Islam dan Komunikasi Global

Maret 17, 2011 pukul 3:05 am | Ditulis dalam Artikel | Tinggalkan komentar

Pendahuluan

Komunikasi global merupakan salah satu kekuatan yang sedang berkembang dewasa ini. Kehadirannya telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan seperti politik, ekonomi, budaya, militer, dan sebagainya. Kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan yang berjalan di dunia internasional tentu-nya tidak terlepas dari adanya peran komunikasi secara global. Persoalan yang menarik untuk dibahas bagaimana dunia Islam dalam menghadapi persoalan komunikasi global tersebut. Peran apa yang dimainkan oleh Islam dalam percaturan komunikasi global, serta upaya apa yang mesti dilakukan agar Islam dapat berperan secara signifikan dalam komunikasi global?

Agar dapat menjelaskan secara sistematis dan koheren, terlebih dahulu dijelaskan tentang sejarah dan bentuk-bentuk yang ada pada komunikasi global. Pembahasan ini penting dilakukan agar dapat memetakan posisi Islam dalam percaturan global, dan dapat mem-berikan kerangka yang jelas dalam membangun perannya. Selain itu, juga perlu dilihat kekuatan-kekuatan yang dimiliki oleh Islam secara inheren. Karenanya, perlu dilacak tentang adanya nilai-nilai dan tradisi-tradisi yang ada pada Islam berkenaan dengan komunikasi.

Mengingat komunikasi global bukan sebagai satu disiplin tersendiri atau sebagai sains tersendiri,1 maka pendekatan yang digunakan dalam membahas masalah ini lebih banyak menampilkan fenomena-fenomena yang terjadi di dalam komunikasi global dibandingkan dengan pendekatan-pendekatan normatif yang bersumber dari ilmu komunikasi. Meskipun demikian, penulis tidak akan mengabaikan begitu saja teori-teori yang ada, baik yang bersumber dari ilmu komunikasi, maupun yang bersumber dari Islam. Oleh karena itu, pemaduan antara pendekatan normatif dengan fenomena-fenomena komunikasi global menjadi satu hal yang tidak bisa dinafikan.

Komunikasi Global: Sejarah dan Bentuk-Bentuk Komunikasinya

Komunikasi sebagai salah satu disiplin ilmu sosial mulai berkembang di Amerika Serikat pada akhir tahun 1930-an. Tokoh-tokoh yang dianggap pertama kali melakukan studi tentang komunikasi manusia adalah Harold Lasswell, Paul Lazarsfled, Kurt Lewin, dan Carl Hovland.2 Meskipun komunikasi sebagai satu disiplin ilmu kehadirannya belum lama, tetapi perkembangannya begitu pesat, baik sebagai satu disiplin ilmu maupun sebagai skill.

Secara akademik kajian komunikasi terfokus kepada dua pendekatan utama, yaitu pendekatan yang memfokuskan kepada konteks situasional di mana komunikasi itu terjadi, dan pendekatan yang memfokuskan kepada fungsi-fungsi dari komunikasi.3 Dalam konteks situasional, ada enam kajian utama, yaitu: Interpersonal communication, small group communication, language and symbolic codes, organizational communication, public communication, dan mass communication. Sementara itu, dalam konteks fungsi-fungsi komunikasi, di antaranya sosialisasi, negosiasi, konflik, persuasi, dan sebagainya. Jika ditempatkan pada fokus kajian dan penelitian, maka komunikasi global dapat diletakkan pada pendekatan yang kedua, yakni melihat komunikasi dari sisi fungsinya.

Komunikasi global atau komunikasi internasional sebagai satu lapangan studi muncul pada abad ke-20, terutama setelah perang dunia kedua dan memasuki perang dingin. Suasana yang menye-babkan tumbuhnya kajian komunikasi internasional, yaitu: Pertama, adanya konflik, perang dan penggunaan propaganda internasional; Kedua, perkembangan organisasi-organisasi dan diplomasi interna-sional; Ketiga, penyebaran ideologi dan penggunaan komunikasi untuk menyebarkan pesan-pesan ideologi; Keempat, perkembangan teknologi komunikasi yang semakin canggih.4 Perkembangan ini semakin pesat terjadi terutama pada tahun 80-an di mana telekomunikasi dan teknologi komunikasi berkembang dengan pesat, munculnya negara-negara maju, dan berkembangnya organisasi-organisasi internasional.

Selama perang dingin berlangsung, komunikasi berperan sebagai pendorong adanya kekuatan ekonomi pada negara-negara maju seperti Inggris, Perancis, Jerman, Uni Sovyet, dan Amerika Serikat. Komunikasi internasional menjadi instrumen persuasif dan modernisasi antar-negara. Dengan adanya instrumen tersebut akan muncul kekuatan-kekuatan yang saling berebut. Itulah sebabnya pada era perang dingin ada dua kekuatan yang bersifat dikotomis antara kaum kapitalis dengan kaum komunis.

Setelah perang dingin berakhir di mana Uni Sovyet yang notabene kaum komunis mengalami kehancuran, terjadilah perubahan yang signifikan dalam komunikasi global. Dunia tidak lagi dipandang sebagai dunia yang dikotomis, melainkan menjadi sebuah tatanan dunia baru yang bersifat global atau mengutip istilah Marshall McLuhan (1968) sebagai “global village”.

Kecenderungan yang muncul pada tatanan dunia baru, sebagai-mana diungkapkan Huntington,5 ditandai oleh sejumlah fenomena universal civilization, yaitu: 1) Kecenderungan orientasi common to humanity is a whole, yaitu menuju kehidupan kemanusiaan yang mendunia sebagai satu kesatuan yang menyeluruh; 2) Kecenderungan compatible with the existence of many civilization in plural, yakni masyarakat makin trampil untuk menyesuaikan diri dalam pelbagai peradaban yang majemuk; 3) Kecenderungan common values-culture; 4) Kecenderungan creating a universal civilization.

Fenomena tersebut tentu saja akan mempengaruhi bentuk-bentuk komunikasi internasional, di antaranya: Pertama, dalam konteks komunikasi global, maka aktor di bidang komunikasi internasional bukan lagi negara, melainkan aktor-aktor non-negara seperti korporasi, organisasi non government dan gerakan sosial;6 Kedua, munculnya masyarakat informasi yang menurut Kennichi Kohyma (1970) ditandai dengan munculnya revolusi informasi dan fenomena informasi lainnya. Dalam era informasi, teknologi informasi—disebut juga teknologi intelektual—merupakan kegiatan utama masyarakat. Yang disebut teknologi informasi adalah ways of gathering, storing, manipulating, or retrieving information. Di situ sarana telekomunikasi dan komputer memegang peranan strategis dalam melakukan pertukaran informasi, dan pengetahuan yang sudah diolah, disaring dan dikeluarkan kembali.7

Ketiga, di dalam dunia politik, kekuatan (power), baik yang bersifat “hard power”, maupun “soft power”, banyak ditentukan oleh kekuatan yang bersumber dari teknologi dan jaringan informasi.8 Karenanya, tidak heran apabila Thomas L. Friedman, wartawan The New York Times mengatakan jika pada masa perang dingin sebagai warga dunia kita ditakutkan akan adanya serangan nuklir dan perlombaan senjata. Tetapi, pada masa globalisasi ini, kita lebih khawatir akan serangan virus komputer, karena virus komputer dapat merusak sistem pertahanan suatu negara.9

Keempat, terjadinya konflik budaya dan peradaban. Dengan bergesernya peran negara dalam percaturan hubungan internasional, maka aspek kebudayaan menjadi dominan dalam hubungan internasional. Sementara itu, setiap kelompok budaya cenderung etnosentrik, yakni menganggap nilai-nilai budaya sendiri lebih baik dari pada budaya lainnya dan mengukur budaya lain berdasarkan rujukan budayanya. Ketika kita berkomunikasi dengan orang dari suku, agama atau ras lain, kita dihadapkan dengan sistem nilai dan aturan yang berbeda. Sulit memahami komunikasi mereka bila kita sangat etnosentrik. Melekat dalam etnosentrisme ini adalah stereotip, yaitu generalisasi (biasanya bersifat negatif) atas sekelompok orang (suku, agama, ras, dsb.) dengan mengabaikan perbedaan-perbedaan individual.10 Hal ini juga yang diungkapkan oleh Samuel P. Huntington tentang adanya clash civilizations.

Kelima, dalam bidang ekonomi dan teknologi akan muncul regionalisme. Jika pada perang dingin terdapat regionalisme yang lebih mengedepankan pada geo-politik seperti NATO, SEATO, Pakta Warsawa dan sebagainya, tentunya pada era global ini, regionalisme ini mengarah pada kerjasama di bidang ekonomi dan teknologi. Hal ini akan memberikan pengaruh yang besar dalam hubungan inter-nasional dan dalam komunikasi global.

Islam: Nilai-Nilai dan Tradisi Berkomunikasi

Mengkaji tentang nilai-nilai dan tradisi yang ada pada Islam tentunya perlu untuk membongkar dan menganalisis sumber ajaran Islam yang pokok, yakni al-Qur’an dan Hadis. Di dalam al-Qur’an dan hadis Nabi terdapat banyak keterangan berkenaan dengan adanya komunikasi. Dalam hal ini komunikasi dipahami sebagai sebuah proses penciptaan makna antara dua orang atau lebih lewat penggunaan simbol-simbol atau tanda-tanda.11

Dengan pemahaman tersebut, dialog antara Jibril dengan Muhammad ketika pertama kali turun wahyu di Gua Hira dapat dikategorikan sebagai proses komunikasi. Di dalam dialog tersebut, Nabi yang awalnya tidak memahami apa yang ingin disampaikan oleh malaikat Jibril, pada akhirnya memahami dan mengikuti apa yang disampaikan oleh Jibril yang kemudian dikenal dengan wahyu pertama surat al-Alaq ayat 1-5.

Begitu juga ketika Nabi menyampaikan (menceritakan) peristiwa yang dialaminya kepada Istrinya dan seorang pendeta dapat dikatakan sebagai proses komunikasi. Betapa tidak, cerita yang dikisahkan oleh Nabi kepada isteri dan pendeta begitu jelas dan mendapat respons yang positif dari kedua orang tersebut. Hal ini berarti ada kesesuaian makna yang bisa ditangkap dari komunikator (Nabi) kepada komunikan (Khadijah dan Pendeta).

Tradisi komunikasi semakin sistematis terjadi ketika Nabi mulai mengajak umatnya untuk masuk Islam atau yang dikenal dengan istilah tabligh. Menurut Ibnu Khaldun seorang Filosof dari Andalusia bahwa istilah tabligh merupakan sebuah teori komunikasi dan etika.12 Dikatakan demikian mengingat di dalam ajaran Islam tabligh dalam operasionalisasinya tidak bisa dilepaskan dengan etika. Tanpa etika tabligh akan berjalan secara sewenang-wenang. Oleh karena itu, ada beberapa prinsip yang mesti dipegang ketika hendak mengembang-kan tabligh.

Pertama, tabligh hendaknya memegang prinsip tawhid sebagai prinsip fundamental dalam setiap aspek kehidupan. Dengan berpegang kepada prinsip ini, maka tabligh lebih diarahkan kepada usaha untuk menghancurkan atau membebaskan segala macam mitos yang menerpa individu maupun masyarakat. Di dalam era global seperti sekarang ini, mitos dapat berbentuk kekuatan (power), kekuasaan, modernisasi, media dan segala hal yang dapat menguasai individu atau masyarakat yang dapat mengalahkan manusia untuk tunduk kepada kekuasaan Tuhan. Prinsip ini sejalan dengan firman Allah “Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” (Q.S. Al-Anbiya: 25).

Kedua, prinsip amar ma’ruf nahy munkar (commanding to the right and prohibiting from the wrong). Prinsip ini merupakan prinsip tanggung-jawab setiap individu maupun institusi untuk mengajak orang lain atau institusi lain dalam menegakkan kepemimpinan dan cita-cita Islam. Dalam hal ini, institusi tidak hanya terbatas pada institusi dakwah, melainkan juga institusi-institusi seperti pers, radio, film dan sebagainya. Dalam menjalankan tanggung-jawab, al-Qur’an memberikan petunjuk dengan cara bijaksana (hikmah), nasehat yang baik dan dengan cara mujadalah yang ihsan (Q.S. An-Nahl: 125

Ketiga, prinsip ummah. Prinsip ini terutama berkaitan dengan kehidupan politik individu dan masyarakat Islam. Konsep ummah dalam Islam melebihi dari batas-batas negara dan batas-batas politik. Dengan konsep ini, Islam tidak memisahkan antara individu satu dengan individu lain sebagai anggota masyarakat. Ras, etnis, kesukuan dan nasionalisme tidak diakui oleh Islam. Islam mengakui adanya kebangsaan, perbedaan budaya, dan faktor geografis, tetapi Islam menolak adanya dominasi yang berdasarkan kepada kebangsaan. Oleh karenanya, tabligh dalam kerangka politik, spiritual dan etika harus memainkan peran yang dapat memelihara kesatuan komunitas Islam. Kemudian, tabligh pada level individu dan sosial berperan untuk menjaga hubungan yang harmonis antara Tuhan, individu dan masyarakat.

Keempat, prinsip taqwa. Prinsip ini menjadi landasan gerak setiap individu muslim di dalam menjalankan tabligh. Mengingat taqwa di dalam Islam menjadi standar kualitas seseorang dihadapan Allah, dan segala aktivitas yang kita lakukan semuanya mengharap kepada keridlaan-Nya. Oleh karena itu, taqwa hendaknya dijadikan landasan utama individu muslim dalam melakukan aktivitasnya.

Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa tabligh merupakan elemen penting di dalam membangun individu dan masyarakat. Tak heran apabila Ibnu Khaldun mengatakan bahwa tabligh dan Ashabiah merupakan dua faktor penting untuk kebangkitan dan kekuatan sebuah negara atau komunitas.13 Lebih jauh Ibnu Khaldun memahami tabligh sebagai institusi sosial yang tumbuh berdasarkan kebutuhan dari masyarakat. Tabligh merupakan sebuah forum umum yang berguna untuk bertukar pikiran antara orang-orang yang berbeda ras, bahasa dan sejarah. Oleh karenanya, sistem negara, pemerintahan dan politik akan memiliki kekuatan dan otoritas yang tinggi manakala sistem tersebut bersumber dari persaudaraan (ashabiah) dan tabligh yang dibawa oleh para orator (komunikator).14

Adanya tradisi tabligh yang berkembang di kalangan Islam—seperti yang diakui oleh Ibnu Khaldun—memberikan indikasi yang jelas bahwa tradisi komunikasi yang dominan dalam Islam adalah tradisi komunikasi lisan (oral communication). Hal ini pun diperkuat dengan beberapa keterangan ayat al-Qur’an yang membicarakan tentang tradisi lisan yang banyak dijadikan dalil oleh para ilmuwan Muslim. Al-Qur’an memerintahkan agar seorang da’i (komunikator) mengajak kepada mad’u (komunikan) dengan perkataan yang ma’ruf seperti tercantum dalam Q.S. an-Nisa ayat 5, perkataan yang mulia seperti tercantum dalam Q.S. al-Isra ayat 23, perkataan yang lemah-lembut (qaulan layyina) seperti tertera pada Q.S. Thaha ayat 44, dan perkataan yang berbekas pada jiwa (qaulan laligha) seperti yang terdapat dalam Q.S. an-Nisa ayat 63.

Meskipun demikian, pada jaman Rasulullah juga berkembang tradisi tulis-menulis. Terbukti ketika Rasulullah menerima wahyu langsung beliau memerintahkan kepada para Sahabat yang memiliki kemampuan menulis untuk menulis wahyu yang diterima Rasulullah. Padahal saat itu secara teknis sulit untuk melakukan tulis-menulis disebabkan belum tersedianya sarana seperti kertas dan alat tulis pena, disamping budaya yang kurang mendukung. Tetapi, para Sahabat berupaya untuk melakukannya. Begitu juga terhadap hadis Rasulullah, sebagian Sahabat yang memiliki kemampuan menulis dengan baik banyak menulis hadis, meskipun ada sebagian riwayat yang mengatakan bahwa Sahabat dilarang untuk menulis hadis.15

Di dalam al-Qur’an secara eksplisit memberikan penekanan tentang perlunya menulis, seperti yang digambarkan oleh Jalaluddin Rakhmat ketika menafsirkan surat al-Qalam ayat 1 yang mengutip hadis Rasulullah, yaitu: Sesungguhnya yang pertama diciptakan Allah adalah al-Qalam, kemudian Allah menciptakan Nun, yakni tinta. Kemudian ia berkata kepadanya: tulislah. Kata al-Qalam: Apa yang harus kutulis? Ia berfirman: Tulislah apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi sampai hari kiamat, baik perbuatan, peninggalan, maupun pemberian. Lalu al-Qalam pun menuliskan apa yang telah dan yang akan terjadi sampai hari kiamat. Itulah maksud firman Allah “Nun, perhatikan al-Qalam dan apa yang dituliskannya”.16

Tradisi tulis-menulis yang pernah terjadi pada jaman Rasulullah tidak berkembang pada jaman Sahabat dan Tabi’in. Pada era ini tradisi yang berkembang lebih didominasi oleh tradisi lisan. Tradisi tulis baru mengalami perkembangan signifikan ketika tumbuh industri-industri kertas dan banyaknya penulisan serta penerjemahan yang terjadi pada jaman dinasti Abbasiyah (+ abad ke-VIII dan ke-X).17 Tradisi ini pun pada akhirnya mengalami kemunduran dengan hancurnya dinasti-dinasti Islam dan munculnya kejumudan-kejumudan di kalangan umat Islam, terutama setelah abad ke-XI.

Kesadaran mulai bangkit kembali ketika umat Islam berkenalan dengan dunia luar, terutama Barat. Di samping ada motivasi yang tumbuh dari intern umat Islam dan dari ajaran Islam itu sendiri yang banyak mendorong umatnya untuk maju, seperti ajaran yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan (Q.S. al-Mujadalah: 11), bekerja keras (Q.S. al-Jumu’ah: 10, Q.S. al-Insyirah: 7), memanfaatkan waktu seefektif mungkin (Q.S. Al-Ashr: 1-3), memiliki tanggung-jawab dan kepedulian yang tinggi (Q.S. An-Nisa: 58, Q.S. An-Nahl: 90), dan berbagai ajaran lain yang memberikan dukungan positif untuk maju.

Sementara itu, hubungan dengan dunia luar—dalam konteks komunikasi— terjadi pertama kali dengan diperkenalkannya mesin cetak oleh penguasa Mongol pada awal abad ke-13 di wilayah Iran. Umat Islam di wilayah ini diperkenalkan mesin percetakan model Cina yang dipergunakan untuk mencetak uang kertas.18 Dan pada abad ke-15 Turki mengenal mesin cetak yang ditemukan oleh Gutenberg yang banyak dimanfaatkan oleh Barat untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.19 Pengenalan dengan mesin cetak ini membawa perubahan dan perkembangan bagi umat Islam terutama dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Banyak buku-buku yang berasal dari Barat dan peninggalan-peninggalan umat Islam (termasuk al-Qur’an) untuk dicetak dan disebarluaskan ke berbagai wilayah Islam. Dari sanalah umat Islam mulai menunjukkan geliatnya untuk bangkit dari tidurnya. Umat Islam mulai menyadari akan ketertinggalannya dengan dunia Barat. Pada awal abad ke-18 umat Islam mulai bangkit untuk mengadakan pembaharuan-pembaharuan, terutama di bidang pemikiran dan politik. Hegemoni Barat dalam Komunikasi Global

Sejak jatuhnya Islam dan terjadinya revolusi industri di negara-negara Barat, maka Barat mulai tampil sebagai pemain utama dalam penguasaan di bidang komunikasi. Ditemukan mesin cetak oleh Gutenberg membawa dampak yang cukup besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Barat terus melaju dalam pengem-bangan dan penemuan media komunikasi yang semakin canggih seperti photography, film, telephone, telegraphy, broadcasting, satellite, dan computer, serta internet.

Dengan berkembang pesatnya teknologi komunikasi di Barat, maka Barat terutama Amerika Serikat menguasai informasi dunia. Semua informasi yang berkembang di seluruh dunia bersumber dari media-media yang dikembangkan oleh Barat. Barat telah melakukan hegemoni dengan kekuatan komunikasi yang dimilikinya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Huntington bahwa komunikasi global merupakan salah satu manifestasi terpenting dari kekuatan Barat. Hegemoni Barat, bagaimanapun juga mendorong kaum populis Barat untuk menunjukkan bahwa budaya imperialisme Barat tengah bangkit, dan memperingatkan masyarakatnya supaya waspada terhadap kelangsungan hidup dan integritas kebudayaan mereka. Perluasan komunikasi global didominasi oleh Barat, itulah yang menjadi sumber utama keengganan dan penolakan masyarakat-masyarakat non-Barat terhadap Barat 20

Pernyataan Huntington di atas juga diakui oleh Akbar S. Ahmed bahwa pada abad ke-20 dan ke-21, Amerika dan negara-negara Eropa Barat nampak mendominasi dunia, terutama melalui media komuni-kasi.21 Kantor berita yang dimiliki negara-negara maju yang berpusat di New York, London dan Paris, seperti AP, UPI, AFP dan Reuter, tidak saja berperan dalam pembuat berita, tetapi juga menjadi penentu berita-berita apa yang layak disalurkan ke negara-negara berkembang.

Berita-berita yang dilansir oleh media Barat tentang Islam umumnya bersifat pejoratif dan steoretipe. Menurut Edward W. Said, banyak pemberitaan tentang Islam yang disajikan secara superfisial oleh media massa Barat. Hal itu terjadi bisa karena ketidaktahuan atau kesengajaan. Yang sering terjadi bahwa wartawan yang dikirim bukan hanya tidak mengetahui bahasa atau budaya lokal, tetapi juga asing terhadap wilayah di mana ia ditugaskan. Dalam situasi demikian, apa yang diberitakan adalah apa yang diketahui secara superfisial atau sesuatu yang ada di tangan. Dalam hal demikian kualitas dan akurasi berita tidak menjadi persoalan lagi. Sekalipun demikian kesimpulan Said, berita yang superfisial itu pun tidak akan ditentang konsumen berita di Barat.22

Selain itu, hegemoni Barat di bidang komunikasi global juga berdampak terhadap sektor-sektor lain, seperti ekonomi, politik dan budaya. Hal ini tidak terlepas dari adanya kemajuan-kemajuan di bidang media komunikasi, seperti yang diungkapkan oleh Majid Tehranian dalam bukunya Global Communication and World Politics bahwa betapa media komunikasi mempengaruhi berbagai area seperti militer, diplomasi, ekonomi, sains, pendidikan, budaya dan sebagainya.23 Dengan adanya hegemoni tersebut, Barat menjadi penentu di bidang ekonomi, politik dan budaya, sedangkan negara-negara dunia ketiga, termasuk negara-negara Islam, sangat bergantung kepada Barat.

Posisi dan Peran Islam dalam Komunikasi Global

Berdasarkan paparan di atas jelaslah bahwa secara teologis, Islam tidak menjadi hambatan untuk menjadikan umatnya maju dan berkembang. Bahkan, Islam sangat mendorong umatnya untuk menjadi umat yang terbaik di muka bumi ini (Q.S. Al-Imran: 110). Persoalan mendasarnya terletak pada posisi Islam (negara Islam) dalam komunikasi global di mana hegemoni Barat begitu kokoh dan menjadi pemain utamanya.

Dihadapkan pada persoalan tersebut, ternyata Islam tidak memiliki posisi yang signifikan. Sama halnya dengan negara-negara dunia ketiga pada umumnya. Mereka hanya sebagai negara yang banyak bergantung kepada informasi yang diberikan oleh Barat, khususnya Amerika Serikat. Dalam hal media komunikasi pun, umumnya negara-negara dunia ketiga, termasuk Islam hanya sebagai konsumen yang pemanfaatannya belum maksimal dirasakan oleh seluruh warga negaranya. Apalagi menjadi produsen dalam mencipta-kan media komunikasi, rasanya terlalu jauh untuk diharapkan.

Implikasi yang timbul dari posisi Islam seperti itu, dalam komunikasi global tentunya Islam belum memiliki kekuatan untuk berperan secara signifikan. Kehadiran Islam dalam komunikasi global baru sebatas wacana yang memiliki potensi besar untuk bangkit. Media-media yang banyak dimanfaatkan oleh Iran dalam membangun revolusinya seperti yang diungkapkan oleh Majid Tehranian dalam bukunya Global Communication and World Politics belum memberikan peran dalam percaturan global. Begitu juga, kantor-kantor berita yang ada di negara-negara Arab belum mampu menjadi pemasok berita utama di kalangan masyarakat muslim maupun masyarakat dunia.

Agar lebih meningkatkan perannya dalam komunikasi global, maka umat Islam sudah seharusnya melakukan upaya-upaya sistematis untuk mengejar ketertinggalannya. Oleh karena itu, ada beberapa agenda yang dapat ditempuh, yaitu sebagai berikut.

Pertama, era global merupakan moment penting bagi kebangkitan agama-agama. Menurut Naisbitt dan Aburdene, ketika orang-orang diterpa perubahan, kebutuhan akan kepercayaan spiritual semakin menguat. Ilmu dan teknologi tidak mengajarkan kepada kita apa makna hidup. Agamalah yang menjelaskan hal itu. Bagi kebanyakan orang, mencantelkan diri pada suatu budaya dan (atau) agama yang unik adalah suatu keniscayaan. Menganut suatu budaya atau agama tersebut adalah bagian identitas mereka yang membuat mereka tetap eksis di antara bangsa-bangsa dan penganut-penganut agama lain, dan tidak terasing dari lingkungan mereka yang semakin anonim. Manusia memang mempunyai banyak identitas yang berkaitan dengan peran-peran tertentu, namun salah satu identitas terpenting adalah identitas yang berkaitan dengan latar-belakang etnik dan agama mereka, baik disadari atau pun tidak.24

Di tengah-tengah momentum yang sangat bagus inilah sudah seharusnya umat Islam memfungsikan agama Islam sebagai sumber vitalitas peradaban. Karena agama, kata Arnold Toynbee, dapat menjadi sumber vitalitas suatu peradaban. Selanjutnya dikatakan “Saya yakin bahwa gaya suatu peradaban adalah perwujudan dari agamanya. Saya amat setuju bahwa agama telah menjadi sumber vitalitas yang telah menyebabkan kehadiran peradaban di dunia dan telah memper-tahankan kehadirannya”. Bahkan lebih dari itu, agama merupakan daya ikat spiritual yang telah menyatukan masyarakat yang beradab. “Dua penyakit sosial bawaan bagi peradaban adalah perang dan ketidakadilan sosial. Agama adalah daya pengikat spiritual yang telah menyatukan masyarakat yang beradab untuk suatu kurun waktu, walaupun vitalitasnya digerogoti oleh dua penyakit sosial yang menakutkan itu”.25

Upaya yang dapat dilakukan yakni menjadikan ajaran Islam sebagai ajaran yang dinamis dan relevan dengan tuntutan jaman, serta diorientasikan kepada kehidupan yang bersifat mondial. Dalam catatan sejarah, di jaman klasik umat Islam dengan pandangan dan orientasi mondial yang positif berhasil menciptakan ilmu pengetahuan yang benar-benar berdimensi universal atau internasional, dengan dukungan dari semua pihak. Hal ini digambarkan oleh Bernard Lewis, seperti yang dikutip oleh Cak Nur:

Pada masa-masa permulaan, banyak pergaulan sosial yang lancar terdapat di antara kaum muslim, Kristen dan Yahudi, sementara menganut agama masing-masing. Mereka mem-bentuk masyarakat yang satu, di mana perkawanan pribadi, kerjasama bisnis, hubungan guru-murid dalam ilmu, dan bentuk-bentuk aktivitas bersama lainnya berjalan normal dan sungguh, umum di mana-mana. Kerjasama budaya ini dibuktikan dalam banyak cara. Misalnya, kita dapatkan kamus-kamus biografi pada dokter yang terkenal. Karya-karya ini, meskipun ditulis oleh orang-orang Muslim, mencakup para dokter Muslim, Kristen dan Yahudi tanpa perbedaan. Dari kumpulan besar biografi itu, bahkan dimungkinkan menyusun semacam proposografi dari profesi kedokteran—untuk melacak garis hidup beberapa ratus dokter praktik di dunia Islam. Dari sumber-sumber ini kita mendapatkan gambaran yang jelas tentang adanya usaha bersama. Di rumah-rumah sakit dan di tempat-tempat praktik pribadi, para dokter dari tiga agama itu bekerjasama sebagai rekan atau asisten, saling membaca buku mereka dan saling menerima yang lain sebagai murid. Tidak ada yang menyerupai semacam pemisahan yang biasa didapati di dunia Kristen Barat pada masa itu atau di dunia Islam pada masa kemudian.26

Kedua, mengingat hubungan antara Islam dengan media Barat kurang harmonis, maka perlu dilakukan upaya-upaya konkrit. Berikut ini langkah-langkah yang diusulkan oleh Akbar S. Ahmed, yaitu: a) Islam dan Barat masing-masing memposisikan media sebagai pemberi pemahaman dan penyeimbang. Media tidak memberikan keputusan-keputusan dan prasangka-prasangka negatif. Media Barat harus melihat Islam secara objektif, bersikap empathy dan jangan membuat permusuhan; b) Umat Islam perlu ditampilkan di dalam media Barat seperti di dalam film, program diskusi, radio dan sebagainya, agar dapat menangkal kesan dan pandangan negatif terhadap Islam; c) Perlu diadakan konferensi-konferensi dan seminar-seminar bagi masyarakat umum untuk menjelaskan Islam di Barat. Sebaliknya, masyarakat Islam juga perlu diberikan informasi tentang Barat; d) Pengetahuan dasar Islam dapat diajarkan di sekolah-sekolah Barat agar anak-anak tidak tumbuh dalam kerangka yang salah dan berburuk sangka kepada Islam. Sebaliknya, nilai-nilai Barat, seperti demokrasi dan buku-buku tentang Barat agar diperkenalkan di sekolah-sekolah muslim; e) Problem utama yang banyak menimpa umat Islam perlu diperhatikan seperti di Kosovo, Bosnia, Afganistan dan sebagainya.27

Ketiga, umat Islam perlu meningkatkan kemampuannya di bidang teknologi komunikasi, penelitian dan pengembangan ilmu, serta menciptakan kantor-kantor berita agar berita yang disiarkan tidak menimbulkan bias, dan umat Islam tidak dirugikan. Selama ini ketergantungan umat Islam terhadap berita-berita yang bersumber dari Barat tidak bisa dinafikan. Akibatnya Islam seringkali menjadi sasaran empuk untuk konsumsi media Barat dan menjadi pihak yang seringkali tertuduh.

Keempat, institusi-institusi yang telah terbentuk di kalangan umat Islam, seperti OKI, Liga Arab, WAMY dan sebagainya, dapat memainkan perannya dalam percaturan global karena dalam percaturan global, peran utama tidak lagi ada di tangan negara, melainkan pada aktor-aktor non-negara. Oleh karena itu, pada era global ini merupakan kesempatan yang baik bagi institusi-institusi Islam untuk menun-jukkan kiprahnya dalam masyarakat luas.

Kelima, kerjasama antarnegara-negara Islam perlu ditingkatkan, terutama di bidang ekonomi dan sosial-budaya. Kerjasama regional dan memiliki kesamaan kultur atau agama dapat menjadikan kekuatan inti pada era global. Negara-negara Islam dengan kesamaan ideologi atau agama dapat menjadi kekuatan di masa depan apabila mau melakukan kerjasama dengan baik. Persoalannya tinggal seberapa besar kemauan itu untuk direalisir dalam kehidupan nyata.

Penutup

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin memiliki nilai-nilai dan tradisi berkomunikasi. Dalam perjalanan sejarahnya, nilai-nilai dan tradisi berkomunikasi yang telah dibangun pondasi-pondasinya pada jaman Rasulullah, mengalami pasang-surut sesuai dengan dinamika yang berkembang dalam perjalanan sejarah umat Islam.

Dalam era global posisi dan peran Islam dalam komunikasi global belum menunjukkan peran yang signifikan. Hegemoni Barat masih begitu kuat dalam menguasai komunikasi global. Semua lini—bisa dikatakan—tidak terlepas dari intervensi Barat. Pada posisi demikian, Islam tidak harus berpangku tangan sambil merenungi nasibnya, melainkan perlu upaya-upaya yang sistematis agar dapat memainkan perannya di dalam komunikasi global.

Upaya-upaya yang harus dilakukan adalah: Pertama, menjadikan ajaran Islam sebagai sumber vitalitas peradaban; Kedua, membangun kerja sama yang harmonis antara Islam dengan Barat, terutama medianya; Ketiga, meningkatkan kemampuan umat Islam dalam penguasaan ilmu dan teknologi, khususnya komunikasi serta membangun kantor-kantor berita dunia; Keempat, institusi-institusi Islam dapat memainkan perannya dalam percaturan global; Kelima, kerjasama antarnegara Islam perlu ditingkatkan.

Endnotes

1 Hamid Mowlana, Global Communication In Transition The End of Diversity? (California: Sage Publications, Inc, 1996), hal. x.

2 Lihat Adam Kuper and Jessica Kuper (Ed.), The Social Science Encyclopedia (London & New York: Routledge, 2001), hal. 110.

3 Ibid, hal. 111.

4 Hamid Mowlana, Global, hal. 3.

5 Samuel P. Huntington, Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia (Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2001), hal. 73-76.

6 Hamid Mowlana, Global, hal. 195.

7 Deddy Djamaluddin Malik, “Peranan Pers Islam di Era Informasi”, dalam Rusydi Hamka dan Rafiq (peny.), Islam dan Era Informasi (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1989), hal. 162.

8 Majid Tehranian, Global Communication and World Politics (London: Lynne Rienner Publishers, Inc, 1999), hal. 61.

9 Sri Budi Eko Wardani, “Dinamika Politik Internasional dan Posisi Indonesia”, dalam Saksi No. 20 Th. IV 9 Juli 2002.

10 Deddy Mulyana, Nuansa-Nuansa Komunikasi Meneropong Politik dan Budaya Komunikasi Masyarakat Kontemporer (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999), hal. 13.

11 Ibid., hal. 49.

12 Hamid Mowlana, Global, hal. 116.

13 Ibid.

14 Ibid., hal. 119.

15 Berkenaan dengan aktivitas menulis hadis, ada dua hadis yang berbeda. Satu hadis (riwayat Sa’id al-Hudry) mengatakan untuk melarang menulis hadis dan satu hadis lain (riwayat Abu Hurairah) yang memper-bolehkan untuk menulis hadis. Dua hadis yang bertentangan ini oleh para Ulama dikompromikan, yakni larangan untuk menulis hadis ini diberikan kepada orang-orang yang tidak memiliki kemampuan menulis yang baik, dan larangan terjadi pada awal Islam karena khawatir bercampur antara al-Qur’an dengan al-Hadis.

16 Jalaluddin Rakhmat, “Di mana Kita Sekarang dan Mau Ke Mana? Peranan Jurnalis Islam”, Dalam Rusydi Hamka dan Rafiq (Peny.), op cit., hal. 52.

17 Alamsjah Ratu Perwiranegara, “Prospek Media Massa Islam dalam Era Informasi”, dalam Rusydi Hamka dan Rafiq (Peny.), Ibid., hal. 42.

18 Bernard Lewis, What Went Wrong? The Clash Between Islam and Modernity in the Middle East (New York: Oxford University Press, 2002), hal. 143.

19 Ibid., hal. 142.

20 Samuel P. Huntington, Clash, hal. 78.

21 Akbar S. Ahmed, Islam Today: A Short Introduction to The Muslim World (London and New York: I.B. Tauris Publishers, 2001), hal. 216.

22 Edward W. Said, Covering Islam, Terj. Oleh Apri Danarto (Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2002), hal.lxix.

23 Majid Tehranian, Global, hal. 59.

24 Deddy Mulyana, Nuansa, hal. 7.

25 Said Tuhuleley, “Agama Pasar: Titik Temu ‘Langit’ dan ‘Bumi’?”, dalam Jurnal Media Inovasi No. 3 TH. X / 2001, hal. 4. Ibda` | Vol. 2 | No. 1 | Jan-Jun 2004 | 8-26 12 P3M STAIN Purwokerto | Abdul Basit

26 Nurcholish Madjid, Islam Agama Peradaban (Jakarta: Paramadina, 2002), hal. 59-60.

27 Akbar S. Ahmed, Islam, hal. 235-236.

Daftar Pustaka

Adam Kuper and Jessica Kuper (Ed.). The Social Science Encyclopedia. London & New York: Routledge, 2001.

Akbar S. Ahmed. Islam Today A Short Introduction to The Muslim World. London and New York: I.B. Tauris Publishers, 2001.

Alamsjah Ratu Perwiranegara. “Prospek Media Massa Islam dalam Era Informasi”, dalam Rusydi Hamka dan Rafiq (Peny.). Islam dan Era Informasi. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1989.

Bernard Lewis. What Went Wrong? The Clash Between Islam and Modernity in the Middle East. New York: Oxford University Press, 2002.

Deddy Djamaluddin Malik. “Peranan Pers Islam di Era Informasi”, dalam Rusydi Hamka dan Rafiq (peny.), Islam dan Era Informasi. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1989.

Deddy Mulyana. Nuansa-Nuansa Komunikasi Meneropong Politik dan Budaya Komunikasi Masyarakat Kontemporer. Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999.

Edward W. Said. Covering Islam, Terj. Apri Danarto. Yogyakarta: Penerbit Jendela, 2002.

Everett M. Rogers and Thomas M. Steinfatt. Intercultural Communication. Illinois: Waveland Press, Inc, 1999.

Hamid Mowlana. Global Communication in Transition The End of Diversity? London: Sage Publications, 1996.

Jalaluddin Rakhmat. “Di mana Kita Sekarang dan Mau Ke Mana? Peranan Jurnalis Islam”, dalam Rusydi Hamka dan Rafiq (Peny.), Islam dan Era Informasi. Jakarta: Pustaka Panjimas, 1989.

Lee Thayer. Communication and Communication Systems. Illinois: Richard D. Irwin, Inc, 1968.

Majid Tehranian. Global Communication and World Politics. London: Lynne Rienner Publisher, Inc, 1999.

Mir Zohair Husain. Global Islamic Politics, Second Edition. New York: Longman, 2003.

Nurcholish Madjid. Islam Agama Peradaban. Jakarta: Paramadina, 2002.

Said Tuhuleley. “Agama Pasar: Titik Temu ‘Langit’ dan ‘Bumi’?”, dalam Jurnal Media Inovasi No. 3 TH. X / 2001.

Samuel P. Huntington. Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia. Yogyakarta: Penerbit Qalam, 2001. Ibda` | Vol. 2 | No. 1 | Jan-Jun 2004 | 8-26 13 P3M STAIN Purwokerto | Abdul Basit

Sri Budi Eko Wardani. “Dinamika Politik Internasional dan Posisi Indonesia”, dalam Saksi No. 20 Th. IV 9 Juli 2002.

Stuart Allam. Issues in Cultural and Media Studies. Philadelphia: Open University Press, 1999.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: