebihan. Jutaan eksemplar suratkabar-suratkabar burjuis, yang berteriak-teriak dengan segala nada mencaci-maki kaum Bolsyewik, membantu mempengaruhi massa untuk menilai Bolsyewisme; dan, kecuali suratkabar-suratkabar, seluruh kehidupan masyarakat dipenuhi dengan perdebatan-perdebatan tentang Bolsyewisme justru karena “ketekunan” burjuasi. Sekarang secara internasional kaum milyuner di semua negeri bertindak sedemikian rupa sehingga kita harus berterimakasih kepada mereka dari lubuk hati kita. Mereka mengejar-kejar Bolsyewisme dengan nafsu seperti yang dilakukan  oleh Kerenski & Co.; mereka demikian juga bertindak “berlebih-lebihan” dan demikian juga membantu kita seperti yang dilakukan oleh Kerenski. Pada waktu burjuasi Perancis menjadikan Bolsyewisme  soal yang pokok dalam agitasi pemilihan, dengan menuduh kaum Sosialis yang agak moderat atau yang bimbang-bimbang sebagai kaum Bolsyewik; ketika burjuasi Amerika, karena sudah samasekali kehilangan akal, menangkap beribu-ribu orang karena dicurigai menganut Bolsyewisme, dan menimbulkan suasana panik dengan menyiarkan di mana-mana dongengan-dongengan tentang komplotan-komplotan Bolsyewik; ketika burjuasi Inggeris – yang paling “serius” di dunia – kendatipun semua kepinteran dan pengalamannya, membuat ketololan-ketololan yang tak masuk akal, mendirikan “perkumpulan-perkumpulan anti Bolsyewik” yang banyak diberi beaya, mengeluarkan literatur yang khusus tentang Bolsyewisme, dan menyewa jumlah tambahan sarjana-sarjana, agitator-agitator dan pastor-pastor untuk memerangi Bolsyewisme – Kita harus membungkukkan diri dan berterimakasih kepada tuan-tuan kapitalis. Mereka bekerja untuk kita. Mereka membantu kita supaya massa menaruh perhatian kepada hakekat dan makna Bolsyewisme.Dan mereka tidak dapat berbuat lain; karena menindas Bolsyewisme, “membungkamkannya”, mereka sudah tak berhasil.

Akan tetapi dalam pada itu burjuasi hampir semata-mata hanya melihat satu segi saja dari Bolsyewisme, yaitu pemberontakan, kekerasan, teror; karena itu burjuasi berusaha mempersiapkan diri untuk mengadakan pertahanan dan perlawanan terutama sekali dalam lapangan ini. Mungkin bahwa dalam kejadian-kejadian  tertentu, di negeri-negeri tertentu, dan untuk berapa masa yang pendek, mereka akan berhasil dalam hal ini; kita harus memperhitungkan kemungkinan serupa itu, dan bagi kita samasekali tak ada hal yang menakutkan jika mereka betul akan berhasil. Komunisme “tumbuh” betul-betul dari segala penjuru lapangan kehidupan masyarakat; tunas-tunasnya sungguh-sungguh dapat dilihat di mana-mana, “penyakit menular” (menggunakan kiasan yang paling disukai oleh burjuasi dan polisi burjusi, kiasan yang paling “sedap” bagi mereka) telah merasuk dalam sekali ke organisme dan telah sepenuhnya menyerapi seluruh organisme. Jika denga ketelitian khusus mencoba “menyumbat” salah satu saluran, maka “penyakit menular” akan mencari saluran yang lain, kadang-kadang yang tak terduga-duga samasekali. Kehidupan akan pasti mendapat apa yang hak baginya. Biarkan burjuasi mengamuk, marah sampai membuat gila diri sendiri, bertindak secara berlebih-lebihan, membuat ketololan-ketololan, belum apa-apa sudah melakukan balas dendam kepada kaum Bolsyewik, dan berusaha membunuh ( di India, Hongaria, Jerman, dan lain-lain) ratusan, ribuan, dan ratusan ribu lagi kaum Bolsyewik lama dan Bolsyewik-Bolsyewik hari esok: dengan berbuat demikian, burjuasi sedang melakukan tindakan seperti yang telah dilakukan oleh semua klas yang sudah ditakdirkan oleh sejarah untuk mati. Kaum Komunis harus tahu bahwa bagaimanapun juga hari kelak adalah kepunyaan mereka; karena itu kita dapat (dan harus) menghubungkan nafsu yang sangat keras dalam perjuangan revolusioner yang agung dengan perhitungan yang paling tenang dan waras tentang tindakan-tindakan mata gelap tentang dari burjuasi. Dalam tahun 1905 revolusi Rusia dikalahkan secara kejam; dalam bulan Juli 1917 kaum Bolsyewik Rusia dikalahkan; lebih dari 15.000 kaum Komunis Jerman dibunuh sebagai akibat provokasi yang curang dan manuver-manuver yang licik dari Scheidemann dan Noske yang bekerja erat dengan burjuasi dan jendral-jendral monarkis; teror putih sedang mengganas di Finlandia dan Hongaria. Akan tetapi dalam segala hal dan di semua negeri Komunisme menjadi terbaja dan terus tumbuh; akar-akarnya begitu dalam sehingga pengejaran-pengejaran tidak melemahkan, tidak melumpuhkan, melainkan malah memperkuatnya. Hanya satu hal yang kurang untuk memungkinkan kita maju dengan lebih yakin dan etguh menuju kemenangan, yaitu, pengertian yang umum dan yang dipikirkan dalam-dalam dari kaum Komunis di semua negeri tentang keharusan memperlihatkan keluwesan yang setinggi-tingginya dalam taktik mereka. Gerakan Komunis, yang sedang berkembang dengan hebat, terutama sekali di negeri-negeri yang sudah maju, sekarang kekurangan pengertian ini dan kecakapan untuk menggunakannya dalam praktek.

Apa yang telah terjadi pada pemimpin-pemimpin Internasionale II, kaum Marxis yang sangat terpelajar dan yang mencurahkan diri kepada Sosialisme seperti Kautsky, Otto Bauer dan lain-lainnya lagi, dapat (dan seharusnya) menjadi pelajaran yang berguna. Mereka sepenuhnya menginsyafi akan keharusan taktik yang luwes; mereka sendiri belajar dan mengajar orang lain dialektika Marxis (dan banyak yang telah mereka lakukan dalam hal ini untuk selama-lamanya akan tetap merupakan sumbangan yang berharga bagi literatur Sosialis); tetapi dalam pentrapan dialektika ini mereka membuat kesalahan yang begitu rupa, atau ternyata dalam praktek menjadi begitu tidak dialektis, menjadi orang-orang yang begitu tidak mampu memperhitungkan perubahan yang cepat dari bentuk-bentuk dan diperolehnya dengan cepat isi baru oleh bentuk-bentuk lama, sehingga nasib mereka tidak banyak menimbulkan irihati daripada  nasib Hyndman, Guesde dan Plekhanov. Sebab yang pokok dari kebangkrutan mereka yalah bahwa mereka “terpesona” oleh satu bentuk tertentu dari pertumbuhan gerakan klas buruh dan Sosialisme, mereka lupa akan berat-sebelahnya bentuk ini, mereka takut melihat perubahan yang mutlak yang karena keadaan-keadaan obyektif menjadi tak terhindarkan, dan terus mengulang-ulangi kebenaran-kebenaran yang sederhana, menurut apalan dan yang sepintas-lalu, tidak bisa dibantah lagi, seperti “tiga adalah lebih dari dua’. Akan tetapi politik akan lebih menyerupai aljabar daripada ilmu hitung; dan lebih lagi menyerupai ilmu pasti tinggi daripada ilmu pasti permulaan. Dalam kenyataannya, semua bentuk lama dari gerakan Sosialis telah memperoleh isi baru, dan, oleh karena itu, suatu tanda baru, tanda “minus”, telah muncul di muka angka-angka, sedanagkan orang-orang congkak yang menyangka pandai sendiri ini dengan keras kepala pernah terus (dan masih terus) meyakinkan diri mereka sendiri dan orang-orang lain bahwa “minus tiga” adalah lebih dari “minus dua”!

Kita harus mengusahakan supaya kaum Komunis tidak membuat kesalahan yang sama, hanya dari segi yang lain; atau, lebih tepat, kita harus mengusahakan supaya kesalahan yang sama, yang diperbuat, hanya dari segi jalan lain, oleh kaum Komunis “Kiri”, diperbaiki selekas mungkin dan diatasi secepat mungkin dan dengan sedikit mungkin menimbulkan rasa sakit. Bukan hanya doktrinerisme Kanan saja yang merupakan suatu kesalahan; doktrinerisme Kiri juga adalah suuatu kesalahan. Tentu saja, kesalahan doktrinerisme Kiri dalam Komunisme pada waktu sekarang ini seribu kali kurang berbahaya dan kurang berarti daripada kesalahan doktrinerisme Kanan (yaitu sosial-sovinisme dan Kautkyisme); tetapi bukankah hal itu hanyalah karena kenyataan bahwa Komunisme Kiri adalah suatu aliran yang masih muda sekali, yang baru saja sedang lahir. Hanya karena sebab inilah bahwa, dengan syarat-syarat tertentu, penyakit itu dapat diobati dengan mudah; dan kita harus mulai bekerja untuk mengobatinya dengan segenap kekuatan.

Bentuk-bentuk yang lama telah pecah, karena ternyata bahwa isi baru mereka – dan isi yang anti proletar serta reaksioner – telah mencapai perkembangan yang berlebih-lebihan. Kini pekerjaan kita, (untuk kekuasaan Sovyet, untuk diktatur proletariat), dilihat dari sudut perkembangan Komunisme internasional, mempunyai isi yang begitu teguh, begitu kuat dan begitu perkasa sehingga ia dapat dan harus memperlihatkan diri dalam setiap bentuk, baik yang baru maupun yang lama, ia dapat dan harus melahirkan kembali, menaklukkan dan menguasai semua bentuk, tidak hanya yang baru, tetapi juga yang lama – bukan dengan maksud mendamaikan diri dengan yang lama, melainkan dengan maksud menjadi pandai membikin semua dan setiap bentuk – yang baru dan yang lama – menjadi suatu senjata guna mencapai kemenangan Komunis yang penuh, terakhir, menentukan dan pasti.

Kaum Komunis harus melakukan segala usaha untuk memimpin gerakan klas buruh dan perkembangan sosial pada umumnya menurut jalan yang paling lurus dan paling cepat ke arah kemenangan kekuasaan Sovyet dan diktatur proletariat di seluruh dunia. Ini adalah suatu kebenaran yang tak terbantah lagi. Tetapi hanya cukup dengan mengambil satu langkah lebih jauh sedikit – suatu langkah yang mungkin nampaknya ke arah yang sama – maka kebenaran itu akan menjadi suatu kesalahan. Kita cukup hanya mengatakan, sebagaimana dikatakan oleh kaum Komunis Kiri Jerman dan Inggeris, bahwa kita hanya mengakui satu jalan, hanya jalan yang langsung, bahwa kita tidak membolehkan manuver, persetujuan, kompromi – dan itu sudah menjadi suatu kesalahan yang dapat menimbulkan, dan sebagian sudah, serta sedang menimbulkan, kkerugian yang besar sekali bagi Komunisme. Doktrinerisme Kanan berkers kepala hanya mengakui bentuk-bentuk yang lama, dan menjadi bangkrut samasekali, karena ia tidak melihat isi yang baru. Doktrinerisme Kiri berkeras kepala menolakk dengan tak bersyarat bentuk-bentuk lama yang tertentu, dengan tak melihat bahwa isi yang baru sedang menerobos melalui semua dan segala macam bentuk, bahwa kewajiban kita sebagai kaum Komunis yalah menguasai semua bentuk, belajar, dengan kecepatan yang maksimum, bagaimana menambah satu bentuk dengan bentuk lain, menggamtikan satu bentuk dengan bentuk yang lainnya, dan menyesuaikan taktik kita dengan setiap perubahan yang ditimbulkan bukan oleh klas kita, ataupun oleh usaha-usaha kita.

Revolusi dunia telah didorong dan dipercepat begitu hebat oleh kengerian-kengerian, kekejian dan kebengisan-kebengisan perang dunia imperialis dan oleh keadaan yang tak memberikan harapan yang telah ia ciptakan, — revolusi ini sedang berkembangmeluas dan mendalam dengan kecepatan yang begitu hebat, dengan kekayaan bentuk-bentuk yang berganti-ganti yang begitu gemilang, dengan bantahan yang mengandung pelajaran dan praktis terhadap segala macam doktrinerisme, sehingga terdapat segala alasan untuk mengharapkan sembuhnya samasekali dengan cepat gerakan Komunis internasional dari penyakit kanak-kanak Komunisme “Sayap Kiri”.

 

27 April 1920.

 

 

T a m b a h a n

Sebelum penerbit-penerbit di negeri kami – yang telah dirampok oleh kaum imperialis seluruh dunian dalam membalas dendam kepada revolusi proletar, dan yang masih dirampok dan diblokade oleh mereka dengan tidak mengindahkan semua janji-janji yang telah mereka berikan kepada kaum buruh mereka – sebelum penerbit-penerbit kami berhasil mengeluarkan brosur saya, bahan-bahan tambahan telah sampai dari luarnegeri. Dengan samasekali tidak berpretensi bahwa saya dalam brosur saya menjadikan sesuatu yang lebih daripada catatan-catatan sepintas-lalu dari seorang publisis, saya akan menyinggung beberapa soal dengan singkat.

 

 

I

Perpecahan di kalangan kaum Komunis Jerman

Perpecahan di kalangan kaum Komunis di Jerman telah menjadi suatu kenyataan. Kaum “Kiri” atau “oposisi prinsipiil”, telah membentuk suatu “Partai Buruh Komunis” yang tersendiri, yang berbeda dengan “Partai Komunis”. Rupa-rupanya, suatu perpecahan juga akan segera terjadi di Italia – saya katakan rupa-rupanya, karena saya hanya mempunyai dua nomor baru (no. 7 dan 8) dari suratkabar Kiri, Il Soviet (Sovyet), di mana kemungkinan dan keharusan suatu perpecahan dibicarakan dengan terang-terangan, dan dalam pada itu juga dibicarakan tentang Kongres faksi “Abstentionist” (atau kaum boikotis, yaitu orang-orang yang menentang pengambilan bagian dalam parlemen), faksi mana masih merupakan bagian dari Partai Sosialis Italia.

Ada alasan untuk merasa kuwatir bahwa perpecahan dengan kaum “Kiri”, kaum anti-parlemen (sebagian juga kaum anti-politik, lawan-lawan partai politik dan yang menentang bekerja di dalam serikatburuh-serikatburuh) akan menjadi suatu gejala internasional, seperti perpecahan dengan kaum “Sentris” (atau kaum Kautskyis, kaum Languetis, kaum “Merdeka”, dan sebagainya). Biarlah jikapun demikian. Bagaimanapun juga, suatu perpecahan adalah lebih baik daripada canpur-aduk yang menghambat pertumbuhan partai, menjadi matangnya secara ideologi, teori dan revolusioner, serta pekerjaan prakteknya yang harmonis, yang benar-benar terorganisasi, yang benar-benar melapangkan jalan dari diktatur proletariat.

Biar kaum “Kiri” mengalami sendiri ujian praktek secara nasional dan internasional; biarkan mereka mencoba mempersiapkan (dan kemudian melaksanakan) diktatur proletariat tanpa suatu partai  yang disentralisasi keras dan memiliki disiplin baja, tanpa kecakapan untuk menguasai setiap lapangan, setiap cabang, setiap macam pekerjaan politik dan kebudayaan. Pengalaman praktek akan segera membikin mereka lebih pintar.

Yang hanya diperlukan yalah mengerahkan segala usaha mencegah perpecahan dengan kaum “Kiri” itu menghambat, atau berusaha ini menghambat sesedikit mungkin, tergabungnya menjadi satu partai yang diperlukan – yang tidak boleh tidak terjadi di masa dekat – dari semua peserta gerakan klas buruh, yang secara tulus dan jujur menyokong kekuasaan Sovyet dan diktatur proletariat. Adalah untung sekali bagi kaum Bolsyewik di Rusia bahwa mereka telah mempunyai waktu 15 tahun untuk perjuangan yang sistimatis dan yang dilaksanakan sampai selesai dalam menentang baik kaum Mensyewik (yaitu, kaum oportunis dan kaum “Sentris”) maupun kaum “Kiri”, lama sebelum mulai perjuangan massa yang langsung untuk diktatur proletariat. Orang-orang di Eropa dan Amerika sekarang terpaksa melakukan pekerjaan serupa itu dengan “tempo-tempo yang dipercepat”. Oknum-oknum tertentu, terutama sekali di antara orang-orang yang menuntut jadi pemimpin tapi tidak berhasil, dapat (jika mereka tidak mempunyai cukup disiplin proletar dan tidak cukup “jujur terhadap diri sendiri”) terus bertahan pada kesalahan-kesalahan mereka untuk waktu yang lama; tetapi apabila sudah datang waktunya, massa kaum buruh dengan sendiri akan dengan mudah dan cepat bersatu dan mempersatukan semua kaum Komunis yang jujur dalam satu partai yang mampu mewujudkan sitism Sovyet dan diktatur proletariat*.

 

 

  • Mengenai soal fusi kaum Komunis “Kiri”, kaum anti-parlemen, dengan kaum Komunis pada umumnya di kemudian hari, saya akan memberikan catatan tambahan sebagai berikut. Sepanjang yang dapat saya ketahui dari suratkabar-suratkabat kaum Komunis “Kiri” dan suratkabar-suratkabar kaum Komunis pada umumnya di Jerman, maka kaum Komunis “Kiri” mempunyai sesuatu keunggulan, yaitu mereka lebih pandai melakukan agitasi di kalangan massa daripada kaum Komunis pada umumnya. Saya berulang-ulang melihat sesuatu yang serupa ini dalam sejarah Partai Bolsyewik , sekalipun menurut ukuran yang lebih kecil dan dalam oraganisasi-organisasi setempat tertentu, dan bukan dalam rangka seluruh negeri. Misalanya dalam tahun 1907-1908 kaum Bolsyewik “Kiri” dalam beberap hal dan di beberapa tempat melakukan agitasi di kalangan massa dengan lebih berhasil daripada kami. Hal ini sebagian mungkin karena kenyataan bahwa pada saat revolusioner, atau pada waktu kenang-kenangan revolusioner masih segar, adalah lebih mudah mendekati massa dengan taktik negatif “belaka”. Akan tetapi hal ini belum suatu alasan yang membuktikan kebenaran taktik semacam itu. Biar bagaimana juga tidak ada kesangsian sedikitpun bahwa partai Komunis yang ingin menjadi pelopor sesungguhnya, barisan terdepan dari klas revolusioner, yaitu proletariat, dan yang, di samping itu, ingin belajar memimpin massa yang luas – tidak hanya massa pekerja dan tertindas yang proletar, tetapi juga yang non-proletar – harus tahu bagaimana melakukan propaganda, pengorganisasiandan agitasi dengan cara yang paling dapat diterima, paling mudah dimengerti, paling jelas dan hidup, di kalangan massa biasa di kota, maupun di kalangan massa di desa.

 

 

II

Kaum Komunis dan kaum Merdeka di Jerman

 

Dalam brosur ini saya telah menyatakan pendapat bahwa suatu kompromi antara kaum Komunis dan sayap Kiri dari kaum Merdeka adalah perlu dan berguna bagi Komunisme, tetapi bahwa hal ini tidak akan mudah dilaksanakan. Suratkabar-suratkabar yang saya terima  sesudah itu telah memperkuat pendapat ini mengenai kedua soal tersebut. Bendera Merah, majalah Comite Central Partai Komunis Jerman (Die Rote Fahne 56, Zentralorgan der Kommunistischen Partei Deutschlands – Spartakusbund – tertanggal 26 Maret 1920) nomor 32 memuat sebuat “pernyataan” dari Comite Central ini tentang “Putsch” (komplotan, avontur) militer Kapp-Lüttwitz dan tentang “pemerintah Sosialis”. Pernyataan ini benar sekali baik mengenai dalilnya yang pokok maupun kesimpulannya yang praktis. Dalilnya yang pokok yalah bahwa pada saat sekarang ini tidak ada “dasar  yang obyektif” bagi diktatur proletar sebab “jumlah yang terbanyak dari kaum buruh di kota” menyokong kaum Merdeka. Kesimpulannya yalah – suatu janji akan melakukan “oposisi yang loyal” (yaitu tidak mau mengadakan persiapan-persiapan untuk “menggulingkan dengan kekerasan”) terhadap suatu “pemerintah Sosialis asal saja partai-partai burjuis-kapitalis diasingkan darinya”.

Tak ragau-ragu lagi, taktik ini pada pokonya benar. Dan sekalipun tidak ada perlunya untuk membicarakan kesalahan-kesalahan kecil dalam perumusannya, kita tidak dapat berdiam diri untuk tidak mengatakan bahwa suatu pemerintah dari pengkhianat-pengkhianat sosial tidak dapat disebut (dalam sebuah pernyataan resmi dari Partai Komunis) sebagai pemerintah “Sosialis”; bahwa orang tidak dapat berbicara tentang pengasingan “partai-partai burjuis-kapitalis” pada hal partai-partai dari kaum Scheidemann dan dari tuan-tuan Kautsky dan Criepien adalah partai-partai burjuis-kecil-demokratis; bahwa orang tidak boleh menulis hal-hal yang seperti yangtercantum dalam fasal 4 dari pernyataan tersebut yang berbunyi:

 

“……….. Untuk dapat lebih lanjut menarik massa proletar ke Komunisme, maka suatu keadaan di mana kemerdekaan politik dapat dipergunakan secara tak terbatas, dan di mana demokrasi burjuis tidak dapat bertindak sebagai diktattur kapital adalah sangat penting dilihat dari sudut perkembangan diktatur proletar ……”

 

Keadaan yang demikian itu tidaklah mungkin. Gembong-gembong burjuis kecil, kaum Henderson jerman (kaum Scheidemann) dan kaum Snowden (kaum Criepien), tidak dan tidak dapat melangkah melampaui batas-batas demokrasi burjuis, yang, pada gilirannya, tidak dapat lain daripada diktatur kapital. Samasekali tidak ada perlunya menulis hal-hal semacam itu, yang dalam prinsip salah dan dalam politis merugikan, untuk mencapai hasil-hasil praktis yang telah diperjuangkan dengan tepat sekali oleh Comite Central Partai Komunis. Cukuplah dikatakan (jika orang hendak memperhatikan kesopanan-kesopanan parlemen) bahwa selama jumlah terbanyak dari kaum buruh kota mengikuti kaum Merdeka, kita, kaum Komunis, tidak boleh menghalang-halangi kaum buruh ini mengatasi ilusi-ilusi filistin-demokratis (yaitu, juga “burjuis-kapitalis”) mereka yang terakhir melalui pengalaman dengan pemerintah mereka “sendiri”. Hal ini adalah alasan yang cukup untuk mengadakan suatu kompromi yang benar-benar perlu, dan harus berupa penolakan untuk masa tertentu terhadap segala usaha menggulingkan dengan kekerasan pemerintah yang mendapat kepercayaan dari jumlah terbanyak dari kaum buruh kota. Sedang dalam agitasi massa sehari-hari, di mana orang tidak terikat pada kesopanan-kesopanan parlementer yang resmi, sudah tentu orang dapat menambahkan: Biarkan bajingan-bajingan seperti kaum Scheidemann’ dan kaum filistin seperti kaum Kautsky dan Crispien memperlihatkan dengan perbuatan-perbuatan mereka bagaimana mereka telah ditipu sendiri dan bagaimana mereka sedang menipu kaum buruh; pemerintah mereka yang “bersih” dengan “paling bersih” akan melakukan pekerjaan dalam “membersihkan” kandang-kandang Augeias 57 dari Sosialisme, Sosial-Demokratisme dan bentuk-bentuk pengkhianatan sosial lainnya.

Watak yang sesungguhnya dari gembong-gembong “Partai Sosial-Demokratis Merdeka Jerman” sekarang ini (gembong-gembong yang tentangnya dikatakan secara salah seolah-olah mereka sudah tidak mempunyai pengaruh samasekali, sedang, yang sebenarnya, malah lebih berbahaya lagi bagi proletariat daripada kaum Sosial-Demokrat Hongaria yang menamakan dirinya kaum Komunis  dan berjanji akan “menyokong” diktatur proletariat) diperlihatkan sekali lagi di waktu peristiwa Kornilov Jerman, yaitu putsch Kapp-Lüttwitz*. Suatu gambaran yang singkat tetapi nyata diberikan oleh artikel-artikel pendek dari Karl Kautsky: “Saat-saat yang Menentukan” (“Entscheidende Stunden”) dalam Freiheit 59 (Kemerdekaan, suratkabar kaum Merdeka) pada 30 Maret 1920, dan dari Arthur Crispien: “Tentang Situasi Politik” (dalam suratkabar itu juga tertanggal 14 April 1920). Tuan-tuan ini samasekali tidak mampu berfikir dan mengemukakan alasan seperti seperti orang-orang revolusioner.

 

  • Sambil lalu, hal ini telah disoroti dengan sangat jelas, ringkas, tepat dan secara Marxis dalam suratkabar yang baik sekali dari Partai Komunis Austria, Bendera Merah, tertanggal 28 dan 30 Maret 1920 (Die Rote Fahne 58, Wien, no.266 dan 267; L.L : “Ein neuer Abschnitt der deutschen Revolusion”) (L.L.:”Fase Baru Revolusi Jerman” Red.

Mereka adalah kaum demokrat filistin yang menangis terisak-isak, yang seribu kali lebih berbahaya bagi proletariat kalau mereka menyatakan diri sebagai pembela-pembela kekuasaan Sovyet dan diktatur proletariat, sebab, sesungguhnya, pada tiap saat yang sulit dan berbahaya mereka pasti berbuat khianat ….. meskipun dengan keyakinan yang paling “sungguh-sungguh” bahwa mereka membantu proletariat! Tidaklah kaum Sosial-Demokrat Hongaria, yang membaptiskan dirinya sebagai kaum Komunis, juga hendak “membantu” proletariat ketika mereka, karena sifat pengecut dan tak-bertulang-belakang mereka, menganggap keadaan kekuasaan Sovyet di Hongaria tidak mempunyai harapan lagi dan pergi dengan menangis terisak-isak kepada agen-agen kaum kapitalis Entente dan algojo-algojo Entente?

 

III

Turati & Co di Italia

Nomor-nomor suratkabar Itali Il Soviet tersebut di atas sepenuhnya memperkuat apa yang telah saya katakan dalam brosur ini tentang kesalahan yang dilakukan oleh partai Sosialis Italia dengan membiarkan adanya anggota-anggota dan malahan adanya suatu grup anggota-anggota parlemen semacam itu di dalam barisannya. Lebih jauh lagi ini diperkuat oleh seorang peninjau dari luar seperti wartawan suratkabar burjuis leberal Inggeris, The Manchester Guardian, di Roma, yang wawancaranya dengan Turati dimuat dalam surat kabar itu pada tanggal 12 Maret 1920. Wartawan ini menulis sebagai berikut:

 

“…….Pendapat tuan Turati yalah bahwa bahaya revolusi tidaklah sedemikian rupa sehingga menimbulkan kekuatiran yang tak beralasan di Italia. Kaum maksimalis meniup-niup api teori-teori Sovyet hanya supaya massa tetap bangun dan bergolak. Tetapi teori-teori ini adalah semata-mata pengertian-pengertian dalam dongengan, program-program yang belum matang, yang tidak dapat dipergunakan dalam praktek. Teori-teori ini hanya cocok untuk memelihara klas-klas pekerja dalam keadaan mengharap-harap. Orang-orang yang justru menggunakan teori ini sebagai umpan, untuk menyilaukan mata proletar, terpaksa melakukan perjuangan sehari-hari untuk memeras beberapa keuntungan ekonomi yang kerap kali tidak berarti agar dapat menunda-nunda datangnya saat di mana klas buruh akan kehilangan ilusi dan kepercayaan mereka kepada dongeng-dongeng kesayangan mereka. Dari sinilah timbulnya rentetan pemogokan yang panjang dari segala ukuran  dan dengan segala alasan sampai pada pemogokan-pemogokan yang paling akhir pada jawatan-jawatan pos dan kereta api – pemogokan-pemogokan yang membikin keadaan-keadaan negeri yang sudah susah menjadi lebih buruk lagi. Negeri dalam keadaan jengkel berhubung dengan kesulitan-kesulitan yang bersangkutan dengan persoalannya mengenai Adriatik, dibebani dengan hutang-hutangnya kepada luarnegeri dan dengan pengeluaran uang kertas secara tak terbatas, sekalipun demikian negeri masih jauh daripada menginsyafi perlunya menjalankan disiplin kerja, sebagai satu-satunya jalan yang dapat memulihkan ketertiban dan kemakmuran……”

 

Adalah terang bagaikan siang bahwa wartawan Inggeris ini dengan kebetulan membukakan kebenaran, yang rupanya diperelok dan ditutup-tutupi oleh Turati sendiri dan pembela-pembela, kakitangan-kakitangan serta inspirator-inspirator burjuisnya di Italia. Kebenaran ini yalah bahwa cita-cita dan aktivitas politik dari tuan-tuan Turati, Treves, Modigliani, Dugoni & Co. adalah sebenarnya dan persis seperti yang dilukiskan oleh wartawan Inggeris itu. Ini adalah bulat-bulat pengkhianatan sosial. Cobalah lihat hanya pembelaannya  ini terhadap ketertiban dan disiplin di kalangan kaum buruh, yang menjadi budk upahan yang membanting tulang untuk memperkaya kaum kapitalis! Dan alangkah sudah terkenalnya omongan Mensyewik ini bagi kami orang-orang Rusia! Alangkah berharganya pengakuan bahwa massa setuju dengan kekuasaan Sovyet! Alangkah dangkal dan burjuis-vulgernya ketidak-pengertian akan rol revolusioner dari pemogokan-pemogokan yang sedang meluas dengan spontan! Ya, memang, wartawan suratkabar burjuis-liberal Inggeris itu telah memberikan jasa yang merugikan kepada tuan-tuan Turati & Co. , dan dengan baik sekali telah memperkuat kebenaran tuntutan Kawan Bordiga dan teman-temannya dari Il Soviet, yang mendesak supaya Partai Sosialis Italia jika benar-benar ingin pro-Internasionale III, menendang dengan memberi malu tuan-tuan Turati & Co keluar dari barisannya dan menjadi Partai Komunis baik dalam nama maupun dalam perbuatan.

 

 

IV

Kesimpulan-kesimpulan yang salah dari dalil-dalil yang benar

Akan tetapi Kawan Bordiga dab teman-teman “Kiri”nya menarik kesimpulan yang salah dari kritik mereka yang benar terhadap tuan-tuan Turati & Co, yaitu bahwa mabil bagian di dalam parlemen adalah merugikan pada umumnya. Kaum “Kiri” Italia sedikitpun tidak dapat mengemukakan alasan yang sungguh-sungguh untuk membela pendapat ini. Mereka semata-mata tidak tahu (atau mencoba melupakan) contoh-contoh internasional tentang menggunakan parlemen-parlemen burjuis benar-benar secara revolusioner dan Komunis, yangtak dapat disangsikan lagi faedahnya dalam mempersiapkan revolusi proletar. Mereka semata-mata tidak mampu membayangkan  suatu cara “baru” dalam menggunakan parlemen, dan terus berulang-ulang serta tak henti-hentinya beteriak-teriak tentang cara “lama” yang non-Bolsyewik.

Di sinilah justru letak kesalahan mereka yang pokok. Tidak hanya dalam lapangan parlementer, tetapi juga dalam semua lapangan aktivitas, Komunisme harus mengemukakan (dan tanpa usaha yang lama, ulet dan keras ia tidak akan dapat mengemukakan) suatu yang baru secara prinsipiil, yang secara radikal meninggalkan tradisi-tradisi Internasionale II (di samping mempertahankan dan mengembangkan apa yang baik dalam Internasionale II).

Marilah kita sebagai contoh, misalnya, pekerjaan jurnalistik. Suratkabar-suratkabar, brosur-brosur dan suta-surat selebaran melakukan pekejaan yang perlu dalam propaganda, agitasi dan organisasi. Tidak satupun gerakan massa di negeri yang beradab maupun juga yang dapat bekerja tanpa alat jurnalistik itu. Tidak ada teriakan-teriakan terhadap “pemimpin-pemimpin”, tidak ada janji dengan sumpah untuk menjaga kemurnian massa dari pengaruh pemimpin-pemimpin akan dapat menghindarkan orang-orang dari keharusan  menggunakan untuk pekerjaan ini mereka yang berasal dari lingkungan intelektuil burjuis atau akan melepaskan orang dari suasan dan lingkungan “hakmilik perseorangan” burjuis-demokratis, di mana pekerjaan ini dilakukan di bawah kapitalisme. Bahkan dua setengah tahun sesudah digulingkannya burjuasi, sesudah direbutnya kekuasaan politik oleh proletariat, kami masih melihat suasana ini di sekeliling kami, lingkungan hubungan-hubungan hak milik perseorangan burjuis-demokratis ini  di kalangan massa (tani, pekerjatangan).

Parlementerisme adalah suatu bentuk aktivitas, jurnalistik adalah bentuk aktivitas  yang lain lagi. Isi dari keduanya dapat dapat bersifat Komunis, dia mesti bersifat Komunis jika mereka yang bekerja dalam kedua lapangan itu – pun juga dalam sebarang lapangan aktivitas lainnya di bawah kapitalisme dan di masa peralihan dari kapitalisme ke Sosialisme – orang tidak mungkin menghindari kesulitan-kesulitan yang khusus, persoaln-persoalan yang khusus yang harus diatasi dan dipecahkan oleh proletariat supaya dapat menggunakan untuk tujuan-tujuannya sendiri pekerjaan mereka yang berasal dari barisan burjuasi untuk memperoleh kemenangan atas prasangka-prasangka dan pengaruh-pengaruh intelektuik-burjuis, untuk dapat melemahkan perlawanan ( dan akhirnya merombak samasekali) keadaan burjuis-kecil.

Tidakkah kita sebelum perang tahun 1914 – 1918  menyaksikan di semua negeri banyak sekali contoh dari kaum anarkis “Kiri” yang ekstrim, kaum sindikalis dan lain-lainnya lagi yang mengutuk parlementerisme, mengejek kaum Sosialis parlementer yang sudah merosot menjadi burjuis, semacam nafsu mereka yang memburu kedudukan, dan seterusnya, akan tetapi yang sendiri mencapai kedudukan burjuis yang sama saja melalui jurnalistik dan melalui pekerjaan dalam sindikat-sindikat (serikatburuh-serikatburuh)? Bukankah contoh-contoh seperti tuan-tuan Jouhaux dan Marrheim, untuk membatasi di Perancis saja, adalah contoh-contoh yang tipikal?

Sifat kanak-kanak mereka yang “menolak” untuk ambil bagian dalam parlemen justru terletak dalam kenyataan bahwa mereka mengira dapat “memecahkan” masalah yang sulit untuk melawan pengaruh-pengaruh burjuasi-demoratis di dalam gerakan klas buruh dengan cara yang “sederhana” , “mudah”, yang seolah-olah revolusioner ini, sedangkan sebenarnya mereka hanya lari dari bayangan mereka sendiri, hanya menutup mata mereka terhadap kesulitan-kesulitan dan hanya mencoba menyingkirkan kesulitan-kesulitan itu ke samping dengan kata-kata belaka. Nafsu memburu kedudukan yang paling tidak tahu malu, menggunakan kursi-kursi dalam parlemen secara burjuis, memutarbalikkan secara reformis yang sangat menyolok mata aktivitas parlementer, kebiasaan filistin yang vulger, — semua ini adalah tak dapat diragukan merupakan sifat-sifat khusus yang biasa dan umum yang dilahirkan oleh kapitalisme di mana-mana, tidak hanya di luar tetapi juga di dalam gerakan klas buruh. Tetapi ia, kapitalisme, dan suasana burjuis yang diciptakannya (yang lenyap dengan sangat lambat sekalipun sudah digulingkannya burjuasi, sebab kaum tani selalu menghidupkan kembali burjuasi), menumbulkan dengan pasti dalam tiap lapangan aktivitas dan kehidupan apa yang pada dasarnya adalah juga karierisme burjuis, sovinisme nasional, kevulgeran filistin, dan lain-lain, hanya dengan variasi bentuk-bentuk yang sedikit saja.

Kawan-kawan mengira, kaum boikotis dan kaum anti-parlementer yang terhormat, bahwa kawan-kawan “bukan main revolusioner”, tetapi sebenarnya kawan-kawan takut pada kesulitan-kesulitan yang reltif kecil dalam perjuangan melawan pengaruh-pengaruh burjuis dari dalam gerakan klas buruh , sedangkan kemenangan kawan-kawan, yaitu, penggulingan burjuasi dan perebutan kekuasaan politik oleh proletariat, akan melahirkan kesulitan-kesulitan ini juga dalam ukuran yang lebih besar, yang tak terbatas lebih besar lagi. Seperti anak-anak, kawan-kawan takut pada kesukaran-kesukaran kecil yang kawan-kawan hadapi pada hari ini, dengan tidak mengerti bahwa besok dan lusa kawan-kawan akan terpaksa belajar juga, dan belajar dengan sungguh-sungguh, untuk mengatasi kesulitan-kesulitan itu juga, hanya dalam ukuran yang tak terhingga lebig besar lagi.

Di bawah kekuasaan Sovyet, ke dalam partai kawan-kawan dan ke dalam partai kami, partai-partai proletar, akan menyusup kaum intelek burjuis dalam jumlah ynag lebih besar lagi. Mereka akan menyelundup masuk ke Sovyet-Sovyet, pengadilan-pengadilan dan administrasi, sebab Komunisme tidak dapat dibangun jika tidak dengan bantuan bahan-bahan manusia yang diciptakan oleh kapitalisme, sebab kaum intelek burjuis tidak dapat disingkirkan dan dihancurkan, tetapi harus ditundukkan, dibentuk kembali, disesuaikan dan dididik kembali, sebagaimana kita harus – dalam perjuangan yang lama, yang dilakukan atas dasar diktatur proletariat – mendidik kembali juga kaum proletar sendiri, yang tidak dapat melepaskan prasangka-prasangka burjuis-kecil mereka dengan sekali gus, dengan suatu perbuatan ajaib, dengan perintah Ibu Maria, dengan perintah semboyan, resolusi atau dekrit, tetapi hany di dalam perjuangan massa yang lama dan sulit melawan pengaruh-pengaruh burjuis-kecil di kalangan massa. Di bawah kekuasaan Sovyet persoalan-persoalan ini juga, yang oleh kaum anti-parlementer dikesampingkan dengan begitu sombong, begitu congkak, begitu lancang dan begitu kekanak-kanakan dengan mengipaskan tangan – persoalan-persoalan ini juga sedang timbul lagi di dalam Sovyet-Sovyet, di dalam administrasi Sovyet, di kalangan “pengacara-pengacara” Sovyet (di Rusia kami telah menghapuskan, lembaga pengacara burjuis, tetapi ia sedang mulai hidup kembali dengan kedok   “pengacara-pengacara” ” Sovyet” 60). Di kalangan insinyur-insinyur Sovyet, guru-guru sekolah Sovyet dan pekerja-pekerja yang mendapat hak-hak istimewa, yaitu pekerja-pekerja yang paling ahli dan paling baik kedudukannya dalam pabrik-pabrik Sovyet, kami melihat terus kehidupan kembali betul-betul semua ciri negatif yang menjadi ciri-ciri khas bagi parlemeterisme burjuis, dan kami mengatasi hal-hal yang jahat ini – secara berangsur-angsur – hanya dengan perjuangan yang berulang-ulang, tak kenal lelah, terus menerus, lama dan ulet, dengan organisasi dan disiplin proletar.

Tentu saja di bawah kekuasaan burjuasi adalah “sukar” sekali untuk memberantas kebiasaan-kebiasaan burjuis dari partai kita sendiri, yaitu partai kaum buruh, adalah “sukar” untuk mengusir dari partai pemimpin-pemimpin anggota-anggota parlemen yang sudah biasa, yang sudah dengan tak berpengharapan lagi bobrok karena prasangka-prasangka burjuis; adalah “sukar” untuk mengenakan disiplin proletar pada sejumlah orang yang mutlak perlu (sekalipun sejumlah tertentu yang sangat terbatas) yang berasal dari barisan burjuasi; adalah “sukar” untuk membentuk dalam parlemen burjuis suatu fraksi Komunis yang sungguh-sungguh layak dihormati oleh klas buruh; adalah “sukar” untuk menjamin supaya orang-orang Komunis-anggota-anggota parlemen tidak membuang-buang waktu mereka secara parlementer burjuis, tetapi mencurahkan perhatiannya pada pekerjaan yang sangat mendesak dalam propaganda, agitasi dan organisasi di kalangan massa.  Kesemuanya ini adalah ““ukar”, sudah tentu; ini dulunya sukar di Rusia, dan akan lebih-lebih lagi sukarnya di Eropa Barat serta di Amerika, di mana burjuasinya jauh lebih kuat, dan sebagainya.

Tetapi semua “kesukaran” ini adalah kesukaran kanak-kanak belaka jika dibandingkan dengan persoalan-persoalan yang serupa betul, yang dalam keadaan bagaimanapun juga tidak boleh tidak akan mesti dipecahkan oleh proletariat ataupun sesudah direbutnya kekuasaan oleh proletariat. Dibandingkan dengan persoalan-persoalan mendidik kembali yang benar-benar mahabesar ini, persoalan mendidik kembali, di bawah diktatur proletariat, jutaan kaum tani dan majikan-majikan kecil, ratusan ribu buruh kantor, pegawai negeri dan kaum intelek burjuis, menundukkan mereka semuanya kepada negara proletar dan pimpinan proletar, mengalahkan kebiasaan dan tradisi-tradisi burjuis mereka – dibandingkan dengan masalah yang mahabesar ini, maka adalah mudah sekali seperti permainan anak-anak untuk membentuk, di bawah kekuasaan burjuasi, dalam parlemen burjuis, suatu fraksi Komunis yang sejati dari partai proletar yang sejati.

Jika kawan-kawan yang “Kiri” dan anti-parlemen sekarang tidak belajar mengatasi bahkan kesulitan yang sekecil itu, maka kita berani mengatakan dengan pasti bahwa mereka akan terbukti tidak mampu mencapai diktatur proletariat, tidak akan mampu menundukkan dan membentuk kembali kaum intelek burjuis dan badan-badan burjuis secara besar-besaran, atau mereka pasti akan terpaksa menyelesaikan pendidikan mereka sendiri dengan sangat terburu-buru, dan dengan tindakan yang terburu-buru ini akan menimbulkan kerugian amat besar pada perjuangan proletariat, mereka akan mebuat kesalahan-kesalahan lebih banyak daripada yang iasa, dengan memperlihatkan kelemahan dan ketidak cakapan lebih daripada yang umum, dan sebagainya, dan seterusnya.

Selama burjuasi belum digulingkan, dan sesudah selama ekonomi secara kecil-kecilan belum lenyap samasekali, maka suasan burjuis kebiasaan milik perseorangan dan tradisi filistin akan merusak pekerjaan proletar baik dari luar maupun dari dalam gerakan klas buruh, tidak hanya satu lapangan aktivitas, aktivitas parlementer, tetapi tidak boleh tidak tentu dalam setiap dan segala macam lapangan aktivitas sosial, dalam semua bidang kebudayaan dan politik dengan tiada kecualinya. Dan usaha untuk mengesampingkan, untuk menghindarkan diri dari salah satu masalah yang “tidak enak” atau kesulitan dalam satu lapangan aktivitas adalah kesalahan yang paling mendalam, yang di kemudian hari pasti harus ditebus. Kita harus belajar dan mengetahui bagaimana menguasai setiap lapangan pekerjaan dan aktivitas dengan tiada kecualinya, mengatasi segala kesukaran dan semua kebiasaan, adat dan tradisi burjuis di mana saja. Mengemukakan soal tersebut dengan sesuatu cara lain adalah tidak serius samasekali, kekanak-kanakan belaka.

 

12 Mei 1920.

 

 

 

V

Dalam edisi Rusia dari buku ini saya agak kurang tepat menguaraikan sikap Partai Komunis Belanda dalam keseluruhannya di lapangan politik revolusioner internasional. Karena itu saya mempergunakan kesempatan sekarang ini untuk memuat sepucuk surat dari kawan-kawan kami dari negeri Belanda tentang soal ini, dan memperbaiki istilah “kaum Tribunis Belanda”, yang saya pakai dalam teks bahasa Rusia, dan yang sekarang saya ganti dengan kata-kata “beberapa anggota dari Partai Komunis Belanda”

 

N.Lenin.

 

 

Surat dari Wijnkoop

Moskwa, 30 Juni 1920

 

Kawan Lenin yang tercinta,

Berkat kebaikan-hati kawan, kami, anggota-anggota delegasi Belanda ke Kongres II Internasionale Komunis telah mendapat kesempatan untuk membaca buku kawan Komunisme “Sayap Kiri”, suatu penyakit kanak-kanak” sebelum ia dicetak dalam bahasa-bahasa Eropa. Di beberapa tempat dalam buku ini kawan menekankan bahwa kawan tidak menyetujui rol yang dilakukan oleh beberapa anggota Partai Komunis Belanda dalam politik internasional.

Sekalipun demikian kami merasa kami harus mengajukan protes karena kawan meletakkan pertanggunganjawab pada Partai Komunis atas tindakan-tindakan mereka. Ini adalah sangat tidak tepat. Lebih dari itu, itu adalah tidak adil, karen anggota-anggota Partai Komunis Belanda yang dimaksud ini ambil bagian sedikit atau tidak ambil bagian  samaseklai dalam aktiviats Partai sehari-hari, dan juga berusaha dengan secara langsung ataupun tidak langsung, melaksanakan dalam partai Komunis Belanda semboyan-semboyan oposisi terhadap mana telah melakukan, dan hingga hari ini terus melakukan, perjuangan yang sekuat-kuatnya.

 

 

Salam Persaudaraan

(atas nama delegasi Belanda)

 

D.J. Wijnkoop

 

 

Ditulis dalam bulan

April – Mei 1920.

 

 

W.I. Lenin, Kumpulan Karya,

Edisi Rusia keempat

Jilid 31, hal. 1 – 97

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan

1.          Karya Komunisme “Sayap Kiri” , suatu penyakit kanak-kanak ditulis oleh W.I.Lenin untuk pembukaan Kongres II Internasionale Komunis dan diedarkan kepada semua peserta Kongres. Karya ini dimaksudkan untuk membantu Partai-partai Komunis yang masih muda untuk mencari jalan tepat dalam perjuangan revolusioner, membetulkan kesalahan-kesalahan langkah-langkah mereka, memperkenalkan kaum Komunis semua negeri dengan pengalaman kaum Bolsyewik yang terkaya, dengan strategi dan taktiknya supaya mempersenjati partai-partai sekawan dengan pengalaman ini. Dalil-dalil dan kesimpulan-kesimpulan terpenting dari karya Komunisme “Sayap Kiri” , suatu penyakit kanak-kanak menjadi dasar dari keputusan-keputusan Kongres ke-II Komintern.

Pekerjaan pokok mengenai buku ini dilakukan oleh Lenin pada bulan April 1920 (naskahnya telah selesai tanggal 27 April), bab-bab tambahan untuk buku ini ditulisnya tanggal 12 Mei, semasa ketika sudah berlangsung pekerjaan koreksian.

Pada tanggal 12 Juni 1920 buku sudah terbit dan hampir segera, pada bulan Juli, diterbitkan di Rusia Sovyet dalam bahasa Perancis dan Inggeris. Selama pertengahan kedua tahun 1920 buku ini terbit dalam bahasa Jerman di Berlin dan Hamburg, dalam bahasa Inggeris – di London dan New York, dalam bahasa perancis – di Paris, dalam bahasa Italia – di Milan.

2.          Internasionale II – perhimpunan partai-partai Sosialis Internasional –didirikan pada tahun 1889. Dengan mulainya zaman imperialis di dalamnya semakin berdominasi aliran-aliran oportunis. Ketika pada tahun 1914 mulai perang dunia, pemimpin-pemimpin Internasionale II secara terang-terangan berdiri membela politik imperialis pemerintah-pemerintah burjuis negerinya. Internasionale II bubar.

3.      Iskra — suratkabar Marxis ilegal se Rusia pertama. Diterbitkan oleh W.I. Lenin pada bulan Desember 1900 di luarnegeri, dari mana secara rahasia dikirim ke rusia. Iskra memainkan peranan yang sangat besar sekali dalam mempersatukan secara ideologi kaum Sosial-Demokrat Rusia, dalam mempersiapkan penyatuan organisasi-organisasi setempat yang berceceran di dalam partai Marxis revolusioner.

Setelah perpecahan partai pada Kongres ke II PBSDR (tahun 1903) menjadi kaum Bolsyewik dan kaum Mensyewik, Iskra pindah ke tangan kaum Mensyewik (sejak nomor 52) dan dinamakan Iskra-baru untuk membedakan dari Iskra -“lama” yang revolusioner.

Iskra-baru berhenti menjadi organ militan Marxisme revolusioner. Kaum mensyewik mengubahkan menjadi organ untuk berjuang melawan Marxisme, melawan Partai, menjadi mimbar pengkhotbah-pengkhotbah oportunisme.

4.          Pembicaraan berlangsung mengenai kaum Mensyewik, yang merupakan sayap Kanan, oportunis dari Sosial-Demokrat dalam PBSDR, dan mengenai Partai kaum “Sisialis-Revolusioner”.(Enser)

Kaum Sosialis-Revolusioner (kaum Enser) – partai burjuis kecil di Rusia, timbul pada akhir tahun 1901 – awal tahun 1902 sebagai hasil penggabungan berbagai macam perkumpulan dan grup Narodnik. Kaum Enser tidak melihat adanya perbedaan klas antara proletariat dan kaum pemilik kecil, mengaburkan perpecahan klas dan kontradiksi-kontradiksi di dalam kalangan kaum tani, menyangkal peranan pimpinan proletariat dalam revolusi.

Pada tahun-tahun perang dunia imperialis mayoritas kaum Enser bersikap sosial-sovinis.

Setelah kemenangan Revolusi Burjuis-Demokratis bulan Pebruari 1917 kaum Enser bersama-sama dengan kaum Mensyewik dan kaum Kadet menjadi sandaran pokok Pemerintah. Sementara burjuis-tuantanah kontra revolusioner, dan pemimpin-pemimpinpartai ( Kerenski, Avksentiev, Cernov) masuk ke dalam susunannya. Partai kaum Enser menolak menyokong tuntutan kaum tani untuk menghapuskan pemilikan tanah  oleh tuantanah, tampil melindungi hak milik tuantanah atas tanah; Menteri-menteri Enser dalam Pemerintah Sementara mengirim pasukan-pasukan tentara-polisionil melawan kaum tani, yang sedang merampas tanah tuantanah. Pada tahun-tahun intervensi militer asing dan perang sipil kaum Enser melakukan pekerjaan subversi kontra-revolusioner, secara aktif menyokong kaum intervensi dan jendral-jendral Garda Putih, turut serta dalam komplotan-komplotan kontra-revolusioner, mengorganisasi aksi-aksi teroris melawan tokoh-tokoh Negara Sovyet dan Partai Komunis. Setelah berakhirnya perang sipil kaum Enser meneruskan tindakan yang bermusuhan terhadap Negara Sovyet.

5.          Yang dimaksud yalah penembakan pada tanggal 4 (17) April 1912 terhadap kaum buruh yang tak bersenjata, yang melakukan pemogokan di tambang emas di Lena (Siberia) karena syarat-syarat hidup yang luarbiasa berat. Berita mengenai penembakan di Lena tersebar di seluruh negeri dan membangkitkan demonstrasi-demonstrasi, rapat-rapat protes dan pemogokan-pemogokan massal, dalam mana ikut ambil bagian sampai 300.000 kaum buruh.

6.      Duma Negara – lembaga perwakilan yang pemerintah tsar terpaksa bentuk sebagai akibat peristiwa-peristiwa revolusioner tahun 1905. Secara formil Duma Negara adalah badan legislatif, dalam kenyataannya ia tidak mempunyai kekuasaan riil.

Pemilihan untuk Duma Negara adalah tidak langsung, tidak sama dan tidak umum. Hak pilih klas-klas pekerja, dan juga bangsa-bangsa bukan Rusia yang tinggal di Rusia sangat dikebiri, bagian yang berarti dari kaum buruh dan kaum tani samasekali tidak mempunyai hak pilih. Menurut undang-undang pemilihan tanggal 11 (24) Desember 1905 satu suara tuantanah sama dengan 3 suara wakil burjuasi kota, 15 suara kaum tani dan 45 suara kaum buruh.

Duma Negara Pertama (April-Juli 1906) dan Duma Negara Kedua (Pebruari-Juni 1907) dibubarkan oleh pemerintah tsar.

Setelah melakukan kudeta pada tanggal 3 Juni 1907, pemerintah membuat undang-undanga pemilihan baru, yanglebih mengebiri lagi hak-hak kaum buruh, kaum tani dan burjuasi kecil kota dan yang menjamin kekuasaan penuh blok Seratus Hitam dari kaum tuantanah dan kapitalis besar dalam Duma Negara Ketiga (1907-1912) dan keempat (1912-1917).

7.         Yang dimaksud yalah para Bolsyewik-anggota-anggota Duma Negara IV, yaitu A.E.Badayev,          M.K.Muranov, G.I.Petrovski, F.N.Samoilov dan N.R Syagov. Pada sidang Duma tanggal 26 Juli (8 Agustus) 1914, di mana wakil-wakil semuafraksi burjuis tuantanah telah menyambut ikut sertanya Rusia tsar dalam perang inperialis, fraksi kaum Bolsyewik menyatakan protesnya yang tegas; ia menolak memberikan suara untuk kredit-kredit perang dan segera menjalankan propaganda revolusioner di tengah-tengah massa Rakyat. Pada bulan          Nopember 1914 para Bolsyewik anggota-anggota Duma ditangkap dan pada bulan Pebruari 1915 dibawa ke     muka pengadilan serta dibuang untuk seumur hidup ke daerah Turuhansk (Siberia Timur). Pidato-pidato yang     gagah berani dari anggota-anggota fraksi Bolsyewik waktu pengadilan, yang menelanjangi otokrasi tsar,       memainkan peranan besar dalam propaganda anti-militeris, dalam merevolusionerisasi kesadaran massa     kaum pekerja.

 

8           Languetisme —  aliran sentris dalam Partai Sosialis Perancis yang dikepalai oleh Languet. Selama perang imperilais dunia tahun 1914-1918 para Languetis menjalankan politik persetujuan dengan kaum sosial sovinis; mereka menyangkal perjuangan revolusioner dan berpegang pada posisi-posisi “membela tanahair”  dalam perang imperialis. Lenin menamakan kaum Longuetis sebagai nasioanlis-nasionalis burjuis kecil. Sesudah kemenangan Revolusi Sosialis Oktober kaum Longuetis dalam kata-kata menyatakan diri pemihak-pemihak diktatur proletariat, tetapi dalam kenyataannya tetap memusuhinya. Pada bulan Desember 1920 kaum Longuetis bersama dengan para reformis terang-terangan keluar dari Partai dan menggabung pada apa  yang dinamakan Internasionale 2½.

9.         Partai Buruh Merdeka Inggeris – PBM – suatu oragnisasi reformis yang didirikan oleh para pemimpin “serikatburuh-serikatburuh baru” pada tahun 1893 dalam syarat-syarat menggiatnya perjuangan pemogokan dan menghebatnya gerakan untuk membebaskan klas buruh Inggeris dari partai-partai burjuis. Dalam PBM masuk anggota-anggota “serikatnuruh-serikatburuh baru” dan rentetan serikatburuh lama, wakil-wakil kaum intelek dan burjuasi kecil yang berada di bawah pengaruh kaum Fabian. Partai dipimpin oleh Kein Hardie dan Ramsay McDonald. PBM sejak semulanya berpegang pada pendirian-pendirian reformis-burjui, mencurahkan perhatian utamanya pada bentuk perjuangan parlementer dan persekongkolan-persekongkolan parlementer dengan Partai Liberal. Sambil mengkarakterisasi Partai Buruh Merdeka Lenin menulis bahwa “dalam kenyataan Partai oportunis itu selalu tergantung dari burjuasi”.

10.     Kaum Fabian – anggota-anggota “Perhimpunan Fabian”, suatu organisasi Inggeris yang reformis, yang didirikan pada tahun 1884; ia mengambil namanya dari nama Panglima perang Roma abad ke-III sebelum Masehi, Fabius Maksim yang disebut “Cunctator” (“Pengulur”) karena taktiknya mengulur-ulur dan usaha-usaha menghindari pertempuran-pertempuran tegas dalam perang dengan Hannibal. Anggota-anggota Perhimpunan Fabian pada pokoknya yalah wakil-wakil kaum intelek burjuis, yaitu sarjana-sarjana, pengarang-pengarang, tokoh-tokoh politik ( S. dan B. Webb, R. Mac Donald, B. Shaw, dan lain-lainnya); mereka menyangkal keharusan perjuangan klas proletariat dan revolusi Sosialis, serta menyataknan bahwa peralihan dari kapitalisme ke Sosialismedapat hanya melalui jalan reforma-reforma kecil-kecilan, perobahan-perobahan lambat-laun terhadap masyarakat. Pada tahun 1900 Perhimpunan Fabian bergabung dengan Partai Labour.

11.     Ministerialisme (Menteriisme, atau “Sosialisme macam menteri”, atau sama juga “Millerandisme”) – taktik oportunis ikutsertanya kaum Sosialis dalam pemerintah-pemerintah burjuis yang reaksioner.

12.     Partai Sosial Demokratis Merdeka Jerman – partai sentris yang didirikan dalam bulan April 1917 pada Kongres pengesahan di Gotha. “Kaum Merdeka” mengkhotbahkan persatuan dengan kaum sosial-s0vinis, bercenderung untuk menyangkal perjuangan klas. Bagian terbesar dari Partai yalah organisasi Kautskyis “Persekutuan Kerja”. Dalam Oktober 1920 pada Kongres Sosial Dem0okratis Merdeka  di Halle terjadi perpecahan. Sebagaimana yang berarti pada bulan Desember 1920 menggabungkan diri dengan Partai Komunis Jerman. Elemen-elemen Kanan membentuk partai tersendiri dan mengambil nama yang lama, yaitu Partai Sosial Demokratis Merdeka Jerman; partai itu ada sampai pada tahun 1922.

13.         Rupanya, yang dimaksud yalah karangan W.I.Lenin “Apa yang tak boleh ditiru dalam gerakan buruh Jerman”, yang dimuat dalam bulan April 1914 dalam majalah Bolsyewik Proswescenie, di mana ditelanjangi perbuatan pengkhianatan seorang Sosial Demokrat Jerman, K.Legien yang pada tahun 1912, sewaktu perjalanannya ke Amerika, berpidato di Kongres AS untuk menyambut kalangan-kalangan resmi dan partai-partai burjuis AS.

14.     Kaum Spartakus – anggota-anggota Liga revolusioner kaum Sosial Demokrat Kiri Jerman yang didirikan R.Luxemburg, F. Mehring, C. Zetkin, J. Marchlewski, L. Iogiches (Tishka) dan W. Pick. Kaum Spartakus melaksanakan pekerjaan revolusioner di kalangan massa, mengorganisasi pemogokan-pemogokan, menelanjangi sifat imperialis dari perang dunia serta pengkhianatan gembong-gembong oportunis dari Sosial Demokrasi. Tetapi kaum Spartakus membuat kekliruan-kekeliruan yang serius mengenai beberapa  masalah teori dan politik yang terpenting. Lenin tidak hanya sekali mengkritik kesalahan-kesalahan kaum Sosial Demokrat Kiri Jerman, membantu mereka berpendirian tepat.

Pada bukan April 1917 kaum Spartakus menggabungkan diri pada Partai Sosial Demokratis Merdeka  Jerman yang sentris, dengan tetap memelihara kebebasan organisasi mereka sendiri “Liga Spartakus”, dan, setelah mengumunkan pada tanggal 14 Desember  Programnya, memutuskan hubungannya dengan “Kaum Merdeka”. Pada Desember 1818 – 1 Januari 1919 kaum Spartakus membentuk Partai Komunis Jerman.

15.     Komune Paris – pemerintah revolusioner klas buruh, yang dibentuk oleh revolusi proletar di Paris pada tahun 1871. Pemerintah diktatur proletariat pertama dalam sejarah. Ia bertahan selama 73 hari – tanggal 18 Maret sampai 28 Mei.

16.         Yang dimaksud yalah surat F.Engels kepada A. Babel tertanggal 18-28 Maret 1875

17.     Perdamaian Brest –Perjanjian Perdamaian antara Rusia Sovyet dan negara-negara Persekutuan empat (Jerman, Austria-Hongaria, Bulgaria dan Turki) yang ditanda tangani pada 3 Maret 1918 di Brest-Litovsk dan diratifikasi pada 15 Maret oleh Kongres ke IV luarbiasa Sovyet-Sovyet se Rusia. Syarat-syarat perdamaian adalah sangat berat bagi Rusia Sovyet. Menurut Perjanjian ini Polandia, harus jatuh di bawah kontrol Jerman dan Austria-Hongaria. Ukraina terpisah dari Rusia Sovyet dan dirobah menjadi negara yang tergantung dari Jerman, Kota-kota Kars, Batum dan Ardagan harus diserahkan kepada Turki. Pada bulan Agustus 1918 Jerman memaksakan pada Rusia Sovyet Perjanjian tambahan dan juga persetujuan keuangan di mana dinyatakan tuntutan-tuntutan perampokan baru.

Diadakannya Perdamaian Brest berhubungan dengan perjuangan tabah melawan Trotski dan grup anti-Partai “Kaum Komunis Kiri”, Perjanjian Perdamaian dengan Jerman ditandatangani hanya berkat usaha-usaha besar W.I.Lenin . Perdamaian Brest menjadi contoh gemilang kebijaksanaan dan keluwesan taktik Lenin, kepandaiannya untuk merumuskan, satu-satunya politik yang tepat dalam situasi yang istimewa pelik. Diadakannya Perdamaian Brest merupakan kompromi politik yang bijaksana.

Perjanjian Perdamaian memungkinkan Negara Sovyet memperoleh waktu tarik-nafas, mendemobilisasi tentara lama yang sedang menjadi lapuk dan membentuk tentara baru. Tentara Merah, mengembangkan pembangunan Sosialis  dan mengumpulkan kekuatan untuk perjuangan melawan kontra-revolusi dalamnegeri dan kaum intervensi asing. Diadakannya Perdamaian Brest membantu diperhebatnya lebih lanjut  perjuangan untuk perdamaian, meningkatkan semangat revolusioner dalam tentara-tentara dan massa Rakyat luas di semua negeri yang berperang. Sesudah Revolusi Nopember di Jerman pada tahun 1918, yang menggulingkan rezim monarkis, Komite Eksekutif Sentral se-Rusia pada 13 Nopember membatalkan Perjanjian Brest yang bersifat perampokan itu.

18.         Yang dimaksud yalah kaum Otzowis dan Ultimatis. Perjuangan melawan mereka berkembang pada tahun 1908 dan sebagai hasilnya pada tahun 1909 pemimpin kaum Otzowis, A.Bogdanov, dipecat dari barisan kaum Bolsyewik. Kaum Otzowis dengan bersembunyi di bawah frase-frase revolusioner menuntut  menari kembali (“otozwat” dalam bahasa Rusia. Dari sini namanya “Otzowis”) wakil-wakil Sosial Demokrat dari Duma Negara ke-III dan menghentikan pekerjaan dalam organisasi-organisasi legal, yaitu serikatburuh-serikatburuh, koperasi-koperasi, dan lain-lainnya. Ultimatisme merupakan Otzowisme macam lain. Dengan tidak mengerti keharusan menjalankan pekerjaan yang tegas dan tekun di tengah-tengah wakil-wakil Sosial-Demokrat, mendidik mereka menjadi anggota-anggota parlemen yang konsekwen revolusioner, kaum Ultimatis mengusulkan mengajukan  ultimatum kepada fraksi Sosial-Demokratis di Duma supaya mereka tunduk sepenuhnya pada keputusan-keputusan CC Partai, dan jika mereka tidak memenuhi ultimatum itu, maka menarik kembali wakil-wakil Sosial-Demokratis itu dari Duma. Musyawarah dewan redaksi sutakabar Bolsyewik Proletariat yang diperluas, pada bulan Juni 1909 dalam keputusannya menunjukkan, bahwa “Otzowisme dan Ultimatisme samasekali asing bagi Bolsyewisme sebagai aliran tertentu dalam PBSDR”, dan menyerukan kepada kaum Bolsyewik untuk melakukan perjuangan paling tegas melawan penyelewengan-penyelewengan ini dari jalan Marxisme revolusioner.

19.         Pada tanggal 6 (9) Agustus 1905 diumumkan manifes tsar, yaitu perundangan tentang diadakannya Duma Negara serta peraturan tentang pemilihan untuknya. Duma mendapat sebutan Duma Buligin menurut nama Menteri Dalamnegeri, A.G.Buligin, yang ditugaskan oleh tsar untuk menyusun rancangan Duma. Menurut rancangan itu Duma tidak berhak menerima undang-undang apapun tetapi dapat hanya membahas beberapa masalah sebagai organ permusyawaratan di bawah tsar. Kaum Bolsyewik menyerukan kepada kaum buruh dan tani untuk memboikot secara aktif Duma Boligin dan memusatkan seluruh kampanya agitasi di sekita semboyan-semboyan: pemberontakan bersenjata, tentara revolusioner, pemerintah sementara yang revolusioner. Kampanye pemboikotan Duma Buligin digunakan  oleh kaum Bolsyewik untuk mengerahkan semua kekuatan revolusioner, pemerintah sementara yang revolusioner, untuk mengadakan pemogokan-pemogokan politik yang massal dan mempersiapkan pemberontakan bersenjata. Pemilihan untuk Duma tidak dilaksanakan dan pemerintah tidak berhasil mengadakan Duma itu; pasang naik revolusi dan pemogokan politik se Rusia pada Oktober 1905 menggagalkan Duma ini.

20.         Yang dimaksud yalah pemogokan politik se Rusia bulan Oktober 1905 selama revolusi Rusia pertama. Jumlah orang yang ikut serta dalam pemogokan umum bulan Oktober adalah lebih dari dua juta. Pemogokan bulan Oktober dberlangsung di bawah semboyan-semboyan: menggulingkan otokrasi tsar, memboikot secara aktif Duma Buligin, mengadakan Konstituante dan menetapkan Republik Demokratis. Pemogokan politik se Rusia menunjukkan segala kekuatan dan kemegahan gerakan buruh, memberi dorong untuk diperluasnya perjuangan revolusioner di desa, Tentara dan Angkatan Laut.

21.     “Kaum Komunis Kiri” – grup anti-partai, timbul pada awal tahun 1918 sehubungan dengan penandatangan perjanjian perdamaian Jerman (Perdamaian Brest). Sambil menyelimuti diri dengan frase-frase tentang perang revolusioner, “kaum Komunis Kiri” mempertahankan politik avonturis yang menyeret Republik Sovyet yang belum mempunyai tentara ke peperangan melawan Jerman imperialis dan menempatkan Republik Sovyet di bawah ancaman kehancuran. W.I.Lenin dan kawan-kawan sepemikirannya terpaksa melakukan perjuangan teguh melawan Trotski dan “kaum Komunis Kiri”, agar supaya mencapai keputusan mengenai penandatangan perjanjian perdamaian dengan Jerman dan dengan itu dijelmakan Republik Sovyet yang muda dari kehancuran.

Sebagai hasil perjuangan Partai “kaum Komunis Kiri” pada bulan Mei-Juni 1918 kehilangan sebarang arti.

22.     Kaum labouris—anggota-anggota Partai Buruh Inggeris (labour Party) yang didirikan pada tahun 1900 sebagai perhimpunan serikatburuh-serikatburuh, organisasi-organisasi dan grup-grup Sosialis dengan maksud memasukkan wakil-wakil kaum buruh ke dalam parlemen (“Komite Perwakilan Buruh”). Pada tahun 1906 Komite itu diromah namanya menjadi Partai Buruh (Labou). Anggota-anggota serikatburuh-serikatburuh secara otomatis menjadi anggota-anggota Partai jika mereka membayar iyuran Partai.

Partai Buruh, yang mula-mulanya terbentuk sebagai partai kaum buruh menurut keanggotannya (kemudian di dalamnya masuk elemn-elemen burjuis-kecil yang banyak jumlahnya) kini menurut ideologi dan taktiknya merupakan organisasi oportunis. Sejak timbulnya Partai itu pemimpin-pemimpinnya menjalankan politik kerjasama klas dengan burjuasi. Di masa perang imperialis dunia (1914-1918) gembong-gembong Partai Buruh (A.Henderson, dan lain-lainnya) mengambil sikap sosial-s0vinis dan masuk ke dalam pemerintah royalis; dengan bantuannya yang aktif diterima rentetan undang-undang yang bertujuan melawan kaum buruh (tentang militerisasi negeri, dan lain-lainnya). Gembong-gembong Labouris telah tidak hanya sekali mengepalai pemerintah.

23.     Kaum Kadet –anggota-anggota partai konstitusionil-demokratis, partai utama burjuis leberal monarkis di Rusia. Partai kaum Kadet dibentuk pada bulan Oktober 1905;  ke dalam susunannya masuk wakil-wakil burjuasi, tuantanah dan kaum intelek burjuis. Untuk membohongi klas pekeja kaum kadet memberi pada dirinya nama palsu “partai kemerdekaan rakyat”, dalam kenyataannya mereka menuntut tidak lebih dari monarki konstitusionil. Pada tahun-tahun perang dunia pertama kaum Kadet dengan aktif menyokong politik luarnegeri perampokan dari pemerintah tsar. Pada masa Revolusi Burjuis-Demokratis bulan Pebruari 1917 mereka berusaha menyelamatkan monarki. Dengan menempati kedudukan pimpinan di dalam Pemerintah Sementara burjuis, kaum Kadet melakukan politik kontra-revolusioner, anti-Rakyat. Setelah kemenangan Revolusi Sosialis Oktober kaum Kadet tampil sebagai musuh yang tak kenal damai dari Kekuasaan Sovyet, ambil bagian aktif dalam semua aksi-aksi kontra-revolusioner bersenjata dan serangan-serangan kaum intervensi. Dengan berada di emigrasi setelah pengahncurkan kaum intervensi dan Garda Putih, anggota-anggota partai kaum Kadet tidak menghentikan kegiatan-kegiatan kontra-revolusioner anti-Sovyetnya.

24.     “Oposisi prinsipiil” ––  Grup kaum Komunis “Kiri” Jerman yang mengkhotbahkan pandangan-pandangan anarko-sindikalis. Kongres ke-II Partai Komunis Jerman pada bulan Oktober 1919 di Heidelberg memecat oposisi itu dari partai; oposisi pada bulan April 1920 membentuk apa yang dinamakan Partai Buruh Komunis Jerman (PBKJ). Pada bulan Nopember 1920, dengan maksud mempermudah penggabungan semua kekuatan Komunis Jerman dan memperhitungkan keinginan-keinginan elemen-elemen proletar yang terbaik dlama PBKJ, oposisi itu untuk sementara waktu diterima ke dalam Kokintern dengan hak anggota yang bersimpati. Tetapi Komintern menganggap hanya Partai Perstuan Komunis Jerman sebagai satu-satunya seksi Komite Eksekutif yang berkuasa penuh. Waktu penerimaan ke dalam Komintern terhadap wakil-wakil PBKJ dinyatakan tuntutan untuk berfusi dengan Partai Persatuan Komunis Jerman dan mendukung semua tindakannya. Tetapi pimpian PBKJ tidak mengikuti petunjuk-petunjuk Komite Eksekutif Komintern. Kongres ke III Komintern (Juni-Juli 1921), dengan maksud berjuang untuk mempengaruhi kaum buruh yang masih mengikuti PBKJ, memutuskan untuk memberikan PBKJ waktu selama dua bulan di mana ia harus mengadakan Kongres dan memecahkan masalah tentang fusi. Pemimpin-pemimpin PBKJ tidak memenuhi keputusan Kongres ke-III dan dengan demikian PBKJ  ternyata di luar Internasionale Komunis. Kemudian PBKJ merosot menjadi grup sektaris yang samasekali tidak berarti dan yang tak mempunyai landasan dalam klas buruh.

25.     Internasionale Ketiga, Internasionale komunis – organisasi proletariat revolusioner internasional, merupakan perhimpunan Partai-Partai Komunis berbagai negeri; berfungsi dari tahun 1919 sampai 1943.

Pembentukan Internasionale ke-III menjadi penting secara sejarah setelah perpecahan gerakan buruh, yang disebabkan pengkhianatan pemimpin-pemimpin oportunis Internasionale II terhadap urusan Sosialisme pada awal perang dunia pertama dan menjelang runtuhnya  Internasionale II. W.I.Lenin memainkan peranan istimewa  dalam pembentukan Internasionale Komunis.

Kongres ke I Internasionale Komunis berlangsung pada tanggal 2-6 Maret 1919 di Moskwa. Kongres menerima Manifes kepada kaum proletar sedunia, yang di dalamnya dinyatakan, bahwa Internasionale Komunis merupakan penerus ide-ide Marx dan Engels, yang dinyatakan dalam “Manifes partai Komunis”

Internasionale Komunis membangun kembali dan memperkokoh hubungan antara kaum pekerja semua negeri, memungkinkan penelanjangan oportunisme dalam gerakan buruh internasional, perkokohan Partai-Partai Komunis yang masih muda, pengolahan strategi dan taktik gerakan Komunis internasional.

Pada bulan Mei 1943 Komite Eksekutif Komintern mengambil keputusan tentang pembubaran Internasionale Komunis, bertolak dari hal, bahwa bentuk organisasi persatuan kaum buruh, yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan tahap sejarah yang telah dilalui, kini telah usang.

26.     “Suratkabar buruh Komunis” (Kommunistische Arbeiterxeitung”) – organ grup anarko sindikalis kaum Komunis “Kiri” Jerman. Sutakabar ini terbit di Hamburg dari tahun 1919 sampai tahun 1927.

Karl Erler yang disebut oleh W.I. Lenin – nama samaran G. Laufenberg.

27.         Yang dimaksud yalah “Persekutuan Perjuangan untuk Pembebasan Kals Buruh” yang diorganisasi oleh W.I.Lenin pada musim rontok tahun 1895. “Persekutuan Perjuangan” penggabungan kira-kira dua puluh lingkaran Marxis di Petersburg. “Persekutuan Perjuangan” dikepalai oleh Grup Sentral. Pimpinan langsung terhadap “Persekutuan” terpusat dalam tangan lima anggota grup yang dikepalai oleh Lenin. Organisasi terbagi atas grup-grup distrik. Para buruh yang terdepan dan sadar (I.W.Babusykin, W.A. Syelgunov, dan lain-lain) menghubungkan grup-grup itu dengan pabrik-pabrik.

Menurut ungkapan Lenin “Persekutuan Perjuangan untuk Pembebasan Kals Buruh” merupakan benih Partai Revolusioner yang berdasarkan pada gerakan buruh dan mimpin perjuangan klas proletariat.

28.     Kaum Trudowik – grup kaum Demokrat burjuis kecil di dalam Duma-Duma Negara, yang terdiri dari kaum tani dan kaum intelek aliran Narodnik. Fraksi kaum Trudowik terbentuk pada bulan April 1906 dari wakil-wakil kaum tani dalam Duma Negara I. Dalam Duma kaum Trudowik bimbang antara kaum Kadet dan kaum Sosial-Demokrat revolusioner.

29.         Keanggotaan Partai mengalami perobahan sebagai berikut dalam masa sesudah Revolusi Pebruari 1917 hingga akhir tahun 1919: ketika Konperensi ke VII se Rusia dari PBSDR (B) (April) pada tahun 1917 angka itu yalah 80.000; kira-kira 240.000 ketika Kongres ke VI PBSDR(B) (Juli-Agustus 1917), tidak kurang dari 300.000 ketika Kongres ke-VIII PKR(B) (Maret 1919).

30.         Yang dimaksud yalah “Pekan Partai”, yang dilaksanakan menurut putusan Kongres ke-VIII PKR(B) tentang pembanyakan jumlah keanggotaan Partai. Pekan itu berlangsung dalam masa, ketika Negara Sovyet melakukan perjuangan sengit melawan intervensi militer asing dan kontra-revolusi dalamnegeri. Pekan Partai pertama-tama dilaksanakan di organisasi Partai PKR(B) di Petrograd mulai tanggal 10 sampai tangga 17 Agustus 1919 (Pekan Partai kedua di Petrograd berlangsung dalam bulan Oktober-Nopember 1919); mulai tanggal 20 sampai tanggal 28 September Pekan Partai dilakukan diorganisasi Partai di Gubernia Moskwa. Menggeneralisasi pengalaman pertama pelaksanaan Pekan Partai, Pleno PKR(B) pada tanggal 26 September 1919 memutuskan untuk melaksanakan Pekan Partai di kota-kota, di desa-desa dan dalam Tentara. Pada akhir September Comite Central mengirim pada semua organisasi Partai  sepucuk surat edaran di mana ditunjukkan bahwa kini sesudah selesainya pendaftaran kembali dan pembersihan keanggotaan hampir di semua organisasi, Ccmenganggap sudah tiba waktunya untuk menerima anggota-anggota baru ke dalam Partai, CC menegaskan, bahwa dalam masa Pekan Partai ke dalam Partai harus diterima hanya para buruh pria dan wanita prajurit-prajurit Tentara Merah, kelas, petani pria dan wanita . Semua yang lain tidak boleh diterima ke dalam Partai. Akibat Pekan Partai, di 38 Gubernia bagian Eropa RSSFR saja ke dalam Partai telah masuk lebih dari 200 ribu orang di antaranya lebih dari setengah yalah kaum buruh, sedang di medanpmedan pertempuran ke dalam Partai telah diterima hampir 25 persen dari seluruh jumlah prajurit dan kelasi. Lenin menulis, bahwa kaum buruh dan tani yang masuk ke dalam Partai pada saat yang begitu berat ini “merupakan kader-kader yang terbaik dan paling terpercaya dari pemimpin-pemimpin prletariat revolusioner dan bagian kaum tani yang tidak menghisap”.

31.         Konstituante dipanggil untuk bersidang pada tanggal 5 Januari 1918. Pemilihan untuk Konstituante belansung menurut daftar, yang disusun masih sebelum Revolusi Sosialis Oktober , dan susunan Konstituante mencerminkan imbangan kekuatan, ketika burjuasi berada dalam kekuasaan. Terjadi perpecahan antara keinginan mayoritas yang besar dari Rakyat, yang berdiri untuk kekuasaan Sovyet, dan politik yang dilakukan oleh mayoritas kaum Eser-Mensyewik-Kadet dalam Konstituante, yang mencermikan kepentingan-kepentingan burjuasi dan kaum tuan tanah. Mengingat, bahwa Konstituante menolak untuk membicarakan  “Deklarasi hak-hak Rakyat yang bekerja dan tertindas” dan menolak mengesahkan Dekrit Kongers ke-II Sovyet-Sovyet mengenai perdamaian, tanah, perpindahan kekuasaan kepada Sovyet-Sovyet, ia dibubarkan atas keputusan Komite Eksekutif Sentral Se-Rusia pada tanggal 6 (19) Januari 1918.

32.     Kommunisticeski Internasional – majalah organ Komite Eksekutif Internasionale Komunis; diterbitkan dalam bahasa Rusia, Jerman, Perancis, Inggeris, Spanyol dan Tionghoa. Nomor prtama diterbitkan pada 1 Mei 1919. Di majalah ini dimuat karangan-karangan tentang teori, dan dokumen-dokumen Komintern, di dalamnya telah dimuat serentetan karangan Lenin. Majalah menyoroti masalah-masalah pokok teori Marxis-Leninis berhubung dengan problim-problim gerakan Komunis dan buruh internasional, pengalaman pembangunan Sosialisme di Uni Sovyet, serta berjuang melawan pelbagai aliran anti-Leninis. Penerbitannya dihentikan pada bulan Juni 1943 menurut keputusan Presidium Komite Eksekutif Komintern tertanggal 15 Mei 1943 tentang pembubaran Internasionale Komunis.

33.     Folkets Dagblad Politiken (Harian Rakyat Politik) – suratkabar kaum Sosial-Demokrat Kiri Swedia yang pada tahun 1917 membentuk Partai Sosial-Demokrat Kiri Swedia; terbit di Stockholm mulai dari April 1916 (sampai Nopember 1917 bernama Politiken). Pada tahun 1921  Partai Sosial-Demokrat Kiri swedia masuk ke dalam Komintern dan menamakan diri Partai Komunis; suratkabar tersebut menjadi organnya. Sesudah perpecahan dalam Partai Komunis Swedia pada bulan Oktober 1929, suratkabar ini jatuh ke dalam tangan sayap Kanannya. Penerbitannya dihentikan pada bulan Mei tahun 1945.

34.     Entente – blok negara imperilais (Inggeris, Perancis dan Rusia), yang dengan pasti terbentuk pada tahun 1907; ditujukan melawan kaum imperilais Perserikatan Tiga Negara (Jerman, Austria-Hongaria, Italia). Namanya diperoleh dari persetujuan  Inggeris Perancis yang diadakan pada tahun 1904 “Entente cordiale” (“Persetujuan tulus-ikhlas”). Pada waktu perang dunia imperialis (1914-19180 pada Entente bergabung AS, Jepang dan lain-lain negeri. Setelah Revolusi Sosialis Oktober peserta-peserta pokok blok itu – Inggeris, Perancis, AS dan Jepang – adalah pengilham-pengilham, organisator-organisator dan peserta-peserta intervensi melawan Negara Sovyet.

35.     Kaum Buruh Industri Sedunia (Industrial Workers of the World – I.W.W.) – organisasi serikatburuh kaum buruh AS, yang didirikan pada tahun 1905; ia menggabungkan pada pokoknya kaum buruh berbagai keahlian yang tak berkwalifikasi dan rendah upahnya.Dalam keadaan gerakan pemogokan massal yang berkembang di AS di bawah pengaruh revolusi tahun-tahun 1905-1907 di Rusia I.W.W. melaksankan dengan sukses serentetan pemogokan massal,  berjuang melawan politik kerjasama klas yang dijalankan oleh gembong-gembong reformis dari Federasi Kerja Amerika dan oleh kaum Sosialis kanan. Dalam tahun-tahun perang dunia imperialis dengan ikut sertanya Federasi telah dilakukan beberapa aksi massal yang aktif dari klas buruh Amerika melawan perang. Sementara tokoh I.W.W. (W.Hagwood, dan lain-lain) telah menyambut Revolsui Sosialis Oktober  dan masuk ke dalam partai Komunis AS. Bersamaan dengan itu dalam kegiatan organisasi ini telah memperlihatkan diri ciri-ciri anarko-sindikalis: ia tidak mengakui adanya perjuangan politik oleh proletariat, mengingkari peranan memimpin dari partai, mengingkari keharusan diktatur proletariat, menolak bekerja di tengah-tengah anggota-anggota serikatburuh-serikatburuh, yang tergabung dalam Federasi Kerja Amerika. Gembong-gembong yang berpandangan anarko-sindikalis dari organisasi ini, dengan menggunakan kenyataan bahwa banyak tokoh-tokoh revolusioner meringkuk dalam penjara, pada tahun 1920, bertentangan dengan kehendak massa anggota serikatburuh, menolak surat Komite Eksekutif Internasionale Komunis yang menyerukan kepadanya agar menggabungkan diri pada Komintern. Akibat politik yang oportunis dari pimpinannya, I.W.W. telah berubah menjadi organisasi sektaris yang tidak lama kemudian kehilangan pengaruhnya dalam gerakan buruh.

36.     Il Soviet (Sovyet) – suratkabar Partai Sosialis Italia; terbit di Napoli mulai tahun 1918 sampai tahun 1922.

37.     Communismo (Komunisme) – majalah tengah bulanan Partai Sosialis Italia; terbit di Milan mulai tahun 1919 sampai tahun 1922 di bawah redaksi D. Serrati.

38.     Partai Sosialis Italia (PSIt) didirikan pada tahun 1892. Sejak saat didirikannya di dalam Partai berlangsung perjuangan ideologis yang sengit antara dua aliran, yaitu aliran oportunis dan aliran revolusioner. Pada tahun 1912 pada Kongres di Regio-Emilia di bawah tekanan kaum Kiri para reformis yang paling terang-terangan, yakni pemihak perang dan kerjasama  dengan pemerintah dan burjuasi ( I.Bonomi, L.Bissolati, dan lain-lain) telah dipecat dari Partai. Dari masa permulaan perang dunia imperialis sampai ikut sertanya Italia dalam perang itu PSIt menentang perang dan mengajukan semboyan: “Melawan perang untuk netraliet!” Pada bulan Desember tahun 1914 dari partai telah dipecat segolongan renegat (B.Mussolini, dan lain-lain) yang membela politik imperialis dari burjuasi dan memihak perang. Berhubung dengan ikut sertanya Italia dalam perang di pihak Entente (Mei 1915) dalam Partai Sosialis Italia dengan tajam terlihat tiga jurusan: 1) Kanan, yang membantu burjuasi melakukan perang; 2) Sentris, yang menggabungkan kebanykan anggota Partai dan bertindak di bawah semboyan:”jangan ikut serta dalam perang dan jangan menyabotnya” dan 3) Kiri yang berpendirian lebih tegas menentang perang, tetapi yang tidak mampu mengorganisasi perjuangan konsekwen melawannya. Kum Kiri tidak mengerti keharusan mengubah perang imperialis menjadi perang sipil, keharusan berpecah secara tegas dengan kaum reformis.

Sesudah Revolusi Sisialis Oktober di barisan PSIt sayap Kiri menjadi lebih kuat. Kongres ke-XIV Partai yang berlangsung pada 5 – 8 Oktober 1919 di Bolonia mengambil putusan bergabung dengan  Internasionale III. Wakil-wakil PSIt ambil bagian dalam pekerjaan Kongres ke-II Komintern. Kepala delegasi D. Serrati yang berpendirian sentris sesudah kongres menentang perpecahan dengan kaum reformis. Pada bulan Januari tahun 1921, pada Kongres ke XVII Partai di Leghorn kaum sentris yang merupakan mayoritas di kongres menolak untuk memutuskan hubungannya dengan kaum reformis dan mengakui sepenuhnya Syarat-syarat Penerimaan ke dalam Komintern. Wakil-wakil Kiri pada tanggal 21 Januari 1921 keluar dari kongres dan mendirikan Partai Komunis Italia.

39.         Kekuasaan Sovyet di Hongaria ditegakkan pada tanggal 21 Maret 1919.  RevolusiSosialis di Hongaria bersifat damai. Burjuasi di Hongaria tidak sanggup mengadakan perlawanan terhadap massa Rakyat; dengan tidak mampu mengatasi kesukaran-kesukaran dalam dan luarnegeri, ia memutuskan menyerahkan kekuasaan untuk sementara kepada kaum Sosial-Demokrat Kanan dengan maksud menghalangi perkembangan revolusi. Tetapi kewibaan Partai Komunis di kalangan massa pada waktu itu begitu tinggi dan tuntutan-tuntutan anggota-anggota biasa Partai Sosial Demokrat untuk bersekutu dengan kaum Komunis begitu tegas, hingga pimpinan Partai Sosial Demokratis mengusulkan pada para pemimpin Partai Komunis yang  ditangkap untuk membentuk pemerintah bersama. Gembong-gembong Sosial Demokrat terpaksa setuju dengan syarat-syarat yang diajukan olek kaum Komunis waktu perundingan, yaitu pembentukan pemerintah Sovyet, melucuti burjuasi, pembentukan Tentara Merah dan milisi Rakyat, penyitaan tanah-tanah tuantanah, nasionalisasi industri, diadakannya persekutuan dengan Rusia Sovyet, dan lain-lain. Pada waktu itu juga ditandatangani persetujuan tentang penyatuan  Kedua Partai menjadi Partai Sosialis Hongaria. Dalam penyatuan kedua Partai ini telah terjadi kesalahan-kesalahan yang kemudian mendatangkan akibatnya; penyatuan dilakukan dengan jalan penggabungan secara mekanis tanpapembersihan elemen-elemen reformis.

Pada sidangnya yang pertama Dewan Pemerintah Revolusioner segera mengambil keputusan tentang pembentukan Tentara Merah. Pada tanggal 26 Maret Pemerintah Sovyet Hongaria mengeluarkan dekrit-dekrit tentang nasionalisasi  perusahaan-perusahaan industri, pengangkutan, bank-bank; pada tanggal 2 April dilaksanakan dekrit tentang monopoli perdagangan luarnegeri. Upah kaum buruh diperbesar kira-kira dengan 25% dan harikerja 8 jam dipraktekkan; pada tanggal 3 April disyahkan undang-undang tentang land-reform yang menurutnya semua milik tuantanah yang lebih dari 100 hold (57 hektar) disita. Tetapi tanah yang disita itu tidak dibagi-bagikan kepada petani-petani yang tidak mempunyai tanah atau mempunyai sedikit saja, melainkan tanah itu diserahkan kepada koperasi-koperasi produksi pertanian yang didirikan di temapt-tempat dan kepada perusahaan-perusahaan pertanian negara. Kaum tani yang paling miskin dan yang berharap memperoleh tanah sudah kecewa. Hal ini menghalangi diadakannya persekutuan kokoh proletariat dengan kuam tani dan memperlemah kekuasaan Sovyet di Hongaria.

Kaum kapitalis Entente memusuhi penetapan diktatur proletariat di Hongaria; Republik Sovyet dikenakan blokade ekonomi. Terhadap Republik Sovyet Hongaria telah diorganisasi intervensi militer. Serang tentara intervensi mengaktifkan kontra-revolusi Hongaria. Pengkhianatan kaum Sosial-Demokrat Kanan yang bersekutu dengan imperialisme internasional juga merupakan salah satu sebab kehancuran Republik Sovyet Hongaria.

Situasi internasional yang tidak menguntungkan, yang timbul pada musim panas tahun 1919, di mana Rusia Sovyet telah diserbu dari segala jurusan dan tidak sempat memberi bantuan kepada Republik Sovyet Hongaria, juga memainkan peranan negatifnya. Pada tanggal 1 Agustus tahun 1919 sebagai tindakan-tindakan bersama dari intervensi imperialis dari luar dan kontra-revolusi dalam negeri, kekuasaan Sovyet di Hongaria digulingkan.

40.     Kaum Balnquis – pengikut-pengikut aliran dalam gerakan Sosialis Perancis, yang dipimpin oleh seorang revolusioner terkemuka, wakil kenamaan Komunisme utopis Perancis – Louis Auguste Blanqui (1805-1881). Kaum Blanquis mengharapkan “pembebasan umat manusia dari perbudaakan upahan tidak dengan jalan perjuangan klas proletariat, melainkan dengan jalan komplotan minoritas kecil kaum intelek” (W.I.Lenin). Sambil mengganti aktivitas Partai revolusioner dengan aksi-aksi segundukan kaum komplotan, mereka mengabaikan hubungan dengan massa, tidak mengerti keharusan adanya gerakan revolusioner massal.

41.     Der Volksstaat (Negara Rajyat) – suratkabar, organ sentral Sosial-Demokrasi Jerman (Partai kaum Eisenah); terbit di bawah redkasi K. Liebknecht pada tahun-tahun 1869-1876. K.Marx dan F. Engels pernah menulis untuk suratkabar ini.

42.     Liga Bangsa-Bangsa – organisasi internasional yang ada antara perang dunia pertama dan kedua; didirikan pada tahun 1919 pada Konferensi perdamaian Paris dari negara-negara pemenang perang dunia pertama. Mulai berfungsi pada tahun 1920. Piagam Liga Bangsa-Bangsa merupakan bagian dari Perjanjian Perdamaian Versailles tahun 1919, dan ditanda tangani oleh 44 negara. Kegiatan Liga Bangsa-Bangsa dilakukan melalui Majelis Umum, Dewana Liga Bangsa-Bangsa  dan Sekretariat tetap yang dikepalai oleh Sekretaris Jendral. Selama masa tahun-tahun 1920-1934 kegiatan Liga Bangsa-Bangsa bersifat bermusuhan terhadap Uni Sovyet. Pada tahun-tahun 1920-1921 Liga bangsa-Bangsa merupakan salah satu pusat organisasi intervensi bersenjata terhadap Negara Sovyet.

43.         Yang dimaksudkan yalah bagian dari surat F. Engels kepada Sorge, tertanggal 29 Nopember 1886, di mana Engels, sambil mengkritik sifat sektaris dari kegiatan kaum Sosial-Demokrat Jerman yang hidup di emigrasi di Amerika, juga mengatakan, bahwa bagi mereka teori adalag “suatu dogma dan bukan suatu pedoman untuk bertindak”.

44.         Dalam resensi mengenai buku ahli ekonomi Amerika, G.Ch.Carey “Surat-surat ekonomi politik kepada President Amerika Serikat”, N.G.Cernisyevski menulis; “Jalan sejarah bukanlah Trottoir di Jalan Raya Nevski; ia sepenuhnya melalui ladang-ladang, kadang-kadang rimbaraya. Mereka yang takut debu dan kotor sepatunya, jangan mulai melakukan kegiatan sosial”.

45.         Yang dimaksud yalah konperensi-komperensi Sosialis internasional di Zimmerwald dan Kienthal.

Konperensi Zimmerwald atau Konperensi Sosialis Internasional Pertama berlangsung pada tanggal 5 – 8 September 1915.

Konperensi Kienthal, atau Konperensi Sosialis Internasional Kedua berlangsung di suatu kampung Kienthal (Swis) pada 24 – 30 April 1916.

Konperensi Zimmerwald dan Kienthal membantu untuk, atas dasar ideologi Marxisme-Leninisme, menyatupadukan elemen-elemen Kiri Sosial Demokrasi Eropa Barat perjuangan untuk mendirikan partai-partai Komunis di negeri-negerinya dan untuk pembentukan Internasionale III, Internasionale Komunis.

46.     “Kaum Komunis Revolusioner” – suatu grup yang keluar dari Partai Kaum Sosialis Revolusioner Kiridan yang memutuskan hubungannya dengan mereka sesudah pemberontakan kaum Sosialis-Revolusioner Kiri pada bulan Juli tahun 1918. Pada bulan September tahun 1918 grup ini tersusun menjadi apa yang disebut “Partai Komunis Revolusioner” , dan mengajukan kerja sama dengan PKR(B) serta menyatakan, bahwa ia akan mendukung kekuasaan Sovyet. Program “Kaum Komunis Revolusioner ditandai dengan keruwetan dan sifat elektik dari pandangan-pandangannya. Dengan mengakui bahwa kekuasaan Sovyet-Sovyet menimbulkan prasart-prasarat untuk penegakan sistim Sosialis, bersamaa waktu “Kaum Komunis Revolusioner” mengingkari keharusan diktatur proletariat dari masa peralihan dari kapitalisme ke Sosialisme. Sesudah putusan Kongres ke-II komintern bahwa setiap negeri dapat ada hanya satu Partai Komunis, “Partia Kaum Komunis Revolusioner” pada bulan September tahun 1920 memutuskan masuk ke dalam PKR(B).

47.     Kaum Eser Kiri – partai kaum Sosialis Revolusioner Kiri (kaum internasionalis), secara organisasi terbentuk pada Kongres se-Rusia ke-I mereka, yang berlangsung pada tanggal 19-28 Nopember (2 – 11 Desember) 1917. Sebelum itu kaum Eser Kiri ada sebagai sayap Kiri partai kaum Eser, yang mulai terbentuk pada tahun-tahun perang dunia imperialis. Pada Kongres ke-II Sovyet-Sovyet se-Rusia kaum Eser-Kiri dalam masalah-masalah yang paling penting mengenai cara, memberikan suara bersama-sama dengan kaum Bolsyewik, ke dalam pemerintah Sovyet. Setelah kebimbangan yang lama kaum Eser-Kiri, dengan berusaha memelihara pengaruhnya di dalam kalangan kaum tani, setuju untuk bersepakat dengan kaum Bolsyewik, dan wakil-wakil mereka dimasukkan dalam beberapa kolegium Komisariat-komisariat Rakyat. Meskipun menempuh jalan kerjasama dengan kaum Bolsyewik, kaum Eser Kiri berpisah dengan mereka dalam masalah pokok pembangunan Sosialisme, tampil melawan diktatur proletariat. Pada bulan Januari-Pebruari 1918 CC Partai kaum Eser-Kiri mulai berjuang melawan diadakannya Perjanjian Perdamaian Brest, dan setelah Perjanjian itu ditanda tangani dan kemudian diratifikasi oleh Kongres ke-IV Sovyet-Sovyet pada bulan Maret 1918, kaum Eser Kiri keluar dari Dewan Komisaris-Komisaris Rakyat, tetapi terus tinggal dalam Kolegium-kolegiumKomisariat-Komisariat Rakyat dan dalam badan-badan kekuasaan setempat. Dengan perkembangannya revolusi Sosialis di pedesaan di kalangan kaum Eser-Kirisemangat anti-Sovyet menjadi semakin kuat. Pada bulan Juli 1918 CC kaum Eser Kiri mengorganisasi pembunuhan terhadap Duta Jerman di Moskwa, memperhitungkan dengan demikian memprovokasi perang antara Rusia Sovyet dan Jerman, dan membangkitkan pemberontakan bersenjata melawan kekuasaan Sovyet. Berhubung dengan itu Kongres ke-V Sovyet-Sovyet se-Rusia setelah penindasan pemberontakan itu mengambil keputusan mengenai pengusiran dari susunan Sovyet-Sovyet orang-orang Enser-Kiri yang menyetujui pandangan-pandangan pimpinan atasannya.

48.     Perjanjian Perdamaian Versailles yang mengakhiri perang dunia imperialis tahun-tahun 1914-1918 ditanda tangani pada tanggal 29 Juni tahun 1919 oleh AS, Imperium Britania, Perancis, Italia, Jepang dan negara-negara yang bergabung dengan mereka, di satu pihak, dan oleh Jerman di pihak lain.

Menilai Perjanjian Perdamaian Versailles, Lenin mengatakan: “Ini adalah Perjanjian perampokan yang belum pernah terjadi, yang menempatkan puluhan juta orang termasuk yang paling beradab, dalam kedudukan budak”. Perjanjian Perdamaian Versailles bermaksud untuk memperkuat pembagian dunia kapitalis kembali demi keuntungan negara-negara pemenang dan juga untuk membentuk suatu sistim hubungan-hubungan antara negeri-negeri, yang bertujuan untuk mencekik Rusia Sovyet dan menghancurkan gerakan revolusioner di seluruh dunia.

49.     Partai Sosialis Inggeris (PSIng) – (British Sosialist Party –BSP) didirikan pada tahun 1911 di Manchester sebagai akibat penyatuan Partai Sosial Demokratis dengan grup-grup Sosialis lainnya. PSIng menjalankan agitasi yang berjiwa ide-ide Marxisme dan merupakan partai yang “tidak oportunis dan benar-benar bebas dari kaum Liberal” (W.I.Lenin). Tetapi Partai itu bersifat agak sektaris karena keanggotannya yang kecil dan hubungannya yang lemah dengan massa. Selama perang dunia imperialis di dalam Partai itu berlangsung perjuangan sengit antara aliran internasionalis (W.Gallacher, A.Inkpin, J.McLean, F.Rothstein, dan lain-lain) dan aliran sosial-sovinis yang dikepalai oleh Hyndman. Di dalam aliran internasionalis terdapat lelemen-elemen yang tidak konsekwen yang berpendirian sentris mengenai serentetan masalah.

Konferensi tahunan PSIng yang berlangsung pada bulan April tahun 1916 di Salford mengecam pendirian sosial-sovinis dari Hyndman serta penganut-penganutnya dan mereka menarik diri dari Partai.

Partai Sosialis Inggeris menyambut Revolusi Sosialis Oktober Besar. Anggota-anggota PSIng telah memainkan peranan besar dalam gerakan kaum pekerja Inggeris untuk membela Rusia Sovyet dari intervensi asing. Pada tahun 1919 kebanyakan mutlak dari organisasi-organisasi Partai (98 lawan 44) menyatakan masuk ke dalam Internasionale Komunis. Partai Sosialis Inggeris bersma dengan grup Persatuan Komunis memainkan peranan utama dalam pembentukan Partai Komunsi Inggeris. Pada Kongres fusi yang petama yang berlangsung pada tahun 1920, kebanyakan mutlak organisasi-organisasi setempat PSIng menyeburkan diri ke dalam Partai Komunis.

50.     Partai Buruh Sosialis (Sosialist Labour Party) – organisasi revolusioner Marxis, didirikan pada tahun 1903 di Scotland oleh grup kaum Sosial-Demokrat Kiri yang pada pokoknya terdiri dari orang-orang Scotland dan yang memisahkan diri dari Federasi Sosial Demokratis.

Perhimpunan Sosialis Wales Selatan (South Wales Sosialist Society) – sebuah grup kecil yang pada pokoknya terdiri dari para buruh tambang Wales yang revolusioner. Perhimpunan timbul dari gerakan untuk reforma dalam pertambangan yang menjadi kuat secara nyata sudah ketika menjelang perang dunia pertama.

Ferderasi Buruh Sosialis (Worker’s Sosialist Federation) – organisasi yang kecil jumlah anggotanya, yang timbul pada bulan Mei tahun 1918 dari Perhimpunan Pembelaan Hak-Hak pemilihan Wanita dan yang pada pokonya terdiri dari para wanita.

Waktu pembentukan Partai komunis Inggeris (Kongres Pengesahan berdirinya berlangsung pada tanggal 31 Juli – 1 agustus tahun 1920) yang memasukkan ke dalam programnya  pasal-pasal tentang ikut sertanya Partai dalam pemilihan Parlemen dan penggabungan dengan Partai Buruh, organbisasi-organisasi tersebut, yang telah membuat kesalahan-kesalahan sektaris, tidak masuk ke dalam Partai komunis. Pada bulan januari 1921 Perhimpunan Sosialis Wales Selatan dan Fedesari Buruh Sosialis, yang pada waktu itu sudah bernama “Partai Komunis (Seksi Inggeris Internasionale Komunis)” berfusi dengan Partai Komunis Inggeris. Pimpinan Partai Buruh Sosialis menolak untuk berfusi.

51.     Workers’ Dreadnought – terbit di London mulai bulan maret tahun 1914 sampai bulan Juni tahun 1924; sampai bulan Juli 1917 terbit dengan judul Woman’s Dreadnought. Sesudah dibentuknya Federasi Buruh Sosialis pada tahun 1918 ia menjadi organ organisasi itu.

52. Manchester Guardian (Penjaga Manchester) – suratkabar burjuasi liberal, salah satu yang paling tersebar dan berpengaruh di antara suratkabar-suratkabar burjuis di Inggeris. Didirikan pada tahun 1821 sebagai mingguan (sejak tahun 1857 mulai terbit sebagai harian).

53. Yang dimaksud yalah pemberontakan kontra-revolusioner kaum burjuis dan tuantanah pada bulan Agustus tahun 1917, yang dipimpin oleh Panglima Tertinggi Tentara, jendral tsar, Kornilov. Kaum komplotan ini bertujuan merebut petrograd, menghancurkan Partai Bolsyewik, membubarkan Sovyet-Sovyet, menegakkan di negeri diktatur militer dan mempersiapkan pemulihan monarki.

Pemberontakan mulai pada tanggal 25 Agustus (7 September). Kornilov mengerahkan Korps Pasukan          Berkuda ke-3 ke Petrograd. Organisasi-organisasi Kornilov yang kontra-revolusioner di Petrograd itu sendiri juga siap-siap beraksi.

Pemberontakan Kornilov ditindas oleh kaum buruh dan tani yang dipimpin oleh Partai Bolsyewik. Di

bawah desakan massa, Pemerintah Sementara terpaksa memerintahkan menangkap Kornilov dan pengikut-pengikutnya dan membawa mereka ke muka pengadilan.

54.     Yang dimaksud yalah kudeta monarkis-militer, apa yang disebut “Putsch Kapp” yang dilaksanakan oleh kaum militeris reaksioner Jerman. Organisator-organisator Putsch itu adalah para monarkis, yaitu tuantanah Kapp dan jendral-jendral Ludendorff, Seckt dan Lüttwitz. Para komplotan ini mempersiapkankudeta itu dengan persetujuan terang-terangan dari Pemerintah kaum Sosial Demokrat. Pada tanggal 13 Maret 1920 jendral-jendral pemberontak membawa tentaranya ke Berlin dan dengan tidak menemui perlawanan dari pihak Pemerintah membentuk diktatur militer. Kaum buruh Jerman menjawab kudeta itu dengan pemogokan umum di bawah desakan proletariat, Pemerintahan Kapp runtuh pada tanggal 17 Maret; kaum Sosial-Demokrat kembali memegang kekuasaan

55.     Peristiwa Dreyfus –pemeriksaan provokatif yang diorganisai pada tahun 1894 oleh kalangan-kalangan monarkis-reaksioner dari kaum militeris Perancis terhadap Dreyfus, seorang perwira bangsa Yahudi dalam Staf Umum Perancis yang didakwa secara palsu, seolah-olah ia melakukan spionase dan mengkhianati negara. Hukuman seumur hidup, yang dijatuhkan oleh kaum militeris reaksioner terhadap Dreyfus, digunakan oleh kalangan-kalangan reaksioner Perancis untuk mengobar-kobarkan anti-Semit-isme dan menyerang rezim republiken serta kebebasan-kebebasan demokratis. Pada tahun 1898, ketika kaum Sosialis dan wakil-wakil terkemuka dari kaumDemokrat burjuasi (di antaranya E.Zola, J.Jaures, A. France, dan lain-lainnya) memulai kampanye untuk memeriksa kembali peristiwa Dreyfus, ia menjadi suatu peristiwa politik yang tajam dan memecah negeri menjadi dua kubu: kaum republiken dan kaum Demokrat, di satu pihak, dan blok kaum monarkis, kaum clerical, anti- Semit dan nasionalis, di pihak lain. Pada tahun 1899 berkat tekanan pendapat umum, Dreyfus telah dibebaskan; pada tahun 1906 menurut keputusan Pengadilan kasasi ia diakui sebagai tidak bersalah dankembali berdinas di tentara.

56.     Die Rote Fahne (Panji Merah) – suratkabar yang didirikan oleh K. Liebknecht dan R Luxenburg sebagai organ sentral “Liga Spartakus”, kemudian organ sentral Partai Komunis Jerman. Suratkabar ini terbit di Belin sejak tanggal 9 Nopember 1918; banyak kali mengalami represi-represi dan pelarangan dari pihak kekuasaan Jerman.

57.     Kandang Kuda Augeias – menurut mitologi Junani kuno kandang-kuda yang sangat luas sekali dari raja Elis, Augeias, yang dalam banyak tahun berturut-turut tidak dibersihkan dan yang oleh pahlawan Hercules dibersihkan dalam satu hari.

Ungkapan “kandang-kuda Augeias” – searti dengan penumpukan segala macam sampah dan kotoran atau kelengahan dan kekacauan yang sangat dalam urusannya.

58.     Die Rote Fahne (Panji Merah) – suratkabar, organ sentral Partai Komunis Austria; terbit di Wena sejak bulan nopember 1918.

59.         Die Freiheit (Kemerdekaan) – Harian, organ Partai Soaial-Demokratis Merdeka Jerman; terbit di Berlin sejak tanggal 15 Nopember tahun 1918 sampai tanggal 30 September 1922.

60. “Pengacara-pengacara” “Sovyet”—kolegium-kolegium pengacara-pengacara yang dibentuk pada bulan Pebruari tahun 1918 di bawah Sovyet-Sovyet Perwakilan Buruh, Prajurit, Petani dan Kosak. Pada musim semi tahun 1920 timbul masalah ditiadakannya kolegium-kolegium pengacara-pengacara karena di banyak kolegium ternyata besar pengaruh adpokat-adpokat burjuis yang memutarbalikkan dasar-dasar pengadilan Sovyet dan menyalahgunakannya. Pada bulan Oktober tahun 1920 kolegium-kolegium pengacara-pengacara itu ditiadakan.

61.         Atad dasar petunjuk W.I.Lenin ini dalam teks karya Komunisme Sayap “Kiri”, suatu penyakit kanak-kanak ungkapan “kaum Tribunis Belanda” di mana-mana diganti dengan kata-kata “beberapa anggota dari Partai Komunis Belanda”.

 

 

 

 

—–ooooooOooooo——

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: