Totalitas ibadah

Maret 17, 2011 pukul 3:08 am | Ditulis dalam Artikel | Tinggalkan komentar

Risalah utama yang diberikan oleh Allah kepada para Rasul untuk disampaikan kepada umat manusia adalah tauhid kepada Allah dan ibadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman :

‘Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun kepada kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya : Bahwasannya tidak ada Tuhan melainkan Aku maka sembahlah Aku’ (QSAl Anbiya : 25).

Tauhid yang diartikulasikan dalam ungkapan Tiada Tuhan selain Allah merupakan landasan akidah bagi ibadah kepada Allah sehingga ibadah dalam implementasinya tidak terkontaminasi dengan berbagai bentuk syirik dan hanya diperuntukkan bagi Allah SWT.

Ibadah juga merupakan salah satu karakteristik orang yang bertaqwa lantaran ibadah inilah yang menjadi tujuan diciptakannya manusia:

” Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah “
(QS Al Dzariyat : 56).

Ayat Alqur’an diatas sekalipun ungkapannya pendek ,akan tetapi mengandung sebuah hakekat yang amat besar penting. Karena kehidupan manusia di muka bumi ini tidak akan menjadi benar dan mapan tanpa memahami hakekat itu dengan benar, baik dalam kehidupan pribadi atau sosial, bahkan dalam kehidupan manusia secara keseluruhan. Hakekat tersebut adalah ibadah kepada Allah swt.

Dalam perspektif Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, ibadah diartikan sebagai segala sesuatu yang diridoi Allah swt dalam bentuk ucapan dan perbuatan lahir atau batin. Pengertian ini mencakup shalat, puasa, zakat, haji, menunaikan tugas, berbuat baik kepada orang tua,silaturrahmi, amar ma’ruh nahi munkar, berjuang mempertahankan agama, bersikap baik dengan tetangga, anak yatim, fakir miskin dan amalan-amalan lainnya.

Dari uraian diatas bisa difahami bahwa ibadah tidaklah sekadar mencakup salat, puasa dan semisalnya. Tetapi ibadah meliputi totalitas kehidupan manusia, baik sisi ekonomi, sosial, pokitik, budaya dn lainnya. Bahkan lebih dari itu, dalam pandangan Islam, amalan-amalan mubah, seperti makan, minum, tidur, rekreasi dan sebagainya bisa berubah menjadi amal ibadah manakala amalan tersebut dilakukan guna mencari keridoan Allah swt dan tidak dicampur baurkan dengan kemungkaran. Dengan memasukan segala aspek kehidupan manusia kedalam ibadah, maka seorang muslim bias mempersembahkan segenap hidupnya untuk beribadah kepada Allah swt.

” Katakanlah sesungguhnya salatku, ibadahmu, hidupku dan matiku semata untuk Allah Dzat Penguasa alam semesta “(QS Al An’am : 162

Dari sinilah, maka predikat ahli ibadah bisa dan harus diraih oleh setiap muslim dari segala profesi dan lapisan dalam masyarakat, oleh rakyat atau pejabat,ilmuan atau ustadz, tua atau muda, pria atau wanitadan si kaya atau si papa.

Dampak Salah Faham

Salah faham terhadap konsep ibadah yang komprehensif tersebut, misalnya dengan mengartikan ibadah hanya pada ibadah ritual semata seperti salat dan puasa mengakibatkan kerugian terhadap diri manusia karena ia tidak bisa menjadikan segenap hidupnya untuk beribadah kepada Allah swt.

Di sisi lain, dengan mengartikan ibadah pada ibadah ritual semata, berdampak pada pemisahan kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya dan sisi-sisi lain seorang muslim, jauh dari tuntunan agama. Seakan sisi-sisi tersebut tidak memerlukan tuntunan agama, padahal Islam mengatur segala sisi kehidupan manusia.

Makanya, tidaklah heran manakala kita menyaksikan banyak kasus yang mneyedihkan, dimana banyak orang rajin melakukan salat, puasa, haji bahkan lebih dari satu kali serta tekun melakukan salat-salat sunah,akan tetapi manakala ditengok kehidupan sisial, politik dan ekonominya, ia jauh dari tuntunan agama.

Dalam berinteraksi dengan tetangga dan kerabat kerja, ia bersikap kasar. Dengan sesama muslim, ia tidak mengikuti jejak para sahabat yang keras terhadap orang kafir dan sayang terhadap sesamanya, tetapi sebaliknya keras terhadap sesamam muslim apalagi yang tidak sefaham, tetapi bersikap sayang dan hormat terhadap orang-orang kafir.

Dalam mencari rizki, ia seringkali menghalalkan segala cara, ia tak pedulai dengan makanan yang dikonsumsinya, apakah diperoleh dengan cara halal atau haram, yang penting baginya adalah empat sehat lima sempurnya. Unsur halal tidak pernah menjadi pertimbangannya. Dalam kehidupan politik, ia tidak memiliki kemauan untuk mengadopsi kepentingan Islam dan kaum muslimin yang merupakan kewajiban setiap muslim dan bahkan menjadikan non muslim sebagai pemimpinnya.

Dampak lain dari salah faham terhadap konsep ibadah adalah ketidak pedulian terhadap lingkungan. Seorang muslim yang melihat ibadah hanya terfokus pada ibadah ritual semata seringkali tidak memperhatikan dan tidak melihat bahwa umat Islam sekarang ini tengah dalam gempuran budaya, informasi dan ghazwul fikri atau serangan pemikiran dari berbagai penjuru dunia yang berseberangan dengan tuntunan Islam, baik itu lewat media elektronik atau media cetak.

Kondisi seperti ni mengakibatkan banyak diantara kita, anak-anak, kawula muda dan bahkan orang tua yang tidak mengenal tuntunan agamanya dengar benar dan memadai. Banyak diantara kita yang lebih dekat dengan majalah hiburan dari pada Alqur’an, banyak yang lebih mengenal bintang sinetron yang berprilaku bebas dari pada sirah atau sejarah Rasulullah saw dan para sahabatnya sebagai pembawa risalah Islam. Maka tidaklah heran banyak diantara generasi muda dan tua terpuruk kedalam kubangan dekadensi moral dalam berbagai bentuknya.

Perjudian, narkoba dan prostitusi merajalela dimana-mana, seakan sudah menjadi gaya hidup yang harus diterima secara wajar. Sementara seks bebas dan aborsi dilakukan dengan enteng dan gampang. Ribuan
bayi yang diaborsi selama setahun terahir ini benar-benar membuat bulu roma kita merinding.

Celakanya, tak sedikit diantara umat Islam yang melatih putra putrinya masuk ke dalam perangkap budaya negatif dengan membiarkan anak-anak mereka berpakaian ketat dan terbuka atau mendorong anaknya jadi anak gaul dalam pengertiannya yang negatif.

Bahkan terkadang ada orang tua yang tidak senang kepada anaknya yang mengaplikasikan ajaran Islam secara baik dan benar. Prilaku yang demikian merupakan salah satu sebab yang menjadikan umat Islam dalam posisi lemah dan tidak berbobot dalam panggung masyarakat dunia. Sejarah membuktikan, bahwa umat Islam akan jaya dan maju manakala mereka menjalankan tuntunan agamanya dengan benar dan komprehnsif. Sebaliknya, umat Islam akan mundur dan hancur apabila mereka jauh dari ajaran agamanya. Namun demikian banyak umat Islam yang bersikap masa bodoh dengan segala kelemahan dan keterpurukan yang menimpa umat Islam.

Merekapun seringkali bersikap masa bodoh terhadap kemungkaran yang merajalela lewat berbagai sarana yang main hari makin canggih. Mereka cukup puas dengan salat dan puasa. Seakan ibadah hanya boleh hidup dalam mesjid saja. Sedangkan di luar mesjid, dipasar, di kantor,di media massa, ibaadah tidak memiliki tempat baginya, bahkan terkadang mereka menjadi pendukung kemungkaran. Apabila kondisi seperti ini menguasai keadaan, maka kita menunggu apa yang telah diprediksikan oleh Rasulullah saw dalam salah satu haditsnya seperti yang diriwayatkan oleh Zainab ra, isteri Rasulullah saw, bahwa pada suatu hari Rasulullah saw datang kepadanya dengan wajah sedih dan bertutur :

Celaka bagi orang Arab karena kejahatan yang dilakukannya. Nanti, pada suatu saat mereka pasti akan mengalami kehancuran.

Lalu Zainab bertanya : Apakah semua akan dihancurkan, sedangkan diantara mereka ada yang tetap saleh ?

Rasulullah saw menjawab : ya, apabila kefasikan dan kejahatan mereka sudah merata dan orang Islam sudah tidak lagi melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar’.

Di tengah arus globalisasi yang begitu dahsyat yang membawa nilai-nilai positif dan negatif, upaya pemeliharaan dan peningkatan komitmen seorang muslim terhadap ibadah kepada Allah swt sebagai tugas utamanya bukanlah hal yang mudah.

Ia memerlukan kesabaran yang prima dan lingkungan yang kondusif yang mendukungnya, sehingga ia bisa tetap eksis dan hidup dengan keimanannya yang aktif dan dinamis yang buah positifnya memancar dalam kehidupan keseharian, dan ia tetap berpegang teguh bahkan bangga dalam mengikuti ajaran dan sunnah Rasulullah saw sehingga ia berhak memperoleh predikat orang yang berbahagia dalam pandangan Rasulullah saw sebagaimana disabdakan oleh beliau :

‘Berbahagialah orang yang melihatku dan beriman kepadaku dan berbahagialaah, berbahagialah dan berbahagialah orang yang tidak melihatku tetapi beriman kepadaku’.

ISLAM SATU-SATUNYA DOKTOR

Ikhwan – Akhwat yang sama-sama mengharap rahmat Alloh SWT. Bersyukurlah kita jika pada hari ini telah Alloh karuniai dengan fisik yang sehat. Otak kita masih bisa berfikir dengan jernih. Mata kita masih tajam dalam membedakan antara jauh-dekat, hitam-putih. Begitupun dengan kaki,  buktinya kita masih bisa melangkahkan diri ketempat ini. Dan seluruh fungsi organ yang lainnya pun masih menempati fungsinya dengan baik. inilah yang disebut kondisi tubuh yang normal / sehat.

Namun bagaimanakah kiranya jika kita mengalami keadaan fisik yang tidak normal dari biasanya, yang sering kitasebut sebagi penyakit. Tentu tidak enak rasanya, bukan..?

Biasanya orang yang sedang sakit merasakan suatu  hal yang disebut penderitaan. Contoh; antum mungkin pernah merasakan sakit gigi. Ketika sehat, gigi tersebut merupakan bagian mekanis pertama dari sistem pencernaan manusia. Seluruh makanan dari yang keras sampai dengan yang paling a lot sekalipun dilumat habis oleh gigi kita. Setiap harinya kita menggunakan gigi ini kira2 3 kali untuk menggerus 3 piring makanan. Berarti setahunnya gigi kita kira-kira telah menggerus makanan yang masuk kedalam mulut kita sekitar 1.095 piring makanan. Namun apa jadinya jika mengalami yang dinamakan sakit gigi. Jangankan satu piring, satu sendok saja masuk makanan kedalam mulut kita,  sakitnya bukan main. Gigi yang selama ini berjasa besar, saat itu tidak bisa berbuat banyak. Justru menimbulkan masalah.

Gara-gara gigi yang sakit, kepala ikut menjadi pening.hati tidak tenang, cenderung emosional. Wah pokoknya gawat deh..!

Sikap pertama yang biasanya diambil adalah berhenti dari memakan makanan yang membuat gigi menjadi sakit, hindari makanan yang banyak mengandung gula, dan sejenisnya.

Sikap kedua yang biasanya diambil adalah mencari obat atau datang ke dokter. Kemudian dengan sabar dilanjutkan dengan terapi pengobatan yang telah disarankan.

Sakit gigi baru satu dari sekian banyak sakit yang biasanya diderita oleh manusia. Padahal masih ada sakit flu, sakit mata, sakit perut hingga sakit hati. Begitu banyak diri kita dikelilingi oleh penyakit.

Dimulai dari Penyakit.

Apa itu penyakit

Penyakit adalah sesuatu yang menyebabkan gangguan pada mahluk, atau gangguan kesehatan yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau kelainan sistem faal atau jaringan pada pada organ tubuh mahluk hidup, atau keburukan; sesuatu yang mendatanggkan keburukan[1].

Secara umum penyakit tidak bisa lepas dari kehidupan kita. Ada banyak gangguan2 yang membuat hidup ini menjadi tidak normal. Bagi orang-orang yang menyadarinya pastilah merasa tidak enak, menderita. Dan sesegera mungkin ingin sembuh. Percaya-ga percaya sebenarnya setiap diri kita terancam banyak sekali penyakit, atau jangan-jangan tanpa kita sadari, diri antum sedang mengidap salah satu dari penyakit 2 tersebut.

Klasifikasi Penyakit

Ikhwan – Akhwat yang sama-sama mengharap rahmat Alloh SWT, stidak2nya kita bisa mengklasifikasikan dalam hidup ini ada 2 kelompok besar penyakit.

Pertama : penyakit Fisik. Kedua: penyakit non-Fisik.

Penyakit fisik, adalah penyakit yang selama ini  kita familiar mengenalnya. Merupakan seluruh gangguan kesehatan yang disebabkan oleh virus, bakteri, atau kelainan sistem faal atau jaringan pada pada organ tubuh mahluk hidup. Beberapa ilustrasinya telah kita bicarakan tadi. Sifatnya menyerang organ-organ fisik. Biasanya temporari dan sebagian besar dapat dengan mudah ditemukan obatnya, atau mudahnya tinggal datang ke dokter yang bersangkutan.

Penyakit Fisik

Penyakit jenis kedua; penyakit non-Fisik. Tipe penyakit ini tidaklah menyerang fisik. Namun memiliki dampak yang sama terhadap kehidupan. Gangguan / ketidaknormalan. Bahkan penderitaan. Penyakit ini juga jumlahnya banyak. Namun masih dipertanyakan obatnya yang mujarab.

Penyakit non-Fisik

Penyakit non-fisik ini bisa kita klasifikasikan kedalam 3 kategori; yaitu

1.Penyakit akal, 2.Penyakit Qolbu, 3.Penyakit Masyarakat / Sistem, masing-masing memiliki daya rusak yang spesifik terhadap diri manusia.

Penyakit akal

 

Penyakit akal, adalah kondisi akal yang tidak sebagaimana mestinya; setidak-tidaknya dalam paradigma dan isi. Akal ini tentunya diciptakan Alloh memiliki fungsi tertentu, tidak asal jadi. Akal yang sehat seharusnya bisa menyampaikan diri manusia kepada keimanan, bahkan taqwa dengan segala input dari indra yang diproses di akal.

 

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.

[10:110]

Allah menganugerahkan al hikmah  kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran .(2:269)

Akal yang sehat adalah akal yang bisa mengambil pelajaran, dan hikmah dan menuju kepada keimanan. Tentunya akal yang sehat juga bisa mengenali dengan baik tentang apa yang benar, apa yang salah, tahu prinsip apa yang harus dipegang. Apa saja yang bisa menyelamatkan dan apa saja yang bisa menjerumuskan. Akal yang sehat juga bisa mengenali siapa-siapa yang merupakan teman dan siapa musuh. Akal yang familiar dengan sinyal-siyal hidayah, akal yang akrab dengan qur’an. Setiap input dari kehidupannya senantiasa berbuah keimanan dan amal sholeh.

Sedangkan akal yang sakit / tidak sehat, adalah akal yang kesulitan, bahkan tidak bisa mengambil pelajaran, hikmah apalagi menuju kepada keimanan. Akal yang sakit, biasanya salah kaprah dalam mengenali apa yang benar, apa yang salah, salah kaprah dalam apa yang harus dipegang. Tidak peduli tentang apa menyelamatkan dan apa saja yang bisa menjerumuskan. Akal yang juga salah memposisikan tentang siapa-siapa yang merupakan teman dan siapa musuh. Akal yang familiar dengan sinyal-sinyal kemaksiyatan, akal yang asing dengan qur’an. Setiap input dari kehidupannya senantiasa berbuah dosa dan kemaksiyatan.

Penyakit Qolbu

Penyakit non-fisik yang kedua adalah penyakit Qolbu. Biasanya qolbu berpenyakit, gara-gara dimulai aqal yang berpenyakit. Salah persepsi, salah paradigma, menyebabkan salah juga dalam itiqod juga salah dalam niat. Akibatnya qolbu yang tidak terpelihara ini akan memiliki hasil yang negatif terhadap setiap input dari aqal. Dan keimanan tidak akan bisa tumbuh subur dlam lahan qolbu seperti ini. Setiap datang sinyal-sinyal hidayah tidak akan direspon sebagaimana mestinya.

Dan sesungguhnya dalam Al Qur’an ini Kami telah ulang-ulangi , agar mereka selalu ingat.  Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari .17:41

 

 

Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan  dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.

[36:10-11]

 

Dari ayat-ayat diatas jelas, bahwa ada orang-orang yang justru menghindari kebenaran. Dan mereka itu adalah orang yang kurang baik dalam mempergunakan akal mereka.

Penyakit Masyarakat / Sistem

 

Penyakit non-fisik yang ketiga adalah penyakit masyarakat, penyakit yang menjangkiti suatu komunitas, bukan secara individu. Biasanya penyakit tipe ini terbangun oleh individu-individu yang yang berpenyakit akal dan qolbunya. Bentuk dari penyakit ini biasanya berupa tatanan, mekanisme, sistem kehidupan bermasyarakat yang tidak benar. Masyarakat yang  membiarkan perzinahan terjadi. Sistem kehidupan yang menyelenggarakan bentuk-bentuk kegiatan pelanggaran syari’at, memfasilitasi maksiyat dan menghalalkan yang haram, mengharamkan yang halal. Sistem kehidupan yang menyuruh kepada kemungkaran dan melarang keberadaan setiap aktivitas yang ma’ruf.

 

Contoh klasik dalam kisah-kisah Qur’an adalah masyarakat Fir’aun + pengikutnya di zaman N Musa, atau Namrudz+pengukitnya di Zaman N Ibrahim. Mereka merupakan sampel bentuk kehidupan, masyarakat tatanan, sistem hidup yang tidak normal berdasarkan Qur’an.

serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya.

[8:52]

 

Islam sebagai terapi Akal

Sebagaimana yang telah kita urai tadi, adalah Akal yang sehat adalah akal yang bisa mengambil pelajaran, dan hikmah dan menuju kepada keimanan. Akal yang bisa mengenali dengan baik tentang apa yang benar, apa yang salah, tahu prinsip yang harus dipegang. Apa saja yang bisa menyelamatkan dan apa saja yang bisa menjerumuskan. Akal yang sehat juga bisa mengenali siapa-siapa yang merupakan teman dan siapa musuh. Akal yang familiar dengan sinyal-siyal hidayah, akal yang akrab dengan qur’an. Setiap input dari kehidupannya senantiasa berbuah keimanan dan amal sholeh.

 


Kamus besar bahasa Indonesia, hal 863[1]

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: